Hai~~~~! #bag big bug plak brak brug klontrang..(ditimpukin readers)

Huweee TAT maaf saya updatenya lama sekali,,,,

Gomen,, gomen,, hontou ni gomennasai minna sama,,,,!

Update ngaret sekali,,,

Rada bingung nih!

Ceritanya saya rombak abis-abisan,, jadi beda bangt ama yang aslinya,,,

Saya juga sibuk ama fic yang lain yang tentu aja SasuNaru,, masih betah difandom n pair ini^^

Dari pada nanti kebanyakan curhat,, balas review aja ya!

Hoshi Yukinua :

Nih udah dilanjut^^,, gomen ne updatenya lama

Makasih udah review!

Shuriken89 :

Makasih udah review(?)

Chap 2 udah lebih baikah dari chap 1?

Uchy-san :

Hohoho,, makasih ya uchy san udah suka ama fic ini,, nih dah lanjut,,

Maaf update telat ^^

Makasih udah review ^^/

Tsukihime Akari :

Iya sudah diputuskan Sasu teme jadi seme disini,,,

#garuk-garuk pala,, hehehe,, gomen ne klo judulnya salah,, tapi ga bakal dirubah gapapakan,,

Abis nyingkatnya lebih enak aja HIS,, klo dirubah IHS,,

Makasih udah dikasih tau ^^

Makasih juga udah review ,, update telat gomen ne,,^^/

Iria-san :

Makasih ya udah dikasih tahu,, nih saya usahain EYD n semacamnya udah lebih layak untuk dibaca ,,^^

Makasih sudah mereview nw,,\^^

Guest :

Salam kenal juga ^^/

ItaKyuu,, dipikir dulu ya ma saya,,,

Makasih udah riview^^

MJ :

Hai juga ^^/

Iya saranmu aku pikir" ya~~

Udah diputuskan ini SasuNaru kok !

Makasih udah review ^^

Yang fave fic ini,, so ThanX ya!

Okeh! Lets enjoyed minna

Naruto: 17 tahun. Kelas 2B

Sasuke:17 tahun. Kelas 2B

Kiba:17 tahun. Kelas 2B

Shikamaru:18 tahun. Kelas 3A

Disclaimer : Naruto bukan punya saya. Naruto punyanya Kishimoto sama tapi yang bener punya sasuke

Genre: Romance, Crime.

Rated: T

Pairing: SasuNaruSasu, belum tahu yang mana.

Warning: BoyXBoy, sho-ai,BL,Alur tidak jelas,Typo(banyak kali),aneh,gaje, membingungkan etc.

DON'T LIKE DON'T READ or DON'T LIKE TRY READ?

Tuut tuut tu-

"Ya? Bagaimana?" terdengar suara seseorang dari seberang sana.

"Misi selesai," ucapnya.

"Tepat waktu, cepat kembali kemari." Ucap orang yang ditelpon.

"Hn."

Tut tut tut

Mata itu tertutup lalu membuka, memperlihatkan mata merah kelam yang bersinar didalam kegelapan. Disematkannya pistol yang dia gunakan untuk membunuh tadi dibelakang bajunya.

Dan pergi menghilang dalam kegelapan.

Orang itu, seorang pembunuh berdarah dingin telah menyelesaikan satu lagi misi menghilangkan nyawa dengan alasan 'misi'.


CHAPTER 2

Beberapa hari setelah kejadian 'ditinggal sendiri menjalani hukuman' Naruto tidak pernah lagi mengajak Sasuke bicara, bukan karena tidak ingin tapi Naruto masih kesal pada Sasuke karena meninggalkannya sendiri saat hukuman sehingga dia harus mengerjakannya sendiri dan baru pulang jam 8 malam dan lagi saat baru saja sampai dia harus menghadapi super monster preman menyabalkan dengan ceramahan super panjang dan akhirnya Naruto yang sangat kelelahan baru tidur jam 11 malam, bayangkan diceramahi hampir 3 jam betapa inginnya Naruto mengutuk dan membunuh si anak baru aneh berkacamata tebal itu.

Kita abaikan penjelasan author tentang curhatan Naruto barusan, balik ke cerita~

Hari ini, tepat tiga hari setelah kejadian itu dan Naruto sudah bertekad untuk membuat Sasuke bicara dan meminta maaf padanya.

Saat pelajaran pertama, kedua, ketiga, dan sampai pulang sekolah(author males ngejelasin) mulailah rencana yang disusun Naruto.

"Hey, Sasu teme!" Naruto berlari mengejar Sasuke yang sedang berjalan menuju gerbang depan sekolah.

