Dyofanz : hehe Jongin kecil emang unyu xD

Cieee bias nebak aja si beb ;)

Ini udah lanjut..

Jongin pake mata kucing biap mantep! #eh

Makasih udah ripiu beb, smoga lu baca lanjutan ff ini ^^

Silahkan dibaca readers maupun siders~ :D


Disclaimer SM Entertaiment

.

Kim Jongin – Do Kyungsoo – Kim Taeyeon – Im Yoona – Kim Youngwoon – Jung Yunho – Jung Jessica – Jung Krystal

.

Family/Angst

.

PRESENT

.

APHA

.

By

.

Nagichan94

.

.

.

.

.

.


Chapter 1

Jongin terbangun dari tidur panjangnya. Menahan pening dikepalanya saat berusaha mendudukan tubuhnya di atas tikar ruang tamu. Mengusap peluh yang bercucuran didahinya sambil menyadarkan kembali pikirannya yang sempat blur beberapa waktu lalu. Ah, haruskah ini terjadi setiap pagi menjelang?

"Cih, mimpi sial itu lagi." Umpatnya.

Jongin memijit keningnya yang berkedut sakit. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan yang tidak besar itu. Jongin merogoh saku celananya, mengecek ponsel jadulnya. Dua puluh panggilan tidak terjawab dan lima pesan baru. Segera dia buka pesan-pesan tersebut.

.

From : si mungil

Hey, kkamjong! Kau sedang apa?

.

From : si mungil

Kkamjong, aku kesepian. Ayo kita bertukar pesan! :D

.

From : si mungil

Kau sudah tidur, kkamjong?

.

From : si mungil

Kkamjong! Balas pesanku! Aish -.-

.

From : si mungil

Hueeeee~ Kkamjooooooonnnnggg~ :'o

.

Jongin tertawa geli melihat pesan-pesan yang dikirimkan 'si mungil'. Lucu, itulah anggapannya. Menutup jendela pesan diponselnya, Jongin berjalan ke arah dapur. Dan, dia mendapati sang kakak sedang membuat teh.

"Nunna."

Wanita yang dipanggil nunna itu menoleh ke arah Jongin. Menatap lembut dan tersenyum hangat. "Pagi, Jongin. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"

Jongin mendekati wanita itu dan berdiri di sampingnya. "Hm, lumayan." Jongin menguap sebentar dan bertanya, "Sica nunna membuat teh lagi?"

Jessica menghela nafas, "Ya, begitulah. Kau tahu aku tidak bisa membantah perintah umma."

Jongin melirik empat cangkir teh yang saling berdekatan jaraknya dan satu cangkir teh yang letaknya agak berjauhan dari yang lainnya. Jongin menghela nafas berat. Selalu saja seperti ini, batinnya.

Jongin melirik wajah Jessica. Ada sedikit luka memar di tulang pipi kirinya, juga luka goresan menghias di atas alis kanannya. Jangan lupakan sudut bibir kanannya yang agak membiru. Miris mendapati wajah nunna yang disayanginya tidak semulus dulu.

"Aku harus mengantar teh ke kamar umma." Ucapan Jessica membuyarkan lamunan Jongin.

"Biar ku temani."

Mereka berdua sudah di depan pintu kamar ibu mereka. Jongin bisa melihat sang ibu memeluk lututnya sambil menghadap ke jendela yang menampakan taman belakang rumah yang sering dirawat oleh ibu dan kakaknya yang kedua, Krystal. Pandangan mata itu kosong, hampa. Mengajakmu untuk menyelami palung laut dalam yang gelap.

Jessica berjalan mendekati Taeyeon. Meletakan nampan di atas meja nakas dan menepuk pelan pundak ibunya. "Umma, ayo kita minum teh."

Taeyeon masih tak bergeming menatap jendela. Jessica menghela nafas, "Ayo, umma. Jongin juga sudah pulang. Kita bisa minum teh bersama-sama seperti dulu lagi."

