SUPPOSED TO BE

•••

"Aku bisa sendiri." Chanyeol refleks menolak saat tangan Lily terulur hendak menyimpulkan dasi.

Sejak kemarin atau lebih tepatnya saat Chanyeol memutus sepihak kerjasama dengan Baekhyun dan Yixing, baik Chanyeol maupun Lily tidak terlalu banyak terlibat dalam pembicaraan.

Bahkan malam yang mereka lalui tidak cukup berarti disamping keduanya memang tidaklah lebih dari sekedar dua orang yang tidur dalam satu ranjang.

Mulanya, Lily tidak menaruh curiga apapun. Pikirnya Chanyeol memang terlahir sebagai pria sedingin pecahan gletser, namun kali ini ada yang aneh dengan bungkamnya pria bermarga Park tersebut.

Lily tidak mengindahkan ucapan Chanyeol, ia memaksakan tangannya berkutat pada simpul dasi yg mulai melilit leher pria di hadapannya. "Dia orangnya.." Ia menatap Chanyeol sejenak. "Byun Baekhyun yang memenuhi headline news bersamamu dua tahun silam, dia orangnya, 'kan?"

Chanyeol mulai bereaksi, kedua alisnya menyatu sempurna.

"Apa itu alasanmu memutus kerjasama dengannya secara sepihak?"

Yang lebih tinggi masih bungkam.

"Chanyeol, kukira kita sudah sepakat bahwa profesionalitasmu tidak akan terusik oleh apapun." Lily masih mendaratkan telapak tangannya di atas dada bidang si pria. "Jangan sampai ada rumor tidak baik yang menyebar setelah ini. Kau benci hal-hal seperti itu. Dan lagipula jika kau membiarkan egomu bekerja, bukan tidak mungkin kau akan membuat ayahku kecewa."

Chanyeol menarik napas panjang.

Tentu saja, menorehkan kekecewaan pada sosok yang berpengaruh besar atas pencapaian yang Chanyeol raih setelah masa-masa kelam itu adalah hal yang mesti Chanyeol hindari. "Aku salah." Ia mengangguk pelan. "Aku telah membuat kesalahan kemarin. Maka dari itu akan memperbaikinya."

Lily menatap Chanyeol dengan bingung.

"Kita ke Seoul dan aku akan meminta maaf secara resmi kepada pihak mereka atas sikap kekanakkanku kemarin." Si pria menukas lagi, diakhiri usakan lembut ibu jarinya di pipi Lily.

Setelah berpikir panjang, Chanyeol baru menyadari bahwa ia telah bersikap bodoh. Tidak seharusnya hal-hal kecil mempengaruhi caranya mengambil sebuah keputusan. Setelah semua yang ia alami. Tidak seharusnya Chanyeol seceroboh itu.

Meski tak ia pungkiri bahwa wanita itu masih menjadi alasan utama mengapa deru yang membuat ulu hatinya sesak tak kunjung menghilang.

•••

Satu jam.

Chanyeol hanya butuh satu jam untuk kembali menginjakkan kakinya di sebuah kota yang sebenarnya enggan ia datangi.

Satu jam.

Setelah dua tahun yang dipenuhi kesulitan, Chanyeol hanya mendapati dirinya membatu di atas lantai dingin bandara setelah melewati satu jam perjalanan dari Jeju.

Ia bahkan tidak mengindahkan sambutan ramah dari salah satu staf resort yang menjemputnya di bandara.

"It's cold out there." Lily berkata seraya mengalungkan scarf dan melilitkannya pada leher Chanyeol.

Di samping ia tidak berbohong tentang suhu yang nyaris mencapai sekian minus derajat, pun Lily paham betul bahwa pria yang masih menyapukan atensi ke seluruh penjuru bandara tersebut benci menjadi pusat perhatian, "Kau yakin?" Lily kembali bersuara seraya menutupi sebagian wajah Chanyeol dengan scarfnya, diselingi perasaan ragu karena ia tahu tidak mudah bagi Chanyeol untuk berada di tempat yang memupuk begitu banyak kenangan menyedihkan.

"Bisa apa? Kita sudah terlanjur berada di sini." Sahut Chanyeol sebelum kemudian memimpin langkah.

Diam-diam ia merasa bersyukur karena tidak ada yang mengenali dirinya. Meski begitu ia tetap menanyakan popularitasnya dulu sebab kini orang-orang berlalu-lalang melewatinya begitu saja.

"Apa kau akan mengunjungi beliau?"

Chanyeol menyandarkan punggung pada permukaan jok, lalu memijat pelipisnya dengan kentara. Pertanyaan Lily memang sederhana, namun sulit untuk Chanyeol jawab.

"Ayolah, Chan. Kau sudah cukup menghukumnya, bagaimana pun juga beliau adalah ibumu."

Chanyeol tidak menyahut, justru meminta sang sopir mempercepat laju kendaraan menuju resort.

Satu dari sekian banyak hal yang menjadi alasan mengapa Chanyeol enggan menginjakkan kakinya di Seoul yakni sosok yang mungkin tengah meratapi kesalahannya di balik jeruji besi itu.

Atau mungkin tidak. Wanita itu terlalu jahat untuk merenungi semua perbuatan kejinya.

Semua berubah tepat di hari itu, wanita itu bukanlah siapapun yang akan Chanyeol anggap penting. Tiada hal yang pantas bagi Chanyeol untuk kembali memanggilnya dengan sebutan Ibu. Ya. Wanita itu hanyalah sebuah alasan kecil akan eksistensi Chanyeol di dunia ini.

Tidak lebih.

•••

Yixing baru saja keluar dari mobil yang dikendarai Baekhyun, sehabis bertemu dengan klien, Baekhyun memaksakan diri untuk mengantar Yixing kembali ke kantor.

Mulanya Yixing menolak karena Baekhyun tak mempunyai banyak waktu untuk mengantarnya ke kantor sebelum kemudian kembali berbalik arah untuk menjemput Jesper di sekolah.

Yixing masih mengurai langkah di atas lantai lobi sebelum ia mendapati atmosfir berbeda yang terlahir dari beberapa bisik heboh karyawan kantor.

"Tidak mungkin. Dia tidak mungkin Park Chanyeol!"

"Benar, benar! Bukankah dia sudah cukup lama menghilang?"

"Ya, bahkan tidak ada yang tahu tentang kabarnya setelah dua tahun berlalu."

