"Snow On The Sahara"

Ia berada di sini, dalam situasi seperti ini karena dulu seseorang pernah berkata kepadanya bahwa hendaknya kau melakukan apapun demi sesuatu yang kau cintai. Apapun, meski hal itu sesulit meminta salju turun di gurun Sahara.

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning: AU

.

.

Chapter II

.

.

Sudah lebih dari tiga puluh menit pria berambut perak itu menunggu di ruang tamu. Ia cukup terkejut ketika mendapati rumah ini memiliki seorang pelayan. Dia pikir si pemilik rumah tinggal sendiri. Namun, harusnya ia tidak perlu heran karena ia tahu betul karakter si pemilik rumah. Ia tidak akan mau repot-repot mengurus segala urusan rumah tangga seorang diri. Ia adalah tipe orang yang menjadikan kasur sebagai hal pertama yang dicarinya setelah pulang kerja. Ia menggeleng-gelengkan kepala saat wajah malas si rambut nanas itu terlintas di pikirannya.

Dia menyeruput teh yang disajikan pelayan rumah tersebut kepadanya. Rasa manis menyentuh indera pengecapnya. Ia meletakkan teh itu ke meja dan mulai melihat-lihat ke segala sudut ruangan, seperti mencari sesuatu. Ia hafal lekuk-lekuk rumah ini, tapi ada satu hal yang berbeda dari kediaman si pria berambut nanas sejak kunjungan terakhirnya.

Yang tidak lain dan tidak bukan adalah si pelayan.

Sejak matanya dengan mata cokelat pelayan perempuan itu beradu saat dia membukakan pintu untuknya, sejak saat itu pula ia berusaha untuk terus memperhatikan gerak-gerik si gadis.

Sedangkan gadis muda yang usianya pastilah tidak jauh-jauh dari angka dua puluh itu merasa ia sedang ditelanjangi.

Kalau saja ia tidak takut akan amarah majikannya, ia pasti sudah kabur ke luar rumah tepat saat teh teruntuk si pria berambut perak itu diletakkannya di atas meja.

Mata pria itu tidak terlepas darinya, memperhatikan setiap gerakan dan langkahnya yang mulai bergetar.

Karena kabur ke luar rumah tentu saja bukan pilihan, dengan gugup ia seret kakinya kembali menuju dapur agar bisa lenyap dari hadapan si tamu. Ia berdiam diri di sana, berdoa agar majikannya cepat pulang.

Pria yang rambutnya menutupi hampir separuh wajahnya itu bergerak dari tempat duduknya, berjalan-jalan mengitari ruangan, mencari-cari apakah ada hal baru lagi selain si pelayan di rumah yang cukup sederhana itu. Ia membaca raut ketakutan dari wajah gadis berambut cokelat, sehingga langkahnya ia tahan untuk tidak mendekati arah dapur, yang menurutnya di sanalah kemungkinan pelayan itu berada.

Ia mulai bosan. Diliriknya jam dinding. Pukul sebelas malam. Ia mengumpati si pemilik rumah dalam hati sebelum kembali mendudukkan dirinya di kursi tamu.

Baru saja ia mencoba menyandarkan punggung ke sandaran kursi, ia mendengar bunyi ketukan pintu. Posisi tubuhnya sudah setengah berdiri, berniat membukakan pintu, saat dilihatnya pelayan tadi setengah berlari dari arah dapur menuju benda yang terbuat dari kayu tersebut, lalu mebukanya. Sungguh berdedikasi, pikirnya.

Si tamu melirik ke balik pintu dan mendapati si pemilik rumah yang dicarinya. Sepintas ia terlihat seperti terhuyung. Mabuk, ia pikir. Dilihatnya pria itu berlalu sekenanya saat si pelayan mencoba mengatakan bahwa ia sedang memilik tamu.

Pandangannya ia alihkan ke meja di depannya, ia kembali mengambil teh yang sudah dingin dan menyeruputnya sampai tetes terakhir.

Sudah selesai urusannya dengan teh, ia kembali menoleh ke arah pintu hanya untuk mendapati bahwa orang yang baru masuk tadi sedang menoleh ke arahnya dengan pupil yang membesar. Ia tidak mengharapkan reaksi itu.

