2. Sweet Sorrow part 1
.
Day 2 - Prompt : Last Kiss
Headcanon - Drama
(negosiasi gencatan senjata saat PD I, dan usaha kemerdekaan Hongaria dari monarki Austro-Hongaria terjadi sekitar November 1918)
.
.
Budapest, November, 1918
.
Pemandangan dari Chain Bridge selalu menyorotkan persepsi yang berbeda. Akan tetapi, malam ini, Budapest bukan lagi kota penuh cahaya seperti yang dikenalinya. Budapest sudah koyak. Kehilangan detak jantungnya. Sudut-sudut kota meninggalkan memar dan jejak luka yang mendalam.
Eliza mengamati kota yang porak poranda itu dari tempatnya duduk di pagar pembatas jembatan, dekat naungan patung singa. Cahaya lampu berkelap-kelip redup, tak sanggup mengimbangi kegelapan yang menyelimuti seluruh sisi kota. Di sini, cahaya juga berjuang untuk terus bertahan, berpendar menguak sisa-sisa kabut peperangan yang terlalu pekat.
Eliza masih mengenakan uniform militer-nya yang terlalu tipis, robek di sana-sini. Pikirannya semakin kacau dan kepalanya bertambah pening. Ia tak begitu yakin, keputusan ini akan membawa dampak yang lebih baik. Namun, sesuatu harus dikorbankan. Sisa-sisa kejayaan itu kini tertinggal jadi kenangan manis yang tak akan sanggup diraihnya kembali.
Ia harus mengucapkan selamat tinggal.
Selamat tinggal untuk rumah yang pernah melindunginya bersama dia dalam satu naungan.
Selamat tinggal untuk hari-hari ceria yang pernah mewarnai rumah mereka.
Selamat tinggal untuk seseorang yang telah mengajarinya arti berbagi dalam satu ikatan yang berharga.
Eliza memikirkan berkas dokumen di tangan, memandangi map itu dengan tatapan kosong. Ia tak ingin mengetahui tujuan diadakannya berkas tersebut. Jelas, ini seperti hukuman. Tragedi panjang itu, inilah akhirnya. Map ini, perjanjian yang tertera di dalamnya, gencatan senjata━akta cerai. Huh! Seperti drama. Sangat konyol! Dasar-dasar negara yang dibuat manusia itu. Seenaknya saja. Mereka dibuat bersatu, lalu berpisah. Menikah, lalu bercerai. Seolah-olah perpisahan itu sama mudah seperti penyatuan!
Eliza meremas ujung map itu hingga berkerut. Berkas ini tak akan begitu berharga andai ditaruh di ujung lidah api. Biar terbakar habis jadi abu.
Di sini tak ada api. Ia pun melongok ke bawah, mencari-cari sesuatu. Menyadari bahwa sungai ada di bawah sana, ia jadi ingin membuang dokumen ini, dilempar supaya hanyut ditelan sungai.
Ia masih sibuk dengan pemikiran tentang nasib berkas yang berisi takdir buruk ini, hingga dikejutkan oleh panggilan, "Hei, Eliza?"
Lelaki itu datang. Bahkan, setelah seluruh kekisruhan ini, suara itu masih memberi efek getaran yang luar biasa.
"Roddy?" Ia terpana memandangi siluet lelaki itu dibalut kegelapan malam. Seragam militer yang dikenakannya sudah kumal. Jejak keletihan tercetak jelas di wajahnya.
"Kau tidak benar-benar ingin membuang berkas penting itu kan?"
Suara lembutnya masih sama.
Nada polosanya juga sama.
Dia juga tahu jalan pikirannya.
Eliza memutar posisi, lalu melompat dari pagar jembatan. Kakinya menapaki sisi jembatan dengan hati-hati.