"..." Sasuke mengabaikan panggilan Naruto dan tetap berjalan.

Melihat sang Uchiha tidak peduli dan pura-pura tidak mendengar akhirnya Naruto menjerat Sasuke sehingga lengan kirinya, melingkar di leher Sasuke.

"Kerumahku yu~k!" Ajak Naruto, ekh lebih mirip paksaan karena Naruto menyeret-nyeret Sasuke sepanjang jalan.

"Lepaskan, aku tidak mau." Ucap Sasuke yang masih dirangkul paksa berjalan oleh Naruto.

"Hee, sebagai teman baru kan kau harus tahu dimana rumahku. Ayo sebentar lagi sampai lho!" ucap Naruto tak peduli dengan Sasuke yang kesulitan mengimbangi jalan Naruto.

Tak lama dari itu, mereka pun sampai disebuah rumah berlantai dua dengan pagar mengelilingi rumah itu.

"Nah, ini rumahku!" teriak Naruto saat sampai didepan rumahnya.

Dimata Sasuke rumah yang ada didepannya ini lebih mirip tahanan koruptor, kenapa? Karena rumah itu dikelilingi oleh pagar yang tinggi menjulang dan paku serta kawat diatasnya juga err benda bersinar merah juga disekitarnya mirip tahanan tapi ketika masuk kedalam, dia disuguhi pemandangan asri, pekarangan rumah itu penuh dengan bunga yang ditata sesuai jenisnya, bunga matahari dibagian paling depan dekat dengan pagar, lalu tulip putih dan rose merah didekat rumah dan pohon Sakura disetiap sisi rumah, agak terlalu ramai namun indah karena penataannya yang sangat baik.

"Ayo kita masuk!" Naruto kembali menyeret Sasuke kedalam rumahnya.

"Aku pulang!" Lagi-lagi Naruto berteriak tanpa peduli nasib orang disampingnya yang sudah setengah tuli akibat teriakannya.

"Eh, Naruto kau sudah pulang?" Wanita yang terlihat masih cantik walau umurnya sudah 40an melangkah mendekati Naruto.

"Preman kenapa tanggapanmu seperti itu heh, aku pulang terlambat kau marah, aku pulang tepat waktu kau malah heran. Apa sih mau mu?" Tanya Naruto dengan tidak sopannya.

Bletak !

"Jaga sikapmu bodoh! Aku ini kaa san mu sialan!" Kushina menjitak kepala Naruto.

"Huh, dasar." Keluh Naruto memegangi kepalanya yang baru saja mendapatkan jitakan sayang sang ibu.

"Eh, kamu temannya Naruto ya?" Tanya Kushina saat melihat seseorang yang dirangkul Naruto-dari tadi belum dilepas-.

"Hn. Uchiha Sasuke dan saya bukan temannya." Jawab Sasuke datar karena Naruto yang tak mau melepaskannya.

"Hihi. Namaku Uzumaki Kushina Kaa sannya Naruto, semoga anak rubah ini tidak merepotkanmu ya, Sasuke kun." Kata Kushina dan tersenyum.

"Jangan so manis deh, dasar preman pasar!" Ucap Naruto.

Bletak !

Dan berakhir dengan jitakan kedua dikepalanya.

"Naruto, lepas tanganmu itu." Kushina menunjuk tangan Naruto yang masih setia merangkul Sasuke.

"Ha'i ha'i, ayo Sasuke kita kekamarku saja." Ajak Naruto-sudah melepas rangkulannya- menyeret tangan Sasuke.

"Ini kamarku! Hehehe, maaf ya agak berantakan." Ucap Naruto memasuki kamar yang 'agak' berantakan baginya, tapi bagi Sasuke kamar ini sudah seperti kapal pecah + urak-urakan+ seperti habis diterjang tsunami juga tornado secara bersamaan, sungguh amat berantakan.

Dengan langkah berat, Sasuke memasuki kamar Naruto namun tetap berdiri didekat pintu karena jalan masuknya ditutupi buku-buku err manga yang entah ada berapa puluh yang berserakan dilantai.

"Kenapa malah diam? Masuk aku tidak akan macam-macam kok." Ucap Naruto

Dengan susah payah akhirnya Sasuke dapat masuk kedalam kamar Naruto, tentu setelah menyingkirkan gangguan.

"Kenapa berdiri saja, ayo duduk!" ucap Naruto, tangannya menarik tangan Sasuke untuk membuatnya duduk disampingnya.

