Here comes chapter two… enjoy!
.
.
Start The Game
.:KageHina:.
(some minor pairs later)
Gaming Industry/Game Maker/Gamer AU
Haikyuu! © Furudate Haruichi
Warning: fanfic ini most likely akan mengandung banyak sumpah serapah. Maklum, orang-orangnya sinting semua (digampar Kageyama dkk), jadi bagi yang tidak nyaman, tolong nyamankan diri Anda (?) atau tekan back sesegera mungkin.
.
.
Chapter 2: The King, The Rival, The Boss
.
.
Esok harinya, Hinata bangun dengan perasaan yang lebih nyaman. Kemarin, sepulang ia dari kantor Capcorn dengan seringai lebar, ia segera saja menelepon keluarga dan teman-teman dekatnya. Dengan suara yang gagal menampung kegembiraan, ia meledakkan informasi bahagia yang mengejutkan itu pada siapa saja yang diteleponnya—mulai dari ibunya, ayahnya, adiknya Natsu, hingga sahabat-sahabatnya yaitu Izumi, Kouji, dan Kenma.
Hari itu, sekujur tubuh Hinata bergetar akan antisipasi dan semangat baru. Bagaimana tidak? Ia diterima di kantor Capcorn yang hebat itu! Hinata tak henti-hentinya mengulang kalimat tersebut di dalam kepalanya. Beban, tekanan, dan kecemasan yang semula didapatnya setelah menghadapi Kageyama pun lenyap entah kemana. Ha, siapa peduli dengan Kageyama? Yang penting, setelah sekian lama berjuang keras, Hinata akhirnya dapat bekerja secara resmi sebagai pembuat game. Masalah mengalahkan Kageyama, itu dapat dipikirkan seiring berjalannya waktu.
Bibir Hinata tertekan, berusaha sebisa mungkin membentuk garis lurus, tapi tetap saja gagal karena bentuknya malah seperti sungai—meliuk-liuk. Dan sekarang, bibirnya berbentuk aneh, hasil dari kombinasi antara garis lurus dan senyum yang tak dapat ditahan. Hinata yakin ia tak akan dapat tidur sebelum ia melampiaskan kesenangannya ini pada sesuatu. Akhirnya, seolah memiliki ikatan batin yang kuat dengan Hinata dan merasakan ketidaktenangannya, ibu Hinata kembali menelepon dan menegur Hinata agar ia tidur. Mungkin ini adalah semacam kemampuan ajaib yang dimiliki ibunya, tapi sesaat setelah ia mendengar suara lembut wanita itu, ia segera tertidur dengan nyenyak.
Kemudian, dengan begitu cepat, hari esok pun datang.
Hinata menyempatkan diri untuk menarik nafas dalam-dalam, mempersiapkan mental, sebelum ia melangkah masuk ke dalam kantor barunya. Sengaja ia berangkat pagi-pagi sekali di hari pertamanya bekerja. Ia tidak ingin meninggalkan kesan buruk pada rekan dan atasannya. Dan lebih dari itu, ia ingin membuktikan pada Kageyama bahwa ia serius dengan niatannya untuk mengalahkannya.
Hinata membuka pintu kantor sambil berdecak kagum. Ia disambut oleh pemandangan interior kantor yang bernuansa serba cokelat. Meski pagi belum beranjak, beberapa pekerja telah sibuk berlalu lalang di sana. Lantai pertama terdiri dari lobi, gudang, dan cafetaria, dan yang sekarang sedang ada di hadapan Hinata adalah bagian lobi. Meja resepsionis memanjang di sisi ruangan di dekat pintu menuju cafetaria. Di tengah ruangan, sebuah karpet besar berwarna merah menghampar, di atasnya disusun beberapa sofa hitam empuk serta sebuah coffee table.
Hinata berusaha menekan kembali kegugupannya. Baru kali ini ia berada di sebuah kantor untuk benar-benar bekerja. Fakta bahwa gedung kantor tersebut agak mewah juga cukup untuk membuat Hinata melemas akan tekanan di atas kedua pundaknya. Itu berarti Capcorn adalah kantor bagus. Itu berarti, ia harus sebisa mungkin meminimalisir kesalahan yang diakibatkan oleh kecerobohannya.
Hinata tak lupa menggesekkan ID Card-nya pada sebuah mesin absensi untuk meregistrasi kehadirannya hari itu, lantas ia masuk ke dalam lift menuju lantai tiga di mana kantornya berada.
Tatkala Hinata sampai di lantai tiga, nuansa cokelat elegan masih belum mau meninggalkannya. Terdapat beberapa ruangan besar di sana—sebagian besar berupa kantor dan satunya berupa Common Space. Ini adalah ruangan serbaguna yang digunakan untuk wawancara Hinata kemarin.
Ingin sampai di kantornya sebelum suasana terlalu ramai, Hinata mempercepat langkahnya menuju sebuah pintu berdaun dua. Di belakang benaknya, terdapat begitu banyak pertanyaan mengenai kantor barunya, atasannya, dan rekannya. Kira-kira pekerjaan yang dihadapinya ini sulit atau mudah? Bisakah ia mengatasi segala masalah yang akan datang? Dan di bawah pimpinan siapa ia bekerja? Apakah rekan-rekan barunya cukup baik untuk mau menerimanya?
Sebelum kegugupannya kembali, ia membuka pintu tersebut dengan pelan. Nafasnya tersendat.
Yang pertama kali diterjemahkan oleh indera penglihatan dan masuk ke dalam otaknya adalah pemandangan seorang pemuda di tengah ruangan dengan tubuh terbalut kemeja biru, dasi, dan celana panjang—gaya pakaian yang mirip dengan yang orang itu kenakan kemarin.
Benar, dia. Kenapa harus dia!?
"K-Kageyama Tobio!" Hinata merasakan sudut matanya berkedut. Ujung telunjuknya bergerak secara otomatis untuk mengarah pada Kageyama. "K-Kenapa kau ada di sini!?"
Pria tampan bernama Kageyama itu tersentak kecil, pupilnya mengecil selama satu detik sebelum kepalanya tertoleh pada Hinata. Harapannya adalah Kageyama bereaksi sama kagetnya dengan dirinya sendiri, tapi rupanya tidak, karena sebentar kemudian Kageyama mengembalikan kerutan khas pada wajahnya. Tentu saja ia tidak kaget—ia adalah salah satu atasan, jadi informasi mengenai pekerja baru yang akan ditempatkan di kantornya sudah diberikan kepadanya sebelum ini.
Bagus, Hinata jadi merasa… kesepian sekarang, berhubung hanya dirinya yang merasa kaget. Ia merasa seperti sedang dikerjai, dan ia berharap ia sedang dikerjai. Mana mau dirinya satu kantor dengan Kageyama? Melihat wajah mengerikannya saja perutnya sudah melilit. Tapi rupanya ini semua bukan lelucon belaka.
"Bodoh, jangan mengganggu orang-orang di pagi hari dengan suara berisikmu." Nah, ini adalah salah satu alasan mengapa Hinata tidak suka berada satu kantor dengan Kageyama. Jika di pertemuan pertama—sebenarnya kedua, tapi ini yang secara resmi—mereka saja Kageyama sudah sejudes itu, mau bagaimana ke depannya? Hinata jelas tidak tahan diatur oleh orang seumurannya yang sok jago dan tidak ramah. "Dan tentu saja aku ada di sini. Aku adalah bosmu."
Hening sejenak. Hinata melebarkan kedua matanya sekali lagi, sampai-sampai matanya terasa pedas.
"B-BOS!? Kau jadi bosku!?" Hinata berteriak sekali lagi, mengabaikan peringatan Kageyama untuk tidak mengganggu orang di pagi hari. Tapi satu-satunya hal yang Hinata pedulikan saat ini adalah kata-kata yang baru saja meluncur dari mulut… bosnya. Iya, bosnya. Oh, ini adalah kejutan yang indah, sangat indah sampai-sampai Hinata merasa batinnya tersiksa. "Tidak mungkin! Kenapa!?"
