Wrath Of Namikaze

NarutoXFT

Disclaimer: Belong to each creator

Genre: Adventure

Rate: M

Warning: Typo,OC,OOC,AU,Etc


Chapter 1

Naruto termenung menatap luar. Pertarungan melawan para dewa telah terlewat beberapa bulan tetapi tubuhnya tidak kunjung pulih seperti yang dia inginkan. Beruntung seseorang menolongnya ditengah areal bekas pertarungan itu. Tubuhnya serasa berada dibatas akhir tanpa ada tanda tanda pulih sedikitpun. Aktifitas keseharian serasa seperti membunuh dirinya perlahan.

Selain rasa sakit yang silih berganti datang dan pergi setiap harinya ada juga rasa lapar tak terbendung dari tubuhnya. Jelas dia tidak memperhitungkan dampak dari kekuatan dewa dewa yang telah dia bunuh. Mungkin tubuhnya sendiri sudah tidak sanggup menampung beban yang dia berikan terus menerus tanpa ampun.

Seandainya saja wanita itu tidak menolongnya mungkin sekarang dia sudah mati kelaparan. Wanita tua penuh keriput yang menuggu ajal datang katanya. Beberapa penduduk desa datang dan merawatnya bergantian ketika mengetahui Naruto kesulitan menggerakkan tubuhnya. Tidak pernah ada yang bertanya apa yang terjadi kepadanya, tidak juga bertanya tentang areal pertarungan yang hancur kiri kanan, dan untungnya tubuh para dewa menghilang menjadi debu entah kenapa.

" Kau sudah bangun Naruto?" Wanita muda berambut merah itu datang lagi. Ketika yang lain silih berganti hanya dia yang datang secara konstan. Entah itu untuk merawatnya atau sekedar bertukar cerita, toh Naruto tidak keberatan mendapat teman berbicara.

" Ah Irene, lihat mereka sedang bermain" Pandangan Naruto masih menatap sekumpulan anak anak yang sedang bermain diluar. Rasanya dia juga ingin seperti itu, jarang dia bermain sama orang seumurannya dulu. Dia terlalu sibuk mengejar kata kata bangga dari sang ayah hingga dia lupa menikmati hidupnya.

Irene menatap kearah luar sebentar kemudian memotong apel yang ada dimeja Naruto. Sambil bersiul kecil menikmati suasana sekarang sedangkan Naruto masih saja melihat keluar dengan mata biru sayunya.

" Ingin main juga?" Naruto terkekeh pelan mendengar pertanyaan wanita tersebut.

" Dengan tubuh yang sekarang ini?, bunuh diri namanya" Irene mendekatkan apel yang telah dia potong kecil kecil kemudian menyuapkannya kepada Naruto.

Obrolan mereka terpotong ketika ketukan pintu terdengar. Irene membuka pintu membiarkan Naruto berusaha mengambil potongan apel lain yang ada dipiring dekatnya sekuat tenaga.

" Naruto aku harus pergi sebentar, Bel akan menggantikanku sebentar" pria dengan dua tanduk tersebut masuk menggantikan Irene yang telah pergi.

Keduanya saling tatap ingin menerkam satu sama lain. Dari awal pertemuan mereka langsung menarik kesimpulan bahwa orang tersebut brengsek. Belserion yang mencium aroma dewa ditubuh Naruto dan Naruto yang tidak menyukai kaum naga sedikitpun. Membuat keduanya ingin saling terkam atau mungkin hanya Belserion yang bisa menerkam Naruto sekarang mengingat tubuh Naruto.

Bukan cuman aroma tubuh Naruto yang membuatnya begitu tidak menyukai Naruto, tapi ada banyak hal janggal disekitar Naruto. Aura yang silih berganti satu sama lain antara kegelapan dan cahaya, aroma dan residu dewa yang ada disekitar Naruto walaupun dia manusia, lalu cincin yang selalu dijari Naruto. Cincin yang memiliki tenaga luar biasa ini menakuti Belserion, bahkan dalam dirinya sendiri sadar dia tidak memiliki kesempatan menang sedikitpun melawan Naruto.

" Oi naga, lapar" Perempatan timbul didahi Belserion.

" Makan sendiri Manusia!" Teriakan Belserion membuat anak anak yang sedang main diluar langsung berhenti seketika lalu bermain lagi, bukan pertama kali mereka mendengar teriakan itu.

Naruto kembali berusaha mengangkat apel tersebut. Belserion sendiri melihat Naruto terus menerus yang menciptakan perempatan didahi Naruto kini.

" Apa yang kau lihat sialan!" Naruto berteriak seraya melempar piring tersebut kuat.