Tok tok tok

Pintu kamar Naruto diketuk dan tak lama Kushina masuk dengan membawa nampan ditangannya.

"Hai Sasuke kun, ini ku bawakan orange juice dan kue coklat untukmu." Ucapnya ramah seraya memindahkan apa yang ada diatas nampan kesebuah meja didepan televisi.

"Hn."

"Baiklah, ku tinggalkan kalian ya. Naruto, kau jaga rumah. Kaa san ada urusan sebentar." Ujar Kushina sebelum menghilang dibalik pintu.

"Dasar ibu-ibu!" Naruto mulai menggerutu tak jelas seraya meminum jus jeruknya.

"Hei, teme ayo minta maaf." Naruto memulai aksinya untuk membuat Sasuke meminta maaf padanya atas kejadian beberapa hari kemarin.

"..." Sasuke tetap diam, lebih memilih mendengarkan acara yang disiarkan televisi.

"Teme, jangan diam saja."

"..."
"Teme kemarin kau kenapa meninggalkanku, gara-garamu aku harus menyelesaikan hukuman sampai malam baru pulang."

"..."

"Kau tahu tidak, badanku serasa remuk tahu. Kau itu jahat sekali!"

"..."

"Teme! Kau mendengarku tidak sih!" Naruto menggeram marah, sejak tadi dia bicara tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Sasuke.

"Teme, kenapa kau tidak minum jusmu?" dan tak henti-hentinya pun Naruto bicara.

"Tem-"

"Aku tidak suka jeruk dan aku tidak suka makanan manis." Mendengar Sasuke bicara membuat Naruto menunjukan cengiran lebarnya, akhirnya Uchiha ini mau bicara juga.

"Ne, teme kenapa kau tidak suka makanan manis?" Kami sama kapan orang ini bisa berhenti bicara batin Sasuke meringis, pemuda disampingnya ini sungguh sangat mengganggu.

"..."

"Apa karena ini kue coklat, kalau yang lain kau suka tidak?" tidak ada habisnya Naruto bertanya dan hal itu membuat jengah Sasuke. Sasuke menatap lurus pada Naruto disamping kanannya yang juga balik menatapanya. Tatapan tajam ia berikan agar bocah berisik itu berhenti bicara.

"Te-"

"Aku tidak suka semua yang manis." Ucap Sasuke masih memandang lurus iris sapphire biru didepannya.

"Terus yang kau sukai apa?" tanya Naruto, sepertinya dia sedang mengintrogasi Sasuke.

"Jus tomat, sup tomat, cake tomat, pie tomat dan tomat. Apa ada yang ingin kau tahu lagi Pak Polisi Dobe?" Naruto cengo mendengar jawaban Sasuke, bukan karena dia telah dikatakan dobe tapi karena semua kesukaan Sasuke adalah hal yang semuanya berakhiran tomat. Apa dia alien tomat? Batin Naruto.

"Kalau ramen?"

"Tidak." Jawab Sasuke datar. Apa yang dilakukannya tadi, dia baru saja membicarakan tentang dirinya, kenapa dia menjawab pertanyaan si Dobe didepannya ini.

"Teme, kau ini!" Naruto baru saja akan mengeluarkan sumpah serapahnya karena orang didepannya ini berani menolak kelejatan ramen nya.

"Tidak bisakah kau diam?" Tanya Sasuke.

"Kau! Huh!" Naruto membuang mukanya yang hancur lalu menggantinya dengan yang baru#dirasengan emm maksudnya Naruto memalingkan wajahnya, malas untuk berdebat dengan orang anti sosial disebelahnya.

Hening menghampiri mereka, namun tak lama suara deringan handphone memecah keheningan itu.

Sasuke mengambil handphonenya yang berada ditas, lalu mendekatkan pada telinganya.

"Hn," ucap Sasuke.

"Ya, baiklah." Dan sambungan pun terputus.

Sasuke menyambar tasnya dan segera bangkit berdiri lalu berjalan menuju pintu.

"E eh? Teme kau mau kemana?" Tanya Naruto ketika melihat Sasuke menuju pintu kamarnya, seperti hendak pergi.

Tak mempedulikan, Sasuke tetap berjalan mendekati pintu. Tangannya menggenggam kenop pintu bersiap membukanya akan tetapi sebuah tarikan dari belakang membuat tubuhnya terpaksa berbalik cepat hingga keseimbangannya hilang.

"Kau in- huah!"

Brugh!