"Mana kutahu, bodoh!" balas Kageyama dengan sewot. "Kalau bukan karena Daichi-san yang menempatkanmu ke dalam kantorku, aku pasti tidak mau menerima orang tidak kompeten sepertimu!"
Urat kekesalan di balik kulit dahi Hinata berkedut. "Orang tidak kompeten…?" Detik berikutnya, ia melangkah cepat menuju Kageyama, dan tahu-tahu ia sudah berada tepat di depan hidung sang pria. "Coba katakan sekali lagi bahwa aku tidak kompeten! Akan kubuktikan mulai hari ini juga bahwa aku pantas bekerja di kantor ini!"
Kageyama tak sekalipun mengubah wajah datarnya. Ia tidak mengedipkan mata atau bahkan memperdalam lipatan keningnya—pria itu hanya melihat Hinata lurus. Mungkin ia mencoba mengetes sejauh mana Hinata kuat bertatapan dengan wajah mengintimidasinya. Atau mungkin saja ia sedang mencari-cari kelemahan Hinata di antara lautan cokelat madu yang merupakan bola mata Hinata.
Bisa jadi ia mempertahankan wajah datarnya untuk menunjukkan bahwa resolusi Hinata tidak ada artinya baginya, tapi kemudian ia memalingkan wajah dan memutar badan. "Asal kau tahu, salah satu peraturan Capcorn menyatakan bahwa pekerja baru dibebaskan dari segala pekerjaan di hari pertama, dan sebagai gantinya ia harus mendapat orientasi."
Hinata berkedip bingung. "Dibebaskan? Maksudmu, aku belum mulai bekerja hari ini?"
"Kau mendengar ucapanku tadi," balas Kageyama tenang. Kedua bahu Hinata melemas. Padahal ia tak sabar ingin segera menunjukkan kemampuannya kepada Kageyama. "Lagipula, aku tidak ingin seorang bocah mengacaukan pekerjaan kantor yang sudah hampir selesai."
"Hei!" Hinata sempat bertanya-tanya mengapa Sawamura Daichi harus menyiksanya dengan menempatkannya satu kantor bersama Kageyama si muka ngeri. Mencoba melawan dan menghajar Kageyama bukan pilihan tepat. Ia bisa saja dipecat di hari-hari awal ia bekerja, atau jika beruntung ia tidak dipecat, tapi ia harus menghadapi Sawamura yang super duper marah. Jadi ia terpaksa menjadi pihak yang harus bisa mengendalikan diri. "Dasar Ou-sama…"
"Jangan panggil aku begitu." Kageyama menolehkan kepala untuk menunjukkan wajah berekspresi mengerikannya sekali lagi. Darimana ia dapat raut wajah permanen seperti itu? Mungkin programming yang sedemikian sulit telah melukai otak Kageyama di bagian tertentu sehingga ia tidak bisa memasang ekspresi selain sebuah rengutan atau wajah datar. "Newbie bodoh, kau duduk saja di sana dan tunggu hingga semua orang di sini hadir."
Bayangan akan dirinya yang duduk sendirian, menunggu dengan canggung sementara orang-orang melewatinya dan tersenyum remeh melihat ada seorang pendatang di kantor mereka, membuat Hinata berkeringat dingin. "Tunggu! Kau mau meninggalkanku di sini!? Bukankah bos seharusnya membimbing bawahannya!?"
Kageyama mengabaikannya dan menguap lebar. "Aku butuh kopi…" Dan dengan itu, ia menghilang di balik pintu kantor. Hinata mengepalkan tangannya menahan amarah.
Astaga, sampai berapa lama lagi ia harus menahan kekesalannya terhadap sang bos?
"Kageyama, aku serius!" Hinata membentak sekeras mungkin. Seorang perempuan bersurai pirang yang sedang menata berkas—ia sudah ada sedari tadi di ruangan itu—sampai berjengit kaget mendengar suara Hinata. "B-Bagaimana kalau mereka mem-bully-ku!?"
Suara Kageyama terdengar dari balik pintu, "Santai saja. Mereka akan mem-bully-mu dengan baik."
"Itu sama sekali tidak membuatku lega!"
Kali ini tidak ada jawaban. Hinata mengumpat di balik nafasnya dan memutuskan untuk duduk di salah satu deretan kursi panjang di sudut ruangan. Ini adalah hari pertama ia bekerja di Capcorn, dan ia sudah merasa begini tersiksa, semuanya berkat Kageyama Tobio. Setelah ini ia harus memohon pada Sawamura agar keputusan bahwa ia akan berada di bawah pimpinan Kageyama dibatalkan.
"A-Ano…" Hinata mendongak dengan agak terkejut. Sedari tadi ia tidak mendengar suara apapun karena ia terlalu sibuk bertengkar dengan Kageyama, tapi begitu ia mengangkat kepala, seorang gadis pirang yang tadi mengatur berkas-berkas menampakkan diri di hadapan Hinata. "K-Kau baru di sini?"
Hinata mengerjapkan mata. Gadis itu terlihat pemalu dan penakut, terlihat sekali dari gestur tubuhnya dan bahunya yang sedikit-sedikit menegang. Ia mengenakan kaos merah muda dan celana panjang serta sepatu kets putih, dandanan yang cukup santai tapi tidak menghilangkan nilai feminimnya. Jika dilihat dari luar, anak ini tidak terlihat seganas Kageyama… Malahan, dia jauh dari kata ganas. Matanya yang berkaca-kaca membuktikan itu.
"Yep, aku baru mulai bekerja hari ini." Hinata mengangguk. "Yah, meskipun Kageyama sialan itu mengatakan bahwa aku tidak usah bekerja di hari pertama…"
"Wah… Jadi kau memang pendatang baru." Gadis itu mengerjap selama beberapa saat. "Kau tahu, sudah sejak lama sekali kantor Kageyama-kun kedatangan pekerja baru."
"Eh? Benarkah?" Hinata menelengkan wajah. "Jangan bilang kalau wajah ngeri Kageyama berhasil mengusir mereka semua!"
Hinata memaksudkan itu sebagai lelucon, tapi bibir Yachi yang melengkung ke atas membentuk sebuah rengutan berhasil meyakinkannya bahwa kata-kata yang asal diucapkannya merupakan kenyataan.
"Selama ini, tidak ada yang bertahan lama di bawah pimpinan Kageyama-kun. Dia selalu ambisius… Terlalu ambisius, menurutku, jadi orang-orang di bawah Kageyama-kun bekerja sedikit lebih keras dibanding lainnya. Tidak heran jika ada banyak orang yang menyerah. Sekarang, hanya ada beberapa orang 'luar biasa' yang mampu bertahan, bahkan menikmati pekerjaan mereka dengan Kageyama sebagai bos." Setelah mengatakan itu, ia buru-buru mengangkat kedua tangannya. "T-Tapi, bukan berarti aku merasa tersiksa! Kageyama-kun memang keras, tapi itu malah membuatku menjadi lebih baik! Aku sama sekali tidak merasa tersiksa! Yep, sama sekali tidak!"
Hinata hampir meragukan perkataannya karena sekujur tubuh gadis itu bergetar hebat. Bisa jadi ia tanpa sengaja sedang mengingat masa-masa ketika Kageyama memulai penganiayaannya terhadap bawahannya. Hinata bisa membayangkan Kageyama memimpin dengan sikap keraja-rajaan. Perintah ini, perintah itu, dan kalau salah sedikit pasti marah.
Tanpa sadar, ia menghela nafas. Belum melakukan apa-apa saja ia sudah lelah. Seseorang, tolong selamatkan dirinya dan bawa ia jauh-jauh dari kantor Kageyama.
