"Chanyeol-ah, tolong jaga Kyungsoo selama di sana ya. Dia bandel, sering tidur lewat tengah malam, makannya banyak sekali, susah dibangunkan, sering marah-marah .. aduh, eomma takut dia sangat merepotkanmu."
"Eomma aku tidak begitu !" protes Kyungsoo ketika Chanyeol meletakkan barang-barang Kyungsoo di bagasi sedan tua miliknya. Ia kesal karena eommanya malah menjelek-jelekkannya di depan Park Chanyeol. Sementara Chanyeol sendiri hanya terkekeh kecil, berkata hal-hal basi seperti : "Omonim tenang saja. Aku akan menjaganya dengan baik. Tidak perlu khawatir."
Setelah beberapa puluh menit berbincang, Chanyeol pun meminta ijin untuk segera berangkat. Pasalnya hari semakin gelap. Ia tidak ingin sampai ke rumah terlalu malam, katanya. Akhirnya eomma Kyungsoo mengangguk dan menyuruh Kyungsoo masuk ke mobil Chanyeol karena anaknya itu terus memberengut sejak tadi.
"Eomma janji meneleponku setiap hari kan ?" tanya Kyungsoo pasrah ketika ia sudah duduk di dalam bangku mobil di sebelah Chanyeol. Ia membuka jendela mobilnya hanya untuk melihat eommanya yang mengangguk. "Iya, sudah sana cepat berangkat. Chanyeol, jangan ngebut-ngebut ya ! Hati-hati di jalan !"
"Baik, omonim. Kami pergi dulu !"
Kyungsoo masih terus melambai pada ibunya bahkan ketika mobil Chanyeol sudah jauh dari pekarangan rumahnya. Ketika mobil berbelok, Kyungsoo menghela napas-menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menutup jendela.
Chanyeol menyalakan AC karena mobilnya benar-benar panas, padahal hari sudah menjelang sore. Ia melirik sebentar Kyungsoo yang menatap keluar jendela dengan wajah murung.
"Kau terlihat jelek sekali dengan wajah tersiksamu itu," cibirnya, membuat Kyungsoo menatap tajam ke arahnya.
"Salah siapa aku harus pergi ?!" sungutnya.
"Yak, lagi-lagi kau menyalahkanku ?" Chanyeol ikut emosi. Kyungsoo benar-benar ribut dan menyebalkan. "Yang harus disalahkan itu appamu ! Appamu yang menyuruhku menjemputmu. Aku bahkan harus cuti sehari karena harus menjemput orang tak tahu diri sepertimu."
Kyungsoo mengepalkan kedua tangannya. Ia kesal ! Sungguh, rasanya ingin mencabik-cabik tubuh Chanyeol. "Aku benar-benar ingin membunuhmu," geramnya.
"Oh, coba saja."
Dan sepanjang perjalanan ke Seoul, Kyungsoo mengisinya dengan menyumpal telinga dengan earphone hitamnya -daripada amarahnya terus memuncak- sampai tertidur.
.
.
.
A Higher Place
Warn : absurd
.
.
.
Kyungsoo membuka mata perlahan.
Pemandangan gedung-gedung bertingkat menyambutnya dari luar jendela mobil. Kesadarannya sepenuhnya terkumpul. Ia mengerjapkan mata beberapa kali karena belum terbiasa dengan terang jalanan.
Chanyeol masih setia memegang stir. Kepalanya mengangguk-angguk seiring dengan lagu You call it romance yang terdengar dari radio. Tampaknya ia menyadari Kyungsoo yang baru bangun, lalu bergumam, "Bukannya putri salju baru akan bangun kalau ada yang menciumnya ya ?"
Kyungsoo mengangkat kedua bahunya jijik mendengar penuturan pria di sebelahnya. Ia membuka kunci layar ponselnya. Pukul 20.12. Ada lima pesan dan dua telepon tak diangkat.
Lu Han
Yak, ibumu bilang kau pergi ke Seoul ? Kenapa tidak bilang2 ?
Lu Han
Segera balas atau aku benar-benar tidak akan bicara padamu lagi Do Kyungsoo !
Lu Han
Ponsel Jongin rusak karena tercebur ke kolam oleh Sehun, kau puas ?! Jadi cepat balas !
Mata Kyungsoo langsung terbelalak dan ia buru-buru membalas pesan dari Luhan, teman sekampusnya. Jadi ponsel Jongin rusak, karena itu pria itu tidak bisa dihubungi seharian ini !
Kyungsoo sedikit menghela napas lega.
