~ Twilight 'New Moon' [CHANBAEK VERSION] ~

Remake Novel Karya Stephenie Meyer

Happy Reading Guys...

~Percayalah Typo Merupakan Karya Terindah~

Aku 99,9% yakin sedang bermimpi. Alasan mengapa aku begitu yakin sedang bermimpi adalah, pertama, aku berdiri di bawah cahaya matahari yang terang benderang—sorot matahari yang menyilaukan, sesuatu yang tak pernah terjadi di Forks, Washington, kampung halamanku yang selalu berhujan—dan kedua, aku sedang menatap nenekku, Grandma Marie. Padahal Grandma sudah meninggal enam tahun lalu, jadi itu bukti nyata untuk menguatkan diriku tentang mimpi ini.

Grandma tak banyak berubah; wajahnya masih tepat seperti yang kuingat. Kulitnya lembut dan layu, terlipat-lipat membentuk ribuan keriput kecil yang menggelantung lembut pada tulang di bawahnya. Seperti aprikot kering, tapi dengan gumpalan rambut putih tebal yang mengelilingi wajahnya bagaikan awan.

Mulut kami—mulut Grandma berupa kerutan keriput—mengembang membentuk senyum terkejut pada saat bersamaan. Ternyata Grandma juga tidak menyangka akan bertemu denganku.

Aku baru saja hendak bertanya kepadanya; begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam benakku—Apa yang Grandma lakukan di sini dalam mimpiku? Ke mana saja Grandma selama enam tahun terakhir ini? Apakah Grandpa baik-baik saja, dan apakah mereka sudah bertemu, di mana pun mereka berada sekarang—tapi Grandma membuka mulut saat aku juga membuka mulut, jadi aku berhenti untuk memberinya kesempatan lebih dulu. Grandma juga terdiam, kemudian kami sama-sama tersenyum melihat kecanggungan kami.

"Baekhyun?"

Bukan Grandma yang memanggil namaku, dan kami pun sama-sama menoleh untuk melihat siapa gerangan yang bergabung dalam reuni kecil kami.

Sebenarnya tanpa melihat pun aku sudah tahu siapa dia; itu suara yang pasti akan kukenali di mana pun—kukenal dan kurespons, tak peduli apakah aku sedang bangun atau tidur... atau bahkan mati, aku yakin. Suara yang untuknya aku rela berjalan melintasi api—atau, agar tidak terdengar terlalu dramatis, mengarungi hujan dan sengatan hawa dingin yang selalu datang setiap hari.

Chanyeol.

Walaupun aku selalu senang bertemu dengannya—baik sadar maupun tidak—dan walaupun aku hampir yakin aku sedang bermimpi, tak urung aku panik juga saat Chanyeol berjalan menghampiri kami di bawah terik matahari yang menyengat.

Aku panik karena Grandma tak tahu aku mencintai vampir—tak seorang pun mengetahuinya—jadi bagaimana aku bisa menjelaskan fakta bahwa sorot matahari yang benderang memantul di kulit Chanyeol dalam bentuk ribuan keping pelangi, membuatnya terlihat seakan-akan terbuat dari kristal atau berlian?

Well, Grand,a, kau pasti sudah melihat pacarku berkilau kilau. Memang begitulah dia kalau berada di bawah sinar matahari. Jangan khawatir...

Apa yang Chanyeol lakukan? Alasan utama ia tinggal di Forks, kota yang curah hujannya tertinggi di dunia, adalah supaya ia bisa berada di luar rumah pada siang hari tanpa takut rahasia keluarganya terbongkar. Tapi sekarang ia malah melenggang santai menghampiriku—senyum termanis menghiasi wajahnya yang rupawan— seakan-akan hanya ada aku di sini.

Detik itu juga, aku berharap bukan aku satu-satunya yang terkecualikan oleh bakat misteriusnya; biasanya aku justru bersyukur menjadi satu-satunya orang yang pikirannya tak bisa dibaca Chanyeol. Tapi sekarang aku malah berharap ia bisa membaca pikiranku juga, supaya ia bisa mendengar peringatan yang kuteriakkan dalam pikiranku.

Aku melayangkan pandangan panik kepada Grandma, dan melihat ternyata itu sudah terlambat. Grandma sudah berpaling menatapku, dan sorot matanya sama terkejutnya dengan sorot mataku. Chanyeol—masih menyunggingkan senyumnya yang begitu menawan hingga membuat hatiku bagai menggelembung dan meledak memecahkan dada—merangkul bahuku dan membalikkan tubuhku sehingga aku berdiri berhadap-hadapan dengan nenekku.

Ekspresi Grand,a membuatku terkejut. Alih-alih tampak ngeri, ia malah menatapku takut-takut, seperti menunggu disemprot. Dan ia berdiri dengan posisi sangat aneh—sebelah tangan terangkat canggung menjauhi tubuhnya, terulur, dan kemudian tertekuk di udara. Seperti merangkul seseorang yang tidak bisa kulihat, seseorang yang tidak tampak...

Barulah kemudian, saat melihat gambaran yang lebih besar, aku menyadari ada pigura emas yang membingkai sosok nenekku. Tidak mengerti, aku mengangkat tangan yang tidak memeluk pinggang Chanyeol dan mengulurkannya untuk menyentuh nenekku. Grandma meniru gerakanku dengan tepat, seperti cermin. Tapi di mana jari-jari kami seharusnya bertemu, tak ada apa-apa kecuali kaca yang dingin...

Dengan keterkejutan memusingkan, mimpiku kemudian berubah jadi mimpi buruk. Tak ada Grandma.

Itu aku. Bayanganku dalam cermin. Aku—tua, keriput, dan layu.

Chanyeol berdiri di sampingku, bayangannya tidak terpantul dalam cermin, begitu rupawan, dan selamanya berumur tujuh belas tahun.

Chanyeol menempelkan bibirnya yang sempurna dan sedingin es ke pipiku yang keriput.

"Selamat ulang tahun Baekhyun," bisiknya.

Aku terbangun kaget—kelopak mataku terbuka lebar—dan terkesiap. Cahaya kelabu muram, cahaya matahari yang seperti biasa selalu tersaput mendung, menggantikan cahaya matahari yang terang benderang dalam mimpiku.

Hanya mimpi, kataku dalam hati. Itu tadi hanya mimpi. Aku menarik napas dalam-dalam,kemudian terlonjak lagi waktu alarmku berbunyi. Kalender kecil di sudut permukaan jam menginformasikan padaku hari ini tanggal enam Mei.