"Bagaimana pestanya, Shikamaru?" tanyanya pada si pemilik rumah sambil memberikan senyumnya yang terkesan sedikit mengejek.

Pria bernama Shikamaru itu terlihat memutar bola matanya sebelum menjawab, atau tepatnya bertanya balik dengan malas.

"Merepotkan saja. Kenapa tidak sekalian saja kau tidur di kamarku tanpa memberi tahu terlebih dahulu?"

Si pria berambut perak tadi hanya terkekeh dan menolehkan kembali pandangannya ke arah depan sementara Shikamaru menoleh ke pelayannya. Ia merasa sedikit berdosa sudah menyiksa pelayannya dengan kedatangan pria itu.

Tiba-tiba dirogohnya sakunya lalu memberikan beberapa lembar uang kepada si pelayan.

"Ini untukmu, ambilah! Anggap saja bonus karena sudah menunggu sampai larut," katanya.

Si pelayan cepat-cepat membungkuk, mengambil uang yang memang dibutuhkannya itu dari tangan majikan dengan ragu-ragu, lalu mengucapkan terima kasih. Isyarat mata Shikamaru membuatnya buru-buru kembali ke dapur untuk mengambil beberapa barangnya, lalu kembali lagi ke ruang depan untuk berpamitan pada Shikamaru dan tamunya. Akhirnya ia bisa pulang.

Setelah memastikan sosok pelayan itu lenyap dari balik pagar, ia menutup pintu depan rumah, lalu menguncinya sebelum ia melangkah gontai ke arah sofa ruang tamu.

Sofa usang itu berderit saat tubuh kekarnya ia hempaskan ke sana. Kedua tangannya ia buka lebar-lebar dan direntangkannya di atas sandaran sofa. Kalau saja bukan karena kehadiran tamu yang sedang melirik bosan kepadanya itu, ia mungkin sudah jatuh ke alam mimpi detik ini juga.

"Ada apa kemari?" tanyanya tanpa basa-basi dengan kelopak mata yang setengah terbuka.

"Selamat atas undangan pestanya," jawab si tamu sama sekali relevan dengan pertanyaan. Shikamaru mengernyitkan dahi dan meluruskan punggungnya yang tadi dalam posisi bersandar.

"Kau kesini, tanpa memberi tahu, hanya untuk memberi selamat, Kakashi?"

Pria yang ternyata bernama Kakashi itu terkekeh lalu menyilangkan kakinya.

"Menurutmu?" tanyanya balik. Ia puas sekali melihat ekspresi Shikamaru yang mati-matian menahan kantuk.

Shikamaru menguap bosan dan tidak menjawab.

"Konoha mengirimkan pasukan tambahan ke perbatasan Suna," Kakashi tiba-tiba berkata. Ia melirik-lirik ke segala penjuru ruangan ketika kalimat itu habis meluncur dari mulutnya.

"Aku hanya menyewa satu pelayan," ucap Shikamaru membaca gerak mata Kakashi. "Lagipula ia biasanya aku suruh pulang setelah jam enam sore," lanjutnya.

"Dasar bodoh," Kakashi berkata dengan nada sengit. "Buat apa membayar pelayan? Kau tidak bisa mengurusi dirimu sendiri?"

Yang ditanya hanya diam, tetap menampilkan ekspresi menahan kantuknya.

"Kau harus hati-hati terhadapnya."

"Tenang saja," Shikamaru berkata santai. "Kau lihat matanya tadi? Dia sama sekali bukan ancaman," ia menguap lagi sebelum melanjutkan, "aku tidak mau harus mengerjakan pekerjaan rumah setelah pulang dari kantor. Cobalah seminggu saja tinggal di sini! Panasnya membuat tenagaku habis."

Kakashi kembali terkekah melihat Shikamaru yang sedang menggerutu. Dan Shikamaru, ia kembali melemparkan pandangan -bisa kau pergi saja dari sini?- pada Kakashi.

"Omong-omong," Shikamaru baru sadar akan satu hal. "Kenapa kau tidak masuk dari bawah?" dahinya mengkerut.