Tadinya ia kira ada apa-apa dengan Jongin atau pria berkulit tan itu terlalu sibuk untuk sekadar membalas pesannya. Tapi ternyata ponselnya rusak. Lalu Luhan membalas pesannya dan mengatakan Jongin sedang bersamanya dan Sehun di kafe tempat mereka biasa nongkrong. Bahkan Luhan mengirimkan selfie mereka bertiga sambil menyertakan pesan Jongin untuknya.
Senyum Kyungsoo mengembang tanpa bisa ditahan lagi.
Moodnya langsung membaik hanya dengan melihat pesan berisikan :
Jaga dirimu baik-baik ya, Kyungsoo. Aku akan menghubungimu kalau ponselku sudah selesai dibetulkan -jongin.
Dengan semangat menggebu-gebu, ia segera membalas pesan dari nomor Luhan itu.
Chanyeol sedikit melirik Kyungsoo yang tersenyum-senyum dengan wajah sedikit merona sambil menatap layar ponselnya. Hih, kenapa moodnya berubah seratus delapan puluh derajat begitu ? Beberapa menit yang lalu ia masih manyun-manyun.
Tapi Chanyeol tidak peduli. Baginya yang penting sekarang cepat sampai rumah dan makan sup buatan ibunya karena perutnya sudah tidak bisa berkompromi sejak tadi.
Setelah perjalanan selama dua puluh menit, mobil sedan Chanyeol menepi di sebuah garasi rumah bertingkat dua di ujung jalan. Kyungsoo mengangkat wajahnya dari ponsel, menatap rumah dari balik jendela. Ia menoleh, meminta penjelasan pada Chanyeol.
"Iya, ini rumahku. Ayo turun, bawa barang-barangmu," tukas Chanyeol sembari mematikan mesin mobil. Kyungsoo membuka pintu mobil, disusul Chanyeol yang membukakan bagasi untuknya.
Kyungsoo mengambil ransel besar miliknya yang berisi pakaian-pakaiannya, tapi Chanyeol merebutnya-menyampirkan ransel itu di punggungnya sendiri. Lalu tangannya meraih dua boks besar berisi benda-benda Kyungsoo dan menentengnya ke dalam rumah, menyisakan boks berukuran lebih kecil di bagasi.
Kyungsoo sedikit mengerutkan dahi melihat perlakuan Chanyeol.
"Yak, kau mau diam di sana sampai kapan ? Ayo masuk."
.
.
.
Selanjutnya Kyungsoo disambut oleh keluarga Chanyeol yang terdiri dari ayah, ibu dan kakak perempuannya. Mereka menyambut Kyungsoo dengan baik. Malah ayahnya Chanyeol bilang ia sudah menganggap Kyungsoo seperti putranya sendiri. Ibu Chanyeol memasak makan malam yang sangat enak, membuat Kyungsoo tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih. Setelah selesai makan malam, orangtua Chanyeol menyuruhnya beristirahat. Mereka sudah menyiapkan kamar untuk Kyungsoo. Letaknya di lantai dua, tepat di sebelah kamar Chanyeol.
Kyungsoo sendiri memang merasa lelah. Setelah sampai kamar, ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur single size berseprai putih tersebut. Belum sampai lima menit, matanya sudah terpejam dan ia sudah bermimpi berada di tengah padang bunga yang indah...
.
.
.
_End of flashback_
Detakan jam dinding terdengar jelas di ruangan itu bersamaan dengan suara dengkuran halus dari seseorang yang terbaring di atas kasur.
Seprai berantakan, selimut sudah jatuh ke lantai, rambut berantakan, kemeja putih yang terbuka di bagian dada.
Keadaan kamar sudah seperti kapal pecah. Park Chanyeol berkacak pinggang di sebelah kasur, menendang kaki namja yang tidur telungkup memeluk guling itu.
"Yak, kau mau tidur sampai kapan ? Cepat bangun ! Hari ini giliranmu mencuci !"
Kyungsoo mengerang tak suka dengan suara berisik Chanyeol. Badannya berbalik ke arah berlawanan dengan Chanyeol. Chanyeol kembali menendang kaki Kyungsoo. Tapi Kyungsoo tak kunjung bangun.
"Chanyeollll, eomma pergi dulu yaaa~"
Terdengar seruan ibunya dari lantai bawah. "Ne, eomma ! Hati-hati !" teriak Chanyeol agar terdengar sampai bawah. Setelahnya terdengar suara langkah kaki dan pintu ditutup.
Ia kembali menatap Kyungsoo yang masih dalam posisi tidur. Kali ini mata besar namja itu sedikit terbuka, menatap sayu ke arah Chanyeol yang balas memicingkan mata padanya.
