DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO

WARNING:

FF GAJE, ABAL-ABAL, KEBANYAKAN OC, AUTHORNYA MASIH JUNIOR YANG SUKA KHILAF(?), D.L.L

-Setelah dibaca, mohon direview-

.

.

.

.

.

.

Aiko dan Madara telah sampai di depan kelas 11-3. Sebelum memasuki kelas, Aiko menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Madara karena sudah membantunya menemukan kelas yang akan ia ajar. Kelas 11-3 adalah kelas Chieri, Yuka, dan Atsuko. Saat melihat keadaan kelas 11-3, Aiko hanya bisa berharap agar kelasnya dapat berjalan dengan baik. Ia kembali melihat map berkasnya kalau ini benar-benar bukan mimpi.

"Ohayou gozaimasu," ucap Aiko begitu memasuki kelas.

"Ohayou.."

"Aku Aiko, guru Fisika baru kalian," kata Aiko dengan nada lembut. Ia tak ingin kasar di hari pertamanya ia mengajar di sekolah ini. "Berhubung karena ini hari pertamaku mengajar, bisakah kita mengadakan perkenalan?"

"Yaa!" jawab seisi kelas 11-3 yang terlihat senang karena mereka mendapatkan guru Fisika baru (dan kemungkinan mengurangi jam pembelajaran Fisika).

"Yatta! Dengan adanya perkenalan dengan sensei baru ini akan mengurangi pembelajaran Fisika hari ini. Hihihi," batin Chieri yang senang karena kehadiran Aiko pasti akan mengulur waktu untuk membahas pelajaran yang sangat dibencinya, yaitu Fisika.

"Aku akan memanggil kalian, dan kalian maju ke depan untuk mengenalkan diri kalian. Yang pertama, aku ingin yang maju adalah.. Tanimura Chieri," kata Aiko sambil melihat daftar absensi kelas.

"HEE?!" pekik Chieri keras. "Tapi aku bukan absen pertama," protesnya.

"Aku memang sengaja memanggil secara acak. Nah, sekarang silahkan maju," balas Aiko dengan senyum tanpa dosa.

Dengan berat hati dan wajah sweatdrop, Chieri pun maju ke depan untuk kembali memperkenalkan diri seperti saat ia pertama masuk sekolah.

"Seperti yang kalian tahu. Namaku Tanimura Chieri, dan nama panggilanku adalah Chieri. Hobiku membaca buku, khususnya buku di luar pelajaran tentunya. Hihi," Chieri melemparkan cengiran khasnya ketika mengatakan kalimat terakhir. "Sekian perkenalan dariku. Arigatou gozaimasu," kemudian ia membungkukkan badannya sejenak dan menoleh ke guru barunya.

"Nah, Chieri, sekarang bisakah kau menjelaskan materi terakhir yang diberikan oleh guru Fisikamu?" pinta Aiko.

"A..apa?!"

.

.

.

Bel pulang berbunyi. Chieri, Yuka, dan Atsuko meninggalkan kelas paling belakang. Saat mereka melangkah keluar kelas, sudah ada Yahiko yang siap menjemput Yuka. Ya, Yahiko dan Yuka sudah beberapa bulan ini menjadi sepasang kekasih. Sejak itu juga Yahiko rajin menemui Yuka setiap pulang sekolah sekaligus mengantarnya pulang. Sedangkan Atsuko baru-baru ini dijemput oleh kakaknya karena kendaraan pribadinya sedang diperbaiki.

"Ah, aku duluan, ya!" kata Atsuko sambil melambaikan tangan kepada kedua sahabatnya dan Yahiko.

"Ya!"

"Nah, Chieri, kami juga harus pulang. Kau, kan, biasanya pakai mobil sendiri," kata Yuka.

"Iya. Kalian berdua duluan saja," balas Chieri dengan senyum memaklumi.

"Kau yang tadi pingsan, kan? Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Yahiko kepada Chieri.

"Lebih baik. Tadi hanya pusing dan hilang keseimbangan, makanya aku jatuh pingsan," jawab Chieri yang mengubah senyumnya menjadi senyum kecut. Sebenarnya ia tak ingin disinggung mengenai hal yang terjadi padanya saat istirahat tadi.

"Ya, sudah, kami duluan, ya," kata Yahiko sambil menggandeng tangan Yuka.

"Hati-hati," ucap Chieri sambil melambaikan tangannya.

