{HunHan Brothership}

Chapter 2 Enjoy!

.

.

.

Sehun pertama kali bertemu dengan Luhan dihari ulang tahunnya yang ke tujuh. Saat itu, ia tengah melipat origami berbentuk burung bangau—menghitung dan memasukkannya ke toples bening. Ia begitu bersemangat setelah ibunya menelpon dari China. Beliau berjanji akan memberikan Sehun hadiah jika ia bersikap baik.

Ia menunggu hingga tengah malam, hingga toples bening itu penuh dan menyisakan banyak origami diluarnya. Tetapi ibunya tidak pernah datang. Beberapa perawat memaksa Sehun untuk tidur dan akan dibangunkan jika Nyonya Oh tiba.

Sehun dan sikap angkuhnya!

Ia tidak pernah mendengar perintah itu dan terjaga hingga pukul tiga.

"A..arghh! Sshhhhh.."

Sehun merintih sakit. Perut bagian kirinya ngilu dan berdenyut. Ia menggapai remote kecil di atas nakas dan menekan tombol merah.

Perawat berbaju putih berbondong memasuki kamar rawat Sehun, dengan wajah separuh mengantuk mereka mengecek keadaan Sehun dengan hati-hati.

"Ada apa tuan muda?"

"Perutku! Aw.." Sehun menekuk lututnya—membawa tekukan itu kearah perut. Keringat dingin menjejal dari pori kulitnya.

"Tidak, jangan lakukan itu tuan muda. Anda bisa membuat jahitannya terbuka!"

Dua orang perawat mengambil posisi dan menarik kaki Sehun perlahan.

"Ibu!" Sehun memekik, bajunya disibak perlahan untuk mengecek sumber dari rasa sakitnya.

"Cepat hubungi Doketer Park! Kita membutuhkannya sekarang!"

.

.

.

Sempat kritis beberapa jam, membuat Nyonya Oh menyesali keterlambatannya untuk datang. Semalam, ia terjebak salju lebat. Sehingga tidak ada penerbanggan yang diberangkatkan dari bandara Baiyun. Dari penuturan beberapa perawat, Sehun duduk seharian untuk menyelesaikan seribu origami yang sempat tertunda karena jadwal operasinya. Dokter Park—dokter yang menangani Sehun, harus mengganti selang yang terhubung ke ginjalnya dan melakukan operasi darurat.

Sehun terlahir dengan satu ginjal, sedang ginjal satunya tidak beroperasi dengan baik. Orang tuanya mengupayakan berbagai cara untuk menyelamatkan nyawa Sehun. Mereka bekerja siang malam untuk membiayai pengobatan Sehun, dan itu membuat mereka tak jarang harus berpisah lama dengan buah hatinya.

Genggam Nyonya Oh tak pernah lepas dari tangan Sehun. Kerut di pipinya berkedut, tampak ia menahan tangis. Pandangannya sayu—terlihat lelah.

"Sehun-ah, maafkan ibu. Seandainya, seandainya ibu bisa pulang semalam. Pasti ibu akan melihat tawamu pagi ini" ia mulai bermenolog sembari mengelus tangan kecil Sehun yang nampak pucat.

"Ini hari ulang tahun mu Sehun-ah. Ibu bahkan belum mengucapkannya secara langsung."

"Apa kau ingat, ibu mengajarimu melipat origami tiga tiga tahun yang lalu. Dan kau masih mengingatnya Sehun-ii. Dan oh! Ibu lupa, ada seseorang yang..."

Belum sempat wanita di awal 40 itu menyelesaikan kalimatnya, genggam itu menguat. Kedua kelopak mata Sehun terbuka, mengintip dengan susah payah.

"Ssshh...ibu..."

"Ya Sehun, ibu disini. Aigoo, anak pintar. Terimakasih Sehun, terimakasih sudah kembali untuk ibu."

Tangis itu akhirnya tumpah juga.

.

.

.

Pukul dua belas, perawat bergaun putih mengunjungi kamar Sehun dan meletaakan senampan penuh berisi bubur dan sayuran hijau—melihatnya saja membuat Sehun mengernyit sedikit jijik.

