Annyeong ~

...

Semoga bisa menghibur readers sekalian ^.^

Selamat membaca.

.

.

Min Yoongi, seorang gadis cool yang bahkan tak merubah wajah datarnya ketika terjadi gempa sekalipun, mau tak mau harus ditakdirkan memiliki hubungan absurd dengan pemuda culun bernama Park Jimin. AU! GS! YoonMin. VMin. Slight! NamJin.

Cast:

Min Yoongi (GS)

Park Jimin

Kim Taehyung

Min Hoseok

Min Seokjin (GS)

Kim Namjoon

Jeon Jungkook

.

.

Tak henti-hentinya Taehyung mencuri lihat pemuda yang duduk di bangku belakang melalui spion depan. Dari ujung rambut sampai ujung sepatu hitam merek terkenal itu. Sorot matanya yang biasa Taehyung tangkap sebagai sesuatu yang manis kini berubah menjadi sesuatu yang tak ada niat untuk apapun. Bibir ranum yang terkadang tersenyum lembut tak ayalnya kini menarik garis datar pertanda enggan melakukan apapun.

Benar-benar bukan Tuan Mudanya.

Taehyung juga sesekali melirik ke bangku samping, ke arah gadis yang belum kunjung membaik rasa khawatirnya. Wajahnya masih cemas. Bibir tipisnya masih dikulum berkali-kali. Dan jemari kurusnya selalu risih memegangi rok pendek yang membungkus kakinya. Terakhir, kedua matanya tetap lemah untuk menahan tangisan.

"Tuan Muda, jangan menangis lagi,"ujar Taehyung lembut, "semua akan baik-baik saja..."

"Ma- ma- Mana bisa baik-baik saja! Kalau Hyung tadi tidak memaksa, dia pasti sudah seenaknya melihat tubuh telanjangku!"

"Kalian terlalu memusingkan hal-hal kecil,"desah Yoongi.

"MWO? Hal kecil!? Kau pikir-"

"Iya, iya. Terserahlah. Berarti kalau nanti aku mau pipis di sekolah bagaimana? Aku harus ditemani begitu? Memakai eyepath lagi begitu?"

"Dengan senang hati aku akan melakukannya, Yoongisshi,"tukas Taehyung.

"Haaaah,"Yoongi membuang napas panjang, menopang dagu dan menatap malas ke arah jalananan kota, "merepotkan..."

[Apa pelayanmu selalu mengekorimu 24 jam hha?]

Napas Jimin tercekat, meski sudah sejak sarapan tadi akhirnya mereka tahu bahwa kejadian aneh kembali terjadi di antara mereka berdua -saling bisa membaca ucapan batin masing-masing- tapi tetap saja sampai sekarang Jimin belum terbiasa dengan itu.

[Ah. Apa dia sudah tidak bisa mendengarku lagi ya...] Yoongi melirik sebentar ke bangku depan.

[Ani, aku masih bisa mendengarmu]

[Oh]

[Taetae-hyung hanya akan bersamaku di luar sekolah]

[Pantas]

[Apa?]

[Kalau ada penjaga seperti ini, kau tidak akan dibully kan]

Sontak Jimin menoleh ke belakang. Memberi tatapan kaget yang langsung berubah marah dan kecewa untuk dirinya sendiri. Sedang Yoongi hanya menatapnya datar.

[Nah, apa berarti mulai sekarang dia akan mengekori Tuan Muda-nya ini selama di sekolah?]

Jimin tak membalas. Menunduk dalam, berkutat akan satu bulan terakhir kehidupan sekolahnya yang semakin menyiksanya.

.

.

Demi apapun juga.

Hoseok mematung memandangi sosok mungil berpita biru itu. Rambut sebahu yang digerai indah, terlihat manis meski hanya dilekatkan pada simplenya hiasan berwarna laut. Kakinya dibalut kaos kaki ketat sebetis dengan rok sepaha yang membuat tungkai itu semakin ramping berlekuk memanjakan mata. Tersampir dibahu sempit itu ransel kecil lola style yang sepertinya pasangan dari sepatu hitam manisnya. Dan jangan lupa pada kepala tertekuk dan ekspresi malu-malu yang membuat Hoseok semakin kehilangan kata-katanya.

Jelas-jelas siswa kelas dua itu terpesona, pada sosok yang padahal ia jumpai setiap harinya. Karena gadis itu biasanya selalu memasang tampang malas dan datar serta tak ada niat pada apapun di dunia. Selalu membiarkan surainya kusut tergerai tak beraturan. Selalu memakai kets kusam, ransel gelap dan memakai celana training di balik seragamnya.