"Lalu siapa pria itu? Dia tampak berbeda sekali."

Beberapa percakapan yang menarik perhatian itu masih terdengar di telinga Yixing ketika ia dikejutkan oleh sosok pria ditemani seorang wanita yang berjalan menuju elevator.

Mereka tidak asing.

Refleks langkah Yixing terurai dengan cepat, "Richard Park Sajangnim?" Serunya setelah berada cukup dekat dengan dua orang familiar yang menyapa atensi.

Chanyeol masih menguatkan mental saat beragam tatap itu terlempar kearahnya. Sensasinya tidak begitu berbeda dengan dulu, saat di mana semua tatap penuh penghakiman menunjuk langsung tepat di depan wajahnya.

Karena bagaimana pun Chanyeol tidak akan pernah terbiasa pada hal-hal yang menyisakan begitu banyak trauma.

Pria itu langsung menoleh saat seseorang menyerukan namanya.

"Oh, apa yang anda lakukan di sini?" Yixing tak bisa menutupi rasa penasarannya meski masih merasa sedikit canggung karena cara berbicaranya pada pria itu kini jauh berbeda dengan dulu.

"Kami ingin bertemu dengan Kim Joonmyeon Sajangnim." Lily menyahut, "Ternyata tidak sulit memohon waktunya, hanya dengan mengatakan dari mana kami berasal dan Sajangnim anda langsung mempersilahkan."

Yixing tidak tahu jika wanita berwajah western di hadapannya, yang ia ketahui ramah dan sarat akan profesionalitas itu pandai menyombongkan diri.

Disamping rasa penasaran yang membludak tentang kehadiran Chanyeol di kantor Joonmyeon.

Tentu saja Yixing merasa heran, mengingat dulu hubungan kedua pria itu tidak berakhir dengan baik.

"Ahh ya, jika seperti itu, mari saya antar ke ruangan beliau."

Yixing membiarkan dua orang di hadapannya terlebih dulu masuk ke dalam elevator.

Lantai lima menjadi tujuan utama ketiganya. Dan raut wajah terkejut adalah apa yang Yixing dapati di wajah tampan Joonmyeon saat ia menggiring Chanyeol dan Lily masuk ke dalam ruang kerjanya.

Berbanding terbalik dengan Chanyeol yang justru terlihat begitu tenang. Ekspresinya serupa bocah lugu yang tidak tahu apapun. Sorot yang dipancarkan bersih dari segala hal melahirkan begitu banyak kebencian dua tahun silam.

Pria itu seperti baru saja terlahir kembali menjadi sosok yang berbeda.

"S-sajangnim, ini adalah Richard Park Sajangnim dari Macmitsu Group." Yixing memperkenalkan tamu mereka dengan sopan.

Sementara Joonmyeon masih mencoba untuk meraba, mencari gravitasi yang entah sejak kapan lenyap dari tempatnya berpijak. Atau mungkin menguap bersama sebuah fakta yang amat membuatnya terkejut.

Sosok di balik suksesnya sebuah perusahaan multinasional yang amat terkemuka di negeri sakura, juga yang membuatnya terkagum-kagum adalah seorang pria yang dulu telah menoreh begitu banyak air mata terhadap adiknya, Byun Baekhyun.

Astaga, bagaimana bisa semesta sekonyol itu?

Joonmyeon tidak perlu berkedip beberapa kali, ia bahkan tidak perlu lagi memastikan bahwa netranya mungkin saja salah, karena nyatanya Park Chanyeol tidak pernah berubah.

Sosoknya kini memang telah terbalut aura profesionalitas, namun raut wajahnya masihlah seangkuh dulu. Sorot matanya yang tenang tidak cukup ampuh untuk mengelabuhi Joonmyeon, bahwa iris kelam itu, dulu pernah menyimpan begitu banyak kebencian.

"Bagaimana bisa dia-"

"Kim Joonmyeon Sajangnim?" Chanyeol menyela dengan cepat, mengulurkan tangan dengan ramah sarat akan profesionalitas di balik topeng kepura-puraan.

Apa-apaan dia?

Joonmyeon mengutuk setiap gestur yang terlahir dari sosok Chanyeol saat ini. Seolah dia adalah orang asing yang baru saja bertemu dengan orang baru.

"Sajangnim.." Yixing menekan suaranya ke titik terendah karena Joonmyeon sibuk berkutat dengan keterkejutan tanpa kunjung menyambut jabatan tangan Chanyeol atau bahkan menyahutinya.

"Ahh ya," Joonmyeon terlempar dari lamunan, lantas bingung harus bagaimana menghadapi sikap Chanyeol yang seperti itu. "Silahkan duduk, Richard Park Sajangnim."

Jika Chanyeol memilih untuk mengubur masa lalu bersama sosoknya yang kini telah berubah menjadi asing, maka Joonmyeon akan mengikuti alur yang pria itu buat.

Lagipula dua tahun sudah berlalu, pun Joonmyeon bukanlah siapapun yang berhak menghakimi pria itu terus-menerus. Ia yakin luka yang ditorehkan Chanyeol kepada Baekhyun perlahan sudah terkikis oleh masa.

Meski tak Joonmyeon pungkiri bahwa ia kembali merasa muak dipertemukan kembali dengan pria keji itu.

Suara tangis kecil memecah keheningan yang tercipta sesaat setelah seluruh penghuni ruangan itu mendaratkan bokongnya pada sofa tamu yang tersedia.

Juga menjadi satu-satunya alasan mengapa kini Joonmyeon dan Yixing bersitatap dalam keterkejutan.

Bagaimana bisa mereka melupakan kehadiran Jihyun di ruangan itu?

Mengikuti insting, Yixing bergegas mengurai langkah menuju baby stroller yang bereksistensi di samping meja kerja Joonmyeon. Wanita itu dengan cekatan menggendong Jihyun yang tangisnya kian mengeras seraya membisikkan kalimat-kalimat penenang.

"Oh, rupanya Kim Sajangnim sudah mempunyai seorang anak." Lily berbasa-basi.

"Ya?" Sebelah alis Joonmyeon terangkat. "Oh ya, ya..." lanjutnya dengan senyum yang dipaksakan terulas. "Jadi, hal penting apa yang membawa petinggi Macmitsu Group kesini?"

Tidak ada jawaban berarti, Lily masih menunggu Chanyeol menyahut dan menjelaskan perihal maksud kedatangan mereka.