"I itai," Naruto mengerang kesakitan sambil memegangi belakang kepalanya yang baru saja mencium lantai, saat membuka matanya ia terdiam membatu. Napas hangat itu menggelitik permukaan kulitnya memberikan sensasi aneh kedalam tubuhnya, terlebih lagi mata yang saat ini menatap kearahnya dari balik kaca mata dengan sangat jelas ia bisa melihat pekatnya mata itu, membuatnya terpaku entah mengapa serasa terhisap masuk kedalam dimensi lain.

"Dobe."

Suara yang amat terdengar jelas olehnya itu mengembalikan kesadaran Naruto, mengerjapkan matanya mencoba menganalisis apa yang terjadi. Jatuh, lantai, dibawah, tertindih, dekat, untuk kedua kalinya Naruto membatu saat ia benar-benar telah menyadari posisinya, ia terbaring terlentang dengan Sasuke yang berada diatasnya, tidak bersentuhan namun_

"Ka kau bi bisa menying kir," Shit! Apa-apan ini? Kenapa suaranya terdengar gugup begini.

Tanpa banyak kata Sasuke bangun dari posisinya, membenarkan pakaian yang agak berantakan akibat ditarik Naruto dan berlalu pergi, tak mengindahkan Naruto yang terduduk diam dilantai.

"Oh, Sasuke kun!" Kushina tersenyum saat melihat Sasuke menuruni tangga.

"Aku pulang dulu. Maaf sudah merepotkan." Ucap Sasuke sopan.

"Sudah mau pulang ya? Cepat sekali, padahal bibi sudah menyiapkan makan siang malam lho!" Ucap Kushina dengan sedikit nada kecewa.

"Gomen, ada hal penting yang harus kulakukan." Sasuke menundukan sedikit tubuhnya sebagai sopan santun.

"Baiklah, tidak apa-apa. Lain kali datang lagi ya Sasuke kun." Ucap Kushina.

"Hn," Tanggap Sasuke.

"Dimana sih bocah itu, temannya mau pulang tapi tidak diantar! Maaf ya Sasuke kun, Naruto memang begitu. Mari bibi antar sampai depan." Ucap Kushina, melangkahkan kakinya lebih dulu kepintu depan.

"Terimakasih sudah mengantarku bi," ucap Sasuke saat dia dan Kushina sudah berada didintu depan rumah.

"Ah sama-sama Sasuke kun, jangan bosan-bosan datang kesini ya." Kushina melambaikan tangannya pada Sasuke yang sudah berlalu pergi.

.

.

.

.

09.24 malam

Disebuah bangunan tua yang sudah entah sejak kapan ditinggalkan, seorang pemuda berambut raven melangkahkan kakinya menyusuri lorong-lorong gelap minim cahaya. Hanya sinar bulan yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela kusam penuh debu, kesunyian terasa sepanjang lorong itu, hanya langkah kaki beraturan dari sang pemuda yang terdengar memecah keheningan itu.

Krieet

Pintu dengan engsel yang sudah berkarat itu dibuka, menyebabkan suara decitan yang menandakan betapa tua dan tak terawatnya pintu itu selama bertahun-tahun.

"Sudah datang rupanya," suara yang terdengar dari pojokan ruangan itu membuat sang raven melirik tajam dari ekor matanya.

"Terlambat, tak seperti biasanya." Ucapnya lagi, "Apa ada yang mengganggumu Sasuke?"

"..." Tak ada jawaban yang keluar dari mulut sang raven, hanya diam dan memandang kearah sosok yang mulai berjalan kearahnya.

"Aku tahu, aku tahu, jangan menatapku begitu. Kau memang tidak bisa bercanda ya?" Sosok itu seorang laki-laki dengan rambut berwarna abu-abu putih yang lumayan menyentuh bahu dan iris keunguan yang terkesan lembut.

"Nih, kerjakan dengan baik dan waktunya harus tepat jam sembilan limapuluh." Laki-laki yang terlihat lebih tua dari pemuda raven itu menyerahkan sebuah amplop coklat dan beberapa butir peluru yang dimasukan kedalam plastik transparan.

"Dua kali tembakan, dada dan kepala." Lanjutnya.

Pemuda raven itu Sasuke, hanya diam tak menyahuti perkataan orang didepannya. Ia lebih memilih membuka amplop itu dan mengetahui isinya. Tapi tentu saja sungguh ia tahu apa yang ada didalam amplop itu. Perintah membunuh, ya perintah untuk membunuh seseorang yang sebenarnya tak pernah ia kenal. Memegang amplop itu ditangannya, ia berbalik berjalan menuju pintu.

"Hei Sasuke," Laki-laki itu menatap lekat punggung Sasuke, "Hati-hati." Lanjutnya.