"Aku masuk dari bawah dan mengetahui ada gerak gerik orang lain dalam rumahmu. Menurutmu apakah merupakan pilihan yang bagus jika aku tiba-tiba muncul di hadapannya sedangkan ia tahu bahwa pintu depan tidak pernah terbuka dari tadi?" Kakashi menjawab dengan nada kesal.

"Cih," Shikamaru kembali memutar bola matanya sebelum berkata, "lagipula kau juga yang salah. Siapa suruh datang tanpa memberi berita?" tanyanya tidak kalah kesal.

Shikamaru kembali menyandarkan punggungnya yang terasa pegal ke sofa.

"Bagaimana tadi, pasukan Konoha?"

"Hampir dua kali lipat," Kakashi melapangkan tenggorokannya, "hampir dua kali lipat pasukan Konoha dikirim ke perbatasan Suna," lanjutnya.

"Bagaimana dengan Oto?" tanya Shikamaru.

"Belum ada rencana yang terendus sejak penarikan pasukan mereka dari perbatasan. Beruntung Sai bisa mencium rencana Oto untuk lepas dari sekutu dengan cepat," Kakashi menggantung kalimatnya di sana lalu melanjutkan, "sebelum tikus-tikus kecil yang harus diurusi menjadi bertambah banyak."

"Hn," hanya itu balasan Shikamaru. Kelopak matanya semakin menutup.

"Kazekage malang itu pasti sangat senang dengan kinerjamu, Shikamaru."

Shikamaru tidak menjawab apa-apa kali ini.

Jiwanya benar-benar akan memasuki alam mimpi akibat keheningan yang ada di ruangan itu sejak kalimat mengenai Kazekage dilontarkan oleh Kakashi. Matanya yang sempat terpejam beberapa detik tiba-tiba kembali ia buka. Ia mengendus ada sesuatu yang masih tertinggal dari pembicaraan mereka berdua.

"Apa yang belum kau katakan, Kakashi?"

Kakashi tersenyum miring. Tangannya bergerak ke dalam saku celananya, mengambil sesuatu.

Secarik kertas.

"Ini" katanya sambil memberikan kertas itu pada Shikamaru.

Shikamaru belum sempat membaca isi kertas tersebut saat raga Kakashi bergerak pamit menuju pintu bawah tanah, meninggalkannya sendirian di ruangan yang mulai dingin tersebut.

.

.

.

Shikamaru terbangun akibat silau cahaya matahari pagi yang menembak matanya. Diliriknya ke arah meja yang ada di samping tempat tidur, ia lihat jam sudah menunjukkan pukul 6.30. Sayup-sayup didengarnya suara dentingan panci dan sendok dari arah dapur. Pelayannya pasti sudah berada di sana sejak tiga puluh menit yang lalu. Seperti itu rutinitas gadis muda tersebut sejak dipekerjakan Shikamaru selama dua bulan terakhir, datang jam enam pagi dan pulang jam enam sore. Baru tadi malam pengecualian terjadi. Sepertinya ia tidak akan lagi membuat pengecualian tadi malam itu terulang kembali.

Masih ada waktu satu setengah jam lagi sebelum sosoknya harus berada di kantor. Ia menghela nafas dan membiarkan kelopak matanya membuka dengan penuh, kembali menatap langit-langit kamar.

Pikirannya berkunjung ke masa lalu, tidak jauh-jauh, hanya beberapa bulan jauhnya. Banyak hal bisa terjadi dalam waktu beberapa bulan. Tiga bulan yang lalu ia masih tinggal bersama orang yang selama ini membiayai hidup dan sekolahnya, Ibushi Shirogane. Sungguh pria yang baik hati, kenangnya.

Ia bertemu Ibushi di sekolah anak-anak pengungsi yang dibangun relawan, kira-kira sebelas tahun lalu. Otaknya yang jenius serta intuisi kepemimpinannya yang tidak bisa disembunyikan menarik perhatian banyak orang, tak terkecuali Ibushi. Sesuai dengan apa yang telah dikalkulasikannya, Ibushi mengangkatnya sebagai anak dan menyekolahkannya di sekolah pribumi. Ia mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak, sangat jauh lebih layak dibandingkan ribuan anak-anak lain seusianya.

