REPUBLISHED

anonymous review: disabled


mau membantuku?

tolong kunjungi profileku dan vote on the poll

aku sangat membutuhkan hasil poll itu

terimakasih


Haloooo!

Akhirnya aku, LuthMelody, memutuskan untuk melanjutkan fict ini.

Yaahhh, setelah melalui pertengkaran hati (?) tentang pantas atau tidak fict ini dilanjutkan, berkat dukungan Mayuura, aku melanjutkan fict ini ;)

Karna banyak yang minta aku untuk menggunakan gaya tulisan aku yang lama, makaaaaaa, aku usahakan untuk aku campur. Kalo gagal, kasih tau aku ya? Makasih :9

.

SasuSaku

Under The Same Sky

.

Disclaimer: Naruto is Masashi Kishimoto's. This story is purely mine.

Warning: OOC, SasuSakuNaru, AU

.

Apa kau melihatnya? Di sebelah sana. Di balik pintu kaca otomatis Airport itu, terdapat seorang pria, bukan? Ya, bukan anak lelaki, atau pun remaja lelaki. Tetapi, pria itu.

Pria berkulit putih bersih, berambut hitam legam. Pria yang menggunakan kemeja putih kebiruan, yang lengan panjangnya digulung berantakan. Pria yang memakai kacamata hitam. Ya. Pria itu. Pria tampan itu, Uchiha Sasuke.


Cinta

By LuthRhythm


"Cherry! Ayo cepaaat!"

"..."

"Cherry! Ayoo!"

"Ya ya ya," ucap Cherry atau bisa kita panggil Haruno Sakura sambil memutar matanya pasrah. Calon tunangannya, Uzumaki Naruto, terus menerus menarik tangannya agar ia berjalan lebih cepat, bahkan berlari lebih baik bagi Naruto.

Rasa degupan jantung Naruto tampaknya sangat mempengaruhi kecepatan kakinya yang terus menerus bertambah untuk melangkah lebih cepat dan lebih cepat agar ia bisa segera bertemu sahabat lamanya.

Ya. Sahabat.

Lucu mungkin baginya untuk mengingat bahwa Uchiha Sasuke, pria yang ia ingin temui dengan perasaan menggebu itu, adalah sahabatnya. Mengapa lucu baginya? Karena dulu, sejak ia dan Sasuke bertetangga di saat kecil, mereka adalah rival. Ya meskipun Sasuke selalu menang di bidang apapun dibandingkan Naruto, namun Naruto menang dalam hal yang terpenting, yaitu: percintaan.

Bahkan sejak di sekolah dasar, Naruto sudah berkali-kali bergonta-ganti pacar. 'Aku ini playboy' katanya. Sedangkan Sasuke? Satu pun tak punya. Gadis yang menyukainya selalu mundur, karena lelah tak pernah dianggap.

Sasuke dan Naruto. Sama-sama tampan, kaya, pintar, dan sama-sama pandai berolah-raga. Perbedaanya adalah: Naruto dipenuhi kasih sayang keluarga, sedangkan Sasuke? Mati pun keluarganya tidak peduli. Naruto menerima kekayaan keluarganya yang diwariskan padanya, sedangkan Sasuke, membuang harta itu.

Bagi Sasuke, ia masih bisa bahagia tanpa perlu menggunakan harta yang diwariskan keluarganya yang bahkan tidak peduli padanya.

Kau ingin bukti? Buktinya adalah Sasuke berhasil menyambar Beasiswa untuk sekolah koki ternama di luar negeri. Tanpa menggunakkan biaya sepeserpun dari orang tua, setelah lulus dari sekolah menengah pertama, Sasuke dapat hidup dengan baik, dan bahkan ia memiliki nama baik sebagai Koki Muda Berbakat di mata para koki senior.

"Kau harus tahu, Cherry! Dulu dia selalu memasak untukku. Untuk aku cicipi rasa apa yang kurang. Padahal tidak pernah ada yang kurang! Rasanya sempurna! Dan bodohnya, dia sendiri bahkan tidak memakannya! Dia tidak suka makan, tapi suka masak. Aneh kan? Hahahaha," jelas Naruto dengan begitu ceria dengan mata birunya yang berbinar bahagia, karena sesaat lagi, ia dapat melihat sahabatnya, teman bermainnya, dan teman pasangan berkelahinya sejak kecil.

Rencana Sakura untuk mengatakan 'Ya ya ya, kau sudah cerita lima menit lalu' ia telan bulat-bulat. Bahkan Sakura tak sanggup berkata, karena saat Naruto, pria yang ia cintai, bercerita kembali tentang pengalamannya, mata birunya memancarkan segala kebahagiaan.

Ah. Ternyata memang matanya adalah senjata andalan Naruto tanpa ia sadari.

"Ayooo!" teriak Naruto sambil semakin mempercepat langkahnya yang otomatis menyeret Cherry-nya lebih cepat.


