Chapter 2

"Jika kau masih mencintainya, kembalilah kepadanya. Tapi jika kau tidak cinta lagi kepada orang itu, lebih baik kau lupakan dia, dan carilah seseorang yang bisa membuatmu lebih bahagia.. aku tidak ingin lebih lama melihatmu yang tertekan dengan perasaanmu sendiri, Sungmin-ah"

.

.

.

'Ending Story?'

.

KyuMin Fanfiction

.

Rate T

.

Shounen-ai, BL, Boyxboy

.

This story is mine, but KyuMin not mine :'3

enJOY! ^-^

.

.

.

Sungmin terdiam didepan Leeteuk yang masih tersenyum lembut dihadapannya, kemudian pria manis itu tersenyum dengan terpaksa didepan ibunya.

"A-aku belum tahu apa yang akan aku lakukan, eomma" Ucap Sungmin, kemudian ia menggaruk belakang kepalanya dengan sungkan dan ia memutuskan untuk segera berbalik menuju pintu.

"Aku pergi dulu" Sungmin melambaikan tangannya kepada Leeteuk, ia pun segera melaju dengan menggunakan sepeda kesayangan miliknya.

Diperjalanan ia terus memikirkan tentang perkataan Leeteuk. 'Haruskah aku mencari seseorang yang baru untuk perasaanku? Apa aku bisa melakukan itu? Apa ada seseorang yang bisa menerimaku? Namun yang terpenting adalah, apakah aku bisa lepas dari bayang-bayang pria bermarga Cho itu?' Gumam Sungmin dalam hati. Ia mengayuh sepedanya dengan tidak terlalu cepat, hari yang cerah tiba-tiba saja membuat moodnya menurun dengan perkataan leeteuk.

"Sudahlah, nanti saja aku memikirkan itu" Ucap Sungmin, ia menggelengkan kepalanya dan mulai mengayuh sepedanya dengan sedikit kencang hingga ia sampai pada universitasnya untuk berkuliah disana.

Pria manis itu memarkirkan sepedanya dideretan sepeda lain yang mulai memenuhi parkiran yang memang disediakan disana, ia turun dari sepeda dan mulai berjalan dilorong-lorong panjang dan berisik. Lima belas menit lagi jam pertama akan dimulai, tidak heran jika kelas-kelas sudah mulai dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa yang kadang tidak tahu umur itu.

"Sungmin hyung!" Teriak seseorang dari belakang Sungmin.

Sungmin berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya dan begitu ia tahu bahwa Henry yang memanggilnya ia langsung melambaikan tangannya pada henry yang berlari kecil dilorong.

"Hai Henry" Sapa Sungmin begitu Henry sudah berada didepannya dengan napas yang sedikit memburu, lelaki dengan pipi marshmellownya itu tersenyum lebar kearah Sungmin dan sedikit menyeka keringat yang jatuh di dahinya.

"Min hyung, aku punya sebuah permintaan untukmu! Aku harap kau mau menemaniku ke cafe yang tidak jauh dari sini, ada yang ingin kubicarakan kepadamu" Pinta Henry dengan wajahnya yang ia buat sememelas mungkin, Sungmin yang melihatnya tidak tahan untuk menahan tawanya dan pria manis itu terbahak dengan kepala yang mengangguk.

"Ahahaha, tentu saja Henry-ya. kau tidak perlu menunjukkan wajah seperti itu didepanku, aku siap menemanimu" Jawab Sungmin dengan sedikit tawa yang masih terselip diantara kalimatnya, Henrypun mengangguk mantap dan menunjukkan ibu jarinya yang teracung tepat didepan muka Sungmin.

"Baiklah, aku akan menjemputmu nanti dikelas, jangan pulang duluan arraseo?" Ucap Henry kepada Sungmin yang memandangnya aneh, tapi Sungmin langsung merubah raut wajahnya dengan senyum lebar dan memberi hormat kepada Henry dengan tangan yang ada didepan dahinya, lalu Sungmin menjawab dengan tegas.

"Baik pak! Aku tidak akan pulang duluan!" Jawab Sungmin.

