Bagiku, hidup itu menyenangkan. Tak ada yang perlu aku khawatirkan. Semua kehidupanku seakan telah terpenuhi oleh rasa damai yang tak pernah habis bagai air dunia. Kemewahan yang kurasakan dari kecil tak sekali pun membuatku mengenal apa itu "kesedihan" dan "membosankan". Tapi aku tak membutuhkan dua hal itu, karena apa? Bagiku, hidup itu hanya ada kesenangan. Berteman, mengobrol, bermain, kompak, solidaritas, dan yang paling penting adalah tidak ada kesedihan.
Setiap hari aku selalu saja berdiri di depan cermin, memandangi fisikku yang kurasa kelihatan sempurna. Aku tidak punya kekurangan, dan pada dasarnya dari kecil aku sudah dituntut Ayah untuk selalu kelihatan sempurna. Aku cantik. Aku seksi, meskipun pakaianku tidak seterbuka gadis-gadis lain. Jika semua pemuda melihatmu tidak mungkin mereka tidak menyukaimu, mereka semua akan terpana kemudian jatuh cinta padamu, kata Ayah.
Aku ini ibarat seorang idola walau aku bukanlah orang yang berbakat. Aku terkenal karena kesuksesaan Ayahku. Aku semakin terkenal setelah menjadi kekasih dari salah satu aktor yang baru naik puncak, Sasori. Aku memanggilnya dengan panggilan "Darling". Setiap kami bertemu, biasanya aku langsung melompat kemudian memeluknya sambil tertawa manja. Bahkan orang di sekeliling pun sampai iri melihat kami. Kami berdua memiliki sebutan "Pasangan Sempurna" di media.
Aku mencintai Sasori, dan tidak akan ada seorang pun yang bisa memisahkan kami berdua. Kami saling mencintai. Kami berencana mau menikah minggu depan. Meskipun dia sering mengajakku tidur, tapi aku selalu menjawab, "Tidak perlu tergesa-gesa. Tinggal menunggu hari lagi kita akan menjadi pasangan suami-istri, dan saat itulah kamu boleh melakukan apapun." sambil tersenyum manis.
Tetapi...
Tetapi keesokan hari, ketika aku ingin menemui Sasori di rumahnya, kulihat dua perempuan dengan pakaian pelayan yang berantakkan tergesa-gesa keluar dari kamarnya sambil sekilas meminta maaf padaku. Dan saat aku masuk ke kamarnya, aku melihat kekasihku itu tengah bertelanjang dada sambil membenahi resleting celananya. Dia terlihat tenang meskipun aku bertanya ada apa. Mereka hanyalah pelayan, mereka cuma melakukan pekerjaan mereka, hanya itu yang keluar dari mulutnya. Setelah itu, dia mengajakku jalan-jalan dengan mobilnya, seakan-akan aku tidak perlu tahu apa yang telah dia lakukan pada dua pelayan perempuan itu.
Napasku tiba-tiba terasa berat. Aku bertanya-tanya, perasaan apa ini?
Melihat bagaimana keadaan tadi, tidak mungkin Sasori tidak melakukan apa-apa dengan dua pelayan itu. Dia pasti... Dia pasti... Ah, jangan berpikir negatif dulu, Hinata. Mungkin saja kejadiannya seperti ini: Dua pelayan itu mengambilkan handuk untuk Sasori, tapi sebelum mereka berdua meletakkan handuknya, pria itu sudah keluar dari kamar mandi. Dua pelayan itu pun terkejut, lalu jatuh membuat pakaiannya agak berantakkan, kemudian karena takut melihat tubuh telanjang tuannya, mereka berdua langsung keluar.
Itu benar, kejadiannya mungkin begitu. Lagipula dia tidak lama lagi akan menikah denganku. Jangan sampai ada pikiran negatif, oke, Hinata? Yosh!
Setelah Sasori mengajakku ke sana-sini, kami pun berhenti di depan sebuah gedung studio produksi anime. Sepertinya dia diundang ke sini untuk menjadi Seiyuu. Ini ketiga kalinya dia diundang untuk menjadi Seiyuu bukan sebagai aktor drama ataupun film bioskop.
Dengan kacamata hitam, kami berdua pun keluar dari mobil. Kilatan cahaya dari kamera menyambut kami, para wartawan mulai beradu mulut, para bodyguard mulai melaksanakan tugas mereka. Kami berdua berjalan anggun di atas kain merah sambil menyapa fans kami serta orang-orang dari media. Inilah saat-saat yang menyenangkan menurutku. Aku difoto, dan mungkin saja fotoku dengan Sasori akan menjadi sampul dari majalah-majalah ternama.
