Anomali
A Vocaloid fanfiction by DarkAoRin
Character focused in Taito and Gakupo, the rest are OCs.
This fiction contains boyxboy relationship (Yaoi).
Read at your own risk.
Vocaloid ©Crypton ©Yamaha
I hope you enjoy!
Dua: Kelas Kakap
"Aku berangkat…"
Langkahku gontai meninggalkan rumah. Papa sudah berangkat sejak pagi. Beliau bekerja sebagai pegawai swasta biasa, tentunya hanya sebagai kedok. Atau, mungkin saja sebagai pekerjaan tetap apabila sudah bosan menjadi pembunuh bayaran, hehehe. Mama, ibu rumah tangga. Dan aku, pelajar SMA yang sedang menjalani masa liburan musim dingin.
Aku merapatkan mantel. Di hari-hari biasa seperti ini, aku tentu saja berpakaian sepantasnya. Kubiarkan mata kiri ungu gelapku memandang dunia dengan leluasa sementara eyepatch menutupi mata kananku, serta wajah enam belas tahunku yang polos tanpa masker.
"Irasshaimase, Taito-kun!"
Aku tersenyum bersahabat pada wanita muda penjaga toko di blok kami ini. Namanya Onizuka Ringo. Dia sudah hafal kebiasaan keluarga kami yang selalu belanja bulanan di tokonya. Mama juga dekat dengan Ringo. Sebetulnya kami bisa berbelanja online, sih. Tapi, toko Ringo 'kan dekat!
"Ohayou, Ringo-san," aku menyapa dengan semangat. "Biasa."
Ringo terkekeh. "Silakan, silakan."
Di abad ini, kita hanya tinggal mencari barang di katalog secara sistematis, dan sebuah robot drone akan mengantarnya untuk kita. Tapi, antri tetap saja antri. Hari ini rupanya antrian cukup padat. Anak-anak berlarian kesana kemari. Barusan malah ada yang sempat menubrukku hingga aku sedikit oleng. Sepertinya orang-orang juga tidak akan mau kehabisan persediaan makanan kalau-kalau terjadi badai salju entah kapan.
Di tengah hujan salju yang memang deras – benar kata Papa semalam, aku melahap kue krim cokelatku sesaat setelah keluar toko. Nyam! Ini enak banget. Jarang-jarang aku menikmati hidup seperti ini. Kalau nggak bekerja lalu pulang dengan tangan berlumur darah, ya, disibukkan tugas sekolah.
"Anoo! Kau yang di sana,"
Dipanggil, lantas aku menoleh. Sesaat kemudian, aku tersedak.
Kalian tahu kenapa?
Seseorang yang memanggilku, ternyata buruanku yang semalam. Ya, Kamui si Rambut Ungu Mata Biru Yang-Aku-Lupa-Nama-Lengkapnya.
"…ya?" aku bersikap biasa. Mudah buatku untuk bersikap wajar, tapi tetap saja aku kaget.
"Ini, dompetmu terjatuh. Sepertinya akibat keributan kecil di toko tadi, ya?"
"Wah, terima kasih banyak," aku membungkuk sopan seraya menerima dompetku. "Iya, hehehe… untung Anda yang menemukan."
Kamui tersenyum.
Aku benci mengakuinya, tapi dia tampak sangat ganteng. Lebih-lebih dari aku. Sialan. Kalau aku sudah sedikit lebih dewasa dan tinggiku bertambah, kuyakin aku akan menjadi pembunuh bayaran paling cakep sedunia.
DUAR! Payung yang kupegang refleks tersentak bersamaan dengan suara petir.
"Akan lebih deras, nih." Kamui menggosokkan kedua tangannya yang tak bersarung. "Sebaiknya aku cari tempat berteduh. Kau juga. Ayo!"
Aku melongo. Kok, orang ini baik sekali, sih.
"Kalau diam begitu, tak lama lagi kau akan pingsan kedinginan di sana," Kamui yang tadinya sudah berbalik badan, mengajakku lagi. "Aku bukan orang jahat, kok."
Dua menit kemudian, aku nggak tahu apa yang ada di otakku hingga aku masuk perangkap buruanku sendiri. Kamui mengajakku berteduh di depan toko yang sedang tutup, dan duduk di bangku panjangnya. Hufh… entahlah, mungkin karena aku sedang tidak bekerja dan Kamui sendiri ternyata orang baik..?