" Eh?, AAAGHH" Naruto berteriak kesakitan setelah sadar apa yang dia perbuat. Tangannya serasa ingin lepas kini. Belserion tertawa melihat hal tersebut belum sadar dengan darah yang mengucur perlahan dari pelipisnya tersebut. Belserion sendiri melihat Naruto terus menerus yang menciptakan perempatan didahi Naruto kini.

" AGHHH, kau manusia sialan!" Belserion berteriak ketika sadar pelipisnya robek. Darah yang mengucur perlahan itu dia bersihkan menggunakan serbet yang ada dimeja Naruto. Dia tidak percaya dengan apa yang pria berambut kuning itu perbuat. Kekuatan macam apa yang dapat merobek kulit naga walaupun tubuhnya dalam mode manusia kini. Terlebih lagi hanya menggunakan piring.

Keduanya terdiam sambil menatap satu sama lain, suasana ruangan terasa mencekam.

" Kau tahu Naruto? Mungkin alasan kau tidak kunjung membaik karena kekuatan yang ada didalam dirimu. Kau hanya manusia kau tahu itu kan? Tapi kekuatan yang ada didalam mu itu…, itu bukan manusia sedikitpun."

" Kau pikir aku tidak tahu itu?, kekuatan ini menakutkan. Kekuatan yang melewati batas akal sehat mahluk manapun dan kekuatan itu ada padaku. Seorang manusia, bah! Dewa sendiri tidak akan kuat menerima kekuatan ini." Ucapan Naruto membuat Belserion mengkerutkan dahinya. Dia tidak ingin tahu sedikitpun dari mana asal kekuatan Naruto, dia sudah hidup cukup lama untuk sadar kekuatan berlebih hanya akan mendatangkan kematian.

Naruto mendengus seraya kembali menatap anak anak yang masih asik bermain.

" Bagaimana kabar Irene?" ucap Naruto pelan.

" Apa maksudmu? Kau bertemu dengannya hampir setiap hari, tidakkah kau melihat tubuhnya sendiri?" Naruto hanya menghela nafas pendek.

" Apa yang akan kau lakukan Bel?, ketika kekuatan besar ditubuh Irene menelannya" Belserion terdiam lama. Rahasia diantara mereka berdua adalah mereka mengetahui kekuatan tersembunyi dari wanita tersebut. Belserion yang sudah tahu dari lama dan Naruto yang langsung mengetahuinya ketika awal bertemu walaupun dia sembunyikan dari Irene, sama seperti Belserion.

Irene seperti Naruto, memiliki kekuatan besar yang tertampung ditubuh lemah. Hanya saja kondisinya lebih buruk dari Naruto nanti walaupun kini belum dia sadari sama sekali. Perbedaan diantara keduanya adalah Naruto memiliki regenerasi sel yang diluar batas wajar, itupun masih kesulitan untuk kembali ditubuh awalnya. Tubuhnya seperti medan perang antara regenerasi sel dan kekuatan.

Sedangkan irene, hanya tubuh normal dengan kekuatan besar yang memakan dirinya perlahan lahan tanpa dia sadari.

" Apakah kau akan membunuhnya? Irene yang kau janji untuk lindungi?" perhatian Naruto kini tertuju penuh kepada Belserion yang tengah terdiam. Pertarungan moral yang tengah berkecamuk dihatinya.

" Apakah kau akan membiarkan Irene?" perkataan Naruto terakhir sebelum dia memposisikan dirinya untuk tidur. Membiarkan Belserion yang masih terdiam penuh dilemma dihati.

Belserion sadar dan tahu bahwa saat itu akan tiba dan dia tidak akan bisa lari lagi. Antara membunuh Irene yang telah dia janji untuk lindungi.


Beberapa bulan terlewat sudah semejak percakapan antara sang naga dan Naruto. Tubuh Naruto perlahan pulih menjadi lebih baik. Dapat berjalan seperti manusia normal lainnya dengan peringatan untuk tidak menggunakan sihirnya dalam waktu dekat oleh Belserion.

Didepan Naruto wanita berambut merah tersebut bersiul ria sambil memegang bunga pemberian anak anak ketika melihat mereka berdua. Irene ternyata adalah anak dari kepala desa kecil ini. Naruto sendiri makin lama makin akrab dengan penduduk desa kecuali Belserion yang sering kali adu mulut entah itu dalam kondisi tubuh naga Belserion atau tubuh manusianya.

" Ingin ke festival sekarang?" Irene membuyarkan lamunan Naruto, Naruto hanya mengangguk pelan saja yang kemudian ditarik oleh Irene kuat lupa dengan tubuh Naruto yang masih merasakan sakit walaupun tidak seperti dulu lagi.

Festival bulan kata Irene ketika Naruto bertanya beberapa hari yang lalu ketika melihat orang orang sibuk lalu lalang dijalan utama. Katanya festival setahun sekali mengenai kesuburan dan semacamnya. Jalanan hiruk pikuk dengan orang orang yang tidak Naruto kenal, ternyata benar kata Irene ketika festival ini sangat besar. Saking besarnya orang dari luar desa ikut meramaikannya.

