CHANBAEK FANFIC PARADE - SPECIAL UPDATE

TO CELEBRATE

#ChanBaekID 4th ANNIVERSARY

26.05.2012 - 26.05.2016

.

.

.

.

.

...

Ini adalah wilayah musuh.

Kalimat itu terus berputar dalam pikiran Baekhyun. Membuat pemuda mungil itu merasa waspada di setiap langkah yang ia ambil. Tak bisa menebak musuh apa yang akan ia hadapi di detik selanjutnya, memicu jantung Baekhyun untuk terus berdegup kencang. Namun, niatnya yang sudah bulat tidak mampu membuat ia mundur begitu saja. Ini seperti sedang berjalan di atas padang rumput yang ditanam jutaan ranjau musuh demi mendapatkan harta karun yang ditawan oleh musuh.

Karena itu, tiap kali ia mendengar sedikit suara. Bahkan jika itu hanya suara daun kering yang jatuh dari atas pohon. Pemuda mungil itu akan melompat berbalik, memekik kecil sambil mengacungkan tongkat baseball yang ia bawa. Setelah memastikan tak ada yang membahayakan dirinya, si mungil berjubah cream itu akan menghela nafas lega, lalu kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya dengan meningkatkan kewaspadaan. Sama sekali tidak menyadari ada laki-laki berambut merah –yang sejak tadi mengikutinya dengan cara melompati satu batang pohon ke batang pohon lainnya– kini sedang menahan tawanya dari atas batang pohon.

"Lucu sekali tikus itu.." ejek Chanyeol dengan seringainya.

.

.

.

.

.

.

... ... ... ... ... ...

.

.

.

_o0o_

Sayaka Dini

Present

~ZELONIA~

_o0o_

Main Cast: Baekhyun & Chanyeol

Hope You Enjoy It~ ^_^

_o0o_

.

.

Chapter I:

~CENTAUR~

... ... ... ... ... ...


Centaur adalah makhluk setengah manusia setengah binatang, yang digambarkan berwujud manusia dari kepala sampai pinggang namun bagian tubuh hingga ke bawah berwujud kuda yang sekaligus memiliki 4 kaki kuda dan ekor kuda.


.

.

.

Baekhyun yakin sudah mengambil arah lurus sejak tadi. Namun setelah lima jam berlalu, dari saat matahari baru naik sampai menjelang sore. Pemandangan yang dilewati Baekhyun masih saja tidak berubah. Hanya pohon-pohon tinggi dengan batang lebar yang berjejer, dan akar tanaman yang sesekali menghalau pijakan di atas tanah. Ia jadi merasa hanya berputar-putar di satu wilayah.

Benarkah ia salah arah jalan? Atau memang hutan ini terlalu dalam untuk ditelusuri dengan berjalan kaki?

"Tahu begini, aku tidak akan meninggalkan sepedaku di luar," Baekhyun mengeluh. Ia berhenti sejenak sambil menopang tubuhnya di salah satu batang pohon. "Jika aku kembali mengambil sepeda, itu hanya akan memakan waktu lama," . Setelah menarik nafas lagi, ia menggoyangkan sedikit ransel besar yang ada di punggungnya. Itu berat, jika ditimbang jumlah isi ransel itu akan melewati 30 kg. Tapi jangan sepelehkan tubuhnya yang mungil itu. Baekhyun masih bisa menahan ransel tersebut di punggungnya selama tiga jam lagi kedepan.

Baekhyun pun memutuskan akan berjalan lurus empat kilometer lagi. Jika lingkungan yang ia lewati masih sama, maka ia akan cari lain agar bisa melewati hutan ini. Atau mungkin ia bisa memanjat salah satu pohon dan melihatnya dari atas puncak.

Tunggu.

Kaki Baekhyun terhenti. 'Kenapa itu baru kepikiran sekarang?' benaknya berbisik. Ia langsung mendongak ke atas, berniat mengamati pohon, namun di saat yang sama ia melihat ada seluit bayangan yang melintas sepersekian detik di atas pohon. Baekhyun berkedip bingung.

Apa itu?

Burung yang melintas?

Tapi kenapa cepat sekali?

Atau itu hanya ilusinya saja?

Baekhyun memiringkan kepalanya. Rasa penasaran dan niat awalnya untuk melihat dari atas pohon mendorongnya untuk mendekati salah satu pohon. Dia akan mencoba memanjatnya.

Namun suara lain yang tiba-tiba ditangkap pendengaran Baekhyun menghentikan niatnya. Ia berhenti, mendengar lebih jelas suara apa itu, setelah detik kemudaian, senyuman bahagia mengembang di wajah Baekhyun.

"Air!"

Ia berlari kecil dengan semangatnya, membuat ransel di balik punggungnya ikut melompat-lompat kecil. Wajah Baekhyun berbinar dengan senyuman kotak yang tak hilang dari rupanya. Ia bisa melihat ujung dari deretan pohon yang ia lewati, bersamaan dengan suara aliran air yang semakin jelas terdengar seiring dengan larinya. Hingga cahaya matahari jingga menerpa wajah dan tubuh mungil itu. Membuat kakinya berhenti di tepi sungai yang begitu jernih dan terasa hangat.

"Woaaaah~" mata Baekhyun berkaca-kaca. Tubuhnya gemetar sendiri dengan euforia yang ia dapatkan. Menarik nafas panjang, ia siap berteriak. "AIIIIRRRR~~~" dan sepoaian angin juga gemerisik dedaunan pohon menjawab teriakannya.

Baekhyun melepas ranselnya, membuka seluruh pakaian tanpa tersisa. Menganggap hanya dirinya yang berada di sekitar sini sehingga ia nekat telanjang bulat. Ia melompat dengan bahagia ke dalam sungai, yang dangkalnya ternyata hanya sebatas dadanya. Air yang begitu jernih –hingga ia bisa melihat kakinya yang melayang dalam air– serta suhunya yang hangat, sungguh membuat Baekhyun merasa seperti lahir kembali.

