Entry 11

Ruang klub menjadi ramai sekali hari ini. Akhirnya, aku mengenal semua teman-teman satu timku. Dan, kau tahu?

Kami tengah bermain Truth or Dare. Dan yang lebih menakjubkan…

Hiruma Youichi ikut bermain. Bersama kami.

"…"

Entry 12

"Sena! Truth or dare!" seru Kurita, anggota DDB yang paling sehat dan kaya karena selalu diberi makan (Lho? Berarti kami yang kurus tidak diberi makan? Ah, lupakan.).

"T-Truth saja, Kurita-san," jawab Sena tergagap. Suara Sena yang tergagap menyebutkan truth malah ditindak lain oleh Taki-kun.

"Ahaha~ Siapa yang kentut sembarangan?"

Entry 13

"YA~! Apa rahasia terdalam Sena selama ini?" Well, semua telah berubah. Suzuna telah masuk bersama kakaknya ke tim DDB. Aku akan menjelaskan semua urutannya lain kali.

"Aku suka Riku-san!" sahut Sena bersemangat.

Kurita, Suzuna dan aku bergidik ngeri.

Entry 14

"Truth or dare… Hiruma-san?" tanya Sena sedikit takut-takut. Pasalnya, sang akuma tak tahu diri ini ikut main game bersama kami –yang katanya tidak berseni ini. Menyebalkan.

"Dare," tukas Hiruma. Suzuna langsung menyerobotnya.

"Aku ingin You-nii menyatakan perasaan di hadapan Mamo-nee~!" seru Suzuna girang. Sontak, wajahku menghangat. Yang lainnya langsung senyum-senyum sendiri (Mungkin pengaruh parfum Love Hurricane milik Suzuna yang bertebaran di sekujur ruang klub?).

Hiruma? Sibuk menodongkan senjata AK47 miliknya ke Suzuna.

Poor Suzuna…

Entry 15

"Giliran Mamo-nee!" Akhirnya giliranku tiba juga. Lega rasanya. Dadaku menjadi semakin rata setelah kuelus tadi. "Truth or dare~!"

"Dare!" sahutku semangat. Kalau tantangannya adalah menyabet akuma itu dengan pisau, aku siap kapan saja.

"Aku ingin Anezaki menumpahkan sebotol susu milik Cerberus ke kepala Hiruma," sahut Musashi yang sedari tadi diam memperhatikan kami. Aku melongo mendengarnya.

Susu… Cerberus?

"YA-HAA~! ITU DARE YANG GAMPANG, BUKAN BEGITU, MANAGER SIALAN?" Aku bisa membayangkan sebuah masa depan sekarang.

'Inilah dia, Eyeshield 21 dari tim Deimon Devil Bats, Mamori Anezaki!'

Entry 16

"Yang terakhir, Mamo-nee dan You-nii!" Hei! Suzuna selalu saja melibatkan kami berdua!

"Ada apa lagi, cheers sialan?" tanya Hiruma dingin. Hei, akhirnya aku terbiasa memanggilnya Hiruma semenjak dua minggu bersamanya. Oh, berterima kasihlah karena namamu kuingat, Hiruma.

"YAA~! AKU INGIN KALIAN MENJADI KAPTEN DAN MANAGER DEIMON DEVIL BATS SELAMANYA!" Oh, manis sekali. Untung saja aku dan Hiruma tak dijadikan sasaran empuknya untuk dibully. Cukup sudah, angka ijime di Jepang tak main-main.

"Waah, impian yang bagus sekali, Suzuna!" sahut Sena gembira. "Aku juga ingin mereka menjadi teman kita semua, tetap seperti ini, untuk selamanya!"

"Sahabat selamanya, yeaah! Aku pernah dengar kata itu di tv! Ahaha!" Taki berputar-putar dengan satu kaki yang diangkat ke atas seperti seorang ballerina.

How sweet.

Entry 17

Mungkin para orang-orang yang membaca buku ini kelak akan terheran-heran, melihatku tertawa-tawa sendiri menuliskan hal ini.

Dan kau tahu, hal ini adalah hal paling penting bagiku.

Yap, review! Soal review, mungkin aku akan unabled pengguna yang tak login (Lha, komentar soal buku, kok, harus login segala?)yah pokoknya seperti itulah. Soalnya, aku lebih suka menceritakan semua ceritaku berdasarkan ide kalian, yang akan aku balas lewat private messaging.

