LANDSCAPIA
(The Two Of Highness)
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And OCs
.
ChanBaek (GS)
Drama, Fantasy, Romance
.
DON'T LIKE DON'T READ!
Happy Reading!
.
Chapter 2 : Who are they?
.
Langkah kaki panjang milik seorang pria itu terdengar beriring saat tubuh tinggi tegap dalam balutan stelan formalnya memasuki sebuah rumah bereksterior modern, bahkan terlampau modern hingga tak siapapun yang akan menyangka bahwa desain interior hunian tersebut lebih menyerupai sebuah museum sejarah dengan suasana vintage yang melekat. Meskipun tidak begitu kentara, namun beberapa ornamen klasik dan hanya akan ditemui di kerajaan-kerajaan kuno Eropa yang menghias setiap ruangannya akan mampu membuat siapapun percaya bahwa rumah tersebut adalah bagian dari tempat peninggalan bersejarah.
Langkah tadi berhenti sejenak, si pemiliknya memutar badan ketika sampai di ruang tengah. Dan hanya dengan mengandalkan jentikan jari, gorden yang semula tertutup rapat mulai tersibak, mengusir suasana kelam di dalam ruangan dengan menampilkan panorama indah di balik jendela yang bahkan tidak akan ditemui keindahannya di dunia yang saat ini ia huni.
Mata elang itu masih memusatkan perhatian pada sebuah tempat yang ditampilkan oleh kaca jendela besar di hadapannya sebelum kemudian sebuah helaan napas berat lolos dari mulutnya.
Oh, terkadang ia bisa sangat merindukan dunia tempat dirinya berasal tersebut.
Setelah cukup puas memanjakan matanya pada hamparan musim semi yang tengah menguasai sebagian daratan Landscapia, lelaki itu kembali melanjutkan langkah yang sempat tertunda sebelum akhirnya ia sampai di sebuah ruangan lain di sisi timur, kini posisinya berdiri di tengah-tengah empat pintu yang mengelilinya.
Pria itu sempat berkacak pinggang diselingi decakan tak berarti saat meneliti satu persatu simbol berbeda yang menempel pada masing-masing pintu yang berdiri kokoh.
Setelah merangkai konsentrasi, pria itu mengulurkan tangan dengan gerakan menyapu dari arah kanan menuju sebaliknya. Ada bias cahaya berwarna jingga yang berpendar dari telapak tangannya sebelum kemudian cahaya itu berpencar dan menyentuh ke empat permukaan pintu.
Angin musim dingin berhembus ketika pintu bersimbol snowflake yang dilengkapi gumpalan angin di bagian tengahnya terbuka, lalu terdengar kicauan burung serta gemerisik ranting pohon ketika pintu lain dengan simbol keyhole yang membentuk segitiga ruang dan menampilkan pusaran waktu di dalamnya menyusul terbuka.
Mata elang itu membagi fokus pada kedua pintu yang tersisa, lalu ketika pintu dengan simbol sayap sehitam arang yang tak henti-hentinya mengepak itu terbuka, helaan napas kasar pun lolos seiring dengan atensinya yang menatap nanar pada satu pintu tersisa. Sebuah pintu yang berpendarkan cahaya berkilauan itu enggan terbuka, seolah menegaskan bahwa pemilknya memang tidak berada di sana, melainkan di..
"Akkh faster! Yeah.. a little bit, I'm cumming baby.. Kau tahu Kris? Tidak sopan mengganggu kesenangan orang lain, brengsek!" Teriak Richard dengan segala umpatan diselingi desahan dari dalam kamar sesaat setelah pintunya dibuka paksa oleh seseorang yang ia panggil Kris. Satu hentakan terakhir, pria itu meraih puncak seiring dengan lenyapnya kesadaran seorang wanita yang sejak tiga jam lalu ia jajah tanpa kebaikkan sedikit pun.
Kris mengorek satu lubang telinganya dengan gerakan amat malas.
"It's a long time, Richard." Si putih pucat yang baru saja keluar dari kamar bersimbol snowflake menyandarkan punggungnya pada daun pintu, seraya memangku tangan, melempar wajah tak berekspresinya pada sosok Richard yang terlihat tengah mengenakan bathrobe di dalam kamarnya.
"Sok ramah kepadaku, huh? Oh Sehun?" Richard menyahut datar sebelum kemudian melangkahkan kakinya keluar dan melakukan hal yang sama; Menyandarkan tubuhnya pada daun pintu dengan posisi miring.
Bahkan dari jarak beberapa meter di hadapannya, Sehun bisa mencium aroma seks terkutuk yang menguar dari kamar Richard.
Kris masih memperhatikan kedua pasang mata yang saling berhadapan dan tengah melemparkan tatapan membunuh satu sama lain tersebut sebelum akhirnya sosok bertelanjang dada keluar.
"Whoa." Sosok berkulit tan si pemilik kamar bersimbol keyhole itu membeo ketika mendapati atmosfer menegangkan yang disebabkan oleh Richard dan Sehun. "Hyung.. Kau, hidup?" Tanyanya kepada Richard seraya melempar ekspresi terkejut berlebihan.
Richard yang semula masih sibuk memikirkan cara tentang bagaimana melenyapkan bocah penghisap darah yang sedari tadi menatapnya dengan sorot penuh kebencian harus dibuat tertawa oleh pertanyaan Jongin. "Tentu. Kau tahu? Park Chanyeol semakin melemah. Payah sekali." Ujarnya dengan nada mengejek, tak lupa melempar seringaian licik khasnya kepada Sehun.
Sehun nyaris menerjang tubuh Richard sesaat setelah kalimat mencemoohnya itu terlontar jika saja Kris tidak lebih dulu menginterupsi.
"Kalian ingat apa yang terjadi ketika terakhir kali kalian berkelahi?" Tanya Kris dengan suara rendah. Sekaligus mengingatkan.
Sejenak hanya ada sunyi sebelum kemudian gelak tawa Jongin terdengar. "Aku ingat!" Ia masih tertawa seiring dengan langkah kaki yang semakin intens membawanya mendekati Richard. "Hyung nyaris membuat Namsan Tower rubuh dan Sehun sudah lebih dulu membekukan seluruh kota, padahal waktu itu sedang musim panas." Jongin tertawa keras sembari memukul-mukul bahu Richard.
Richard menaikkan sebelah alis sementara Sehun sudah memantapkan hatinya bahwa setelah ini Jongin akan berakhir menjadi samsak yang ia gantung di sudut kamar.
"Kau semakin terlihat seperti anak anjing lucu jika sedang tertawa, Jongin-a.." Richard menepuk pipi Jongin berulang.
Tawa Jongin terhenti. "Hyung, sudah berapa kali kukatakan bahwa aku adalah seekor serigala jantan yang tangguh, bukan anak anjing." Keluhnya dengan raut wajah protes.
"Bagiku kau tetap anak anjing." Richard mengangkat bahu sebelum kemudian melenggang. "Katakan, Kris. Hal penting apa yang kau bawa sehingga harus mengganggu kegiatanku?" Lalu bertanya pada Kris tanpa menghentikan langkah menuju ruang tengah.