"Satu-satunya alasan kenapa aku mengajakmu kemari adalah agar kau berhati-hati," Kamui menyeruput kopi panas yang dibelinya dari toko Ringo. "Aku sudah jadi korban kemarin malam. Dilihat-lihat, bagaimanapun, kau masih sekolah, 'kan? Jangan berjalan sendirian di tengah hujan salju dan sepi begini."
Oke. Taito, pasang 'Mode Kehidupan Normal'-mu.
"Iya," jawabku pendek. "Oh, ya? Memangnya Anda kenapa kemarin malam?"
Kamui menghela nafas.
"Aku hampir dibunuh. Si pelaku sepertinya baru saja menghabisi seseorang. Aku nggak bisa menahan untuk memotretnya karena kebetulan aku bawa kamera, baru saja pulang kuliah. Dia menyadarinya, mengejarku, lalu mematahkan kartu memori kameraku yang untungnya hanya berisi tugas kuliah. Dompetku juga dirampas, tapi kartu identitasku berhasil kuselamatkan. Aku masih cukup kuat untuk melawan, jadi kutonjok dia sampai rubuh. Yah, aku beruntung masih hidup. Aku jadi malas lapor polisi. Hehe. Nyawa 'kan, cuma satu. Uang bisa dicari."
Aku memasang gelagat ketakutan. "O-orangnya seperti apa?"
"Lebih pendek dan sepertinya lebih muda juga dariku, memakai jaket abu-abu lengkap dengan tudung, goggles, dan masker. Suaranya agak aneh." Kamui menatapku prihatin. "Nah, makanya, kau harus berhati-hati. Aku, sih, sudah dua puluh tiga tahun, jadi sudah lebih bisa menjaga diri. Hehe!"
Sengaja kutundukkan pandangan.
"Wah, maaf, maaf. Oke, kita ngobrol yang ringan-ringan saja, deh. Namamu siapa, kalau aku boleh tahu?"
"…Kawada. Kawada Taito." aku mengadahkan wajahku kembali. "Iya, aku masih SMA. Di Vocalo Gakuen. Anda sendiri?"
"Kamui Gakupo."
Nah! Iya! Gakupo! Tapi, aku sudah nggak berminat membunuhnya, ah.
"Aku baru melanjutkan kuliah, strata dua di Vocalo Daigaku. Jurusan seni." ujarnya lagi tanpa diminta. "Aku baru saja menyewa rumah di blok ini, tuh, di sana."
"Wah, kalau begitu kita bertetangga, Kamui-san," aku berusaha sehangat mungkin. "Rumahku juga di daerah sana, cuma berjarak beberapa rumah."
"Ah, souka. Kalau begitu, kita sepertinya akan lebih sering bertemu. Panggil saja Gakupo." dia tertawa lagi. "Yoroshiku, Taito-kun!"
"Yo-" aku tergagap entah kenapa. "Yoroshiku, Gakupo-san."
Sudah agak siang ketika salju mereda dan aku berpisah dari orang itu, mulai tadi kupanggil Gakupo. Dia langsung menuju ke kampusnya, sementara aku pulang ke rumah. Bukan lagi buruanku, sih. Habis, dia ternyata baik. Lagipula bukti yang menunjukkan keberadaanku sudah kumusnahkan. Jadi, ya sudahlah.
Jarak dari toko swalayan Ringo dan blok rumahku sekitar enam ratus meter, delapan menit jalan kaki. Suasana pasca hujan salju deras barusan kosong sekali. Namun aku senang, cuaca dingin yang tenang seperti ini membuatku merasa damai.
"Yo, sendirian?"
Suara lagi-lagi terdengar di belakangku. Seperti suara Daigo, teman sekelasku.
Aku menoleh. "Yah, begitulah."
Bukan.
Bukan Daigo. Ada tiga orang, pemuda yang kelihatannya berandalan. Aku mencengkeram payungku kuat-kuat, ini akan jadi sesuatu yang nggak beres. Mereka pasti mau merampok di jalanan sepi begini!
"Dompet. Kemarikan."
Tuh, 'kan. Mereka menggiringku ke salah satu gang buntu. Kalau saja aku lepas kendali, aku bisa dengan mudah membunuh mereka satu persatu. Aku selalu membawa pisau lipat dibalik kaus kakiku. Tapi, tidak. Aku lebih baik jadi korban di sini.
Aku menyerahkan dompetku, tak peduli. Toh, aku masih punya lebih banyak simpanan uang di rumah.