"Baiklah! Janji sudah diucapkan, sampai jumpa komadan lee Sungmin!" Henrypun melakukan gestur yang sama seperti apa yang Sungmin lakukan kepadanya, lalu keduanya tertawa karena kelakuan konyol mereka.

"Baiklah, sekarang ayo kita kekelas!"

"Baiklah, letnan Henry!"

"Hais, hentikan hyung!"

"Hahaha.."

.

.

.

Sorepun datang, tepat seperti yang Henry janjikan ia menunggu Sungmin keluar dari kelasnya dengan sabar, begitu Sungmin keluar Henry langsung menarik tangan Sungmin untuk mengikutinya mengambil sepeda Sungmin dan segera menduduki sepeda itu.

"Hey! Itu sepedaku!" Teriak Sungmin tidak terima. Jika Henry duduk di jok sepedanya, ia duduk dimana? Sungmin menatap Henry dengan sengit, namun Henry hanya terkekeh dan menunjuk lempengan besi yang ada dikanan dan kiri ban sepeda belakang milik Sungmin.

"Kau dibelakang, hyung. Aku yang akan mengayuh sepeda ini, kau hanya perlu berdiri dibelakangku" Ucap Henry santai, kemudian dengan berat hati Sungmin menuruti permintaan Henry, ia mulai menaiki sepedanya dan Henry mulai mengayuh sepeda itu menjauh perlahan dari arah gedung besar dibelakang mereka.

"Eum, kau ingin membicarakan apa Henry?" Tanya Sungmin disela kayuhan Henry, Henry hanya diam dan terkekeh samar padahal tidak ada yang lucu dari pertanyaan Sungmin tadi, iyakan?

"Kau hanya perlu berdiri diam dibelakang sana, Min hyung. Sebentar lagi kita sampai" Jawab Henry yang membuat Sungmin mendengus kesal, mendengar itu Henry terkekeh kecil didepan sana.

Perjalanan yang cukup Singkat sebenarnya, hanya memerlukan waktu duapuluh menit untuk mencapai cafe yang Henry maksud, tapi sekali lagi Sungmin harus merasa kesal –atau mungkin tercengang?

"I-ini.."

"Ada apa, hyung?" Tanya Henry begitu melihat Sungmin disampingnya berdiri kaku melihat kearah cafe, Henry mencoba melihat seluruh bagian cafe yang mungkin menurutnya cukup menarik maupun cukup aneh, tapi semuanya tampak normal.

"Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?" Tanya Henry lagi, kali ini Sungmin menoleh kaku kepada Henry dan pria manis itu menggelengkan kepalanya pelan, mencoba tersenyum dihadapan Henry.

"Aku tidak apa-apa, ayo masuk aku harus pulang sebelum malam" Ucap Sungmin yang mendahului Henry masuk kedalam cafe, lalu diikuti Henry dibelakangnya.

"Kau duduklah dulu, hyung. Aku akan memesan sesuatu, kau ingin apa?" Tanya Henry yang menaruh tasnya pada kursi lalu hendak menuju kekasir. Sungmin mengerjap sebentar, kemudian dia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.

"Tidak perlu, aku-"

"A-a, tidak ada penolakan. Baiklah, aku yang akan memilihkannya" Ucap Henry, ia berlalu menuju kasir dan memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua.

Sementara itu, Sungmin sibuk memperhatikan sekelilingnya. Cafe tua dengan dekorasi yang kelewat sederhana itu, dan juga alunan lembut musik yang sedikit ia hafal dan mengerti liriknya semakin mengingatkannya pada sosok pria dengan hidung mancung dan kulit putih pucatnya. Ini adalah cafe dimana ia dan Cho Kyuhyun bertemu setelah sekian lama mereka tidak saling berkomunikasi karena Kyuhyun yang pindah rumah, Sungmin yang meneduh karena hujan diluar sana yang menjebaknya hingga ia tidak bisa pulang. Saat sedang menunggu ia mendengar suara merdu itu bernyanyi dan untuk pertama kalinya ia merasakan yang orang sering sebut dengan cinta pada pandangan pertama.. ya, kepada Cho Kyuhyun, teman semasa kecilnya.

