A/N : Harap dimaklumi bila ada kesamaan cerita dengan fic lainnya.
Disclaimer : Naruto dan High School DxD bukan milik saya.
Rate : M
Warning : Au, OC, OOC, Strong! Naru, Smart! Naru.
Summary : Terbangun setelah 100 Tahun tertidur, Membuat Naruto menentukan takdirnya tetap hidup atau memilih...
Chapter 2 : buku harian Boruto part 1.
.
.
.
.
Jam 01.00 malam.
Malam semakin larut namun sepertinya itu tidak mempengaruhi Naruto, Terbukti melihat keadaannya sekarang duduk di pinggir tempat tidur sambil melamun, Perkataan cucu nya tadi pagi masih terekam jelas di memori otak dangkal miliknya.
Kematian Istri, anak dan sahabatnya seperti pukulan telak bagi kehidupan naruto, Mencoba bunuh diri sama saja dengan dirinya menyerah. Menyerah bukanlah sebuah jalan ninja seorang Uzumaki Naruto, karena dia pernah berkata " kalau kau menungguku untuk menyerah maka tunggulah selamanya ".
" aku tidak akan menarik kembali ucapaku karena itulah jalan ninjaku "
" Yosh aku tidak boleh cengeng begini ttebayo "
Kruyuk
" cih karena terlalu lama merenung sampai lupa makan aku "
Berjalan keluar menuju dapur untuk mengisi perut, sampai di depan dapur dia hendak membuka pintu namun ia urungkan niatnya. Saat mata biru melihat sebuah kamar yang pintunya terbuka, membuka pelan-pelan kamar itu supaya tidak menimbulkan suara, iris biru nya tidak sengaja melihat sebuah buku tua di atas sebuah meja.
" kenapa tidak bisa di buka " ucap pelan naruto, menggigit ibu jari nya hingga mengeluarkan darah
Boft
' akhirnya terbuka juga ' pikir nya.
Buku harianku / boruto
Tanggal xx bulan xx tahun xxxx
Flashback on...
Boruto Uzumaki, sang Hokage kesepuluh berjalan tersenyum di jalanan Konoha yang diterangi oleh lentera-lentera warna-warni untuk merayakan akan datangnya musim gugur. Pekerjaan hari ini bagi sang Hokage nyaris tidak ada, bukan hanya karena Konoha sekarang ada dalam keadaan yang tenang dan damai, tetapi juga karena ia sekarang diliburkan untuk beberapa hari. Ia mendapat beberapa ucapan selamat dan doa akan kelahiran anaknya yang mendekati tanggal lahirnya yang diramalkan oleh kepala ninja medis. Sang Hokage kesembilan konohamaru bahkan mengirim beberapa gulungan berisi jurus-jurus yang menarik sebagai hadiah kelahiran si anak pertama.
Boruto mengangguk sana-sini dan mengatakan salam kepada siapa saja yang menyapanya. Sesekali ada beberapa kunoichi teman dekat Sarada yang menanyakan kabar ibu dan calon buah hatinya.
Sebelum sampai di rumahnya ia membeli sebungkus mi ramen. Ayame si penjual ramen yang senang jika Boruto dan Sarada datang (Sarada mengalami ngidam mi ramen selama tiga bulan sehingga mereka berdua sudah jadi seperti pelanggan tetap di sana) memberikan satu bungkus gratis untuk Boruto. Sang Hokage berterima kasih, lalu kembali berjalan menuju rumahnya yang ada di pinggir Konoha.
Setelah masuk rumah ia mendapati Sarada membaca buku berbaring di atas sofa sambil mengelus perutnya yang buncit. Ia tersenyum lalu menyapa dengan lembut. "Kalau begitu kita bisa makan siang berempat dengan guru kabuto kalau anak kita sudah lahir, mungkin guru bisa memperlihatkan kontrak kuciyosei naga ."
Boruto tertawa lalu memeluk istrinya.