Di sisi lain, ada Izuna yang memperhatikan gerak-gerik Yahiko dan Yuka. Kemudian datanglah Obito dari belakang Izuna. Ia merasa temannya sedang memperhatikan sesuatu. Sesaat kemudian ia mengerti apa yang sedang diperhatikan Izuna.

"Kenapa kau memandangi Yahiko dan Yuka seperti itu? Sepertinya kau tidak suka kalau mereka berpacaran," celetuk Obito.

"Ah, apa? Siapa yang memandangi Yahiko dan Yuka? Aku hanya melamun," tepis Izuna yang wajahnya mulai memerah karena Obito tahu apa yang sedang diperhatikannya.

"Jangan kebanyakan melamun, kerasukan makhluk halus baru tau rasa kau nanti," Obito sedikit menyenggol Izuna. Kemudian ia tertawa renyah karena leluconnya sendiri.

"Bercandamu itu tidak lucu tau," Izuna memilih untuk meninggalkan Obito yang masih sedikit menyisakan tawanya.

"Hei, aku, kan, hanya menghiburmu! Tunggu aku, Izuna!" Obito segera berlari menyusul Izuna yang terlihat cuek dengan dirinya.

Sedangkan di parkiran mobil, Shisui dan Itachi berjalan bersama untuk mengambil mobil masing-masing. Saat Shisui melihat mobil jazz milik Chieri, tiba-tiba sebuah ide terbesit di pikirannya saat itu juga untuk membalaskan dendamnya tadi.

"Ada apa kau berhenti?" tanya Itachi.

"Ada yang harus kukerjakan. Kau duluan saja tidak apa-apa," Shisui mengambil sebuah spidol hitam dari tasnya sambil tersenyum sinis.

Setelah mencoretkan sesuatu di pintu mobil Chieri, Shisui beringsut sembunyi untuk melihat apa yang terjadi saat Chieri mengetahui di salah satu pintu mobilnya ada tanda tangan dari seorang gitaris band sekolah. Beberapa detik setelah Shisui bersembunyi, ia melihat Chieri kaget setelah melihat salah satu pintu mobilnya ada tanda tangan dari orang yang tak dikenalinya.

"Siapa yang melakukan ini?!" Chieri mengepalkan kedua tangannya sambil menoleh ke sekitarnya. Hanya ada siswa yang tak dikenalinya dan beberapa siswa yang ia kenal dari kelas lain.

Ini kesempatan Shisui untuk keluar dari persembunyiannya. Ia berpura-pura jalan seakan-akan baru keluar dari kelasnya dan bertanya kepada Chieri penyebab ia kaget dan marah dengan mobilnya.

"Hei, kau ini kenapa marah-marah sendiri dengan mobilmu?" tanya Shisui dengan wajah tanpa dosa.

"Kau.." Chieri sebenarnya ingin menuduh Shisui langsung. Namun ia memberi sedikit pertanyaan basa-basi agar ia lebih yakin kalau Shisui atau bukan pelakunya. "Apakah kau mengenali pemilik tanda tangan ini?" tanya Chieri balik sambil menunjukkan tanda tangan yang ada di pintu mobilnya.

"Tanda tangan yang keren," Shisui berdecak kagum melihat tanda tangannya terpajang di pintu mobil Chieri. "Tapi, gomen, aku tidak mengenali pemilik tanda tangan ini," lanjutnya yang berbohong tentunya.

"Apakah itu juga bukan tanda tanganmu?" Chieri melipat tangannya di dada. Ia tetap mendesak Shisui sampai ia mengakuinya kalau Shisui atau bukan pelakunya. Ia hanya menerima fakta dan logika.

"Tanda tanganku katamu? Ayolah, tanda tanganku lebih keren daripada ini," Shisui terkekeh meledek tanda tangannya sendiri yang ada di mobil Chieri.

"Coba buktikan!" tantang Chieri.

"Apakah kau ada kertas dan pulpen?"

Chieri mengeluarkan sebuah buku memo kecil dan pulpen dari tasnya, kemudian memberikannya kepada Shisui yang hanya tersenyum meledek dari tadi. Beberapa detik kemudian Shisui selesai memberikan tanda tangan palsunya kepada Chieri. Ya, yang di mobil tentu saja yang asli.