"Maaf menunggu lama, Sungmin hyung" Tiba-tiba saja Henry datang dengan pesanan dikedua tangannya yang membuat lamunan Sungmin buyar seketika. Sungmin mendongakkan kepalanya kehadapan Henry dan tersenyum manis setelahnya, namun ia terpaku lagi ketika melihat pesanan yang Henry berikan kepadanya.

"Euh, mungkin kau suka dengan Susu cokelat hangat dan sepotong roti bakar cokelat ini?" Ucap Henry sambil menyodorkan pesanannya itu kepada Sungmn, tapi Sungmin hanya diam. Tidak, pria manis itu bukan tidak menyukai pesanan yang Henry bawa, namun sekali lagi, itu mengingatkannya pada pria bermarga Cho itu..

"Maaf menunggu lama, mungkin kau akan menyukai ini." Ucap seorang pria dengan kulit putih pucatnya dengan senyum menawan yang mengembang dari bibirnya.

Sungmin mengangguk kikuk, lalu ia mulai menyeruput susu cokelat hangatnya perlahan dan menikmati cairan hangat dan manis itu mengalir ditenggorokkannya.

"Kau masih ingat denganku kan? Lee Sungmin?" Tanya pria itu lagi, ia mendudukkan dirinya tepat didepan Sungmin dengan menyeruput kopi hitam pesananya dengan mata yang terus memperhatikan Sungmin.

Sungmin hampir tersedak sendiri mendengarnya, ia terbatuk sedikit sambil menepu-nepuk bagian dadanya.

"E-euh, yah. Kau, Cho Kyuhyunkan?" Tanya Sungmin balik kepada pria didepannya, Kyuhyun yang melihat Sungmin seperti itu tersenyum manis, yang mampu membuat Sungmin menahan napasnya dengan muka yang memerah.

"...In.."

"Min.."

"Sungmin hyung"

Panggilan Henry menyentak kembali Sungmin kedunia nyata, pria manis itu mengerjap sedikit dan menemukan Henry yang menatapnya khawatir.

"Kau tidak apa, Min hyung?" Tanya Henry lagi, Sungmin hanya menanggapi dengan gelengan. Sungmin merasakan pelupuk matanya menampung air mata, sebelum air mata itu turun Sungmin dengan cepat mengusap matanya yang berair.

"A-aku tidak apa. O-oh iya, kau kesini ingin membicarakan apa?" Gumam Sungmin, suaranya tiba-tiba menjadi lebih pelan. Jika saja Henry tidak fokus, ia mungkin tidak akan mendengar perkataan Sungmin karena cafe cukup ramai dengan suara musik yang dinyanyikan oleh band yang ada dicafe ini.

"E-eh.. masalah itu.." Henry tergagap, ia memalingkan wajahnya kearah lain dan mengusap belakang tengkuknya. Sungmin yang melihat prilaku Henry hanya menaikkan alisnya tidak mengerti, Henry kemudian menyesap segelas teh hangat miliknya dengan cepat.

"Katakan saja.." Ucap Sungmin sambil memotong roti bakarnya, ia menusuk salah satu potongan itu dengan garpu kecil yang telah disiapkan, menunggu Henry untuk melanjutkan ucapannya.

"Akumenyukaimu" Ucap Henry dengan satu kali tarikkan napasnya, ia melirikkan matanya sebentar kearah Sungmin dan segera memalingkan wajahnya lagi.

Sungmin teridiam, tangannya yang memegang garpu membeku, wajahnya memancarkan ketidak percayaannya ke arah Henry. ia kemudian menurunkan tangannya dan menunduk.

'apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menerima Henry atau tidak? eomma menyuruhku untuk berpindah ke lain hati, apakah ini.. waktu yang tepat?' Gumam Sungmin dalam hati, ia meremas jemarinya dibawah meja dengan gugup, ia bingung harus melakukan apa.

"Lee Sungmin, aku mencintaimu"

DEG!

Sungmin tersentak begitu bisikkan itu terlintas diingatannya. Kata-kata yang dibisikkan oleh Kyuhyun saat itu teringat jelas dikepala Sungmin. Ia lalu menegakkan kepalanya untuk memandang Henry yang duduk dengan tegap didepannya. 'Aku harus memilih apa yang terbaik untukku' Sungmin mengingatkan dirinya sendiri, lalu ia menarik napas panjang dan menghembuskannya.