Hoseok mengejar, berlari kencang, mengenggam erat kedua bahu sosok yang terlonjak kaget karena tingkahnya, "kau bukan Min Yoongi kan?! Katakan bukan! Tolong katakan kau bukan adikku!?"

"Eeeeh?"sontak Jimin gemetar ketakutan melihat ekspresi Hoseok yang seolah ingin menerkamnya.

PLAK

"Babo!"kesal Seokjin memukul keras kepala Hoseok. Lalu langsung tersenyum manis dan melindungi Jimin dari sergahan Hoseok. Ia merangkul Jimin penuh sayang sembari melangkah bersama menuju gerbang sekolah. Hoseok dan Yoongi mengikuti mereka dari belakang.

"Heol. Kau membiarkan mereka mendadani tubuhmu ya,"Hoseok menyikut Yoongi di sampingnya.

"Terserah mereka mau apa."

"Jadi, bagaimana?"

Yoongi mendesah panjang. Kedua bahunya turun lalu terlihat ekspresinya yang paling frustasi sepanjang hidupnya, melebihi saat dirinya dipaksa memakai gaun berenda oleh Ibunya ketika ia berulang tahun yang ke lima. Matanya hanya menatap lurus sosok yang masih agak canggung dengan keramahan Eonninya.

"Jadi, bagaimana?"ulang Hoseok karena Yoongi hanya mendesah dan berjalan malas.

"Merepotkan."

"Ngomong-ngomong, Butler itu mana?"Hoseok celingak-celinguk memperhatikan sekitar.

"Setelah menurunkan kami dan memberikan kaca mata menyebalkan ini,"tunjuk Yoongi kesal pada kaca mata besarnya, kalau saja minus mata Jimin tidak parah, dia tak akan memakai benda yang memberatkan hidung dan membuat risih wajahnya, "dia bilang harus ke kantor kepala sekolah dan bergegas menyiapkan sesuatu. Dan mengingatkan kami untuk ke kelas masing-masing dengan sikap senatural mungkin. "

"Menyiapkan sesuatu? Apa?"

"Entahlah, Hyung."

Hoseok terdiam sejenak. Ia menoleh perlahan ke arah Yoongi, "'Hyung'?"tanyanya tak percaya.

"Wae? Akan terdengar menjijikkan kalau seorang pemuda memanggilmu 'Oppa' kan."

"Iya, sih. Haha. Kau pasti cepat terbiasa, lihat, pasti tak ada yang menyangka bahwa jiwa di dalam tubuh ini adalah seorang perempuan. Kau memang seperti namja sih, "Hoseok lalu beralih melihat Jimin, "membuatku pangling melihat sosokmu yang ternyata bisa menjadi semanis itu. Hmmmm. Sepertinya dia juga mulai terbiasa,"simpulnya melihat gelagat Jimin yang sudah seperti remaja putri pemalu yang sangat manis.

"Well, kau tahu, Hyung. Kamarnya bahkan jauh lebih girly dibanding Jin-nuna."

"Waw."

"Kau lupa piyama yang tadi pagi kupakai."

"Aa,"Hoseok mengangguk-angguk. Awalnya dia menganggap biasa saja, mengingat seorang Park Jimin adalah anak bangsawan pasti piyamanya memang lain dari biasanya, tapi setelah dipikir-pikir lagi, sedikit berlebihan dengan tambahan renda dan beberapa pita pink di baju tidur itu.

"Wah, sepertinya takdir muak dengan sikap di luar kodrat kalian dan memutuskan untuk menukar tubuh kalian. Wkwkwkwk."

Yoongi hanya mendesah kasar untuk kesekian kalinya.

.

Tak ada yang tidak melotot melihat Jimin dalam tubuh Yoongi. Sejak beberapa langkah memasuki gerbang, semua siswa yang mengenal ataupun tidak mengenal seorang Min Yoongi tak berhenti memandangi gadis berkulit seputih susu yang berdandan sangat manis itu.

Mereka akan menghampirinya jika saja tidak ada Hoseok yang menatap sangar dan bersikap layaknya penjaga. Tapi yang lebih menarik perhatian adalah seorang siswa yang dikenal culun dan tidak memiliki teman melangkah beriringan bersama Min bersaudara.