"Kau lihat sendiri, kan? Punyaku lebih keren daripada yang ada di mobilmu," ucap Shisui dengan bangganya.

"Lebih keren apanya. Kurasa lebih jelek daripada yang ada di pintu mobilku," kata Chieri setelah membandingkan tanda tangan yang ada di kertas dan tanda tangan yang ada di mobilnya.

"Berarti tanda tanganku yang asli itu lebih keren, hihihi. Ya, tanda tangan yang dikertas tadi itu hanya coretanku saja," batin Shisui tersenyum kemenangan karena dengan mudahnya Chieri dibohongi. "Ah, sudahlah. Kau biarkan saja tanda tangan itu ada di pintu mobilmu. Lagipula aku sendiri juga sudah bilang kalau tanda tangan itu keren, dan kau sendiri juga sudah membandingkannya dengan punyaku. Katamu masih lebih keren yang ada di mobilmu, kan? Aku pulang dulu, ya. Dah!" Shisui kemudian meninggalkan Chieri yang masih kebingungan dengan tanda tangan yang ada di mobilnya.

"Kapan aku bilang kalau tanda tangan yang ada di mobilku keren?" gumam Chieri sambil memandangi tanda tangan yang ada di pintu mobilnya. "Tapi lumayan juga sih daripada tanda tangannya. Kuharap benar bukan dia yang memberi tanda tangan itu karena dia tidak sekeren tanda tangan yang ada di pintu mobilku," kemudian ia masuk ke mobil dengan niat akan membersihkan tanda tangan itu sesampainya di rumah nanti.

.

.

.

Sesampainya di rumah, Chieri tidak melihat ada seorang pun di rumah. Ayah dan ibunya ternyata sedang pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Chieri mengetahuinya dari catatan memo yang ditempelkan di kulkas. Ia pun bergegas mandi dan berganti pakaian, setelah itu baru membersihkan tanda tangan yang ada di mobilnya.

Chieri mengambil kain dan membasahinya dengan air lalu menggosokkannya ke tanda tangan yang ada di mobil. Beberapa kali ia coba menggosoknya, namun tetap saja tanda tangan itu tidak bisa hilang. Sejurus kemudian ia menyadari sesuatu.

"Kenapa tidak bisa hilang? Ini pasti menggunakan... spidol permanen. Astaga, tega sekali dia membuat mobilku jadi begini!" dengus Chieri kesal. Kemudian ia teringat perkataan Shisui.

Kau biarkan saja tanda tangan itu ada di pintu mobilmu. Lagipula aku sendiri juga sudah bilang kalau tanda tangan itu keren, dan kau sendiri juga sudah membandingkannya dengan punyaku. Katamu masih lebih keren yang ada di mobilmu, kan?

"Orang itu benar-benar mencurigakan," Chieri menyipitkan matanya sedang mencurigai kalau Shisui pelakunya. "Kenapa dia mengatakan kalau tanda tangan ini keren? Padahal biasanya dia sombong sendiri," ia mengusapkan telunjuk dan ibu jari tangan kanannya ke dagu. "Jangan-jangan.. benar dia pelakunya? Atau sebenarnya dia melihat siapa yang melakukan tapi tidak memberitahukannya kepadaku? Awas saja dia besok di sekolah," Chieri meretakkan tangannya seakan-akan besok siap menghajar Shisui.

Untuk saat ini Chieri menyerah. Ia pun menjemur kain itu dan bergegas masuk ke dalam rumah. Ia melangkah menuju ke kamarnya, kemudian ia duduk di tepi kasur sambil memangku bantal. Ia masih memikirkan pelaku yang memberi tanda tangan di pintu mobilnya. Firasatnya 95% mengatakan kalau pelakunya adalah Shisui.

Chieri melemparkan pandangannya ke meja belajar. Ia melihat sebuah buku diary berwarna biru muda yang berada paling pojok di sebelah tasnya. Ia pun melangkah mendekati meja belajarnya dan mengambil buku itu. Ia berpikir kalau ia menulis curahan hatinya di buku itu, mungkin ia akan sedikit melega. Ia pun duduk kembali di tepi kasur dan jarinya mulai menari dengan pulpen di atas sebuah lembar kosong buku itu.

.

.

.