Naruto membiarkan dirinya dibawa oleh Irene membelah lautan manusia. Beberapa orang menyapa Irene dan Naruto. Bahkan membelikan mereka berdua makan secara gratis.

" giliranmu Naruto" Irene memberikan lima pisau kepada Naruto. Ah, Naruto teringat masa lalu ketika dia melempar pisau untuk membunuh. Kini dia melempar pisau karena Irene menginginkan topi aneh berbentuk kerucut.

Lemparan pertama Naruto mengenai titik paling tengah targetnya, begitu juga lemparan kedua, ketiga, hingga terakhir. Membuat orang orang bertepuk tangan melihat kehebatan Naruto melempar walaupun dengan wajah bosan.

" Ini untukmu Naruto" Ciuman Irene dipipi Naruto membuatnya merah padam. Ciuman pertama yang dia terima dari wanita selain ibunya.

Irene sendiri tidak memperhatikan wajah Naruto yang tengah memerah dan sibuk dengan topi berbentuk kerucutnya itu.

" Bagaimana Naruto?" Irene memperlihatkan topi barunya yang kini bertengger manis dikepalanya.

" Jangan sampai hilang, hadiah dariku" kata Naruto tersenyum.

Mereka berdua kembali berjalan menikmati festival ini. Beberapa kali mereka berhenti untuk bermain atau sekedar mendengarkan lantunan musik jalanan. Beberapa orang sendiri terlihat asik menari nari sambil mendengarkan lantunannya. Irene sempat mengajak Naruto menari yang kemudian ditolak olehnya mengingatkan Irene tubuhnya belum bisa bergerak cepat.

Akhirnya mereka berdua berhenti dan beristirahat untuk menonton drama yang akan dibawakan oleh beberapa orang desa. Menceritakan mengenai sesuatu yang tidak Naruto mengerti sedikitpun.

" Kemana kau ingin pergi lagi Naruto?" Naruto diam beberapa saat kemudian gantian dia yang menarik Irene membelah lautan manusia dan keluar dari areal festival.

Mereka duduk dibukit belakang desa dinaungi pepohonan. Suasana festival masih terasa hingga kebukit dengan beberapa orang yang duduk dibukit dari sendirian hingga berkeluarga.

Mereka berdua saling diam. Irene tahu Naruto sangat suka melihat keramaian, lebih dari pada berbicara. Makanya dia belajar untuk menikmatinya bersama Naruto.

" Apa yang akan kau lakukan nanti Naruto?" Naruto mengkerutkan dahinya tidak paham perkataan Irene barusan.

" setelah sembuh, apa kau akan pergi lagi?" perkataan Irene pelan, lirih hampir.

" Entahlah, kembali berpetualang. Mencari sesuatu, mungkin menjenguk keluarga di Fiore" Jawaban Naruto ceria. Irene selalu cemburu mendengarnya, entah dia cemburu dengan Naruto yang bebas kemana mana atau dia cemburu terhadap Mavis yang selalu Naruto bicarakan penuh antusias walaupun Irene tahu Mavis adalah keponakan Naruto.

" Bagaimana denganmu?" pertanyaan Naruto dijawab gagap oleh Irene.

" Y-ya seperti biasanya, hahaha" Naruto mengkerutkan wajahnya bingung. Anehnya Irene terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya. Jauh… jauh lebih cantik.

Entah setan dari mana yang mendorong Naruto untuk mencium Irene karena itu yang dia lakukan. Ciuman pertamanya. Irene awalnya kaget, tapi kemudian membalas ciuman Naruto.

Ciuman mereka berakhir ketika kembang api mulai berterbangan dan pecah dilangit malam. Pandangan Naruto beralih dari Irene ke kembang api. Antara menyukai kembang api dan malu dengan apa yang baru saja dia lakukan. Mengutuk dirinya dalam diam walaupun setengah hatinya senang ciumannya dibalas Irene. Ciuman pertamanya.

" Kau curang Naruto" suara Irene yang lirih membuat Naruto berbalik cepat. Didapatnya air mata bercucuran dan sebelum Naruto bertanya Irene berlari pergi meninggalkan Naruto yang kebingungan.

Tanpa pikir panjang Naruto berlari mengejar Irene yang hilang entah kemana. Semua orang yang Naruto kenal menjawab tidak tahu kemana Irene pergi hingga kemudian dia bertemu dengan Belserion yang ditangannya memegang permen kapas berwarna biru besar.

Menceritakan kepada Belserion apa yang baru saja terjadi minus ciuman yang mereka lakukan. Belserion menghela nafas pendek seraya mengajak Naruto berjalan melewati kerumunan orang sambil asik memakan permen kapasnya.