Hanya mimpi, tapi di satu sisi setidaknya mimpi itu cukup meramalkan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Hari ini hari ulang tahunku. Aku genap delapan belas tahun.

Dan kini setelah itu terjadi, ternyata jauh lebih buruk daripada yang kutakutkan akan terjadi. Aku bisa merasakannya—aku lebih tua. Setiap hari aku bertambah tua, tapi ini lain, lebih parah, pertambahan usiaku diukur sekarang. Aku sudah delapan belas tahun.

Sementara Chanyeol tidak akan pernah jadi delapan belas tahun.

Ketika sedang menggosok gigi, aku nyaris terkejut karena wajah yang terpantul di cermin tidak berubah. Kupandangi diriku, mencari tanda-tanda akan munculnya keriput di kulitku yang seputih gading.

Tapi satu-satunya kerutan yang ada hanya di dahi, dan aku tahu kalau aku bisa rileks, kerutan itu akan hilang. Tapi aku tidak bisa. Alisku tetap terpatri membentuk garis khawatir di atas mata cokelatku yang hawatir.

Itu hanya mimpi, aku mengingatkan diriku mimpi... tapi juga mimpi burukku yang terburuk.

Aku melewatkan sarapan, terburu-buru ingin meninggalkan rumah secepat mungkin. Tapi aku tak sepenuhnya bisa menghindari ayahku, jadi terpaksalah aku meluangkan beberapa menit berlagak riang. Aku benar-benar berusaha menunjukkan kegembiraan mendapat kado-kado yang sudah kuminta untuk tidak usah dibelikan, tapi setiap kali tersenyum, rasanya seakan-akan tangisku hendak pecah.

Aku bersusah -payah menahan diri saat mengendarai truk menuju sekolah. Aku tak bisa merasakan perasaan lain selain putus asa saat berbelok memasuki lapangan parkir di belakang gedung Forks High School dan melihat Chanyeol bersandar tanpa bergerak di Volvo-nya yang mengkilat, bagaikan patung marmer dewa berhala keindahan yang telah lama dilupakan orang.

Ia bahkan lebih tampan daripada dalam mimpiku tadi. Dan ia di sana menungguku, seperti biasa setiap hari. Perasaan putus asa itu sesaat lenyap; digantikan rasa takjub. Bahkan setelah setengah tahun pacaran dengannya, aku masih belum percaya aku pantas memperoleh keberuntungan sebesar ini. Saudara perempuannya, Luhan, berdiri di sebelahnya, menungguku juga.

Tentu saja Chanyeol dan Luhan bukan saudara kandung, tapi mereka sama-sama berkulit putih pucat, mata mereka juga sama -sama memiliki secercah warna keemasan yang aneh, dengan bayangan gelap menyerupai memar di bawahnya. Wajah Luhan sama seperti Chanyeol, juga sangat indah. Bagi orang yang tahu— seperti aku—kemiripan itu menunjukkan siapa mereka sesungguhnya.

Melihat Luhan menunggu di sana—mata cokelatnya bersinat-sinar girang, tangannya menggenggam benda segi empat kecil terbungkus kertas warna perak—membuat keningku berkerut. Aku sudah memberi tahu Luhan aku tidak menginginkan apa-apa, apa pun, baik itu kado maupun perhatian, untuk hari ulang tahunku. Jelas, keinginanku ternyata diabaikan.

Kubanting pintu Chevy '53 milikku—kepingan kecil karat beterbangan mengotori baju hitamku yang basah—dan berjalan lambat-lambat menghampiri mereka. Luhan berlari cepat menghampiriku, wajah mungilnya berseri-seri di bawah rambut hitamnya yang sedikit bergelombang.

"Selamat ulang tahun, Baekhyun!"

"Ssstt!" desisku, memandang berkeliling untuk memastikan tak ada yang mendengar perkataannya barusan.

Hal terakhir yang kuinginkan adalah perayaan dalam bentuk apa pun untuk memperingati hari muram ini. Luhan tak menggubrisku.

"Kau mau membuka kadonya sekarang atau nanti saja?" tanyanya penuh semangat sementara kami menghampiri Chanyeol yang masih menunggu.

"Tidak ada kado-kadoan," protesku. Sepertinya Luhan akhirnya bisa mencerna suasana hatiku yang buruk.

"Oke... nanti saja, kalau begitu. Kau suka album kiriman ibumu? Dan kamera dari Yunho?"

Aku mendesah. Tentu saja ia tahu aku dapat kado apa saja. Bukan hanya Chanyeol satu-satunya anggota keluarga mereka yang memiliki kemampuan istimewa. Luhan pasti bisa "melihat" apa yang ingin diberikan kedua orangtuaku begitu mereka memutuskannya sendiri.

"Yeah. Kadonya bagus-bagus."

"Menurutku idenya bagus sekali. Kau kan hanya satu kali jadi murid senior seumur hidupmu. Jadi ada baiknya pengalaman itu didokumentasikan"

"Kau sendiri, sudah berapa kali jadi murid senior?"

"Itu lain."

Saat itu kami sudah sampai di tempat Chanyeol, dan ia mengulurkan tangan padaku. Aku menyambutnya dengan penuh semangat, sejenak melupakan suasana hariku yang muram. Kulit Chanyeol, seperti biasa. licin, keras, dan sangat dingin. Dengan lembut diremasnya jari-jariku.

Kutatap mata topaz-nya yang berkilauan, dan hatiku bagai diremas keras-keras. Mendengar detak jantungku yang kencang, Chanyeol tersenyum lagi.

Ia mengangkat tangannya yang bebas dan menelusuri bagian luar bibirku dengan ujung jarinya yang dingin sambil bicara.

"Jadi, sesuai hasil pembicaraan, aku tak boleh mengucapkan selamat ulang tahun padamu, benar begitu?"

"Ya. Itu benar," Aku tidak pernah bisa menirukan cara bicaranya yang mengalun serta artikulasinya yang sempurna dan formal. Kemampuan yang hanya bisa dipelajari pada abad lalu.

"Hanya mengecek," Chanyeol menyurukkan jari-jarinya ke rambutnya yang berantakan "Siapa tahu kau berubah pikiran. Kebanyakan orang sepertinya menikmati hari ulang tahun dan hadiah."

Luhan tertawa, suaranya bergemerincing, seperti genta angin.

"Tentu saja kau akan menikmatinya. Semua orang akan bersikap baik padamu hari ini dan menuruti kemauanmu, Baekhyun. Hal terburuk apa yang bisa terjadi?" Itu pertanyaan retoris yang tak perlu dijawab.

"Bertambah tua," aku tetap menjawab, dan suaraku kedengarannya tidak semantap yang kuinginkan.