Sementara Joonmyeon mulai diliputi beragam perasaan tak nyaman, perlahan atensinya berputar ke arah Chanyeol yang mana tengah mengulas tanda tanya dalam ekspresinya, juga sorotnya yang tertancap lekat pada Jihyun yang berada dalam gendongan Yixing.

Seperti ia adalah penggemar seorang anak kecil. Seolah punggung sempit bocah berusia satu tahun itu lebih menarik perhatian dan menyita apapun tentang niat awalnya berada di ruangan tersebut.

Karena hal itu, Joonmyeon semakin setuju pada siapapun yang menganut paham bahwa darah lebih kental daripada air.

Bahwa ikatan batin seorang ayah dan anak adalah yang paling kuat dari segala hal yang tersangkut paut dalam sebuah hubungan.

•••

"Apa kau akan diam saja? Jawab Mommy, Byun Jesper!"

Baekhyun kehilangan kontrol, melepas nada tinggi dalam kalimat yang ia lontarkan. Emosinya terpancing saat mendapati satu informasi dari wali kelas Jesper, bahwa putranya itu terlibat dalam sebuah perkelahian dengan teman sekelasnya.

"Mommy tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi seorang preman!" Baekhyun masih diliputi rasa geram, ia bahkan belum mengijinkan Jesper keluar dari mobil meskipun kini mereka telah berada di depan kantor tempat di mana Baekhyun bekerja.

Wanita itu menghirup napas panjang, berusaha menekan amarahnya hingga ke titik dasar ketika suara mencicit sebuah jawaban terlontar dari mulut Jesper.

"Mereka bilang aku anak sial, maka dari itu Daddy meninggalkanku. Maka dari itu aku tidak mempunyai Daddy."

Hancur adalah apa yang Baekhyun rasakan saat mendengar jawaban dari putranya.

Seandainya Jesper menangis.

Seandainya putranya itu mengeluh dan terisak keras, mungkin Baekhyun tidak akan sehancur itu.

Nyatanya, Jesper yang menyahutinya dengan nada datar serta ekspresi yang dingin jauh lebih membuat Baekhyun terluka.

"Aku baik-baik saja. Mommy tidak perlu cemas. Aku sudah terbiasa."

"Sayan-"

Tanpa menunggu Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, Jesper telah lebih dulu keluar dari mobil.

Baekhyun tidak mengejar, karena ia tahu tujuan Jesper jika sedang marah akan suatu hal adalah taman di sekitar gedung perkantoran.

Dering ponsel membuyarkan lamunan, Baekhyun menggeser tombol hijau setelah nama Yixing terpampang di layar ponselnya.

"B? Kau di mana? Jihyun sepertinya lapar."

"Oh maafkan aku Eonni. Aku sudah di depan dan segera kesana."

Baekhyun bergegas memasuki gedung kantor tanpa melirik ke berbagai arah. Tanpa peduli pada kondisi di sekitarnya. Pun tanpa tahu bahwa putra tampannya belum mencapai rumput taman, bahwa bocah laki-laki itu telah lebih dulu mematung seraya menancapkan atensinya pada seorang pria di kejauhan.

•••

Dua pasang langkah dari jarak yang tidak terlalu jauh terurai di atas paving block pelataran gedung perusahaan.

Langkah kecil berjalan ragu, membuntuti langkah besar beberapa meter di depannya.

Kemarahan Jesper menguap, terganti oleh rasa tidak percaya yang menuntunnya mengikuti punggung lebar itu dari kejauhan.

Sebenarnya, Jesper membenci sosok itu.

Ralat. Ia hanya bereaksi keras karena mendapati fakta bahwa sosok tersebut meninggalkannya, pergi begitu saja dua tahun silam.

Saat itu, Jesper bahkan berpikir bahwa memiliki seorang ayah tidak semenyenangkan yang mereka bilang. Jelas, tepat di saat Jesper tahu bahwa ada sosok yang bisa ia sebut sebagai ayah, pada saat yang sama pula harapannya hancur.

Itu dua tahun yang lalu.

Bukan saat ini, saat di mana kerinduan itu kerap kembali muncul di saat ia akan terlelap.

Jesper merindukannya. Rasa rindunya tak terbendung, bahkan ketika ia belum yakin bahwa sosok yang ia ikuti menuju lahan parkir itu adalah ayahnya, Jesper tetap bersikeras ingin mengikis jarak.

Berhenti saat langkah besar di depannya juga berhenti.

Kembali berjalan saat punggung lebar itu mengecil.

Jesper terus mengikutinya.

Ada perasaan aneh yang menelusup masuk pada apa yang tersembunyi di balik tulang rusuk Chanyeol sesaat setelah ia keluar dari kantor Joonmyeon.

Pertanyaan Lily pun ia abaikan.

Chanyeol terlalu sibuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Langkahnya terurai dengan beragam tanya yang memenuhi benak.

Lantas, ia merasa Dejavu.

Kapan Chanyeol pernah berjalan di tempat terbuka dengan perasaan seperti ada yang mengikutinya dari belakang?

Lagi-lagi ia mengabaikan pertanyaan atau apapun itu yang Lily lontarkan pada sosoknya yang kini berhenti mengurai langkah. Membatu dengan tangan yang perlahan mengepal dalam getar.

Rasanya semakin familiar.

Perasaan takut mulai menyusup masuk. Chanyeol mengingatnya, dua tahun silam saat ia berbalik lalu mendapati simbahan darah yang menemani bocah laki-laki sekarat di tengah jalan.

Mata Chanyeol terpejam erat, ulu hatinya telah lebih dipenuhi sesak. Sesuatu mendorongnya untuk berbalik meski bayang-bayang masa lalu itu setia berkelabat dalam benaknya.

Tanpa Chanyeol duga sebelumnya, sosok mungil yang begitu ia rindukan menyapa atensi.

Terakhir kali melihatnya, dia tidak setinggi itu. Chanyeol bertanya-tanya berapa senti meter yang dicapai oleh tubuhnya selama dua tahun?

Dari kejauhan Chanyeol dapat melihat satu stel seragam sekolah dasar yang membalutnya.

Tuhan, jagoannya sudah sebesar itu.

Pelan tapi pasti, atensinya berjalan hingga mencapai dua iris bening yang juga menatapnya dengan ragam perasaan. Chanyeol sudah sepenuhnya berbalik, namun rasa sesak memupuknya di tempat yang ia pijak. Ia kesulitan melangkah.