Sudah menjadi rahasia umum bagi seluruh murid kelas satu Bangtan High School bahwa berteman dengan seorang Park Jimin adalah sebuah kesalahan dan sesuatu yang tidak boleh dilakukan jika ingin menjalani kehidupan damai di sekolah. Bahkan sesuatu yang sangat dihindari untuk sekedar berbicara beberapa patah kata saja kepada Park Jimin. Karena peraih nilai tertinggi ujian masuk itu sudah diklaim sebagai target pembully-an nomor satu oleh Jeon Jungkook, putra tunggal pemilik Yayasan Bangtan.

"Wah, rombongan kalian bertambah dua orang ya?"Namjoon yang setengah berlari dari gerbang sekolah lalu melambat dan merangkul kedua bahu Hoseok, "siapa si culun ini?"herannya mematai pemuda berkaca mata besar, berseragam sangat rapi serta bersurai hitam mengkilat gaya 3/4 di samping Hoseok.

"Well, anggap saja teman baru kami, ani, teman baru Yoongi."

"Hmm... Oh, ya. Yoongi mana?"

"Tuh,"tunjuk Hoseok pada gadis yang lengannya dirangkul oleh Seokjin.

Namjoon mengerut banyak, "mana?"

"Ituuu!"ulang Hoseok, "itu Yoongi lho."

"Hha? Sejak kapan adikmu seperti itu?"

"Sejak kena kutuk,"jawab Hoseok asal.

.

.

Gikwang-ssaem mengerut. Mendapati murid kebanggaannya ternyata tertidur dengan menopang dagu. Ia pikir sang juara umum itu menekuk karena membaca buku pelajaran, tapi bergeming ketika ia menyuruhnya untuk menjawab soal.

"Park Jimin."

Ulang Gikwang-ssaem mengetuk-ngetuk meja si murid. Tak ada respon dari yang berkaca mata besar itu.

"Park Jimin."

Lagi, tapi kali ini lebih tegas namun masih dijaga agar tidak berteriak.

"Park-"

"Permisi."

Suara wali kelas 10-A menginterupsi kelas matematika pagi itu. Pria bertubuh besar bernama Sejin atau kerap dipanggil Sese-ssaem itu memasuki kelas diikuti seorang pemuda tampan berseragam Bangtan High School. Parasnya membuat para siswi langsung kasak-kusuk membicarakannya

"Permisi, Gikwang-sshi. Seharusnya perkenalan murid barunya di awal tadi, tapi dia terlambat. Maaf, jika mengganggu kelasmu sebentar,"senyum Sejin mengarahkan murid barunya berdiri tegak di depan kelas menghadap seluruh calon teman-teman sekelasnya.

"Gwenchana yo, silahkan, Sejin-sshi."

Si siswa baru yang memiliki aura kuat dan serius membungkuk sedikit, "Kim Taehyung imnida. Mohon kerja samanya,"ujarnya tegas.

Mengundang decak kagum seisi kelas.

Kasak kusuk membuat siswa bername tag Park Jimin perlahan terbangun dan belum sempat kedua matanya terbuka sempurna sebelah tangannya ditarik oleh seseorang.

"Gikwang-ssaem, Sejin-ssaem,"tatap Taehyung untuk dua guru itu, "maaf, kami izin ke toilet sebentar,"ujarnya cepat langsung menarik tubuh Jimin keluar kelas tanpa persetujuan dari guru matematika dan wali kelasnya itu.

.

Yoongi mematai Taehyung yang kini berbalut seragam yang sama dengannya, "heol, jadi mulai sekarang kau menyamar menjadi teman sekelas Jimin untuk mengawasiku."

"Ini cara yang terbaik."

"Dan kenapa kau menyeretku ke toilet sekarang heoh? Tak bisakah kau menunggu istirahat siang?"

Taehyung menajamkan pandangannya, "Tuan Muda adalah siswa teladan, berprestasi dan peraih nilai tertinggi diangkatannya."

"Ya, aku sudah tahu, guru-guru selalu ribut membicarakan namanya."

"Nah, kalau kau tahu, kenapa bisa-bisanya kau tertidur seperti tadi hha?"

Yoongi mendesah panjang, "maaf, maaf, asal kau tahu aku ini memang suka tidur, apalagi di jam matematika yang menyebalkan itu. Nanti aku tinggal bilang ke semua guru yang mengajar hari ini kalau aku sedang tidak enak badan. Beres, kan? Ada yang perlu kita bicarakan lagi?"

"Istirahat siang nanti, kita berdua harus pergi ke tempat Tuan Muda."

"Iya, iya..."

.