"Ah~ segarnya~" ia mendesah sambil tersenyum lebar. "Seperti di surga..." lalu tertawa kecil dengan pemikirannya barusan.

Dan tak jauh dari sana...

Chanyeol berdiri di atas batang pohon, menyandarkan bahunya, serta menikmati pemandangan di sungai itu dengan satu kata yang keluar dari mulutnya.

"Wow."

.

.

.

ZELONIA~

.

.

.

Satu jam kemudian Baekhyun sudah keluar dari sungai, kembali menggunakan pakaian tujuh lapis plus jubah cream, kecuali tundung jubah karena rambut Baekhyun masih basah.

Krung~

Perutnya tiba-tiba berbunyi. Ia kelaparan.. Dengan bibir cemberut, ia melihat sekeliling, mencari sesuatu yang bisa ia makan di hutan asing ini. Ada sungai, tapi ia tahu tidak ikan satu pun di sana selama ia berenang satu jam di sana sebelumnya. Jadi, satu-satunya pilihan Baekhyun adalah-

Duk, duk, duk!

Sembilan buah apel merah tiba-tiba jatuh begitu saja dari atas pohon. Baekhyun mengerjap. Ia pun mendongak. Mengikuti jalur batang pohon hingga ke atas. Sejauh yang ia lihat tak ada apapun di atas sana kecuali dedaunan hijau di ujung cabang-cabang pohon.

Apa mungkin pohon yang sangat tinggi di dunia asing ini adalah pohon apel?

Si manusia mungil itu bahkan tidak bisa melihat puncak dari pohon tinggi tersebut.

Perutnya lagi-lagi berbunyi. Baekhyun kembali menatap apel-apel merah yang tergeletak di atas rerumputan hijau. Ia menjilat bibirnya. Menyerah dengan pemikiran dari mana asal apel tersebut, pemuda mungil itu pun memmungutnya.

Satu gigitan dan mata Baekhyun berbinar, sama seperti saat ia melihat sungai yang begitu jernih sejam lalu. "Manis sekali~" riangnya. Tak pernah dalam hidup Baekhyun sebelumnya ia memakan apel semanis dan sesegar ini. Dengan lahap ia menghabiskan sembilan apel tersebut tanpa henti.

Dan tak jauh dari sana, Chanyeol tengah berbaring di atas cabang pohon sambil menggigit sepotong apel merah yang sama.

.

.

.

ZELONIA~

.

.

.

Baekhyun bersendawa, duduk di atas rerumputan hijau, sambil bersandar pada batang pohon dan menikmati matahari yang hampir tenggelam di ufuk barat. Sama seperti Chanyeol yang duduk pada cabang batang pohon di atas Baekhyun –tanpa si mungil itu sendiri sadari.

Laki-laki bersurai hitam itu tersenyum lebar, membentuk garis rectangle yang lucu sambil menatap langit berwarna jingga. Angin sejuk yang berhembus, gemerisik aliran sungai yang begitu jernih dan hangat, serta buah apel merah besar manis dan mengenyangkan yang seolah jatuh dari atas 'langit'. Membuat Baekhyun berpikir bahwa ia seakan berada di surga.

Jika kemudahan terus datang padanya seperti ini, Baekhyun akan selalu bersemangat ayahnya di wilayah kekuasaan makhluk langit ini.

"Baiklah, waktunya melanjutkan perjalanan..." perintahnya sendiri. Si mungil itu berdiri, menepuk-nepuk jubahnya, lalu memungut ransel besar dan menggendongnya. Ia sudah siap melangkah saat suara gemerisik lain terdengar dari arah seberang sungai yang berjarak sekitar dua belas meter dari tempatnya berdiri. Baekhyun menunggu. Firasatnya mengatakan akan ada muncul dari balik deretan pepohonan di seberang sungai tersebut. Terbukti dengan suara langkah kaki yang semakin jelas terdengar.

Tanpa sadar Baekhyun menurunkan kewaspadaannya. Berbeda dengan dirinya yang tujuh jam lalu terlalu waspada saat memasuki wilayah ini. Setelah disajikan sungai jernih dan buah apel manis, Baekhyun masih merasa bahwa wilayah asing ini adalah surga tanpa ada sesuatu yang membahayakan dirinya.

Untuk sesaat dia lupa dengan kenyataan bahwa siapa pun manusia yang memasuki wilayah ini tak pernah bisa keluar.

Perlahan bayangan itu muncul di antara sela pohon, awalnya seperti bayangan manusia biasa. Namun saat wujud itu keluar dari bayangan pepohonan, tampaklah sosok yang dari ujung kepala sampai pinggang berwujud manusia, lengkap dengan rambut tipis pirang sebahu, tapi bagian pinggang hingga ke bawah seperti binatang kuda. Dengan anggota tubuh yang memiliki pantat yang menonjol kebelakang, empat kaki kuda, dan ekor kudanya. Itu Centaur.

Rahang Baekhyun terbuka. Pertama kali melihat wujud itu secara nyata membuat ia cukup terkejut meski sudah mengantisipasikan sebelumnya tentang wujud makhluk-makhluk msitis yang akan ia temui dalam wilayah kekuasaan langit ini.

Centaur yang muncul dari pepohonan seberang sungai itu, tidak hanya ada satu. Perlahan, centaur yang lain juga bermunculan. Satu, dua, tiga, dan ada sekitar lima belas centaur yang berdiri di sepanjang sungai. Semuanya menatap Baekhyun yang berdiri seorang diri di seberang sungai.

Firasat Baekhyun mulai tak enak, tepat saat salah satu centaur yang berada paling tengah, memunculkan seringai kejamnya.

"Tangkap dia!" serunya lantang.

"Yoooo!" dan centaur lain bersorak sambil mengacungkan busur serta anak panah masing-masing. Siap membidik Baekhyun sebagai sasaran mereka.

