"Gosh! Tempat apa ini?"

"Nadamu menggerutu."

"Salah?"

"Sopan saja."

"Whatever. Ya, akan kucoba."

"Bukan mencoba! Tapi harus."

"Yeah."


Oops! Something Happen?

Disclaimer: Masashi Kishimoto and J.K. Rowling

Story by FiiFii Swe-Cho


"Siapa mereka?"

Sakura yang merasakan adanya nada mengimiditasi dari sang guru, langsung menolehkan kepala ke arah gurunya. Dia langsung bergidik ngeri. Pasalnya, sang guru menatap para tamu-tamu mereka dengan deathglare.

"Err, Anda tenang saja dulu Tsunade-sama."

Tsunade menghela nafas keras.

"Jelaskan saja siapa mereka," ucap Tsunade yang sudah tenang sembari menunjuk ketiga sosok berjubah itu.

"Mereka –err, tamu asing."

"Ya, ya, ya! Tamu dari negeri asing Tsunade-baasama."

Tsunade menatap keenam orang di depannya tajam. Tatapan menginterogasi.

"Jadi mereka tidak punya tanda pengenal?"

Glek.

Naruto dan Sakura mengangguk. Pasrah. Tsunade kembali menghela nafas dengan keras. "Ceritakan saja mengapa mereka bisa sampai disini."

Anggota team 7 itu saling berpandangan. Tentu saja mereka bingung bagaimana cara menjelaskan datangnya tiga sosok rupawan ke desa ini.

"Saya bisa menceritakannya," sahut Hermione tiba-tiba. Tsunade memandangnya lalu mengangguk.

"Ceritakan."

*Oops!*

"Aneh, aneh, aneh, aneh sekali," gumam seorang pria berjubah hitam dengan lambang ular hijau di dadanya. Sang pangeran Slytherin–yeah kita sebut saja ia Draco Malfoy–itu memandang pintu kecil yang asing di koridor tersebut dengan heran. Dahinya mengernyit akan keanehan yang baru ia saksikan. Yup. Pintu itu mendorong paksa tiga murid Gryffindor masuk kedalamnya.

Ia mengelus-elus ornamen kuno pintu tersebut sembari berpikir keras. Bagaimna caranya agar pintu ini dapat terbuka. Mantra apa yang harus ia ucapkan. Ia bingung setengah mati.

"Alohomora!"

Kriik. Kriik. Kriik.

Hening.

Hey. Tidak terjadi apa-apa?

"Alohomora!"

Hasilnya? Sama saja.

Malfoy mendengus keras. Haruskah ia memohon-mohon pada pintu tersebut agar terbuka? Hei, itu ide yang tidak buruk.

"Bagaimana caranya agar kau dapat terbuka wahai pintu sialan? Arggh jika Granger tidak ada, aku bisa diinterogasi habis-habisan! Ayolah buka pintunya!"

Kriik. Kriik. Kriik.

Gagal lagi Draccie.

"HEI! TERBUKA KUBILANG!"

Oow. Pangeran kita kehabisan kesabaran. Memang orang yang temprament.

Dengan segera ia mengambil tongkatnya dan mengarahkan ke pintu tersebut. Mantra apa yang akan ia ucapkan?

"BOMBARDA!"

Ada hasilkah? Dan ternyata …

TETAP TIDAK TERJADI APAPUN. Bahkan tidak ada suara bom sama sekali. Poor.

Malfoy melengos.

"APA? Pintu macam apa kau ini? Mengapa tidak terjadi apapun?"

Tentu saja ia akan sangat, sangat, sangat, sangat frustasi seandainya mata tajam itu tak menemukan satu kata yang terpampang di pintu itu.

"Konoha?"

Dan pintu itu terbuka.

*Oops!*

Sraat. Sreet. Sreek. Sraash.

Seorang pemuda terduduk di lapangan latihan. Ia menunggu kedatangan teman-temannya sambil menggambar di sketchbook kesayangan miliknya.

Ia tenggelam dalam dunia.

Terbuai dalam imajinasi tanpa batas.

Terlena akan kebisuan yang menyenangkan.

Tetapi keheningan itu takbertahan lama.

BRUAAAGH!

Segera saja ia menutup sketchbook dan mengemas barang-barangnya masuk ke dalam tas hitam mungil dan langsung melesat menuju sumber suara.

Mata onyxnya melihat sosok asing.

Pria itu berjubah.

Bukannya tidak boleh. Tetapi lihat saja! Jubah tersebut sangat aneh untuk dilihat disini. Jarang ada orang yang memakai jubah seperti itu.

"Why you look at me like that?"

Oh tidak. Pria berjubah itu pun memakai bahasa yang aneh. Tentu ini bukan luar negeri. Ini Jepang.

