THE LEGENDIARY OF KORRA
.
Disclaimer: I do not own Twilight, either its characters, basic plot, backgrounds, etc... They all belong to Stephenie Meyer. This story is spin-off of my other fanfic, The Another Black.
.
Set 5 years after Volturi's attack on December 2006. Now is Spring 2012.
.
Warning: Rated T+ to M. Read on your own guard.
.
Korra POV
.
.
2 – Jacob Black
Friday, February 15, 2013
1:15 AM
.
.
Aura shifter sangat mencolok. Aku tahu. Pengalaman selama ini dapat mengajarkanku hal semudah itu. Aku bisa mengendus, mengenali keberadaan shifter dari jarak sekian kilometer. Dari jenis apapun, meski ya, aku akui aku tak bisa terlalu mengenali para Penguasa Dunia Atas dan Penguasa Dunia Bawah. Maksudku para shifter penghuni angkasa: bangsa burung, dan penghuni air: bangsa ikan, mamalia air, reptil, dan amfibi. Aku lebih mudah mengenali para Penguasa Dunia Tengah, shifter yang mengambil bentuk hewan darat. Shifter dan calon shifter, tepatnya. Orang yang memiliki gen aktif dan sedang berada di ambang perubahannya, hanya belum memiliki kesempatan untuk berubah.
Tapi aura shifter yang kurasakan dari dua orang ini, bagaimanapun, agak sedikit berbeda. Apakah karena aku terkait darah dengan mereka? Atau karena sesuatu yang lain? Auranya mengintimidasi, menekan. Memaksaku tertarik padanya. Memaksaku berlutut, bahkan.
Oke. Jangan katakan… Aura Alfa?
Salah satu dari mereka Alfa? Bagus sekali. Dan pemuda di sampingnya, apa? Wakilnyakah?
Kakakku adalah salah satu dari mereka. Karena ia mungkin Alfa atau wakil Alfa, dan aku memiliki keterkaitan genetik padanya, apakah dengan demikian secara otomatis aku menjadi anggota kawanannya? Bawahannya?
Tidak, tidak… Mungkin tidak harus begitu.
Aku berhenti di balik tiang besar, agak terlindung kerumunan orang, tempatku bisa melihat mereka dengan jelas sekaligus memastikan diriku tidak terlalu terlihat. Kucoba memperhatikan reaksinya. Menilai. Mereka berdua masih celingukan. Tidak mungkin… Jika aku bisa merasakan dan mengenali aura mereka, seharusnya mereka bisa merasakan auraku, kan? Apa iya auraku begitu tak terdeteksi? Bukankah aku, setidaknya separuh dari diriku sekarang, juga memiliki darah yang sama dengan mereka?
Atau… ini hanya berarti mereka belum bisa mengembangkan kemampuan itu… Astaga. Mana mungkin? Apa mereka tidak pernah bersinggungan dengan kawanan shifter lain?
Oh, tapi itu mungkin saja. Mereka berasal dari… mana? Daerah terisolasi di hutan di Semenanjung Olympic yang muram. Kawananku saja tak pernah bermimpi untuk melakukan penaklukan ke sana, jadi mungkin tiada kawanan shifter lain yang mau…
Huh, itu hanya berarti mereka gerombolan shifter lemah. Apa wujud yang mereka ambil? Wujud homogen? Atau heterogen? Mungkin homogen… Serigala, sama sepertiku.
Jangan menilai remeh hanya dari penampilan luar, Korra… Kau belum mengenal mereka. Siapa tahu mereka punya kekuatan yang tak kauduga. Sebaiknya kau berhati-hati, suatu suara dalam kepalaku memperingatkanku. Aku mengangguk. Memang benar… Hanya karena mereka tidak bisa mengenali shifter lain, bukan berarti mereka demikian lemah. Aura mereka saja begitu menekan. Mungkin sebaiknya aku berhati-hati. Menjaga jarak. Menutupi identitasku sementara waktu.
Aku menutup mata, menarik napas panjang. Saatnya pertunjukan.
"Jake!" aku memperdengarkan suara ceriaku, menembus kerumunan, langsung menghambur menerjang pemuda yang memiliki aura paling kuat dan paling menekan. Tidak salah lagi, yang ini pasti kakakku. Jika Alfaku dulu berkenan mengangkatku karena mengatakan darahku murni dan tinggi, maka pasti artinya aku memiliki darah Alfa. Dan jika benar begitu, wajar jika aku berasumsi bahwa kakakku juga Alfa.