"Hn," Tanggapan dari Sasuke membuat segaris senyum tampak pada laki-laki beiris keunguan itu.

"Haah, benar-benar bodoh." Gumam laki-laki itu setelah Sasuke tak terlihat lagi.

.

.

.

09.42 malam

"Keuntungan hari ini meningkat 10% dari kemarin," suara itu datang dari ruangan tertutup disebuah gedung pencakar langit, diruangan itu empat orang pria berpakaian formal tengah duduk berhadapan membicarakan sesuatu.

"Ya, ini berkat anda Kakuzu sama." Ucap salah seorang dari mereka.

"Jika begini, kami akan dengan senang hati menerima tawaran." Lanjut pria disebelahnya.

"Hm, terimakasih atas pujian kalian. Tapi aku membantu dengan senang hati, tidak perlu memaksakan diri untuk menerima tawaranku." Ucap seorang pria dengan sebagian wajah yang tertutupi oleh cadar.

"Jangan sungkan begitu Kakuzu sama, kami sudah memutuskan menetima tawaran anda." Ucap pria itu lagi.

"Hahaha, iya anda tidak usah sungkan."

"Iya, tidak usah, tidak usah." Ucapan setuju terdengar dari dua orang lainnya.

"Khukhukhu, baiklah. Terimakasih karena kalian mau menerima tawaranku." Ucap Kakuzu, menyodorkan secarik kertas kehadapan tiga orang didepannya.

"Ini hanya sebagai formalitas saja," Ucapnya ramah.

"Kami tahu, tenang saja. Kami bertiga akan menandatangani perjanjian itu, asal Kakuzu sama juga tetap membantu bisnis kami." Ketiga orang itu secara bergantian menandatangani selembar kertas itu tanpa ada yang menyadari bahwa pria bercadar itu tengah tersengum licik dibalik cadarnya.

.

.

"Terimakasih karena kalian sudah mau menerima tawaranku," Kakuzu berdiri disamping mobil berwarna hitam miliknya, menjabat tangan rekan kerjanya.

"Sama-sama Kakuzu sama," Ucap tiga orang itu dengan senyuman diwajah mereka.

"Baiklah, aku permisi dulu." Ucap Kakuzu seraya memasuki mobilnya.

"Hati-hati dijalan Kakuzu sama." Ucap ketiga orang ketika melihat mobil Kakuzu melaju pergi.

"Heh! Mereka itu bodoh sekali, percaya setelah diberikan keuntungan yang tidak seberapa." Ucap Kakuzu setelah dirasanya jauh dari gedung tempatnya tadi.

Mengambil ponselnya, ia berniat untuk menghubungi seseorang namun terhenti ketika moncong sebuah pistol tepat berada didepan dahinya.

"Apa-apaan ini Kiku?" Tanyanya pada supir pribadinya.

Tapi ketika Kakuzu melihat wajah sosok didepannya ini bukan supir yang selama ini mengabdi padanya, ia terlihat ketakutan.

"Kau! Siapa kau!" Kakuzu menatap lekat sosok yang ada didepannya.

"..." Tapi sosok didepannya hanya diam menatap Kakuzu, tanpa mengucapkan apa-apa sosok itu menarik pelatuk pistol itu sehingga menyebabkan sebuah lubang yang menembus belakang kepala Kakuzu.

Dor!

Lalu pistol itu terarah pada dada Kakuzu yang sudah tak bernyawa lagi.

Dor!

Suara tembakan kedua terdengar saat sosok itu kembali melubangi bagian tubuh korbannya, menatap datar sosok yang sudah tak bernyawa itu sang pelaku penembakan menyelipkan sebuah foto dalam saku jas korbannya dan berlalu pergi meninggalkan mobil yang menjadi tempat pembunuhan.


###*##*####*####*#####*####*####*###*####*####*####*####*####*###*####*####*####

O. Kagari Hate The Real World .O


"Ohayou minna!" Sapa dengan teriakan seseorang dari pintu depan kelas.

"Ohayou,"

"Hm,"

"Mendokusai, kau mengganggu tidurku tahu!"

Eh tunggu sebentar! Semua orang dalam kelas terlihat terdiam seperti memikirkan sesuatu dengan serius.

Krik krik krik

Lalu dengan serempak mereka memandang bergantian antara jam yang ada didepan kelas dan orang yang tadi berteriak.

Pandang

Pandang

Pandang

"E em kamu Naruto kan?" Tanya seorang gadis sambil mencolek-colek lengan baju Naruto.

