Hay Minna…

Sebenar nya aga sulit bagi Yu untuk membuat story..

Kurang nya rasa semangat dan imajinasi..

Tapi its okay.. berkat seorang teman semangat Yu tumbuh lagi..

Arigato ne :3

Langsung saja..

Here we go..

Disclaimer: Om Masashi Kisimoto :D

Pairing : SasuFemNaru, SasuHina

Rate: T

Warning: cerita ngabal, typo, bahasa ga baku, OOC, cerita sesuka author dan banyak kekurangan lain nya.

Rahel = Fem Naruto

Farel = Sasuke

Luna = Hinata

Don't like don't read..

My Heart

Hinata menampar Sasuke kemudian meninggal kan nya. Sasuke begitu shock tak di sangka jika cinta nya akan di tolak oleh seorang wanita yang sangat ia cintai. Tamparan artinya penolakan itu yang ada di fikiran Sasuke. sasuke terduduk lemas. Hati nya begitu sakit. Tak dia sangka sebelum nya, jika di tolak rasa nya akan sesakit ini.

"Apa kau akan menyerah?" Naruto berkacak pinggang di hadapan Sasuke. yang seharusnya pertanyaan nya itu berlaku untuk diri nya juga.

"Sejak kapan kau ada di sini..?" Sasuke menatap sinis Naruto.

"Aku mengikutimu dari pertama kau jalan bersama Hinata. Apa kau mau tahu kesimpulan ku?" Tanya Naruto seraya membungkuk menatap langsung mata Onyx Sasuke.

"Apa maksud mu.."

"Bagian ini akan aku urus.. kau lihat saja nanti hasil nya.." gumam Naruto sebelum akhir nya menghilang.

Naruto tak terima atas perlakuan Hinata kepada Sasuke. Hinata sudah sangat beruntung mendapatkan cinta Sasuke. Tapi Hinata menolak nya dengan cara yang tidak elit. Benar – benar tak punya hati, fikir Naruto. Tiba di kekediaman Hyuga.

"Anda mencari siapa, Nona?" Tanya seorang pria paruh baya.

"Saya mencari Hinata paman. Apa dia ada di rumah?" Tanya Naruto.

"Otou-san siapa di luar?" teriak suara anak perempuan dari dalam.

"Ini teman mu mencari mu Hinata.."

"Teman ku?" Tanya nya. "Siapa ya?" Hinata pun keluar mencari tahu. "Ah.. Na-naruto?".

"Aku ingin berbicara berdua dengan mu Hinata." Tukas Naruto.

"Ayo masuk dulu.. tidak sopan kalau berbicara di luar" sahut Hinata.

"Tidak perlu.. aku hanya sebentar ke sini.."

"Otou-san masuk dulu Hinata.." kata pria paruh baya itu.

"Ha-hai Otou-san." Sahut Hinata. "Apa yang ingin kau bicarakan padaku Naru-chan?".

"Ada apa dengan mu?" Tanya Naruto.

"Apa maksud mu Naru-chan"

"Ada apa dengan mu sehingga menolak Sasuke Hinata? Kau adalah wanita paling beruntung yg bisa mendapatkan cinta Sasuke. ada apa dengan mu." Tanya Naruto seraya menggoncang – goncang tubuh Hinata.

"Kau tak tahu apa – apa Naruto.. diam lah.. aku mencintai nya.. tapi adahal yang tak bisa aku katankan pada nya" menepis tangan Naruto.

"Kalau begitu katakana lah.. jika kau tak mau mengatakan nya pada ku katakana lah langsung pada nya. Kau tahu.. Sasuke sangat mencintaimu, dia akan menerima kekurangan mu dan kelebihan mu. Apa yang kau pikirkan sehingga kau bisa menolak Pria seperti Sasuke. pria seperti Sasuke itu sangatlah langka Hinata. Seorang pria yang akan memberikan seluruh cinta nya pada mu yang akan memberikan seluruh sayang nya pada mu, yang akan melindungi mu yang akan selalu menjaga dan menemani mu yang akan menerima semua kekurangan mu. Apa kurang nya Sasuke Hinata" gumam Naruto menangis. Entah apa yang membuat nya menangis. Yang jelas Hinata membuat nya merasa iri karna dia bisa mendapatkan pria sebai Sasuke.