Kris merogoh saku jas lalu meletakan sebuah foto di atas meja sesaat setelah keempat makhluk berbeda klasifkasi tersebut mendaratkan bokong masing-masing ke atas permukaan sofa beludru. "Ini hasil scan lukisan yang dikirim ke kantorku pagi tadi." Katanya dengan atensi yang hanya tertuju kepada Richard. "Seseorang bernama Byun Baekhyun mengirimkan hasil lukisannya tersebut kepadaku dan dia bilang itu bukan sekedar lukisan, dia melukisnya dengan melihat secara langsung pada objek. Aku tentu tidak akan mempermasalahkan jika yang wanita itu melukis sesuatu yang terlihat masuk akal. Tapi ini.." Kris mengetukkan jari telunjukya di atas foto. "Bisa kau jelaskan, Richard?"
Richard meneliti gambar yang sedikit banyak mengingatkannya pada kejadian beberapa hari lalu.
"Whoa. Apa pria dalam lukisan itu kau, Hyung?" Jongin yang tengah meminum susu kotaknya ikut meneliti gambar yang yang tengah Richard pegang.
Richard mengulurkan tangan ke belakang dan Jongin mengerti sebelum kemudian menyerahkan susu kotak milknya tersebut kepada Richard. "Ahh, jadi si manis itu namanya Byun Baekhyun." Ujar Richard sesaat setelah menyeruput susu kotaknya.
"Jadi apa itu benar-benar dirimu?" Tanya Kris lagi masih tetap mempertahakan kesabarannya.
Richard mengangkat bahu. "Well, aku tidak ingat. Bagaimana kalau kau tanyakan saja pada Park Chanyeol jika dia sudah bangun nanti, itu pun jika dia mampu merebut tubuhnya kembali." Katanya dengan enteng.
Kris menggebrak meja dan nyaris menghancurkannya. "Hanya kau satu-satunya makhluk sialan bersayap yang kerap hilir mudik di jagat fana ini, brengsek!" Makinya tanpa bisa menahan amarah. "Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali, berhenti membuat ulah di dunia manusia. Terlebih jika itu berpotensi membuat identitas kita terancam!"
"Tunggu, tunggu." Richard terkekeh renyah. "Kenapa ini semua salahku? Sudah kubilang kau hanya harus bertanya kepada Chanyeol. Dia yang menyeretku ke sini." Lalu berhenti sejenak. "Lagipula yang terakhir kali bersama wanita itu adalah Park Chanyeol." Lanjutnya terdengar sinis. Richard mencoba melupakannya, namun fakta akan Chanyeol yang merebut mangsanya tanpa memberi kesempatan Richard untuk mecicipinya sedikit pun membuat pria bermata hijau itu geram bukan main.
"Maaf, apa katamu?" Sehun mengubah posisi duduk menjadi sedikit tegak, lalu melempar raut wajah skeptis setelah mendengar kalimat terakhir yang Richard lontarkan.
"Kau mendengarku, Sehun." Richard menyahut singkat. Lalu menegakkan posisi duduk sebelum kemudian menatap ketiga pria di hadapannya secara bergantian. "Apa kalian tahu? Park Chanyeol sudah tidak perjaka!" Dan tawa Richard pun pecah setelahnya. "Lucunya, Byun Baekhyun itu yang sudah merenggut kesucian pangeran kesayangan kalian tersebut." Lanjutnya masih dengan gelak tawa seraya memukul pahanya berulang-ulang.
"Brengsek! Omong kosong macam apa itu, huh?!" Sehun berteriak lantang kepada Richard.
"Benar! Bercandamu tidak lucu, Hyung." Jongin menimpali dengan wajah yang sudah pucat pasi.
Sementara Richard membalasnya dengan menguap bosan. Menunggu Kris memakinya juga, namun ia menaikkan sebelah alis saat Kris masih setia bungkam meski terlihat jelas sekali bahwa pria itu terkejut setengah mati. "Coba kalian pikir, apa aku pernah berbohong?" Tanyanya dengan malas.
"Apa dia orgasme?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Kris. Ia yakin Richard adalah simbol dari segala kekacauan, dia adalah iblis paling berdosa, dan tidak diciptakan untuk satu pun kebaikan. Namun terlepas dari segala sisi gelap yang jelas melekat dalam diri seorang Richard, Kris tahu bahwa pria itu kerap berkata yang sesungguhnya.
"Seriously?! What's with that ridiculous question, you motherfucker!" Sungut Richard tanpa sedikit pun menyembunyikan rasa gelinya.
"Lalu, apa yang terjadi dengan wanita itu?" Kris bertanya lagi.
Richard menangkap pandangan itu, raut wajah berjuta tanya yang Kris perlihatkan seolah tidak sedang mencari tahu, melainkan mengetahui banyak hal. "Terakhir kali aku lihat wanita itu sudah nyaris sekarat. Dan perlu aku ingatkan, Park Chanyeol yang membuatnya seperti itu." Sahutnya sedikit menaruh curiga terhadap Kris dan juga Sehun yang mulai menampakkan ekspresi lain pada wajah dinginnya.
Kris menautkan kedua alis dan menempatkan pikirannya pada beberapa hal sebelum kemudian pria itu sadar bahwa ia tidak seharusnya mengundang kecurigaan Richard. "Okay, kembali ke topik utama. Kita tidak akan membiarkan wanita itu menyimpan terlalu lama ingatannya tentang dirimu ataupun Park Chanyeol. Karena demi Landscapia beserta isinya, itu bisa membahayakan eksistensi kita selama berada di sini."
"So what's the plan?" Tanya Sehun tanpa mengenal basa-basi.
Kris kembali mengalihkan atensinya kepada Richard. "Aku sudah memutuskan untuk mengatakan pada Byun Baekhyun bahwa lukisannya terpilih sebagai salah satu yang akan ikut dipamerkan, lalu—"
"You've gotta be kidding.." Beo Jongin tak percaya.
"With all due respect, Mister Kim. Stop interrupting me when I'm speaking!" Kris menggeram rendah.
Jongin mengunci mulutnya rapat, ia hanya enggan membayangkan dirinya menjadi seonggok daging hangus akibat menyulut kemarahan Kris yang sewaktu-waktu bisa memanggil seekor naga ganas peliharaan yang didatangkannya langsung dari Landscapia.
"Thank you." Kris mengangguk wibawa. "Aku hanya akan berkata demikian, bukan berarti aku benar-benar akan memamerkannya, karena kau harus memiliki sebuah alasan untuk bertemu langsung dengan Byun Baekhyun secara manusiawi, ingat! Secara manusiawi! Maka dari itu Richard, peranmu diperlukan di sini."
"Kenapa aku?" Richard masih melempar wajah berjuta tanyanya.
"Karena hanya kau dan Chanyeol yang memiliki kemampuan menarik ingatan seseorang, dan sehubungan dengan statusmu sebagai presiden direktur salah satu perusahaan multinasional terkemuka di New York, kau akan berperan sebagai peminat dari lukisan wanita itu dan harus membelinya." Jelas Kris dengan lugas.