Beberapa siswa masih terkadang menolehkan kepala ke arah bangku pojok kiri paling belakang. Sudah sejam lebih kelas Fisika dimulai, mereka tetap tak tahan untuk tidak mencuri lihat pada gadis manis yang dengan kalem memperhatikan guru dan mencatat pelajaran itu. Meski di awal tadi jelas-jelas gadis itu mengacungkan tangan ketika pengambilan absen dan nama Min Yoongi terpanggil, mereka masih merasa bahwa sosok kikuk itu bukanlah bagian dari kelas mereka. Mereka akan lebih percaya jika ia anak baru dan pastinya bukan Min Yoongi yang mereka kenal empat bulan ini.

Lihat, Seunghoon, yang selalu mengejek Yoongi seperti namja malah tak berhenti memandanginya sejak ia melangkahkan kaki ke ruang kelas 10-B ini. Atau Mino, berandal sekolah yang sepertinya akan menjadi penerus Doojoon, yang tidak pernah tertarik dengan seorang Yoja, yang kebetulan sedang mood untuk masuk kelas lebih awal, memilih memperhatikan gadis di sampingnya daripada tertidur.

Min Yoongi bukanlah gadis yang jelek, ia hanya seorang Yoja yang tidak pandai memanfaatkan parasnya yang manis dan kulitnya yang bening. Bertolak belakang sekali dengan Ratu Sekolah Min Seokjin, kakak kandungnya sendiri, yang sangat cantik dan bisa berdandan, Min Yoongi dikenal sangat cuek dengan penampilannya. Terlepas dari visual yang terlihat berantakan, semua yang mengenal Min Yoongi tidak pernah mengakuinya sebagai Yoja karena sifatnya yang cool serta cuek, pemalas, sering tertidur di kelas dan pembawaan juga gelagatnya yang sama sekali tak ada sisi femininnya. Adapun yang menganggapnya Yoja, itupun tentunya diluar tipe mereka.

Maka hal yang sangat tidak masuk akal melihat seorang Min Yoongi seperti sekarang. Mungkin, ya mungkin, jika dikatakan jiwanya tlah tertukar dengan seseorang maka semua orang pasti akan percaya.

.

Baru saja Jimin membereskan mejanya dan belum sempat dikerubungi oleh teman-teman sekelas Yoongi, dirinya langsung berlari memeluk Taehyung yang sudah berdiri di pintu kelas.

"Taetae-hyung..."bisiknya seolah ingin menangis.

Taehyung tersenyum ke penjuru kelas, melepas pelukan dengan lembut dan membawa Jimin mengikuti langkahnya meninggalkan murid 10-B yang kehabisan kata-kata akan apa yang barusan terjadi.

Mereka bergerak ke kantin sekolah.

"Se- se-semuanya memperhatikanku..."Jimin nyaris terisak di sela-sela suapan bekalnya.

"Aigooo, Jiminie,"Seokjin mengelus-elus bahu Jimin, "mereka memperhatikanmu karena Yoongi tak pernah terlihat semanis ini. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Malah aku berterima kasih karena sudah membuat Yoongi berdandan seperti ini. Akhirnya-"gadis cantik itu terharu melihat Jimin, "akhirnya aku merasa memiliki seorang adik perempuan..."

"Heol. Jadi benar jiwa mereka tertukar?"kaget Namjoon yang baru datang dan duduk di samping Hoseok.

"Ya! Hoseok-a!"sungut Seokjin pada Hoseok di seberangnya, "kau menceritakannya ke Namjoon?"

"Habis."

"Jinjja."

"Haha. Kalian jadi lebih mirip kakak-adik sekarang,"komentar Namjoon memandangi Seokjin dan Jimin.

"Benar, kan!"timpal Seokjin semangat, "entah mengapa aku malah bersyukur kalau-"

"Ya,"sergah Yoongi di paling ujung, ia menatap malas pada Eonnienya, "Noona pikir kami menikmatinya apa? Aku senang tidak harus memakai rok, tapi jika harus memakai kacamata besar agar melihat dengan jelas dan ditemani setiap pergi ke toilet, ugh,"jijiknya melihat Taehyung di hadapannya, "belum lagi seharian ini aku harus bilang 'tidak enak badan' ke semua guru. Lebih baik aku dibuang ke pulau tak berpenghuni daripada seperti ini."

"Jadi, kenapa jiwa kalian bisa tertukar?"tanya Taehyung.