Mata Baekhyun membulat terkejut. Detak jantungnya memompa lebih cepat, seiring dengan anak panah yang ditarik dari busur para centaur. Telinga Baekhyun berdengung, seakan tuli sesaat dan hanya mampu mendengar detik perdetik bunyi bom waktu yang sedang menghitung mundur untuk sebuah ledakan besar ketika anak panah itu akan lepas dan meluncur ke arahnya.

Tangan Baekhyun bergerak cepat. Ia menggigit jempol kanannya hingga berdarah, lalu membuat garis vertikal dengan darah tersebut di telapak tangan kirinya. Mengatupkan kedua telapak tangan dan membisikkan sebuah mantra. Tepat saat belasan anak panah tajam dari para centaur itu meluncur cepat ke arah Baekhyun. Di saat itu pula cahaya kuning muncul dari permukaan tangan Baekhyun, menyebar, membentuk sebuah cangkang telur transparan yang menyelubungi seluruh tubuh mungil itu, melindunginya. Seluruh anak panah tajam itu pun terjatuh di atas rerumputan setelah menabrak cangkang cahaya tersebut.

Jantung Baekhyun masih berdetak begitu cepat. Sempat mengira sihir perisai –yang sudah tujuh tahun ia pelajari itu– terlambat walau hanya sedetik dan membuat nyawanya akan melayang detik itu juga.

Baekhyun mengelus dadanya. Para centaur menampilkan wajah terkejut. Dan Chanyeol yang menyaksikan hal itu semua dari atas pohon hanya bersiul kecil menyalurkan ketertarikannya dengan pertunjukan barusan.

"Dia penyihir!" Centaur yang berada paling tengah lagi-lagi berteriak, bertingkah seakan ia lah pemimpin kelompok centaur tersebut. "Harganya lebih mahal." Seringai kejam itu kembali muncul di wajahnya. "Jangan sampai kehilangan dia!"

"Yoooo!" sorakan lagi. Para centaur siap menggunakan anah panah yang baru.

Tanpa pikir panjang, dengan panik Baekhyun berlari, memasuki hutan. Seiring belasan anak panah yang meluncur ke arah pemuda mungil berjubah cream itu, mengincar nyawanya.

Tas ransel besar meloncat-loncat kecil di punggungnya. Suara kaki kuda para centaur terdengar menyusul dari belakang. Sementara perisai sihir cahaya milik Baekhyun mulai memudar. Baekhyun panik. Nyawanya teranncam, dan detik itu pula ia merasa telah masuk ke dalam neraka.

Kaki tersandung oleh akar pohon yang menjalar di atas tanah. Baekhyun terjatuh. Tas ranselnya melompat lepas dari punggung Baekhyun. Lututnya sakit. Ia tahu ada lecet di kulit persendiaan itu. Tapi Baekhyun tidak punya waktu untuk itu. Terlebih perisai sihir yang menyelubungi tubuhnya kini telah menghilang. Ia bangkit, baru selangkah ia ambil untuk memungut tas ranselnya, empat kaki kuda sudah menapak tanah dan berdiri tepat di belakangnya.

"Bergerak sedikit saja, panah ini akan menembus lehermu." Tanpa melihat, Baekhyun bisa merasakan seringai dari centaur yang sedang mengacungkan busur panah ke arahnya. Si mungil itu menelan ludah. Tamat sudah riwayatnya.

Sementara di kepala merah yang sejak tadi mengikuti dengan melompat dari cabang pohon ke cabang lain, kini menguap di atas sana. Ia menatap bosan ke arah bawah. "Ahhh, sudah tertangkap ya?" monolognya sendiri. "Tch, tikus itu tidak seru lagi untuk dilihat.." komentar Chanyeol. Ia memutar arah kakinya. Hendak melompat ke batang dahan pohon yang lain, berniat pergi meninggalkan tempat itu. Tapi tiba-tiba pijakannya goyah. Batang pohon yang diinjak Chanyeol patah. Ia bahkan belum siap melompat ketika tubuh tingginya terjatuh. Seperti buah jatuh dari atas pohonnya.

Tubuh tinggi Chanyeol jatuh tepat di samping Baekhyun yang sedang dikepung para centaur.

.

.

.

ZELONIA~

.

.

.

Byun Baekhyun terkejut ketika ada sesuatu yang jatuh di sampingnya. Beberapa menit yang lalu juga ada apel merah yang jatuh, kini sosok laki-laki berambut merah yang tergeletak dengan pakaian tak dikancing dan mata yang tertutup. Baekhyun tak yakin apa itu hanya seonggok mayat yang jatuh dari atas langit atau hanya orang malang yang jatuh dan terjebak dalam situasi bahaya Baekhyun.

Di saat itu pula Baekhyun sadar. Kini perhatian para centaur berpusat pada objek yang baru saja terjatuh di depan mereka. Baekhyun pun memanfaatkan keadaan ini.

Dengan posisi yang masih membungkuk, tangan Baekhyun menyusup ke dalam jubahnya. Mengambil tujuh buah peluju mesiu sebesar kelereng dari kantong kecil dalam saku jubahnya. Merasa waktu dan dirinya sudah siap. Ia pun melempar senjata itu ke arah kumpulan para centaur.

Dalam sekejap ledakan-ledakan kecil di atas tanah terjadi. Kaki-kaki kuda centaur bergerak mundur menghindari percikan ledakan. Debu-debu berterbangan membentuk kabut menghalangi pandangan. Beberapa centaur terbatuk, mengibaskan udara yang menghalangi pandangan dan pernapasan.

Perlahan, kabut debu pasir mulai menghilang. Bersamaan dengan hilangnya sosok si mungil manusia dan si pemuda berambut merah dari pandangan centaur. Hanya menyisakan tas ransel besar yang tergeletak di atas tanah.

.

.

.

ZELONIA~

.

.

.