Jessica bernafas lega, ibunya perlahan berpaling menatapnya dan juga Jongin. Entah hanya perasaan Jongin atau bagaimana, dia bisa melihat ibunya menatap nyalang padanya. Setelahnya pandangan Taeyeon beralih ke arah nampan di meja nakas.

PRANG

Dengan cepat, Taeyon melempar nampan tersebut ke arah lantai dan air teh yang masih panas tumpah kemana-mana. Bahkan sampai mengenai kaki Jessica.

"Nunna!" Jongin panik saat Jessica memegangi kaki kanannya yang memerah, sepertinya mulai melepuh. Kalang kabut, Jongin lari ke kamar mandi, membasahi handuk kecil yang sering dia bawa kemudian berlari ke arah Jessica. Jongin dengan hati-hati menempelkan handuk basah itu di kaki kakaknya. Jessica mendesis lirih saat merasakan air melapisi permukaan atas dan jari-jari kakinya.

"Pergi dari sini! Aku tidak membutuhkan anak-anak seperti kalian. Kalian membawa kesialan dalam hidupku! Enyahlah dari hadapanku!"

PRANG

BRAK

BRUK

PRANG

Taeyeon melempari perabotan dan berbagai macam figura disekitarnya, melempar ke segala arah. Jongin mendesis perih saat satu figura melayang dan menghantam telak dibagian depan kepalanya. Bau amis pun langsung menyergap hidungnya. Ugh! Lagi-lagi begini, batinnya.

"Jongin, kepalamu.."

"Tidak apa-apa, nunna. Nunna bisa berdiri?"

"Ne." Jessica berpegangan pada lengan Jongin untuk bangkit. Jongin merangkul pundak kakaknya untuk berjalan namun sebelum itu dia menatap Taeyeon. Ibunya menatap mereka berdua dengan pandangan benci. Pandangan yang tidak diharapkan oleh Jongin berasal dari ibunya. Jongin menatap sendu beberapa saat kemudian melangkah menuntun kakaknya keluar dan menutup pintu kamar ibunya.

.

"Nunna." Panggil Jongin.

Sekarang ini Jongin dan kedua kakaknya berada dikamar sempit milik kakaknya. Krystal sampai memarahi Jessica karena luka melepuh yang di dapatnya. Dengan telaten, Krystal menempelkan kapas yang dibasahi anti septik ke kaki Jessica.

"Ya, Jongin?"

"Maaf, gara-gara aku nunna.."

"Tidak Jongin, itu bukan salahmu. Aku hanya kurang berhati-hati."

"Tapi ini semua karena aku, nunna. Aku bersikeras menemanimu hingga kejadiannya berakhir seperti ini." Jongin menunduk, merasa bersalah.

"Tidak apa-apa Jongin. Luka ini tidak berbahaya, kok. Nanti aku akan ke rumah sakit untuk berobat." Jessica tersenyum lembut.

"Daripada itu, sebaiknya kau kemari Jongin. Lukamu itu bisa infeksi kalau dibiarkan lama-lama." Krystal menepuk sisi tempat di sebelah kirinya, mengajak Jongin untuk duduk. "Harus cepat diobati."

Jongin mengangguk, duduk di samping kakaknya. Krystal mulai mengobati kepala Jongin yang berdarah. Mulai dari membersihkan kulit bagian atas kepalanya yang ditumbuhi rambut dengan handuk basah sampai menempelkan kapas anti septik di atas lukanya kemudian menempelkan kepalanya dengan kapas yang ditetesi obat merah menggunakan plester.

Selama Jongin diobati, tidak ada satupun kata-kata yang keluar dari mulut kedua kakaknya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Krystal dengan luka di kepala Jongin dan Jessica dengan keadaan ibu mereka.

"Nah, selesai!" Krystal merapikan kembali kotak p3k yang digunakannya tadi dan menyimpannya di lemari kecil dekat kasur mereka.

"Malam ini kau menginap lagi, Jongin?" Jessica bertanya setelah jeda lima menit diantara mereka.