Di sampingku, senyum Chanyeol mengejang kaku.

"Delapan belas kan tidak terlalu tua," sergah Luhan.

"Bukankah wanita biasanya menunggu sampai mereka berumur 29 baru merasa tua?"

"Delapan belas berarti lebih tua daripada Chanyeol," aku bergumam. Chanyeol mendesah.

"Teknisnya begitu," sambung Luhan, menjaga nadanya tetap ringan. "Tapi kan, hanya setahun lebih tua."

Dan kupikir... kalau aku bisa merasa yakin akan masa depan yang kuinginkan, yakin aku bisa bersama Chanyeol selamanya, juga Luhan dan semua anggota keluarga Park yang lain (lebih disukai tidak sebagai wanita tua yang keriputan)... maka satu atau dua tahun lebih tua takkan terlalu masalah bagiku. Tapi tekad Chanyeol sudah bulat bahwa tidak akan ada perubahan bagiku di masa depan.

Masa depan yang membuatku jadi seperti dia—membuatku abadi juga. Kebuntuan, begitulah ia menyebutnya.

Jujur saja, aku tidak benar-benar bisa memahami jalan pikiran Chanyeol. Apa enaknya bisa mati? Menjadi vampir tampaknya bukan hal yang tidak enak—setidaknya kalau melihat bagaimana keluarga Park menjalaninya.

"Jam berapa kau akan datang ke rumah?" sambung Luhan, mengganti topik. Dari ekspresinya, ia merencanakan sesuatu yang justru ingin kuhindari.

"Aku tidak tahu aku punya rencana datang ke sana."

"Oh, yang benar saja, Baekhyun!" keluh Luhan. "Kau tidak akan merusak kegembiraan kami, kan?"

"Lho, kusangka di hari ulang tahunku aku berhak menentukan apa yang aku inginkan."

"Aku akan menjemputnya di rumah Yunho usai sekolah," kata Chanyeol pada Luhan, tak menggubrisku sama sekali.

"Aku harus bekerja," protesku.

"Ah, siapa bilang," tukas Luhan dengan nada menang. "Aku sudah bicara dengan mengenainya. Dia mau kok mengganti jadwal shiftmu. Dia kirim salam 'Selamat Ulang Tahun'."

"Aku—aku tetap tidak bisa datang," kataku terbata-bata, gelagapan mencari alasan. "Aku, belum sempat nonton Romeo and Juliet untuk kelas bahasa Inggris."

Luhan mendengus. "Ah, kau sudah hafal Romeo and Juliet!'

"Tapi kata Mr. Berty, kami harus melihat sandiwara itu dilakonkan untuk bisa sepenuhnya menghargainya—karena begitulah yang diinginkan Shakespeare."

Chanyeol memutar bola matanya.

"Kau kan sudah nonton filmnya," tuduh Luhan.

"Tapi versi yang 1960-an belum. Kata Mr. Berty, versi itulah yang terbaik."

Akhirnya, Luhan menghapus senyum kemenangan itu dari wajahnya dan memelototiku.

"Ini bisa mudah, atau bisa juga sulit, Baekhyun, tapi pokoknya— "

Chanyeol memotong ancamannya. "Rileks, Luhan. Kalau Baekhyun ingin nonton film. dia boleh nonton film. Ini kan hari ulang tahunnya."

"Nah, kan," imbuhku.

"Aku akan membawanya ke sana sekitar jam tujuh," sambung Chanyeol. "Kau punya banyak waktu untuk menyiapkan semuanya."

Tawa Luhan kembali berderai. "Kedengarannya asyik. Sampai nanti malam, Baekhyun!" Ia nyengir—senyum lebarnya menampakkan sederet giginya yang sempurna dan mengilat—lalu mengecup pipiku dan berlari menuju kelas pertamanya sebelum aku sempat merespons.

"Chanyeol, please—" aku mulai memohon, tapi Chanyeol menempelkan jarinya yang dingin ke bibirku.

"Nanti saja kita diskusikan. Kita bisa terlambat masuk kelas."

Tidak ada yang repot-repot memandangi kami saat kami seperti biasa mengambil tempat di bagian belakang kelas, sekarang hampir semua kelas kami sama—luar biasa bagaimana Chanyeol bisa membuat para pegawai tata usaha yang wanita mau membantunya.

Chanyeol dan aku sudah bersama-sama cukup lama sehingga tak lagi menjadi sasaran gosip. Bahkan Kris Wu sudah tak lagi melayangkan pandangan muram yang dulu sempat membuatku merasa sedikit bersalah. Sekarang ia malah tersenyum, dan aku senang karena sepertinya ia bisa menerima bahwa kami hanya bisa berteman.

Kris banyak berubah selama liburan—wajahnya kini tidak lagi bulat tembam, membuat tulang pipinya tampak semakin menonjol, dan rambut pirang pucatnya pun dipotong model baru; kini rambutnya tidak jabrik lagi, melainkan sedikit lebih panjang dan di-gel hati-hati untuk menimbulkan kesan agak berantakan.

Mudah saja mengetahui dari mana ia mendapatkan inspirasi model rambut itu—tapi penampilan Chanyeol bukan sesuatu yang bisa diperoleh dengan cara meniru. Seiring dengan berjalannya hari, aku mempertimbangkan beberapa cara untuk menghindar dari entah acara apa yang akan dilangsungkan di rumah keluarga Park malam ini.

Pasti menyebalkan jika harus mengikuti perayaan, padahal suasana hatiku justru sedang ingin berduka. Tapi, yang lebih parah lagi, pasti akan ada perhatian dan hadiah-hadiah di sana. Perhatian bukan sesuatu yang diinginkan orang yang gampang cedera seperti aku. Tak ada yang ingin menjadi sorotan bila besar kemungkinan kau bakal jatuh terjerembab.

Dan aku sudah terang- terangan meminta—Well, memerintahkan, lebih tepatnya—agar tidak ada yang memberiku kado tahun ini. Kelihatannya bukan hanya Yunho dan Jaejoong yang memutuskan untuk tidak menggubrisnya.

Aku tidak pernah punya banyak uang, tapi itu bukan masalah bagiku. Jaejoong membesarkan aku dengan gaji guru TK. Pekerjaan Yunho juga tidak memberinya gaji besar—dia kepala polisi di sini, di Forks yang hanya kota kecil. Satu-satunya pendapatan pribadiku hanya didapat dari hasil bekerja tiga kali seminggu di toko perlengkapan olahraga setempat. Di kota sekecil ini, bisa mendapat pekerjaan saja sudah untung. Setiap sen yang kuhasilkan langsung masuk ke tabungan untuk biaya kuliah nanti.