"Mana aku tahu." -Yoongi-

"Aku tidak tahu, Hyung." -Jimin-

"Sebelum itu,"lanjut Taehyung, "apa hubunganmu sebenarnya dengan Tuan Muda? Tuan Muda tidak pernah menceritakan teman sekolahnya yang bernama Min Yoongi."

"Dua orang yang sama-sama bersekolah di Bangtan, hanya itu, tidak lebih"jawab Yoongi, "kami bahkan tak pernah berbicara."

Tampak Taehyung berpikir keras dan bergumam sendiri.

"Jangan-jangan kalian jodoh hahaha,"celetuk Hoseok.

"Hha?" -Yoongi-

"Eh?" -Jimin-

"Oh! Bisa saja!"timpal Seokjin, "takdir punya cara tak terduga untuk mempertemukan kita dengan jodoh kita kan."

"Heol." -Yoongi-

"Eeeh?" -Jimin-

"Mungkin kalian harus berciuman kalau ingin tubuh kalian kembali,"kekeh Namjoon.

Yoongi terdiam sebentar, "perlu dicoba sih,"angguknya lalu melihat Jimin, "kapan kita bisa berciuman?"

"Mwo?!"pekik Jimin.

"Bisa saja kan..."

"Tidak mau! Mustahil aku mencium diriku sendiri! Aneh kan."

"Wah! Wah!"

Enam kepala itu langsung teralih pada sosok yang berdiri angkuh di ujung meja mereka. Terdapat tiga siswa lain di belakangnya, yang tak kalah mengejek Yoongi dengan tatapan mereka.

Jimin langsung terdiam, sedang yang lain hanya menatap heran.

"Kupikir aku salah lihat, ternyata benar kau. Pantas kau belum juga mendatangiku. Sejak kapan 'Chimchim' punya teman hm?"tanya Jungkook sok-sok ramah.

"Excuse me?"balas Yoongi jengah, ekspresi Jungkook yang dibuat-buat benar-benar menghilangkan selera makannya.

"Hoooo!"sorak Jungkook bertepuk tangan, "waw!"kagumnya mendekatkan wajahnya pada wajah Yoongi, "kau salah minum obat ya? Ikut aku sekarang,"perintahnya mulai mengambil langkah.

Yoongi mengidikkan bahu singkat dan tetap duduk di kursinya.

Langkah Jungkook terhenti begitu salah satu pengikutnya memberitahu bahwa yang mereka anggap Jimin ternyata tidak mengikuti mereka.

Bergegas Jungkook kembali ke meja Yoongi, sertamerta meraih kotak bekal Yoongi dan langsung membuangnya secara kasar.

"Kau tidak dengar- Wow, wow. Lihat. Hahaha. Teman-teman barumu berani denganku heoh?"Jungkook tersenyum remeh menatapi satu persatu Namjoon, Hoseok dan Taehyung yang sudah berdiri dengan tatapan tajam.

"Sunbae sekalian,"panggil Jungkook sok sopan, "ini urusanku dengan-"

"Ck!"Yoongi medecak kasar dan akhirnya mau berdiri, "benar-benar menyebalkan,"ujarnya datar, "mau ke mana kita heoh?"

Jungkook menyeringai dan berlalu pergi, tepat ketika Yoongi akan meninggalkan mejanya lengannya langsung ditarik oleh Jimin.

"Jangan,"geleng Jimin khawatir.

"Aku akan ikut kalau begitu,"kata Namjoon, Hoseok dan Taehyung bersamaan.

"Hyungdeul tunggu di sini saja, biar aku sendiri yang pergi. Bayi menyebalkan itu benar-benar membuatku muak."

Hoseok dan Namjoon langsung setuju, karena mereka tahu betul siapa Min Yoongi.

"Tuan Muda, bukannya dia pewaris tunggal Grup Jeon?"sedang Taehyung yang masih tak mengerti apa yang terjadi tetap tak bisa membiarkan tubuh Jimin bergerak seorang diri.

Jimin menunduk dan mengulum bibir, sangsi untuk mengakui pada butlernya ternyata dia dibully oleh Jungkook selama ini.

[Dia yang selalu membullymu kan. Si Butler mengenalnya?]

Sontak Jimin menengadah dan menatap lekat Yoongi.

[Ne... Dia anak rekan bisnis Papa] tunduknya lagi lebih lesu.

[Dan Butlermu tidak tahu bagaimana hubungan kalian di sekolah?]

[Ne...]

[Well, kau harus mentraktirku merchandise Kumamon setelah ini]

[Eh?]