"Ngomong-ngomong… b-boleh tahu namamu?" tanya gadis itu dengan sedikit malu. "Ah, maaf! Aku seharusnya memperkenalkan diriku dulu! Aku… Y-Yachi Hitoka! Salam kenal!"
"Hinata Shouyou." Hinata menunjukkan seringai lebar. "Salam kenal juga, Yachi-san. Ngomong-ngomong, kau berangkat pagi sekali… Hanya ada kau yang di kantor ini, lainnya belum terlihat."
"Bagian pekerjaanku belum selesai, makanya aku sengaja berangkat lebih pagi hari ini." Yachi mengangguk, sebuah pancaran gembira tak dapat disembunyikannya dari matanya. "Hinata-kun, posisi pekerjaan apa yang kau lakukan?"
"Hinata saja tidak apa-apa," timpalnya, sebelum menjawab, "Aku diterima sebagai animator di sini. Sebenarnya aku ingin menjadi sesuatu selain animator di sini," Yaitu desainer, katanya di dalam hati, "tapi karena Capcorn itu hebat, itu semua tidak masalah. Bisa diterima di sini saja sudah merupakan sesuatu yang menghebohkan bagiku!"
"Itu benar… Ketika aku diterima di sini, aku tidak bisa berhenti menjerit di kamarku dan aku sama sekali tidak bisa tidur!" Dan sifat pemalu yang sempat Yachi tunjukkan hilang entah kemana, karena sekarang ia sudah mulai bercerocos dengan Hinata layaknya seorang sahabat karib. Hinata tak lupa bersyukur ada orang seperti Yachi, atau hari-harinya di kantor Kageyama pasti akan selalu suram.
"Aku juga seperti itu tadi malam! Dan aku baru bisa tidur setelah ibuku menyuruhku lewat telepon…"
"Benarkah?" Yachi membentuk bibirnya menjadi sebuah senyuman. "Ah, aku sendiri bekerja sebagai desainer." Mendengar kata yang telah melekat di dalam benaknya itu, Hinata membelalakkan matanya. "Aku lebih sering menggambar level*, tapi karena kami biasanya kekurangan staf, aku juga membantu yang lainnya."
"Kekurangan staf? Jadi maksudmu…" Hinata menelan ludah. "Masih ada lowongan untuk menjadi desainer?"
"Aku rasa begitu." Yachi mengangguk. "Kalau tidak, Kageyama-kun pasti juga tidak usah membantu bagian desain di sela-sela pekerjaan pemrogramannya yang menumpuk."
Hinata benar-benar memelototkan matanya sekarang. "Orang itu bekerja sebagai desainer dan programmer secara bersamaan!? Aku kira dia hanya menjadi desainer di waktu luang atau bagaimana, tapi…" Holy shit, Hinata ingin berkata demikian, tapi entah mengapa ia punya firasat bahwa Yachi tidak akan terlalu suka mendengarnya mengumpat.
"Benar, kan? Dia hebat, kan!?" Yachi mengangguk-angguk, kemudian mengeluarkan hembusan nafas. "Kalau saja ia bisa sedikit ramah pada orang lain…"
Hinata diam-diam menyeringai. Ternyata tidak hanya dirinya yang berharap agar Kageyama sedikit mengurangi sikap menyebalkannya. "Aku rasa butuh seratus tahun untuk mengubah Kageyama menjadi orang ramah."
Yachi memperlebar senyumnya, lalu matanya dengan cepat melirik jam dinding. "Ah, maaf, Hinata. Aku ingin menemanimu lebih lama, tapi aku ada banyak pekerjaan. Apa tidak apa-apa kalau aku…"
"Aku tidak akan kenapa-napa di sini!" Hinata tertawa renyah. "Lakukan saja pekerjaanmu, Yachi-san!"
Dengan sebuah senyuman dan lambaian tangan, Yachi berjalan kembali menuju meja kerjanya, meninggalkan Hinata sendiri untuk menunggu hingga semua orang hadir dan Kageyama kembali dari coffee time-nya.
Sepuluh menit telah berlalu sejak ia mengobrol dengan Yachi, dan beberapa orang mulai berdatangan. Selama itu, Hinata melihat berbagai macam orang yang datang. Ada sepasang pemuda berisik yang datang agak siang—satunya bercukuran seperti biksu dan satunya lagi memiliki rambut jabrik dengan helaian pirang di tengahnya. Ada pula dua orang yang berangkat bersama, satunya berkacamata dan berwajah cuek—Hinata dapat menebak bahwa ia sama menyebalkannya dengan Kageyama—dan satunya lagi berambut kecoklatan serta memiliki jerawat di wajahnya.
Setelah memastikan tak ada lagi yang datang, Hinata menyisir seisi kantor dan menghitung jumlah kepala di sana. Ada total… tujuh orang selain dirinya dan Yachi di sana. Itu membuat Hinata heran. Bagaimana tim dengan jumlah begini sedikit dapat menjalankan tugas dengan baik? Tapi, kalau orang-orang di bawah Kageyama memang 'luar biasa' seperti perkataan Yachi, beda lagi ceritanya.
Sekarang, Hinata malah merasa asing di sana karena ia yakin dirinya tak termasuk dalam salah satu dari sedikit orang luar biasa itu.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka secara tiba-tiba, menampakkan Kageyama dengan kedua alis tertekuk. Kedua matanya mengamati seisi kantor sebentar, sebelum ia melangkah menuju tengah ruangan dan meminta perhatian semua orang.
"Selamat pagi, semuanya." Semua orang menjawab dengan suara berbeda-beda, menimbulkan perpaduan nada yang bergemuruh di dalam dada Hinata. Kira-kira bagaimana rasanya kalau ia menjadi pemimpin dan harus berdiri di tengah sana sambil menghadapi banyak orang? "Aku ingin meminta perhatian kalian sebentar. Seperti yang kalian tahu, kita kedatangan orang baru di kantor ini."
Serempak, semua pasang mata terarah pada Hinata. Pria bersurai oranye itu melompat kecil di atas tempat duduknya. Ia bisa merasakan pandangan meneliti dari setiap orang di sana. Setidaknya, semoga saja mereka bisa menerima Hinata apa adanya.
"Ke sini sebentar, Hinata-boke!" bentak Kageyama, dan semua orang tertawa. Hinata membiarkan bibirnya manyun sembari berjalan menuju tempat Kageyama berada. "Oke. Jadi, si bodoh ini—"
"Hei!"
"—Akan menjadi rekan kalian mulai sekarang. Aku harap kau tidak menjadi beban untuk kita. Sekarang perkenalkan dirimu sendiri," ujar Kageyama ketus.
Setelah Kageyama menyelesaikan kalimatnya, seisi ruangan menjadi hening, dan Hinata menelan ludah untuk mengatasi kegugupannya. "H-Hinata Shouyou! Mohon bantuannya!"
Semua orang berbisik-bisik, saling mengeluarkan komentar masing-masing yang sembilan puluh sembilan persen adalah mengenai Hinata. Suasana ramai itu baru terhentikan ketika seseorang mengangkat tangannya.
"Kageyama! Sebaiknya kita memperkenalkan diri!"
Kageyama melipat kening, agaknya menganggap ide itu merepotkan. Tapi setelah menghembuskan nafas dengan cepat, ia berkata singkat, "Kageyama Tobio. Main Programmer and Lead Designer. Dan juga," Hinata bersumpah ia melihat ujung bibir Kageyama terangkat. "Bosmu mulai hari ini."
Hinata mati-matian menahan keinginannya untuk menonjok wajah rupawan itu.
"Aku ada banyak pekerjaan, jadi aku akan kembali ke ruanganku," ujar Kageyama sembari memutar badan dan berjalan menuju sebuah pintu yang terletak di dalam kantor tersebut.