"Entahlah nunna. Ku rasa untuk sehari lagi. Aku bingung harus menginap dimana lagi."

"Maafkan nunna, Jongin. Nunna tidak bisa merawatmu dengan baik. Saat rumah kita yang lama disita karena hutang appa, aku tidak tahu dimana kita harus tinggal sampai aku menemukan rumah ini. Aku terlalu bodoh sampai-sampai tidak melihat keadaan rumah ini lebih lanjut." Ucap Jessica sambil menatap ruang kamar kecilnya bersama Krystal.

Yah, bisa dibilang rumah mereka sangat kecil. Hanya punya dua kamar, satu kamar mandi, dapur dan satu ruang kosong di dekat pintu masuk. Tidak ada sofa, tv, dan perabotan lainnya. Hanya ada tikar yang menghiasi ruang kosong itu. Setelah terusir dari rumah lama mereka, mereka tidak memiliki uang cukup dan tidak sempat membawa barang-barang yang mereka butuhkan. Untunglah masih ada orang yang mau menyewakan rumah kecil ini dengan harga murah walau tidak sebanding dengan rumah lama mereka. Setidaknya mereka memiliki tempat berteduh dan bernaung.

Setelah kejadian yang memilukan itu, Taeyeon mengurung diri di kamarnya. Terkadang dia berbicara sendiri, lalu tertawa kemudian menangis. Terkadang juga menjerit-jerit sendiri sampai dia rasa suaranya sudah habis. Bahkan dia sering melempari barang di kamarnya juga menyakiti diri sendiri dengan membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Untunglah Jessica dan Krystal selalu sigap menenangkan sang ibu. Walau tak ayal mereka ikut terluka akibat Taeyeon yang selalu memberontak.

Ketika mereka membawa Taeyeon ke rumah sakit, dokter memvonis bahwa ibu mereka sakit jiwa. Jessica langsung menangis ditempat karena tak kuasa menahan airmatanya, Krystal mencoba menenangkan sang kakak walau dia sendiri ikut terpukul atas kejadian ini, sedangkan Jongin hanya diam. Tak ada ekspresi apapun yang keluar di wajahnya. Tidak ada kesedihan, tidak ada kemarahan, tidak ada. Hanya wajah tanpa ekspresi, bahkan ketika mereka semua sampai dirumah kecil mereka Jongin tetap seperti itu.

Hari demi hari berlalu. Kelakuan ibu mereka semakin parah dan kondisi kesehatannya makin memburuk. Taeyeon akan berteriak-teriak, memaki orang yang mencoba membujuknya untuk makan dan minum obat. Bahkan sampai tega melukai anak-anaknya seperti Jessica tadi. Dan, itu tetap berlanjut sampai sekarang.

"Tidak apa-apa nunna. Kita bisa tinggal dirumah ini pun, sudah cukup menguntungkan. Yang penting kita bisa merawat umma dengan baik." Jongin tersenyum miris.

"Maafkan nunna, Jongin."

"Sudah kubilang tidak apa-apa nunna."

"Lalu, setelah ini apa rencanamu, Jongin?" Krystal menatap Jongin.

"Mungkin aku akan menyewa apartemen." Jongin menjawab sekenanya.

"Apa uangmu sudah terkumpul cukup untuk menyewa apartemen?"

"Ya, kurasa." Jongin menjeda, "Kalau menemukan apartemen yang cukup murah dan nyaman itu lebih bagus."

Ketiganya menghela nafas hampir bersamaan.

"Oh, ya. Apa kau masih bekerja di bar?" Jessica bertanya, membuat Jongin menoleh padanya.

"Ya. Kenapa?"

"Haruskah? Aku takut pekerjaanmu mengganggu sekolahmu Jongin." Jessica menundukan kepalanya, membuat Krystal yang ada di sampingnya refleks merangkul pundaknya.

"Tidak masalah, nunna. Aku kan jenius. Bekerja seperti itu tidak akan membuat nilai sekolahku turun drastis." Jongin tertawa pelan setelahnya.