Hinata menunduk. Tamapak deraian air mata jatuh kelantai.

"Gomene.. gomene Naruto.. aku tak bermaksud begitu.. aku sangat mencintai Sasuke.. karna Cinta Sasuke.. aku sampai melupakan penyakitku.. setelah menginggat penyakit ku aku menjadi serba salah.. aku ingin memberitahukan perasaan ku begitu juga penyakit ku.. aku tak ingin melukai Sasuke dengan penyakit yang ku derita ini. Aku hanya ingin bersama Sasuke di masa – masa terakhurku.." Sahut Hinata menangis tersedu – sedu.

"Kau egois Hinata.. kau ingin bahagia bersama Sasuke di masa – masa terakhir mu.. tapi kau membiarkan Sasuke menderita setelah kematian mu.. kau kira dengan menutupi penyakitmu kau akan membuat Sasuke bahagia?" tukas Naruto dingin menatap mata lavender milik Hinata yang membuat Hinata semakin tertekan. "Sebenarnya apa penyakit yang kau derita itu Hinata?"

"Aku memiliki penyakit jantung akut.." jawab nya tertunduk.

"Hah.. setidak nya kau masih bisa sembuh jika kau mendapatkan donor jantuk.." Sahut Naruto. Lalu pergi meninggalkan Hinata. "Pikirkan baik – baik apa yang aku katakana Hinata." Ucap Naruto lagi seraya tersenyum 3 jari ala Minato nya.

Sebenar nya Naruto sedikit terkejut saat mendengar penyakit yang di derita Hinata. Namun dia merasa benar. Sesekarat apa pun Hinata. Setidak nya dia akan sembuh jika mendapatkan donor jantung.

Sehabis ke rumah Hinata. Naruto memutuskan untuk pulang dan menyantap makan malam nya.

"Tadaima" gumam Naruto.

"Okaeri Naru-chan.. aku sudah menyiapkan makanan kesukaan mu.." Ujar Kushina. Belakangan ini Naruto mulai dekat dengan Kushina setelah kematian sang Ayah.

Hanya Kaa-chan yang ia punya saat ini. Kushina rela meninggalkan karir nya di luar negri demi sang putri sematawang.

"Kaa-chan membuatkan ku ramen?"

"Ya.. dengan porsi besar kau boleh makan sepuas nya.." ujar Kushina.

"Horreeee.. Ramen Ramen ha ha ha" terik Naruto tanpa babibu langsung menyerang semangkuk ramen yang telah di sediakan sang Kaa-chan.

Terlupa sejenak rasa sakit di dada nya. Hanya ramen yang dapat melupakan rasa sakit nya sejenak.

"Arigato Kaa-chan.. selain ramen ichiraku.. tenyata ramen buatan Kaa-chan enak juga ya.." puji Naruto.

"Kau meremehkan kemampuan memasak ku Naruto. Lalu kenapa Tou-Chan mu tertarik pada ku kalau bukan karena kemampuan masak ku" pamer Kushina.

"Kukira karna kemampuan menyanyimu Kaa-chan." Sahut Naruto.

"Itu yang kedua Naru-chan. Sebelum Tou-chan mu tahu kalau aku adalah seorang penyanyi." Ujar Kushina tersenyum.

"Wah.. ceritakan pertemuan kalian.. sepertinya menarik.." gumam Naruto.

"Baik lah.." ujar nya. "Dulu saat aku masih muda. Aku bekerja sebagai tukang masak di sebuah cafe. Yang kebetulan adalah tempat langganan Tou-chan mu."

"Tunggu dulu.. Kaa-chan ini penyanyi muda berbakat bukan. Sudah terkenal saat berusia 7 tahun sebagai anak bersuara emas?" Naruto ragu.

"Ahahaha kau benar Naru-chan. Aku bekerja sampingan. Kau tahu rasa bosan bukan. Aku juga bosan harus di kelilingi fans dan aku bosan di atur – atur oleh manager untuk ini dan itu. Lalu aku meminta cuti untuk tidak muncul di layar kaca selama satu bulan. Lalu mencari kerja sambilan yang mungkin srdikit menantang. Nah lalu aku menemukan sebuah cafe yang mencari juru masak. Ya langsung saja ibu melamar. Dengan identitas rahasia tentu nya." Sahut Kushina.