"Eh? Kageyama, sekali-sekali kau harus istirahat dari pekerjaanmu dan bersenang-senang!" timpal seseorang berkepala biksu.
"Tidak seperti kalian, aku tidak punya banyak waktu luang untuk menjaga seorang bocah ingusan."
…Bolehkah Hinata menonjok wajah itu, sekali saja?
"Kau ini membosankan sekali!" Pria berkepala biksu itu mendecak.
"Yah, yang namanya Ou-sama mana sudi meladeni rakyat jelata seperti kita?" Pria berkacamata tadi menimpali dengan nada sarkas dan kilatan sadis pada matanya. Hinata ingin berterima kasih karena ia memusuhi Kageyama, tapi di saat yang bersamaan ia punya perasaan bahwa orang itu akan jadi sangat menyebalkan begitu ia mengenalnya dengan baik.
"Jangan memanggilku begitu," geram Kageyama, sebelum ia membanting pintu ruang kerjanya.
Hinata merasakan nafasnya tersendat. Apakah Kageyama baru saja… marah? Maksudnya, ia memang terlihat jengkel setiap waktu, tapi tidak marah. Sulit menjelaskannya, tapi Hinata tahu Kageyama yang sedang jengkel dan marah itu berbeda.
Dan barusan, ia yakin sekali Kageyama marah. Suaranya yang biasanya lembut jadi agak serak dan tajam, dan bahkan Hinata yang bukan merupakan objek penyebab Kageyama marah pun merasa ngeri.
Mungkin ia harus berhati-hati ketika bermain-main dengan kesabaran Kageyama.
Seseorang bersurai jabrik dan bertubuh paling pendek di sana bersiul. "Tsukishima, kau membuatnya marah lagi."
"Kenapa dia terlihat begitu marah?" Hinata bertanya-tanya dengan keras.
"Dia tidak suka dipanggil Ou-sama," jelas pria berambut biksu tadi. "Ada sejarah buruk dengan nama panggilan itu."
"Sejarah buruk?" Hinata mengernyitkan dahi. Bahkan Kageyama punya sesuatu yang seperti itu?
Sebelum seseorang pun dapat menjawab pertanyaan Hinata, pria berambut hitam dengan wajah tenang menepukkan kedua tangannya.
"Kita sedang kedatangan rekan baru, jadi tidak enak terus-terusan membicarakan Kageyama. Kenapa tidak kita mulai orientasinya?" usul pria itu.
"Oooh, benar juga, Ennoshita! Aku hampir lupa!"
"Orientasi?" Hinata memasang wajah bingung. Kageyama juga mengatakan sesuatu tentang orientasi sebelumnya.
Untuk beberapa detik, Hinata merasakan firasat buruk melihat seringai jahil superlebar yang memenuhi wajah pria berkepala biksu tadi.
XOXO
Orientasi yang dimaksud ternyata adalah semacam pesta perayaan.
Mereka hanya menyiapkan beberapa kaleng soda dan memesan lima porsi pizza. Tidak ada dekorasi-dekorasi di dinding atau confetti yang ditaburkan di atas kepalanya, tapi suasana ramai itu berhasil meyakinkan Hinata bahwa ini lebih mengasyikkan dari pesta manapun yang pernah ia hadiri.
Meski begitu, ia belum bisa mengenyahkan perasaan tidak enak yang tadi menyerang benaknya.
Hinata baru saja menghabiskan kaleng sodanya ketika Tanaka, pria bergaya rambut biksu tadi, menghampirinya bersama Nishinoya. Mereka sama-sama memasang seringai jahil yang sangat lebar—yang membuat Hinata meringis. Sebahagiakah itu mereka mengerjainya? Di tangan mereka terdapat sebuah kardus dengan banyak gulungan kertas di dalamnya, dan Hinata berani menebak bahwa itu adalah semacam undian.
Diam-diam Hinata merasa beruntung karena ia tak segera menyerahkan dirinya ke dalam kegembiraan berpesta, karena di balik orientasi ini, ia tahu ada sesuatu yang menunggu untuk seorang newbie sepertinya.
Jangan lupakan bahwa di mana saja, yang namanya pendatang hampir selalu dikerjai oleh seniornya.
"Jadi, Hinata," Tanaka berdeham. "Di Capcorn ini, kita memiliki banyak tradisi."
"Dan salah satunya adalah mengadakan orientasi untuk pekerja baru," lanjut Nishinoya. "Nah, di dalam orientasi ini kau harus melakukan… sesuatu."
Hinata menaikkan sebelah alis dengan curiga. "Sesuatu?"
"Yeah! Sesuatu berdasarkan apa yang tertulis di kertas kau dapat dari kardus ini!" Tanaka mengguncang-guncangkan kardus di tangannya. Hinata mengamati gulungan kertas di dalamnya dengan mata melotot. "Sekarang, silakan ambil satu kertas, Hinata Shouyou-kun!"
Hinata menggigit bibir bawahnya. Serius, nih? Bagaimana kalau ia mendapat kertas yang isinya menyuruh Hinata untuk melakukan hal memalukan? Yah, ia berani bertaruh bahwa hampir semua perintah yang tertulis di kertas itu adalah hal memalukan.
"Tidak apa-apa, Shouyou!" Nishinoya yang dapat merasakan ketidaknyamanan Hinata pun menepuk bahunya dengan keras. "Dulu kita juga melakukannya. Kita semua, yang sekarang bekerja di sini—bahkan Kageyama juga—pernah melakukan hal ini dan dipermalukan!"
Uh… dipermalukan?
Tapi, bukan itu yang menarik perhatian Hinata.
"Kageyama pernah? Dare apa yang dia dapat?" tanya Hinata dengan wajah yang terlalu serius untuk sebuah topik sepele. Tolong katakan padanya bahwa Kageyama disuruh melakukan hal memalukan.
"Mungkin kau berharap dia jadi tidak keren, tapi sepertinya kau harus kecewa, bung! Karena…" Tanaka menggantungkan kalimatnya dengan misterius.
"Dia disuruh menembak Michimiya Yui-senpai! Dan aku kira dia bakal bisa diolok-olok setelah Yui-senpai menolaknya, tapi tidak! Dia malah, dengan ajaib, jadi gentleman, dan membuat semua orang klepek-klepek!" terang Nishinoya.
Hinata merengut kecewa. Kalau Kageyama dapat bagian keren di orientasi gila ini, maka dirinya juga harus begitu! Jangan sampai ia mendapat dare memalukan…
Dengan semangat kompetisi baru—ia tidak akan kalah dari Kageyama—Hinata mengangguk mantap sebelum ia memasukkan tangannya ke dalam kardus itu. Kumohon, kumohon, kumohon, beri aku dare yang keren…
Hinata menarik tangannya kembali dan membuka gulungan kertas yang terdapat dalam genggamannya.
Ia mematung.
"Well? Gimana, Hinata?" tanya Tanaka dengan muka tidak sabaran.
Hinata memandangi kertas di hadapannya dengan mata berkaca-kaca. Nishinoya yang terlanjur penasaran merebut kertas itu dari genggaman Hinata yang sedang melemah, dan matanya ikut-ikutan terbelalak.
"Holy cow…" desisnya.
"Apa, apa? Dia dapat apa?" Tanaka menjejalkan kepalanya di dekat Nishinoya. Reaksinya kurang lebih sama—mata melebar, nafas tersendat, lalu muncul seringai lebar seperti tadi. Tanaka lantas bersiul. "Memakai seragam seifuku plus thigh-highs, ya? Bagus, aku suka ini!"
Hinata meledakkan tangisannya. "Kenapa harus seragam seifuku!?"