"Bukankah yang sering berperan sebagai CEO perusahaan itu Chanyeol Hyung?"
"Itu karena si keparat Chanyeol terlalu pelit membagi perannya denganku." Richard menyahuti Jongin dengan masam.
"Untuk apa?" Sehun terkekeh renyah. "Perlu kuingatkan bahwa kau hanya tamu tak diundang di dalam tubuh itu, Richard." Lalu menimpali dengan sarkastik.
"Excuse me? Jika boleh meminta waktu itu, aku tidak akan membiarkan mereka memasukkan jiwa berhargaku ke dalam tubuh payah ini, kalian tahu? Karena aku mendambakan memiliki kejantanan sebesar ini." Richard menggulung lengan Bathrobe lalu mengangkat tangan kekarnya ke udara.
Sehun mengernyit jijik disusul oleh helaan napas Kris sembari memijat pelipis dan diiringi oleh gelak tawa Jongin.
Meskipun Richard terlihat tenang saat ini, namun berbagai pikiran jelas tengah memutari benaknya. Ia telah berurusan dengan makhluk bernama manusia untuk waktu yang sangat lama, khususnya wanita. Maka menarik kesadaran sekaligus ingatan mereka sesaat setelah ia mencapai puncak kenikmatan adalah hal yang tak pernah Richard lupakan.
Dan Byun Baekhyun bukanlah pengecualian jika saja malam itu setengah dari kekuatan Richard tidak secara tiba-tiba menghilang begitu saja. Pria itu bahkan harus menunggu sedikit lebih lama untuk memulihkan tenaganya yang seolah terkuras habis setelah berciuman dengan wanita itu.
Oh, mengingat hal itu tidak pernah gagal membuat Richard mengepalkan kedua tangannya. Dan sepertinya ia harus mengikuti rencana Kris dan bertemu langsung dengan Byun Baekhyun.
Karena si manis itu membuat beragam spekulasi terlintas di benak Richard.
Oh ya, sikap Kris yang mencurigakan sesaat lalu pun tidak akan lolos dari pengawasan Richard.
.
.
Landscapia
(The Two Of Highness)
.
.
"Apa Noona sudah merasa lebih baik?"
Sosok yang masih terlihat sama, dengan seragam sekolah yang melekat di tubuhnya itu bertanya pada Baekhyun yang tengah menikmati hangat sinar mentari yang sedari tadi menyapa wajahnya melalui celah jendela kamar.
Baekhyun tersenyum dan matanya masih setia terpejam, wanita itu menarik tangan dari belakang yang sedari tadi ia jadikan penyangga tubuh sebelum perlahan kelopak cantiknya mengerjap. "Aku tidak pernah merasa lebih baik dari ini." Sahutnya dengan senyum kecil yang perlahan berganti oleh ekspresi lain di wajahnya. Heran.
"Ada apa Noona?" Jungkook yang masih setia duduk bersila di atas permadani samping ranjang merasakan perubahan ekspresi yang Baekhyun tampilkan.
Baekhyun menggeleng pelan. Sesuatu seperti berjumpa dengan pria yang sama dalam mimpi yang ia alami secara beruntun bukanlah hal yang seharusnya ia pikir atau risaukan bukan?
"Aku hanya tidak mengerti dengan diriku akhir-akhir ini. Maksudku, aku sangat yakin beberapa hari lalu nyaris sekarat karena kesakitan, tapi lihat sekarang. Aku bahkan lebih dari sekedar baik-baik saja."
Dan Anehnya, Baekhyun merasa lenyapnya semua kesakitan yang seolah ingin merenggut nyawanya beberapa hari lalu ada kaitannya dengan mimpi yang terasa begitu nyata tersebut.
Jungkook memainkan bola matanya ke segala arah dan berusaha untuk tidak mengundang kecurigaan Baekhyun.
"Byun Baekhyun! Kau tidak akan percaya ini!"
Luna dengan kebiasaan buruknya –lupa mengetuk pintu— menerobos masuk ke dalam kamar Baekhyun, membuat si empunya mengerjap kikuk melihat ekspresi Luna yang begitu jelas menggambarkan keprihatinan karena untuk ke sekian kalinya memergoki dirinya berbicara seorang diri.
Luna menyapu atensinya ke seluruh sudut ruangan dengan waspada sementara sebelah tangannya sudah lebih dulu mengusap tengkuk yang entah sejak kapan diselimuti gigil.
Baekhyun melirik sedikit kearah Jungkook dan mengisyaratkan pada hantu tersebut untuk beranjak.
Jungkook mengangguk sebelum sebuah hembusan angin yang menerbangkan gorden kamar membawa tubuh tak kasat mata itu lenyap dari pandangan Baekyun.
"Well.. apa kali ini?" Baekhyun beralih pada Luna sembari beranjak dan duduk di tepian ranjang.
Luna sudah kembali menetralkan debaran jantung ketika duduk di samping Baekhyun. Wanita itu menarik sebuah senyum sebelum kemudian mengulurkan selembaran kertas tebal berwarna putih dan terlihat begitu formal karena sehelai pita keemasan yang menghias bagian depannya.
Baekhyun meraihnya. Awalnya hanya sebuah kernyitan heran di dahi sebelum kemudian sebaris tulisan yang tercetak menyapa netranya.
Invtitation to attend exhibition
Sejenak Baekhyun beralih pada Luna dengan binar yang tak repot-repot ia sembunyikan dari kedua matanya. Lalu setelah ia membaca beberapa baris kalimat yang tertulis di dalam undangan tersebut, Baekhyun menutup mulutnya, ia kembali menatap Luna dengan sorot tidak percaya.
"Is this real?"
Luna mengangguk. "Sekretaris Kris Wu sendiri yang mengantarkannya tadi." Sahutnya terdengar senang. "You did it, B!" Luna berhambur memeluk Baekhyun yang tengah mematung, terlalu senang atau bahkan terkejut.
"Bagaimana bisa?" Beo Baekhyun meskipun raut bahagia itu masih bergelayut di wajahnya.
"What's that mean?" Luna menyentakkan kepala. "Itu karena lukisanmu luar biasa bagus, aku bahkan nyaris percaya saat kau mengatakan melukis manusia bersayap itu dengan melihatnya secara langsung." Lanjutnya dengan kekehan pelan mengingat betapa konyolnya Byun Baekhyun.
Baekhyun nyaris memutar matanya, seharusnya ia tidak menceritakan apapun tentang sesuatu yang hanya akan Luna yakini sebagai lelucon.
"Check your email. The tickets have been sent." Luna memberitahu sebelum kemudian raut wajahnya berubah masam.
"Apa? Ada apa?" Tanya Baekhyun setelah menyadari perubahan tersebut.
"Aku tidak ikut denganmu."
"Kenapa begitu?"
"Selain karena mereka hanya memberikan satu tiket, aku tidak mendapatkan jatah cuti." Luna mengerucutkan bibirnya.
