.
Dear diary,
Hari ini Naruto mengucapkan selamat pagi padaku. Aahhh, hatiku rasanya ingin meledak. Aku hanya bisa membalas salam Naruto dengan singkat meskipun aku sebenarnya ingin mengobrol panjang lebar dengannya seperti teman-teman yang lain. Setiap kali Naruto berbicara padaku, lidahku langsung terasa kelu dan jantungku berdebar kencang. Itu membuatku grogi dan cara bicaraku menjadi terbata-bata. Andai saja aku bisa membuang jauh-jauh sikap pemaluku ini.
Saat jam pelajaran Biologi, Sensei memberikan tugas kelompok untuk mengenali anatomi tubuh hewan. Kami diharuskan untuk membedah perut kodok dan mengenali satu per satu organ tubuhnya. Ewwww…
Aku satu kelompok dengan Kiba dan Shino. Kami sempat berdebat mengenai siapa yang harus memegang pisau bedah. Pada akhirnya Shino yang harus melakukannya. Tanpa ragu Shino langsung menyayat perut hewan itu, sedangkan aku sendiri merasa gemetar. Ketika kami mulai mengamati isi perut kodok, Kiba dan hampir separuh orang di kelas langsung menahan mual. Bahkan wajah Kiba sampai sepucat kertas. Aku heran sekaligus kagum melihat Shino masih tetap bersikap tenang. Sedangkan aku harus dibawa ke UKS karena pingsan. Ugh, sangat memalukan.
Ino mengatakan bahwa Sasuke yang membawaku ke UKS. Tampaknya reaksi Shino dan Kiba masih kurang cepat sehingga Sasuke-lah yang menahan kepalaku agar tidak terbentur lantai saat jatuh pingsan.
Saat aku mengucapkan terima kasih pada Sasuke, ia hanya menganggukkan kepalanya saja. Dari dulu, aku selalu takut ketika berhadapan dengan Sasuke. Kurasa bukan takut, lebih tepatnya merasa terintimidasi. Sasuke dengan tatapan matanya yang tajam dan kepribadiannya yang dingin sangat berbeda dengan sosok Naruto yang hangat dan ceria. Tapi jika Sasuke rela membawaku ke UKS seorang diri tanpa bantuan bukankah itu berarti dibalik sikapnya yang dingin dan acuh sebenarnya hatinya sangat baik? mungkin mulai dari sekarang aku harus bersikap lebih ramah lagi pada Sasuke.
Aku masih tidak percaya Sasuke sanggup membopongku sendirian, meskipun aku tidak gemuk bukan berarti tubuhku ringan. Aku sangat malu ketika membayangkan diriku berada di gendongan Sasuke seperti seorang puteri. Jantungku masih berdebar-debar kencang setiap kali membayangkannya.
.