Ia membeku, kelihatannya tak mampu memprediksi hal yang kulakukan. Ia tidak menghindar. Oh, ini hal yang bodoh sekali. Seharusnya ia punya sensor ekstra-sensitif terhadap gerakan. Jika yang menerjangnya adalah vampir, pasti ia sudah mati sekarang. Yah, aku juga bisa membunuhnya detik itu juga. Tapi tidak, itu takkan kulakukan.
Reaksi nol-nya merupakan kesempatan untukku. Kusentuhkan pipiku di pipinya, kutekankan ujung jemariku di nadi lehernya, merasakan panas tubuh dan aliran darah di nadinya. Menilai detak jantungnya. Panas tubuh di atas rata-rata. Deras aliran darah dan detak jantung di atas rata-rata. Oh ya, memang benar. Shifter. Berdarah panas.
Dan sepertinya ia masih belum dapat mengidentifikasi siapa aku. Lamban sekali responnya.
Entah mengapa kurasakan tangannya menjangkau pinggangku, merengkuhku lebih dalam ke pelukannya. Apa itu reaksinya karena bertemu denganku, adiknya? Atau karena entah bagaimana instingnya mencurigaiku dan mulai menganalisaku? Gawat jika kemungkinannya adalah yang kedua. Meski lambat, bisa jadi ia akan mengenali bauku juga kalau aku terus menempel begini padanya. Aku tak boleh berlama-lama dalam posisi ini. Aku tak boleh meresikokan apapun.
Aku langsung melepaskan pelukannya, memandang matanya dengan lagak innocent.
"Maaf," kataku, pura-pura malu. "Aku terlalu agresif ya?"
Ia tidak menolak pelukanku, dan juga tidak membantah ketika aku memanggilnya 'Jake'. Ya, kalau tak salah memang itu nama panggilan kakakku yang pernah disebutkan Dad. Berarti dugaanku memang benar. Ia, sang Alfa, memang kakakku.
Pemuda di samping kakakku tiba-tiba mencondongkan tubuh ke kakakku, berbisik di telinganya, "Sebagaimana diharapkan dari keluarga Black." Aku menoleh padanya, berusaha memperlihatkan pandangan bertanya dan tetap menahan senyum di bibirku. Biasanya itu pancingan yang bagus untuk meminta seorang cowok menyebutkan namanya. Ia sepertinya memakan umpanku, karena ia tersenyum seraya mengulurkan tangan. "Hai, aku Seth Clearwater," katanya riang. "Teman Jacob, kau tahu."
Oh ya, aku tahu… Sang Wakil Alfa.
Aku balas menjabat tangan Seth. "Coraline, Coraline Louise Gerrard. Kau bisa panggil aku Korra."
"Oh, hai Caroline..."
"Coraline," aku membetulkan. Mungkin baik jika aku memperlihatkan sikap seperti anak kecil nan polos. "Kau tahu? Seperti film kartun itu, yang mata ibunya seperti kancing..." kataku sambil mempermainkan jemari di depan mata, membentuk lingkaran sambil membelalakkan bola mata. Ya. Sikap kekanak-kanakan dan pengetahuanku tentang film animasi biasanya selalu berguna. Topeng yang bagus untuk menunjukkan betapa childish diriku. Anak kecil tak pernah dicurigai siapapun, dan mudah mendapatkan kasih sayang dari sekitarnya. Aku menimbang ekspresi di wajah dua pemuda itu sejenak, melihat bayang ketidakmengertian di mata mereka, lalu menambahkan, "Kalian tidak tahu ya? Tidak sama sekali?"
Baik Seth maupun Jacob menggeleng.
"Kalian benar-benar tidak mengerti soal film animasi?" tanyaku lagi. Penting untuk menegaskan jurang perbedaan usia dan pengetahuan antara aku dan mereka.
Mereka berdua saling berpandangan, dan menggeleng.
"Haaaahhh, ayolah, guys..." aku memperlihatkan sikap putus asa, khas anak kecil jika menghadapi orang dewasa yang tidak mengerti dunianya. "Ah, sudahlah..." kataku akhirnya, tertawa riang. Alih-topik yang cepat juga kekhasan anak kecil. "Senang sekali bisa bertemu kalian."
"Tunggu, Korra," sang Alfa memotong, agak curiga. "Bagaimana kautahu ini kami? Maksudku, bagaimana kau bisa mengenali kami? Kau belum pernah bertemu kami, kan?"