Shisui baru saja keluar dari kamar mandi. Ia masih mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya dan menggunakan satu handuk lagi untuk mengusap rambutnya yang basah. Ia berjalan menuju kamarnya seraya bersiul kecil dan tetap mengusap rambutnya. Saat ia masuk ke kamarnya, ia segera mengambil pakaian untuk ia kenakan sore ini dan menuju bilik ganti untuk memakai pakaian tentunya (maaf, tidak dijelaskan karena sudah pasti tidak lulus sensor :v).

Beberapa menit kemudian ia keluar dari bilik dengan memakai baju hitam berkerah tinggi khas klan Uchiha dan celana kain panjang yang berwarna hitam juga. Ia mematut diri di kaca untuk membuat gaya rambut khasnya dengan gel rambutnya. Kemudian ia menyemprotkan beberapa semprot parfum aqua di sekitar tubuhnya. Setelah dirasa cukup, ia tersenyum penuh percaya diri di depan kaca.

"Yeah. I'm handsome and I know it," kata Shisui sambil tersenyum dan menaikkan satu alisnya. Tentu saja ia mengatakan itu di depan kaca. Ia selalu memuji dirinya sendiri walau sejelek apapun yang ada di dalam dirinya. Jika Chieri mengetahui hal ini, mungkin ia akan menertawakannya dan meledek Shisui sebagai orang gila.

Shisui kemudian berbalik dan mengedarkan pandangannya di sekitar kamar. Mencari sebuah kegiatan untuk dilakukannya di waktu senggang ini. Mata onyxnya kemudian menangkap sebuah buku diarynya yang berwarna hijau muda. Ia sudah lama tidak menyentuh buku itu. Tiba-tiba ia mendapatkan sebuah hal untuk dituliskannya di buku privasinya itu. Ia segera mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu di atas sebuah halaman kosong di buku itu.

Sebenarnya terlihat lucu jika seorang laki-laki menulis di buku harian. Tapi tidak dengan Shisui. Ia justru lebih lega jika sudah menuliskannya di buku diary daripada menceritakannya kepada orang lain. Ia lebih suka memendam rahasianya sendiri. Bahkan Itachi yang sudah dari dulu menjadi sahabatnya, jarang sekali ia menceritakan permasalahannya kepada Itachi. Ia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa campur tangan orang lain.

.

.

.

Pagi ini Chieri tidak terlalu bersemangat untuk pergi ke sekolah. Begitu keluar dari pintu rumah, ia hanya bisa memandang nanar mobilnya yang ternodai dengan tanda tangan dari seseorang. Ia tak ingin membawa mobil seperti itu ke sekolah. Ketika ia berjalan ke garasi untuk mengambil sepeda, ia baru teringat kalau remnya sedang rusak dan belum diperbaiki. Chieri melihat jam tangannya, waktunya hanya 30 menit lagi untuk sampai ke sekolah. Ia tak mau ambil pusing dan memutuskan untuk mencari taksi saja.

Sesampainya di sekolah, saat Chieri baru saja menginjakkan kaki di kelas, bel masuk sudah berbunyi. Sangat tepat waktu. Biasanya ia datang 5-15 menit sebelum bel masuk berbunyi. Ia langsung melangkah gontai menuju bangkunya dan meletakkan tas. Yuka dan Atsuko yang duduk di sebelahnya pun bertanya kepada sahabatnya yang terlihat murung itu sebelum ada guru datang.

"Tumben sekali kau datang tepat saat bel berbunyi," kata Yuka.

"Aku tidak membawa mobilku hari ini," jawab Chieri singkat.

"Mobilmu kenapa?" tanya Atsuko.

"Tidak ada apa-apa. Hanya ada coretan tanda tangan dari orang yang tidak kukenal. Entah siapa dia, tapi yang pasti dia ada di sekolah ini,"

"Tanda tangan katamu? Hmm.. mungkin saja seorang siswa yang sedang iseng salah sasaran," tebak Yuka.

"Atau siswa itu tahu kalau kau adalah penggemarnya, makanya dia memberi tanda tangan di mobilmu," Atsuko ikut menebak.

"Tidak ada yang kukagumi di sekolah ini," tepis Chieri cepat setelah mendengar tebakan Atsuko.

"Lalu siapa? Shisui?" tebak Yuka lagi.

"Aku berpikir juga kalau orang itu adalah pelakunya," Chieri kali ini menyetujui tebakan Yuka karena ia berpikir orang yang sama yang melakukan ini.