Chanyeol punya banyak uang—aku bahkan tidak ingin membayangkan jumlahnya. Uang hampir tak ada artinya bagi Chanyeol atau anggota keluarga Park lainnya. Itu hanya sesuatu yang semakin bertambah karena mereka memiliki waktu tak terbatas dan saudara perempuan dengan kemampuan ajaib memprediksi tren pasar modal.

Chanyeol sepertinya tidak mengerti mengapa aku tidak ingin ia menghabiskan uangnya untukku— mengapa aku justru merasa tidak enak bila diajak makan di restoran mahal di Seattle, mengapa ia tidak diizinkan membelikan aku mobil yang bisa melaju di atas kecepatan 88 kilometer per jam, atau mengapa aku tidak membiarkan ia membayar uang kuliahku.

Tapi bagaimana aku bisa membiarkannya memberiku banyak hal sementara aku tidak bisa membalasnya? Ia, entah untuk alasan apa, ingin bersamaku. Jika ia memberiku hal lain lagi, itu hanya akan membuat kami makin tidak seimbang.

Waktu terus berjalan, baik Chanyeol maupun Luhan tak lagi mengungkit masalah hari ulang tahunku, jadi aku mulai merasa sedikit rileks. Kami duduk di meja kami yang biasa saat makan siang.

Ada semacam gencatan senjata aneh di meja kami. Kami bertiga—Chanyeol, Luhan, dan aku— duduk di sisi meja paling selatan. Karena sekarang anggota keluarga Park lain yang "lebih tua" dan lebih mengerikan sudah lulus, Luhan dan Chanyeol tidak terlihat terlalu mengancam, jadi bukan hanya kami yang duduk di meja ini.

Teman-temanku yang lain, Kris dan Jessica yang sedang dalam fase canggung sehabis

putus, Xiumin dan Chen, Yongguk dan Nancy. Yang terakhir itu tidak termasuk kategori teman, semua duduk di meja yang sama, di seberang garis pemisah yang tak kasatmata. Garis itu lenyap di hari-hari cerah saat Chanyeol dan Luhan bolos sekolah, dan pada hari seperti itu, obrolan bisa berlangsung sangat lancar dan melibatkan aku.

Chanyeol dan Luhan tidak menganggap sikap teman-temanku yang agak mengasingkan mereka itu aneh atau menyinggung perasaan, seperti yang pasti bakal kurasakan kalau itu terjadi padaku.

Mereka nyaris tidak memerhatikannya. Orangorang selalu merasa agak canggung berdekatan dengan keluarga Park, malah bisa dibilang nyaris takut, untuk alasan yang mereka sendiri tak bisa jelaskan. Aku pengecualian yang jarang dalam hal itu.

Terkadang justru Chanyeol yang merasa terganggu melihat betapa nyaman aku di dekatnya. Menurutnya itu berbahaya bagi kesehatanku— pendapat yang selalu kutolak mentah-mentah setiap kali ia mengutarakannya.

Siang berlalu dengan cepat. Sekolah usai, dan seperti biasa, Chanyeol mengantarku ke truk. Tapi kali ini, ia membukakan pintu penumpang. Luhan pasti membawa mobilnya pulang supaya Chanyeol bisa memastikan aku tidak kabur.

Aku bersedekap dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berteduh dari hujan yang menderas.

"Sekarang kan hari ulang tahunku, jadi bolehkan aku yang menyetir?"

"Aku berpura-pura hari ini bukan hari ulang tahunmu, seperti yang kauinginkan."

"Kalau ini bukan hari ulang tahunku, berarti aku tidak harus pergi ke rumahmu malam ini..."

"Baiklah," Chanyeol menutup pintu dan berjalan melewatiku untuk membuka pintu pengemudi.

"Selamat ulang tahun."

"Ssst," desahku setengah hati. Aku naik melewati pintu yang sudah terbuka, dalam hati berharap Chanyeol menerima tawaranku yang lain. Chanyeol mengotak-atik radio sementara aku menyetir, ia menggeleng sebal.

"Sinyal radiomu jelek sekali."

Keningku berkerut. Aku tidak suka Chanyeol menjelek-jelekkan trukku. Trukku bagus kok— punya kepribadian.

"Ingin stereo yang bagus? Naik mobilmu saja." Aku begitu gugup menghadapi rencana Luhan, ditambah suasana hatiku yang memang sudah muram, jadi kata-kata yang keluar dari mulutku terdengar lebih tajam daripada yang sebenarnya kumaksudkan.

Aku jarang marah kepada Chanyeol, dan nadaku yang ketus membuat Chanyeol mengatupkan bibir rapat-rapat menahan senyum. Setelah aku memarkir trukku di depan rumah Yunho, Chanyeol merengkuh wajahku dengan kedua tangan. Chanyeol memegangku sangat hati- hati, hanya ujung-ujung jarinya yang menempel lembut di pelipis, tulang pipi, dan daguku. Seolah-olah aku gampang pecah. Dan itu benar—bila dibandingkan dengan dia, paling tidak.

"Seharusnya hari ini suasana hatimu lebih baik dibanding kan hari-hari lain" bisiknya. Aroma napasnya yang manis membelai wajahku.

"Dan kalau suasana hatiku jelek?" tanyaku, napasku tidak teratur.

Bola mata Chanyeol yang keemasan menyalanyala.

"Sayang sekali."

Kepalaku sudah berputar-putar saat Chanyeol mendekatkan kepalanya ke wajahku dan menempelkan bibirnya yang sedingin es ke bibirku. Tepat seperti yang ia inginkan, sudah pasti, aku langsung melupakan semua kekhawatiranku dan berkonsentrasi untuk ingat menghirup napas dan mengeluarkannya.

Bibir Chanyeol terus menempel di bibirku, dingin, licin, dan lembut, sampai aku merangkulkan kedua tanganku ke lehernya dan membiarkan diriku hanyut dalam ciumannya, agak terlalu antusias. Aku bisa merasakan bibirnya tertekuk ke atas saat ia melepaskan wajahku dan melepaskan tanganku yang mendekap tengkuknya erat-erat.

Chanyeol sangat berhati- hati dalam utusan hubungan fisik, karena ia ingin aku tetap hidup. Meski tahu aku harus memberi jarak aman antara kulitku dengan gigi Chanyeol yang setajam silet dan berlapis racun itu, aku cenderung melupakan halhal remeh semacam itu saat ia menciumku.