Gawat. Dia curiga. Apa ini insting defensifnya semata, yang menuntunnya mencurigai apapun yang asing, atau memang aktingku kurang bagus? Atau malah ia menangkap auraku? Apapun itu, aku harus cepat memikirkan jalan keluar yang aman.
"Oooh, itu..." aku memasang wajah pura-pura malu, sembari tetap mempertahankan suara ceria. "Sebenarnya Dad sudah cerita soal kalian, ia bilang kalian akan menjemput."
Kuperhatikan, ia agak terpukul mendengar ucapanku. Apakah karena aku memanggil ayahnya dengan sebutan 'Dad'? Kalau begitu, apakah ia baru tahu mengenai latar belakangku dan masih belum benar-benar menerimaku? Apakah ia masih memendam ketidaksukaan tentang kisah cinta ibuku dan ayahnya? Bagus kalau begitu, karena aku juga sama. Aku juga tidak suka dengan ibunya.
Tapi aku tak hendak mengungkit masalah itu sekarang. Aku harus berusaha agar bisa diterima di keluarga mereka dulu, mengesampingkan perasaan pribadiku.
Masih bersikap ceria, aku menambahkan, "Katanya cari saja dua orang Native bertubuh tinggi besar dengan ekspresi bingung, tidak mungkin salah. Ia bahkan mengirimiku foto kalian," kuotak-atik telepon selulerku, memberi penegasan. "Lihat, ini!" serunya sejurus kemudian, memperlihatkan foto dua pemuda yang saling berangkulan, yang baru dikirim ayah tadi. "Kalian mudah dikenali, kalian tahu?"
Kedua pemuda di hadapanku saling berpandangan. Siratan bingung muncul di wajah mereka. Itu pasti, kalau aku jadi mereka. Bagaimanapun serupanya foto dengan aslinya, tak mungkin semudah itu mengenali dua orang yang bahkan belum pernah kutemui seumur hidup di tengah hiruk pikuk bandara. Tapi kucoba tidak memedulikan ekspresi mereka. Aku harus segera pergi dari topik ini sebelum makin meluas dan akhirnya penyamaranku terbongkar saat aku belum lagi menginjak tanah mereka.
Ya. Tujuanku ke sini bukan hanya untuk bertemu keluargaku.
Tanah mereka. La Push.
Tanah suku Quileute.
Suku asalku. Dan juga asal dari legenda itu.
"Jadi, langsung kemana kita?" ujarku ceria sambil merangkul leher sang Alfa dengan tangan kananku dan sang wakil dengan tangan kiriku. Kedua cowok itu agak mencondongkan badan ke samping guna mengimbangi tinggi badanku, membuatku ingin tertawa dalam hati. Miris, sebenarnya.
Oh ya, maaf, untuk ukuran shifter, aku memang pendek. Kelewat pendek, malah. Aku tidak sampai 160 cm. Aku cewek dan usiaku baru 16 tahun, jadi wajar saja. Tapi ini masalahnya: sejak beberapa bulan lalu, bisa dipastikan aku tidak akan tumbuh. Ha-ha-ha. Ironis sekali. Melihat kedua orang Quileute yang besar-besar ini, aku membayangkan, bahkan walau aku perempuan, seharusnya aku pun bisa berkembang lebih tinggi. Pertumbuhan pesat seharusnya ada dalam genku. Tapi tidak. Itu salah satu resiko yang harus kutanggung semenjak aku menandatangani perjanjian itu. Perjanjian yang mengubah takdir hidupku selamanya. Dan juga membawaku ke sini.
"Kau tidak membawa barang apapun?" tanya Jacob, matanya berkeliling. Pastinya ia mencari kopor atau apapun. Tapi tentu saja ia takkan menemukan. Kapan aku pernah kemana-mana membawa barang-barang berat dan menyusahkan?
Kugelengkan kepalaku. "Hanya ransel ini," ujarku, sedikit memutar tubuh menunjuk tas kamping hijau limau ukuran sedang yang tergantung di punggungku. "Aku tidak bawa banyak baju, tidak pernah. Mungkin nanti kita bisa pertimbangkan belanja jika aku yakin akan tinggal bersama kalian."
"Mempertimbangkan?" kakakku mengerutkan alis. "Bukankah kau memang akan tinggal dengan kami?"
Ups. Apa aku salah langkah?