"Aku tidak percaya aku melakukan hal ini." Keluh Baekhyun di antara nafas terengah serta kaki yang terus berlari. Kini yang menjadi beban di belakangnya bukanlah ransel besar. Melainkan sosok pemuda asing berambut merah yang baru saja ia temui.

Sesaat, sebelum ia melarikan diri dari para centaur. Baekhyun mendekati sosok pemuda asing berambut merah yang masih menutup matanya itu. Menyempatkan untuk memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya. Jantungnya berdetak, ia masih hidup. Tanpa pikir panjang lagi dan dalam keadaan terdesak, Baekhyun memilih membawa pergi pemuda berambut merah itu daripada tas ransel perlengkapannya.

Berhubung tubuh Baekhyun lebih kecil dari pemuda tersebut, ia hanya bisa menarik kedua tangan si merah melingkari lehernya dari belakang dan membawanya dipunggung, sementara kaki panjang si merah ia biarkan terseret di belakangnya.

Chanyeol yang berada di belakang leher Baekhyun, membuka salah satu matanya, mengintip. Ia sebenarnya tidak pingsan semenjak jatuh dari atas pohon. Berpura-pura tak sadarkan diri hanyalah siasatnya agar tidak terlibat ke dalam hal yang merepotkan baginya.

Suara kaku kuda centaur yang berlarian terdengar dari belakang, semakin cepat semakin keras terdengar. Baekhyun menoleh kebelakang, Chanyeol langsung menutup matanya.

Si mungil itu melompat ke samping, berbelok arah dan sembunyi di balik pohon. Ia membaringkan si merah di atas tanah dan menutupinya dengan dedaunan pohon. Baekhyun duduk di balik pohon. Mendengar puluhan langkah kaki kuda centaur yang berlari melewati tempat persembunyiannya.

Setelah suara itu perlahan menjauh dan menghilang, Baekhyun menghela nafas lega. Ia melirik sosok rambut merah yang berbaring di atas tanah dan tertutupi daun kering. Rasa penasaran itu muncul dalam benaknya.

Ia mendekat. Duduk berjongkok di samping si merah. Si mungil membuka dedaunan yang menutupi wajah tersebut.

Baekhyun mengerjap. Mengamati. Sejauh ini, wajah itu terlihat seperti manusia biasa. "Hei," bisik Baekhyun. Namun si rambut merah itu masih menutup matanya. Telunjuk Baekhyun yang lentik terulur., menekan-nekan pipi Chanyeol. "Hei, bangunlah."

Masih tak ada respon. Baekhyun berniat menepuk pipi orang tersebut. Namun sentuhan di pantatnya sendiri membuat ia terhenti. Dengan ekspresi horror, Baekhyun menoleh ke belakang. Mendapati tangan dari si pemuda merah yang terlihat pingsan di sampingnya itu, sedang meremas-remas belahan pantat Baekhyun yang berjongkok..

Darah berdesir naik ke seluruh wajah imut Baekhyun, seperti aliran magma yang siap meledak dari gunungnya.

"APA YANG KAU LAKUKAN?!"

BRUK!

.

.

.

ZELONIA~

.

.

.

Muka Baekhyun masih merah. Hampir menyamai warna rambut milik pemuda yang duduk di hadapannya.

Pipi Chanyeol bengkak bekas tonjokan. Itu terlihat berdenyut nyeri, sampai-sampai pemuda bertelanjang dada-dada itu mengusap pipinya sambil mengernyit sakit. "Aku tidak tahu kalau tikus bisa memukul sekeras itu."

Baekhyun menatapnya tajam. Ia masih marah. "Kau benar-benar tidak tahu malu!" ia menghardik. Persetan dengan kesopanan pada orang yang baru ia temui. Si rambut merah itu duluan yang sudah mepropokasinya. "Aku sudah menolongmu dari para centaur itu dan kau tiba-tiba me–" Baekhyun tidak melanjutkannya, pipinya merona malu.

"Kenapa kau sensitif sekali?" Chanyeol tak mau kalah. "Aku kan hanya sedang memeriksanya, apa itu sungguh empuk atau tidak?"

Wajah Baekhyun makin memerah. "Mengapa kau harus memeriksa hal gila seperti itu?"

"Karena aku penasaran sejak pertama kali melihatnya."

"Melihat apa?"

"Pantatmu."

Baekhyun mengeram. Orang ini sudah tidak tahu malu, ia juga tidak tahu sopan santun untuk menjaga perkataannya di hadapan orang asing. "Mengapa penasaran dengan pantat orang lain sementara kau juga punya pantat sendiri!"

"Kan sudah kubilang. Pantatmu terlihat lebih empuk." Wajah innocent yang ditampilkan Chanyeol seiring dengan perkataannya itu membuat Baekhyun gila.

"Akh! Lupakan!" ia tidak ingin membahas itu lagi. "Karena aku sudah menolongmu, kau harus menjawab pertanyaanku."

"Bukannya sejak tadi kau sudah bertanya padaku?"

Baekhyun mengabaikan gumanan pemuda rambut merah itu dan mengajukan pertanyaannya. "Siapa kau sebenarnya?"

"Chanyeol," dan si merah menjawab tanpa berpikir lama.

Baekhyun memiringkan kepala, berpikir. "Chanyeol? Apa itu nama bangsa dari makhluk lain seperti Centaur?" tanyanya memastikan.

Si merah itu menggeleng. "Tidak. Hanya ada satu Chanyeol, dan itu aku."

Oke, Baekhyun berpikir itu adalah nama bangsa baru yang tidak pernah ia dapati dalam buku ayahnya. "Jadi, siapa namamu?"

"Chanyeol."

"Tapi, tadi nama bangsamu kan–"

"Chanyeol."

"Lalu, namamu sendiri?"

"Chanyeol," jawab si merah itu lagi, dengan senyuman lebarnya.

Baekhyun pias. Ia merasa bodoh kalau ia bertanya tentang hal yang sama lagi.