"Coba saja dulu Kiyoko-san dapat dare ini," Nishinoya menghembuskan nafas dengan hampa. Hinata tidak tahu—belum tahu—siapa Kiyoko-san yang dimaksudnya, tapi ia yakin duo Tanaka-Nishinoya sengaja menulis dare itu sebagai cara agar mereka melihat Kiyoko-san dalam kostum yang mereka senangi. Dasar laki-laki. "Yah, tak apa! Shouyou juga pasti akan terlihat sugoii kawaii dalam seragam seifuku!"
(Sesorang di antara Ennoshita, Narita, dan Kinoshita menyeru, "Dasar wibu lu, Nishinoya! Sok Jepang! Huuu!")
"H-Haruskah aku melakukan ini?" Hinata mengendus. "Nishinoya-senpai, Tanaka-senpai… Biarkan aku mengambil satu kertas lagi!"
Panggilan senpai yang biasanya berhasil membuat keduanya terbang itu juga tidak mempan. Mereka lebih berkeinginan untuk melihat Hinata dalam seragam seifuku—dan untuk mengerjai Hinata. Ya, pasti itu.
"Selama ini belum pernah ada yang mengambil dua kertas, Hinata! Itu curang!" bantah Tanaka sambil menggeleng mantap. Hinata menangis di dalam hati.
"Kalau begitu, berikan pengecualian untukku!"
"Tidak, Shouyou. Tradisi adalah tradisi," kata Nishinoya (sok) bijak, bak seorang guru yang sudah lama bertapa. Sebuah seringai kembali muncul pada wajahnya, seringai pertanda buruk. Dan Hinata merasa kedua tangannya ditarik oleh Tanaka dan Nishinoya hingga ia beranjak dan didorong menuju sebuah kubik tidak terpakai. "Segala perlengkapan di sana sudah ada, jadi kau tinggal memakainya. Ada juga kucir oranye palsu yang bisa kau pakai! By the way, terima kasih, Yachi-san!"
Dari sudut matanya, Hinata melirik Yachi, dan gadis itu membalasnya dengan tatapan bersalah serta kedua tangan yang ditepukkan di depan wajah sebagai isyarat untuk mengatakan, 'Maaf!'.
Hinata mengenduskan hidungnya sekali lagi. Tidak ada air mata di wajahnya, tapi ia terasa seperti sedang menangis. Dengan satu tangisan teraniaya, Hinata memasuki kubik dan memberanikan diri untuk mengambil seragam seifuku hitam di hadapannya, lalu memakainya.
Sebuah kenangan buruk muncul di dalam benaknya. Kepingan memori mengenai rumahnya yang dulu pun hadir begitu saja tanpa diminta.
Sebuah senyum bak ular licik. Suara melengking yang dibuat-buat manis, tetapi penuh dengan racun mematikan. "Kau cantik sekali dalam gaun itu, anakku Shouyou…"
Hinata menggeleng cepat, kucir palsu yang dipasang pada bagian kanan wajahnya ikut bergoyang. Ini adalah hari pertamanya bekerja di Capcorn, ia tidak seharusnya bersedih dan mengenang masa lalu seperti ini.
Usai menarik thigh-highs-nya hingga kaos kaki hitam itu menutup sebagian pahanya, Hinata menarik nafas, mempersiapkan diri akan kemungkinan dipermalukan sehabis ini, kemudian berjalan keluar.
Tanaka dan Nishinoya bersorak heboh. Beberapa orang bersiul. Hinata menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangan. Ugh, ini sangat memalukan…
"T-Tolong jangan melihatku…" lirih Hinata. Agaknya, itu justru membuat sorakan di sekitarnya bertambah keras. Hinata merasa sangat malu sampai-sampai ia ingin mengubur dirinya sendiri.
"WAOW!" Tanaka melongo.
"KAMU IMUT SEKALI, SHOUYOU!" Nishinoya mengeluarkan ponselnya dan mulai menjepret Hinata dari berbagai sudut. Tanaka melakukan hal yang sama. Hinata menggumam tidak nyaman dan mulai menarik-narik roknya yang agak terlalu kecil—ia ingin cepat-cepat melepaskannya.
Yachi, yang Hinata kira akan memihaknya kali ini, juga ikut-ikutan mengeluarkan ponsel dengan casing putih bermotif bintang-bintang birunya, lalu dengan mata berbinar-binar dan mulut membentuk senyum lebar, ia menjepret Hinata.
"H-Hinata, kawaii! Kamu terlalu kawaii! Astaga, bahkan diriku tidak seimut ini!" Hinata mengenyahkan satu tangan yang semula menutupi mulutnya. Yachi cepat-cepat menjepret wajah malu Hinata sambil berteriak, "K-Kawaii! Hinata, bekerjalah di perusahaan model ayahku!"
"E-Eh? Y-Yachi-san, kau bilang apa!?" Hinata bergidik ngeri. Seorang gadis yang ngefans dengan sesuatu bisa menjadi begini mengerikan. Bahkan gadis yang mulanya pemalu seperti Yachi sekalipun.
Hanya Ennoshita, Yamaguchi, dan Tsukishima yang masih waras. Yamaguchi hanya bisa menatap kejadian konyol itu sambil mengunyah pizzanya pelan. "Yachi-san jadi rusak."
Ennoshita tidak repot-repot menahan tawanya. "Jujur saja, aku belum pernah melihatnya begini semangat. Hinata punya feromon atau apa, sih?"
Tsukishima dengan acuh tak acuh mulai memasang headphone-nya. "Dasar orang-orang bodoh…"
Nishinoya dan Tanaka mulai berhenti menjepret Hinata, tapi kedua mata mereka masih berapi-api. Tentu saja. Mereka masih mencari cara untuk menggunakan kesempatan emas ini. Kapan lagi Hinata mau crossdress dan menunjukkan keimutannya? Kapan lagi kalau bukan sekarang?
"Oh! Benar juga." Nishinoya menepuk kepalan tangannya pada telapak tangan satunya yang terbuka. Sebuah bohlam imajiner muncul di atas kepalanya. "Kageyama. Dia hampir tidak pernah ikut orientasi. Kali ini kita harus mengganti kenyataan itu."
"Ide bagus, Noya-san!" Tanaka terkekeh senang. "Kalau begitu, kita pancing Kageyama agar dia terganggu dan keluar dari ruangan kerjanya! Tapi, bagaimana caranya…"
Mereka berdua terdiam, lalu serempak menoleh pada Hinata dengan tawa jahat. Tanpa membiarkan Hinata menyelesaikan jeritan horornya, keduanya mulai menarik Hinata dan membawanya ke… tunggu, bukankah ini pintu ruangan kerja Kageyama?
Mampus, ujar Hinata di dalam hati. Wajahnya mulai memucat. Apa yang akan Tanaka dan Nishinoya lakukan sudah bisa ditebaknya, dan itu jelas-jelas bukan sesuatu yang baik. Itu akan mencelakakannya. "Kalian berdua, kumohon ja—GYAAA!" Suara soprannya lolos begitu saja ketika jari jemari menggelitiki pinggangnya.
Hinata ingin menarik tangannya kembali untuk menutup mulut, tapi ia tidak bisa melakukannya. Begitu kedua matanya kembali terbuka, ia melihat Tanaka dan Nishinoya yang sedang menahan kedua lengannya sambil menggelitikinya.
"Ayo, ayo~ Menjeritlah yang keras!" Tanaka semakin keras menggelitikinya. Perut Hinata terasa akan meledak saking banyaknya ia tertawa. Nafasnya mulai menipis dan ia terbatuk-batuk sambil menjerit sekaligus tertawa dengan tidak elit. Astaga, mau ditaruh di mana mukanya setelah semua ini berlalu?