"Jangan nakal," desahnya di pipiku. Chanyeol menempelkan bibirnya sekali lagi dengan lembut ke bibirku, kemudian melepaskan pelukannya, melipat kedua lenganku di perut.

Denyut nadi menggemuruh di telingaku. Kutempelkan sebelah tanganku ke dada. Jantungku berdebar sangat keras di bawah telapak tangan.

"Menurutmu, apakah aku bisa jadi semakin baik dalam hal ini?" tanyaku, menujukannya pada diriku sendiri. "Bahwa jantungku suatu saat nanti akan berhenti mencoba melompat keluar dari dadaku setiap kali kau menyentuhku?"

"Aku benar-benar berharap itu tidak akan terjadi," jawab Chanyeol, sedikit puas pada diri sendiri.

Kuputar bola mataku. "Ayo kita nonton keluarga Capulet dan Montague saling menghabisi, bagaimana?"

"Your wish, my command"

Chanyeol duduk berselonjor di sofa sementara aku menyetel film, mempercepat bagian pembukaan. Waktu aku duduk di pinggir sofa di depannya, Chanyeol merangkul pinggangku dan menarikku ke dadanya. Memang tidak senyaman bersandar di punggung sofa, karena dada Chanyeol keras dan dingin—dan sempurna—seperti pahatan es, tapi aku jelas lebih menyukainya. Chanyeol menarik selimut tua yang tersampir di punggung sofa dan menghamparkannya menutupi tubuhku, supaya aku tidak membeku karena bersentuhan dengan tubuhnya.

"Kau tahu, sebenarnya aku kurang suka pada Romeo," Chanyeol berkomentar saat filmnya mulai.

"Memangnya Romeo kenapa?" tanyaku, agak tersinggung. Romeo salah satu karakter fiksi favoritku. Sampai aku bertemu Chanyeol

"Well, pertama-tama, dia mencintai Rosaline ini—apa menurutmu itu bukan plin-plan namanya? Kemudian, beberapa menit setelah pernikahan mereka, dia membunuh sepupu Juliet. Itu sangat tidak cerdas. Kesalahan demi kesalahan. Menghancurkan kebahagiaannya sendiri?"

Aku mendesah. "Kau mau aku menontonnya sendirian?"

"Tidak, aku akan lebih banyak menontonmu." Jari-jarinya menyusur membentuk pola di kulit lenganku, membuat bulu kudukku meremang. "Kau akan menangis, tidak?"

"Kemungkinan besar," aku mengakui, "kalau aku memperhatikan."

"Aku tidak akan mengganggumu kalau begitu." Tapi aku merasakan bibirnya di rambutku, dan itu sangat mengganggu.

Akhirnya film itu berhasil menyita perhatianku, sebagian besar berkat "jasa" Chanyeol membisikkan dialog- dialog Romeo di telingaku—suaranya yang merdu bak beledu membuat suara si aktor terdengar lemah dan kasar. Dan aku benar-benar menangis, membuat Chanyeol geli, saat Juliet terbangun dan menemukan suami barunya sudah meninggal.

"Harus kuakui, aku agak iri padanya dalam hal ini," kata Chanyeol, mengeringkan air mataku.

"Dia cantik sekali."

Chanyeol mengeluarkan suara seperti jijik. "Aku bukan iri karena wanitanya—tapi karena mudahnya dia bunuh diri," Chanyeol mengklarifikasi dengan

nada menyindir. "Kalian manusia gampang sekali mati! Tinggal menelan setabung kecil ekstrak tumbuhan..."

"Apa?" aku kaget.

"Itu pernah terpikir olehku, dan aku tahu dari pengalaman Junmyeon, prosesnya tidak sesederhana itu. Aku bahkan tidak tahu berapa kali dia mencoba bunuh diri awalnya... begitu sadar dia sudah berubah menjadi ..." Suara Chanyeol, yang sempat berubah serius, kini ceria lagi. "Dan sampai sekarang ternyata dia masih sehat walafiat."

Aku berbalik supaya bisa membaca ekspresi wajahnya. "Ngomong apa sih kau?" tuntutku. "Apa maksudmu, itu pernah terpikir olehmu?"

"Musim semi lalu, waktu kau... nyaris terbunuh..." Chanyeol terdiam sejenak untuk menarik napas dalam-dalam, berusaha keras kembali memperdengarkan nada menggoda. "Tentu saja aku berusaha fokus untuk menemukanmu hidup-hidup, tapi sebagian otakku menyusun rencana cadangan. Seperti kataku tadi, tak semudah yang bisa dilakukan manusia."

Sedetik, kenangan akan perjalanan terakhirku ke Phoenix membanjiri otakku dan membuatku merasa pusing. Aku bisa melihat semuanya dengan sangat jelas—terik matahari yang menyilaukan, gelombang panas yang menguap dari beton saat aku berlari sekuat tenaga, tergesa-gesa, dan putus asa, untuk menemukan vampir sadis yang ingin menyiksaku sampai mati.

Junsu, menunggu di ruang cermin bersama ibuku sebagai sandera— atau aku menyangka begitu. Aku tidak tahu itu hanya tipuan. Sama halnya Junsu juga tidak tahu saat itu Chanyeol sedang lari untuk menyelamatkan aku; Chanyeol tiba tepat waktu, meski nyaris terlambat. Tanpa berpikir, jari-jariku meraba bekas luka berbentuk bulan sabit di tanganku yang suhunya selalu beberapa derajat lebih rendah daripada bagian kulitku yang lain.

Aku menggeleng—seolah ingin menepis kenangan buruk itu jauh-jauh—dan berusaha mencerna maksud Chanyeol. Perutku melilit.

"Rencana cadangan?" ulangku.

"Well, aku tidak mau hidup tanpamu Baekhyun," Chanyeol memutar bola matanya, seolah-olah jawaban itu sudah sangat jelas, tak perlu ditanyakan lagi. "Tapi aku tak tahu bagaimana melakukannya—aku tahu Jongin dan Sehun tidak akan mau membantu... jadi kupikir mungkin aku akan pergi ke Italia dan melakukan sesuatu untuk memprovokasi Volturi." Aku tidak ingin percaya bahwa Chanyeol serius, tapi matanya terlihat muram, terfokus pada sesuatu di kejauhan saat ia mempertimbangkan berbagai cara untuk menghabisi nyawanya sendiri.

Seketika aku marah.

"Apa itu Volturi?" tuntutku.

"Volturi itu nama sebuah keluarga," Chanyeol menjelaskan, matanya masih tampak muram. "Keluarga sejenis kami, sangat tua dan berkuasa. Di dunia kami, mereka bisa dianggap keluarga bangsawan, kurasa. Junmyeon pernah tinggal sebentar dengan mereka dulu, di Italia, sebelum kemudian menetap di Amerika—kau ingat ceritanya?"