"Oke, katakan kalau kau tidak memiliki nama bangsa. Kalau itu benar, apa kau juga manusia biasa sama seperti aku?"

Pertanyaan itu tidak langsung di jawab. Chanyeol tiba-tiba mencondongkan wajahnya. Menatap lekat langsung ke mata caramel Baekhyun. "Apa menurutmu..." ia berbisik. "...aku terlihat seperti manusia?"

Baekhyun tidak fokus. Entah apa yang membuatnya tidak bisa fokus dan hanya terpaku pada tatapan kelam dari si rambut merah itu. Namun sentuhan lain yang ia rasakan, membuat Baekhyun terperanjat. Dalam posisi saling duduk berhadapan itu, tangan Chanyeol menelusup, menyentuh sesuatu di antara selangkangan Baekhyun.

"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Baekhyun menjerit sambil meluncurkan tinjunya dengan wajah memerah.

BRUK! Dan tubuh si rambut merah terhempas, berguling di atas tanah. Sisi pipi Chanyeol satunya juga ikutan bengkak, berdenyut nyeri.

.

.

.

ZELONIA~

.

.

.

Baekhyun berdiri, menepuk jubahnya. Tidak mau lagi terlibat hal konyol dengan pemuda asing berambut merah itu, Baekhyun beranjak pergi.

"Kau tidak ingin melakukan barter denganku?"

Si mungil terperanjat dengan suara bass yang tiba-tiba berbisik di telinganya. Baekhyun menoleh, bertatap muka dengan wajah tampan Chanyeol yang tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya dan mencondongkan wajah di atas bahu si mungil.

Kaki Baekhyun bergerak mundur. Jantungnya berdegup kencang tanpa diperintah. "B-barter?" ia bertanya, sepintas gugup tanpa ia sadari.

Si rambut merah berdiri tegak. Ia mengangguk. "Yup, barter. Satu pertanyaan tentangku, dan satu pertanyaan tentangmu." Chanyeol menyeringai kecil. "Bohong kalau aku tidak penasaran dengan tikus sepertimu."

Pelipis Baekhyun berkedut kesal. "Siapa yang kau bilang tikus? Aku manusia."

Chanyeol mengabaikan protes itu. "Jadi kau mau barter atau tidak?"

Baekhyun melihat Chanyeol tampak serius kali ini, jadi ia mengangguk. "Aku duluan," usul Baekhyun yang disetujui oleh Chanyeol. "Siapa kau sebena-" Baekhyun menggeleng tiba-tiba. Tidak, ia tidak ingin menanyakan hal yang sama dan akan dijawab hal konyol oleh Chanyeol. Ia pun mencari pertanyaan lain. "Apa kau tinggal di sini?"

"Ya."

Jadi dia adalah makhluk langit, pikir Baekhyun.

"Sekarang aku," ucap si rambut merah bersemangat. "Kenapa kau ke sini?"

"Aku sedang mencari ayahku."

"Ooh, jadi kau anak hilang yang kehilangan ayahnya," Chanyeol mengangguk-ngangguk paham.

Baekhyun merasa kesal dengan sebutan 'anak' hilang tersebut.

"Kalau begitu kau harus segera pulang, sebelum para centaur itu kembali menemukanmu."

Si mungil mengeram kesal. "Aku tidak akan pulang sebelum menemukan ayahku," putus Baekhyun. "Dan bukan aku yang hilang, tapi ayahku yang pergi dan tak kembali sejak memasuki wilayah ini, karena itu aku akan mencarinya." Ia berbalik, tak ingin lagi berurusan dengan lelaki asing rambut merah yang selalu membuatnya kesal. Bahkan di pertemuan pertama mereka.

"Apa kau sadar dengan apa yang akan dilakukan para centaur itu jika menemukanmu?"

Langkah Baekhyun terhenti. Ia berpikir. Kenapa juga para centaur itu langsung mengejarnya saat pertama kali melihatnya?

"Kenapa mereka mengejarku?"

Chanyeol melompat di hadapan Baekhyun. "Karena baumu."

Baekhyun tak mengerti.

"Bau manusia yang kau bawah dari luar Zelonia itu mengundang mereka untuk mencarimu."

Si mungil masih tak mengerti. "Dari luar Zelonia? Zelonia apa?"

Chanyeol mengernyit. "Kau sendiri yang memasuki wilayah Zelonia dan kau sendiri tidak tahu apa itu Zelonia?"

"Aah." Baekhyun mengangguk ia mulai paham. Mereka menyembut tempat kekuasaan mereka ini dengan nama Zelonia. "Jadi maksudmu, para centaur itu bisa mencium bauku?"

Chanyeol mengangguk. "Tapi sekarang tidak lagi. Karena kau sudah menghilangkan baumu itu di sungai Zelonia."

Oke, Baekhyun mengerti. Tapi... "Tunggu, dari mana kau tahu aku baru saja dari sungai itu?" seingatnya, Baekhyun menemukan Chanyeol jatuh dari atas pohon, dan lokasinya cukup jauh dari sungai.

Si rambut merah itu tidak bisa menahan bibirnya, melengkung membentuk seringai kecil. "Aku melihat semuanya..." nadanya bersiul, melirik tubuh Baekhyun yang memakai jubah cream dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Mengerti maksudnya, wajah Baekhyun seketika memerah. "Tidak sopan!" serunya kesal sambil menunjuk Chanyeol. "Dasar penjahat kelamin!"

Seringai jahil Chanyeol menghilang. Ia memasang wajah datar. "Hei, hei, aku hanya menonton tikus mandi, apa hubungannya dengan penjahat kelamin?"

Si mungil menghentakkan kaki, makin kesal. "Dan aku bukan tikus!" protesnya.

Chanyeol ingin tertawa terbahak. Tapi ia menahannya, melihat bagaimana wajah Baekhyun sangat merah menahan amarah dan siap meledak kapan saja. Lucu sih, tapi kasihan juga melihat emosinya naik sedrastis itu.