"Eum, bukankah aku makan dari sini?" ucapnya, menunjuk selang yang terpasang disebagian anggota tubuhnya.

"Oh, tunggu sebentar." Perawat itu mengecek kembali daftar yang ia genggam.

"Ya, kurasa aku salah kamar tuan. Ini untuk Tuan Oh yang lainnya." Ia tersenyum sedikit canggung ketika melihat tatap mata Sehun.

"Tunggu!" Sehun hendak memegang tangan perawat itu, namun diurungkannya. "Tuan Oh lainnya?" Nadanya terdengar sakratis.

"Ya, Tuan Oh yang ada di kamar sebelah." Wanita itu mengedikkan bahu kearah dinding. "Baiklah, saya permisi." Ia menunduk dan buru-buru melangkah keluar.

"Daebak!" Sehun bertepuk tangan senang. "Aku bertemu pewaris nama Oh di sini."

"Yeobseyo Eomma!" Sehun mulai memekik girang saat nada sambung telpon berganti suara ibunya.

"Aku berencana berjalan-jalan dan berkenalan dengan beberapa anak disini. Apa aku boleh keluar?" ia nampak mengigit bibir bawahnya—menunggu kata ya.

"Baiklah, eomma tidak usah khawatir. Aku bisa menjada diri, hehe"

Seorang perawat—kali ini lelaki membawa kursi roda yang masih mengkilat— datang ketika Sehun memintanya dari saluran telepon. Ia mendorong kursi roda itu kesisi kanan ranjang yang Sehun duduki. Perawat tadi nampak telaten memindahkan selang-selang yang terhubung dengan tubuh Sehun, mengecek kestabilannya lalu mendorongnya perlahan.

"Apakah kau tahu ada seorang anak kecil bermarga Oh disini?" Sehun nampak berfikir, "Aku maksud, selain aku." Ia menganggukkan kepala—menyetujui ucapannya sendiri.

"Ah, anak lelaki berusia delapan tahun itu."

Jadi, ia lebih tua. Sehun menggumam dalam hati.

"Ya, tuan saya mengetahuinya. Ia berada di kamar VIP B, disebelah kamar anda."

"Bawa aku kesana!" Sehun dan egonya—tambahan, Sehun dan diktatornya.

Kamar itu sebesar yang ia tempati. Dengan satu ranjang besar, ruang tamu—nampak seperti apartemen kecil, yang membedakan hanya warna dan wallpaper yang digunakan. Sehun merengut—melihat orang yang ingin ia kunjungi itu tengah terlelap damai.

Oh Luhan. Papan diujung tempat tidur itu terbaca sekilas pandang.

"Kenapa namanya sedikit asing?" Sehun memiringkan kepalanya. "Bukan seperti nama orang Korea biasanya."

"Ah, kau bisa meninggalkanku disini." Sehun menekan tombol yang ada di telapak tangannya. Menggerakkan kursi itu mendekat keranjang di dekat jendela.

Ditepian jendela itu, ada meja mahoni berwarna cokelat. Di atasnya, senampan makanan belum tersentuh sama sekali. Nampak sudah terlalu dingin dan lembek.

Tubuh dibalik selimut cokelat itu tak bergerak sedikitpun. Bahkan suara ribut Sehun tak mengusiknya sama sekali.

"Eurgg.. tidur seperti mayat hidup!" ketusnya. Ia menopang dagu dan berdiam melihat kearah jendela yang terlihat penuh tumpukan salju.

Tadi pagi saat ia terbangun, ibunya sudah menangis sesenggukan dan mengumamkan kata maaf berulang kali. Bahkan Ibunya sudah menjelaskan kenapa beliau tidak dapat pulang, dan dengan tenang Sehun menerimanya begitu saja. Tidak meledak-ledak seperti biasa.

"OMO!" Sehun terpekik—melihat tubuh yang terbaring tadi sudah tegak memandang ke arah Sehun bingung.

"Kau mengagetkanku tau!" bersungut-sungut, Sehun mengarahkan kursinya lebih dekat.