Apakah seharusnya aku menunjukkan bahwa aku ingin menetap permanen?
Karena aku tidak. Tidak mungkin aku akan tinggal selamanya di sana, terkurung dengan kawanan mereka. Demi Tuhan, aku bukan bagian dari mereka. Aku ke sana hanya untuk tugas. Begitu selesai, aku pergi.
Tapi mungkin kakakku mengira aku, sebagai adiknya, akan pindah permanen ke rumahnya. Itu wajar saja, sebenarnya. Lagipula aku sudah bilang pada Dad bahwa aku tak punya siapapun lagi di dunia ini. Aku sebatang kara, begitulah… Hanya untuk menarik simpati dan membuat mereka tanpa ragu menerimaku.
Jangan-jangan memang aku sudah membuat langkah kontradiktif? Oh, seharusnya memang aku membawa kopor besar! Sial! Bodoh, Korra!
Aku mencoba bersikap kasual, bersenandung menutupi kekhawatiranku. Kuseret mereka keluar lobi, sebisa mungkin menjaga tenagaku tetap di level terendah. Aku harus segera keluar dari sini, pergi ke tempat tujuanku. Makin banyak pembicaraan tidak penting dihabiskan di sini, makin banyak kesempatan mereka untuk membuka topengku. Memaksaku mengeluarkan kebohongan yang saling kontradiktif atau semacamnya. Sengaja atau tidak. Ah, bisa jadi malah mereka sengaja. Menyelidikiku juga seperti aku menyelidiki mereka. Siapa tahu mereka tak sebodoh kelihatannya.
Tidak, tidak boleh dibiarkan. Aku harus bermain licin. Hati-hati.
"Ya dan tidak…" ujarku, agak menyeret kalimat. "Masih belum kupikirkan. Mungkin sebulan dua bulan ini, entahlah. Aku hanya ingin bertemu Dad..."
Yup. Aku masih bisa memainkan kartu 'anak hilang yang ingin bertemu keluarganya'. Ingin bertemu, tapi masih ragu untuk menetap. Masih bimbang dengan penerimaan keluarganya. Standar perasaan remaja manapun yang berada dalam posisiku. Aku masih bisa menggunakan asal usulku yang rumit untuk kepentinganku.
Kurasakan perubahan ekspresi Jacob, lagi, ketika aku menyebutkan kata itu. 'Dad'. Ya. Benar dugaanku. Dia memang belum menerimaku.
Kulepaskan rangkulanku, memandangnya agak takut-takut. "Yah, kalau... kau tidak keberatan aku memanggil Dad..." ujarku, gemetar.
Jacob tampak salah tingkah. "Oh, ya, tidak, tentu saja," katanya. Jelas ia berusaha menelan kepahitannya sendiri.
"Aku hanya... mmm... kurasa... maksudku aku ingin merasakan... maksudku... memiliki... maksudku... mmm..." aku berusaha tampak rikuh, berperan bak gadis merana yang takut salah ucap, menunduk memandang ujung sepatuku.
Sejujurnya dalam hati memang aku agak takut juga. Jacob, kakakku ini, dia Alfa. Urusan ini agak berbahaya. Entah karena insting Alfanya terhadap ancaman asing atau karena masalah keluarga, penilaiannya penting untukku. Kalau aku salah langkah di depannya, kalau aku sampai membuka identitasku… Kalau instingnya mendeteksi ada yang tidak beres denganku… Atau kalau ia tidak menerimaku menjadi bagian keluarganya… Bisa jadi ia langsung mengusirku dan aku tak punya kesempatan sama sekali untuk menginjak tanahnya lagi.
Anehnya Jacob mendadak tampak merasa bersalah.
"Tentu saja tidak masalah kau memanggil Billy dengan sebutan Dad, Korra. Bodoh sekali kau mengira aku keberatan. Ia ayahmu. Kau putrinya," tanpa diduga kata-kata itu meluncur dari lidahnya.
Oh, benarkah? Serius dia bicara begitu?
Aku diterima?
Aku mengerjap tidak percaya. Aku melewati tahap pertama penilaian insting Alfa! Hebat! Tanpa kusadari aku melonjak gembira. Ini sungguhan. Aku tidak pura-pura.
"Terima kasih, Jacob..." sorakku, sekali lagi memeluk leher sang Alfa. "Aku seperti mendapat kakak lelaki, senang sekali," aku tersenyum lebar dan berbalik memandang si wakil. "Terima kasih, Seth," entah mengapa aku mengucapkan itu padanya. Agak terbawa suasana, terlalu riang, kupeluk lehernya.