Lantas menggeleng pelan, terakhir kali sesuatu yang sangat buruk terjadi karena ia membiarkan bocah itu berjalan kearahnya. Maka kali ini, meski sulit langkah Chanyeol perlahan terurai.

Tangannya otomatis terentang saat kaki yang tidak semungil dulu itu berlari kearahnya.

Sepersekian detik dalam keadaan berlutut, tubuh yang lebih kecil darinya telah berada dalam dekap erat.

"Is this you?"

Disela-sela menghirup aroma rindu di bahu sempit Jesper, Chanyeol mengangguk.

"I hate you!"

Jesper meronta dalam dekap, kemarahannya kembali mencuat kepada sang ayah. Melahirkan segurat mimik kejut di wajah pria dewasa itu.

"Jika kau datang hanya untuk pergi lagi seperti waktu itu, then just go away!"

"Sayang-"

"Aku tidak mau memaafkan Daddy!"

Jesper kembali berteriak sebelum kemudian berbalik dan berlari menjauh dari ayahnya.

Chanyeol mulai kalut, reaksi keras Jesper adalah apa yang termasuk ia takutkan.

Tidak. Chanyeol menghabiskan jutaan menit dengan sesak yang menjajah ulu hati karena rindu.

Chanyeol menghabiskan waktu begitu lama sebagai seorang ayah yang tidak Tuhan berikan kesempatan untuk menyaksikan putranya tumbuh.

Tentu saja, Chanyeol tidak akan membiarkan jagoannya membencinya untuk sebuah alasan yang bahkan belum bisa dipahami oleh anak kecil.

Lantas kaki panjangnya berlari, mengejar Jesper yang mungkin benar-benar tidak akan memberi maaf kepadanya.

Tidak sampai satu menit, Chanyeol mendapati jagoannya duduk lesu di kursi taman.

Begitu melihat sosok tinggi, Jesper memalingkan wajah. Masih bungkam ketika bahkan pria dewasa itu telah menghabiskan sekian detik duduk di sebelahnya.

Chanyeol masih menatap punggung sempit di sampingnya, melihat bagaimana Jesper memalingkan wajah dengan ekspresi merajuk yang begitu kentara, Chanyeol merasa harus lebih berhati-hati dalam memilah kata yang tepat untuk dilontarkan.

"Hei.."

"Aku tidak mau berbicara dengan Daddy."

"Jesper.."

"I don't want to hear any excuse from you."

"Park Jesper."

Suara tegas bernada mutlak itu sontak berhasil membuat Jesper barbalik sepenuhnya. Wajahnya merengut sempurna, matanya berkaca-kaca.

Chanyeol merentangkan tangan, sepersekian detik setelahnya Jesper menghambur ke dalam pelukan.

"I miss you."

Kalimat itu berulang dari mulut Chanyeol. Pria itu masih menikmati rasanya melepas rindu dalam dekap, saat suara tangis Jesper terdengar begitu janggal.

"Baby boy.."

Wajah mungil itu ditangkup oleh kedua tangan besar.

"Dad.."

"Tell me.."

Jesper menyeka hidungnya sekali lagi, "Mommy memarahiku hari ini." Adunya seraya kembali menghambur ke dalam dekap sang ayah.

"Apa sebelumnya Mommy pernah memarahimu?"

Jesper menggeleng.

"Apa kau berbuat salah?"

Jesper diam. Malah semakin mengeratkan pelukannya.

"Park Jesper.."

"Kenapa Daddy membela Mommy?!"

Chanyeol tergelak. "Tidak ada yang membela siapa. Daddy hanya bertanya padamu. Jika seperti ini, Daddy rasa kesalahan ada padamu."

"Mommy memarahiku, seharusnya Daddy membelaku."

Chanyeil terkekeh di balik punggung tangan. "Daddy akan memarahi Mommy untuk itu, kau puas? Tapi untuk saat ini jelaskan pada Daddy mengapa Mommy bisa sekalut itu?"

Jesper menagakkan posisi duduk, kedua tangannya silih bertaut dalam kebingungan. Sebenarnya takut.

"Aku berkelahi dengan teman sekelasku."

"Siapa yang menang?"

"Tentu saja aku!"

"That's my son!" Chanyeol mengusak rambut putranya.

"Err.. Dad.. aku berkelahi." Cicit Jesper dengan keheranan. Bukannya marah, ayahnya justru terkesan bangga.

"Fight make you become a real man, buddy!"

"Really?"

"Of fucking course!"

"Your language, Richard Park Sajangnim! Lagipula kenapa kau malah bangga putramu berkelahi?"

Chanyeol dan Jesper sontak mencari sumber suara.

"Kau menguping pembicaraanku dengan putraku?"

"Dia putraku!"

"Putraku juga."

"I'm yours, guys."

"Be quiet Byun Jesper/Park Jesper!"

Jesper refleks mengunci mulut.

Baekhyun berkacak pinggang. Niatnya mencari Jesper untuk meminta maaf karena telah memarahinya berbuntut adegan menguping pada obrolan antara anak dan ayah yang kembali dipertemukan.

Konyolnya, Baekhyun bahkan membiarkan mereka larut dalam kerinduan.

Ia bahkan masih bertanya-tanya di mana sosok defensifnya dulu?

Dimana dirinya yang dulu begitu menggebu-gebu menolak Chanyeol untuk dekat dengan Jesper?

"Sajangnim!"

Suara lain terdengar.

"We have to go now." Lily sedikit membungkuk dan berbisik kepada Chanyeol. Membicarakan suatu urusan penting.

Melihat bagaimana seorang wanita asing menempelkan mulutnya ke telinga sang ayah, Jesper mengernyit tak suka.

"Who is she?" Tanya bocah itu dengan lantang, sarat dengan ketidaksukaan.

"Oh, hai tampan." Lily menyapa seraya membawa tubuhnya berlutut, lalu tersenyum kepada Jesper. "Jadi, kau benar-benar seorang ayah?" Celetuknya kemudian kepada Chanyeol.

"Jesper, kita pulang sekarang."

Baekhyun tak mengijinkan Chanyeol menyahuti pertanyaan putranya ketika mengingat lagi gaun tidur tipis yang dikenakan wanita bernama Lily itu tempo hari.

Baekhyun tidak tahu mengapa ia bisa sesinis itu mengingat hal tersebut.