Baekhyun memeluk Luna. "Aku akan menyampaikan salam rindumu kepada mom." Ujarnya dengan nada menghibur.
"Hn."
Luna bergumam sebelum akhirnya terperanjat dari pelukan Baekhyun akibat bunyi nyaring dari sebuah benda jatuh terdengar. Wajah wanita itu langsung dirambati oleh pucat ketika netranya melihat lampu yang sedari tadi berdiri tegak di atas nakas samping ranjang sudah tergeletak tak elit di lantai.
Baekhyun sedikit meruncingkan ekor mata dan membawa mulutnya ke dalam satu garis, seperti tengah memperingati sosok bertubuh kecil serta berwajah pucat yang kini tengah terkikik geli di sudut kamar.
Luna beranjak dari ranjang Baekhyun. "O-okay sepertinya aku harus menginap di apartment kekasihku selama kau pergi." Ujarnya terdengar ketakutan. Luna tahu, bukan hanya Baekhyun dan dirinya yang menghuni rumah tersebut. Meskipun Luna tidak dapat melihatnya, namun ia yakin yang kerap memainkan pintu dapur, bermain air di kolam renang belakang, atau bahkan memecahkan perabotan rumah tangga tanpa wujudnya yang dapat dilihat oleh mata telanjang itu ada di sekitarnya saat ini.
Setelah mendapati Luna menutup pintu kamar serta mendengar langkahnya yang terbirit-birit saat menuruni tangga, Baekhyun langsung menoleh ke sudut kamar. "Sudah aku bilang berhenti menakut-nakuti Luna, Candy!" Ujarnya dengan mata masih memicing pada sosok bocah perempuan yang mengenakan gaun putih dilengkapi sepatu balet serta rambut tersanggul rapi.
Sosok hantu mungil berwajah western itu masih terkikik, membuat pipinya terlihat semakin gembul dengan mata yang membentuk sabit. Melihatnya, membuat Baekhyun sejenak lupa bahwa bocah perempuan tersebut tidak akan terlihat selucu itu jika mengingat kedua bola matanya yang sewaktu-waktu bisa sehitam rongga.
"Maaf, aku tidak sengaja." Sahut bocah perempuan itu seraya berjalan dan duduk di atas ranjang samping Baekhyun sebelum kemudian mengayunkan kedua kakinya. "What's that?" Tanyanya menunjuk pada selembar undangan di tangan Baekhyun.
Baekhyun tersenyum sedangkan matanya melekat erat pada benda di tangannya. "Ini masa depanku." Sahutnya ketika beragam kesenangan yang mungkin tengah menantinya di masa depan terlintas di benak.
"Apa itu bisa digunakan untuk melihat masa depan?" Tanya Candy dengan polos. Lantas menatap Baekhyun dengan sorot murni khas anak-anak.
Baekhyun menggeleng pelan. Seharusnya ia tahu bahwa ia tidak boleh berekspektasi lebih pada apapun yang ada di masa depan. Karena apa yang belum terjadi mungkin bisa lebih menakutkan dari segala hal buruk yang pernah dialaminya.
.
.
Landscapia
(The Two Of Highness)
.
.
Mata beririskan kelabu itu mengerjap bersamaan dengan helaan napas panjang seperti baru saja terbangun dari tidur. Pria itu menegakkan posisi duduk dengan raut wajah amat kebingungan. Dahinya mengkerut sempurna sebelum kemudian ia mendengus kasar.
Oh, seharusnya ia tidak seterkejut itu.
Siapa lagi yang akan membuatnya berada dalam keadaan setengah telanjang di atas kursi kerja dengan posisi diduduki oleh seorang wanita yang tengah membuka kedua kakinya lebar-lebar dan tengah siap..
Tunggu!
Chanyeol menggeram rendah dan tidak membutuhkan waktu setengah detik untuk membuat wanita yang sudah sepenuhnya telanjang itu melayang di udara sebelum kemudian bunyi retak tulang punggung terdengar sesaat setelah tubuhnya menghantam permukaan dinding dengan kuat.
Chanyeol beranjak dari kursi, mengutuk letak celana serta kemejanya yang sudah tidak beraturan. Ia memiringkan kepala dan setelah pakaian yang secara ajaib kembali melekat sempurna di tubuhnya, pria itu berjalan menuju si wanita yang tengah tergeletak menyedihkan diiringi ringisan kesakitan yang keluar dari mulutnya.
Chanyeol mencengkram kedua sisi wajah wanita berambut pirang itu dengan kuat, menunggu bunyi retak di sekitar rahang si wanita tanpa kebaikan sedikit pun. "I hate being touched." Suara rendahnya beriringan dengan teriakan kesakitan si wanita.
Chanyeol memejamakan mata sebelum kemudian menarik kesadaran si wanita sesaat setelah bunyi retak lain terdengar.
Well, sepertinya Chanyeol baru saja mematahkan tulang leher wanita tersebut.
Pria itu beranjak, lalu berjalan mengitari meja kerja sebelum kemudian berdiri menghadap jendela kaca besar yang menampilkan cakrawala biru berhias kepadatan kota New York di bawah sana.
Bunyi ketukan pintu terdengar.
"Come in." Ujar Chanyeol sesaat setelah membuat tubuh kaku yang tergeletak di atas lantai lenyap dari atensi manusia.
"30 menit sebelum jadwal, sesuai permintaan anda, sir."
Seorang wanita berpenampilan layaknya sekretaris pada umumnya itu berbicara sesaat setelah berjalan beberapa langkah dari bibir pintu.
Chanyeol yang masih setia mengantongii kedua tangan pada saku celana itu mengernyit heran.
Apa lagi kali ini, Richard?
Pria itu mengerjap pelan hanya untuk mengganti iris kelabu itu menjadi lebih manusiawi. Lantas ia berbalik. "Apa aku memiliki jadwal penting hari ini?" Tanyanya dengan suara yang mampu membuat siapapun dirambati gigil di sekujur tubuh.
Tak terkecuali si sekretaris yang mulai merasakan lututnya melemas dan mengeluarkan getaran kecil. Seingatnya tadi pagi atasannya tersebut masih melemparkan wajah cerah serta senyuman khasnya yang begitu memikat, hingga saat ini ia tidak pernah mengerti mengapa bosnya tersebut senang sekali berubah-ubah suasana hati? Terlebih jika sudah berubah menjadi sosok yang nyaris menyerupai pembunuh berdarah dingin seperti saat ini. Apa dia menderita bipolar atau semacamnya?
Chanyeol menahan diri ketika segala macam persepsi tentang dirinya yang memutari pikiran sang sekretaris terbaca olehnya.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku?" Pria itu menaikkan sebelah alis.
"Y-ya? Oh ya, anda memiliki jadwal menghadiri pameran lukisan tuan Kris Wu."
Chanyeol mengangguk samar, meski ia masih tidak mengerti dengan situasi yang sesungguhnya.