"Ino chan tentu saja aku ini Naruto, memangnya siapa lagi yang punya wajah ganteng kayak aku disini!" Jawab Naruto dengan tidak lupa kenarsisannya.

Semua orang dikelas langsung sweatdrop dan membatinkan hal yang sama 'Dia benar Naruto,'

"Kyaaa! Ini rekor baru! Kau tidak telat!" Ucap Ino seraya memeluk Naruto.

"Hahahaha, biasa saja Ino chan, kalau aku mau sebenarnya setiap hari tepat waktu juga bisa!" Jawab Naruto bangga.

"Ini berita besar, hehe." Ucap Ino.

"Kalau begitu traktir ramen oke!" Ucap Naruto seraya membalas pelukan Ino.

"Whuuuuuu!" Terdengar sorakan dari siswa lainnya ketika melihat adegan romance didepan mereka.

"Apa? Kalian sirik ya?" Tanya Naruto dengan mata mengejek.

"Mendokusai, cepat duduk Naruto!" Ucap seorang dari belakang yang sudah tidak tahan dengan adegan so romace didepan kelas.

"Iya-iya," Naruto melepas pelukannya dan berjalan menuju tempat duduknya.

"Ohayou Naruto!"

"Kiba! Sudah ngerjain PR belum?" Tanya Naruto ketika ia duduk dibangkunya.

"Sudah, aku lihat punya Shika semalam." Ucap Kiba menyerahkan bukunya pada Naruto.

Naruto langsung menatap Kiba dengan intens ketika Kiba mengucapkan kata Shika dan semalam, dan langsung tersenyum berniat menggoda sahabatnya.

"O~h, semalam ya, berapa ronde?" Tanya Naruto dengan menaik turunkan alisnya.

Wajah Kiba langsung memerah karena ucapan barusan.

"Ap apa maksudmu Naruto?" Tanya Kiba gelagapan seraya menutupi wajahnya yang sudah berubah merah.

"Oh ayola~h, kau pikir aku tidak tahu. Hmm? Hmm?" Naruto mencolek-colek tangan Kiba, Shikamaru hanya melirik mereka berdua seraya menggumamkan kata andalannya dan tidur kembali.

Geplak !

"Jangan urusi urusan orang lain Naruto." ucap seorang pemuda berambut coklat gelap panjang.

"Awh! Neji sakit tahu!" Protes Naruto, tangannya mengusap-usap benjolan dikepalanya.

"Neji, kau sudah pulang?" Tanya Kiba begitu ia bisa mengembalikan warna wajahnya.

"Ya, kan aku sudah bilang kalau aku pergi hanya satu minggu." Jawab Neji seraya duduk disamping Naruto.

"E em Neji, sepertinya kau tidak bisa duduk disana lagi." Ucap Kiba.

"Kenapa?" Tanya Neji bingung, karena dari dulu dia kan sudah duduk disamping Naruto.

"Beberapa hari yang lalu dikelas kita kedatangan anak baru, dan dia duduk disebelahku." Naruto menjawab pertanyaan Neji.

"Anak baru? Biarkan dia saja yang pindah," Ucap Neji cuek.

"Eh! Tuh dia datang!" Ucap Kiba saat melihat orang yang sedang dibicarakan muncul dari balik pintu.

Neji melihat seseorang yang baru datang itu dengan tatapan mengejek, terutama karena penampilannya yang culun.

"Sasuke!" Panggil Naruto, tangannya melambai pada Sasuke.

"Neji pindah sana!" Ucap Naruto mendorong-dorong Neji-ngusir-

"Kenapa harus aku yang pindah? Dia saja yang pindah, toh masih banyak kursi kosong." Ucap Neji, tampak tak terima diusir.

"Oh ayolah Neji~, aku sedang berusaha berteman dengannya. Yah? Yah? yah?" Mohon Naruto dengan puppy eyesnya.

"Ukh!" Bulir keringat mengalir dari dahinya melihat Naruto yang berpose manis seperti itu.

"Haah, baiklah." Pada akhirnya Neji mengalah, ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat duduknya yang baru.

"Hai Sasuke!" Sapa Naruto ketika Sasuke baru saja duduk.

"..." Sasuke diam, tidak menanggapi Naruto.

"Ck! Ayolah, bisa tidak sih kau bicara?" Tanya Naruto.

"..." Melirik dari ekor matanya, Sasuke bisa melihat Naruto mengembungkan pipinya.

"Huh!" Naruto memalingkan wajahnya, kesal juga tidak ditanggapi dari tadi.

Tet tet tet

Bel tanda masuk berbunyi bersiap untuk menerima pelajaran baru.