Apa mungkin fakta bahwa Chanyeol tidur dengan wanita itu akan melukai hati putranya?

Jesper masih menunggu jawaban sang ayah ketika tangannya ditarik oleh Baekhyun.

"Mom.."

"Kita pulang, sekarang!"

Melihat bagaimana ibunya bersikeras juga bersikap defensif, Jesper akhirnya turun dari kursi. Ia memang merindukan ayahnya, juga menyayangi sosok itu. Namun rasa sayang tersebut tidak serta-merta mampu menggeser posisi nomor satu yang ditempati oleh Baekhyun di dalam hatinya. Jika harus memilih, Jesper lebih baik kehilangan Chanyeol untuk ke sekian kali ketimbang harus melihat luka di kedua iris sang ibu karena penolakannya.

Mendapati Chanyeol tak kunjung menjawab pertanyaan seputar identitas wanita asing itu, Jesper sedikit kecewa meski di lain sisi, Jesper merasa itu adalah hal yang bagus, karena ia akan sangat membenci ayahnya jika ada wanita lain di hidupnya selain ibunya.

"Hei!" Chanyeol ikut beranjak dari kursi dan menginterupsi langkah Jesper.

"Mau apa lagi kau?!"

"Aku hanya ingin berbicara dengan putraku, lebih baik kau diam saja, Byun!" Sahut Chanyeol tak kalah ketus dari apa yang terlontar dari mulut Baekhyun.

Kemudian pria itu berlutut setelahnya sebelum akhirnya membisikkan sesuatu ke telinga Jesper.

Ajaibnya, senyum bocah itu tersungging lebar setelah gendang telinganya menangkap apa yang ayahnya bisikkan.

"Really?"

Chanyeol tersenyum kecil, "Aye captain!"

"Assa!" Seru Jesper sebelum kemudian memeluk ayahnya dan mendaratkan ciuman di kedua pipi pria itu.

Mendadak, tangan Baekhyun mengepal.

Sungguh bukan karena ia marah, bukan pula cemburu melihat interaksi Chanyeol dan Jesper. Hanya saja, getar samar tanpa permisi menyusup ke dalam tubuh, bukan karena gigil yang menyiksa melainkan ada yang hangat mengalir dan mengisi rongga hatinya.

Mulanya, perasaan panik dan cemas masih menyita sebagian dalam dirinya karena sebuah informasi yang Yixing bagikan.

Bahwa sebelumnya, Chanyeol sudah bertemu dengan Jihyun di ruang kerja Joonmyeon. Meski berakhir dengan kesalahpahaman tentang identitas bayi perempuan itu.

Akan tetapi, melihat bagaimana interaksi Chanyeol dan juga Jesper sesaat lalu, tiba-tiba benak Baekhyun dikuasai satu tanya.

Bagaimana jika pria itu tahu bahwa bukan hanya seorang putra, dia juga mempunyai seorang putri cantik yang tengah belajar berjalan?

Oh, tidak!

Baekhyun menggeleng pelan. Mengapa ia mendadak berlebihan dan membayangkan hal-hal manis yang begitu mustahil terealisasi hanya karena melihat adegan dramatis yang Chanyeol dan Jesper pertontonkan.

Sadarkan dirimu, Byun Baekhyun!

••• SUPPOSED TO BE •••

Baekhyun masih memperhatikan putranya yang tampak sibuk memilah beberapa potong pakaian.

Tidak biasanya Jesper pemilih dalam hal berpakaian.

Sebenarnya ada apa dengan putranya itu?

Akan tetapi, perihal raut bahagia yang terpatri di wajah Jesper, Baekhyun tidak menduga-duga alasan lain. Karena satu nama yang kembali menyita setelah dua tahu berlalu adalah jawaban yang tak diragukan lagi kebenarannya.

Apakah Jesper sebahagia itu bertemu dengan ayahnya?

Ya Tuhan.

Kebahagiaan putranya kali ini membuat sisi lain dalam diri Baekhyun menolak untuk merenggutnya meskipun karena sebuah ego. Baekhyun ingin terus melihat binar ceria yang telah lama hilang dari kedua bola mata putranya.

"Mom!"

Lamunan Baekhyun membuyar.

"Jihyunie menangis!"

Jesper kembali berseru, cukup merasa kesal karena lamunan sang ibu terlampau serius hingga mampu membuat gendang telinganya kehilangan fungsi untuk sesaat.

"Oh astaga!" Baekhyun nyaris menepuk dahi sebelum kemudian ia beranjak dari ranjang Jepser dan berhambur menuju kamar tidurnya. "Sstt.. Mommy di sini, sayang. Jangan menangis." Ucapnya dengan lembut pada Jihyun yang baru saja terjaga dari tidurnya.

"Mom!"

Kenapa Jesper cerewet sekali hari ini?

"Sebentar, sayang. Mommy mengganti popok adikmu dulu."

Jesper masih kebingungan mencari pakaian yang pas ketika ibunya kembali ke kamarnya, bersama Jihyun dalam gendongan.

"Honey, kenapa berantakan sekali?" Baekhyun mengernyit melihat tempat tidur Jesper yang dipenuhi oleh pakaiannya.

Jesper tidak mengindahkan gerutuan sang ibu, ia berbalik dan memperlihatkan dua stel pakaian di kedua tangannya. "Mom, bagusnya aku memakai yang mana?" Tanyanya meminta pendapat sang ibu.

"Kau tampan memakai apapun, nak." Sahut Baekhyun dengan jujur, meski wajahnya masih digelayuti rasa penasaran. "Sebenarnya kau mau kemana dengan pakaian itu? Di luar hujan lebat dan Mommy tidak akan mengijinkanmu kemana-mana."

Mendengar berita cuaca yang Ibunya sampaikan, Jesper lantas mendengus keras. "Hujannya kapan reda?" Gumamnya dengan gusar.

Baekhyun tengah mencoba menggapai pakaian yang berserakan di atas permadani berkarakter tokoh superhero ketika bel nyaring memenuhi sudut ruangan.

Siapa yang datang?

Wanita itu beranjak dari kamar Jesper sebelum kemudian mengurai langkah di ruang tamu. Tanpa melihat terlebih dahulu identitas tamu di layar intercom, Baekhyun bergegas membuka pintu.

"Ahh jadi jutawan dan banyak koneksi memang memudahkan segala urusan."