Baekhyun menarik nafas, menenangkan emosinya. Mencoba merelakan bahwa dalam usia 22 tahun ini, tubuh telanjangnya sudah menjadi tontonan orang lain. Setidaknya, mereka sama-sama lelaki, pikir Baekhyun menghibur diri.

"Jadi," mulai Baekhyun. "Kenapa mereka ingin menangkapku? Aku masih tidak mengerti dengan itu."

"Dengar," Chanyeol memulai penjelasannya. "Centaur itu ke hutan ini untuk berburu. Mereka akan menangkap siapa saja yang bisa dijual-belikan. Dalam keadaan hidup ataupun mati."

Baekhyun tercengang. "Menjualku? Hidup atau mati?"

"Yup. Hidup sebagai budak. Atau mati sebagai makanan."

Si mungil merinding, membayangkan kemungkinan buruk itu terjadi padanya. Ia sadar, dunia ini lebih berbahaya dari pada tempat dimana ia lahir.

"Karena kau sudah tahu resikonya. Sebaiknya kau kembali pulang ke tempat asalmu, tikus kecil."

Baekhyun mengembungkan pipinya kesal. Pemuda rambut merah ini benar-benar menyebalkan. "Biar ku beritahu padamu sekali lagi," ucapnya lantang. "Aku kesini untuk mencari ayahku, dan aku tak akan kembali ke rumah tanpanya. Kau pikir aku takut hanya karena kau sudah memberitahukan aku tentang para centaur itu?" nada yang diucapkan si mungil itu begitu sombong. Terlalu percaya diri. "Aku sudah lama merencanakan ini, dan aku sudah memiliki banyak persiapan senjata milikku sendiri. Karena itu aku tidak akan mundur." Baekhyun berjalan dengan dagu terangkat melewati sosok tinggi berambut merah itu.

"Hanya karena kau bisa sihir, kau jadi begitu percaya diri?" nada Chanyeol menyindir.

Baekhyun tak gentar, tak juga menghentikan langkahnya. "Jangan remehkan aku!"

"Aku sudah memperingatimu, lho~" suara Chanyeol masih terdengar di belakangnya.

"Terimakasih banyak," sarkasnya tanpa menoleh ke belakang.

"Jangan harap aku akan membantumu~"

"Siapa juga yang meminta bantuanmu!"

Chanyeol menggeleng prihatin. "Tikus itu ternyata sangat keras kepala..." gumannya melihat punggung Baekhyun menjauh dari pandangannya. "Ya sudahlah, aku akan mencari hal menarik lainnya saja," Chanyeol berbalik ke arah berlawanan dari arah Baekhyun menghilang.

Baru satu langkah, si rambut merah itu berhenti. Raut wajahnya berkerut, terlihat berpikir keras. Ia menoleh ke belakang, melihat ke arah si mungil tadi berjalan. "Kenapa?" gumamnya sendiri. "Kenapa ini menggangguku?" keningnya semakin berkerut tajam.

Chanyeol mendesah kesal. "Dia hanya tikus kecil, dan mengapa aku harus peduli?" gerutunya sendiri.

.

.

.

ZELONIA~

.

.

.

Baekhyun kembali ke tempat dimana ia meninggalkan tas ranselnya. Ia tak bisa melanjutkan perjalanan jika harus kehilangan segala perlengkapannya itu. Banyak hal berharga dan bekal senjata di dalamnya.

Si mungil itu mengintip dari balik pohon. Melihat suasana sekitar terasa aman dari tempat di mana tas ranselnya tergeletak di atas tanah. Baekhyun menelan ludah, ia jadi gugup sendiri.

Tidak mungkin kan, gerombolan centaur itu kembali ke tempat ini? Mereka tidak sepintar itu untuk membuat ransel Baekhyun menjadi umpan kan?

Baekhyun berharap otak yang dimiliki para centaur itu mirip dengan otak kuda.

"Aku hanya perlu mengambil tasku, dan langsung pergi," komando pada dirinya sendiri. Baekhyun pun memulai misinya sambil terus meneriakkan perintah di otaknya. Mengendap mendekati tasnya.

Ambil dan pergi.

Ambil dan pergi.

Ambil dan pergi.

Ambil! Baekhyun telah mengambil tasnya. Ia pun berbalik untuk bersiap per–.

Oh!

Yang diwaspadai muncul. Seorang ataukah seekor centaur telah berdiri di hadapannya, lengkap dengan senyum kemenangan.

Si mungil menelan ludah, ia memeluk erat tasnya. Hendak berbalik arah, namun lagi-lagi ada centaur lain yang menghadangnya. Lima belas centaur itu sudah berbaris mengeililinya. Mengepung Baekhyun dalam satu lingkaran.

Tamat sudah riwayatnya. Perisai sihir miliknya hanya bisa bertahan lima menit. Dan ia tidak akan sempat mengambil peluru mesiu di balik jubahnya jika seluruh mata centaur terpusat pada dirinya.

"Jangan harap aku akan membantumu~"

Suara bass dengan nada main-main milik Chanyeol tergiang di benaknya. Dan kini Baekhyun merasa jadi pengecut karena sudah menolak bantuan dari pemuda berambut merah itu.

Centaur yang berada di depan Baekhyun menyeringai kejam. Bibirnya terbuka, siap mengeluarkan perintah pada para centaur yang lain. "Tangkap di–"

BRAAK!

Centaur itu terlempar ke samping bersama tiga centaur yang berjejer di sampingnya. Terhempas sampai menabrak pohon yang berjarak sepuluh meter dari tempatnya semula. Di hadapan Baekhyun kini gantian berdiri seorang pemuda tinggi berambut merah yang baru saja melayangkan tendangannya. Chanyeol memutar pergelangan kakinya tanpa alas kaki itu di atas tanah.