Skip skip skip time skip skip skip


"Sasuke kekantin sama-sama yu~!" Ucap Naruto, sekarang adalah jam istirahat.

"Tidak." Jawab Sasuke, ia memilih membaca buku tebalnya dari pada ketempat penuh sesak dan ramai orang itu.

"Kenapa? Memangnya kau tidak lapar?" Tanya Naruto, masih berusaha mengajak Sasuke.

"Tidak."

Sreet

"Ayolah, aku tidak terima penolakan!" Naruto menyeret Sasuke keluar kelas yang tentu saja mendapat protes dari orang yang diseretnya dan berlari kesuatu tempat.

"Kalau disini kau tidak akan menolakkan?" Tanya Naruto setelah ia dan Sasuke sampai ditempat tujuannya.

Mereka sekarang berada diatap sekolah, duduk didekat pagar pembatas. Naruto mengeluarkan sesuatu dari tasnya-yang ia bawa saat keluar kelas- yaitu dua buah kotak bekal.

"Nih, si preman membuatkannya untukmu." Ucap Naruto seraya menyodorkan salah satu kotak itu kedepan Sasuke, namun Sasuke hanya diam memperhatikannya.

"Ambil, aku sudah membawakannya untukmu. Kalau kau tidak makan, dia akan memarahiku tahu."

Menghela napas, akhirnya dengan terpaksa Sasuke menerima bekal itu. Dibukanya penutup bekal itu namun dia mengernyit heran saat melihat isi dalam bekal itu.

"Kenapa? Bukankah kau bilang suka tomat? Makanya saat wanita itu bilang mau membuatkanmu bekal, aku katakan padanya kau suka tomat jadi ya isi bekalmu itu serba tomat." Jelas Naruto saat dilihatnya Sasuke menatap isi bekal yang diantaranya tomat iris, chiken tomat, dan saus tomat juga ada beberapa tomat ceri.

"Hn," Ucap Sasuke memulai memakan bekal itu.

"Sama-sama." Balas Naruto saat mendengar gumaman Sasuke(kok dia bisa ngerti) dan ikut memakan bekal yang ia bawa juga.

"Hei Sasuke?" Naruto menatap Sasuke yang sedang memakan tomat ceri sebagai pencuci mulut sambil memandangi langit.

"..." Sasuke hanya melirik sekilas lalu kembali memandang keatas.

"Kenapa setelah menerima telepon kau selalu terburu-buru pergi?" Tanya Naruto walau Sasuke tak menanggapi. Ia sangat penasaran ketika disekolah-waktu dihukum- ataupun dirumahnya Sasuke selalu terburu-buru pergi seperti dikejar waktu.

"Bukan urusanmu." Jawab Sasuke akhirnya.

"Akukan temanmu, masa itu bukan urusanku sih!" Ucap Naruto yang tidak puas dengan jawaban Sasuke.

"Teman? Alasan bodoh untuk memanfaatkan orang." Ucap Sasuke.

Teeeet teeeet (?)

"Sudah bel masuk." Sasuke bangkit dari duduknya.

Grep

"Apa maksudmu dengan memanfaatkan orang?" Tanya Naruto, tangannya memegang pergelangan tangan Sasuke.

"Itu benarkan, teman adalah alasan seseorang untuk bisa memanfaatkan orang lain." Jawab Sasuke.

"Kenapa kau bisa menyimpulkan arti teman seperti itu! Itu tidak benar! Teman adalah seseorang yang selalu membantumu, seseorang yang selalu ada untukmu!" ucap Naruto dengan nada meninggi.

"Tapi dia tidak," Gumam Sasuke hampir tidak terdengar.

"Dia?siapa maksudmu?" Walau kecil samar-samar Naruto bisa mendengar ucapan Sasuke.

"..." Sasuke tak menjawab.

"Sasu-"

"Lepas." Ucap Sasuke dengan nada rendah.

"Tid- Uwah!"

Brug

"What the! Sasuke lepaskan aku!" Teriak Naruto ketika tiba-tiba saja Sasuke memelintir tangannya kebelakang dan alhasil ia jatuh tengkurap dengan Sasuke yang mendudukinya.

"Tidak." Jawab Sasuke.

"Ukh teme! Tanganku sakit!" Ucap Naruto setengah merengek.

Sasuke menundukan tubuhnya dan membisikan sesuatu ditelinga Naruto.

"Apa kau lupa, Princess." Ucapnya, setelah itu ia melepaskan tangan Naruto dan berlalu pergi meninggalkan Naruto yang merasa bingung dengan ucapan terakhir Sasuke.