Baekhyun masih mengerjap berkali, raut terkejutnya bukan pada sosok tinggi berwajah angkuh, juga bukan pada beberapa kalimat sombong yang terlontar.

"Kau sengaja pindah apartemen untuk meninggalkan jejak agar aku tidak bisa menemui putraku?"

Namun apa yang kini tergambar jelas sebagai ekspresi terkejut adalah sebentuk reaksi pada sosok Chanyeol yang basah kuyup.

"Daddy!"

"Daddy basah, nanti dulu." Chanyeol menyergah Jesper yang hendak berhambur ke arahnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Bagaimana bisa?" Hanya itu yang terlontar dari mulut Baekhyun.

"Mom, Daddy hanya menepati janjinya."

"Janji? Janji apa?"

"Mom, Daddy kedinginan. Nanti saja kujelaskan." Jesper dengan semena-mena menarik tangan Chanyeol dan menuntunnya masuk.

Baekhyun membeo beberapa saat di depan pintu. Setelah tersadar bahwa apa yang kini terjadi adalah hal yang tak pernah sekalipun terlintas dalam benak, barulah wanita itu melayangkan protes.

"Apa-apaan ini?! Kenapa kau seenaknya masuk ke dalam rumahku?" Serunya pada Chanyeol yang tengah sibuk menyeka wajahnya yang basah.

"Dad, kenapa basah kuyup?" Jesper mencicit seraya memperhatikan penampilan ayahnya.

Chanyeol menggeleng, ia tidak mungkin menyuarakan kekesalannya karena taksi yang ditumpanginya mogok tak jauh dari area apartemen di hadapan Jesper.

Karena jarak yang sudah dekat namun hujan begitu lebat, maka pria itu berakhir basah kuyup karena berlari di bawah guyuran air hujan.

"Kalau begitu aku ambilkan handuk untuk Daddy." Jesper berlalu.

"Hei! Jawab pertanyaanku!" Baekhyun tersinggung karena diabaikan. "Kau sendiri yang mengancamku agar tidak muncul dihadapanmu lagi, tapi apa sekarang? Apa kau tidak malu?"

Chanyeol melirik Baekhyun, sebenarnya ia mendengarkan wanita itu. Namun sosok mungil di pangkuan Baekhyun yang sejak awal menyapa atensi Chanyeol di depan pintu terlalu menyita perhatiannya.

"Kenapa bocah itu ada di sini? Di mana orang tuanya?" Chanyeol bertanya tanpa beban seraya menunjuk Jihyun, seingatnya bayi perempuan dalam gendongan Baekhyun itu adalah anak Kim Joonmyeon.

Sementara Baekhyun baru menyadari kecerobahannya. Bagaimana bisa ia lupa bahwa saat ini tengah menggendong putrinya yang tengah meronta-ronta.

Tunggu!

Kenapa Jihyun meronta-ronta kearah Chanyeol?

Bayi perempuan itu menggeliat dalam gendongan sang ibu, lantas mengangkat kedua tangan kearah Chanyeol.

"Ke-kenapa dia seperti itu? Kenapa dia menyodorkan tangannya kepadaku dan tertawa lebar seperti itu?" Chanyeol bergidik seraya mengernyitkan dahi. Makhluk kecil itu tertawa lebar kepadanya.

Baekhyun menggigit bibirnya kuat. Ini putrimu, bodoh! Rutuknya dalam hati.

"Dad, ini handuknya."

"Terimakasih, sayang."

"Mom, aku dan Daddy akan pergi jalan-jalan. Daddy datang kesini untuk menjemputku."

"Tidak." Jawaban Baekhyun terlmpau cepat. Ternyata sisi defensifnya masihlah ada. Namun ketika melihat ekspresi Jesper yang berubah drastis saat mendengar jawabannya, hatinya seketika luluh. Meski tetap saja ia tidak akan membiarkan putranya pergi dengan pria itu. "Maksud Mommy, urmm.. nak, di luar hujan. Kau bisa terkena flu jika lama-lama berada di cuaca dingin."

"Ada aku. Aku ayahnya."

"Lantas?"

"Benar, Mom. Aku 'kan bersama Daddy."

"Aku tidak akan membiarkan putraku kedinginan." Chanyeol kembali bersuara.

"Tapi-"

"Daddy terbaik!" Jesper mengacungkan jempol.

"Jesper-"

"Mommy, pokoknya aku mau pergi jalan-jalan dengan Daddy."

"Kita akan kemana, jagoan?"

"Tunggu-"

"Kemanapun asal bersama Daddy."

"Hei-"

"Kau senang akan jalan-jalan bersama-"

"PARK CHANYEOL! BYUN JESPER!"

Baekhyun bukan lagi gadis berseragam sekolah menengah dulu kerap tak berdaya. Kini ia adalah wanita dewasa, ibu dari dua orang anak yang juga memiliki kekuatan mengontrol siapapun dengan teriakan keibuannya yang membahana.

Chanyeol dan Jesper yang semula sibuk mengabaikan Baekhyun dibuat bungkam seketika. Keduanya melirik hati-hati pada wanita itu lantas menelan saliva berbarengan mendapati Baekhyun melotot kesal pada keduanya.

Tak lama kemudian tangisan Jihyun mengisi keheningan.

"Kenapa kau berteriak dan membuatnya menangis?" Chanyeol menyalahkan Baekhyun. Perasaannya tak menentu melihat bayi perempuan itu menangis.

Kenapa Chanyeol seperti itu?

Sementara Baekhyun sudah menyesali perbuatannya. Meski enggan namun ia setuju dengan Chanyeol.

Sebelum beranjak mencari spot aman untuk menyusui Jihyun, Baekhyun mendelik pada Chanyeol dan juga Jesper, "Di luar hujan dan tidak ada yang boleh keluar dari sini, kalian paham?!" Ancamnya seraya menunjuk dengan suara mutlak.

"Dad, bagaimana ini? Mommy memang tidak pernah marah kepadaku, tapi jika sudah mengancam, Mommy akan sangat menakutkan." Jesper mencicit sesaat setelah menuntun ayahnya duduk di sofa ruang tamu.

Chanyel menghela panjang, menurutnya penolakan Baekhyun patut dipertimbangkan mengingat hujan di luar begitu lebat juga tentang kesehatan Jesper yang bukan tidak mungkin akan terancam jika ia memaksakan kehendak untuk pergi bersama Jesper.