"Kenapa Shisui? Kenapa kau tidak berpikir kalau orang lain yang melakukannya?" tanya Atsuko.

"Karena dia terakhir kali yang punya masalah denganku. Siapa tahu saja kalau dia balas dendam atas kejadian di kantin kemarin, kan?" jelas Chieri menurut logikanya.

"Bisa juga sih,"

.

.

.

The Uchihas baru saja selesai latihan untuk perlombaan. Selesai latihan, mereka duduk di kursi yang ada di ruangan itu sambil berbincang-bincang. Tanpa mereka ketahui, di saat yang sama Chieri, Yuka, dan Atsuko tak sengaja melewati ruangan itu dan mendengar pembicaraan mereka.

"Kemarin sebenarnya kau ada urusan apa di parkiran?" tanya Itachi.

"Hanya memberi sedikit balasan untuk gadis yang kemarin menjatuhkanku di kantin," jawab Shisui dengan ekspresi tidak bersalah.

"Teruslah bertengkar sampai kalian menjadi sepasang kekasih," celetuk Izuna sebelum menenggak seperempat botol air mineralnya.

"Maksudmu?"

"Biasanya, seseorang ketika berada di puncak kemarahan pada lawan jenisnya, maka perasaannya juga mulai sadar akan rasa lelah dari pertengkaran tadi. Kalian akan mengobati satu sama lain, dan akhirnya kalian juga akan menyadari kalau ada rasa cinta di antara kalian," jelas Izuna setelah menutup botolnya.

"Kau ini bicara apa, Izuna? Aku tidak akan terpancing oleh rasa lelah itu," tepis Shisui sambil melipat tangannya di dada dan tersenyum sinis.

"Ya, kita lihat saja nanti bagian akhirnya akan seperti apa," Izuna menaikkan bahu dan tersenyum tipis menanggapi tepisan Shisui.

"Kurasa yang dikatakan Izuna itu ada benarnya," Obito menyetujui ucapan Izuna.

Dari luar ruangan Chieri sudah menduganya, dan dugaannya benar. Sedari tadi ia sudah mengepalkan tangannya menahan kesal. Yuka dan Atsuko sendiri sampai mulai takut kalau sahabatnya akan melampiaskan kemarahannya kepada mereka karena Chieri kadang tidak terkendali kalau sudah marah.

"Yuka, Atsuko, jangan halangi aku untuk kali ini. Aku ingin menghajar Shisui," Chieri mengatakannya dengan dingin. Kemudian ia melangkah ke depan pintu ruangan yang berwarna coklat itu.

"Apa yang akan dia lakukan?" tanya Atsuko.

"Entahlah, kita tetap dampingi saja dia," kata Yuka.

BRAK!

Pintu ruangan terbuka lebar secara tiba-tiba, disertai dengan siluet gadis berambut panjang yang diikuti oleh kedua temannya dari belakang. Tak lain adalah Chieri yang sudah berlagak seperti seorang pembunuh, dan kedua temannya sebagai anak buahnya. Kedatangan mereka benar-benar membuat keempat pemuda yang berada di ruangan tersebut kaget dan mengalihkan pandangan ke arah pintu.

"KEMARI KAU, UCHIHA SHISUI!" teriak Chieri. Matanya sudah mengunci Shisui dengan tatapan tajam.

"Astaga, siapa dia?" tanya Obito ketakutan.

"Chieri, gadis yang pingsan kemarin," jawab Itachi.

"Itu.. juga ada Yuka, kan?" batin Izuna hanya menangkapYuka yang menemani Chieri.

"Kenapa kau di sini? Kembali sana ke kelasmu!" usir Shisui.

"Tidak akan, sebelum aku memberimu pelajaran!" geram Chieri yang mulai meretakkan jari-jarinya dan berjalan mendekat ke arah Shisui. "SHANNAROOOO!"

BUGH!

Apa yang terjadi? Kalian pasti sudah tahu jawabannya. Itachi, Obito, dan Izuna memasang antara poker face dan sweatdrop. Sedangkan Atsuko dan Yuka melongo serta sweatdrop. Mereka tak menyangka kalau Chieri bisa memukul Shisui hingga jatuh tersungkur.