Setelah sekretarisnya lenyap dari pandangan, Chanyeol melangkah pelan dengan satu kehendak di benaknya. Lalu, dinding yang semula hanya berupa permukaan datar mulai menampakkan pendar keemasan membentuk sebuah pintu. Pria itu meraih knop, hingga di detik berikutnya ia telah berada di sebuah kamar. Matanya menyapu ke seluruhan sudut ruangan yang tampak gelap dan selalu terlihat seperti itu.
"Sehun-a.. ajak aku bersamamu. Aku takut naik pesawat."
"Sekali tidak, tetap tidak."
Keributan yang terdengar di luar kamar membuat Chanyeol melangkah dengan pasti.
Sehun yang tengah beradu mulut dengan Jongin di depan pintu kamar masing-masing sontak menolehkan kepala mereka pada pintu dengan simbol pendar cahaya yang letaknya di sebelah utara.
Sejenak mereka berdua membeo saat mendapati Chanyeol keluar dari kamarnya, sebelum kemudian dengan sigap keduanya berlutut dengan kepala menunduk patuh.
Chanyeol mengibaskan tangannya dengan malas-malasan. "Apa yang kalian ributkan?" Tanyanya seraya berjalan menuju ruang tengah.
Jongin yang lebih dulu bangkit, lalu berjalan mendekati Chanyeol sebelum kemudian memeluk lengan pria itu.
Chanyeol berjengit dibuatnya, belum lagi Jongin yang menampakkan binar di kedua mata, bibirnya mengerucut, seperti tengah memohon sesuatu dalam sebentuk ekspresi menggelikan.
"Kim Jongin." Sehun menggeram rendah, memperingati Jongin bahwa itu adalah hal yang tidak pantas dilakukan kepada sang pangeran.
"It's okay, Sehun." Chanyeol mengangkat sebelah tangannya.
"Hyung, bolehkah aku menggunakan kamarmu, aku ingin sekali menghadiri pameran Kris Hyung. Seperti yang kita tahu, kamarmu berada di pusat kota New York. Aku hanya harus melewati kamarmu supaya tidak perlu repot-repot naik pesawat, aku benci turbulence." Jongin merengek .
"Ada masalah lagi dengan kemampuan teleportasimu?" Tanya Chanyeol kemudian.
Jongin mengangguk. "Kemarin aku membantu induk beruang melahirkan. Dan tenagaku terkuras habis sekarang."
Sehun memejamkan matanya dengan geram. "Astaga, Jongin. Apa masuk akal seorang werewolf membantu beruang melahirkan?" Tanyanya dengan geram.
"Hei, wajar saja karena kamarku berada di hutan amazon kau ingat?" Sungut Jongin. "Itu lebih baik dari pada kamar seseorang yang berada di puncak gunung everest. Apa itu masuk akal, Sehun? Apa kau tidak mati kedinginan?"
Sehun semakin menggeram. Sementara Jongin sudah memicing tajam.
"Aku kupastikan kalian berdua berakhir menjadi makanan Selena jika berkelahi di hadapan pangeran."
Jongin dan Sehun bungkam mendengar ancaman yang Kris lontarkan.
Pria bermata elang itu muncul bersama selubung cahaya jingga yang menguar di udara.
Nyali Jongin kembali ciut ketika membayangkan seekor naga buas peliharaan Kris bernama Selena itu mencabik-cabik tubuhnya sebelum kemudian mengubahnya menjadi abu.
Kris menunduk segan kepada Chanyeol yang sedari tadi duduk di kursi utama.
"Aku senang melihatmu, pangeran." Kris berujar diselingi senyum tipis.
"Jelaskan Kris, ada apa dengan pameran? Apa Richard membuat ulah lagi?" Tanya Chanyeol seraya memijat dahinya perlahan.
Oh, sesuatu yang disebabkan oleh ulah Richard memang tidak pernah gagal membuat kepalanya di dera denyut berlebih.
.
.
Landscapia
(The Two Of Highness)
.
.
Baekhyun turun dari sebuah mobil mahal yang menjemputnya setelah menempuh perjalan lebih dari satu jam dari tempat mom Marie menuju National Gallery Of Art.
Sebenarnya tidak akan selama itu jika Washington bukan kota yang sibuk dan kerap di dera kemacetan panjang.
Setelah menyerahkan undangan pada petugas keamanan yang bertugas, Baekhyun melangkahkan kakinya ke dalam galeri yang telah dipadati oleh keramaian para tamu yang menghadiri pameran lukisan berkelas tersebut.
Senyuman itu tak luntur dari bibirnya ketika membayangkan lukisannya ikut di pamerkan di sana. Baekhyun masih mencoba memusatkan atensinya pada setiap lukisan dengan decak kagum. Akan tetapi setelah berkeliling cukup lama, ia tidak mendapati lukisannya di manapun. Sontak hal itu membuatnya bingung setengah mati.
"Byun Baekhyun-ssi?"
Baekhyun memutar tubuh saat suara berat itu menyapanya dari belakang. Wanita itu mematung tatkala mendapati sosok yang selama ini ia kagumi berada di hadapannya.
"Oh sepertinya aku salah orang." Ujar Kris dengan Bahasa korea yang begitu fasih.
"Ti-tidak." Baekhyun gelagapan mendapati pria tampan dalam stelan formal yang kini tengan melempar senyum kepadanya itu. "Saya Byun Baekhyun."
Kris masih mempertahankan senyumannya ketika menjabat tangan Baekhyun. "Saya Kris Wu." Meski wajahnya terlihat begitu ramah, namun Kris jelas tengah menilai wanita di hadapannya saat ini. Satu-satunya wanita yang sudah bersentuhan secara lansgung dengan Park Chanyeol.
"Saya tahu." Baekhyun menyahut dengan cepat tanpa repot-repot menyembunyikan kekagumannya pada pecinta seni lukis kenamaan tersebut.
"Oh saya tidak tahu jika seterkenal itu." Ujar Kris diselingi canda.
Baekhyun tersenyum maklum. Terlepas dari rasa senangnya bertemu dengan Kris, Baekhyun masih mempertanyakan keberadaan lukisannya.
"Oh, maaf. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan terkait dengan lukisan anda." Kata Kris yang sedikit banyak membuat Baekhyun mendesah lega. "Please, this way." Kris mengulurkan tangan dengan maksud membawa Baekhyun ke suatu tempat.
"Saya tidak sempat memberitahukan kabar ini, karena akan sangat tidak sopan jika membicarakan hal sepenting ini melalui email." Kria kembali berucap di sela-sela langkahnya.
Baekhyun mengangguk samar. "Jadi, apa yang terjadi dengan lukisan saya. Apa sebenarnya tidak jadi lolos seleksi?" Tanyanya dengan hati-hati.
Kris tersenyum samar. "Sebenarnya seperti itu, pihak kami melakukan beberapa kesalahan dan saya memohon maaf yang sebesar-besarnya." Kris menoleh kearah Baekhyun dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Ahh, seperti itu." Baekhyun menukas lesu. Dan ternyata benar, ia tidak harus berkekspektasi lebih sebelumnya. Wanita itu sadar bahwa kemampuannya menggores cat di atas kanvas masih tertinggal jauh. Jadi akan terasa sangat aneh jika lukisan alakadarnya benar-benar lolos seleksi.