Seth jelas-jelas merasa salah tingkah. Kuperhatikan ia melirik Jacob, ekspresinya agak khawatir. Oh, oh, gawat… Penilaian Jacob mungkin agak terbutakan oleh statusku sebagai adiknya. Tapi sang wakil? Ia tak punya hubungan darah denganku. Bisa jadi ia merasakan auraku, mencurigaiku. Apakah aku salah ketika aku memeluknya? Apakah, entah bagaimana, ia bisa merasakan sesuatu dari sentuhan kulitku di lehernya?
Astaga, apa yang harus kulakukan?
Rupanya aku tak hanya harus berusaha memikat Jacob dan Dad. Aku juga harus membuat kawanannya menerimaku. Terutama Seth.
.
.
Perjalanan ke La Push adalah hal yang kunanti-nantikan. Sepanjang jalan aku tak henti-hentinya berceloteh, bertanya ini dan itu. Tak ada yang lebih membuatku penasaran ketimbang fakta tentang La Push dan keseharian mereka.
Jacob dan Seth menjawab semua pertanyaanku dengan antusias, meski kentara sekali sikap mereka yang penuh perhitungan kala mengutarakan beberapa topik. Aku sadar aku harus hati-hati di titik ini. Terlalu banyak bertanya, tampak terlalu penasaran, juga bisa menjadi batu yang balik menghantamku. Tapi tidak bertanya juga mencurigakan. Aku sudah memasang kepribadian sanguin dari awal. Dan lagi, aku akan datang ke tempat satu-satunya keluarganya yang tersisa, yang tak pernah kulihat seumur hidup. Wajar jika aku ingin mengejar ketertinggalanku.
Seth menyambar jeda kosong setelah Jacob menjawab pertanyaanku soal sekolah yang akan kumasuki segera setelah aku tinggal bersama mereka. Dari kaca spion tengah, kusadari sejak tadi pemuda itu berusaha mengintipku yang duduk di jok belakang. "Jadi, ceritakan tentang dirimu," katanya.
Aku balas menatap matanya dari kaca yang sama. Ia mengerjap, mengalihkan pandangan ke jalanan.
"Cerita apa?" tanyaku.
Ia kini memutar setengah tubuhnya ke jok belakang, menghadapku. Matanya berbinar-binar. Suaranya terdengar renyah dan riang. "Apa yang kaulakukan selama, hmmm, 16 tahun ini?"
"Oh, hal biasa, Seth," senandungku. "Aku berkelana ke banyak tempat. Tahun lalu aku di Nepal. Tahun sebelumnya di Bangkok dan Jepang. Tahun sebelumnya aku di Guatemala dan Italia. Tahun sebelumnya lagi aku di Mesir. Kau tahu, biasalah... aku tidak pernah ada di suatu negara lebih dari setahun. Kalau kautanya aku, aku warga negara USA, tapi lihat pasporku. Tidak sampai dua tahun aku di negeri ini, kalau dijumlahkan..."
Mata Seth membelalak. "Kau tidak tinggal di negara ini?"
Aku tertawa. "Aku tidak menetap permanen di negara manapun, Seth... Aku nomaden, seperti ibuku..."
Tiba-tiba aku mengingat ibu. Entah mengapa. Aku akan datang ke tempat yang ditinggalkannya bertahun-tahun lalu. Tanah yang mengusirnya. Tanah yang tidak menerimanya. Apakah aku mengkhianatinya, dengan menginjak lagi tanah ini?
Apakah ia juga merindukannya? Menginjak tanah kampung halamannya? Jika ia masih punya kesempatan, jika ia masih bisa hidup… Maksudku, benar-benar hidup, apakah saat ini ia akan bersamaku, kembali ke La Push?
Apakah ada sesuatu yang berkesan dengannya di tanah ini? Sesuatu yang akan kutemui nanti? Rumahnya, apakah masih tegak berdiri? Rumah pohon tempatnya waktu kecil dulu sering bermain dengan si sepupu yang kemudian menjadi kekasihnya, ayahku, apakah masih tetap ada? Pantai tempat mereka biasa berlarian, saling berkejaran, bertarung dengan ombak? Gua yang katanya sering mereka datangi? Ataukah ada tempat yang miliknya seorang, tanpa dibagi dengan siapapun, bahkan tidak juga dengan ayahku? Apakah aku akan menemui bayangannya di sini? Ibuku?