"Butler, sepertinya kau mengenalnya tapi tidak tahu bagaimana dia di sekolah,"ujar Yoongi tenang pada Taehyung, "anak itu memang suka iseng. Sepertinya kali ini kebetulan sekali memilih Jimin untuk mengisi waktu luangnya. Jika terjadi sesuatupun, aku jamin tubuh Tuan Mudamu tak akan lecet sedikitpun, jadi lanjutkan makan siang kalian. Aku akan cepat kembali,"tandasnya melepas baik-baik cengkraman Jimin di lengan kanannya.

.

Tidak sampai sepuluh menit, Yoongi kembali dengan setengah berlari dan senyuman lebar menghias wajahnya.

Enam pasang mata itu menatap heran, apalagi Jimin.

"Daeebak!"kagum Yoongi setelah duduk di samping Hoseok, "kekuatanku jadi lebih kuat kalau memakai tubuh seorang Namja!"sumringahnya.

"Jinjja!?"kaget Hoseok dan Namjoon.

Sedang yang lainnya bernapas lega, berarti urusan Yoongi dengan Jungkook sepertinya tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Yoongi mengangguk semangat. Kalau berurusan dengan sesuatu yang dia suka, anak bungsu tiga bersaudara itu akan memperlihatkan kelangkaan binar di wajahnya, "bayangkan kalau aku ikut Tim Basket Putra! Pertandingan musim ini Bangtan akan menang, Hyung!"

"Hooo!"tepuk Hoseok setuju.

"Sepulah sekolah nanti aku akan langsung-"

"Yoongi-sshi,"potong Taehyung, "sepulang sekolah Tuan Muda harus menghadiri kursus pianonya."

"Hhhaa?"

"Selama tubuh kalian belum kembali, kau harus menjalani semua jadwal Tuan Muda tanpa kecuali."

"Heol. Bilang saja Jimin sedang sakit. Beres, kan?"

"Semua Guru Privat mengenal baik Tuan Muda. Mereka jauh-jauh datang ke kediaman keluarga Park bukan untuk diberi alasan remeh 'tidak enak badan'"

"Masuk rumah sakit,"usul Yoongi, "Butler, kau tak ingin membuat malu Tuan Mudamu kan, jangankan piano, gitar saja tak pernah aku sentuh."

"Baiklah, aku akan mengatur semuanya selama tubuh kalian masih tertukar. Berarti kau juga jangan bertindak sembarangan. Sepulang sekolah nanti kita harus langsung ke kediaman Tuan Muda."

"Kami juga?"tanya Hoseok menunjuk dirinya, Seokjin serta Namjoon.

"Tentu saja. Kalian memiliki andil dalam urusan ini."

"Hoooo! Seru! Seru!"pekik Hoseok girang.

.

.

Tidak puas membuat Hoseok dan Seokjin menganga dengan mobil mewah Jimin, halaman luas seperti lapangan sepak bola, gedung megah layaknya kastil eropa pertengahan, sambutan puluhan maid, kini kakak beradik itu dihadapkan pada kamar seorang Park Jimin yang pastinya lebih luas dibanding lantai pertama serta halaman rumah mereka. Tapi yang lebih membuat mereka terpana tak percaya adalah nuansa feminin yang sepertinya tidak sepantasnya ditemui pada kamar seorang Namja.

"Kau tahu Otomen kan?"sikut Seokjin ke Hoseok, setengah berbisik.

"Ne."

"Ternyata benar-benar ada ya..."

"Ne... Sayang sekali Namjoon tidak bisa ikut karena part timenya. Heol. Padahal aku penasaran bagaimana tampang seorang Namjoon jika melihat semua ini, haha."

"Silahkan duduk,"Taehyung menyeret kursi untuk Jimin dulu, baru ikut duduk di sampingnya, "kalian ingin minum apa?"tanyanya pada tiga bersaudara yang ikut duduk di classic table set di sisi kiri ruangan itu.

"Em, jus jeruk,"jawab Seokjin.

"Air putih saja,"tambah Yoongi.

"Hmhmhmhm,"tampak Hoseok cukup berpikir. Ia merasa harus menguji seberapa hebat dapur kediaman elit ini.

"Katakan apa saja, tak perlu sungkan,"ungkap Taehyung sembari memberi isyarat pada seorang maid yang baru saja muncul dari pintu, wanita itu sudah bisa menghampirinya.

"Erk Sous," senyum Hoseok. Bangga dengan ingatannya saat iseng-iseng melihat minuman dari negara lain. Ia yakin Taehyung akan terdiam dan menyuruhnya untuk meminta minuman lain.