"Maafkan nunna, Jongin. Seharusnya nunna yang bekerja, bukan kau. Itu adalah tanggung jawabku, tapi malah kau yang terbebani."

"Nunna, jangan berkata seperti itu. Aku tidak menanggap ini adalah sebuah beban. Ini memang kewajibanku. Aku kan laki-laki, sudah pasti aku yang bekerja."

"Terima kasih, Jongin. Nunna tidak tahu harus membalasmu dengan cara apa." Airmata mengalir turun dari kelopak mata Jessica. Krystal yang melihatnya dengan sigap menghapus lelehan cairan bening itu. Walau tak ayal kedua matanya pun ikut tergenangi airmata.

"Tidak perlu, nunna. Yang harus kau lakukan hanya menjaga dirimu, Krys nunna, dan umma dengan baik. Kalian semua harus tetap sehat demi aku." Jongin beringsut mendekati kedua kakaknya dan memeluk mereka bersamaan. "Aku menyayangi kalian nunna."

Mereka mempererat pelukan satu sama lain. "Kami juga menyayangimu, Jongin."

"Jaga dirimu baik-baik."

.

Siangnya, Jongin ke luar rumah untuk jalan-jalan. Ini hari minggu dan dia tidak memiliki kegiatan apapun. Jadilah sekarang Jongin hanya berputar-putar di taman kota. Cuaca kala itu cerah, dan matahari bersinar terang, menyengat kulit. Entah apa yang dipikirkannya berjalan dibawah terik matahari saat orang-orang sibuk berlarian meneduh di tempat yang sejuk. Mau menggelapkan kulit? Haah~ bahkan kulitnya pun sudah gelap –kecoklatan-. Pemuda berkulit tan itu memakai kemeja panjang warna krem yang lengannya digulung sampai batas siku. Celana jeans biru tua melekat indah di sepasang kaki jenjangnya serta sneakers hitam membalut kedua kakinya.

Drrrttt Drrttt

Terasa getaran di saku celananya, Jongin merogoh ponselnya dan terlihat layar yang menunjukkan 'Si Mungil Calling'. Segera diangkatnya panggilan itu.

"Ha–"

"Ya, Tuhan. Jongin! Kemana saja kau, hah? Kau tidak tahu aku mengkhawatirkanmu setengah mati?" Jongin harus menjauhkan ponselnya karena suara nyaring yang terdengar di seberang sana.

"Maaf, aku–"

"kau seharusnya memberitahukan aku kabarmu! Aku sudah seperti orang gila mencarimu kemana-mana. Tadi aku datang ke rumahmu. Nunnamu bilang kau pergi keluar tanpa bilang mau kemana. Dan sekarang aku sedang berlari-lari hingga orang-orang menganggapku seperti dikejar setan. Kau mau mati, hah?!" Jongin mendengus kecil, menahan tawa yang hampir meledak karena si mungil disebrang telepon terus mengoceh tanpa henti.

"Kenapa kau tertawa!? Mau ku tonjok kau?"

"Ahahahahaha, maaf-maaf. Aku tidak tahan, habis kau lucu sekali, Kyungie hyung."

"Hei, berhentilah tertawa! Sekarang kau beritahu aku kau berada dimana, aku akan menyusulmu."

"Aku sedang jalan-jalan di taman kota."

"Jinjja? Aku juga. Whoaaa.."

BRUGH

"Aww.."

Tanpa disadari keduanya bertabrakan di tikungan taman kota. Saat keduanya sama-sama saling menatap, mereka baru menyadari kebodohan yang baru saja terjadi.

"Huaaa~ kenapa kau menabrakku, Jongin? Appoo~" pemuda mungil bernama lengkap Do Kyungsoo itu merengek dengan masih terduduk di tanah sedangkan Jongin sudah berdiri tegap.

"Maaf, Kyungie hyung. Aku tidak sengaja." Jongin menarik lengan Kyungsoo yang terulur, membantunya berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang kotor karena debu.