"AH! TEMEEE!" teriak Naruto lantang. Sebagai pacar orang yang bermulut besar, Sakura sudah terbiasa mendengar suara Naruto yang menggelegar. Menyebalkan? Memang. Tapi 'mau diapakan lagi? Sudah cinta' adalah alasan Sakura untuk tidak pernah protes.

Dan di situlah berdiri, Uchiha Sasuke. Salah satu pemeran lain dalam kisah cinta ini. Pria yang tadinya sedang menoleh ke arah lain, setelah Naruto meneriakkan nama panggilan 'sayang'nya, ia pun menoleh kearah Naruto.

"Oh, shit..." gumam Sakura pelan. Terperangah atas wajah tampan di hadapannya. Makhluk sempurna sekelas dewa, membuat nafasnya tertahan sejenak, membuat jantungnya seolah berhenti berdetak, membuat kulitnya terasa tercubit dingin dan mengkerut, mem–

"Cherry! Ini dia Uchiha Sasuke! Sahabatku!" ujar Naruto dengan cengir terindahnya sambil merangkulkan tangan kirinya di bahu Sasuke, dan tangan kirinya menggenggam tangan Sakura.

Ucapan dan cengiran bahagia Naruto membuatnya tersadar, dan membuatnya keluar dari hal yang tak sepatutnya terfikirkan. Mata biru Naruto mengingatkannya pada dunia nyata, memaparkan segala keindahan dunia ini, membuatnya tersenyum hangat, dan membuat jantungnya berdetak cepat.

Ya. Ia tidak butuh sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak. Ia tidak butuh rasa dingin yang mencubit kulit. Ia tidak butuh makhluk yang membuat nafasnya tertahan. Yang ia butuhkan adalah pria yang sekarang menggenggam tangannya, pria yang menyalurkan kehangatan selama enam tahun terakhir.

"Cherry, kenalkan ini Uchiha Sasuke. Dan Teme, kenalkan ini Haruno Sakura," ucap Naruto dengan binaran matanya. Binaran mata yang membuatnya berhasil keluar dari sesuatu yang tak pantas ia pikirkan. Karena hampir saja, ia terlena oleh pria di hadapannya. Pria bertubuh dan berwajah sempurna. Hampir saja. Tapi 'tidak,' pikir Sakura. Memang pria ini memiliki wajah tampan yang sempurna. Tapi ia pasti tidak memiliki mata indah yang hangat pancarannya seperti milik kekasihnya. Ia pasti hanya kagum oleh lekukan wajahnya. Tidak lebih.

Sampai akhirnya, ia kembali terusir dari dunia nyata. Ia kembali dibuai oleh khayalan, saat Sasuke membuka kacamata hitamnya. Tanpa sedetik pun melepaskan pandangannya dari mata Sakura, Sasuke sedikit menganggukkan kepala, sambil berkata "Uchiha Sasuke."

I remember what you wore on your first day.

You came into my life and I thought

Hey, you know this could be something...

Pertahanan pun runtuh.

Sesuatu yang beberapa detik lalu masih 'hampir', kali ini sudah 'terjadi'.

Nafasnya kembali tertahan. Jantungnya kembali terhenti. Kulitnya kembali mendingin dan seolah mengkerut. Bibir Sakura pun menjadi pucat. Ia takut.

Takut akan sedikit rasa goyah yang melanda perasaannya. Takut akan menyesal dengan pertunangannya bulan depan. Takut akan terperangkap lebih jauh.

Mata itu. Tidak bersinar, tidak berbinar, tidak hangat, tetapi juga tidak kosong. Mata yang tidak bisa ia baca. Karena mata tersebut tidak memancarkan emosi, tetapi menyerapnya habis.

Gila. Ia bisa gila jika terus-terusan menatap mata itu. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Berkedip saja tidak mamp-bukan. Bukannya tidak mampu. Tapi telah ia sadari, ia tidak mau berkedip. Sedikit pun ia tidak mau melepaskan tatapannya dari pria itu. Tidak peduli dengan nafasnya yang menjadi berat, tidak peduli dengan kulitnya yang mendingin dan terasa beku. Tidak peduli dengan apapun. Yang ia ingin, hanya tenggelam dalam hitam pekat mata itu. Yang ia inginkan, waktu berhenti. Waktu berhenti untuk mengabadikan momen ini.

Hingga semua kesadaran itu, menamparnya telak di wajah. Membuatnya tersadar sepenuhnya: ia tertarik.

Atau mungkin, lebih.


Gimana? #ketakutan.

Udah dapet feelnya?

Masih belom?

Ada saran? *stress

Typo? EYD?

.

Panik!

.

Gagal gak?

I ask you again: keep or delete?

.

oh iya, itu kutipan lagu Two is better than one-nya Boys Like Girls ft Taylor Swift. :9

Review :9