"Tapi, salah satu donatur terbesar kami menaruh minat yang tinggi terhadap lukisan anda."
Dan satu kalimat yang terlontar itu mampu membuat langkah Baekhyun seketika terhenti. "Ya?" Beonya dengan wajah tanpa dosa yang membuat Kris enggan membayangkan betapa beringasnya Chanyeol saat menyentuh wanita itu.
"Apa anda baik-baik saja?" Tanya Kris tanpa sadar. Ia tahu, Chanyeol jelas memiliki kekuatan serta nafsu yang begitu besar. Maka Kris sedikit heran dengan keadaan Baekhyun yang terlihat sangat baik-baik saja. Sangat jauh dengan ekspektasi Kris yang yang membayangkan wanita itu bahkan tidak akan sanggup berjalan lagi seumur hidupnya.
Ya. Chanyeol sanggup berbuat seperti itu. Karena dia nafsunya memang seberbahaya itu.
"Ya. Saya baik-baik saja, tapi apa benar lukisan saya?" Baekhyun kembali berjalan tanpa tahu maksud sesungguhnya dari pertanyaan Kris.
Kris mengiringi dengan langkah pelan. "Ya. Lukisan anda ditawar dengan harga tinggi. Jika anda tidak keberatan bertemu dengan yang bersangkutan…" Kris menukas ragu tanpa melanjutkan kata-katanya.
Baekhyun mengerjap pelan. "Kalau saya boleh tahu, siapa beliau?"
Kris memasukan tangan pada saku celana semantara ia mulai menuntun Baekhyun pada satu ruangan yang terletak di sebelah barat galeri. "Richard Park." Sahutnya dengan jelas.
Baekhyun kembali menghentikan langkahnya. "S-siapa? Maaf, Richard Park yang anda maksud?" Baekhyun merasa pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Dan ia tidak sebodoh itu untuk tidak tahu nama yang baru saja ia dengar.
Tidak mungkin Richard Park yang itu bukan?
Kris mengangguk. "The world's most powerful businessman."
Baekhyun menelan kering.
Okay, Baekhyun hanya tahu nama itu kerap keluar dari mulut Luna dengan segala celotehan penuh kekaguman tentang sosok seorang pengusaha muda, terkaya ke sekian di dunia, bujangan paling diincar oleh setengah dari populasi wanita di kota New York.
Lutut Baekhyun seolah luruh seiring dengan langkah Kris yang menuntunnya pada sebuah pintu yang entah sejak kapan berada di sana. Baekhyun mengetahui setiap sudut National Gallery Of art dengan sangat baik, seingatnya pintu besar dengan pahatan rumit di permukaannya itu tidak pernah ada sebelumnya.
"Beliau menunggu anda di dalam." Kris berhenti ketika sudah sampai di tujuan. Dengan sedikit mendengus kasar di penghujung kalimat.
Bagaimana tidak? Richard kembali menguasai tubuh Chanyeol saat ini, sia-sia saja Kris memberi petuah panjang kepada Chanyeol beberapa jam yang lalu jika Richard kembali mendominasi. Namun terlepas dari segala kekesalannya, Kris dibuat cemas ketika mengingat kembali kata-kata Richard yang mengatakan Park Chanyeol semakin lemah. Apa hal itu pula yang membuat Richard lebih sering bereksistensi akhir-akhir ini?
Baekhyun menoleh dengan gusar kepada Kris. Sementara gugup adalah hal yang begitu mendominasi ekspresinya saat ini. Baekhyun tidak menaruh minat sedikitpun tentang seberapa banyak uang yang ditawarkan orang itu terhadap lukisannya, hanya saja ada sebentuk perasaan asing yang mendorong wanita itu untuk menyentuh knop pintu lalu memutarnya.
Kris melotot tidak percaya. Bagaimana tidak? Pintu yang beberapa jam lalu ia ciptakan itu tidak akan mampu dibuka oleh manusia.
Apa ini?
Perasaan aneh kian merambat dalam diri Baekhyun ketika tubuhnya telah berhasil memasuki sebuah ruangan. Kedua alisnya bertaut. Sejak kapan galeri ini memiliki sebuah restoran? Baekhyun berdiri tak jauh dari beberapa meja yang sepertinya sengaja dikosongkan. Lalu matanya menyapu ke seluruh penjuru restoran hingga seorang pria yang duduk di kursi sebelah timur mengunci pandangannya.
Baekhyun berdecak kagum. Restoran itu sangat besar, tapi seorang pria yang tampak tengah sibuk mengiris daging di atas piringnya dengan teliti itu mampu membuat restoran tersebut seolah menjadi miliknya sendiri.
Untuk dirinya sendiri.
"Berapa banyak yang dia habiskan untuk reservasi restoran elit ini? Apa kau sekaya itu, huh?" Gumam Baekhyun.
Richard meneliti potongan daging yang sebelumnya ia tusuk dengan garpu, terlihat menggugah selera jika saja ia tidak ingat bahwa itu bukanlah makanannya.
Baekhyun berdeham pelan. Sedikit kesulitan untuk sekedar melihat wajah pria yang saat ini berada di hadapannya.
Richard menengadah lalu melempar senyum pemikatnya sebelum akhirnya bangkit dari kursi. "Byun Baekhyun-ssi.." Ujarnya sebelum kemudian membungkuk seraya mencium sebelah tangan Baekhyun.
Kornea Baekhyun melebar, bukan karena apa yang dilakukan oleh pria tampan itu. Hal yang lebih membuatnya terkejut setengah mati ialah wajahnya. Baekhyun jelas masih mengingat pria yang beberapa hari lalu hadir di mimpinya. Namun ia tidak pernah menduga akan memimpikan seorang pengusaha muda dan tampak disegani seliar itu.
Ya. Mimipinya benar-benar liar.
"Silahkan duduk." Kata Richard dengan sopan, masih mempertahankan wajah ramahnya.
Atau mesum?
Baekhyun mencoba bergerak dengan kaku seraya menelan salivanya dengan susah payah saat pandangannya bertemu dengan pria itu. Lantas menggeleng pelan, merasa ada yang salah dengan iris hitam pria itu.
Seingatnya hanya ada iris hijau juga kelabu dalam mimpinya.
Richard menumpukan kedua siku di atas meja, lalu menatap Baekhyun sambil sesekali menjilat bibirnya. Mungkin tengah membayangkan seberapa nikmatnya jika bibir mungil nan ranum itu berada di ujung kejantanannya.
"Apa ada yang salah denganku?" Tanya Richard saat mata Baekhyun seperti lupa caranya mengerjap.
Baekhyun tersentak dengan segera membuyarkan segala macam pikiran tak pentingnya. Wanita itu menggeleng malu. "Maaf, saya tidak bermaksud kurang ajar." Katany sembari meringis.
Richard tersenyum di balik gelas wine-nya. "Apa wajahku seaneh itu?"
Baekhyun menggeleng keras. "Hanya saja, apa akan terdengar aneh jika saya mengatakan bahwa beberapa hari yang lalu saya memimpikan anda?" Tanyanya tanpa bisa menahan lagi perasaan gusarnya.