"Eoh, Jongin kepalamu.." Kyungsoo terbelalak melihat kepala Jongin yang masih dililit perban.

"Ah, gwaenchana hyung. Tidak perlu khawatir." Jongin menepis tangan Kyungsoo yang hendak menyentuh kepalanya seraya berkata, "Nanti akan pulih dengan sendirinya, hyung."

"Jeongmal?"

Jongin mengalihkan arah pandangnya saat Kyungsoo menatapnya dengan mata bulat polosnya. Manis. Batinnya.

"Jeongmal."

"Oh, ya sudah."

Keadaan menjadi tenang beberapa saat sampai Kyungsoo berteriak, "Ah, ya! Kenapa kau tidak menjawab panggilan dan membalas pesanku kemarin, Jongin?!" Kyungsoo menuding dengan menunjuk-nujuk hidung Jongin menggunakan telunjuk mungilnya.

"Maaf, hyung. Aku ketiduran." Jongin cengengesan dan Kyungsoo menonjok bahu kiri namja tan itu hingga meringis sakit.

"Itu sebagai balasan."

Setelahnya mereka berjalan beriringan. Hening melanda beberapa menit hingga Kyungsoo bertanya, "Kau sudah mendapatkan apartemen yang baru?"

"Belum. Sulit mencari apartemen yang murah dan nyaman." Jongin membalas dengan raut lesu. "Kenapa menanyakan hal itu, hyung?"

"Tidak apa-apa, hanya sekedar ingin tahu. Kau berminat tinggal di apartemenku?"

"Kau serius, hyung?" Jongin menatap tidak percaya pada Kyungsoo. "Maksudku itu apartemenmu, apa tidak apa-apa kalau aku tinggal?"

"Tentu saja, memang kenapa?"

"Hyung kan juga menyewa apartemen, apa tidak apa-apa kalau aku ikut tinggal juga?" Jongin menatap ragu Kyungsoo.

"Tentu! Daripada kau tidak mendapatkan apartemen juga, lebih baik tinggal ditempatku. Lagipula tinggal bersama lebih mudah daripada sendirian." Nada bicara Kyungsoo terdengar sangat bersemangat, sepertinya senang kalau sahabatnya ini bisa ikut tinggal bersamanya.

Jongin masih sedikit meragu walau tak ayal matanya berbinar. Kyungsoo melanjutkan, "Atau begini saja, bulan ini aku yang bayar uang sewa lalu bulan depan kau yang bayar, bagaimana? Mau, ya?"

"..."

"Ayolah, Jongin! Ini kesempatan yang bagus, kan? Kita bisa berangkat sekolah bersama, berangkat kerja bersama dan kita bisa tidur bersama!" Kyungsoo berseru senang di akhir kalimat, namun tiga detik kemudian wajahnya memerah padam menyadari kata-kata terakhir yang dia ucapkan barusan. Aih, memalukan. Batinnya. Di sampingnya, Jongin tak kalah memerah. Mungkin terbayang di otaknya bila mereka berbagi tempat tidur yang sama. Memikirkannya saja sudah membuatnya gugup setengah mati.

"B-bagaimana, Jongin? Kau.. mau, kan?" Kyungsoo tergagap dan ragu dengan ucapannya. Sedikit melirik ke arah Jongin yang terus terdiam.

"Em, baiklah. Aku mau, hyung." Jongin mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika mengatakannya, membuat Kyungsoo menahan lengkungan bibirnya yang berkedut senang.

"Uh, baguslah, Jongin." Suara Kyungsoo terdengar lirih, berbeda seperti saat sebelumnya yang terdengar ceria dan hiperaktif. Rupanya malu masih menyelimuti Kyungsoo dan jangan lupakan kecanggungan luar biasa yang menguar dari Jongin. Jika ada orang yang melihatnya, dia pasti berpikir mereka berdua sangat menggemaskan.

.

"Masuklah, Jongin."