"Honey, lihat dia." Sasori melihat ke arah seseorang yang tampaknya dalam posisi terjatuh karena menabrak salah satu bodyguard yang berdiri di depan pintu gedung yang akan kami masuki. Karena semua wartawan dan fans kami mendekati kami, di tempat itu cukup sepi.
"Ada apa dengannya? Kau kenal dia?" tanyaku.
"Tentu saja." Sasori tertawa pelan, terkesan meremehkan, "Uzumaki Naruto, dia adalah teman sekelasku waktu SMA, tapi dia pengecut."
"Kenapa begitu?"
"Hari-hari di awal masuk kelas aku menghinanya, tapi baru beberapa hari kemudian dia langsung pindah sekolah karena takut bertemu langsung denganku. Kalau bukan pengecut apa lagi coba?"
Aku tertawa kecil, "Begitukah?"
"Itu benar. Dia itu pendiam, bicara putus-putus, di depan gadis saja selalu salah tingkah, ditambah lagi mukanya yang paling menyebalkan dari semua sikapnya yang buruk. Aku menghinanya kalau dia itu tidak pantas sekolah, dia lebih pantas tinggal di rumah, tinggal sama Mamanya, dan pengecut seperti dia tidak akan mungkin memiliki pacar bahkan istri sekalipun. Kupikir dengan menghinanya seperti itu, dia bisa lebih beradaptasi denganku, tapi dia lebih memilih melarikan diri. Dia itu benar-benar pengecut dari pengecut."
Aku setuju dengan ucapan Sasori tadi. Sebagai kekasihnya aku selalu percaya dengan apa yang dia katakan, itu sebuah janji dariku untuknya.
"Honey, aku punya sebuah ide. Ini mungkin akan sangat menyenangkan. Apa kau ingin melakukannya untukku?" Sasori memperlihatkan wajahnya yang jail. Sepertinya dia mau mengerjai orang lain lagi.
"Tentu, Darling," jawabku riang.
"Begini rencananya. Kau pura-puralah mencintainya, jadilah pacarnya, kemudian ketika sudah saatnya kita akan kasih pelajaran kepada pengecut itu. Kita buat dia merasakan apa itu "sakit hati". Kau mau melakukannya?"
"Baiklah, tapi berjanjilah satu hal padaku kalau setelah itu kamu tidak boleh pergi ke mana pun jika tidak bersamaku, mengerti?"
"Mengerti."
Salah satu kebiasaannya, menjahili orang lain. Sasori selalu melakukan itu kepada orang lain yang menurutnya terlihat menyebalkan. Aku sih tidak terlalu mempermaslahkannya, karena memang sudah jadi hobinya menjahili.
"Uzumaki Naruto-kun!"
Rencana kami pun dimulai!
NaruHina FanFiction
Naruto © Kishimoto Masashi
Genre : Romance, Drama
Warning : Hinata POV, OOC, Alternative Universal
Uzumaki Naruto, satu-satunya laki-laki yang tidak tertarik padaku walau sudah melihat bagaimana kecantikanku. Aku tidak tahu "mantan teman SMA" kekasihku itu normal atau tidak. Apa mungkin dia itu seorang "homoseks"? Buktinya dia tidak tertarik denganku, padahal semua laki-laki di sekelilingku selama ini selalu terpana melihatku bahkan ada yang nekat berteriak, "Hinata-chan, menikahlah denganku!" begitu.
O ya, entah apa yang ada dipikirannya sampai tidak sadar kalau aku mengikutinya sampai rumah, sepertinya dia orang yang aneh. Baru kali ini aku bertemu orang setertutup dia. Tetapi aku sedikit terhibur dengan ekspresi wajahnya yang terkejut ketika menyadari kalau aku bukanlah "gadis imajinasi"nya. Menurutku ekspresinya itu kaku dan dia terlihat bingung mau berekspresi apa. Mungkin aku telah salah paham. Dia tetap tertarik padaku, terlihat jelas di wajahnya yang memerah, ditambah lagi dia membelakangiku, sepertinya dia pemalu.
"Bagaimana bisa kau ada di sini?" Suaranya terdengar gemetar.