Pemuda bermata onyx itu menatap lawan bicaranya heran. Mengamati siapa orang ini. Mencoba menganalisis darimana datangnya. Kenapa ia bisa tersesat disini.

"HEY! Who are you? Where am I? And why you look at me like THAT? Tell me! Tell me!"

Hening.

'Manusia ini tidak jelas. Ia marah-marah kenapa sih?' pikir pemuda berambut ebony ini.

"ARGGH!" umpat pria berjubah itu sambil mengeluarkan tongkatnya. "Laterium Nippo!"

Pemuda berambut ebony ini masih terdiam. Ia masih bingung dengan apa yang dilakukan pria berjubah itu.

"Jawab. Dimana aku sekarang?" tanya sang pria berjubah.

Hening. Lagi-lagi.

"Kau mencurigakan. Ikuti aku."

*Oops!*

Tsunade menatap keenam orang di depannya satu per satu. Tetapi perhatiannya langsung tertuju pada gadis berambut pirang bergelombang yang baru saja selesai bercerita.

"Jadi awalnya dari pintu aneh itu Hermy?"

Gadis itu mengangguk. Tsunade merilekskan dirinya dengan bersandar pada kursi.

"Baiklah. Kalia bertiga," ucapannya terputus ketika terdengar suara sebuah ketukan pintu.

Tok tok tok.

"Masuk."

Krieeet.

"Nona Hokage?" panggil seorang pemuda berambut ebony yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.

"Ya? Oh kau Sai. Ada apa?"

"Saya membawa seseorang yang mencurigakan Nona."

"Siapa Sai?" tanya Naruto.

"Oh Naruto. Kau disini? Sakura dan Sasuke juga? Dan siapa mereka?" tanya Sai betubi-tubi.

"Nanti saja kau berkenalan dengan mereka. Ceritanya panjang. Katakan saja sekarang Sai, siapa orang yang kau bawa itu," ujar Sakura.

Sai memandang Sakura sebentar. "Ah ya. Sebentar."

Pemuda itu keluar dari kantor hokage dan kembali dengan seorang pria berjubah tadi.

"Malfoy?" ujar Ron tak percaya. "Bagaimana kau bisa ada disini juga?"

"Aku hanya penasaran Weasley."

"Hn? Kalian saling kenal?" tanya Sasuke sarkastik.

"Tentu saja. Ia kan Pangeran di asramanya," jawab Ron. Draco mendelik ke arahnya. "Diam Weasley."

"Sudah! Dengan begini tamu asing kita menjadi empat. Bukan begitu semua?" suara Tsunade menggelegar membuat mereka berdelapan diam dan hanya bisa menganggukan kepala.

"Karena kalian berempat dari domisili yang sama dan sama-sama tidak mempunyai kartu identitas, aku berbaik hati mengijinkan kalian berdiam di Konoha sampai kalian bisa kembali kesana. Paham?"

"Paham."

"Bagus. Sakura, siapkan penginapan untuk mereka."

"Baik."

"Sedangkan kalian bertujuh tunggu saja di depan."

"Siap."

Setelah itu mereka keluar dari ruangan hokage. Sakura langsung mencari penginapan sedangkan Naruto, Sasuke, dan Sai menemani keempat tamunya.

Sambil menunggu Sakura, Ron asyik berdebat dengan Draco. Naruto, Sasuke, dan Sai membicarakan hal-hal berkaitan dengan latihan mereka. Harry dan Hermione terdiam. Namun Harry merasakan sesuatu tidak beres terjadi pada sahabatnya ini. Dan benar saja, Hermione sedang mencuri-curi pandang ke arah Naruto dan kawan-kawan.

"Hermy?"

"Ya Harry?"

"Kau memandang siapa?" tanya Harry to the point. Hermione merona tidak karuan. Ia langsung menundukkan kepalanya.

"Err, bukan siapa-siapa."

"Oh yeah?"

Hermione diam saja.

"Hermy? Jangan bilang kau suka sama pemuda berambut ebony itu, Sai."

Hening menyelimuti sepasang sahabat ini. Dengan memberanikan dirinya, Hermione mulai berbicara,

"Kau tahu Harry?"

"Ya?" degup jantung Harry berdetak semakin cepat.

" A–aku," Hermione menatap sobatnya. "A–aku baru saja mau bilang begitu."


To Be Continued


Selesai, selesai, selesaaaaaii! Yeay chappie dua jadi juga dan saya makin bingung sama pairnya. Haha :D.

Gimana kah chapter dua ini? Pendek ya? Gomeeen.

Yup. Special thanks for: DewDew, Nagisa Wellington, Aulia P Rahmania, Rissa 'Uchiha, Hiruma Manda. Makasih banget reviewnya. Mau RnR lagi?

Yep, makasih udah menyempatkan membaca fic ini.

Sign,

FiiFii Swe-Cho.