Richard tertawa di balik punggung tangan. "Apa itu cara baru untuk menggoda lawan jenis?"
Baekhyun mengibaskan kedua tangannya dengan gerakan kentara. "Tidak, tidak. Maksud saya.. umm.." Baekhyun menggigit bibir bawah sementara wajahnya sudah memerah malu.
Richard kembali tertawa. "Aku tahu, biar kudengar mimpimu itu." Ujarnya masih menumpukan kedua siku di atas meja.
Wajah Baekhyun semakin memerah. Ia tidak mungkin menceritakan mimpi seliar itu bukan? Lantas yang ia lakukan hanya menunduk tersipu.
Richard yang menyaksikannya kembali tertawa. "Kenapa? Apa kau mimpi yang tidak-tidak?" Pria itu melemparkan ekspresi jahil.
Baekhyun melotot. "Maaf tuan, saya kesini untuk membahas lukisan. Bukan mimpi." Katanya terdengar protes.
Mengapa pria itu terus tertawa? Tidak tahukah dia bahwa ketampanannya meningkat berkali-kali lipat saat tertawa?
Richard mengangguk paham. "Baik. Jadi. mau kau jual berapa lukisanmu itu?" Tanyanya dengan nada suara asing, lalu seluruh tubuhnya tiba-tiba memanas, darahnya seolah mendidih hingga ke ubun-ubun. Pria itu mencoba mengalihkan denyut di kepala dengan menggenggam pisau di tangannya dengan kuat, tidak memedulikan rembesan darah yang keluar dari sela-sela kepalan tangannya.
Baekhyun berdeham. "Maaf tuan, saya tidak akan menjual lukisannya." Kata Baekhyun sebelum kemudian mengernyit melihat bulir kecil keringat mengalir pada dahi pria di hadapannya. "Tuan, tangan anda berdarah." Jengitnya kemudian.
Richard mengangkat sebelah tangannya saat melihat Baekhyun hendak bangkit. "Aku tidak apa-apa." Kata Richard di sela gemertuk giginya menahan sakit di sekujur tubuh. "A-aku akan membayar berapapun asal kau menjual lukisanmu padaku." Lanjutnya dengan sekuat tenaga, mencoba mempertahankan eksistensi.
Baekhyun masih menautkan kedua alis, raut cemas jelas terpatri di wajahnya saat ini. "Sa-saya tetap tidak akan menjual lukisan itu."
Wanita itu nyaris melompat dari kursinya saat pria di hadapannya menggebrak meja.
Pria yang sedari tadi menunduk itu perlahan menengadah. Ia mendesis terlihat marah. "Jual lukisan tekutuk itu padaku." Geramnya dengan napas terengah.
"Excuse me?" Baekhyun masih menampakkan wajah kebingungannya. Suara tanpa keramahan itu jelas terdengar berbeda dari sebelumnya.
Sayangnya, Baekhyun tidak tahu bahwa dibalik iris kelam pria itu tersimpan iris kelabu yang baru saja mendominasi.
Baekhyun tidak tahu mengapa ia merasa takut secara tiba-tiba, wanita memundurkan kursi sebelum kemudian bangkit. "Sa-saya tidak akan menjualnya." Katanya sembari membungkuk sebelum kemudian berbalik badan.
Yang berteriak dalam benaknya saat ini ialah lari, tinggalkan tempat itu dan selamatkan dirimu.
"Kau tidak akan kemana-mana!"
Park Chanyeol meraih pergelangan tangan Baekhyun dengan maksud menahan wanita itu, namun detik berikutnya adalah hal yang tak pernah ia duga akan terjadi. Tubuhnya terpental beberapa meter, menghantam meja hingga hancur saat wanita itu menghempas genggaman tangannya.
"Astaga!" Baekhyun berjengit, ia berlari menghampiri Chanyeol yang tengah terbatuk-batuk dan meringis kesakitan. "A-aku, aku.. maaf aku tidak bermaksud.." Baekhyun mencoba mengulurkan tangan dan membantu Chanyeol.
"Berani sekali kau, sialan!" Chanyeol meraung marah, ia mencengkram wajah Baekhyun dan menatapnya dengan nyalang.
Napas Baekhyun tercekat, namun iris kelabu yang baru saja menyapa netranya membuat wanita itu diam seribu Bahasa. Lalu tanpa sadar tangan yang bergetar itu terulur menyentuh wajah Chanyeol dengan gerakan pelan, seolah ia telah mendambanya sejak lama.
Chanyeol masih terengah, marah serta kalut ketika telapak tangan mungil itu membelainya dengan lembut dan terlampau berperasaan hingga membuat tatapan tajamnya perlahan melunak, dan bahkan Chanyeol tidak tahu sejak kapan cengkramannya di kedua sisi wajah Baekhyun berubah menjadi sebuah sentuhan, jemarinya menyapu pipi Baekhyun dengan gerakan hati-hati, ia terus menyusuri kulit lembut itu hingga berhenti tepat di bibir Baekhyun. Lalu mengusapnya dengan sensual.
Mulut Chanyeol setengah terbuka sementara matanya mulai menampakkan ekspresi lain. Ada kabut gairah yang terpendam di sana.
Baekhyun membeku, dunianya tersedot oleh iris kelabu yang sedari menatapanya seolah begitu memuja. Dan di detik berikutnya yang terjadi adalah sama, ia kehilangan kontrol atas dirinya sendiri, seolah yang tengah mengalungkan lengan pada leher pria itu bukan dirinya.
Seolah yang kini tengah membalas ciuman pria itu bukanlah dirinya.
Bahkan tak Baekhyun sadari bahwa apa yang semula bergerak di sekitarnya telah berhenti, detak jarum jam tak lagi berjalan, bahkan partikel debu yang berterbangan di udara mematung seketika.
Chanyeol memejamkan mata, menyesap bibir mungil itu dengan beragam perasaan yang melingkupinya saat ini. Ia yakin telah kehilangan kontrol atas dirinya sendiri ketika dengan sigap ia mengangkat tubuh mungil itu, merobek kain yang melekat di sekujurnya, hingga menidurkan tubuh polos itu di atas meja yang telah ia buat kosong.
Baekhyun masih membalas ciuman itu dengan beringas. Demi Tuhan ia tidak bisa berhenti.
Tidak. Baekhyun tidak ingin berhenti, sentuhan yang menyapu tubuh telanjangnya saat ini seolah mengusir rasa hampa yang selama ini tidak ia ketahui sebabnya. Benar-benar membawa perasaan asing tak terdefinisi, seperti ia memang mendambanya, sejak lama.
Tidak ada yang bisa menghentikan mereka.
Tidak ada yang bisa menghentikan Chanyeol ketika bahkan waktu saja tengah ia buat berhenti.
Chanyeol masih mencari, sementara Baekhyun mulai meringis.
Wanita itu menggeleng, lalu mengerang sebelum kemudian berteriak saat sesuatu yang begitu keras dengan ukurannya yang tidak biasa itu memaksa memasuki dirinya.