"Eh."

Lihat, terdapat ekspresi kaget yang samar dari wajah Taehyung. Hoseok jadi tersenyum bangga pada Seokjin yang menatapnya malas.

"Seleramu unik sekali."

"Eh?"

"Padahal orang-orang timur tengahpun tidak semua menyukainya. Well,"Taehyung beralih untuk maid yang siap mendengar perintahnya, "jus jeruk, air mineral, Erk Sous, Americano, Bubble Tea lalu untuk cemilannya yang seperti biasa."

Heol. Kedua bahu Hoseok jatuh. Entah cairan seperti apa yang harus ia minum nantinya, yang jelas ia hanya asal sebut lalu sekarang ia baru ingat Erk Sous jelas-jelas minuman hitam yang pastinya jauh berbeda dari selera anak-anaknya.

.

"Maaf, karena Tuan Besar hanya sekali meminta minuman ini, apa rasanya mengecewakan? Padahal Koki kami sudah tidak diragukan lagi keahliannya dalam meracik minuman bahkan dari Papua sekalipun."

"Haha. Ani yo. Haha. Enak sekali! Hmmm. Enak,"senyum Hoseok terpaksa menyesap cairan hitam pahit dari gelasnya, "enak kok,"angguknya mantab menyembunyikan rasa di lidahnya yang teramat menyedihkan. Andai dia tidak iseng, dahaganya kini pasti sudah dimanjakan oleh jus paling mewah dalam hidupnya. Seokjin di sampingnya terlihat menikmati sekali.

"Nah, aku ingin kau jujur, Yoongisshi,"Taehyung menatap tajam ke arah Yoongi, memulai pembicaraan utama mereka berlima, "aku yakin Tuan Muda tidak memiliki kesalahan apapun kepadamu, kenapa kau-"

"Ya ya ya ya,"sergah Yoongi sedikit kesal, "berhenti berpikir bahwa hanya Tuan Mudamu yang menjadi korban di sini. Sudah kubilang aku benar- benar tidak tahu. Aku bangun, masih setengah tidur aku mencari-cari kamar mandi, pipis lalu akhirnya sadar ada yang aneh dengan selangkanganku. Dan baru kali ini aku merasa dunia ternyata punya kejutan yang sangat-sangat tidak masuk akal. Kami tidak memiliki hubungan apapun, sumpah, aku hanya tahu namanya saja karena semua guru tak berhenti mengelukan kepintarannya. Aish, lihat, baru kali ini ada yang membuatku bicara panjang lebar. Malah seharusnya kau yang bertanya pada Tuan Mudamu itu, apa karena dia suka yang seperti ini makanya memohon pada dewa agar bisa merubahnya menjadi yoja."

[Sopan sekali ucapanmu!] Jimin menatap tajam ke arah Yoongi.

[Gamsahamnida. Butlermu menyebalkan sih]

"Apa benar Tuan Muda pernah berpikir seperti itu?"

"Tentu saja tidak, Hyung."

Yoongi menghela napas, "begini saja, entah apa yang membuat tubuh kami tertukar, yang jelas kita fokus dulu pada cara agar bisa mengembalikan kami seperti semula. Aku tak ingin tidur di ranjang yang menggelikan itu."

"Ciuman!"pekik Seokjin antusias. Hal-hal romantis menang nomor satu bagi remaja putri pada umumnya.

"Benturkan kepala kalian,"Hoseok cukup serius mengatakannya, "keras-keras tentunya,"tekannya.

"Aku belum pernah membaca fakta mengenai ini,"Taehyung berpikir keras mengelus-elus dagunya. Tanpa tahu Yoongi sudah memberikan kode untuk dua kakaknya agar mengunci pergerakan Taehyung.

Secepat kilat. Yoongi meraih lengan Jimin, bergegas menyeretnya ke kamar mandi dan mengunci pintu.

.

"Kau mau apa!"pekik Jimin mencoba lari namun gagal karena sepasang tangan Yoongi gesit menahan tubuhnya, "Taetae-hyung! Taetae-hyung!"

"Ya! Tenanglah. Butlermu tidak akan membiarkan aku melakukannya, jadi berterima kasihlah karena Hobie-hyung dan Jin-nuna mau mencegahnya."

"Jangan bilang-"

"Tidak ada salahnya mencobanya kan."

