Main Cast :
Jeon Jeong Guk / Jungkook.
Kim Tae Hyung / V.
.
Support Cast :
Min Yoon Gi / Suga.
Park Ji Min.
Kim Seok Jin / Jin.
Kim Nam Joon / Rapmon.
Jung Ho Seok / JHope.
.
Genre : Yaoi, Romance, Brothership, School life, Incest.
.
Rated : T-M.
.
Haiiii, lama ya?
Maaf ya, soalnya gue juga lagi sibuk sama TO dan ujian, maklum kelas 12 wkwkwk
Okey langsung cekidot aja ya guys!
Previous Chapter
.
Mata tajam Taehyung menatap lurus mata sayu Jungkook, perlahan, tatapan Taehyung yang berkilat kaku, melembut bersamaan dengan jari- jemari Taehyung yang terselip diantara jari- jemari Jungkook membuat Jungkook terenyuh. Jungkook tau ini salah, namun dia juga tak bisa mundur lagi, dan Taehyung sudah menggenggam nya begitu erat, jadi Jungkook memutuskan untuk menutup kedua mata mungilnya seraya mengeratkan tautan jemarinya dengan Taehyung..
.
Dan saat itu, Jungkook tau kalau bibir tebal kakaknya, Taehyung, telah mendarat sempurna di atas bibir tipisnya..
.
.
Chapter 2
.
Taehyung memagut lembut bibir adiknya, matanya terpejam lembut namun terkesan kaku, pertanda dirinya sendiri ragu dengan apa yang dilakukannya saat ini. Sementara Jungkook hanya bisa mencengkram erat lengan kakaknya, berusaha memberi tahu sang kakak lewat bahasa tubuhnya kalau dirinya mereasa cukup tertekan setelah semua yang baru saja terjadi.
Tangan besar Taehyung mengelus lembut rahang tegas Jungkook sebelum melepaskan pagutannya, mata tajam nya menatap mata Jungkook yang mulai sayu. Taehyung tau apa yang di inginkan Jungkook dan juga dirinya, namun Taehyung juga tau, baik dirinya maupun Jungkook belum bisa melangkah lebih jauh dari ini, walaupun mereka sudah sama- sama menyatakan perasaan mereka, entah kenapa dinding itu malah terlihat semakin besar, seolah menyentakkan mereka kuat- kuat begitu mereka ingin melangkah maju untuk meraih tangan masing- masing.
Tangan mungil Jungkook terulur ragu untuk mendorong Taehyung pelan sehingga Taehyung bangkit dari posisinya yang menindih Jungkook. Taehyung menangkap tangan gemetar Jungkook dan menggenggam nya.
"Hyung.." bisik Jungkook lirih, setetes airmata mengalir dari mata indahnya.
Taehyung tersenyum getir sebelum melepaskan genggamannya dari tangan Jungkook "Aku menginginkan mu Kook, sangat, tapi.. dinding itu terlalu sulit untuk dilalui.." Taehyung mengangkat pandangannya, menatap mata basah Jungkook.
"Apa yang akan terjadi pada kita setelah ini?" tanya Jungkook miris.
"Kita sama- sama tidak tau, tapi kita tau kalau itu semua bukanlah hal yang baik, jadi.. apa yang ingin kau lakukan?" tanya Taehyung lembut, tangannya terulur mengusap aliran airmata Jungkook.
Jungkook menunduk, pandangannya semakin kabur, dia resah dan tak bisa berpikir apapun. Keinginannya untuk bersama Taehyung begitu kuat, namun takdir menamparnya lebih kuat membuat Jungkook hanya bisa menangis.
Melihat Jungkook menunduk, Taehyung tertawa miris, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri, mengapa takdir harus seperti ini? Mengapa harus Jungkook? Mengapa harus adiknya sendiri? Tak bisakah mereka seperti remaja lain, saling menyatakan cinta dan melalui hari- hari dengan senyuman?
Jungkook mengangkat pandangannya, tangan mungilnya terulur untuk menggapai pipi Taehyung membuat Taehyung sedikit tersentak dengan sentuhan tangan dingin Jungkook di pipinya. Matanya menatap lurus mata Jungkook yang basah, Taehyung hanya mencoba membaca apa yang sedang dipikirkan Jungkook.