"Ternyata benar dugaanku kalau kau yang menanda tangani pintu mobilku. Itu balasan dariku. Awas saja kalau kau masih mencari masalah denganku," ancam Chieri dengan nafas yang masih terengah-engah. "Yuka, Atsuko, ayo, kita pergi. Keperluanku sudah selesai di sini," sambungnya kemudian berlalu dari ruang itu disertai dengan Atsuko dan Yuka yang mengekor di belakang.

Sedangkan Itachi, Izuna, dan Obito masih memandangi punggung 3 gadis itu yang semakin berlalu. Di saat itu juga berbagai pertanyaan aneh muncul di benak mereka.

Dia makan apa?

Apakah dia seorang kunoichi?

Apakah dia murid didikan Tsunade-sama?

"Hei! Kenapa kalian tidak membantuku?!" gerutu Shisui.

"Ahaha, gomen. Mari kubantu," Itachi mengulurkan tangannya dan membantu Shisui berdiri.

"Shisui, apakah pukulan dari Chieri itu sakit?" tanya Obito polos.

"Kau ingin merasakannya? Silahkan, kau cari saja masalah dengan monster yang menjelma jadi seorang gadis itu!" jawab Shisui ketus seraya meringis kesakitan.

"Aku, kan, hanya bertanya,"

.

.

.

Awan kelabu menyelimuti langit. Bahkan matahari yang harusnya memancarkan sinar teriknya, kini menjadi hembusan angin yang hampir meniup badan setiap orang yang kurus. Chieri belum juga mendapatkan taksi. Ia merutuk sebal karena lupa membawa jaket ataupun sweaternya. Ia mulai menggigil kedinginan.

"Kusso! Padahal tadi pagi masih cerah, kenapa waktu siang malah mendung sih?" Chieri benar-benar ingin mengutuk hari ini.

Shisui melihat Chieri yang sedang memeluk tubuhnya sendiri dari dalam mobil. Ia tahu kalau Chieri sedang kedinginan karena tiupan angin yang lumayan kencang. Rambut yang mulanya dikuncir rapi, sekarang malah menjadi tak karuan. Sebenarnya Shisui tak ingin menawarkan tumpangan untuknya karena kejadian tadi. Tapi ia adalah manusia yang masih punya hati dan perasaan, ia pun memutuskan untuk melaju ke arah Chieri.

"Kau mau pulang bersamaku tidak?" tanya Shisui yang baru saja membuka kaca mobilnya.

Chieri terkejut melihat orang yang dipukulnya tadi sekarang malah menjadi berbaik hati kepadanya. Ia dilema harus menerima tumpangan itu atau tidak. Karena ia gengsi dan masih merasa bersalah atas kejadian tadi di sekolah, tapi di lain sisi ia harus masuk ke mobil agar tidak kehujanan.

"Tidak mau. Aku naik taksi saja," tolak Chieri.

"Sebentar lagi hujan. Apa kau ingin sakit?"

"Aku sakit atau tidak, itu bukan urusanmu. Sudah, kau pulang saja sana!" Chieri bersikeras menolak ajakan Shisui.

"Dasar keras kepala. Sudah baik-baik aku mengajakmu agar tidak kehujanan, kau malah seperti ini. Aku tanya sekali lagi, kau mau pulang bersamaku tidak?" tanya Shisui sekali lagi.

"Ti-dak ma-u!" jawab Chieri dengan nada penekanan.

"Baiklah. Kau tunggu saja sampai ada taksi yang lewat," tukas Shisui kemudian menutup kaca mobilnya, kemudian berlalu meninggalkan Chieri.

Shisui tidak melajukan mobilnya terlalu jauh. Ia masih melihat ke belakang menunggu apakah Chieri berubah pikiran, dan apakah ada taksi yang lewat untuk ia tumpangi. Ternyata benar dugaannya. Gerimis mulai turun membasahi bumi Konoha, yang sesaat kemudian berganti menjadi hujan deras disertai angin yang cukup kencang. Chieri belum juga mendapatkan taksi. Shisui terpaksa memutar balik mobilnya kembali ke Chieri, sebelum gadis itu benar-benar basah kuyup.

"Cepat masuk ke mobilku!" perintah Shisui. Kali ini ia benar-benar memaksa.

"Tidak mau!"

Hal ini membuat Shisui turun dari mobilnya dan menggandeng Chieri masuk ke mobilnya. Dalam benaknya, Shisui tidak tahu apa yang membuatnya baik kepada Chieri sekarang. Padahal Chieri berbuat buruk padanya tadi. Ia tidak memikirkan keburukan Chieri untuk saat ini. Yang ia pikirkan hanyalah agar Chieri selamat sampai rumahnya.

