Disc: J.K Rowling
Warning: AU, AR, no magic, slash, boys love, girls love, misstypos, isi fic agak beda(?) dengan judul, penulisan masih acak-acakan, sedikit membingungkan mungkin, ada unsur badwrod dan hampir menjerumus ke rated M karena 'suatu alasan'
Review please.
=o^o=
.
Seorang gadis bersurai pirang madu terlihat di halaman belakang, sedang bersenandung ria sambil menyirami beberapa pot bunga, dan tak menghiraukan bercak-bercak darah di apron yang masih dia kenakan. Sinar matahari sore tak mengganggunya agar tidak merawat kebun kesayangannya, gadis itu–Helga menahan senyuman senangnya memandangi bunga violet yang mekar indah di depannya.
"Aah, cantiknya," kagum Helga pada bunga tersebut, "pemberian Rowena memang selalu indah," lanjutnya tersenyum aneh, kemudian tertawa kecil, tawaan yang janggal.
Sibuk mengamati bunga violet penuh kasih, Helga sedikit kaget mendengar telepon rumah mereka berdering keras, hingga suaranya sampai ke luar rumah. Helga berdiri dengan malas karena harus meninggalkan kegiatannya tadi, membersihkan roknya terlebih dahulu dari debu-debu, sebelum akhirnya dia berseru pada temannya yang sepertinya sedang sibuk mengelap pisau di ruang tengah.
"Godric bisakah kau angkat teleponnya?" pinta Helga keras, lalu kembali tersenyum mendengar balasan dari dalam rumah dan mulai kembali pada kegiatannya, menatap bunga violet.
.
Pemuda bersurai merah itu ogah-ogahan bangkit dari sofa yang dia duduki, padahal tadi dirinya telah menemukan posisi nyaman sembari membersihkan pedang kesayangan miliknya, dan beberapa pisau. Godric berjalan malas ke tempat telepon berada, masih berdering kencang dan sangat mengganggu pendengarannya. Dia mengangkat gagang telepon enggan, tak mau berhadapan dengan siapapun–apalagi jika yang menelepon adalah rival salah satu sahabatnya.
"Halo?"
["..."]
"Ya, benar."
["..."]
"Sudah kubilang benar tadi, ada apa? Cepatlah."
["..."]
"Apa?"
["..."]
"Bagaimana bisa?"
["..."]
"Baiklah," Godric meletakkan gagang telepon ke pesawatnya seperti semula, membuang napas pasrah, lalu dia kembali mengangkat gagang telepon dan menunggu yang ditelepon menjawab setelah dia memencet sebuah nomer.
Trek..
["Halo?"]
"Ah, akhirnya," balas Godric membuyarkan lamunannya mendengar suara.
["Ada apa, Godric?"]
Godric membuang napas lagi, "Sala, jemputlah Rowena."
["Kenapa? Di mana dia sekarang?"]
"Penjara," jawab Godric singkat, langsung menutup panggilannya.
Godric segera menuju ruang keluarga lagi, kembali duduk di sofa yang di mana ada pedang mengkilap di meja depan sofa tersebut. Godric tiduran untuk waktu yang sebentar, memikirkan sesuatu. Lalu dia bangkit lagi, menyambar jaket dan topi lalu memakainya, mengambil pisau dan disembunyikan balik jaket besarnya. Kemudian Godric pergi ke luar menemui Helga.
"Aku akan pergi," pamit Godric setelah memakai sarung tangan yang dia ambil asal serta maskernya, "kau tak apa kan, kutinggal?"
"Sure," jawab Helga riang, "ada permintaan lagi?"
"Yap, bayarannya lumayan besar," tawa Godric teredam oleh maskernya, "aku takkan lama," lanjutnya memasang sepatu yang masih belum ditali dengan benar.
"Jangan mengotori sarung tanganku!"
"Ya, ya."
=o^o=
Salazar menggerutu pelan sambil berjalan melewati sel-sel penjara yang dipenuhi orang-orang di mana sebagian dia lah yang memasukkan mereka, menatap dingin para tawanan yang menatapnya benci–jangan salahkan Salazar jika mereka saja tak mampu membayarnya lebih sebagai seorang Hakim di Pengadilan, Salazar tak menerima sogokan kecil-kecilan. Pria itu tetap mencari salah satu sahabatnya yang dikatakan Godric berada di penjara, sebelum akhirnya dia menemukannya.
Seorang wanita bersurai gelap panjang duduk memandang sekitar tak minat, mengabaikan beberapa tawanan yang satu sel dengannya tengah melihat dirinya tertarik.
"Rowena," panggil Salazar pelan, tapi mampu didengar wanita tersebut, Rowena.
Rowena segera menghampirinya tenang, malahan tersenyum. "Oh hey, Salazar," sapanya kalem.