"Kaa-chan menyamar?" Tanya Naruto.

"Tidak.. aku hanya mengganti nama ku menjadi Kushi tanpa memakai riasan apa pun untuk menutup wajah ku." Jawab Kushina.

"Tidak ketahuan?"

"Tidak – tidak.. mereka terlalu bodoh untuk mengenaliku." Kushina terkekeh. "Okay.. biar aku lanjut kan. Setelah beberapa minggu aku bekerja. Bos ku meminta ku untuk memasak makanan untuk orang penting dan meminta aku yang mengantar nya. Karena aku pelayan terbaik kala itu."

"Wah.. kau mengagumkan Kaa-chan." Puji Naruto.

"Kemudian aku pun mulai memasakan pesanan dan mengantar nya. Kulihat seorang pria berambut pirang bermata biru yang mempesona. Sangat tampan." Ujar Kushina seraya membelai tirayan pirang sebahu milik anak nya. "Aku tersenyum pada nya sebagai tanda keramahan pelayanan di cafe ini. Dia membalas senyuman ku. Sangat manis."

"Tou-chan memang tampan ya Kaa-chan.. aku merindukan nya." Gumam Naruto.

"Aku juga Naru-chan..." Kushina memeluk sayang anak nya. "Lalu dia mulai mencicipi masakan ku. Tapi aku sudah kembali ke dapur. Tiba – tiba saja aku di panggil oleh maneger. Gawat nya manager ku itu sangat marah."

"Apa yang terjadi Kaa-chan?".

"Minato yang memanggil ku. Aku sangat panic ku kira masakan ku tak enak. Ternyata Minato menyukai masakan ku. Aku sangat tersanjung saat dia memuji ku. Mengecup pucuk tangan ku. Dan memperkenalkan diri nya pada ku. Otomatis aku membalas memperkenalkan diriku juga, tapi tetap memakai Nama Kushi."

"Lalu Minato mulai tampak mendekatiku. Setelah aku pulang kerja dia selalu menjemputku dan mengantar ku keapartemen. Kadang juga menjemput ku dan mengajaku jalan – jalan. Aku perlahan – lahan mulai menyukai nya. Begitu pun dia. Dia menyatakan perasaan di setelah sebulan mengenal ku. Tapi.." Ucapan Kushina terhenti.

"Kenapa?" Tanya Naruto penasara.

"Aku akan di tunangkan dengan pilihan Kaa-san ku. Dan Minato juga akan di tuning kan. Lalu Minato membawa ku ke orang tua nya dan mengenalkan ku. Namun orang tua Minanto menganggap aku tak sederajat dengan keluarga mereka. Waktu cuti ku habis dan aku harus kembali ke karir ku. Ku jamin orang tua Minato akan menyesal dengan ucapan mereka pada ku." Kushina terkekeh.

"Mereka menyesal?" Tanya Naruto.

"Tentu saja mereka menyesal anak ku. Siapa yang akan menolak penyanyi cantik dan bersuara emas seperti aku. Ahahahahaha" ujar Kushina.

"Jangan terlalu sering memuji diri sendiri Kaa-chan itu membuat ku merinding." Sahut Naruto.

"Itu memang benar.. akhirnya pertunangan ku tersebar di social media dan terekspose lah wajah ibu dan tunangan ibu di layar kaca. Aku tak tahu kalau Minato dan Ibu nya melihat ku di televise. Melihat aku tertawa ceria padahal aku sangat sedih karna tak bisa bersama Minato untuk lebih lama. Sehari setelah itu Ibu minato datang pada ku. Karna Minato stress dan hampir gila karna memikirkan aku. Sampai – sampai Minato menyentuh minuman - minuma keras untuk melupakan ku. Kau tahu kenapa Ibu Minato bersujud pada ku dan meminta ku kembali kepada Minato?" Tanya Kushina pada Naruto.

"Kenapa?"