" Irene mencintaimu Naruto, kau tahu itu" kata Belserion.

" Sayangnya pernikahan Irene sudah ditentukan jauh sebelum kau datang. Dia akan menikahi jendral dari kerajaan seberang. Pernikahan perdamaian kata mereka" perkataan Belserion seperti palu gada menghantam hatinya.

" Dan sebelum kau membuat sesuatu yang bodoh ingatlah kau adalah pendatang dan tidak lebih. Jangan membuat sesuatu yang bodoh demi apapun itu. Kalian memiliki hidup kalian masing masing. Kau mengincar kekuatan kan? Kau masih menginginkan kekuatan lebih sedangkan Irene harus menikah dengan tunangannya. Jangan egois Naruto." Naruto hanya diam saja mengikuti langkah manusia Belserion. Dia sadar dengan betul apa itu pernikahan perdamaian karena bagaimanapun juga dia dulu adalah keluarga bangsawan.

Ada rasa sakit dihatinya, gatal yang tidak bisa dia jangkau. Tidak ada perkataan yang bisa dia keluarkan untuk membantah perkataan naga yang masih asik memakan permen kapasnya.

" Mungkin juga sudah saatnya kau melanjutkan perjalananmu, ya kan pembunuh dewa?, enigma berjalan dimuka bumi ini. Kau bukan didikan seorang dewa kan, kau hanya kekuatan yang entah dari mana datangnya lebih besar dari dewa hingga hingga bisa membunuh dewa." Ucapan Belserion berubah menjadi nada serius seolah ingin menantang Naruto bertarung.

" A-aku akan balik kerumah nenek" jawaban Naruto tidak digubris Belserion sama sekali, dia bahkan tidak melihat Naruto yang menghilang ditelan manusia.

Untuknya para manusia adalah mahluk yang aneh dan dia tidak memperdulikan mereka kecuali itu berhubungan dengan Irene. Dia tidak memperdulikan apapun sedikitpun, dia sudah membuang emosinya tanpa tersisa sedikitpun untuk manusia dihari ketika Naruto mengatakan apa yang akan dia lakukan demi Irene dimasa depan nanti.

Manusia adalah mahluk dengan umur pendek.


Orang orang desa itu berbaris menghadap ke Naruto. Anak anak kecil yang sering bermain bersamanya menangis. Perkataan Belserion yang terulang ulang dikepala Naruto beberapa hari terakhir membuatnya sadar. Dia sudah terlalu lama berdiam diri.

Naruto melihat bayangan Irene dikaca rumahnya. Mereka berdua saling menjauhkan diri satu sama lain sadar dengan takdir yang tidak menyetujui mereka berdua. Naruto memberikan senyuman terakhirnya kepada Irene sebelum pergi entah kemana.

Belserion mengantar Naruto hingga kedepan gerbang desa.

" Jaga Irene Bel, bila sesuatu terjadi cari aku." Belserion tertawa sambil mengiyakan Naruto.

" Ah, ini. Berikan ini kepada Irene. Seharusnya ini dapat menahan kekuatan itu untuk beberapa waktu." Naruto merogoh tasnya kemudian memberikan kalung kepada naga tersebut.

" Kemana kau akan pergi Naruto?" Belserion bertanya kepada manusia berambut kuning tersebut.

" Seperti katamu, mencari kekuatan dan mungkin cara menahannya" Belserion mengkerutkan dahinya mendengar jawaban Naruto. Baginya Naruto adalah manusia terakus yang pernah dia tahu.

" Hati Hati Naruto…"

" Ya, kau juga"


TBC


Awalnya mau kasih 3k. seriuuus tapi kemudian rasanya lebih baik berhentiin disini aja. Serasa lebih pas gitu. Daripada nanti malah kayak terkesan memaksa jadi ya gitu deh.

oh iya! Ada beberapa masalah yang timbul contohnya ternyata tahun antara Mavis dan Irene itu beda jauh jadi ya anggap aja mereka sama tahunnya kay. Karena Irene itu sebelum perang naga sedangkan Mavis gitu dan yadda yadda. Anggap aja sama kay.

untuk pair bukan Irene karena ya gitu, padahal pairnya belum kepikiran sedikitpun hehe. lalu Naruto yang awalnya dibikin mau Godlike karena keren diurungkan karena ga seru ya kan? bertarung menang menang bertarung lagi. jadi intinya Naruto kita kena nerf besar besaran hehe, kek dota.

Dan makasih untuk yang udah review, pas baca review tuh rasanya kek mau guling guling kesenangan deh ga bohong. Lebay nih lebay. Ada yang bilang gini lah gitu lah, pokoknya senang, hehe.

Ditunggu ya kelanjutannya!