"Kapan kau akan sadar dan bangun sendiri ? Aku lelah membangunkanmu terus," tukas Chanyeol dingin lalu menyingkap tirai jendela di kamar Kyungsoo. Membuat sinar-sinar matahari menerobos masuk, tepat menyinari Kyungsoo. "Cepat turun, sarapan, lalu cuci baju."
Blam !
Setelah Chanyeol keluar dari kamar, baru Kyungsoo turun dari kasur. Memakai sandal bulu kelincinya, menyusuri lantai kayu ke arah kamar mandi.
Keran air dinyalakan. Kyungsoo menatap pantulan wajahnya di cermin bulat di depan wastafel. Ia bisa melihat wajah kucelnya, kantung matanya, jerawat di jidatnya, pipinya yang merah, dan bibirnya yang kering. Belum lagi rambut acak-acakan dan pakaian kuliahnya kemarin yang belum sempat ia ganti.
Tadi malam ia mengerjakan tugas kuliah sampai larut. Ia sudah sangat mengantuk hanya untuk mengganti bajunya. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Kyungsoo keluar dari kamar mandi menuju ke lantai bawah.
Ruang tamu sepi, meski televisi menyala. Dapur juga kosong. Hanya ada makanan di atas meja makan. Pasti ibunya Chanyeol yang memasak. Dengan malas, Kyungsoo menarik kursi meja makan untuk duduk.
Rasanya hambar.
Bukan, bukan makanannya.
Tapi hidupnya.
Ia merindukan rumahnya. Merindukan teman-temannya. Dan terutama merindukan Jongin.
.
.
.
Chanyeol bukannya bodoh. Ia tahu benar kalau Kyungsoo ingin kembali ke Busan. Ia tahu, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Lagipula Kyungsoo benar-benar membencinya. Ia hanya akan menjawab Chanyeol dengan perkataan ketus lainnya.
Seperti saat ini, saat namja bermata bulat itu tengah menjemur pakaian yang sudah dicucinya. Tangan kecilnya dengan telaten menjepit pakaian ke tempat jemuran. Chanyeol yang sedang menyiram tanaman hanya berusaha terlihat cuek, meski beberapa kali Kyungsoo menangkap basah dirinya yang tengah memerhatikan namja itu. Kyungsoo berjingkat, berusaha menempatkan jemurannya. Namun tingginya yang kurang membuatnya kesusahan.
Chanyeol sedikit berdecak, meletakkan alat siramnya, menghampiri Kyungsoo.
Tangannya menarik kasar pakaian dari tangan Kyungsoo, menjemurnya di bagian atas jemuran dengan mudah.
"Yang begini saja tidak bisa," sindirnya-meraih pakaian lain dari tumpukan pakaian bersih yang harus dijemur. "Sudah, kau masuk saja. Biar aku yang menjemur."
"Kau yang menyuruhku bangun untuk mencuci baju tadi dan sekarang kau mau mengerjakan pekerjaanku ? Kau sengaja ya ?" sahut Kyungsoo sambil menatap Chanyeol tajam. Yang ditatap hanya mengangkat bahu acuh.
"Yak, kau tahu kan ini hari libur ? Kenapa kau selalu mengganggu tidurku, menyuruhku bangun, melakukan hal-hal yang tidak aku suka dan menyuruhku ini-itu ?"
Belum sempat Chanyeol membela diri, Kyungsoo sudah melanjutkan, "Kenapa aku tidak boleh istirahat sehari saja ? Dasar egois ! Aku tahu kau sengaja melakukannya !"
Sensitif.
Itulah yang Chanyeol tahu mengenai Do Kyungsoo setelah tiga bulan lamanya mereka tinggal bersama.
Keluarga Chanyeol memiliki dua rumah yang letak satu dengan yang lainnya cukup berjauhan. Rumah Chanyeol yang satu lagi dekat dengan kantor ayahnya, jadi ayah-ibunya memutuskan tinggal di sana dan meninggalkan Chanyeol di rumah ini. Tadinya ia tinggal dengan kakak perempuannya, Yoora, hanya saja Yoora tinggal di apartemen kekasihnya sejak beberapa bulan terakhir. Ia menolak pulang dengan alasan apartemen kekasihnya sangat mewah.
Chanyeol harus selalu sabar menghadapi sikap Kyungsoo. Kyungsoo sangat ketus, dingin dan menyebalkan. Kalau bukan karena Kyungsoo adalah teman ayahnya, Chanyeol pasti sudah mengusir Kyungsoo karena sikapnya yang seringkali kurangajar. Pada akhirnya, Chanyeol yang biasanya tidak mau kalah, terpaksa harus mengalah demi namja bermata bulat itu jika mereka bertengkar.
"Kubilang masuk saja," gerutu Chanyeol-tidak mau memperpanjang perdebatan.