Adalah perang. Hal yang merenggut jutaan hal berharga dari jutaan orang.

Lima negara yang dulunya bergabung dalam satu aliansi akhirnya terpecah belah. Bencana itu dimulai saat percobaan kudeta dilancarkan oleh Yashamaru, sekitar dua puluh tiga tahun yang lalu, pada kepemimpinan Kazekage keempat, yang tidak lain merupakan kakak iparnya sendiri dan juga ayah dari tiga bersaudara Sabaku. Kudeta tersebut berjalan sesuai rencana dan menjadi momen berpindahnya tampuk kepemimpinan Suna ke tangan Yashamaru. Di tangan Yashamaru, Sunagakure berubah menjadi negara penyulut api. Hubungan yang renggang dengan Otogakure sebelumnya menjadi yang paling dahulu terputus. Hal ini menimbulkan pergolakan di tubuh aliansi lima negara. Yashamaru yang mengendus rencana Otogakure cepat-cepat mengumumkan keluarnya Suna dari aliansi. Tidak hanya itu, Yashamaru akhirnya mengirimkan pasukan ke wilayah Otogakure yang masih menjadi anggota sah dari aliansi. Perang antara Sunagakure melawan empat negara lainnyapun tidak bisa dielakkan.

Di tangan Yashamaru juga, Suna berubah menjadi negara yang memiliki angkatan perang yang kuat. Namun, kepemimpinan Yashamaru yang sangat otoriter juga menimbulkan gesekan dalam tubuh kepemimpinan Suna sendiri. Saat itulah dinasti Sabaku bergerak kembali, mencoba muncul dari dalam tanah. Usaha kudeta sekaligus balas dendam dengan sangat apik dilancarkan kali ini. Akhirnya Suna kembali ke tangan Sabaku. Namun, sayang, Kazekage keempat meninggal dunia kurang lebih satu tahun setelah Sabaku berjaya kembali. Sabaku Gaara yang saat itu baru berumur tujuh belas tahun langsung dipilih menjadi penerus ayahnya.

Sedangkan Shikamaru, ia bekerja sebagai anggota militer Suna setelah tamat dari pendidikan angkatan. Kinerjanya yang luar biasa membuatnya dipromosikan untuk menjadi bagian dari pasukan elit Sunagakure sebagai salah satu ahli strategi. Tidak ada yang bisa memungkiri kejeniusan dan kelihaiannya dalam menyusun strategi peperangan. Pada akhirnya, iapun sah menjadi bagian dari pasukan elit Sunagakure kurang dari tiga bulan yang lalu. Ayah angkatnya, Ibushi, tidak sempat melihatnya berangkat kerja menuju kantor pasukan elit setiap pagi karena ia terlebih dahulu dipanggil Yang Maha Kuasa tepat satu minggu sebelum pelantikan Shikamaru. Ia kembali sebagai sebatang kara dan akhirnya memutuskan untuk memiliki kediaman sendiri.

Tidak butuh waktu lama bagi Shikamaru membuat gebrakan. Otogakure mundur dari perbatasan ketika Shikamaru baru saja mengabdikan diri selama dua bulan.

Hal-hal yang terjadi selama beberapa bulan terakhir terus berputar-putar di kepalanya saat matanya menerawang langit-langit kamar.

Akhirnya tubuhnya bangkit dari tempat tidur, bersiap menghadapi hari yang panjang ini.

.

.

.

Shikamaru sedang duduk dibalik meja kerjanya saat hari sudah menunjukkan pukul 10.40. Tumpukan kertas yang berada di depannya sudah sekitar sepuluh menit yang lalu tidak mampu lagi menarik perhatian. Berulang kali ia melirik arlojinya saat tangannya masih saja pura-pura ia sibukkan dengan menulis sesuatu yang entah apa.

Pukul 10.45. Ia lihat beberapa orang berlalu lalang di depannya. Semua tampak biasa saja. Beberapa terdengar berkelakar di tengah pekerjaan yang sudah menunggu untuk diselesaikan. Sudut matanya kembali ia gunakan untuk melihat benda berdetik di pergelangan tangannya.