"Cih, tenang amat." salah satu dari mereka, mengompori. "Kau ini anak orang kaya, ya? Bisa-bisanya nggak panik."
Bodohnya, aku mengendikkan bahu. Kesannya seperti menantang.
Salah satu dari mereka memeriksa isi dompetku, sambil menelitiku dari atas ke bawah. Ia menyeringai, membisiki kedua anteknya.
"Kau ini cewek atau cowok, sih, hm? Kok, polos banget."
Sial, kalau untuk hal seperti ini aku baru takut. Aku tahu sesuatu akan berjalan sangat salah setelah ini.
"Gimana kalau cuma kuambil beberapa yen dari sini, tapi kau harus rela kedinginan." dia tertawa. Aku menelan ludah, jaraknya sudah sangat mepet dengan tubuhku. "Ah, ya, nggak bakal dingin, kok. Kami akan menghangatkanmu."
Ini menjijikkan. Aku hanya bisa memalingkan wajah, hampir menangis ketika tangannya sudah terlanjur meraba celanaku. Bagaimana lagi habisnya?! Kalau aku kabur, kuyakin nggak akan berhasil dan jadinya akan tambah parah. Satu lawan tiga. Tapi, aku nggak mau dilecehkan begini!
Siapapun, kumohon! Lewatlah!
"Hee, jadi ini yang kalian lakukan pasca hujan salju, ya."
Suara wanita yang amat kukenal membuatku bersyukur setengah mati.
"Aku sudah merekam semua kegiatan kalian, lho. Aku tahu siapa kalian. Kalian anak kelas tiga SMA, 'kan? Aku bisa dengan mudah melaporkan ini semua, lho."
Dan, para berandalan ini langsung lari pontang-panting. Ya ampun, sama ibu-ibu saja takut! Dasar!
Aku masih takut, terhuyung-huyung berjalan ke arah wanita tadi. Mama.
"Kenapa kau begitu lama?" Mama mengomel khawatir, tapi tangannya mengelus rambutku. "Kalau saja GPS-mu nggak menyala, Mama nggak tahu-"
"Maaf, Ma. Aku- tadi berteduh di sana… lalu…"
"Ya, ya, oke. Ayo pulang, kau harus istirahat."
Mama lalu kembali mengirim pesan ke seseorang. Aku melirik,
Papa.
Aku masih dalam syok hingga pukul enam sore.
Maksudku, coba kalian bayangkan. Hampir diperkosa beramai-ramai, itu… uh. Aku nggak sanggup membayangkan bila Mama hanya diam di rumah.
"Daijoubu. Mama sudah mendapatkan identitas ketiga orang itu." kata Papa sambil menepuk selimut yang kugunakan untuk membungkus diri di sofa sejak tadi siang. "Yang ingin berbuat macam-macam dengan anakku, harus mati."
"Ya, Taito, semuanya tinggal urusan Papamu sekarang."
Dan, ya, sesaat kemudian Papa pergi begitu saja dalam guyuran salju yang lagi-lagi deras. Aku menyusupkan kepalaku ke lipatan sofa.
Setengah jam. Pintu rumah dibuka, membawa hawa yang luar biasa dingin dengan seorang pria bersamanya.
"Beres. Sekarang tinggal tugas polisi menemukan kita."
Aku menggigit bibir, memandang tubuh Papa yang menjauh ke lantai atas sesaat setelah memberi kecupan kilat pada Mama yang sedang memasak.
Bagi Papa dan Mama, membunuh adalah hal biasa. Harusnya itu juga berlaku padaku, tapi sepertinya belum. Aku masih lemah. Mereka bisa merencanakan suatu pembunuhan dengan sangat rapi dan terencana, sekaligus cepat. Tidak sepertiku yang masih bisa ketahuan, seperti kemarin malam.
Mereka hebat.
"Makan malam siap. Ayo makan, dan jangan dipikirkan lagi," Mama membuka paksa selimutku.
"Mereka bertiga sudah musnah, Taito. Entah apa yang Papa lakukan pada mereka, tapi mereka sudah nggak ada. Mereka mati. Sekarang, ayo, makan!"
a/n:
Entah ya, Rin geli banget waktu proof-read bagian dialog terakhir.
"Anjir, nyantai bet dah ngomongnya!" *ngomong dalem hati* padahal kan Rin sendiri yang bikin. XD
Yak, selamat datang di dunia penjahat kelas kakap.
As always, thanks for the RnR, minna!
==Rin==