"Karna aku penyanyi terkenal. Aku tak pernah memikir kan keegoisan Ibu Minato. Yang jelas aku hanya mementingkan minato saja. Minato harus menjadi pendamping ku. Aku ingin bahagia hanya bersama Minato. Dan aku pun memutuskan pertunangan dengan orang pilihan Kaa-san ku. Kaa-san sangat marah besar. Tapi aku tak perduli dan pergi mencari Minato. Minato benar – benar dalam kondisi yang mengenas kan. Dia menjadi seorang pria pemabuk gara – gara aku. Ternyata dia sudah menyerah untuk menggapaiku karna dia ingin aku bahagia dengan cara mengorban kan perasaan nya. Karna melihat aku tertawa ceria bersama pria lain saat di layar kaca."

"Tou-san seperti ku" batin Naruto.

"Tapi ku ungkapkan saja perasaan ku sesungguh nya. Aku tarik Minato dan membawa nya kekehadapan orang tua ku. Tapi sebelum itu kerapikan sedikit penampilan nya agar seperti pria tampan dan mempesona saat pertama aku lihat dulu. Minato membatalkan pertunangan nya dan aku juga. Aku tak pernah mengalah atas kebahagiaan ku." Ujar Kushina.

"Lalu bagaimana Tou-chan bisa mengetahui kalau Kaa-chan itu penyanyi?"

"Humm sebelum pengumuman pertunangan aku sempat bernyayi membawakan beberapa lagu. Ternyata Minato menonton ku dan mendengarkan suara ku. Dia bilang suara ku sangat indah. Awal nya dia tak percaya jika itu adalah aku. Kushi dan Kushina itu bukan lah orang yang berbeda." Jawab nya.

"Setidak nya Tou-chan itu menyukai Kaa-chan. Tak seperti ku yang bertepuk sebelah tangan,, sial" umpat Naruto dalam hati.

"Baik lah.. ini sudah malam.. lebih baik kau tidur.. besok sekolah bukan?" ujar Kushina.

"Hai.. oyasumi Kaa-chan."

"Oyasumi Naru-chan."

.

.

.

Keesokan hari nya seperti biasa nya Naruto pergi ke KHS bersama Sasuke. setelah pembicaraan nya bersama Hinata. Naruto ingin menghindari diri nya sedemikian rupa dari Sasuke. Naruto juga wanita yang bisa merasakan sakit. Ada kala dia tak kuat melihat kemesraan Sasuke bersama Hinata. Namun menutupi hal itu bukan lah hal yang sulit bagi Naruto.

"Hoi – hoi kenapa jalan mu cepat sekali?" protes Sasuke. "Tak seperti biasa nya".

"Brisik sekali kau Teme.." Sahut Naruto jutek.

"Belakangan ini kau berubah, Dobe. Apa yang terjadi pada mu?"

Naruto berhenti berjalan sejara mendadak, dan kemudian Sasuke menabrak nya. Naruto tak goyah dari posisi nya sedangkan Sasuke jatuh terduduk di belakang Naruto.

"ARRGGHH,, apa yang kau lakukan? Kenapa kau berhenti mendadak, hah?" ringis Sasuke.

"Kau bilang apa barusan, Sas?" gumam Naruto lirih. "Kau bilang aku berubah? Apa kau gila Sas?" lanjut nya lagi seraya berdiri di hadapan Sasuke yang masih terduduk. "Kau bilang aku berubah? Apa kau tak sadar siapa yang membuat aku berubah? Pernah kah kau berpikir jika ka–."

"Sasuke.. eh ada Naruto.. hay Naru-chan" teriak Hinata dari seberang jalan menghentikan perkataan Naruto.

"Ah sudah lah sasuke. itu wanita pyjaan mu. Lebih baik kau urusi dia saja. Abaikan saja aku. Mengerti" ujar Naruto meninggalkan Sasuke.

Naruto tak terima atas apa yang Sasuke katakana. Diri nya berubah? Padahal diri nya ingin selalu seperti dulu, bercanda bedua, bermain basket berdua, makan berdua, bahkan melakukan hal gila yang ada di pikiran Naruto berdua. Sekarang semua nya sirna. Hubungan mereka sekarang merenggang. Mereka tak pernah lagi bermain, bercanda, melakukan hal gila bahkan sekarang mereka mulai tidak akur bukan seperti sorang sahabat yang sudah sedari kecil. Solah hubungan persahabatn sedari kecil itu terasa percuma bagi Naruto. Itu yang ingin ia katakan Sasuke.