Tangannya bergerak ke arah saku celana untuk mengambil pemantik api berwana perak. Ia nyalakan pemantik itu sebanyak tiga kali saat didengarnya sesuatu yang bising dari arah atas.

Sudah dimulai, pikirnya.

Ruangan yang tadinya damai mendadak gempar setelah mendengar suara bising tersebut. Dari balik jendela, beberapa kepala melihat benda-benda besi itu berterbangan. Puluhan pesawat tempur sedang bergerak menuju arah perbatasan.

"Konoha!" seorang pria berteriak ketika melihat sebuah lambang yang tertempel di bagian ekor pesawat-pesawat tersebut.

Suara bising pesawat tempur tiba-tiba terkalahkan dengan suara bel peringatan.

Shikamaru dan semua orang yang ada di ruangan tersebut bergerak secepat kilat menuju destinasi yang sudah disesuaikan dengan masing-masing kelompok pasukan.

Dirinya dan empat belas orang lainnya tergabung dalam pasukan A. Pasukan yang dipimpin Sasori tersebut membentuk formasi khusus, membawa senjata-senjata andalan mereka, bergerak menuju gedung paling penting di negeri itu.

Gedung Kazekage.

.

.

.

Pukul 10.50. Pasukan A sudah berada beberapa meter dari gedung utama Kazekage. Beberapa tank baja terlihat siap siaga jika saja penyelamatan melalui udara gagal dilakukan. Shikamaru dan Sasori sedang berada di barisan depan pasukannya. Mata tajam Shikamaru menatap gedung di depannya lekat-lekat. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Kazekage di sana.

"Kita harus masuk," Shikamaru disadarkan oleh suara kapten pasukan yang tidak lain adalah Sasori.

Belum sempat Shikamaru mengiyakan, rentetan suara tembakan mulai terdengar dari dalam gedung tersebut.

"Sial!" geram Sasori.

"Bagaimana mereka bisa masuk?"

.

.

.

Pukul 10.53, Sasori, Shikamaru dan enam orang lainnya sudah berada di dalam gedung utama Kazekage. Sasori membagi pasukan A menjadi dua kelompok. Enam orang bergerak bersamanya ke dalam gedung , sementara sembilan orang lainnya berjaga di sekitar gedung.

Pemandangan mengenaskan terpampang nyata di hadapan mereka. Beberapa pegawai terlihat tergeletak bersimbah darah di lantai. Beberapa lagi terlihat meringis kesakitan dan terduduk tidak berdaya di sudut ruangan, merintih meminta pertolongan.

DOR!

Sebuah tembakan melesat ke arah mereka, yang untungnya meleset dan mengenai lemari kaca.

"Kau pergi ke ruangan Kazekage, biarkan aku mengurus lantai satu," perintah Sasori pada Shikamaru. Shikamaru dan dua orang lain dengan sigap bergerak menuju ruangan Kazekage di lantai dua sambil terus dalam posisi siaga memegang senjata api.

Pukul 10.55, Shikamaru sampai di depan ruangan Kazekage. Di depan ruangan itu tergeletak mayat tiga orang. Dua orang ia pastikan sebagai pegawai pemerintahan, sedangkan satu orang lainnya, tidak salah lagi, adalah tentara Konoha, dilihat dari seragamnya. Shikamaru kenal persis dengan seragam itu.

Ia mendobrak pintu tersebut lalu cepat-cepat menarik badannya ke balik dinding, mencegah agar peluru panas tidak menembus badannya jika saja seseorang bersenjata ada di dalam sana.

Hening ia dapatkan. Tidak ada siapapun di dalam sana. Shikamaru memerintahkan dua orang di belakangnya untuk memeriksa ruangan lalu mendapati mereka berdua kembali dengan laporan bahwa ruangan itu benar-benar kosong.

Shikamaru mulai panik dalam hati. Kemana perginya sang Kazekage, pikirnya.