"Ah, Mamo-nee, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Suzuna. "Lagi kesemsem sama You-nii, ya?"

"Sembarangan!" sahutku cepat. Kututup buku itu cepat-cepat, tak mau Suzuna membacanya. Dan…

"Aku sudah tahu kalau itu diary, Mamo-nee."

Mati.

Entry 18

Mari kita berjalan keluar sejenak. Aku teringat saat aku membaca buku berjudul Twilight. Kau tahu, kalau saja ada vampire yang sebegitu baiknya layaknya Edward ke Bella, mungkin aku rela jumpalitan untuk bertemu dengannya.

Sungguh.

Sudah lama aku mencari-cari vampire itu kemana-mana. Di Inggris saat aku mengunjungi rumah pamanku, bahkan tak ada.

Ada yang tahu, dimanakah vampire biasa hidup?

Oh, beruntungnya aku mendapatkan yang lebih dari vampire.

Hiruma Youichi. Ia hadir dalam hidupku.

Bagiku, ia lebih dari seorang vampire ganas penghisap darah seluruh makhluk.

Entry 19

"Oh, jadi begitu…" Suzuna manggut-manggut mendengar penjelasanku soal buku ini. "Bagaimana kalau diary Mamo-nee aku pinjam?" Eits.

"Enak saja! Bagaimana aku menulis nanti," jawabku cepat. Kusembunyikan buku itu ke dalam tas kecil milikku. Sore menjelang, dan ruangan klub hanya terisi aku, Suzuna dan alat-alat penyadap milik Hiruma.

Aku tahu semuanya. Dan seakan kebal, aku tak menganggapnya ada saat aku tengah menceritakan rahasiaku tadi.

Well done, Mamori.

Sebentar lagi, kau akan masuk ke dalam buku akuma techou kosong milik Hiruma.

Entry 20

Aku berjanji akan menceritakan kedatangan Suzuna dan Natsuhiko Taki ke tim DDB, bukan? Mungkin, kau harus melihat ke entry selanjutnya. Mengapa? Sungguh, entry ini sangat membuatku malu.

Kalau kau pernah membaca kiasan 'lolos dari mulut buaya, masuk ke mulut gajah' (Yang bahkan masih diragukan kebenarannya.), mungkin hal ini akan berdampak sama ke entry memalukan ini.

Sepulang dari truth or dare khas DDB yang diselenggarakan di ruang klub yang sempit tadi, aku pulang sendirian. Sena tengah ada urusan di klub bahasa inggrisnya.

Soal Suzuna dan Taki akan kubahas di entry berikutnya!

Lanjut, dan kau tahu apa yang membuat entry ini memalukan?

Hari ini aku kembali ke sekolah untuk mengambil barangku yang tertinggal di klub. Namun, karena perasaan ingin tahu yang sangat besar melunjak dari dalam diriku (Weits.), aku ingin pergi ke kelasku yang mempunyai tv serta cd player. Mungkin aku akan menonton pertandingan Ojo White Knights hari ini sebelum malam.

Aku sampai di ruang kelas, di depan pintu. Kelas berwarna jingga remang dengan suasana senyap. Aku sangat menyukai suasana senyap seperti ini untuk berpikir jernih.

Lalu, apa memalukannya?

Pertama, lampunya tak hidup dan pintu dikunci. Great, aku tak bisa masuk. Aku pun memutuskan untuk pulang, namun sebelum kau baca yang kedua kuperingatkan untuk langsung ke next entry.

Kedua, kau tahu, Hiruma Youichi menungguku di depan gerbang! (Mungkin ini bisa dikatakan sebuah perasaan bernama Gederus Rossarius yang disingkat GR di negara tropis Indonesia sana.)

"Jangan salah paham, aku sedang menunggumu untuk menemaniku beli peralatan amefuto."

"Tidak bisakah besok saja, Hiruma? Aku capek." Kupertunjukkan wajah lelahku padanya. Dasaran setan, ia malah diam lalu menyeringai puas padaku.

Ia membisikkan sesuatu ke telingaku.

What the hell?

"Kau mengajakku pergi ke sana?" Lututku lemas. Kakiku bergetar. Benar-benar, setan ini.

SPECIAL THANKS FOR :Roronoa D. Mico and LalaNur Aprilia