"Ini buruk hyung.." lirih Jungkook membuat Taehyung membelalakan mata setelahnya, karena tanpa disangkanya, adiknya itu kembali mempersatukan bibir mereka.
Tangan Taehyung memeluk pinggang Jungkook erat sembari memejamkan matanya. Rasanya begitu berdebar- debar, ciuman dengan orang yang dicintainya terasa asin oleh airmata namun meninggalkan kesan manis saat pagutan itu terlepas.
Taehyung tau, seperti kata Jungkook, ini semua akan buruk, jadi Taehyung memutuskan untuk memeluk Jungkook erat sebagai jawaban kalau dirinya akan melalui semua ini bersama Jungkook, seburuk apapun itu.
"Trusth me, and stay with me forever.."
Jungkook izin sekolah hari ini, tanpa disangka tadi pagi dirinya demam dan Taehyung tak memperbolehkan nya masuk sekolah. Jungkook sendiri tak tau kalau dirinya akan benar- benar sakit akibat kejadian semalam.
Matanya memandang keluar jendela kamarnya, salju pertama telah turun, pantas saja suhu udara terasa begitu dingin, tak terasa sebentar lagi akhir tahun akan tiba. Jungkook menarik selimutnya sampai menutupi mulutnya, dia sangat menyukai salju pertama, namun karena demamnya dia tak bisa beranjak keluar dan menikmati semua itu dan jujur itu membuatnya sedih karena salju pertama selalu mengingatkannya pada Taehyung.
Dulu saat mereka masih kecil, Taehyung kecil akan dengan semangat menarik tangan mungilnya untuk bermain diluar saat salju pertama turun, mereka akan ribut dengan permainan bola salju, membuat snowman, ataupun peri salju, lalu setelahnya mereka akan menikmati secangkir coklat hangat buatan ibu sambil merendam kaki mereka di air hangat dan menghangatkan diri mereka di depan perapian dengan berbagi selimut, sungguh momen membahagiakan. Apalagi Taehyung selalu menatap Jungkook dengan mata berbinar dan mereka saling berbagi cerita. Jungkook terkekeh parau, karena masa lalu mereka yang begitu indah, sangat kontras dengan keadaan mereka yang sekarang di selimuti kebingungan dan keraguan, karena cinta mereka pada satu sama lain tak lagi sama seperti dulu.
Jungkook menyibakkan selimutnya saat mendengar pintu kamarnya terbuka, dan mendapati para hyung nya disana membuat Jungkook tersenyum senang dan beranjak duduk.
"Kau ini, kenapa bisa mendadak demam begini sih?" omel Jimin yang dibalas cengiran oleh Jungkook.
"Ini, kami membawakan mu roti gandum dan susu coklat, harus kau habiskan oke? Agar kau cepat sembuh" ujar Seokjin sambil menyerahkan sebuah bingkisan.
Namjoon mendekat pada Jungkook dan menyentuh kening Jungkook "Dasar!" omel Namjoon setelahnya saat merasakan betapa panasnya suhu tubuh Jungkook, wajar saja pipi anak itu sampai kemerahan begitu.
Jungkook tersenyum "Terima kasih Hyung-deul, aku sudah baik sekarang karena kalian sudah datang, hehehe"
"Tentu saja kami akan datang!" ujar Hoseok ceria.
"Oya, Taehyung bilang dia ada urusan sebentar, jadi kami akan menemani mu sampai Taehyung pulang" ujar Yoongi.
"Memangnya Tae-hyung mau kemana Hyung?" ujar Jungkook mulai khawatir.
"Entahlah, tadi dia pergi keluar sekolah dengan motornya"
Mendengar kata 'motor' dan 'Taehyung' membuat Jungkook sadar kalau itu bukanlah pertanda yang baik, namun Jungkook memilih untuk tersenyum agar para hyung nya tidak khawatir "Baiklah, aku ingin tidur karena kepala ku masih pusing, kalian temani aku sampai aku tidur ya?" pinta Jungkook yang disanggupi mereka semua.
Jungkook pun merebahkan badannya dan memakai kembali selimutnya, lalu memejamkan matanya. Setelah beberapa menit menunggu, Jimin menatap Jungkook yang bernafas teratur membuat Jimin berfikir kalau Jungkook sudah tidur. Jimin pun mengajak para hyung yang lain untuk meninggalkan kamar Jungkook.