Dan disinilah mereka. Apartemen Kyungsoo. Setelah berpamitan pada kedua kakaknya untuk tinggal bersama temannya, kini Jongin sudah berada di dalam apartemen kecil milik Kyungsoo.

"Maaf, jika apartemen ini tidak seluas yang kau bayangkan." Kyungsoo membantu membawa sport bag ukuran sedang yang dijinjing Jongin.

"Tidak apa-apa hyung biar ku bawa sendiri." Jongin menjauhkan tangan Kyungsoo dan menjinjing sport bagnya dengan tangan kiri. "Tidak masalah. Menurutku apartemen ini cukup luas dan nyaman. Lantainya juga hangat."

"Ah, syukurlah kalau begitu. Semoga kau betah tinggal disini."

"Tentu saja, hyung. Aku pasti betah."

Kyungsoo menuntun Jongin ke kamarnya. "Maaf, Jongin. Hanya ada satu kamar." Kyungsoo membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Jongin masuk. Jongin cukup terkesima dengan kamar bersih milik Kyungsoo setelah melewati ruang tamu yang tak kalah bersihnya dengan kamar ini. Ada meja ukuran sedang berbentuk persegi di ujung ruangan. Sepertinya meja untuk belajar. Dan dinding kamarnya yang terhias foto-fotonya bersama Jongin, banyak sekali. Jongin terkekeh kecil. Lucu, pikirnya.

Kyungsoo membuka tutup lemarinya, "Ayo, ku bantu merapikan pakaianmu." menggerakan jari telunjuknya mengisyaratkan Jongin menghampirinya. Jongin mendatangi Kyungsoo dan membuka resleting sport bagnya. Pakaian yang dibawa Jongin tidak terlalu banyak, hanya enam kaos, tiga kemeja dan empat celana jeans (plus yang dipakainya hari ini), empat celana pendek tipis, dan lima underwear. Yang tersisa hanya tas yang berisi buku-buku pelajarannya dan kartu identitas (baik pelajar maupun pelayan bar) serta uang dan buku tabungan. Kyungsoo menyimpan benda berharga milik Jongin itu di kotak kecilnya yang juga berisi uang dan buku tabungannya dan menyimpannya di laci lemari kemudian menguncinya.

Setelah selesai menata pakaian-pakaian Jongin dan menaruh sport bagnya di atas lemari, mereka keluar kamar. Kyungsoo melangkah ke dapur dan bertanya, "Kau mau minum apa, Jongin?"

Jongin duduk di sofa empuk dan menepuk-nepuk bantal kecil di pangkuannya. "Kau punya jus jeruk, Kyungie hyung?"

Tak lama, Kyungsoo datang membawa dua kaleng jus jeruk di tangannya dan bungkusan plastik berisi kacang rebus terselip di jari tangannya. "Selalu. Jaga-jaga kalau kau bermain ke apartemenku." Kyungsoo memberi kaleng jus di tangan kanannya pada Jongin yang diterima dengan senang hati oleh pemuda berkulit tan tersebut.

"Terima kasih. Tapi, ini pertama kalinya aku ke tempatmu, hyung."

Kyungsoo duduk di samping Jongin dan meletakan kacang kulit rebus tersebut di meja. "Yah, siapa tahu. Lagipula dengan kau tinggal disini sekarang, aku harus memenuhi kulkasku dengan jus jeruk."

"Hahaha, kau benar, hyung."

Setelahnya mereka larut dalam tayangan film yang di putar di tv. Sesekali terdengar suara kulit kacang yang dikupas oleh Jongin maupun Kyungsoo. Menambah nada-nada abstrak yang bercampur dengan suasana kala petang itu. Keduanya khusyuk dengan adegan per adegan film. Kadang alis Kyungsoo mengernyit saat adegan membingungkan atau matanya akan membesar saat ada adegan menegangkan. Untuk informasi, mereka menonton film aksi saat ini. Jongin yang menatap di sebelahnya hanya terkekeh tanpa suara. Kyungsoo hyung sangat manis, pikirnya.