"Henry.. maaf, tapi aku.. tidak bisa menerimamu" Ucap Sungmin memandang Henry dengan yakin. Henry tersentak sedikit, kemudian memaksakan dirinya untuk tersenyum walaupun itu sangat terlihat terpaksa.

"A-ah, apakah kau sudah memiliki kekasih? Maaf jika aku-"

"Tidak, aku tidak memiliki kekasih. Aku hanya, masih menyimpan perasaanku untuk seseorang saat ini"

"O-oh, begitu.. k-kalau boleh aku tahu, siapa dia?" Tanya Henry dengan wajah agak kecewanya, Sungmin lalu menarik napasnya kembali dan menghembuskannya.

"Dia adalah.." Sungmin menjeda ucapannya, menahan napasnya beberapa detik sebelum ia menyebutkan nama itu, "Cho Kyuhyun" Lanjutnya.

.

.

.

.

Sungmin mengayuh pelan sepedanya melewati jalan setapak, matahari mulai tenggelam namun ia masih enggan untuk kembali kerumahnya. Ia memutar arah menuju sebuah taman dengan hiasan lampu taman yang menyinari taman tersebut, Sungmin menyenderkan sepedanya pada sebuah pohon besar, dan ia mulai berjalan-jalan kecil mengelilingi taman yang mulai sepi itu.

Semua ingatan tentang Kyuhyun terus berputar dikepalanya, membuat ia merasakan kembali rasa sakit yang sering menjalari kepalanya namun ia tahan. Ia mulai berjalan dibalik semak-semak yang menghubungkan taman itu dengan danau kecil, seingatnya danau itu tidak terlalu jauh.

Dengan langkah perlahan, ia menyusuri jalan ditaman yang mulai sepi itu, bahkan mungkin hanya tinggal dirinya saja disana. Sungmin mulai menyibak beberapa semak-semak, namun langkahnya terhenti begitu ia melihat sesosok lelaki duduk dipinggir danau sendirian. Ia berpikir bahwa itu adalah sosok kyuhyun, namun ia segera menepis pikirannya itu. Sungmin mulai melangkah satu langkah kedepan, namun langkahnya kembali terhenti ketika ia menyadari bahwa pria itu sedang bernyanyi kecil, dan sekarang Sungmin yakin, jika itu adalah Cho Kyuhyun.

Still miss you (Masih merindukanmu)

I don't know what i can do (Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan)

We can't be true (Kita tidak bisa jadi nyata)

Mitasareru koto naku futari no kyori (Jarak antara kita ini tak bisa terpenuhi)

Chijimatte iku tabi setsunai (Air mataku ini setiap waktu menyusut)

Afure dashita omoi tsunoru da ke de (Meluapkan emosi hanya menumbuhkan kekuatan)

Ouuh it's hard for me to say (Oh ini sulit untuk aku katakan)

Sungmin semakin membeku ditempatnya. suara menenangkan itu, terlebih lagu yang dinyanyikan oleh sosok itu membuatnya merasakan sesak.

Cuz we, we can see how it's going to end (Karena kita, kita bisa lihat bagaimana ini berakhir)

But i got my love for you (Tapi aku memiliki cintaku untukmu)

Moshimo konomama kimi wo, wasureru koto ga de ki tara (Jika aku bisa meninggalkan dan melupakanmu)

Sungmin memberanikan dirinya untuk melangkah mendekati sosok itu dengan perlahan, mencoba berdiri di belakang sosok itu tanpa menimbulkan suara sama sekali.