Ia menelisik lelaki itu lebih jauh. Mencari refleksi dirinya di sana. Sesuatu berkobar di mata violet yang tersembunyi dalam kegelapan itu. Seperti murka, kesedihan, dan putus asa …
Eliza pura-pura menyangkal, "Ah, tidak. Siapa yang ingin membuangnya? Ini berkas penting milik kita. Orang bodoh mana yang berpikir ingin membuang miliknya yang berharga?"
Ia sengaja menjawab dengan pilihan kata yang sedikit kasar. Lelaki itu pasti bisa menangkap nada suaranya yang terdengar tak bersahabat.
Menyedihkan sekali, frasa kita jadi lebih cocok bersanding dengan sesuatu yang bermakna perpisahan.
"Baguslah, kalau tidak jadi dibuang," ujar Roderich, mencoba untuk mengerti. "Aku mencarimu ke mana-mana. Kau harus pulang. Tak baik malam-malam di luar begini."
Eliza tidak berhasil menekan emosinya ketika mendengar suara lelah lelaki itu, nyaris lebih halus dari sapuan angin malam.
Untuk apa pulang ke rumah yang kosong. Tanpamu …
Ia ingin menjawab begitu, tetapi mulutnya terkunci.
Lelaki itu maju beberapa langkah, memperpendek jarak. Sementara Eliza malah membawa langkahnya mundur perlahan, hingga punggungnya terantuk jembatan. Tidak menemukan cara untuk kabur.
"Kau tak perlu mencemaskanku," jawab Eliza dengan suara parau. "Maaf, aku tak bisa mengantar kepulanganmu hingga ke Wina."
Ya. Mereka akan pulang, tapi bukan bersama.
Tiba-tiba saja, posisi Roderich persis berada di hadapannya.
Eliza berdebar. Apa yang dia inginkan?
Jantungnya hampir copot ketika dalam sekali gerakan, Roderich meraup bibirnya. Lelaki itu meraih satu lengan, dan menangkup wajahnya. Membawanya tenggelam dalam ciuman lembut yang menyedihkan.
Hangat rasa bibirnya. Lalu caranya menautkan bibir mereka, begitu halus, manis, namun pedih dan perih.
Terbayang olehnya seluruh kenangan yang pernah mereka miliki bersama. Bahkan, saat-saat menyakitkan seperti ini, Eliza tetap merasa bahagia, sebab Roderich ada bersamanya.
Andai ikatan mereka hanya imitasi (yang dibuat oleh manusia,) setidaknya perasaan ini sangat nyata.
Eliza tak ingat, berapa detik, atau menit yang lelaki itu butuhkan untuk mengakhiri ciuman perpisahan ini. Tahu-tahu, itu sudah berakhir. Eliza merasa hampa. Tangannya meremas mantel yang sengaja dipakaikan Roderich untuknya.
Eliza menyentuh bekas ciuman di bibirnya. Lalu, menghirup aroma citrus yang tertinggal di mantel itu. Hatinya berdenyut semakin sakit. Seperti inikah cara Roderich meninggalkan jejaknya? Benar-benar tanpa perasaan.
"Istiharatlah yang cukup. Kau pasti lelah," suara lelaki itu memecah keheningan.
"Kau harus ingat kapan tidur dan kapan bangun, Roddy. Juga segelas kopi rutin, setiap pagi. Maaf, aku tak lagi bisa menyajikan untukmu."
"Aku akan baik-baik saja, Liz. Tak usah khawatir. Ketika bangun tidur besok, bergembiralah, kau sudah bebas."
Air mata Eliza sudah berlinangan tanpa sanggup ditahan. Ia tidak pernah tersedu hingga sedalam ini, menyadari hari-harinya akan berubah, sendirian lagi, tak ada yang menemani. Dadanya seperti diremas dan dipilin dengan sangat keras, menyakitkan sekali.
Sebelum langkahnya berbalik pergi, lelaki itu berpesan, "Akta cerai itu milik kita. Bagaimanapun keadaannya, kau tak boleh membuangnya."
Secara spontan, dokumen itu didekapnya erat. Seolah berkas itulah satu-satunya sandaran hidupnya yang tersisa.