Uluran tangan Sehun kecil hampir mengenai hidung Luhan—bocah kecil satunya.

"Eh, maaf. Aku terlalu bersemangat mengulurkan tangan." Ia nampak malu sendiri dengan tignkah noraknya. Maklumi saja, Sehun tidak pernah pergi ke sekolah publik—ia tidak pernah bertemu seseorang bermarga Oh kecuali keluarganya, dan ia sangat bersemangat sekarang.

"Aku Sehun, Oh Sehun. Senang bertemu dengan mu Luhan hyung."

Bocah satunya, yang bersurai hitam kusam, berkantung mata, tubuhnya kurus terbungkus kulit, bibirnya yang pecah-pecah, lebam dan lecet tergores dipelipis dan sepanjang tangan kanannya—diam tak menjawab.

"Kamu tidak bisa bicara hyung?" Sehun mengamati kondisi Luhan dan memandang prihatin. "Atau, kamu habis kecelakaan dan tidak ingat apa-apa?" tebaknya asal-asalan.

Luhan tersenyum kecut, lalu menggelengkan kepalanya lemah.

"Ah, mungkin kau terlalu lelah tertidur."

"aa...aa..."

"Oh, kau mau mengatakan apa?" Sehun menunggu begitu antusias sampai mengepalkan buku tangannya sendiri.

"Ann..anyeam Sehon." Sunggingan senyum terpatri dari kedua belah bibir Luhan. Begitu tulus walau ia meringis sebentar.

"Ah? Ohhh... seharusnya itu annyeong, dan namaku bukan Sehon. Tapi Sehun." Protes bocah cerewet itu bertubi-tubi. Luhan tersenyum kelewat lebar, ia tidak mengeti tapi apa yang Sehun katankan. Hanya saja ia tertarik dengan tingkah lakunya.

Waktu berlalu begitu cepat. Sehun menjadi semakin cerewet, ia seperti bercerita dengan teman lama. Banyak yang ia ceritakan pada Luhan—anggukan, gelengan plus senyum menjadi respon yang Luhan berikan. Ia benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Sehun.

Setelah pukul lima sore, parawat lelaki tadi datang menjeput Sehun. Alasannya simple, Sehun harus diperiksa.

"Senang bicara dengan mu Luhan hyung. Kapan-kapan, kita harus bicara lagi. Terimakasih." Ia melambai dramatis kearah Luhan—tidak mau dipisahkan. Luhan membalas lambaian itu denang senyum tertahan.

.

.

.

"AAAAAAAAAAAAAAA!" Sehun terbangun, peluhnya begitu banyak. Membuat rambut dan tubuhnya basah.

"Sial, aku bermimpi hal menjijikkan itu lagi. SIAL!" Ia mengumpat—meninju selimut yang mebalutnya.

Sehun menyeka peluhnya kasar, detak jantung dan nafasnya berangsur normal. Ia tersenyum miris, kala sinar bulan membuat bayang pada gorden yang membikai jendelanya. Luka bekas tusukan jarum terlihat samar.

"Kenapa luka ini harus membekas? Kenapa luka-luka ini harus mengingatkan ku pada hal-hal menjijikkan!" ia menarik rambutnya gemas. "Aku bukan Sehun yang penyakitan! Aku Sehun! Oh Sehun! Berhentilah mengangguku!" Air mata mulai menggenang—mengalir dengan beberapa isakan kecil.

"SIAL SIAL SIAL!" Sehun menjerit takut.

Ia ingat, tak lama dari ia keluar dari kamar Luhan ibunya masuk ke ruang itu. Dengan wajah penasaran, Sehun minta diantar kembali kesana. Hanya sebentar, janjinya.

"Luhan-i, Ni hao. Bagaimana kabarmu?" Ibunya mulai berbicara dengan bahasa China. Luhan menanggapi pembicaraan itu ceria. Sehun tak mengerti semuanya.

"Bawa aku kekamar!" diktator itu kembali.

Sehun dibaringkan di atas ranjang, ia menunggu empat puluh lima menit untuk ibunya masuk kedalam kamar.