Suasana kamar Jungkook kembali hening, Jungkook membuka matanya dengan perlahan. Yap, Jungkook berbohong dengan wacana kalau dirinya ingin tidur, karena sebenarnya Jungkook ingin para Hyung nya pergi sehingga dia bisa menghubungi Taehyung walaupun dia tak berbohong soal kepalanya yang masih pening.
Tangan nya dengan cepat mengetikkan pesan untuk Taehyung dan mengirimnya. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 08.30pm, Jungkook hanya berharap Taehyung membalas pesannya dan cepat pulang.
.
To : TaeTae hyung.
Hyung kau ada dimana?
Cepat pulang..
Suara musik yang begitu keras, terasa menghancurkan pendengaran Taehyung. Padahal dia tau kalau pergi ke club bukanlah pilihan yang tepat, namun entah bagaimana dirinya terjebak dengan si bodoh nan hitam Kim Jong In yang berjanji akan menemaninya ke drift setelah ini, namun persetan dengan janjinya, Taehyung sudah benar- benar bosan disini!
"Aku pergi, jika kau ingin tetap disini silahkan!" ujar Taehyung dingin sambil beranjak.
"Hei tunggu, kau ini selalu seenaknya saja!" gerutu Jongin sambil mengikuti langkah cepat Taehyung.
Taehyung hanya menghiraukan Jongin dan berjalan lurus menuju motornya, menstaternya dan memacunya dengan cepat, menghiraukan jalanan yang licin karena salju, dan menghiraukan pesan Jungkook yang mengkhawatirkannya dan menyuruhnya untuk pulang.
Suasana arena drift tak begitu ramai, tentu saja, jalanan masih licin karena salju dan kebanyakan dari mereka enggan melakukan balapan saat jalanan licin. Namun tidak dengan Taehyung, fikirannya kacau sekarang, semua nya tertuju pada satu orang, Jungkook. Tentang adiknya dan perasaan mereka, Taehyung hampir gila. Hasrat memiliki yang begitu kuat dibatasi dengan status persaudaraan, Taehyung tak pernah punya sejarah tentang dirinya yang penyabar, jadi ini semua membuatnya muak dan benci pada dirinya sendiri, apalagi kehangatan bibir Jungkook saat melingkupi bibirnya masih sangat melekat dalam memorinya.
"Hoi, V, Kai!" itu Jackson, memanggil Taehyung dengan sebutan V, dan Jongin dengan sebutan Kai. Tak usah heran, karena begitulah mereka di kenal disini.
"Yo man!" sahut Jongin, sementara Taehyung hanya membalas highfive yang ditawarkan Jackson padanya.
"Kalian ingin balapan?"
"Tidak- tidak, aku masih cukup waras untuk tak balapan di jalanan bersalju, tapi si Alien idiot ini ingin balapan!" sahut Jongin.
Taehyung hanya memutar bola matanya malas "Set nya ada?"
Jackson mengangguk "Hanya ada Junior, Kris, dan Kau, tidak ada taruhannya karena hanya sedikit yang ingin menjemput maut, hahaha.."
Taehyung terkekeh getir sambil kembali menaiki motornya "Tak apa, aku butuh pelampiasan" dan Jackson hanya mengangguki permintaan Taehyung tanpa bertanya lebih lanjut.
Taehyung bersiap di depan start sambil mengenakan kupluknya, permen lollipopnya dibuang begitu saja walaupun permen itu belum habis, seketika bayangan tentang Jungkook yang mengkhawatirkannya muncul di benaknya, namun Taehyung mencoba menepis semua itu dan fokus pada pertandingan gilanya ini, dia bahkan dengan nekatnya tak ingin memakai helm.
Seorang gadis dengan pakaian yang cukup minim dimalam bersalju ini maju kedepan mereka sambil mengangkat sehelai sapu tangan.
"Ready, set, go!"
Taehyung menghentikkan motornya dengan mendadak, semua terasa begitu cepat, sesaat setelah gadis itu menurunkan sapu tangannya tanda pertandingan dimulai, Taehyung mendapati seseorang menahan laju motornya kemudian menarik kerah bajunya dengan cepat dan menciumnya tepat di bibir.
Seluruh tubuh Taehyung membeku, otaknya mencoba mencerna dengan baik apa yang terjadi pada dirinya. Bibir ini, tangan ini, nafas ini, ini.. Jungkook?!