"Sasuke? Na-naruto?" ucap Hinata lirih.

"Sudah lah.. lupakan saja perempuan gila itu.." sahut Sasuke kebingungan dengan sikap Naruto sekarang.

"Sa-sasuke.. Go-gomene a-atas yang kemarin.. a-aku sudah memikirkan nya baik – baik. A-ada yang ingin aku bicarakan nanti di halam sekolah selepas istirahat." Gumam Hinata tertunduk malu.

"Hn.. lebih baik sekarang kita berangkat.. nanti kita terlambat" ujar Sasuke seraya menarik tangan Hinata.

.

.

Setiba nya di KHS. Sasuke dan Hinata memasuki kelas mereka. Sasuke sedari tadi melihat kekiri dan kekanan mancari sosok orang dari bangku ke bangku. Tapi tak kunjung ia temukan. Kemudian Sasuke mulai menanyai seseorang di kelas nya.

"Hei.. apa kau melihat Naruto?" kata Sasuke bertanya kepada seorang pria bermarga Inazuka.

"Umm dia di ruang GYM kalau tidak salah.."

"Apa yang dia lakukan di sana?" Sasuke penuh tanda Tanya. "Naruto ke GYM? Apa yang dia perbuat?" batin Sasuke.

"Sa-sasuke?" panggil Hinata pelan dan tak di hiraukan oleh Sasuke. entah tak di hiraukan atau tak mendengar.

Sasuke pergi meninggalkan kelas mencari Naruto tanpa membawa Hinata?

Setiba nya di ruang GYM sekolah sasuke begitu terkejut, jika Naruto tidak lah sendirian. Dia bersama sorang pria? Bukan nya Naruto itu tipe wanita penyendiri? Bahkan Sasuke tahu siapa – siapa saja yang berteman dengan Naruto, tepat sekali hanya diri nya teman Naruto di sekolah ini.

Naruto sedang berlatih tinju dengan kenalan baru nya yang kebetulan adalah sorang juara tinju. Tertarik Naruto untuk mempelajari nya.

Flash back..

Pusing Naruto dengan keegoisan sahabat yang ia cintai nya itu. Bahkan dia sudah berani mengatai nya sudah berubah. Naruto ssangat emosi lalu memukul – mukul batang pohon yang tak berdosa. Kulit pohon itu terkelupas akibat pukulan tersebut. Naruto tak sadar jika sedari tadi ada sorang pria berambut merah marun selalu menatap nya dengan meminum segelas soda di atas pohon yang Naruto pukul.

"Sampai kapan kau akan memukul pohon yang tak berdosa itu." Ujar nya seraya melempar gelas soda nya ke pembungan sampah.

Naruto sangat terkejut. Yang dia tahu tempat ini sangat sepi, ya tapi ia tak melihat ke atas pohon.

"Apa yang kau lakukan di atas pohon hah? Aku kira tempat ini tak ada mahluk nya" sahut Naruto menggaruk – garuk kepala nya tidak gatal.

"Aku sedang bersantai.. apa tangan mu tidak sakit?" Tanya nya.

"Sakit? Luka di tangan akan cepat sembuh kau tahu? Hanya menghitung hari maka luka ini akan sembuh." Jawab Naruto melihat tangan nya lecet terkena pukula kayu itu.

"Porposi tubuh mu bagus untuk menjadi seorang petinju wanita. Dan pukulan mu juga sangat bagus. Akan lebih bagus lagi jika kau ini tahan banting." Pria itu mengoreksi Naruto.

"Hoi siapa nama mu?" Tanya Naruto.

"Sabaku Gaara." jawab nya.

"Tunggu dulu. Nama mu sangat takasing." Ucap Naruto dengan pose berfikir. "Uwoohh kau Sabaku Gaara juara tinju tinkat nasional bukan? Kau telah membawa nama baik KHS. Nama ku Uzumaki Naruto" Ucap nya lagi teringat.