Nante omoeba omou hodo ni (Semakin aku memikirkan sesuatu seperti itu,)

Kimi wo wasureru koto nante, Boku ni wa de ki ru hazu mo nakute (Aku tahu itu tak akan mungkin bagiku untuk melupakanmu)

We always wish tonight could last forever (Kita selalu berharap malam ini akan bertahan selamanya)

I can be your side (Aku bisa di sisimu)

I shouldn't be in your heart (Aku tak sebaiknya di hatimu)

Either the time we have spent (Tiap waktu kita habiskan)

And i want you to know what the truth is (Dan aku ingin kau tahu apa kebenarannya)

But sometimes it makes me feel so sick oh no (Tapi terkadang ini membuatku merasa begitu sakit, oh tidak)

I just can't say to you, no i won't (Aku hanya tidak bisa mengatakannya padamu, tidak, aku tidak ingin)

Itu bukan suara Kyuhyun, suara itu lebih lembut dan terdengar manis. Itu Lee Sungmin, Sungmin bernyanyi melanjutkan nyanyian yang Kyuhyun nyanyikan, dan itu berhasil membuat Kyuhyun menoleh cepat kebelakangnya dimana Sungmin berdiri tepat dibelakang punggungnya, namun tatapan pria manis itu tertuju kehamparan air yang bercahaya karena bulan bersinar terang diatas sana. Kyuhyun maupun Sungmin terdiam sejenak, sebelum Kyuhyun menarik tangan Sungmin untuk duduk disebelahnya, saat Sungmin sudah mendudukkan dirinya diatas rerumputan itu, Kyuhyun mulai menyanyikan lirik selanjutnya yang diikuti oleh Sungmin.

o-o-oooh

Cuz we, we can see how it's going to end (Karena kita, kita bisa lihat bagaimana ini berakhir)

But i got my love for you (Tapi aku memiliki cintaku untukmu)

Moshimo konomama kimi wo, wasureru koto ga de ki tara (Jika aku bisa meninggalkan dan melupakanmu)

Nante omoeba omou hodo ni (Semakin aku memikirkan sesuatu seperti itu,)

Kimi wo wasureru koto nante, Boku ni wa de ki ru hazu mo nakute (Aku tahu itu tak akan mungkin bagiku untuk melupakanmu)

We always wish tonight could last forever (Kita selalu berharap malam ini akan bertahan selamanya)

I can be your side (Aku bisa di sisimu)

Keduanya menyelesaikan lagu itu bersama-sama, keadaan mulai menjadi hening. Tidak ada satupun yang mulai membuka suara kecuali binatang malam yang mulai beraktifitas.

Kyuhyun memandang Sungmin sekilas, lalu melemparkan kembali tatapannya pada Danau indah didepannya.

"Jadi?" Tanya Kyuhyun. Sungmin menolehkan kepalanya untuk menatap Kyuhyun.

"jadi.. apa?" Sungmin bertanya kembali kepada Kyuhyun dengan sebelah alis yang terangkat.

"Apakah kau, masih mencintaiku?" Tanya Kyuhyun yang langsung membuat Sungmin mengalihkan pandangannya sekali lagi.

"Aku masih belum bisa pastikan itu" Jawab Sungmin bohong. Kyuhyun menghela napas berat, kemudian ia terekeh kecil, yang entah mengapa membuat Sungmin merasa sakit.

"Jadi, begitu ya? baiklah aku mengerti. Tapi ada satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu" Ucap Kyuhyun yang mulai melemparkan kerikil kecil kedalam danau, membuat air tenang itu beriak kecil karena kerikil yang masuk kedalam air.

Sungmin terdiam, menunggu Kyuhyun untuk melanjutkan ucapannya. Pria manis itu melipat lututnya dan menumpukan kepalanya pada lututnya.

"Kenapa kau, menjauhiku? Bahkan terlihat kau sangat.. membenciku?" Tanya Kyuhyun tanpa menghentikan kegiatan melempar kerikil itu. Sedangkan Sungmin, ia menegang sesaat lalu menatap sendu danau dengan riak air kecil dipermukaannya.

"Karena aku tahu, kau tidak benar-benar mencintaiku. Padahal aku rela melepaskan semuanya, orang tua, keluarga, sahabat, teman, bahkan kehidupanku. Tapi kau? Hahaha" Tawa Sungmin mengejek diakhir kalimatnya, Kyuhyun menoleh dan mengangkat sebelah alisnya.

"A-apa maksudmu aku-"

"Kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau meninggalkanku saat aku mulai mencintaimu, saat kita bertemu dicafe itu, dan saat kau menyatakan kau mencintaiku. Aku sangat bahagia, sangat sangat bahagia, rasanya aku seperti orang yang sangat beruntung, kita melewati semuanya bersama, tertawa bersama.." Gumam Sungmin dengan sebuah senyum kecil diwajahnya, dan juga setetes air mata yang mulai jatuh dipipinya yang halus.