"Sial!" ia terdengar mengutuk. Ia tahu persis bahwa Kazekage muda itu memang mempunyai keahlian dalam menhadapi musuh secara langsung di medan perang. Ia pernah mendengar cerita bahwa sang Kazekage pernah membunuh belasan orang ketika kudeta digulirkan oleh ayahnya pada pemerintahan Yashamaru.

Shikamaru dan dua orang lainnya kembali dikejutkan oleh rentetan bunyi tembakan dari lorong sebelah kanan. Sontak, mereka langsung bergerak ke arah suara. Itu pasti Kazekage, pikir Shikamaru.

Benar saja. Ketika hendak sampai di sudut lorong, mereka mendapati pemandangan yang tidak terduga. Mereka melihat sosok Kazekage berlari tertatih ke arah mereka sambil memegang lengan kanannya yang sudah penuh dengan darah. Tertembak, sepertinya.

Hampir saja langkah mereka dan Kazekage tidak bertemu di satu titik jika Shikamaru kurang cepat melihat sesosok tentara Konoha yang berdiri di belakang Kazekage sambil mengarahkan mulut pistolnya ke arah lelaki berambut merah tersebut.

"Di belakangmu!" teriak Shikamaru sambil tangannya dengan kasar menarik lengan Kazekage dan menembakkan pistolnya ke arah tentara malang itu. Kazekage muda itu terhempas ke dinding dan meringis kesakitan, bersamaan dengan suara tembakan yang tepat mengenai jantung tentara Konoha yang hampir saja merenggut nyawanya.

Pukul 10.59, Shikamaru melirik jam di tangannya. Ia merutuk di dalam hati dan cepat-cepat menggotong tubuh Kazekage yang terluka sambil dua orang rekannya mengikuti dengan posisi siap siaga di belakang mereka.

Shikamaru mempercepat langkahnya, tidak peduli dengan wajah Kazekage yang merintih kesakitan. Di lantai satu terdengar baku tembak masih berlangsung. Ia sudah mendaratkan kakinya di sana saat ia lihat Sasori melirik ke arahnya, mengisyaratkan agar ia tetap membawa Kazekage keluar dari gedung, meninggalkan dirinya dan dua orang lain yang masih berjibaku melawan beberapa tentara Konoha.

Kini ia dan Kazekage sudah berjarak beberapa meter dari pintu utama. Ia tarik lengan Kazekage yang tidak terkena peluru menuju pintu saat ia dengar suara pesawat tempur mendekati gedung tersebut.

Pukul 11.00.

Dirinya, Kazekage dan dua orang lain dari pasukan A yang ikut bersamanya kini sedang berlindung di balik tank baja Sunagakure yang berada di depan gedung Kazekage saat sebuah ledakan besar menghantam gedung tersebut, membuatnya hancur berkeping-keping.

Meninggalkan pegawai-pegawai pemerintahan, beberapa rekan pasukannya, tentara-tentara Konoha serta Sasori di dalam sana.

.

.

.

Hari beranjak sore. Pasir negeri Suna memantulkan kemilau cahaya emas dari matahari yang mulai beranjak ke ufuk barat. Suara tangisan terdengar dari segala penjuru negeri. Penyerangan yang dilakukan Konoha akhirnya bisa dihentikan sejak sekitar dua jam yang lalu. Meninggalkan darah, mayat manusia, dan puing-puing yang berserakan.

Shikamaru sedang berada di sebuah bilik di rumah sakit tempat Kazekage menjalani perawatan luka tembaknya. Kalau sudah seperti ini, tidak ada lagi perbedaan kasta yang bisa menentukan pelayanan yang didapat oleh seluruh warga Suna. Ia melihat ke selilingnya untuk mendapati ratusan warga Suna yang kira-kira juga bernasib sama dengan sang petinggi negara, bahkan ada yang lebih parah. Tidak ada lagi cerita kamar rawat istimewa untuk Kazekage maupun petinggi lainnya.

"Gaara!" suara seorang wanita menyadarkan Shikamaru dari lamunannya. Ia melihat ke arah tirai dan mendapati kedua kakak sang Kazekage sudah berdiri di sana.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya si sulung.