"Hai jagoan." Wanita tiga puluhan mengusap pucuk kepalanya sayang.

"Bagaimana harimu?"

Bocah itu diam. Dia mogok bicara sambil merengut, tangan disilangkan di dedap dadanya dan dagunya sedikit diangkat ke atas.

"Sehun-ah, apakah ibu berbuat salah lagi?"

"Hei, jawab ibu."

"Ah~~ kau bnar-benar marah eum?"

"Benar tidak mau bicara dengan ibu?"

"Sehun..." kali ini, suara itu terdengar parau. Sehun mencoba melihat dari ekor matanya.

Sepuluh meterjar jaraknya, Luhan berdiri sambil mendorong tiang infusnya. Ia tersenyum dan melambai pada Sehun.

"Siapa yang menyuruhmu masuk?" Ketus Sehun.

"Sehun-ah, jaga sikapmu." Ibunya tiba-tiba memperingatinya.

"Ini Luhan." Ucap ibunya—lagi, dan mengelus pundak Luhan.

"Aku sudah tahu!" rengutnya lagi.

"Oh, baguslah. Dan ini adalah hadiah yang ibu janjikan." Kedua obsi Sehun melebar, menampakkan keterkejutan.

"Ia adalah kakakmu Sehun, atau setidaknya anggaplah ia teman." Nyonya Oh tersenyum sumringah kala memperkenalkan Luhan.

Lalu, Sehun kecil beranggapan, ibunya memilih membesarkan Luhan yang juga penyakitan. Tapi jika dilihat dari keadaannya, Sehun yang sekarat disini. Ia akan mati kapan saja. Dan ibunya, sudah memilik pengganti manis dan penurut.

.

.

.

Suasana musim panas.

Angin berhembus, sedikit masuk dari celah diujung jendela. Matahari tidak terlalu menyengat—membakar kulit, kombinsai yang begitu pas di bulan Juli yang cerah. Beberapa siswa berkeliling membagikan selebaran liburan musim panas.

"Hei Lu, kau nampak tidak sehat." Sebuah kepala muncul dari ujung meja yang Luhan pakai menaruh sisa selebaran tadi.

"Oh Baek, kau menganggetkanku saja." Baehyun—Byun Baekhyun. Siswa kelas tiga yang juga Wakil Ketua OSIS itu berjengit ketika tumpukan kertas mendarat di atas kepalanya.

"Hehe, maaf." Sambil mengelus kepalanya, ia menghampiri Luhan.

"Jadi, tebakan ku benar kan, kau terlihat kuarang sehat."

Luhan menarik kursi—duduk berhadapan dengan Baekhyun.

"Percayalah Baek, ini hanya kurang tidur." Pijitan lembut di pelipisnya membuat Baekhyun tambah sadar dengan kantung mata dan wajah Luhan yang terlihat semakin tirus.

"Ya, aku percaya." Baekhyun menjeda kalimatnya. "...dan kurang tidurmu itu disebabkan oleh?"

"Aku memimpikan itu lagi." Luhan menjawab lirih, begitu kecil membisik.

"Apa?" Baekhyun bertanya tidak sabaran.

"Ya, aku memimpikan itu. Aku bermimpi kau dan aku pulang dari sebuah audisi pencarian bakat. Lalu aku melihat Sehun melambai dari arah jalan yang terlihat sepi dan seikit gelap. Ketika aku hendak menghampirinya, tiba-tiba mobil berwarna kuning menabrak ku dari arah kiri. Sakitnya benar-benar nyata baek, itu membuatku terbangun."

"Sudah berapa kali kau memimpikan itu ya?" Baekhyun menghitung dengan jemarinya. "kalau tidak salah, minggu ini kau sudah bercerita hal yang sama sebanyak tiga kali."

"Oh, benarkah?" Luhan nampak tidak percaya.

"Ya. Dan kurasa kau harus bertemu dengan Chen."