"boruto..?"
"Hm?"
"Apa kamu yakin kalau anak kita akan menjadi ninja yang hebat seperti kamu dan guru kabuto?"
"Bukankah kamu tidak meragukan hal itu?"
"Aku ingin tahu apa yang kamu pikirkan sayang."
"Ada yang merisaukanmu?" boruto meletakkan jubah hokagenya ke atas meja.
Sarada menunduk sedikit. "Kehidupan sebagai seorang ninja... tidak pernah mudah dan tentram. Sulit kubayangkan jika anak kita kelak harus mengambil keputusan-keputusan sulit sebagai seorang ninja, aku takut bila nanti keturunan kaguya kembali menyerang konoha aku tidak ingin kehilangan dirimu boruto seperti aku kehilangan ayah dan ibu."
" ..." boruto duduk dipinggir meja dan memperhatikan istrinya.
"Kamu terlalu banyak menyimpan semuanya sendiri Boruto... pertama saat kamu menceritakan padaku soal kematian ayah"
"Sarada, kumohon. Jangan sekarang. Kelahiran Anak kita sudah ada di depan mata, dan kondisimu memburuk akhir-akhir ini. Tenangkan pikiranmu dan lahirkanlah dengan selamat."
"Aku harus tahu Boru, aku harus tahu apa anak kita akan bertahan. Berjanjilah Boruto, berjanjilah apa pun yang terjadi jangan pernah mengorbankan anak kita untuk kepentingan fraksi yang sedang konflik..."
"sara-"
"Boru kumohon..."
Boruto menatap istrinya, lalu menjawab tanpa ragu, "Aku berjanji."
Dua jam kemudian...
"AWAS!" dua orang jounin melompat ke belakang untuk menghindari hentakan salah satu kepala siluman penjaga neraka, Salah seorang teman mereka baru saja dimakan oleh siluman itu. Semua ninja kuat dari desa Konoha sedang berjuang gigih melawannya, tetapi semuanya nampak sia-sia. Siluman itu terus membunuh para shinobi konoha yang melawannya. Dan ia lama-kelamaan menuju desa...
"Dimana Hokage?!"
"Awas tiarap!"
"Kami butuh lebih banyak persenjataan!"
"AYAH! IBU!"
"Semuannya bertahanlah sampai Hokage kesepuluh datang!" kata konohamaru sang hokage kesembilan.
Semua orang yang tertinggal di desa secepatnya melakukan evakuasi sesuai perintah sang Hokage. Semua berusaha lari melewati gunung yang terletak di bagian utara desa. Di bagian selatan desa, beberapa anbu mencari sang Hokage.
" apa kamu melihat Hokage kesepuluh?" tanya seorang anbu kepada tetangga Boruto yang berlari keluar rumahnya.
"Beliau..."
"Cepat katakan! Nyawa banyak shinobi terancam seiring waktu!"
"Aku disini."
Semua menoleh ke arah Boruto yang datang keluar dengan senjata lengkap. Anbu tersebut nampak sangat tidak tenang.
"Hokage-sama! Tapi sarada kan-"
Boruto mengangkat tangannya. Bulan yang tersembunyi di belakang awan gelap, tetapi semua orang bisa melihat Boruto sedang berdiri tegang.
"Aku ada sebuah permintaan "
"Tentu... Hokage."
"Di dalam rumahku, di kamar sarada, di atas meja, kamu akan menemukan sesuatu yang berharga, jagalah dengan baik sampai aku kembali. Bilamana keadaan tidak membaik aku mohon bawalah keluar dari desa. Akan kusuruh satu Anbu untuk mengawalmu."
"T-tentu Hokage-sama... tetapi yang berharga itu apa...?"
"Kamu akan tahu dengan sendirinya," bulan muncul kembali dan barulah semuanya menyadari tangan Boruto yang berlumuran darah... dan setetes air mata yang jatuh menuruni pipinya.