"Wah ingatan mu seperti nya bagus, Naruto. Kalau tidak salah kau ini pemain basket wanita, bukan?"

"Ya.. aku sangat ingin menjadi seorang pemain basket wanita internasional. Maka nya aku berlatih sangat giat." Sahut nya.

"Tertarik berlatih tinju?"

"K-kau m-mau mengajariku?" Naruto kaget saat mendapatkan tawaran itu.

"Tentu.. asalkan kau mau mengajariku basket." Jawab Gaara turun dari pohon.

"Wah dengan senang hati Sabaku." Sahut Naruto.

"Jangan panggil aku Sabaku. Panggil saja aku Gaara." Ujar nya. "Karna bel belum berbunyi ayo kita berlatih tinju." Ajak Gaara.

"Ah.. baiklah Gaara. Go go go." Naruto penuh semangat.

Flash back end..

"Wah.. ternyata tinju itu menarik." Gumam Naruto di sela pertarungan pukul memukul mereka.

"Tak ku sangaka kau lumayan juga. Apa kau pernah belajar sebelum nya?"

"Belum... aku hanya sering menonton nya. Lalu mempraktekan nya ke pohon atau orang."

"Ahahaha.. kau gila.. jika kau ingin berlatih lebih baik latihan di sini saja. Setiap hari aku berada di sini untuk latihan." Ujar Gaara menghentikan pertarungan nya.

"Um baiklah. Seperti nya aku mulai menyukai tinju untuk latihan tubuh." Naruto pun mengikuti.

"Wah kau wanita yang sangat atletis ya." Gumam Gaara ternyum simpul.

Naruto sangat menarik pikir nya.

"Olahraga itu selalu membuat ku tenang. Selain membuat ku tenang olah raga itu membuat ku sehat." Sahut Naruto.

"Istirahat nanti kau harus mengajari ku basket." Tukas Gaara.

"Baik lah.. aku tunggu di lapangan. Aku mau ke kelas dulu, jaa ne Gaara."

"Jaa."

Berlatih tinju bersama Gaara telah berhasil membuat beban di hati dan pundak nya sirna seketika. Tapi tak sepenuh nya. Setidak nya dia harus berterimakasih kepada Gaara nanti nya. Naruto berjalan di koridor dengan aura yang gembira.

"Kau terlihat senang, Naruto?" terdengar suara baritone dari arah belakang.

"Ah.. kau Sasuke.. apa yang kau lakukan di sana? Mana Hinata? Wah tumben sekali kau tak bersama nya saat ini." Ujar Naruto mencari – cari sosok Hinata namun memang tidak ada di sana.

"Kau tak marah?" Tanya Sasuke.

"Memang nya aku harus marah kenapa, Teme. Kau ini aneh sekali Ha Ha" Naruto terkekeh.

Kadang Naruto seperti ini kadang Naruto seperti itu. Sekarang Sasuke benar – benar tak bisa memprediksi dengan mudah sikap Naruto dan apa yang Naruto pikirkan. Sasuke merasa jauh dari Naruto saat ini. Naruto mulai tertutup pada nya.

"Nar –.."

Ting tang ting tong...

Perkataan Sasuke terhenti bunyi bell.

"Ayo masuk kelas.. aku duluan ya Sas.." tukas Naruto seraya berlali tak lupa juga dengan senyum tiga jari andalan nya.

"Kau jauh sekali ya, Naruto" Sasuke tersenyum miris.

.

.

.

Di kelas. Pelajaran Asuma sensei sedang berlangsung. Bermacam – macam tingkah ada pada saat pelajaran sedang berlangsung. Ada yang bergosip, ada yang makan (kalian pasti tahu -_-), ada yang tidur (kalian pasti tahu -_-), ada yang berguling – guling bahkan koproll (bohong :3).

Sepanjang pelajaran Sasuke isi dengan berfikir. Mencari cara untuk mengembalikan sahabatnya. Sudah seribu satu cara ia fikirkan dan yang dia tahu adalah cara itu tak kan berhasil, di tambah lagi dengan sikap Naruto yang tak terprediksi lagi. Kemampuan Uchiha nya benar benar terlantar saat ini. Seolah sudah tak mempan lagi kepada Naruto.