"Hei! Sudah kubilang aku tak akan mencium-"

DUAK

"Awwww!"ringis Jimin mengelus keningnya yang barusan diadu sekuat tenaga oleh Yoongi, "kau ingin kita berdua pingsan ya?"sungutnya pada Yoongi yang juga merasakan sakit pada kepalanya.

"Ck. Tidak ada yang berubah ya. Terpaksa cara yang satu lagi."

"Eh?"

"Yang satu lagi."

"Hentikan! Jangan bilang kau ingin menciumku!"

Yoongi menarik bibir mengangkat bahu singkat. Ia lalu menggenggam erat kedua bahu Jimin dan mulai menyudutkannya.

"Ya!"

Yoongi bergerak memangkas jarak antara mereka.

"Sudah kubilang aku tak ingin mencium diriku sendiri!"

"Tutup saja matamu."

"Tidak mau!"

"Terserah. Kita akan tetap mencobanya,"tandas Yoongi menahan bahu Jimin lebih kuat lagi dan tetap mendekatkan wajah mereka.

Jimin seakan mau menangis. Ia yang merasa perlawanannya sia-sia hanya bisa menahan napas dan menutup erat kedua matanya. Jujur, sebenarnya dia juga berpikir bahwa ciuman mungkin, ya mungkin, mungkin saja akan menyelesaikan masalah mereka, namun 15 tahun hidupnya tak pernah sekalipun ia mencium orang lain selain keluarganya dan Doodoo, poodle putihnya. Dan sekarang malah mendapat ciuman dari bibirnya sendiri di tubuh orang lain.

[Jebal! Jebal! Jebal! Taetae-hyung! Taetae-hyung! WUUAA! Apa ini! Apa ini! Hiks! Hiks! Tolong aku! Tolong aku! Tolong aku!]

Tepat sepuluh senti lagi, Yoongi menghela napas.

[Kau tahu aku membaca pikiranmu kan. Bisa tenang sedikit tidak]

[Terserah aku! Terserah-]

Tersentuh.

Dua pasang bibir itu bersentuhan.

Yang satu terkatup rapat karena empunya tercekat dan memicing sangat erat. Sedang pemilik yang satu lagi juga menutup kedua matanya namun jauh lebih tenang.

Tipis dan si tebal itu tertempel beberapa detik. Lalu Yoongi menarik diri, tetap memegang kedua pundak Jimin, menunggu apakah ada sesuatu yang terjadi di anatara mereka.

Hening.

Terdengar desahan kasar memecah sunyi, "tidak berhasil,"keluh Yoongi.

[Jinjja?]

Jimin membuka mata, mendapati tubuhnya masih ada di hadapannya.

"Apa memang harus kiss ya, bukan popo,"ujar Yoongi serius, alisnya menyatu mengatakan itu. Membuahkan tatapan horor dari Jimin.

"Well, kau siap?"lanjut Yoongi menatap intens kedua mata Jimin.

Jimin benar-benar memelas dalam gelengannya.

"Kau ingin kita terjebak seperti ini selama-lamanya?"

Jimin menunduk dalam.

"Nah, anggap saja kecelakaan. Angkat kepalamu."

Kembali Jimin menutup mata erat sembari mendongakkan kepalanya pasrah. Tepat ketika Yoongi akan mencium Jimin lagi, sesuatu disadari oleh mereka berdua.

Jimin sadar bahwa dia menggenggam sesuatu. Dan Yoongi sadar punggungnya menempel pada dinding kamar mandi.

Keduanya serentak membuka mata.

Keduanya sontak menarik napas dalam-dalam seraya tersenyum lebar.

"HEOL! ASTAGA! KITA KEMBALI!"

.

.

-TBC-

.

.

-Preview for the next chapter-

"Jadi kalian kembali bukan karena ciuman?"

Yoongi menggeleng dengan berat hati.

.

"Heol. Jangan bilang untuk sementara waktu aku harus bangun dan mandi di pagi-pagi buta?"protes Yoongi tak terima dengan rencana Taehyung.

.

Yoongi menatap lamat pemuda manis di sampingnya. Tanpa ia sadari sebuah senyuman simpul tercetak dari bibir tipisnya.

.

.

GAMSAHAMNIDAAAAAAAAA

How? How?

Aaaarrrggghhh! Ga sesuai ekspektasi ya! Mian!

Well, beginilah cerita ff saya kali ini.

Semoga masih bisa menghibur. Semoga!

So, Yoongi bisa dibilang androgini gitulah, sedang si Jimin Otomen wkwkwkwk Kan cocok tu hohohoho

Once again gamsahamnida

Review Juseyo ^^