"Shireo," tegas Kyungsoo. Ia menarik keranjang pakaian di sebelah Chanyeol ke sebelahnya. Chanyeol menghela napas keras, mengambil salah satu kaus oblong kesukaannya yang dicuci oleh Kyungsoo.
"Istirahatlah. Kau ingin beristirahat kan ?"
Kyungsoo memicingkan mata, tidak suka dengan sikap sok peduli Chanyeol. "Oh, kau pikir aku akan peduli dengan sikap care-mu itu ? Cih, jangan harap. Sudah, sana minggir ! Kau menghambat pekerjaanku."
"Wah, kata-katamu lembut sekali ya, princess !" sindir Chanyeol sembari melempar kaus yang dipegangnya ke wajah Kyungsoo. Kyungsoo tak sempat menangkapnya, kaus itu menutupi hidung dan mulutnya. Tapi ia hanya mendengus, mendorong tubuh besar Chanyeol dari sebelahnya, lalu melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
Jam dua siang.
Yang sedang Kyungsoo lakukan adalah menahan tangis gara-gara film romance yang ditontonnya. Kebiasaannya saat libur : mandi di sore hari. Karena itu ia cuek-cuek saja memeluk lutut di sofa hanya dengan memakai kaus dan celana piyamanya. Sementara Chanyeol -yang tidak ada kerjaan dan ikut menonton- tidak mengerti apa yang membuat Kyungsoo menangis.
Itu hanya film biasa yang menceritakan seorang lelaki yang ditinggal menikah oleh kekasihnya -oke, mereka bahkan belum benar-benar jadian- intinya Chanyeol tidak mengerti sama sekali apa yang menyedihkan dari film ini. Alih-alih menonton filmnya, Chanyeol malah mengamati wajah serius Kyungsoo diam-diam.
Kyungsoo tidak dingin saat menonton film.
Matanya membulat dengan sempurna, seperti seorang anak kecil yang baru menemukan es krim. Bibir tebalnya akan membentuk senyuman tipis ketika tokoh utama di film berhasil mengajak si wanita kencan. Atau wajahnya akan ikut merona ketika mendengar pernyataan cinta sang laki-laki pada wanita.
Chanyeol suka mata Kyungsoo.
Hanya mata.
Tidak lebih.
Satu detik. Dua detik. Kyungsoo menoleh.
Pandangan mata mereka bertemu. Chanyeol tidak bisa bersuara, bahkan memalingkan wajah pun tak bisa. Ia ...
Ia baru sadar Kyungsoo terlihat manis kalau wajahnya tidak cemberut.
Astaga, apa yang ia pikirkan ?! Hampir saja Chanyeol mengacak rambutnya frustasi seperti biasa, ketika Kyungsoo berdecih pelan.
"Berhenti menatapku seperti itu."
"Siapa yang menatapmu ? Kegeeran sekali."
Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya, menatap Chanyeol yang kelihatan bodoh dengan wajah merona dan bibir cemberutnya.
"Oh ya ? Aku yang kegeeran ? Kau yang terus menatapku daritadi," tuding Kyungsoo. Melihat wajah Chanyeol yang sudah seperti kepiting rebus itu membuatnya setengah mati menahan tawa dan menjaga wajah datarnya.
Entahlah, wajah Chanyeol seringkali memerah tanpa sebab akhir-akhir ini dan Kyungsoo seringkali memergoki pria itu tengah memerhatikannya.
"Tidak," elak Chanyeol dengan suara beratnya yang membuat Kyungsoo menggigit bibir menahan tawa.
"Ya."
"Tidak !"
Kyungsoo kembali menatap ke arah televisi. Menggoda Chanyeol adalah hal paling menyenangkan yang dilakukannya sejauh ini.
Tapi film yang tadi ditontonnya sama sekali tidak menarik sekarang ini. Ia melirik Chanyeol sekali-dua kali, mengamati wajah pria itu yang masih merona. Tapi tahunya Chanyeol tidak berkata apa-apa lagi, bahkan sampai filmnya habis dan Kyungsoo menunggalkannya untuk mengambil jus jeruk di kulkas, Chanyeol masih diam.
Ah, peduli amat, pikir Kyungsoo cuek.
Ia membawa gelas jus jeruknya ke kamar, berniat mengobrol berjam-jam dengan Jongin. Pasti obrolan mereka akan sangat seru !
Jongin, oh Jongin ...
Kyungsoo tersenyum sendiri memikirkan pembahasan apa yang akan ia bicarakan dengan sahabat tercintanya itu.
.
.
.
TBC
(Anggap saja ini fic penghilang jenuh. Lagi galau dengan berbagai hal, jadinya amburadul gini. Buat yang nanyain fic lain mohon sabar yaa )