"Lebih keras, Shouyou! Kami ingin kau membangunkan sang raksasa yang sedang terlelap di dalam goanya—"
Seolah merasa terpanggil, 'sang raksasa' yang dimaksud Nishinoya pun membuka pintu ruangannya dengan cepat. Tanaka dan Nishinoya seketika menghentikan gerakannya, sementara Hinata berhenti bersuara.
Mampusss, Hinata membatin dengan merana, Kageyama akan melihatku dalam pakaian konyol ini!
Tak perlu melihat wajah Kageyama secara langsung, Hinata sudah tahu ia marah besar dari hawa tidak mengenakkan di sekitarnya.
"Kalian semua, sudah berapa kali kubilang untuk tidak berisik—" Kageyama menghela nafas dan membuka matanya. Saat itulah kalimatnya terhenti begitu saja. Mata birunya membola sempurna ketika mereka mendarat pada sosok Hinata yang memakai seragam seifuku. Serangan gelitikan dari kedua senpai-nya juga tidak membantu—sekarang roknya menjadi… sedikit naik ke atas, menampakkan kulit Hinata yang berwarna krim di sela-sela warna hitam pakaiannya. Nafasnya terengah-engah dan kedua pipinya memerah. Jangan lupakan rambutnya yang berantakan.
Saat ia melihat jakun Kageyama bergerak pertanda ia menelan ludah, Hinata ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa penglihatannya salah dan mungkin ia mulai terkena rabun jauh.
Karena Kageyama—sekali lagi, Kageyama yang sok keren dan selalu marah-marah itu—tidak mungkin excited melihat Hinata seperti ini.
"Oho, Ou-sama 'lapar' nih…"
Barulah ketika Tsukishima menyeletuk, Kageyama tersadar dari segala lamunan—dan mungkin imajinasinya. Aura kehitaman kembali menguar dari tubuhnya.
"Nishinoya-san, Tanaka-san. Kita harus bicara."
Setidaknya Kageyama tidak marah padanya, tapi selama lima menit ke depan ia terus menolak untuk menatap Hinata.
XOXO
Kejadian memalukan itu telah berlalu. Hinata berusaha sebisa mungkin melupakan gerakan jakun Kageyama ketika matanya mengamati Hinata dalam balutan seragam seifuku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Upaya tersebut gagal karena ia masih diharuskan mengenakan seragam sialan itu hingga ia pulang, dan juga, ia masih bisa mendengar suara Kageyama yang sedang menceramahi Nishinoya dan Tanaka—duo troublemaker di Capcorn, kata Ennoshita. Mendengar suara halus itu membuat Hinata teringat kejadian tadi. Dan karena teringat kejadian tadi, Hinata menunduk, tapi ia justru melihat rok yang sedang dipakainya, jadi ia juga malah semakin teringat kejadian tadi. Serba salah. Satu-satunya solusi mungkin adalah pulang dan tidur.
Di sampingnya, Yachi dan Yamaguchi—yang tumben memisahkan diri dari Tsukishima—menemani Hinata dan bermaksud menghiburnya. Padahal Hinata tidak terlalu yakin kata-kata baik mereka dapat menghapus ingatan akan kejadian barusan.
Hinata pasti akan butuh waktu beberapa saat hingga ia bisa menatap Kageyama dengan normal.
"Hinata, semua orang juga pernah melakukan ini, kok. B-Bahkan ada yang lebih memalukan kok!" ucap Yachi berusaha menghibur.
Hinata masih memasang tampang madesu. "Kageyama melihatku seperti ini…"
"Tapi dia tampak senang, jadi tidak apa-apa, kan?" celetuk Yamaguchi dengan inosen. Saat Hinata dan Yachi memandanginya dengan mata terbelalak, barulah ia menyadari kalimatnya yang salah. "Euh, em… S-Setidaknya dia tidak marah padamu… kan?"
"Tapi, sekarang aku jadi semakin terlihat tidak keren di matanya! Dia akan semakin meremehkanku!" Hinata mengendus-endus dan matanya mulai berkaca-kaca, lalu, "HUWAAAA! AKU INGIN PULAAANG!"
Yachi dan Yamaguchi panik. Mereka buru-buru mengucapkan kalimat-kalimat menenangkan yang sepertinya tidak memberikan efek apapun.
Hinata baru diam ketika sosok Kageyama nampak berjalan ke arahnya dari seberang ruangan—di mana Nishinoya dan Tanaka masih duduk bersimpuh, meskipun seringai di wajah mereka tidak mengatakan bahwa mereka kapok.
"Oi, boke." Kageyama meletakkan satu tangan pada pinggangnya. Tangannya yang lain terangkat untuk menunjuk ruang kerjanya dengan ibu jari. "Kau tidak ada kerjaan, kan? Antarkan kopi ke ruanganku."
Oke. Hinata menarik nafas. Segala rasa malunya terhadap Kageyama hilang seketika. Terima kasih banyak, Kageyama, Hinata berkata di dalam hati dengan sarkas yang kental.
"Kenapa aku harus mematuhi perintahmu seperti budak? Aku kemari untuk bekerja sebagai animator, bukan tukang antar kopi," geram Hinata.
Kageyama menaikkan sebelah alis seolah Hinata baru saja mengatakan bahasa alien. "Tapi kau tidak ada pekerjaan secara nyata hari ini. Kau menganggur. Jadi daripada diam saja, lebih baik kau antarkan kopi ke ruanganku. Apa susahnya?"
Hinata menggertakkan gigi-giginya. "Kampret," umpatnya di balik nafas, berhati-hati agak tidak terdengar Kageyama, sebelum ia berlalu keluar ruangan dengan kostum memalukan tersebut.
Lima belas menit kemudian, Hinata telah berada di depan ruangan Kageyama. Tangannya mengetuk pintu kayu itu—lebih tepatnya menggedor—tapi setelah beberapa detik ia menunggu, tidak ada jawaban. Pada kali ketiga ia mengetuk pintu itu, masih tak ada juga jawaban.
Hinata menghembuskan nafas. "Merepotkan sekali…"
Setelah beberapa saat menunggu lebih lama lagi, Hinata pada akhirnya memutuskan untuk nekat masuk ke sana. Tak masalah, ia hanya akan meletakkan kopi di atas meja, lalu pergi. Bukannya ia tertarik pada fakta kalau ia bisa saja menemukan hal privat berbau mesum di kantor Kageyama—jelas bukan. Ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan perintah bos manja itu.
Hinata menarik nafas tajam, merasa seolah dirinya hendak menjelajah gua tempat tinggal raksasa yang entah apa isinya, lalu membuka pintu perlahan dan kembali menutupnya. Dirinya merengut bosan ketika yang didapatinya di dalam sana adalah dinding ber-wallpaper cokelat tua—sungguh sebuah selera yang suram—sehingga seluruh ruangan menjadi gelap. Satu-satunya penerangan hanya berasal dari sebuah lampu di ujung ruangan, dekat komputer Kageyama. Sesuai namanya, ruangan kerja itu hanya berisi rak-rak dan meja kerja serta tiga buah Personal Computer, dan Hinata ragu Kageyama tertarik dengan sesuatu berbau mesum, jadi ia segera melangkah menuju meja kecil di tengah ruangan untuk meletakkan kopinya.
Tapi sebelum itu dapat dilakukannya, Hinata menyempatkan diri untuk menoleh, dan ia melihatnya.
Di sana, terdapat sebuah komputer yang sedang dinyalakan, dan pada layarnya… tidak, tidak terpampang gambar atau video erotik, melainkan isi dari sebuah folder berupa thumbnail gambar-gambar. Dan bukan gambar biasa, tapi gambar perempuan-perempuan yang berbeda-beda.
Hinata mendadak merasa ingin pingsan.
Kenapa Kageyama punya sebuah folder berisi gambar perempuan? J-Jangan-jangan, ia melihat gambar perempuan itu sambil… 'menyentuh' dirinya sendiri? Tapi, dilihat dari pakaian para wanita di foto yang sopan, mereka tidak mungkin dijadikan bahan imajinasi ero, jadi itu tidak mungkin.