"Hokage-sama... bagaimana dengan saradaa...?"
Tetapi Boruto bergegas ke tempat dimana anjing penjaga neraka cerberus berada tanpa menoleh ke belakang.
...
"Baiklah, lakukan evakuasi besar-besaran sekarang juga."
Boruto menatap Anbu yang melompat keluar dari rumahnya setelah memberi tahu berita mengejutkan itu. Ia harus bergegas ke tempat siluman itu sebelum terlalu banyak shinobi terbunuh atau siluman itu menuju ke desa. Ia harus kesana sekarang juga... tetapi sarada baru saja seperti mau...
" Boruto.. sakit... perutku sakit..."
"sarada! Ayo kita ke rumah sakit sekarang."
"Tidak... jangan... kamu dengar sendiri 'kan berita yang dikatakan anbu itu tadi..."
"sarada, kamu 'kan mau melahirkan sekarang!"
"Tidak ada waktu... semakin lama semakin banyak shinobi yang terbunuh, bagaimana kalau siluman itu menuju dan sampai di desa? A-apa kamu mau... gara-gara menyelamatkan satu- aduh... n-nyawa... banyak nyawa lain yang jadi korban...? Lagipula sekarang semua melakukan evakuasi dari desa ini... tidak ada ninja medis... mereka harus menolong para shinobi yang sedang bertarung..."
" pergilah bocah biarkan kami yang mengurus anjing itu "
Boruto yang mengenal suara itu pun menoleh, terlihatlah anggota Rookie 9 dan sang sensei Kabuto sannin Naga.
"baiklah aku percayakan mahluk itu pada kalian!"
Tanpa menunggu lama boruto langsung berteleportasi menuju rumah sakit yang sudah ia tandai dengan segel Hiraishin, setelah sampai dia langsung memanggil ninja medis untuk menolong sarada.
Boruto menatap ngeri ke istrinya yang terbaring lemah di tempat tidur, Bulan tersembunyi di belakang awan sehingga tidak memperlihatkan bagaimana Boruto menggenggam erat gulungan kontrak Kuciyosei Naga dari guru kabuto, Darah menetes ke bawah... kamar itu terlihat terlalu gelap... terlalu gelap untuk mencari jalan keluar dari keadaan itu...
"Aku mencintaimu Boruto, dan aku percaya kamu akan menjaga anak kita dengan baik..." sarada mencoba berbicara lembut saat mendengar langkah-langkah Boruto yang mendekat ke arahnya.
"Apa pun yang terjadi jangan korbankan anak kita demi apa pun... bahkan demi desa ini sendiri... biarlah hal itu menjadi keegoisan kita yang pertama... dan yang terakhir..."
"Sampai nanti sarada ..."mengangkat kunai Hiraishin itu sedikit setelah itu menghilang di kegelapan malam.
"Sampai nanti Boruto... dan terima kasih..."
Itulah pertama kalinya Borutoto menyesal telah hidup sebagai seorang shinobi.
" jadi ditempat ini sang mahluk kehancuran tersegel "
Seorang pria tua dengan seringaian licik berdiri diatas kereta perang yang terbuat dari emas dan ditarik oleh empat kuda hitam, memakai pakaian kemeja gelap dipasangkan bantalan bahu celana hitam panjang dan sepatu besi mencapai lutut, tidak lupa sarung baja mengkilap dan helm hitam yang melambangkan kegelapan.
Sedangkan dirumah lamanya Naruto tampak masih tertidur pulas. Hades mengangkat sabit nya setelah itu tertawa keras " tunggulah manusia akan kudapatkan kau JUBI".
.
.
.
. Tbc
Gimana chapter 2 di arc buku harian boruto ini nanti akan terjawab pertanyaan kenapa umur shuri masih muda, siapa patner boruto, dll.
Oke terimakasih yang sudah menyempatkan diri membaca fic aneh dan gaje milik ane.