"Tentu saja aku ingat."

Aku tidak akan pernah lupa saat pertama kali aku ke rumah Chanyeol, mansion putih besar jauh di pelosok hutan, di tepi sungai, atau kamar tempat Junmyeon—yang bisa dianggap ayah Chanyeol—menyimpan koleksi lukisan yang menggambarkan sejarah pribadinya.

Lukisan yang paling meriah, paling berwarna-warni, sekaligus yang paling besar yang ada di sana, menggambarkan kehidupan Junmyeon di Italia. Tentu saja aku ingat potret diri lelaki kalem, masing-masing berwajah mempesona seperti malaikat serafin, berdiri di balkon paling tinggi, di tengah pusaran berbagai warna yang bercampur aduk.

Walaupun lukisan itu sudah berabad- abad usianya, Junmyeon—si malaikat pirang—tetap tak berubah. Dan aku ingat ketiga malaikat lain, kenalan Junmyeon dari masa awal hidupnya. Chanyeol tak pernah menyebut nama Volturi untuk trio rupawan itu, dua berambut hitam, satu berambut seputih salju. Ia menyebut mereka Yesung, Kyuhyun, dan Key, malaikat malam penjaga seni...

"Intinya, kau tidak boleh membuat kesal keluarga Volturi," sambung Edward, memutus lamunanku. "Kecuali kau memang ingin mati— atau apa sajalah istilahnya untuk kami." Suaranya sangat tenang, sehingga terkesan ia nyaris bosan oleh kemungkinan itu.

Kemarahanku berubah menjadi kengerian. Kurengkuh wajahnya yang seperti marmer dan kuremas kuat-kuat.

"Kau jangan sekali-kali, jangan sekali-kali, berpikir seperti itu lagi!," sergahku. "Tak peduli apa pun yang terjadi padaku, kau tidak boleh mencelakakan dirimu sendiri.!"

"Aku tidak akan pernah membahayakan dirimu lagi, jadi itu tidak perlu diperdebatkan lagi.".

"Membahayakan aku! Kusangka kita sudah sepakat semua ketidakberuntungan itu adalah salahku?" Amarahku menjadi -jadi. "Berani-beraninya kau berpikir begitu?" Pikiran bahwa Chanyeol tak mau hidup lagi, bahkan walaupun aku sudah mati, terasa sangat menyakitkan.

"Apa yang akan kaulakukan, bila situasinya dibalik?"

"Itu lain."

Tampaknya Chanyeol tidak mengerti di mana letak perbedaannya. Ia berdecak.

"Bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu?" Aku pucat memikirkan kemungkinan itu "Kau mau aku menghabisi nyawaku sendiri?''

Secercah kepedihan menyaput garis-garis wajahnya yang sempurna.

"Kurasa aku bisa mengerti maksudmu... sedikit," Chanyeol mengakui. "Tapi apa yang bisa kulakukan tanpa kau?."

"Apa pun yang sudah kau lakukan selama ini sebelum aku datang dan memperumit keberadaanmu."

Chanyeol mendesah. "Kau membuatnya terdengar sangat mudah.

"Seharusnya memang begitu. Aku toh tidak semenarik itu."

Chanyeol sudah hendak membantah, tapi lalu mengurungkan niatnya. "Tidak perlu

diperdebatkan," ia mengingatkan aku. Mendadak, ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih formal, menggeserku ke samping sehingga kami tak lagi berdempetan.

"Yunho?." tebakku.

Chanyeol tersenyum. Sejurus kemudian aku mendengar suara mobil polisi menderu memasuki halaman. Aku mengulurkan tangan, meraih tangan Chanyeol dan menggenggamnya erat-erat. Hanya itu yang bisa ditolerir ayahku.

Yunho masuk sambil menenteng kardus pizza.

"Hai, Anak-anak." Ia nyengir padaku. "Kupikir, sekali-sekali boleh juga kau dibebaskan dari tugas memasak dan mencuri piring di hari ulang tahunmu. Lapar?"

"Tentu. Tetima kasih, Dad."

Yunho tak pernah mengomentari kondisi Chanyeol yang kelihatannya tak punya selera makan. Ia sudah terbiasa melihat Chanyeol melewatkan makan malam.

"Anda tidak keberatan saya mengajak Baekhyun keluar malam ini, kan?" tanya Chanyeol setelah Yunho dan aku selesai makan.

Kupandangi Yunho penuh harap. Siapa tahu ayahku memiliki konsep bahwa ulang tahun adalah acara keluarga, jadi aku harus tinggal di rumah—ini ulang tahun pertamaku bersamanya, ulang tahun pertama sejak ibuku, Jaejoong, menikah lagi dan pindah ke Florida, jadi aku tidak tahu bagaimana ayahku menyikapinya.

"Boleh saja," Yunho menjelaskan, dan harapanku langsung musnah. "Jadi aku tidak bisa menemani... Ini" Yunho meraup kamera yang ia belikan atas saran Jaejoong.

Karena aku membutuhkan foto-foto untuk mengisi albumku. Seharusnya Yunho tidak melemparkan kamera itu padaku— sejak dulu aku memiliki kelemahan

dalam hal koordinasi. Kamera itu menyapu ujung ujung jariku, dan terpental ke lantai. Chanyeol menyambarnya sebelum benda itu jatuh membentur lantai linoleum.

"Gesit juga kau," komentar Yunho. "Kalau malam ini ada acara seru di rumah keluarga Park, Baekhyun, jangan lupa memotret. Kau tahu sendiri bagaimana ibumu—dia pasti sudah tak sabar ingin segera melihat foto-foto itu."

"Ide bagus, Yunho," kata Chanyeol, menyerahkan kamera itu padaku.

Aku mengarahkan kamera itu pada Chanyeol, dan menjepretnya. "Berfungsi dengan baik."

"Bagus. Hei, kirim salam pada Luhan, ya. Dia sudah lama tidak main ke sini." Sudut-sudut mulut Yunho tertarik ke bawah.

"Baru juga tiga hari, Dad," aku mengingatkan ayahku. Yunho tergila- gila pada Luhan.

Ia jadi dekat dengannya musim semi lalu ketika Luhan membantuku melewati masa-masa pemulihan yang sulit; Yunho merasa sangat berterima kasih pada Luhan karena menyelamatkannya dari keharusan memandikan anak perempuan yang sudah hampir dewasa.

"Akan kusampaikan padanya."