"Maaf soal ibumu," kudengar suara lirih Jacob.
Aku terhentak dari lamunanku. Benarkah yang kudengar? Benarkan ia bersimpati? Ya Tuhan, ia yang membuat ibuku harus pergi dari tanahnya… Aku harus pergi… Apakah ia tidak ingat?
Dan efek dari hal yang terjadi bertahun-tahun lalu itu aneh. Sangat aneh, malah. Aku tidak mengerti bagaimana cara takdir mengikat kami, para pelakunya. Pengusiran yang membuat kami meninggalkan La Push, ternyata berujung pada keharusan aku kembali ke tanah ini. Ironis. Sangat.
Aku menarik napas panjang. Mencoba menenangkan diri. Kukumpulkan serak-serak ketegaranku, kupasang lagi topeng ceria itu.
"Jadi setelah kupikir-pikir," ujarku. "Tak ada salahnya jika aku menghubungi Dad. Mungkin tinggal sementara di La Push. Sebulan atau dua bulan, sebelum berkelana ke tempat-tempat lain di US. Kau tahu, tidak terlalu susah berkelana di dalam negeri pastinya jika kau terbiasa berkelana di mana-mana. Aku memang belum cukup umur, tapi aku mudah beradaptasi, kok…"
Aku tersenyum sebelum melanjutkan.
"Mungkin aku terdengar seperti anak haram brengsek yang mendadak muncul entah dari mana, mengaku-aku sebagai anak untuk mendapat hak waris," aku tertawa, menggoyang-goyangkan kepala dengan dramatis. Lucu sekali bagian itu. Aku bahkan tak pernah bermimpi untuk benar-benar diakui lagi di suku yang pernah mengusir ibuku. "Tapi Dad memang sudah beberapa tahun ini membujukku ke La Push sebenarnya, bertemu dengan kalian. Hanya saja ibuku tidak..."
"Tunggu," Jacob menyela. Gawat. Apa ia menyadari ada sesuatu yang salah dengan ceritaku? "Beberapa tahun ini Dad membujukmu ke La Push? Artinya sudah lama ia mengetahuimu sebagai anaknya?"
Hah? Apa ini? Apa ayahku tak pernah cerita apa-apa padanya?
"Ya… Well, Mom sudah lama bicara dengan Dad soal aku sebenarnya, sebelum ia meninggal, tapi..."
"Berapa lama?" potong Jacob menuntut. Kulihat matanya mengintipku dari spion. "Sudah berapa lama Dad tahu soal kamu?"
Terus terang aku bergetar. Suaranya menekan. Mengerikan.
"Ketika Mom mengunjungi La Push," ujarku, berjuang keras untuk terdengar tenang. Meski begitu, aku yakin suaraku sedikit kehilangan kestabilannya. "Mungkin sejak sekitar tiga tahun lalu."
"Tiga tahun?"
Suaranya meninggi. Ini gawat. Mungkin ia tipe yang tak terlalu bisa mengontrol emosi. Meledak di dalam mobil di tengah lalu lintas kota yang padat sama sekali bukan ide bagus. Dengan aku terperangkap di dalamnya. Aku bahkan mungkin akan ikut kehilangan kendali dan berubah. Bukan ide bagus juga. Aku harus berusaha menenangkannya.
Tak ada gunanya kabur dari tuntutan Alfa yang meminta penjelasan. Entah ia menganggapku manusia biasa atau bukan. Aku tetap harus menunjukkan ketertundukkanku. Memberinya keterangan yang ia butuhkan. Selengkap mungkin.
"Mom sering mengunjungi La Push sebenarnya. Ia mempromosikan kebudayaan Native di sana-sini. Setiap dua tahun sekali ia ke La Push, dan kata Mom, sekitar tujuh tahun lalu, ia tak sengaja bertemu lagi dengan Billy," aku berusaha menjelaskan. Tapi baru separuh jalan, ia sudah memotong.
"Tunggu. Maksudmu, sudah tujuh tahun ibumu berhubungan lagi dengan Billy dan aku tidak tahu?!"
Astaga. Aku salah langkah.
Seth berbisik pelan di telinga Jacob, berusaha menenangkannya. Tipe Wakil Alfa subordinatif, rupanya… Mungkin memang ia sengaja dibawa untuk menenangkan sang Alfa. Mungkin ia yang memegang kunci mengendalikan sifat agresif khas Alfa.