Tiba-tiba suasana menjadi canggung saat film menampilkan adegan ciuman di ranjang dan berlanjut ke adegan dewasa berikutnya. Tubuh keduanya menegang seketika. Mata mereka bergerak gelisah, apalagi saat suara yang berasal dari tv terdengar makin jelas akibat keheningan. Tak sengaja arah pandang mereka bertemu, membuat wajah mereka memerah padam. Butuh beberapa detik sampai suara desahan keras dari tv menyadarkan mereka. Kyungsoo memalingkan cepat mukanya dan Jongin dengan tangan gemetar mematikan tayangan tv kemudian berdehem.

"I-ini sudah malam, hyung. Se-sebaiknya kita cepat tidur. Besok kita harus berangkat sekolah." Jongin tergagap dalam ucapannya. Berusaha tenang sebaik mungkin. Yah, walaupun jantungnya sedang berdetak kencang saat ini. Dan, faktanya sekarang baru jam tujuh lewat empat puluh lima pm, masih cukup petang untuk segera pergi tidur.

"K-kau benar, Jongin. A-ayo kita tidur." Kyungsoo pun tergagap dalam ucapannya. Terburu-buru membereskan snack mereka dan menaruhnya di dapur. Sisa kaleng dan kulit kacang di buang ke tempat sampah dan kacang yang masih tersisa dia taruh dalam wadah dan menutupnya.

Kyungsoo berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya di ikuti Jongin. Tapi, mereka berhenti di depan ranjang Kyungsoo yang terlihat.. uh, tidak cukup lebar untuk di tempati dua orang. Entah mengapa, keringat makin mengucur deras di leher mereka. Oh, Tuhan. Haruskah mereka tidur bersama di kasur yang sempit itu?

"A-aku tidur di lantai saja, Kyungsoo hyung." Jongin berinisiatif mengambil satu bantal dan hendak menaruhnya di lantai saat tangan Kyungsoo menarik lengan Jongin.

"Jangan, Jongin! Lantainya dingin, nanti kau bisa demam."

"T-tidak apa-apa, hyung! Aku sudah biasa tidur di lantai." Jongin hendak berbaring di lantai namun Kyungsoo menahannya kembali.

"Tunggu sebentar." Kyungsoo berjalan ke arah lemarinya. Mengambil bed cover biru langit miliknya dan memberikannya pada Jongin. "Pakai ini biar tidak kedinginan."

"T-terima kasih hyung." Jongin segera menggelar bed cover itu di lantai, meletakan bantal dan tidur di atasnya sambil menggulung sisa bed cover yang ada pada tubuhnya. Rasanya hangat. Tentu saja. Ini kan milik Kyungsoo dan Kyungsoo itu hangat.

Jongin menggelengkan kepalanya keras dan makin membenamkan wajahnya dalam bed cover yang hangat. Kini wajahnya pun tak kalah hangat dengan bed covernya, ckck.

Kyungsoo pun naik ke kasurnya dan menyelimuti diri dengan selimut pororo kesayangannya. Mereka berdua menatap langit-langit kamar. Jantung keduanya bergemuruh hebat, entah karena mereka baru kali ini tidur di satu ruangan yang sama atau ada hal lain. Yang pasti mereka berdua tidak bisa tidur.

"Kau sudah tidur, Jongin?" Jongin yang tadinya hampir menutup mata, menoleh ke arah kasur. Kyungsoo tidak terlihat dari jarak pandangnya saat ini, mungkin sedang terlentang atau menghadap ke dinding.

"Belum, hyung. Aku tidak bisa tidur." Ucap Jongin jujur. "Hyung sendiri?"

"Sama."

Hening berlangsung beberapa saat dan Kyungsoo berkata, "Apa kau senang tinggal bersamaku, Jongin?"

"Tentu saja, hyung." Jongin melanjutkan, "Memangnya kenapa?"