"Apalagi yang kau perbuat sekarang?" tanya Salazar menggelengkan kepalanya putus asa, menyilangkan kedua tangan depan dada sementara Rowena terkekeh.
"Seseorang di rumah sakit menuduhku sedang melakukan malapraktik," jawab Rowena nyengir lebar, terasa aneh dilihat.
Salazar menautkan alisnya heran, "Jadi kau tak melakukannya?"
"Tidak," Rowena pura-pura menggeleng sedih, "padahal aku mau sih, tapi keburu dituduh. Jadi yah," Rowena bersiul ceria, kemudian menahan senyumannya melebar dari semestinya. "Kau sebagai sahabatku, mau kan untuk membebaskanku dari tuduhan palsu ini?" Rowena bertanya dengan nada memohon, yang pastinya dibuat-buat.
"Ada bayaran tersendiri," balas Salazar acuh.
Erangan kecewa Rowena lontarkan, "Aku sahabatmu, ayolah?"
"Tidak."
Rowena mendecak malas, memegang jeruji besi erat-erat sebelum sebuah ide muncul di otaknya. "Bagaimana kalau," dia menjeda perkataannya sebentar, "kalau tubuhku, hm?" bisiknya ketika dia menarik kerah Salazar untuk mendekat padanya.
"Tidak."
"Hm? Kenapa, eh?" Rowena masih gencar melaksanakan godaannya, "tidakkah kau tertarik dengan tubuh wanita, Salazar? Apalagi wanita sepertiku," ujar Rowena seduktif, "kau takkan menyesal."
Salazar membuat ekspresi jijik di wajah tampannya, "Kau bertingkah seperti pelacur sekarang, Ro?" hinanya.
"Demi kebebasanku," balas Rowena cepat, "jadi, bagaimana?" Salazar masih mempertahankan ekspresi jijiknya, malahan bertambah parah, seolah Rowena kotoran di bajunya. Rowena mendecak lebih keras, "Baiklah, baiklah!" Ujarnya tak sabar, "aku akan memberikan semua uang hasil dari penjualan di pasar gelapku yang terakhir!"
Seringai licik kini tercipta di wajah Salazar, "Tunggulah di sini dan biarkan aku yang mengurus semuanya."
"Dasar bucin brengsek," umpat Rowena kencang pada Salazar yang pergi menjauh.
=o^o=
Malam harinya, Godric dan Helga sedang bermain kartu di ruang tamu, menunggu kedua sahabat mereka yang lain untuk datang, makan malam telah disiapkan oleh Helga–dengan campur tangan Godric tentunya, jika tidak bisa saja Helga menambahkan sesuatu yang mencurigakan yang bisa menyebabkan semua orang keracunan. Helga memekik senang sementara Godric menjerit tak terima, Helga lagi-lagi mengalahkannya.
"Apa yang harus kulakukan agar aku menang?!" Jeritnya frustasi, membanting kartu-kartu malang yang dipegang olehnya ke meja, sedangkan Helga masih tertawa penuh kemenangan.
"Kau butuh ratusan tahun untuk mengalahkanku," Helga membalas dengan sombong, lalu senyumnya merekah lebar mendengar pintu rumah terbuka dan salam dari dua orang yang sangat mereka kenal. "Ro!" Serunya bahagia langsung memeluk wanita yang terlihat muram tersebut, memikirkan uang-uangnya yang melayang bebas di tangan Salazar.
"Hai juga, sayang," Rowena membalas pelukan Helga dan mengecup kedua pipi Helga gemas, merangkul Helga erat.
Godric mendekati Salazar, "Kau mengharapkan ucapan selamat datangku?" canda Godric cengengesan mengatakannya.
"Tidak juga," Salazar menarik Godric dan tanpa basa-basi mencium bibir Godric lama, sebelum akhirnya Godric mendorongnya menjauh sambil mencoba menggapai oksigen di sekitarnya.
"Aah kau memang sialan," Godric menatap nyalang Salazar sebentar, lalu menjulurkan lidahnya pada pria tersebut. "Aku takkan membiarkanmu melakukannya di sini," bisik Godric menggoda, mengalungkan tangannya ke leher Salazar, "tunggu sampai makan malam selesai."
Rowena melempar bantal sofa pada mereka, rupanya masih kesal atas kejadian tadi. "Cari tempat kalian berdua," ujarnya ketus, "ayo kita makan malam duluan, Love," ajak Rowena pada Helga, kembali mengecup kening kekasihnya.
Helga merona sebentar, tapi balik mengecup kening Rowena. "Ayo," balasnya pergi ke ruang makan, diekori oleh Rowena.
"Sekarang lihat siapa yang harus cari tempat," sindir Salazar sebal.
Godric tertawa, "Sudahlah, ayo makan."
.
.
End
Wait for the next chapters.