"Hanya ada satu cara. Dan itu pasti berhasil." Batin Sasuke.

.

.

Bel istirahat pun berbunyi. Yang tidur lanjut tidur yang makan ya lanjut makan. Namun kini Sasuke tak lagi berfikir dia ada janji dengan Hinata untuk bertemu di halam sekolah. Sasuke meninggalkan kelas untuk menemui Hinata yang sedari tadi sudah pergi meninggalkan kelas selama Sasuke berfikir.

Naruto melihat Sasuke meninggalkan kelas. Entah dorongan apa yang membuat Naruto mengikuti kemana Sasuke pergi. Bersembunyi dari sudut yang tak mungkin terlihat oleh Sasuke.

"Sasuke kehalaman? Apa yang ia perbuat?" batin Naruto.

Di lihat nya di sekeliling ternyata Sasuke tak sendirian, ia bersama Hinata. Naruto tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Yang jelas Naruto hanya bisa melihat senyum bahagia Sasuke yang di sertai dengan pelukan ke tubuh Hinata. Namun senyuman itu menjadi kesedihan dan tangisan. Tapi Sasuke kembali tersenyum kemudian mencium bibir Hinata.

Naruto sangat shock. Sakit, sedih, benci, sebal bercampur aduk. Naruto meninju tiang lampu jalan di sekolah nya hingga penyok dan kemudian meninggalkan kedua insan yang sedang berciuman itu dengan menangis. Hati nya benar – benar sakit. Dia tak mungkin bahagia bila terus menjadi orang ketiga (bukan selingkuhan melainkan orang yang selalu menjadi alat untuk menyatukan hubungan Sasuke dan Hinata) di hubungan mereka. Diingat nya lagi ini demi kebahagian teman nya. Namun Naruto tetap merasakan sakit di dada nya. Naruto terjatuh.. lutut nya terluka namun luka di lutut tak ada apa – apa bagi nya. Naruto terus menangis membiarkan diri nya terus terduduk berharap tak da yang melihat nya saat ini. Namun tetap saja ada yang melihat.

"Apa yang terjadi pada mu? Kau terluka" ujar Gaara.

"Ga-gaara" tangis Naruto.

"Biar ku bawa ke UKS." Gaara menggendong Naruto dengan Bridal Style membawa nya ke UKS dengan cepat. Lalu menduduki nya di ranjang UKS.

Mengobrak abrik isi UKS untuk mencari kotak P3K da ketemu. Gaara mulai membersihkan luka di lutut Naruto kemudian memberi nya perban.

"Apa yang terjadi Naruto? Kenapa kau bisa terjatuh?" Tanya Gaara khawatir.

Naruto hanya menggelengkan kepala. Tak di sangka Gaara akan melihat nya dengan kondisi seperti ini. Naruto benar – terlihat lemah bahkan sangat lemah kala itu.

"Apa lutut mu ini terasa begitu sakit."

Naruto hanya menggelengkan kepala.

"Katakan saja pada ku. Apa yang membuat seperti ini." Gumam Gaara khawatir.

Naruto memeluk Gaara kemudian menangis tersedu –sedu. Di peluk Naruto? Gaara begitu terkejut namun Gaara membalas pelukan Naruto dan menenang kan nya.

15 menit kemudian Naruto berhenti menangis dan tertidur di pelukan Gaara. Seragam sekolah gara basah terkena airmata Naruto. Gaara melepas jas nya yang basah kemudian menjemur nya. Kini ia hanya mengenakan kemeja putih panjang nya dan celana kotak – kotak coklat.

Gaara membaringakan tubuh Naruto dan melepaskan Naruto dari pelukan nya. Namun genggaman Naruto begitu erat. Seolah tak ingin melepaskan pelukan nya itu. Ya apa boleh buat. Gaara pun ikut berbaring menemani Naruto tidur dan terpakasa membolos di pelajaran berikut nya.

"Siapa kau? Apa yang kau lakukan Dengan Naruto?" Suara baritone terdengar dari arah pintu UKS.

Bersambung...

Review nya dung x3

Koreksi kekurangan Yu ya...

maaf ga sempat balas repiew.. tapi udah yu baca kok arigato na