"Akkh.. sakit.." Baekhyun meringis sementara bulir bening telah beberapa kali lolos dari ekor matanya.
Chanyeol tidak menggubris, malah ia tetap dengan kehendaknya, meski marah akan dirinya, meski terasa begitu menjjijkan, pria itu tidak bisa berhenti.
Baekhyun berteriak keras, memohon kebaikan namun si pria yang mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya tidak peduli.
"Akkhh.." Chanyeol mengerang, merintih tertahan, ia belum masuk sepenuhnya tapi rasa sakit itu kian menjalar di seluruh tubuhnya.
"Hentikan! Sakit.. kumohon!" Baekhyun menangis dan tentu diselingi teriakan.
Chanyeol menggeleng, rasa penasaran memang akan membuat siapapun nekat. Tak terkecuali dirinya, ini kedua kali Chanyeol menyentuh wanita itu, namun sama seperti yang telah terjadi di air terjun, Chanyeol tidak bisa masuk sepenuhnya dan bahkan sakit yang ia rasakan justru berkali-kali lipat lebih sakit dari sebelumnya.
Sial!
Kenapa wanita itu masih sama sempitnya seperti pertama kali?
Wajah Chanyeol memerah menahan sakit yang semakin kuat mendominasi, sementara Baekhyun sama tersiksanya ketika pria itu mulai bergerak beberapa kali di bawah sana.
Tidak, kali ini Chanyeol tidak akan menyerah lagi. Sebuah perasaan asing menggodanya untuk berburu kenikmatan lebih, sebisa mungkin ia harus mencapai puncak itu.
Hingga di detik berikutnya, Baekhyun merasakan pria itu berhenti menggerakkan pinggulnya. Terdengar decakan frustasi, wanita itu tidak tahu seperti apa ekspresi si pria karena pandangannya kini telah memburam lalu—
–Gelap.
.
.
Landscapia
(The Two Of Highness)
.
.
"B?"
Itu suara Luna, terdengar menggema bersama bunyi elektrokardiogram yang perlahan memenuhi indera pendengaran.
Kelopak mata itu perlahan mengerjap, sosok Luna masih terlihat mengabur dalam pandangannya.
"B! You hear me?"
Mata sayu itu kembali mengerjap lemah. "Where am I?" Tanyanya dengan suara parau.
Luna sudah lebih dulu menangis. Ia mencium kening Baekhyun dengan sayang. "Rumah sakit." Wanita itu terisak. "Bodoh! Aku pikir aku akan kehilanganmu." Lanjutnya dengan tersedu-sedu.
"Kenapa aku bisa di sini?" Baekhyun bertanya lagi dengan keheranan.
Luna mengusap air matanya. "Kau tidak ingat? Kris Wu bilang saat pulang dari pemeran kau mengalami kecelakaan, dokter mendiagnosa adanya benturan hebat yang mengenai organ intimmu. Dan mereka melakukan prosedur operasi untuk menghentikan pendarahannya."
Baekhyun menautkan kedua alis, lalu p menerawang jauh ke depan. Ahh ya, ia ingat sekarang. Ia memang mengalami kecelakaan. Tapi, kenapa Baekhyun merasa ada yang janggal dengan ingatannya?
"Sudah berapa lama aku di sini?"
"Empat hari, pasca operasi kau tidak sadarkan diri selama itu." Luna kembali menangis. "Mom menghubungiku dan mengabarkan kau mengalami kecelakaan." Lanjutnya masih diselingi isakan.
"Mom? Where is she?"
"Aku menyuruhnya untuk pulang dan istirahat karena beberapa hari ini dia menjagamu siang dan malam."
Baekhyun mengangguk lemah, tangan yang dihiasi selang infus itu begerak dan menyentuh tangan Luna. "Terimakasih." Ucapnya dengan tulus. "Aku akan baik-baik saja, jangan cemas." Lanjutnya terdengar menenangkan.
.
.
Pria itu masih menyandarkan punggungnya pada dinding yang membatasi area koridor rumah sakit dengan kamar inap Baekhyun. Wajahnya tersembunyi di balik tudung Hoodie yang ia kenakan, kedua tangannya yang terkepal samar masih menetap di dalam saku saat mendengar percakapan dua wanita di dalam sana.
Awalnya ia sempat waswas, merasa memanipulasi ingatan Baekhyun tidak akan berhasil mengingat kejadian-kejadian di luar nalar yang ia dan wanita itu alami belakangan ini, akan tetapi pria itu mendesah lega saat tahu Baekhyun tidak mengingat apapun tentang apa yang terjadi bersamanya.
Namun terlepas dari segala perasaan lega itu, Chanyeol tetap dibuat tidak nyaman dengan beberapa pertanyaan yang akhir-akhir ini kerap berputar di dalam otaknya.
Who are you, Byun Baekhyun?
What you've done to me?
.
.
.
TBC
.
.
.
AN:
Eh, hai… :V
Aku mau jawab pertanyaan beberapa readersku tercinta ni..
#Chan sama Chard itu satu orang? –Dua jiwa dalam satu raga, kalau di dunia manusia itu kasusnya seperti DID (Dissociative Identity Disorder) atau lebih familiarnya itu alter ego. Cuma di sini aku bikin agak beda aja (atas dasar imajinasi aku sendiri pastinya) Bedanya kan kalau alter ego itu dua kepribadian dari orang yang sama, kalau Chan sama Chard dua orang yang berbeda, soal apa penyebab Richard bisa mendem di tubuh Chan? Akan terkuak seiring dengan berjalannya Chapter ya cintak :*
#Chan itu setengah iblis setengah malaikat ya? –Lebih tepatnya dia itu setengah malaikat setengah manusia. Dia adalah Nephilim, ada yang tau? Jadi diceritakan bahwa Nephilim itu adalah anak dari hasil perkawinan salah satu angel dengan manusia.
#Chard itu siapa sih? –Babang Richard itu Incubus (Sosok iblis yang senang melakukan hubungan seksual dengan perempuan dari bangsa manusia) Ada suatu intrik masa lalu yang mengharuskan jiwa iblis incubus itu jadi alter ego-nya Chanyeol. Dan Intinya dia itu mesum! Tapi malah banyakan yang suka sama dia masa :V
#Baekhyun itu sebenarnya iblis juga ya? –Nope. Dia murni manusia. Cuma memiliki keistimewaan bisa mengintip dunia tak kasat mata aja kok, dan mungkin keistimewaan yang lain? Ehehehe
Udah segitu dulu :*
PS: FF ini dibuat hanya untuk hiburan semata, tidak ada maksud lain apalagi menyinggung beberapa pihak. Jadi tolong jangan mengkaitkan jalan cerita ataupun tokoh dengan beberapa hal yang bersifat sensitif (seperti keyakinan) Karena memang Raisa hanya menyalurkan ide ke dalam sebuah tulisan fiksi dengan maksud dan tujuan baik untuk menghibur teman-teman semua.
Kay?
Next chapt kita jalan-jalan ke Landscapia! Yeay!
Ciao chu :*