Jungkook melepaskan pagutannya dan dengan cepat menampar pipi Taehyung dengan keras "Aku tau kau frustasi, akupun sama! Tapi bisakah kau memikirkan aku juga?! Kau selalu begitu, kau menyuruh ku percaya padamu, sekarang tanyakan dirimu sendiri, bisakah aku mempercayai mu?!" lirih Jungkook diujung kalimatnya, menghiraukan orang- orang disekitar mereka yang menatap mereka penasaran, tangan mungil Jungkook meraih ujung jaket Taehyung "Pulang.." ujarnya bergetar, dan Taehyung hanya bisa menyanggupi permintaan adik tercintanya itu tanpa membalas perlakuan adiknya yang membuat pipinya terasa panas.
Mereka telah sampai di dalam kamar mereka, Taehyung terus menatap Jungkook yang hanya duduk diam di pinggir kasur "Kenapa kau melakukan itu?" tanya Taehyung.
"Dan kenapa kau melakukan itu?" tanya Jungkook balik "Kau ingin membunuh diri mu sendiri?" lirih Jungkook, wajahnya semakin pucat, Taehyung tau kalau adiknya belum sembuh dan dirinya sudah melakukan suatu kesalahan fatal.
"Apa yang ku lakukan bukanlah urusan mu" Jungkook tertawa miris, Taehyung telah kembali menjadi Taehyung yang dulu.
"Bisakah kau berhenti hyung?"
"Apa maksud mu?"
"Bisakah kau berhenti menyiksaku? Apa yang kau fikirkan sebenarnya?" lirih Jungkook mulai menangis.
"Diamlah Kook! Aku harus bagaimana?!" sentak Taehyung membuat Jungkook tertunduk.
"Hyung, aku tau kau muak dengan semua ini, tapi bukankah kau sudah berjanji untuk bersama ku? Apa yang harus kulakukan hyung? Meski kau berkata untuk mempercayai mu, aku tak merasa kau melakukan sesuatu yang sesuai dengan perkataan mu, aku malah merasa aku semakin jauh, aku merasa sendiri terus- terusan mengerjar mu sementara kau terus menghindar, aku juga tersiksa hyung, aku tersiksa karena mencintai mu.." racau Jungkook.
Taehyung mengepalkan tangannya erat, entahlah, jiwanya masih sangat goyah dan rapuh, Taehyung tak tau apa yang harus dilakukannya, Taehyung tak tau apa yang akan terjadi nanti, apa yang harus dia jelaskan pada ayah ibunya, dan apa yang harus dilakukannya untuk membuat Jungkook bahagia, sementara disini, dirinya hanya berdiam diri menatap Jungkook yang menangis sambil berkata 'aku mencintai mu' rasanya Taehyung benar- benar tak sanggup membuat Jungkook lebih menderita.
Seharusnya Taehyung tau kalau dari awal dia tak usah memeluk Jungkook ataupun menyatakan perasaan nya dan menciumnya, mendekapnya dan meyakinkan Jungkook tentang kebersamaan mereka, karena bagaimana pun semua nya terasa salah dan Jungkook akan lebih tersakiti, namun Taehyung tak bisa melembutkan hatinya lagi, Taehyung tau Jungkook akan tersakiti jika membencinya, namun Jungkook akan lebih tersakiti jika mencintainya, dan Taehyung sadar kalau dari awal Jungkook memang bukan miliknya dan tak akan pernah menjadi miliknya.
"Kalau begitu berhentilah mencintai ku jika itu membuat mu menderita.."
.
.
To be continue..
.
.
Huaaaaaaaaaaaaaaaaa..
Gimana? Jelek kah? Atau gimana? Komen yaa wkwkwk
Sekali lagi maaf yaaa lama updatenya, maaf juga kalau kurang panjang tapi tenang aja ya, pasti dilanjut kok..
Soalnya sampai bulan april nanti gue bener- bener sibuk sama sekolah, dan mungkin waktu buat nulis harus dikalahin dulu, tapi tetep tunggu kelanjutannya aja ya, doain juga supaya UNCBT ku lancar yeay, aamiin
ohyaa.. untuk taehyungkece yang nanya kenapa mereka sedarah? itu karena mereka saudara, kan bahasa beken nya sedarah gitu wkwkwk ngerti kan? okedey..
Thanks yaa, *bow*