Namun, selain ingin melepas rindu bersama putranya, Chanyeol juga tidak yakin mempunyai banyak waktu. Di sini, Di kota ini, juga di negara ini.

Tentu saja, ia sadar bahwa dirinya masihlah Park Chanyeol yang Baekhyun benci setengah mati. Ia masihlah sosok yang tidak wanita inginkan berada di dekatnya juga putranya. Chanyeol cukup tahu bahwa posisinya saat ini bukanlah apa yang Baekhyun inginkan keberadaannya.

Chanyeol datang bukan tanpa beban. Selama mengurai langkah di koridor apartemen, bayang-bayang masa lalu berisi penolakan menyakitkan wanita itu kembali terngiang.

Chanyeol dapat menahannya sejauh ini hanya karena Jesper. Jagoannya. Ia tidak bisa berbuat lebih kejam dari sekedar tidak memberi kesempatan Jesper memperkenalkan seorang ayah kepada teman-temannya. Chanyeol tidak ingin terus-menerus menjadi seorang ayah yang lupa diri.

Untuk kali, ia bahkan memohon pada dirinya sendiri, meskipun tidak akan lama, Chanyeol ingin menjadi seorang ayah seutuhnya.

"Daddy akan berbicara pada Ibumu, supaya dia mengijinkan kita untuk pergi."

Setelah mengusak rambut Jesper, Chanyeol bangkit lantas mengingat dengan benar di mana sebelumnya jejak Baekhyun berakhir.

Pintu di ujung lorong yang bersebrangan dengan dapur adalah tujuan utama Chanyeol. Ia sempat melihat Baekhyun masuk kesana tadi.

Ada senandung merdu saat langkah Chanyeol mulai mendekati pintu, semakin lama suaranya semakin terdengar keras.

Chanyeol tahu, Baekhyun lah pemilik suara lembut di balik lagu pengantar tidur itu.

"Jihyunie cantik, jangan menangis, ya. Mommy mengayangimu."

Chanyeol mengernyit. Lantas menggeleng, ia yakin ada yang salah dengan pendengarannya.

"Maafkan Mommy karena tidak mengenalkanmu kepada Daddy."

Chanyeol menyentuh knop pintu. Masih dengan benak yang dipenuhi tanya, siapa yang Baekhyun ajak bicara? Mungkinkah bayi perempuan itu?

Lantas mengapa Baekhyun menyebut dirinya sendiri dengan sebutan ibu untuk bayi perempuan itu?

Tunggu!

Apa itu anaknya?

Sekarang Chanyeol mengerti arti dari ekspresi janggal Joonmyeon saat Lily menuduhnya sudah menjadi seorang ayah.

"Maafkan Mommy membiarkanmu bernasib sama dengan kakakmu."

Knop itu Chanyeol putar, daun pintu terbuka sebelum menampilkan sosok Baekhyun yang tengah menyusui Jihyun.

Ada yang sama-sama tepaku dalam posisinya, baik Chanyeol maupun Baekhyun tidak ada yang tahu siapa yang lebih terkejut.

"Kenapa kau menyusuinya?"

Itu adalah pertanyaan tepat, karena setahunya Baekhyun tidak menikah dengan siapapun sampai saat ini.

Ada yang janggal dengan bungkamnya Baekhyun.

"Byun Baekhyun!"

"Kecilkan suaramu, dia bisa bangun!" Baekhyun menggeram pelan,

"Jawab aku!" Chanyeol mulai geram. Entah apa yang membuatnya merasa bahwa ia pantas mendapat jawaban dari Baekhyun.

Apa karena perasaannya terhadap wanita itu masih tersimpan di bagian terdalam hatinya?

Tidak. Chanyeol menggeleng.

Ia yakin bukan karena itu.

"Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?" Sinis Baekhyun seraya berjalan melewati Chanyeol.

Pria itu tidak menyerah, ia mengekori Baekhyun bahkan tidak sungkan ikut masuk ke dalam kamar wanita itu.

Sementara di ruang tamu, Jesper tengah mengernyit. Mendapati atmosir ketegangan yang diciptakan oleh kedua orang tuanya yang sesaat lalu memasuki kamar.

"Sebenarnya apa yang membuatmu begitu penasaran, Park Chanyeol?!" Baekhyun bertanya dengan suara pelan namun sarat akan rasa sinis.

Chanyeol tidak menjawab, justru menancapkan atensinya dengan lekat pada sosok Jihyun yang terlelap di atas ranjang Ibunya.

"She is mine." Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Baekhyun, mendapati jawaban pada reaksi penuh kejut di wajah wanita itu. "Tell me that she is mine."

Baekhyun tidak menikah, dia bukan pula wanita yang akan tidur dengan setiap lelaki setalah kejadian pahit di masa lalu. Bukan karena rasa percaya diri, Chanyeol hanya merasa bahwa ia yang mampu menyentuh wanita itu tanpa sebuah penolakan.

Karena dari awal, hanya Chanyeol seorang.

Bibir Baekhyun bergetar kecil, meski begitu ia tak kuasa menahan getaran yang sampai pada kepalan tangannya.

"Of course, she is yours, Dad." Jesper membeo di ambang pintu, memecah keheningan dan mendapati kedua orang tuanya menatap kearahnya. "Jihyunie adikku, bukankah itu berarti dia juga anakmu, Dad?"

"Byun.."

Baekhyun melirik hati-hati pada pria di hadapannya, "Bajumu basah, sebaiknya ganti. Ada baju yang bisa kau pakai." Wanita itu berdalih lantas mulai membedah isi lemari. "Pakai ini."

Chanyel mengernyit pada satu stel pakaian bersih di tangan Baekhyun.

"Itu baju Joonmyeon Oppa."

Kenapa Baekhyun menjelaskannya?

Baik, Chanyeol rasa Baekhyun tengah meluangkan waktu untuk menjelaskan semua. Setelah mengambil alih baju di tangan Baekhyun, pria itu bergegas memasuki kamar mandi untuk berganti.

Petir menggelegar menjadi satu-satunya alasan mengapa Jesper berteriak takut dan menghambur naik keatas ranjang Ibunya.

Hujan semakin lebat sementara hari mulai gelap.

Chanyeol keluar dari kamar mandi mendapati Baekhyun berdiri dengan ekspresi gusar.

"Mom, aku mengantuk."

"Huh?" Baekhyun tercekat.

"Aku mengantuk dan ingin tidur denganmu."

"Oh baiklah."