"Saat aku meyakinkan diriku jika aku benar-benar mencintaimu, aku membulatkan tekadku untuk mengatakan kebenarannya kepada semua orang. Namun dengan kejamnya, saat aku sudah memberitahu semua teman, sahabat, bahkan keluarga dan juga orang tuaku, dan saat aku diusir oleh orang tuaku sendiri, kau meninggalkanku. Aku melihatmu bersama pria manis didepan rumahmu, aku melihat kau memeluknya erat, aku melihatmu tersenyum lembut kepadanya, bahkan aku melihat kau mengusap pelan kepala pria manis itu dengan lembut dan pria manis itu mencium pipimu." Lanjut Sungmin dengan suara yang sedikit terputus-putus karena isakkanya. Kyuhyun yang mendengar itu semua membulatkan matanya dan menatap Sungmin,

"Ming, kau salah! Aku tidak pernah-"

"Bahkan, ketika aku datang kerumahmu seminggu kemudian, orang tuamu mengusirku dengan kata-kata kasar dan mereka bilang jika kau tidak mungkin menjadi gay, apalagi menjadi gay denganku. Aku sangat sakit, kau tahu?! Ingin rasanya aku berteriak didepan mukamu saat itu, berteriak bahwa aku mencintaimu, sangat mencintaimu, namun apa yang kudapatkan? Setelah orang tuamu mengisurku, kau muncul dari balik pintu dan hanya menatapku dingin.." Sungmin melanjutkan kata-katanya dengan isakkan yang semakin kencang, ia berkali-kali mencoba menghapus air mata yang bahkan tidak berhenti mengalir sedari tadi.

Kyuhyun menatap pias pria disampingnya, ia mencoba untuk menggenggam tangan Sungmin, namun pria manis itu langsung menepis kasar tangan Kyuhyun yang belum sempat menyentuh tangannya.

"Kau mau apa? Hah?! Bahkan sekarang kau masih bertanya mengapa aku menjauhimu?! Bahkan kau bertanya apakah aku masih mencintaimu? Kau sangat lucu, Cho" Seru Sungmin dengan tawa namun air mata semakin deras turun dari matanya yang mulai memerah.

Kyuhyun yang tidak kuat melihat Sungmin yang seperti itu segera membawa Sungmin kepelukannya, menahan rasa sakit ketika Sungmin terus menerus mencoba lepas dari rengkuhannya dan rasa sakit ketika mendengar isakkan Sungmin. Ia mengusap lembut rambut Sungmin yang masih terus terisak, lalu mencoba menenangkan Sungmin yang memberontak.

"Aku tahu aku sangat bersalah. Sangat, sangat, sangat bersalah. Aku tahu itu" Kyuhyun berbisik pelan kepada Sungmin yang masih terisak, namun mulai melemah dan tidak memberontak dalam dekapannya.

"Aku tahu, dan aku bisa menerima jika kau membenciku sekarang, aku tidak apa." Ucap Kyuhyun dengan mengeratkan pelukannya, lalu Kyuhyun menghela napasnya berat.

"Kau tahu, sebagian besar yang kau ucapkan, itu memang benar.." Bisik Kyuhyun tepat pada telinga Sungmin. Sungmin yang mendengar itu kembali memberontak lemah didalam pelukan Kyuhyun, namun Kyuhyun segera memeluk Sungmin dengan hangat.

"Itu semua memang benar, tapi kau salah paham. Prercayalah kepadaku, aku selalu mencintaimu, selalu, setiap waktu, setiap hembus napas yang ku hirup dan keluarkan, setiap waktu didalam hidupku, percayalah jika aku mencintaimu" Kyuhyun bergumam sangat pelan, bahkan suara laki-laki tampan itu sedikit bergetar.

"Kyu-hyun" Sungmin mulai mencoba merenggangkan pelukan Kyuhyun, namun usahanya gagal ketika Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajah Sungmin kedadanya dan ia menyusupkan wajahnya diantara leher Sungmin.