Lalu, apa? Perempuan itu mantan Kageyama—perempuan sebanyak itu? Atau mereka adalah calon yang mendaftar? Bisa jadi. Namun bayangan Kageyama yang melihat satu per satu foto wanita itu, sendiri, di dalam kantornya yang remang-remang, membuat Hinata ingin menjerit entah kenapa.
Hinata dikagetkan oleh suara pintu yang terbuka. Tak ada suara apapun selama beberapa saat, sebelum ia mendengar suara nafas yang ditarik secara cepat—ah, itu hal yang selalu dilakukan Kageyama setiap kali ia marah.
Jadi, memang benar? Orang yang ada di depan pintu, di belakang Hinata, adalah Kageyama?
Hinata berada dalam masalah besar.
"Hinata."
Yang dipanggil menelan ludah. Orang itu memang Kageyama! Sial, dari nadanya ia terdengar marah besar. Hinata berdoa semoga ia bisa pulang hidup-hidup.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"M-Mengantar kopi?" Hinata menjawab dengan suara bergetar. "T-Tadi kau yang memintanya."
"Itu benar, tapi apakah kau tidak diajari bahwa kau tidak boleh asal memasuki ruangan orang lain?" Perkataan Kageyama pelan dan penuh penekanan, dan Hinata merasa semakin menciut.
"A-Aku tidak ingin terus membawa-bawa kopimu, jadi aku pikir lebih baik kuletakkan saja di ruanganmu—"
"Tatap orang yang kau ajak bicara, Hinata." Hinata berjengit mendengar nada suara Kageyama. Oh, dia serius marah sekarang. Terlebih, Kageyama belum pernah memanggil Hinata tanpa kata-kata 'bodoh', 'boke', dan semacam itu. Tapi baru saja ia memanggil namanya. Hanya namanya, tanpa embel-embel apapun.
Perlahan, Hinata membalikkan badan, dan ia memberanikan diri untuk menatap Kageyama. Keputusan yang salah. Hinata merasa kedua lututnya melemas ketika ia bertemu dengan dua biner biru tua itu. Warna mata Kageyama terlihat semakin gelap karena emosi di dalamnya, dan sekarang mereka mirip dengan laut yang tenang sebelum adanya badai besar.
"Apa yang kau lihat?" Kageyama melangkah maju. Hinata melangkah mundur. "Kau melihat layar komputerku?"
"M… Mungkin?" Hinata berujar dengan lirih. Sekarang ia mengerti mengapa Kageyama menjadi bos, sedangkan ia tidak. Ketika ia marah, Kageyama benar-benar ngeri sehingga semua bawahannya akan dengan mudah patuh kepadanya.
Diam sejenak. Sebelum akhirnya, "Jangan asal masuk ke kantor orang, Hinata bodoh!"
Sepasang tangan mendarat pada bahu Hinata untuk mengguncangkan tubuh mungilnya, tapi Hinata yang terlanjur kaget pun kehilangan kendali atas kopi di tangannya, dan hasilnya—
Cairan kehitaman itu mendarat pada kemeja Kageyama dan menumpahi lantai di bawah mereka. Bagus sekali, Hinata! Melakukan hal sebodoh itu di saat Kageyama marah, sungguh brilian. Beruntung cangkir dan piring kaca di tangannya belum terlepas dari genggamannya—kalau itu terjadi, pasti Kageyama akan bertambah marah.
Kageyama menatap kemeja dan lantainya yang kotor. "Dasar… bodoh!"
Suara Kageyama benar-benar serak, murni dengan kemarahan, dan itu membuat Hinata semakin panik. Hinata lekas meletakkan cangkir kaca berserta piring kecilnya di atas lantai. Sembari mengeluarkan sebuah sapu tangan, ia berdiri dan mengulurkan sapu tangan itu kepada Kageyama, tapi kemudian—
"Ma-Maaf, Kageya—Hyaa!"
Satu hal bodoh lagi dilakukannya.
Ia terpeleset oleh cairan kopi di bawah kedua kakinya. Kenapa kecerobohannya memilih untuk kambuh di saat-saat yang tidak tepat?
Hinata pun terjatuh ke belakang dengan mata membola kaget. Tangannya refleks menggapai sesuatu untuk dipegangnya—dan sesuatu itu adalah benda yang berada di depannya, alias Kageyama. Benar, Hinata baru saja terpeleset dan ia memegang kerah Kageyama.
Segalanya terasa terjadi dengan begitu lambat. Hinata jatuh di atas lantai, seluruh punggungnya basah karena air kopi—ew, gumamnya di dalam hati. Tapi ia tidak sempat berlama-lama merasa jijik karena detik berikutnya ia sadar terdapat sesuatu yang menimpa perutnya.
Bukan, bukan sesuatu. Tapi seseorang.
"Oww…" Hinata merintih dan pelan-pelan membuka matanya. Biner cokelat langsung melebar seketika.
Karena di hadapannya, seorang Kageyama Tobio yang angkuh itu, jatuh di atas Hinata. Dan bukan sekadar jatuh. Kepalanya nyungsep pada perut (tidak sixpack) Hinata, dan tubuhnya… Wajah Hinata memanas.
Tubuh Kageyama berada di antara kedua kaki Hinata. Pose yang sangat sugestif. Apalagi, paha Hinata tanpa sengaja menjepit leher Kageyama, dan Hinata baru saja menyadari bahwa wajah Kageyama sebenarnya sangat dengan dengan bagian… privatnya.
Seluruh kulit di bagian leher hingga pipinya terbakar karena malu.
"K-Kageyama…" Bagus, kenapa suaranya memilih untuk menjadi lirih secara otomatis? Sekarang ia jadi terlihat seperti tokoh perempuan di animanga ecchi yang habis menjadi korban 'kecelakaan' dan berakhir dengan pose canggung. Benar juga, kalau dipikir-pikir, bukankah ini mirip dengan adegan di animanga ecchi?
Tunggu, kenapa ia jadi membicarakan genre keramat itu!?
Hinata tidak menyadari Kageyama yang mengangkat wajah berekspresi horornya.
"Hinata."
"Ya…?"
"Ada hukuman untukmu setelah ini."
Kali ini, Hinata tidak repot-repot menahan jeritan tersiksanya.
XOXO
Hinata duduk bersimpuh di atas sofa Kageyama sambil terisak pelan, seragam seifuku-nya sudah lama lepas dan digantikan oleh pakaian yang Hinata gunakan saat berangkat ke kantor.
Sehabis insiden tadi, ia disuruh membersihkan kantor Kageyama hingga keadaannya seperti semula. Itu, ditambah dengan ia harus duduk bersimpuh di atas sofa hingga Kageyama pulang. Dan semua orang di kantor itu tahu bahwa Kageyama pulang paling belakangan. Semua ini langsung membuat rahang Hinata merosot karena Kageyama tak tanggung-tanggung dalam memberikan hukuman.
Besok adalah hari di mana ia akhirnya bisa beraksi dan bekerja secara real, tapi kalau tubuhnya pegal-pegal karena hukuman Kageyama, bagaimana jadinya?
Toh, sebenarnya ini salahnya juga. Kalau saja ia tidak asal masuk ke kantor Kageyama, ia tidak perlu melihat foto perempuan di komputer Kageyama, dan ia juga tidak akan membuat Kageyama marah.
Hinata mengeluarkan isakan kecil sekali lagi. "Kageyama-kun, maaf." Tidak ada jawaban. Pria yang bersangkutan masih sibuk berhadapan dengan komputernya. "Kau masih marah?"