"Kubilang juga apa, sebentar lagi hujan. Kenapa kau masih saja memaksakan untuk naik taksi? Pakai jaketku agar kau tidak kedinginan," Shisui mengambil jaket dari sandaran joknya dan memberikannya kepada Chieri.

Chieri menerimanya dengan ragu-ragu, lalu memakainya. Ia ingin mengucapkan terima kasih tapi mulutnya kaku seakan-akan ia tidak bisa mengatakannya. Ia heran, kenapa ada orang yang seperti ini. Biasanya jika seseorang sudah disakiti, ia tidak akan berbuat baik kepada orang yang menyakitinya. Tapi Shisui berbeda.

"Kenapa kau diam saja? Biasanya kau banyak bicara," celetuk Shisui memulai sebuah pembicaraan di dalam mobilnya.

"Aku tidak bisa mengatakan apapun," batin Chieri gugup.

"Hei, kau melamun?" tanya Shisui yang menoleh ke Chieri sesaat.

"Hee? Tidak, aku tidak melamun," jawab Chieri yang sama gugupnya seperti batinnya saat ini.

"Lalu, apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku hanya berpikir... kenapa kau mau memberiku tumpangan, sedangkan aku tadi memukulmu. Apakah kau tidak dendam, kesal, atau semacamnya?" giliran Chieri yang bertanya. Akhirnya ia bisa mengatakan sesuatu kepada Shisui.

Kini giliran Shisui yang terdiam. Dia sendiri juga tidak tahu apa yang membuatnya seperti ini. Ia juga tidak memiliki perasaan apapun kepada Chieri, tapi entah niat dari mana yang mendorongnya untuk melakukan hal ini.

"Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu. Mungkin aku hanya kasihan saja melihat kau kehujanan di luar," jawab Shisui seadanya.

"Kenapa kau kasihan? Padahal aku tadi..." ucap Chieri kemudian terpotong.

"Ya, aku tahu itu. Tapi aku tetaplah manusia yang memiliki hati dan perasaan,"

"Aku... minta maaf soal tadi," ucap Chieri gugup.

"Lupakan. Jangan menyinggung soal itu lagi," balas Shisui dengan nada agak ketus. Sepertinya ia masih kesal atas perlakuan Chieri.

"Kau masih kesal?" tanya Chieri.

"Rumahmu di mana?"

.

.

.

Sesampainya di rumah, Chieri mengucapkan terima kasih kepada Shisui karena sudah mengantarkannya pulang. Pada saat yang sama juga, hujan pun mulai reda.

"Arigatou, sudah mengantarkanku pulang. Oh ya, karena jaketmu masih basah, biarkan aku membawanya dulu untuk kukeringkan, ya? Besok akan kukembalikan," kata Chieri.

"Ah, tidak usah. Kubawa pulang saja sekarang," tolak Shisui.

"Jangan begitu. Anggap saja ini termasuk rasa terima kasihku yang katamu 'lain waktu' saat di UKS kemarin,"

"Ehm.. aku jadi tidak enak. Tapi terserah kau saja lah. Aku tak ingin kau merasa berhutang budi padaku," Shisui akhirnya menyerahkan jaketnya kepada Chieri. "Besok kau bawa saja mobilmu, tidak usah malu. Lagipula itu tanda tangan yang keren, kan?" Shisui kembali tersenyum jahil.

"Lebih keren tanda tangannya daripada orangnya. Wlee," ledek Chieri sambil menjulurkan lidahnya sedikit.

"Kau bilang apa barusan?" tanya Shisui yang pura-pura tidak fokus dengan ledekan Chieri.

"Kau kalah keren dengan tanda tanganmu. Ahahahaha," Chieri tertawa lepas setelah mengulanginya.

"Yang penting tanda tanganku masih ada di mobilmu," Shisui tak mau kalah omongan dari Chieri. "Ah, sudahlah. Aku mau pulang dulu," kemudian ia masuk ke mobilnya dan melaju meninggalkan rumah Chieri.

"Hati-hati, ya!"

.

.

.

.

.

TBC..

Buat yang baca chapter kemarin, maaf yak ada error dikit ._.v

Jadi, bagaimana? Next or no? review yaaa^^