Aku tak seharusnya menganalisa itu sekarang. Aku harus menyelamatkan diriku.
Suaraku pecah tanpa kusadari ketika aku membuka mulut. "Tidak, Mom tidak berhubungan lagi dengan Dad seperti yang kaupikirkan…" keteganganku makin menjadi. "Mereka hanya bertemu, dan bicara sedikit. Tapi baru tiga tahun lalu Mom berani cerita tentang aku."
"Dan sejak itu kau sering menghubungi Dad?!" tuntut Jacob
"Hanya, hanya sms, dan telepon... Tidak sering... tidak pernah bertemu..."
"Selama tiga tahun ini ayahku tahu aku punya adik dari perempuan lain dan aku tidak tahu?!" suara Jacob meninggi.
"Jake..." Seth berusaha memperingati.
"Selama ini aku punya adik tiri dan tak pernah sekalipun aku diberi tahu?!"
Astaga. Apa aku salah lagi? Berapa banyak yang Jacob ketahui? Berapa banyak yang tidak ia ketahui? Apa Dad sama sekali tidak memberi informasi? Apapun? Ini kerugian total di pihakku. Aku sama sekali tidak memperhitungkan ini. Seharusnya aku bahkan tidak mengungkit Mom, atau Dad…
"Aku... aku..." Aku begitu bergetar hingga tidak tahu apa yang harus kukatakan. Kucoba mencari dukungan Seth. Ia melirikku sekilas sebelum kembali menepuk-nepuk bahu Jacob, menggumamkan kata 'tenang' lagi dan lagi.
Tetapi rupanya sang Alfa tidak begitu mudah ditenangkan. Gemetar sudah menjalari tangan dan kakinya, sementara ia berusaha keras menenangkan diri dengan memejamkan mata rapat-rapat dan menggeleng kuat-kuat.
Gawat, benar-benar gawat. Kakakku ini kelewat emosional. Aku harus segera membuat langkah cerdas sebelum ia benar-benar membuat semua orang dalam bahaya.
"Mom tidak pernah berhubungan lagi dengan Dad, Jake..." aku berusaha menjelaskan langsung ke sasaran. Sesuatu yang ingin ia dengar. "Tidak sejak Mom meninggalkan Dad tujuh belas tahun lalu. Tidak sejak ia tahu ia mengandung aku. Ketika bertemu pun, mereka hanya bertemu sekilas, Jake. Sebentar. Tidak ada apa-apa. Tidak ada apapun antara Mom dan Dad..."
Apakah itu kebohongan? Entahlah. Aku tidak tahu. Aku tidak berpikir. Yang jelas aku tidak boleh membuatnya marah lebih dari ini.
"Jake, tenanglah..." bisik Seth.
"Kumohon, Jake. Percayalah…"
"Jake, tenanglah..."
Tapi gemetar Jake tidak kunjung reda. Dengan susah payah ia meminggirkan mobil. Suaranya gemetar ketika ia turun dan memohon dengan nada setengah memerintah, setengah tak sabar, pada Seth, "Gantikan aku mengemudi. Bawa Korra ke rumah," dan dengan itu, ia pergi. Setengah berlari ke entah mana.
"Jake!" teriak Seth. Tapi tak ada gunanya, Jake tak mendengarnya. Atau tak mau mendengarnya. Mengucapkan selusin sumpah serapah, Seth berpindah ke bangku kemudi, menstarter mobil dengan kesal.
"Kemana Jake pergi?" tanyaku khawatir, mengawasi arah menghilangnya punggung Jake di tengah keramaian kota. Serius! Dia pergi dalam keadaan marah di tengah kota? Apa ia sebegitu bodohnya? Ia tidak hanya membahayakan orang-orang di sekitarnya, ia juga bisa membuat dirinya terekspos! Apa memang hukum kerahasiaan tidak berlaku bagi suku Quileute ini?
"Menenangkan diri," jawab Seth singkat. Nadanya tidak sabaran. "Nanti juga ia pulang. Jake selalu begitu."
Oh tidak… Kawanan shifter dengan sang Alfa, kakakku sendiri, yang bodoh, pemarah, dan sangat-sangat tidak stabil… Aku tidak bisa bayangkan ini. Rupanya memang ancaman yang merongrong tugasku lebih besar dari yang kuperkirakan.
.