"Oke. Bersenang-senanglah kalian malam ini" Jelas, itu pengusiran secara halus, Yunho sudah beringsut ke ruang duduk dan pesawat televisi.

Chanyeol tersenyum menang dan meraih tanganku, menarikku keluar dari dapur. Sesampainya di trukku, Chanyeol membukakan pintu penumpang untukku lagi, dan kali ini aku tidak membantah. Aku masih sulit menemukan belokan tersamar yang menuju rumahnya di kegelapan malam seperti ini.

Chanyeol mengemudikan mobil ke arah utara melintasi Forks, kentara sekali jengkel dengan batas kecepatan yang bisa ditempuh Chevy-ku yang berasal dari zaman prasejarah ini. Mesinnya mengerang lebih keras daripada biasanya saat

Chanyeol membawanya di atas kecepatan delapan puluh kilometer per jam.

"Pelan -pelan," aku mengingatkan dia.

"Tahu apa yang akan sangat kausukai? Audi coupe mungil yang bagus sekali. Suara mesinnya halus, tenaganya kuat..."

"Tidak ada yang salah dengan trukku. Dan omong-omong tentang hal tidak penting yang berharga mahal, kalau kau tahu apa yang bagus untukmu, kau tidak mengeluarkan uang untuk membeli hadiah ulang tahun."

"Satu sen pun tidak"

"Bagus."

"Bisakah kau membantuku?"

"Tergantung apa yang kauminta."

Chanyeol mendesah, wajahnya yang tampan tampak serius. "Baekhyun ulang tahun terakhir yang kami rayakan adalah saat Jongin berulang tahun di tahun 1935. Tolonglah santai sedikit, dan jangan terlalu menyulitkan malam ini. Mereka semua sangat bersemangat."

Selalu agak mengagetkanku setiap kali Chanyeol menyinggung hal-hal semacam itu. "Baiklah, aku akan bersikap manis."

"Mungkin seharusnya aku mengingatkanmu..."

"Ya, please"

"Waktu kubilang mereka semua sangat bersemangat... maksudku mereka semua."

"Semua?" Aku tersedak. "Lo, kukira Jongin dan Kyungsoo sedang di Afrika." Semua orang di Forks mengira anak-anak keluarga Park yang sudah dewasa pindah ke luar kota untuk kuliah tahun ini ke Darmouth, tapi aku tahu yang sebenarnya.

"Jongin ingin datang."

"Tapi... Kyungsoo?"

"Aku tahu. Baekhyun. Jangan khawatir, dia akan bersikap sangat baik."

Aku diam saja. Tidak semudah itu untuk tidak merasa khawatir. Tak seperti Luhan, kakak "angkat" Chanyeol yang lain, Kyungsoo yang sangat cantik itu, tidak begitu menyukaiku. Sebenarnya, lebih dari sekadar tidak suka. Bagi Kyungsoo, aku penyusup tak diundang yang mengetahui kehidupan rahasia keluarganya.

Aku merasa sangat bersalah memikirkan situasi saat ini, karena dugaanku, kepergian Kyungsoo dan Jongin untuk waktu lama adalah salahku, walaupun diam-diam aku senang ia tidak ada.

Jongin, kakak Chanyeol yang bertubuh kekar dan suka bercanda, nah kalau dia, aku benar- benar merasa kehilangan. Dalam banyak hal, ia sudah seperti kakak lelaki yang ingin kumiliki sejak dulu... hanya saja jauh, jauh lebih mengerikan.

Chanyeol memutuskan mengganti topik. "Jadi, kalau kau tidak memperbolehkan aku membelikanmu Audi, adakah hal lain yang kau inginkan untuk ulang tahunmu?"

"Kau tahu apa yang kuinginkan." Kata-kata itu meluncur dari bibirku dalam bentuk bisikan.

Kerutan dalam muncul di dahi Chanyeol yang semulus marmer. Jelas ia berharap tadi tidak mengalihkan topik pembicaraan dari masalah Kyungsoo. Rasanya kami sudah sering sekali berdebat hari ini.

"Jangan malam ini, Baekhyun. Please?"

"Well, mungkin Luhan bisa mengabulkan keinginanku."

Chanyeol menggeram—suaranya dalam dan mengancam. "Ini tidak akan menjadi ulang tahunmu yang terakhir, Baekhyun," ia bersumpah.

"Itu tidak adil!" Kalau tidak salah aku mendengar gigi-giginya menggemertak.

Kami sudah berhenti di depan rumah sekarang. Lampu-lampu bersinar terang dari setiap jendela di dua lantai pertama. Deretan lentera Jepang yang terang bergelantungan di atap teras, membiaskan pendaran cahaya lembut di pohon-pohon cedar besar yang mengelilingi rumah. Mangkuk-mangkuk besar berisi bunga—mawar merah jambu—berjajar sepanjang tangga lebar yang mengarah ke pintupintu depan.

Aku mengerang.

Chanyeol menarik napas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan diri. "Namanya juga pesta," ia mengingatkanku. "Berusahalah bersikap baik."

"Tentu," gerutuku.

Chanyeol turun untuk membukakan pintu bagiku, lalu mengulurkan tangan.

"Aku punya pertanyaan."

Ia menunggu dengan waswas.

"Kalau film ini dicuci cetak," kataku, memainkan kamera di tanganku, "apakah kau akan muncul di foto?"

Tawa Chanyeol pecah berderai. Ia membantuku turun dari mobil, menarikku menaiki tangga, dan masih terus tertawa saat membukakan pintu untukku.

Mereka semua menunggu di ruang duduk yang besar dan berwarna putih. Begitu aku melangkah masuk, mereka menyambutku dengan teriakan nyaring, "Selamat ulang tahun, Baekhyun!" sementara aku menunduk dengan wajah merah padam.

Luhan lah asumsiku, yang telah menutup semua bagian yang permukaannya datar dengan lilin pink dan lusinan mangkuk kristal berisi ratusan mawar. Ada meja bertaplak putih diletakkan di sebelah grand piano Chanyeol, dengan kue tart pink di atasnya, bunga-bunga mawar, tumpukan piring kaca, dan gundukan kecil kado terbungkus kertas warna perak.

Ini ratusan kali lebih parah daripada yang bisa kubayangkan.

Chanyeol. merasakan kegalauanku. merangkul pinggangku dengan sikap menyemangati, lalu mengecup puncak kepalaku.

Orang tua Chanyeol. Junmyeon dan Yixing—tetap semuda dan serupawan biasanya—berdiri paling dekat ke pintu. Yixing memelukku hati-hati, rambutnya yang halus dan sewarna karamel membelai pipiku saat ia mengecup dahiku, kemudian Junmyeon merangkul pundakku.