Aku tertawa kecil. Dia seperti yang dikatakan Sasori, dia pasti salah tingkah jika di depan gadis. "Tidak perlu grogi seperti itu, Da-r-ling!" Aku memeluknya dari belakang.
Hangat, tubuhnya terasa hangat. Apa dia berkeringat? Ya ampun, benar-benar sepengecut yang dikatakan Sasori. Belum apa-apa dia sudah mandi keringat seperti ini. Tapi aneh juga, kenapa keringatnya tidak terlalu bau seperti milik Sasori? Keringatnya seakan membuatku tidak ingin melepasnya. Aku merasa ingin terus memeluknya. Rasanya seperti memeluk guling milikku sendiri di rumah. Nyaman sekali. Apa ini? Aku seperti terhanyut olehnnya.
"H-Hyuuga-san, kenapa kau tiba-tiba memelukku? T-Tolong lepaskan. Jika ketahuan, ak-aku akan di penjara,t-tolong... lepaskan aku," ucapnya, tapi aku pura-pura tidak mendengar.
Perasaan nyaman ini berbeda ketika aku memeluk Sasori yang bertubuh maskulin. Padahal semua gadis beranggapan lebih menyukai laki-laki yang berbadan seperti kekasihku itu, tapi saat ini aku malah tidak terlalu setuju dengan anggapan itu. Mungkin sudah bukan "semua" gadis lagi, tapi "banyak" karena aku tidak termasuk.
Aku akhirnya ditenggelamkan oleh kenyamanan punggung laki-laki itu. Ini terlalu nyaman, aku sampai ingin tidur. Aku mulai merasa lelah. Aku merasa sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi nanti. Terserah, mau mantan teman SMA kekasihku itu memperkosaku atau membunuhku sekalipun, aku merasa tidak peduli. Hanya kenyamanan yang aku rasakan.
Sekarang, sepertinya kedua kakiku sudah tak menyentuh lantai. Aku digendong, tapi aku tetap tak peduli. Aku seperti telah dibius.
"Maafkan aku, Hyuuga-san, tolong jangan ganggu aku."
Aku sudah tak merasakan punggungnya lagi. Ada apa ini? Padahal aku ingin lebih berlama-lama. Kurasa aku sedang berbaring. Terang. Aku membuka mata. Di mana ini? Aku akhirnya sadar sepenuhnya. Ini di depan pintu kamar kos-kosan laki-laki itu. Bagaimana mungkin? Apa saat aku terhanyut oleh kenyamanan punggungnya, dia mengeluarkanku dari kamarnya?
"Naruto-darling, buka pintunya dong. Ada sesuatu yang harus aku katakan padamu bahwa aku mencintaimu. Tolong buka pintunya, Naruto-darling... Naruto-darling." Beberapa kali aku mengetuk pintu tapi tak juga dibukanya. Bahkan tidak ada suara kecuali suara musik dari kamar sebelah.
Ya sudahlah, kurasa ini sudah cukup membuat laki-laki itu beranggapan kalau ternyata ada gadis secantik diriku yang menginginkannya, meskipun itu sebenarnya cuma pura-pura. Dan juga, lagian ini baru awalnya saja.
"Besok aku akan ke sini lagi. Sampai besok, Naruto-darling... bye~."
Aku pun pergi dari kos-kosannya. Sebenarnya aku berniat ingin menemui Sasori sekarang tapi sepertinya tidak mungkin karena pekerjaannya. Akhirnya aku pulang sendirian dengan taksi. Di perjalanan aku mulai sadar dengan apa yang telah aku lakukan ketika berada di kamar mantan teman sekelas kekasihku itu. Aku tidak peduli meskipun dia mau memperkosaku atau membunuhku. Aku semakin heran dan terheran. Bagaimana bisa aku merasa seperti itu? Apa aku dihipnotis? Hey hey, keperawananmu hanya milik Sasori, Hinata. Kalian berdua akan menikah sebentar lagi, jangan lakukan hal yang sembrono lagi. Mengerti, Hinata! Besok jangan lakukan itu lagi! Ingatlah!
Chapter 2: Gadis Yang Tidak Tahu Apa itu Kesedihan
Aku berdiri di depan cermin. Bisa kulihat dari cermin wajahku yang putih cerah dengan rambut yang tergerai lurus nan indah. Aku tersenyum. Tak bosan-bosannya aku mengagumi kecantikanku. Aku seperti bidadari saja. Tidak heran kenapa aku dinobatkan oleh orang-orang sebagai salah satu perempuan tercantik di dunia. Ah, hidup itu sungguh menyenangkan, bukan? Aku tidak punya kekurangan, ditambah lagi aku memiliki kekasih yang tampan sekaligus terkenal di mana-mana, bahkan dia sempat mengajakku ke luar negeri hanya untuk menyapa fansnya. Benar-benar asyik.