"Tidak apa-apa. Aku juga senang kau tinggal disini. Aku tidak perlu merasa kesepian lagi."

Jongin duduk dan menumpukan kedua lengannya di sisi kasur Kyungsoo. "Kau jangan khawatir, hyung. Mulai sekarang aku akan selalu ada di sisimu. Aku akan selalu menemanimu."

Kyungsoo menoleh pada Jongin dan mendapati pemuda itu tersenyum tulus. Perlahan senyum Kyungsoo mengembang, hangat. Sambil memeluk gulingnya, Kyungsoo menatap lugu pada Jongin dan menyodorkan jari kelingking kanannya. "Benar, ya? Janji?"

Jongin tersenyum, "Janji." mengaitkan jari kelingking mereka sambil tersenyum lebar. Ada suatu perasaan membuncah yang mengalir dalam darahnya. Sesuatu berdesir hebat tatkala memandang senyum Kyungsoo. Perasaan yang Jongin sendiri tidak bisa mendeskripsikannya.

"Baiklah, ayo tidur. Besok kita harus bangun pagi dan berangkat sekolah." Jongin melepaskan tautan jari mereka dan melihat mata Kyungsoo yang berbinar.

"Uhm!" setelah gumaman Kyungsoo dan melihat pemuda mungil itu mulai memejamkan matanya, Jongin pun ikut merebahkan dirinya di atas bed cover kemudian tidur dengan nyenyak. Karena ini adalah hari minggu dan mereka tidak bekerja di bar maka Jongin dan Kyungsoo memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk tidur agar bisa melewati hari esok lebih baik lagi.

Namun tak selamanya waktu menempatkan mereka di atas. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi esok dan di masa mendatang. Siapa yang menyangka? Mungkin bisa menjadi lebih baik.

Atau..

Lebih buruk.


.

.

.

.

.

.

_To Be Continued_

Status : Chapter 1 END


Nagi's Bacotan :

Holla~ guys! Gue balik bawa ff angst gagal gue, nih. Ada yang tertarik? OuO hehe

Awal2 emang belum keliatan angstnya, masih rada fluffy-family gitu deh. Tapi untuk chapter selanjutnya gue usahain bakalan lebih greget deh dari ini. Disini Jongin udah mulai ada rasa ke Kyungsoo. Terlalu cepet nggak, sih? Mudah-mudahan nggak lah, ya. Habis gue nggak bisa bikin ff dengan bahasa yang berat-berat. Dan, lagi adegan-adegan dia atas udah mainstream banget, ye? Nyampe apartemen kalo nggak duduk di sofa paling nonton tipi sama makan. Udah semacem habitat lah, pokoknya.

Tadinya sih, gue pengen gitu nyempilin adegan Kai ngebreakdance sambil koprol tapi pasti nggak bakal nyambung, secara ini genre angst bukan komedi lawak ._. dan lagi masa gue bikin imejnya Kai pecicilan? Gue tau Kai emang rada serampangan, tapi dia ada imej coolnya lah walau dikit-dikit. Oke, cukup Baekyeol aja deh yang punya imej pecicilan. Yang lain jangan. -_-

Dan..

Aduh, mimpi apa gue nistain Taeyeon dimari? Aduh, maaf umi(?) ade nggak maksud buat umi cantik jadi gila dimari, tapi karena ini udah sesuai jalan cerita, mari kita lanjutkan! *dipentungTaeyeon* teteh Sica juga bonyok dimari, aduh ampun teteh~ *gosok2tangan* Cuma teteh Krys yang masih mulus dimari. Tapi nggak tau deh chapter berikutnya, mungkin lebih bonyok dari teteh Sica atau lebih parah dari gilanya umi Taeyeon. Wkwkwk *disetrumKrystal*

Oke, gue udah kebanyakan ngebacot nggak penting dimari. Kita akhiri sampai disini!

Last,

.

.

Mind to review? *kasih mata bulet Kyungsoo*

(Dibuat dalam keadaan masa training kerja-_- masih sempet2nya kan gue? -.-)