"Percayalah jika aku selalu mencintaimu, aku, sangat, mencintaimu.. " Kyuhyun kembali berbisik lembut, ia mengecupi rambut Sungmin dengan perlahan. Ia sedikit merenggangkan pelukkannya dan segera mengecup dahi Sungmin.

"Aku sangat mencintaimu. Tapi, aku harus pergi, Sungmin.." Kyuhyun melepaskan kecupannya dan memandang sendu wajah Sungmin, ia mengusap air mata Sungmin dengan ibu jarinya perlahan.

"Aku akan pergi, keluar negeri. Besok"

"..."

"Aku tahu mungkin ini termasuk berita membahagiakan untukmu karena aku akan pergi jauh darimu agar kau tidak bisa melihat wajahku lagi," Kyuhyun tersenyum getir, lalu mengecup pelan kelopak mata Sungmin.

"Jika kau masih mencintaiku, tunggulah aku kembali. Atau paling tidak, panggillah aku ketika kau merasakan rindu padaku atau kau menyerah dan ingin kembali kepelukanku. Maka aku akan siap untuk membawamu kembali" Ucapan Kyuhyun membuat Sungmin diam membeku, keduanya terdiam hingga tiba-tiba saja Kyuhyun mengecup lembut bibir Sungmin.

"Ingatlah bahwa aku, mencintaimu" Bisik Kyuhyun sekali lagi, kemudian Kyuhyun tersenyum dan mulai beranjak dari duduknya. Ia menepuk sedikit bajunya yang kotor karena tanah, kemudian ia mulai berjalan pelan membelakangi Sungmin.

Sungmin hanya terdiam, ia menatap sendu pria didepannya. Airmata menetes kembali membasahi wajahnya.

"Kyuhyun! Ah, rupanya kau disini! Aku mengkhawatirkanmu!"

Sungmin terkejut ketika melihat Kyuhyun yang sudah menjauh dari tempatnya bersama Sungmin tadi, dipeluk dengan erat oleh seorang pria yang lebih pendek darinya, lalu pria manis itu semakin membulatkan matanya ketika Kyuhyun mengusap pelan punggung pria itu dan memeluknya erat.

Sungmin tidak kuat lagi, ia memutuskan untuk segera meninggalkan taman itu dan juga meninggalkan Kyuhyun dengan pria pendek tadi. Ia mengambil sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat, sesekali ia mengusap rembesan airmata yang mengganggu pengelihatannya. Sungmin baru saja akan mengaku bahwa ia masih mencintai pria itu, namun harapannya kandas ketika melihat kejadian beberapa waktu lalu. Pria itu, pria pendek itu adalah pria yang ia lihat dulu.

'Apa Kyuhyun memang mempunyai hubungan spesial dengan pria itu? Tapi kenapa ia bilang masih mencintaiku? Pria brengsek!' umpat Sungmin dalam hati, ia mengayuh sepedanya lebih cepat dan segera memarkir sepedanya asal begitu ia sampai dirumahnya. Pria manis itu membanting pintu depan, kemudian segera berlari menuju kamarnya tanpa mempedulikan pertanyaan orang tuanya.

"AKU MEMBENCIMU, CHO KYUHYUN! PRIA BRENGSEK!"

0o0o0

.

.

.

ToBeContinue

.

.

Chapther 2 apdet.. haha, mungin ff ini bakalan jadi beberapa chapter doangan.. hehe, saya tau ini gak jelas dan mungkin kebaca jalan ceritanya-_- saya nyadar kok.. :'3 apakah ff ini pantas buat dilanjut? Atau end disini? .-.

Maaf dengan banyak typo, kosa kata yang buruk, pemilihan diksi yang kurang bagus, dan lain-lain.. oh iya, satu lagi.. yang diatas itu*tunjukliriklagu* itu punya band asal Jepang.. namanya One Ok Rock yang judulnya Pierce :D okeeh sekian duluuu, bubaaay.. semoga ada yang suka dengan ff ini.. review ditunggu.. :3 dan sangat-sangat berterimakasih yang sudah membaca dan juga mereview di chap 1, arigatou :D

Salam JOYer!