"Chen? Cucu cenayang dikelas dua itu?" Luhan nampak mengingat adik kelasnya yang berambut keriting kusam—terlihat tidak pernah di cuci, dan giginya dipagari kawat berkaret warna warni.

"Kau bercanda?" Pukulan di tangan kanan Baekhyun membuatnya terkikik.

"Tidak bro, aku serius. Walaupun dia berpenampilan seperti itu, tapi bakatnya tidak diragukan lagi." Baekhyun mengacungkan jempolnya tinggi.

"hehh... baiklah. Bawa aku kesana."

.

.

.

"Harusnya aku tidak mengikuti saranmu ByunBaek!" Luhan sebal bukan main. Ia menyesali perkataannya di Ruang OSIS tadi.

Setelah Luhan 'mengiyakan' ajakan Baekhyun, ia diajak kekantin dan membeli tiga kotak susu pisang, lima bungkus roti isi sosis dan yogurt rasa strawberry.

"Itu bayaran untuk jasanya bodoh." Baekhyun menghitung lagi makanan yang mereka beli. Ia mengambil yogurt strawberry dari kantung putih yang ditenteng Luhan. "Dan ini bayaranku karena memberitahumu tentang Chen."

"Dasar tukang peras!"

Kelas Chen nampak sepi, hanya ada mereka bertiga didalam.

"Yo Chen, aku membawa Luhan. Dia ingin..."

"...Luhan sunbaenim! Mimpi itu." Chen menaruh pulpen birunya, menunda mencatat materi yang belum ia selesaikan karena tertidur ditengah jam pelajaran.

"Kau sudah memberi tahunya Baek?" Luhan berbalik dan menatap Baekhyun sengit.

"Hehe, aku tahu kau pasti datang menemuinya. Jadi ya, sekalian saja aku ceritakan. Biar cepat." Baekhyun menjawab santai sambil meneguk yogurt tadi.

"Huh... oke baiklah. Jadi, bagaimana menurutmu Chen?" Luhan menyerah berdebat dengan Baekhyun, dan menaruh belanjaan—bayaran tadi di atas meja Chen.

"Hem.. aku tidak suka berbasa-basi, jadi kusarankan untuk menjauhi Sehun!"

"Apa? Bisa kau ulangi?"

"Ku sarankan sunbae harus menajuhi Sehun. Ia membahayakan hidupmu sunbae." Chen mengulanginya malas.

"Aku... apa?" Luhan menunjuk dirinya sendiri.

"Kau harus menjauhi Sehun bodoh!" Baekhun menghampiri Luhan yang linglung.

"Sehun... membahayakan, hidupku?" Luhan kembali berbisik dan bertanya tidak percaya.

Bersambung

Halo semuanya, terimakasih sudah favorite, follow bahkan review FF ini.
maaf, kalo chapter 2 ini kurang memuaskan pembaca ya
ng budiman sekalian (?)
niatnya sih mau fast update, tapi apalah daya writing block masih eksis :(
sampai ketemu di chapter depan ya, itu chapter terakhir dari trilogi ini #eaaaa
Sekali lagi terimakasih ^^
Selamat menunaikan ibadah puasa semuanya ^^ terimakasih banyaaaaak

Balasan riview.

Mariomaya: pertama, makasi ya udah sempet baca ^^ dan ya, sampe abis ini broship ga ada incest. ga tahan bikin incest #garukdinding

dear deer lulu: aaaa makasi ya :) ya, bisa dibilang gitu. Luhan anak angkat, gimana udah dapet pencerahan? wkwk

lee shikuni: terimakasih sudah menyukai Sehun selalu ^^ terimakasih juga udah mau baca

fifoluluge: ini udah lanjut chingu :) fighting ^^

noonalu: sudah dilanjut, terimakasih sudah mau baca :D

guest: kenapa mereka terlihat tidak akur? karena ceritanta mereka musuhan #loh. hehe ga deng, karakter mereka disini emang aku buat gitu :)

kimkai: aduuuhhh makasi ^^ maaf ya slow update :(

baby lu: udah dilanjut ^^

cloudy white: sudah dilanjut :) terimaksih sudah sempet baca ya ^^