"Maaf tentang ini. Baekhyun," bisiknya. "Kami tidak sanggup mengekang Luhan."

Kyungsoo dan Jongin berdiri di belakang mereka. Kyungsoo tidak tersenyum, tapi setidaknya ia tidak melotot. Jongin nyengir lebar. Sudah berbulan-bulan aku tidak bertemu mereka; aku sudah lupa betapa luar biasa cantiknya Kyungsoo—nyaris menyakitkan melihatnya. Dan benarkah Jongin sejak dulu sudah begitu... besar?

"Kau sama sekali tidak berubah," kata Jongin, berlagak seolah-olah kecewa. "Sebenarnya aku berharap kau sedikit berubah, tapi ternyata wajahmu tetap merah, seperti biasa."

"Terima kasih banyak, Jongin," kataku, semakin merah padam.

Jongin tertawa. "Aku harus keluar dulu sebentar" —ia terdiam untuk mengedipkan mata pada Luhan dengan gaya mencolok—"Jangan berbuat macam-macam selagi aku tidak ada."

"Akan kucoba."

Luhan melepas tangan Sehun dan bergegas maju, giginya berkilauan di bawah cahaya lampu. Sehun juga tersenyum, tapi tetap berdiri di tempat. Ia bersandar, jangkung dan pirang, di tiang di kaki tangga. Setelah beberapa hari terkurung bersama di Phoenix, kusangka ia sudah tidak menghindariku lagi.

Tapi sikapnya sekarang kembali seperti sebelumnya—sedapat mungkin menghindariku—begitu terbebas dari kewajiban sementaranya untuk melindungiku. Aku tahu itu bukan masalah pribadi, hanya tindakan pencegahan, dan aku mencoba untuk tidak terlalu sensitif mengenainya. Sehun agak sulit menyesuaikan diri dengan diet keluarga Park dibandingkan para anggota keluarga yang lain; bau darah manusia lebih sulit ditolaknya dibanding yang lain-lain—ia belum terlalu lama mencoba.

"Waktunya buka kado!" seru Luhan. Ia menggamit sikuku dengan tangannya yang dingin dan menarikku ke meja penuh tart dan kado-kado mengilap.

Aku memasang wajah martirku yang terbaik. "Luhan, sudah kubilang aku tidak menginginkan apa-apa—"

"Tapi aku tidak mendengarkan," sela Luhan, senyum puas tersungging di bibirnya. "Bukalah." Ia mengambil kamera dari tanganku dan menggantinya dengan kotak segiempat besar warna perak.

Kotak itu sangat ringan hingga terasa kosong.

Label di atasnya menandakan kado itu dari Jongin, Kyungsoo, dan Sehun. Waswas, kurobek kertas itu dan kupandangi kotak di dalamnya.

Itu kotak peralatan elektronik, dengan angkaangka pada namanya. Kubuka kotak itu, berharap mengetahui isinya. Tapi kotak itu kosong.

"Ehm... terima kasih."

Senyum Kyungsoo terkuak sedikit. Sehunterbahak. "Itu stereo untuk mobilmu; ia menjelaskan. "Jongin sedang memasangnya sekarang supaya kau tidak bisa mengembalikannya."

Luhan selalu selangkah di depanku.

"Terima kasih Sehun, Kyungsoo." kataku pada mereka, nyengir saat teringat keluhan Chanyeol siang tadi tentang radioku-hanya jebakan, ternyata. "Terima kasih Jongin!" seruku dengan suara lebih keras.

Aku mendengar suara tawanya yang berdentum dari dalam trukku, dan mau tak mau aku ikut tertawa.

"Berikutnya, buka kadoku dan kado Chanyeol," kata Luhan, begitu bersemangat hingga suaranya terdengar melengking tinggi. Di tangannya ada kotak kecil pipih.

Aku menoleh dan melayangkan pandangan tajam pada Chanyeol. "Kau sudah janji."

Sebelum ia sempat menjawab. Jongin berlari-lari melewati pintu.

"Tepat pada waktunya!" serunya. Ia menyelinap di belakang Sehun, yang juga beringsut lebih dekat dari biasanya agar bisa melihat lebih jelas.

"Aku tidak mengeluarkan uang satu sen pun," Chanyeol meyakinkan aku. Ia menyingkirkan seberkas rambut dari wajahku, membuat kulitku bagai tergelitik

Aku menghirup napas dalam-dalam dan menoleh pada Luhan. "Berikan padaku," aku mendesah, Jongin terkekeh gembira.

Aku mengambil kado kecil itu dari tangannya, memutar bola mataku pada Chanyeol sambil menyelipkan jariku di bawah pinggiran kertas dan menyentakkannya di bawah selotip.

"Sial," gumamku saat kertas itu mengiris jariku; aku menarik jariku dari bawah kertas untuk mengetahui kondisinya. Setitik darah muncul dari luka kecil itu.

Sesudahnya, segalanya terjadi begitu cepat.

"Tidak!" raung Chanyeol.

Ia menerjangku hingga terjengkang menabrak meja. Meja terbalik, menjatuhkan kue tart dan kado-kado, juga bunga-bunga dan piring- piring. Aku mendarat di tengah kepingan kristal yang pecah berantakan.

Sehun menabrak Chanyeol, dan suaranya terdengar seperti benturan batu-batu besar saat terjadi longsor.

Ada lagi suara lain, geraman mengerikan yang sepertinya berasal jauh dari dasar dada Sehun. Sehun berusaha menerobos melewati Chanyeol, mengatupkan giginya hanya beberapa sentimeter saja dari wajah Chanyeol.

Detik berikut Jongin menyambar Sehun dari belakang, menguncinya dalam pitingan tangan yang besar, tapi Sehun memberontak, matanya yang liar dan kosong hanya terfokus padaku.

Selain shock, aku juga merasa kesakitan. Aku terbanting ke lantai di dekat piano, kedua tangan refleks terbentang lebar untuk menahan jatuhku, tepat menimpa kepingan-kepingan kaca yang tajam. Baru sekarang aku merasakan kesakitan yang pedih dan menusuk yang menjalar dari pergelangan tangan ke lipatan siku.

Pusing dan linglung, aku mendongak dari darah merah cerah yang merembes keluar dari lenganku—dan melihat enam pasang mata vampir yang tiba-tiba menatapku dengan sorot kelaparan.

.

.

.

.

.

TBC

Ayo dong vomen... Biar aku semangat lanjutin ... Hehe