A/N: Hai minna, untuk fanfict-fanfict lain Ryu belum bisa lanjutkan, karena dia sedang sibuk dengan pekerjaan barunya sekarang. Jadi, untuk mengisi waktu, untuk sementara ini Byakko(saya) yang akan menggantikan Ryu untuk membuat fanfict, tapi hanya untuk short fict seperti yang satu ini ^^.

Baiklah, tanpa banya bicara lagi.

HAPPY READING

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: horror gak kerasa, tidak sesuai EYD, typo(s) bertebaran, dll.

OLD HOUSE

Seorang pemuda berambut putih klimis berjalan seorang diri di jalan yang sepi, ditemani pencahayaan yang redup dari lampu jalan yang sesekali berkedip. Bulan tertutup oleh gumpalan awan hitam di langit menandakan akan turun hujan.

Pemuda itu berjalan dengan santai sambil sesekali menyenandungkan lantunan musik yang berasal dari earphone yang di pakainya. Langit semakin mendung, udara dingin mulai berhembus kencang. Air mulai turun dari langit malam, awalnya hanya rintikkan kecil, tetapi lama-kelamaan air yang turun berubah menjadi semakin deras. Membuat pemuda itu terpaksa berlari di tengah derasnya hujan, mencari tempat berteduh.

Pemuda itu terus berlari, hingga ia menemukan sebuah rumah tua yang terbuat dari kayu. Rumah itu cukup besar, tapi kurang ter-urus. Hal itu dapat dilihat dari halaman depannya yang ditumbuhi rumput hampir setinggi lutut, pagar kayu yang termakan rayap, dan lampu teras yang pecah, membuat rumah itu sedikit terlihat angker.

Si pemuda berlari menuju rumah itu dan berdiri di terasnya. Ia mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah dan memeras ujung bajunya, membuat lantrai teras itu tergenang air.

Pemuda itu memperhatikan sekitarnya. Di sudut kanan teras terdapat sebuah kursi goyang yang menghadap keluar dengan sebuah meja kecil disamping kursi itu. Sebuah vas bunga kecil di atas meja dengan bunga yang sudah layu.

Matanya beralih saat didengarnya suara decitan yang berasal dari pintu rumah itu. Pintu itu terbuka secara perlahan, membuat pemuda itu sedikit merinding mendengar suara decitannya. Pemuda itu terus memperhatikan pintu hingga terbuka sempurna.

Kosong.

Tidak ada apapun di balik pintu itu, yang ada hanyalah kegelapan. Penasaran, pemuda itu beranjak dari tempatnya dan menuju pintu. Ia memasuki rumah itu dengan sedikit was-was, takut ada yang menyerangnya tiba-tiba.

Setelah memasuki rumah, samar-samar terdengar suara alunan musik orgel. Semakin lama alunan musik itu terasa semakin dekat. Pemuda itu merasakan suhu di sekelilingnya mendingin dengan cepat. Takut, pemuda itu berbalik. Ia berpikir untuk meninggalkan rumah itu sekarang. Tapi sial baginya, pintu rumah itu terbanting tertutup.

Dan malam itu, ditutupi derasnya hujan samar-samar terdengar teriakan pilu seseorang dari sebuah rumah tua…

END…?