"Aku baik-baik saja, Temari," Kazekage yang dipanggil Gaara itu meyakinkan. Raut khawatir dari wajah kedua kakaknya perlahan sirna. "Hanya luka tembak di sini," lanjut Gaara sambil menunjuk ke arah lengan kanannya yang kini sudah ditutupi perban.

Saang Kazekage kini beralih pandangannya ke arah Shikamaru, yang juga diikuti oleh kedua kakaknya.

"Aku sangat berterima kasih pada Tuan Shirogane. Dia yang menyelamatkan nyawaku."

Shikamaru sedikit membungkukkan badannya dan berkata, "kewajiban saya, Tuan."

"Terima kasih, Shikamaru," kali ini kakak laki-laki sang Kazekage yang bernama Kankuro yang bersuara. Sedangkan si sulung berambut pirang hanya tersenyum ke arah pria yang dipanggil Shikamaru itu.

"Sudah ada laporan mengenai perkiraan jumlah korban, Shirogane?" tanya Kazekage.

"Diperkirakan ada sekitar tiga ratusan rakyat sipil yang sudah dievakuasi ke sini, Tuan. Lebih dari setengahnya tewas," balas Shikamaru dengan nada getir.

Kazekage menunduk mendengar penjelasan itu. Lagi-lagi ia harus kehilangan warga negerinya. Kankuro dan Temari ikut memasang raut penyesalan.

"Bagaimana dengan rekanmu di pasukan, Tuan Shirogane?" kali ini wanita berambut pirang bertanya, "ada yang terluka?"

Shikamaru tidak langsung menjawabnya melainkan terdiam agak beberapa detik.

"Tiga orang tewas, Nyonya," Shikamaru menjawab dengan raut penyeselan yang beberapa waktu lalu terpampang di wajah tiga bersaudara. "Tiga orang...termasuk Kapten Sasori."

Temari dan Kankuro membulatkan matanya. Sementara Gaara tetap tertunduk ketika bayangan wajah Sasori di detik-detik terakhir hidupnya dalam gedung Kazekage tadi melintas di benaknya.

Ruangan itu mendadak hening.

"Kami turut menyesal," suara Kankuro memecah keheningan. Shikamaru hanya mengangguk.

Hening kembali.

Temari menolehkan kepalanya ke arah luar, melihat sekeliling. Suara tangisan, pekik kesakitan, suara anak-anak kecil tak berdosa yang memanggil-manggil ayah dan ibunya membuat hati Temari teriris-iris.

"Sampai kapan...?" Temari mengeluarkan suara lirih sambil terus melihat sekelilingnya. "Sampai kapan seperti ini?"

Kedua adiknya ikut menoleh ke arah pandangannya sekarang. Hanya Shikamaru yang malah menatap punggungya. Temari kembali memutar badannya secara tiba-tiba, membuat pandangan mereka beradu. Ditatapnya lurus mata pria berambut hitam tersebut. Dan entah apa yang mendorong Shikamaru untuk tetap berani melanjutkan adu tatap tersebut.

"Bagaimana sekarang, Tuan Shirogane?" Temari berujar dengan nada penuh pengharapan, iris hijau miliknya masih menjelajahi iris cokelat itu.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

AN: Halo, semua. Chapter II is up!

Sebelumnya saya mau menjelaskan kenapa mereka-mereka ini keep calling each other with their family name, karna sebenernya genre ketiga dari cerita ini mungkin, Western. Jadi dalam pikiran saya, cerita ini settingannya ya kayak jaman2 perang dunia. Bisa di bilang ini period story. Bagi yang tahu film Atonement, The English Patient atau Allied, nah kira2 seperti itu deh latarnya. Dan saya sebisanya bikin karakter gak OOC, dan itu susah sekali. Jadi maafkan saya kalau teman-teman semua nanti ngerasa ada seiprit (atau banyak) ke-OOC-an dari karakter2 di sini. Namanya juga AU, hehe.

Terimakasih yang udah baca! Oh iya saya akan senang sekali kalo ditinggalin review, karena saya selalu anggap itu sebagai feedback bagi tulisan saya.

Your review is the highest form of love :)

- DesertLily7