Ah, hampir lupa, pagi ini Sasori menelepon, "Bagaimana dengan si Pengecut itu, Honey?" tanyanya.
"Benar apa yang kamu katakan, Darling. Dia benar-benar pengecut, padahal aku cuma memeluknya tapi dia sudah mandi keringat," ucapku sambil tertawa kecil.
"Honey-ku memang hebat, teruslah seperti itu, kita kasih pelajaran si Pengecut menyebalkan itu."
Pagi ini aku akan kembali ke tempat laki-laki Hikikomori itu. Benar, kemarin hanya sebagai awal karena tidak mungkin juga langsung membuat orang yakin kalau gadis secantik diriku tiba-tiba bilang "mencintai" kepada orang asing, bahkan sebelumnya belum pernah bertemu apalagi saling mengenal. Bertahap maksudku. Setelah dia yakin kalau aku mencintainya, dia mungkin akan menjadikanku pacar, lalu mengajakku kencan kemudian Sasori muncul dan aku akan mengatakan sebenarnya kalau aku hanya mencintai Sasori. Aku tidak sabar ingin melihat reaksi laki-laki itu nanti. Fufufu...
Aku berdiri di depan pintu kamar kos-kosannya sekarang. Sepi sekali. Bangunan dengan 6 kamar ini terasa mencekam. Tiba-tiba saja aku merasa kedinginan. Hawa tidak enak aku rasakan berasal dari kamar sebelah. Sambil menyuarakan decitan, perlahan pintu kamar itu terbuka. Asap hitam tampak menyembul dari sana. Seseorang terlihat keluar. Seseorang dengan rambut hitam panjang berantakan berjas putih ala ilmuwan. Dia mulai mendekatiku. Semakin dekat. Wajahnya tampak mengerikan, seperti sudah sangat tua saja.
"Nona, apa Anda sedang mencari Naruto-kun?" tanyanya padaku sambil memasukkan tangannya di saku jasnya.
"I-Iy-Iya. S-Siapa kamu?" Kurasa kedua kakiku menggigil. Orang ini benar-benar menakutkan sampai-sampai aku tidak tahu apa dia seorang laki-laki atau perempuan karena wajah tuanya. Apa umurnya sudah 100-an?
"A-Apa Kakek bisa memanggilnya untukku?" Aku memberanikan diri bertanya.
"Kakek?" Dia mendekatkan wajahnya padaku, "Umur saya masih 29. Nama saya Orochimaru, panggil saja Ori-chan. Kalau Anda mencari Naruto-kun, dia sedang ada di restoran KIBA, bekerja. Apa Anda pacarnya?"
"K-Kalau begitu terima kasih." Aku pun bergegas pergi. Aku tidak tahan kalau terus berhadapan dengan orang seaneh dia. Lagian apa benar umurnya masih 29 walau wajahnya sudah setua itu, ditambah lagi bau kentut yang menyelimuti orang itu, hidungku sampai mati rasa.
Yosh, sekarang aku harus pergi ke restoran KIBA. Kudengar restoran itu sangat terkenal, aku pernah diajak makan ke sana oleh Sasori. Tempatnya tidak jauh dari sini jadi tidak perlu naik taksi. Ini aku sudah sampai di depan restoran itu. Kalau dipikir-pikir, pekerjaan laki-laki itu apa ya?
Aku segera berlari masuk ke restoran itu. Tidak peduli dengan orang-orang yang melihatku dari meja mereka, aku tetap berlari ke arah dapur, tempat para koki bekerja karena kurasa laki-laki itu ada di sana.
"NARUTO-DARLING...!" Teriakanku berhasil membuat seisi dapur terdiam. Dan saat itulah suara piring pecah terdengar. Aku bisa melihat laki-laki itu. Suara piring pecah tadi berasal dari dia. Sepertinya dia syok melihatku di sini dan menjatuhkan satu piring yang dicucinya. Peduli amat, aku akan bermanja-manja bersamanya.
"Naruto-darling, aku mencintaimu." Aku langsung memeluknya.
Bersambung
Sampai jumpa lagi di chapter berikutnya.
Masih mau lanjut nggak nih?