Baekhyun nyaris berterimakasih kepada Jesper karena membuatnya lolos dari tatapan Chanyeol yang menuntut sebuah penjelasan jika saja putranya itu tidak kembali bersuara.

"Daddy juga, aku ingin tidur dengan Daddy juga." Celetuk Jesper yang berhasil melahirkan gelegar petir di atas kepalas Ibunya.

Gerak Baekhyun yang kala itu tengah menata bantal di atas ranjang terhenti. "A-apa?"

"Dad, kemarilah. Aku kedinginan. Bukankah Daddy sudah berjanji tidak akan membiarkanku kedinginan?"

"Tapi, nak.."

"Apa Daddy akan ingkar janji lagi?"

Rengutan wajah Jesper membuat Chanyeol panik, ia melirik pada Baekhyun dan hanya mendapati wanita itu menghela pasrah.

Sungguh, Baekhyun benci melihat raut sedih di wajah putranya.

"Baiklah, baiklah." Chanyeol mengalah sebelum kemudian naik keatas ranjang dan memeluk putranya.

"Mom, sepertinya Jihyunie juga kedinginan." Tukas Jesper seraya menunjuk adiknya yang tengah terlelap di sampingnya. "Peluk dia Mom, sama seperti Daddy memelukku."

Apakah kau sebahagia itu, nak?

Bakhyun meratap dalam hati. Ia tidak merasa sedih untuk raut bahagia Jesper saat ini. Baekhyun hanya terhanyut dalam suasana. Menyadari fakta bahwa inilah yang Jesper impikan sejak lama.

Ada sunyi yang mengudara sejak lama. Dua anak kecil terlelap di tengah ranjang. Sementara dua orang dewasa yang saling bersebrangan masih diam dalam tatap, saling menghadap dengan tangan yang melingkar posesif pada dua buah hati.

"Sejak kapan?"

Chanyeol memulainya.

"Saat aku sedang sangat membencimu. Perutku mual begitu saja."

"Apa yang sangat ingin kau makan saat itu?"

Mata Baekhyun perlahan memanas. "Kimbab."

Namun Chanyeol yang lebih dulu berkaca-kaca.

"Apa dia sering menendang?"

Baekhyun mengangguk, "Meski tidak sekuat tendangan kakaknya."

"Berapa panjangnya saat lahir?"

"53cm. Suara tangis pertamanya lebih keras dari kakaknya."

Mata Chanyeol terpejam erat, bersamaan dengan bulir kecil yang lolos dari pelupuknya.

Apakah selamanya ia akan menjadi pihak yang banyak tertinggal?

Bagaimana bisa ia kembali tidak tahu ada buah hatinya yang lain?

"Aku.. aku kesulitan."

Chanyeol kembali menatap Baekhyun ketika suara mencicit wanita itu kembali terdengar. Lantas mereka kembali bersitatap.

"Membesarkan dua orang anak tanpamu, aku kesulitan, Park Chanyeol."

Selama ini Baekhyun tidak pernah sekalipun mengeluh, ia kerap menikmati perannya sebagai seorang ibu. Bahkan sesulit apapun hal yang datang menerpa, ia selalu yakin bahwa Tuhan telah mempersipkan jalan keluar

Semula segala hal yang berkaitan dengan kedua buah hatinya adalah apa yang selalu Baekhyun syukuri, ia tidak pernah menganggap kehadiran mereka sebagai sesuatu yang akan mendatangakan banyak kesulitan. Semula, Baekhyun setangguh dan sekuat itu.

Ya. Semula dirinya tenang-tenang saja. Akan tetapai tidak sampai ia kembali bertemu dengan Park Chanyeol setelah dua tahun berlalu, hingga kini harus berakhir bersitatap dengannya di kesunyian malam, ditemani kedua buah hati mereka yang telah terlelap.

Sunyi terlalu menyiksa hingga kesulitan itu tanpa permisi menyusup masuk begitu saja memenuhi rongga hatinya.

Rasanya begitu sesak.

Karena faktanya Baekhyun begitu kesulitan. Selama ini, ia tidak baik-baik saja.

Karena faktanya, menjadi orang tua tunggal tidak semudah itu.

"Sungguh. Aku benar-benar kesulitan." Tangisnya pecah. Rasa lelah yang selama ini dipikulnya seorang diri muncul ke permukaan.

Park Chanyeol bukanlah siapapun.

Pria itu hanyalah bocah kaya yang memayunginya kala hujan lebat, dulu.

Pria itu tidak lebih dari sekedar musuh yang menyulitkannya saat duduk di bangku sekolah menengah.

Pria itu tidak berubah, masihlah sosok yang Baekhyun benci ketika semesta kembali mempertemukan mereka delapan tahun lalu.

Tiada hal apapun yang pantas membuat pria itu layak untuk mendapatkan toleransi dari Baekhyun.

Nyaris tidak ada jika saja pria itu bukanlah satu-satunya alasan mengapa Jesper dan Jihyun terlahir ke dunia. Dia seorang ayah, sosok yang kedua buah hatinya butuhkan.

Baekhyun tidak ingin menjadi egois untuk waktu yang lama. Karena faktanya, ia juga membutuhkan pria itu.

Baekhyun membutuhkan Chanyeol ada di hidupnya. Untuknya juga kedua buah hatinya.

"Baekhyun. Mungkin bagimu aku masih seseorang yang pantas kau benci dan kau kutuk." Ada kesungguhan yang tersirat dalam nada ucap yang Chanyeol lontarkan. "Aku bukan orang baik, seperti yang kau ketahui. Tapi maukah.." Ia menjeda panjang.

"Maukah kau percaya padaku bahwa aku mampu memikul sebagian dari kesulitan yang kau alami selama ini?"

Chanyeol menghela dalam pedih, "Untuk anak-anak kita, maukah kau memulainya lagi.. bersamaku?"

•••

TBC

•••

A/N:

Uhukkk

DaddyxJihyunie moment next chapter yeahhh hihi..

Semoga tidak ada yang merasa alurnya kecepetan ya, soalnya selain udah mumet sama yang menye-menye, sequel ini juga gak akan banyak chapternya, yaa paling cuma berapa chapter yang gak akan menyentuh dua angka.

At last.. gak akan pernah bosen ngucapin makasih kepada kalian yang udah sabata banget nungguin ini update hwhwhw. Ayaflu gaesss

Salam pisang and CHU!