"Lupa? Princess?" Gumam Naruto, kenapa Sasuke menyebutnya Princess? Apa yang ia lupakan? Pikir Naruto. Ia duduk dan diam termenung melihat pintu yang dilewati Sasuke tadi, melupakan jika pelajaran dikelasnya sudah dimulai.

.

.

.

Pulang sekolah

"Shika, Naruto kenapa belum kembali juga?" Tanya Kiba pada Shikamaru, mereka sedang membereskan alat-alat sekolahnya

"Mana aku tahu," Jawab Shikamaru tak mau ambil pusing.

Buk!

"Awh!" Sihikamaru mengaduh ketika kepalanya dipukul dengan sebuah buku ensiklopedia yang tebalnya tidak terbayang.

"Kau ini kenapa cuek begitu, aku khawatir tahu! Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada Na- Naruto!" Seru Kiba saat melihat Naruto diambang pintu.

"Hai Kiba," Sapa Naruto, berjalan kedalam ruang kelas.

"Kau kemana saja sih?" Tanya Kiba.

"Aku ketiduran diatas sekolah, hehehe." Jawab Naruto-tidak sepenuhnya bohong-

"Neji mana?" Tanya Naruto.

"Dia dijemput supir, jadi tidak bareng kita." Jawab Kiba.

Naruto memperhatikan seisi kelas, lalu matanya tertuju pada sebuah tas yang masih ada dibangku sebelahnya duduk.

'Berarti tadi Sasuke tidak kembali kekelas,' pikirnya.

"Apa tadi kau bersama Uchiha, Naruto?" Tanya Shikamaru.

"Kau ini, saat Naruto tidak ada kau cuek. Kenapa giliran si Cupu itu malah kau tanyakan!" Ucap –teriak- Kiba.

"Sasuke ya, aku juga tidak tahu dia ada dimana. Tapi lebih baik kubawa pulang saja tasnya," jawab Naruto membereskan buku-buku miliknya dan Sasuke, lalu memakai tasnya dan menenteng tas Sasuke ditangan kanannya.

"Ya sudah, ayo pulang." Ajak Shikamaru.

"Jaa Naruto!" Kiba melambaikan tangannya pada Naruto, mereka berpisah ditengah jalan karena arah rumah Kiba dan Shikamaru berbeda.

"Jaa ne Kiba! Shika!" Balas Naruto melambaikan tangannya.

"Haah," Naruto menghela napasnya sebelum ia kembali berjalan menuju rumahnya.

Prang !

Suara jatuhan benda mengalihkan pandangan Naruto, suara itu berasal dari sebuah gang kecil didekatnya.

Klontrang ! (?)

Suara ribut itulagi, karena rasa penasaran yang memenuhinya akhirnya Naruto mendekati gang sempit itu. Perlahan-lahan ia berjalan semakin dekat pada sumber suara, ia harus berjalan miring karena gang itu begitu sempit.

"Argh!" Suara jeritan kesakitan membuat Naruto waspada, ketika ia sampai diujung gang itu ia merapatkan tubuhnya pada dinding gang berusaha melihat mengendap-endap mencari tahu apa yang sedang terjadi. Matanya membulat sempurna, didepannya sekitar delapan sampai sepuluh orang tergeletak tak sadarkan diri dengan luka dibeberapa bagian tubuhnya, ada juga yang kepalanya terus mengucurkan darah namun bukan itu saja yang membuatnya sangat terkejut tapi sosok yang berdiri tegak ditengah-tengah orang-orang itulah yang sangat membuatnya terkejut.

Bersih, tanpa luka sedikitpun, dari ujung kaki hingga ujung rambutnya, sosok itu berjalan dan membungkuk untuk mengambil sesuatu yang berada diatas tanah sebuah kacamata.

Merasa diperhatikan, sosok itu segera mengalihkan pandangannya pada gang gelap yang tak terkena cahaya.

Naruto yang gelagapan karena sosok itu melihat kearahnya langsung menegakan tubuhnya dan berdiri lebih merapat pada dinding. 'Apa dia melihatku?' pikirnya. Dia membuka matanya berniat untuk mengetahui situasi, namun tiba-tiba sekelebet bayangan hitam membuatnya terjatuh dan mengacungkan sebilah belatih perak dengan ujungnya yang menempel pada kulit leher Naruto.

Mata Naruto melebar, apa ia akan mati?

To be continue ^^


Bagaimana?

Adakah dari kalian yang menyukai chap kali ini?

Silahkan review nya!^^