"Sudah kubilang diam, aku sedang bekerja!" bentak Kageyama sambil menyisir rambutnya dengan tangan, membuat beberapa helai mencuat ke atas dengan lucu. "Dan tidak, aku tidak marah padamu, selama kau tidak mengulangi itu lagi."
Hinata memandangi belakang kepala Kageyama dengan pandangan berkaca-kaca. "Benarkah?"
Kageyama menghembuskan nafas, memijit kening, lalu mematikan komputernya. "Iya, iya. Kumaafkan. Lain kali jangan asal masuk ke kantorku." Mendengar suara Kageyama yang agak melembut membuat Hinata merasa luar biasa lega. Hinata tanpa sadar mengulum senyum.
"Kalau begitu, syukurlah… Aku kira kau akan selamanya mengabaikanku…"
"Kalau itu maumu, dengan senang hati."
"Jangan, Kageyama! Jangan lakukan itu!"
Kageyama berdiri untuk mengambil tas kerjanya dan berkemas. Keduanya diam sejenak. Hinata diam karena ia tak tahu harus berkata apa lagi—ia takut dirinya akan salah mengucap sesuatu. Diliriknya Kageyama dari balik poninya, dan ia hampir terkesima melihat pemandangan Kageyama yang acak-acakan. Entah mengapa ia terlihat lebih tampan seperti itu.
Tunggu, dirinya ini berpikir apa, sih!?
Kageyama menjinjing tas kerjanya sambil melirik Hinata dengan sebelah alis terangkat. "Ayo. Kau mau pulang, tidak?"
"E-Eh!? M-Mm, tentu saja!"
Akhirnya, bebas juga!
Hinata berhati-hati meluruskan kedua kakinya yang kesemutan. Memastikan bahwa kesemutannya hilang, ia memberanikan diri untuk berdiri dan berjalan keluar ruangan demi mengambil tas selempangnya yang berada di luar. Kageyama menyusul Hinata dan mengunci pintu ruang kerjanya, lalu setelah mengangguk sebagai pertanda 'ayo jalan', mereka berdua melangkah menuju elevator.
Suasana sunyi. Hampir semua orang sudah pulang hari itu, jadi hanya ada Kageyama dan Hinata di dalam elevator.
Dan karena Hinata pada dasarnya benci berdiam-diaman—ia adalah orang yang selalu bersuara keras—ia memutuskan untuk memulai sebuah topik.
"Hari ini memang berantakan… t-tapi besok, aku tidak akan membuat kesalahan! Pasti!"
Kageyama terdiam. Hinata pikir ia mengabaikannya, tapi rupanya tidak, karena kemudian Kageyama menoleh untuk melemparinya ekspresi merengut yang khas. "Bocah sepertimu mana mungkin bisa bekerja dengan becus."
"Kau seumuran denganku!"
"Kau tetap bocah."
"Kalau begitu akan kubuktikan!" Hinata meringis mendengar suara melengkingnya sendiri, lalu ia memperkecil volumenya. "Aku akan membuktikan bahwa aku pantas bekerja di sini. Tunggu saja besok, Kageyama."
Tanpa disangka, Kageyama membalas tatapan penuh determinasi Hinata, sebelum akhirnya memalingkan wajah. "Kalau aku menunggu dengan semangat, paling-paling yang akan kudapatkan adalah kejadian serupa dengan tadi."
Kageyama baru menyadari bahwa ia salah bicara ketika Hinata menjadi benar-benar diam di sebelahnya. Ia menoleh sekali lagi dalam upaya menyembunyikan wajahnya.
Samar-samar, Hinata melihat warna merah pada telinga Kageyama, dan tahu-tahu wajahnya sendiri ikut merona. Jadilah dua orang tersebut saling menyembunyikan wajah merah mereka dengan otak mereka yang me-replay kejadian memalukan tadi berulang kali.
Mungkin sebelum Hinata mendeklarasikan keyakinannya pada Kageyama—dan sebelum ia melakukan apapun, ada baiknya ia melupakan kejadian hari ini terlebih dulu.
TO BE CONTINUED
*Level = sebuah stage dari game, bisa berupa map, dungeon, dll.
Whooo, selesai! Akhirnya ada waktu luang juga… T_T
Chapter ini memang belum mulai menjelajah pekerjaan di industri game-nya, tapi itu bakal dimulai di next chapter. Penelusuran tiap karakter juga akan ada seiring jalannya cerita.
Anyway… sekarang kita tahu kalau Kageyama suka liat Hinata crossdress. Mayyybe… :p
Dan kenapa Sawamura Daichi menempatkan Hinata di bawah Kageyama? Karena dia nge-ship mereka /ya bukanlah
Ada yang ingat scene di mana Hinata flashback pas dia memakai kostum seifuku? Itu bakal ada plotnya sendiri, tapi masih luamaaa banget. Nanti bakal dijelaskan di side story-nya Hinata. Sekali lagi, itu masih lama banget. Belasan chapter dari sekarang (?) mungkin.
Yep, tim kecil yang dikepalai Kageyama ini hanya terdiri dari sepuluh orang, tapi tentu saja dalam kerjanya mereka dibantu oleh pegawai dari kelompok lain. Hanya saja, mereka disebut luar biasa karena bisa menangani sebagian besar pekerjaan yang dibebankan pada mereka dengan baik. Eng, misalnya Yachi disuruh menggambar lima level sekaligus dalam waktu satu minggu, dan dia bisa. *gasp* Yah, ini fanfic, jadi kemampuan orang-orangnya juga rada-rada mengkhayal sedikit lah, wkwk :v
Ini adalah daftar karakter dengan peran mereka.
Kageyama: Main Programmer and Lead Designer
Hinata: Animator
Noya: VFX Engine Programmer
Tanaka: Layout Tool Programmer
(Oke, siapa sangka duo baka TanaNoya ini ternyata adalah programmer?)
Tsukki: AI Programmer
Yamaguchi: Background Graphic Designer
Ennoshita: Image Illustration Storyboard Designer
Narita: Technical Designer
Kinoshita: Character Texture Programmer
Yachi: Level Designer
Mungkin untuk ke depannya, role mereka bakal dijelaskan satu per satu, tapi yang jelas bukan sekarang karena… saya lelah. /gubrak
Sebelum saya menutup rambling ini, saya akan membalas beberapa review terlebih dulu.
not Indonesian: I'm not sure you'll read this, but I want to let you know that your review is very lovely. If I were good at English, I would translate this story into that language, but unfortunately, my English still sucks, so yeah… Thank you for your review!
SharyApple: Kelihatannya kamu tahu banyak tentang dunia gaming/programming deh :o Apa kamu senang bidang itu, atau malah itu pekerjaan kamu? (kepo mode on). Soalnya temen-temen saya pada ga minat bidang itu, dan saya merasa kesepian (malah curhat *sweatdrop). Daripada itu—oh my. Fanart. FAN. ART. Kamu serius fanfic ini bisa membangkitkan nafsumu untuk menggambar fanart!? Serius!? *peluk* Iya, saya punya dugaan kalau programmer dewa itu sengak karena dilihat dari komentar mereka di forum-forum aja udah ketahuan. Judes-judes gimana gitu. Anyway, ini sudah lanjut. Thx for reading!
hachia: Ini sudah dilanjut :D Terima kasih sudah baca dan review! Terus ikuti ceritanya yah! :)
Oh iya, ada kabar yang… gembira? Tergantung kalian pengikut fanfic ini atau nggak. Intinya, saya memutuskan untuk fokus ke fanfic ini dulu! *Yaaay!* Semoga fanfic ini bisa bertahan sampai complete, ya! :))
Sekali lagi saya peringatkan, saya belum pernah bekerja di kantor game sebelumnya, jadi segala sesuatu di sini belum tentu akurat.
Well, sampai sini dulu bacotan saya. Sampai jumpa di chapter depan! Doakan semoga update-nya nggak lama! *thumbs up*