"Aku tidak percaya aku melakukan hal ini." Ia mengikuti nada yang pernah diucapkan Baekhyun. Sementara si mungil itu sendiri tanpa sadar menampilkan wajah sumringah dan mata berbinar melihat kedatangan Chanyeol.

Si rambut merah berdecak, meski dalam hatinya merasa bangga telah datang dengan pose yang keren. "Tunggu apa lagi," ucapnya.

"Hah?" Baekhyun masih loading.

Chanyeol yang gemas, langsung menarik tangan Baekhyun. "Lari, tikus bodoh." Dan mengambil langkah cepat meninggalkan para centaur.

Baekhyun kewalahan mengikuti lari cepat Chanyeol dan tersiksa dengan tangan yang ditarik. "Tunggu~ kau terlalu cepat..."

Chanyeol berhenti. Suara kaki kuda para centaur menyusul dari belakang. "Pegangan," pinta Chanyeol.

Baekhyun mengerjap bingung. "Apa?" ia melihat Chanyeol membungkuk di depannya, memeluk pinggang pemuda mungil itu, mengangkatnya, menggendongnya di atas bahu. Baekhyun memekik kecil, tubuhnya melengkung ke balik punggung Chanyeol. Ia memeluk erat tas ranselnya agar tidak ikut terjatuh. "Tunggu, kau membuat kepalaku pusing!"

"Jangan cerewet." Chanyeol menekuk sedikit lututnya, dan detik kemudian ia melompat tinggi, tinggi sekali. Baekhyun menjerit. Telinga Chanyeol berdengung. Ia menapakkan kakinya di atas cabang pohon tinggi terdekat. "Hentikan teriakanmu!"

Baekhyun membuka matanya, masih dalam gendongan di bahu Chanyeol, ia bisa melihat para centaur itu berhenti di bawah sana. Mengacungkan busur panahnya ke arah atas, mengincar mereka berdua. Baekhyun segera menggigit ibu jarinya lagi, membentuk garis darah di telapak tangannya dan mulai merapal mantra. Tepat saat belasan anak panah meluncur ke arah mereka, sihir cahaya Baekhyun telah melindungi dirinya beserta Chanyeol ke dalam perisai cangkang cahaya. Anak panah yang meluncur k atas itu pun, kembali berjatuhan ke bawah.

Chanyeol menyeringai senang. "Sihirmu berguna juga."

Tapi Baekhyun masih panik. "Jangan diam saja. Cepat lari! Sihirku hanya bertahan lima menit."

"Siap!" Chanyeol pun melompat dari cabang pohon satu ke pohon yang lain.

.

.

.

ZELONIA~

.

.

.

Setelah yakin cukup jauh dari para centaur, mereka berhenti. Pemuda berambut merah itu menurunkan si mungil dari bahunya. Baekhyun bersyukur akhirnya kedua kakinya menapak pada tanah, dan kepalanya tidak lagi menghadap ke bawah. Ia memakai tas ranselnya, lalu membungkuk hormat pada 'sang' penolong.

"Terimakasih sudah menolongku."

"Apa rencanamu?" pertanyaan langsung diajukan oleh Chanyeol.

"Tentu saja mencari ayahku."

"Kemana? Terus berputar-putar di dalam hutan dan dikejar-kejar para centaur? Begitu?"

Baekhyun menggembungkan pipinya. Merasa kesal dengan nada mengejek Chanyeol. "Mau gimana lagi, aku tidak begitu paham dengan wilayah ini." Sesuatu tiba-tiba terlintas dalam otaknya. "Ah, ya. Tadi kau bilang kalau para centaur itu akan menjualku jika tertangkap. Kemana mereka akan menjualnya?"

Chanyeol mengernyit sambil menjawab. "Ke kota terdekat. Kenapa kau menanyakan itu?"

Baekhyun tersenyum bangga dengan idenya. "Tentu aja aku akan ke sana. Pasti banyak orang di sana, dan aku bisa mencari petunjuk dimana ayahku berada."

"Kau benar-benar nekat ya?"

Si mungil mengabaikan komentar sarkas si rambut merah. "Beritahu aku kemana arah menuju kota terdekat."

Chanyeol menghela napas. Percuma juga dilarang, ia tahu si mungil ini begitu keras kepala. "Lurus saja ke arah utara."

Baekhyun tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi kecilnya dan lengkungan bulan sabit. Begitu menggemaskan tanpa ia sadari. "Terima kasih banyak tuan bernama Chanyeol," bungkuknya 90 derajat sampai helai hitam rambut pendeknya sedikit bergoyang, seolah mengundang tangan Chanyeol untuk mengacak gemas puncak rambut si mungil itu.

Dengan tas ransel besar di punggungnya, si mungil yang menggunakan jubah cream itu kembali melanjutkan perjalanannya. Baru sepuluh meter ia melangkah, kakinya terhenti. Baekhyun menoleh ke belakang dan mendapati pemuda berambut merah yang pakaiannya tidak dikancing itu, berjalan mengikutinya dengan kedua tangan terlipat di belakang kepala.

Baekhyun mengernyit bingung. "Kenapa kau mengikutiku?"

Chanyeol menyeringai kecil. "Aku sudah memutuskannya."

Si mungil memiringkan kepala. "Memutuskan apa?"

"Kalau kau adalah tikus yang menarik untuk dilihat."

"Aku belum mengerti." Baekhyun mulai kesal. "Dan sudah berapa kali kubilang. Aku bukan tikus! Namaku Baekhyun!" ia berbalik, kembali ke arah tujuannya. Tak mau lagi peduli apa si rambut merah itu masih mengikutinya atau tidak. Selama ia tidak berbahaya, itu tidak masalah bagi Baekhyun.

Baekhyun hanya tidak sadar kalau sejak tadi mata Chanyeol terpaku pada bagian tubuh bawahnya yang tertutupi oleh jubah dari belakang.

Hari sudah gelap. Baekhyun mulai kelelahan. Ia berhenti. Menoleh ke belakang. "Berapa lama lagi aku akan sampai di kota terdekat."

Chanyeol melirik ke atas, tampak berpikir. "Mungkin sekitar seminggu jika kau berjalan menggunakan kaki kecilmu seperti itu."

Baekhyun mendesah. "Apa tidak ada kendaraan di sini?"

"Apa yang kau harapkan dari hutan ini? Kecuali naik di punggung kuda para centaur." Chanyeol menyeringai.

Baekhyun mencibir, mempoutkan bibir cherrynya. "Tidak. Terima kasih banyak."

Saat si mungil berbalik membelakanginya, Chanyeol terkekeh gemas tanpa suara. Pemuda berambut merah itu berlari kecil mendahului Baekhyun dan berhenti di depannya. "Ayo, naik di punggungku," pintanya sambil berjongkok.

Mata Baekhyun berkedip. "Kenapa?"

"Akan terlalu lama jika aku terus menunggumu berjalan selama seminggu. Dan itu pasti akan sangat membosankan. Ayo, cepat naik, sebelum aku berubah pemikiran."

"Mengangkat diriku dengan tas ranselku itu cukup berat lho~"

Chanyeol berdecak tak sabar. "Kau tidak ingat aku sudah membawamu dan tasmu itu sebelumnya?"

Ah, Baekhyun hampir melupakan itu. Ia juga baru sadar kalau pemuda tinggi itu cukup kuat, dengan otot-otot padat yang meski tidak begitu besar terlihat dari tangan serta perut sixpack yang ia pamer itu. Baekhyun pun tersenyum kecil. "Aku tidak tahu kalau kau ternyata sebaik ini," gumamnya.

Tanpa tahu, Chanyeol menyembunyikan seringai kecilnya.

Baekhyun mengalungkan kedua tangannya di leher Chanyeol. Begitu pun kakinya di sekitar pinggang Chanyeol dari belakang.

"Siap?" tangan Chanyeol menahan berat tubuh Baekhyun di belakangnya.

Si mungil tersenyum bersemangat di balik leher Chanyeol. "Yup!"

Dan pemuda berambut merah itu pun melompat tinggi dari cabang pohon ke pohon yang lain, dengan kecepatan luar biasa hingga membuat jubah Baekhyun di belakang ikut berkibar tertiup angin. Baekhyun sangat senang. Ia tidak bisa berhenti tersenyum di bahu Chanyeol.

"Jika kita secepat ini, berapa lama kita akan sampai di kota terdekat?"

"Sekitar besok siang."

"Benarkah?" Baekhyun berbinar.

Chanyeol tersenyum bangga.

"Hebat..." riang Baekhyun. Namun tak lama kemudian, senyumannya langsung sirna. Wajahnya memerah dalam sekejap. Tangan lentiknya menangkup helaian rambut merah di hadapannya, lalu menjambak rambut itu keras ke belakang.

"AKHH!" Chanyeol menjerit kesakitan. Sementara Baekhyun menatapnya horror dari belakang.

"Berhenti..." Baekhyun mengeram. "...meremas bokongku. DASAR MESUUUM!"

Dan pertualang si mungil pemberani dengan si merah mesum, baru saja dimulai...

.

.

.

ZELONIA~

.

.

.

Sementara itu, di kota terkedat yang dituju kedua tokoh utama kita, terlihat ramai seperti biasa. Namun di sisi kota, tepatnya di markas para centaur yang menjual 'hasil' buruannya. Terdapat kesunyian dan pengengkangan bagi para tahanan yang hendak di jual.

Di salah satu bilik tahanan jeruji, ada pemuda berkulit putih pucat dan berambut brown yang duduk bersimpuh di atas beton yang dingin, sendirian. Memakai pakaian abu-abu yang lusuh. Seluruh tubuhnya di lilit rantai besi yang lebih kuat dari tahanan-tahanan lainnya. Seolah tidak cukup untuk menahannya, kedua tangan dan kakinya pun ikut diborgol.

Dua centaur pun berjaga-jaga di depan bilik jerujinya. Salah satu centaur yang menangkap ada kejanggalan, berisik pada temannya. "Mengapa yang ini harus dijaga lebih ketat dari buruan yang lainnya?"

"Yang ini lebih spesial dari spesies bangsa lain yang bisa kita jual. Harganya akan jadi paling tinggi."

"Benarkah? Memangnya dia dari bangsa mana?"

Centaur itu mendekati temannya, memberikan jawaban dengan cara berbisik. Dan centaur yang mendengarpun tercengang.

Tahanan yang jadi objek pembicaraan, mulai mengangkat kepala yang sejak tadi menunduk. Menampilkan wajah tampan namun dengan raut muka yang datar. Sehun namanya.

.

.

.

To be continue...

.

.

.

_o0o_

~ZELONIA~

_o0o_

Review?

~Sayaka Dini~

[26 MEI 2016]

.

.

.

.

A/N: Maafkan daku jika ini mengecewakan dan typo bertebaran. Maklumi masa penulisan ini penuh perjuangan dengan cara sembunyi-sembunyi dari seseorang... astaga, daku merasa seperti buronan dalam rumah tangga sendiri saja (lebay)

Update jamaah, spesial untuk ulang tahun CIC~ bareng author-author kece berikut :

Pupuputri; JongTakGu88; Flameshine; Baekbychuu; Blood Type-B; RedApplee; Railash61; Amie Leen; Hyurien92; Kang Seulla; SilvieVienoy96; Prince Pink feat Oh Lana; Sehyun14; Mykareien; Oh Yuri

.

.

Makasih banyak yang udah review~~berkat kalian aku masih bertahan dan meneruskan fic ini dari berbagai mata yang memandang daku... hiks... #ngelapairmataharu. Mian tak bisa balas satu-satu, tapi saya sungguh, sungguh berterima kasih, jika sempat, selanjutnya akan daku balas satu persatu...

Saranghae~~ *melambaidramatis.