Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Trouble maker 2
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Trouble maker2 by author03
Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.
Romance\Drama
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 2
.
.
.
.
18.40
Naruto dan Hinata yang terlihat tengah bergandeng tangan dan berjalan sambil melihat ke kanan dan ke kiri. rumah-rumah yang berjejer rapi, ada toko roti, cafe, salon dan lainnya. Tempat itu pun di penuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang.
"Ne, Naruto?" Panggil Hinata setelah ia membalikkan badannya dan menghalang jalan Naruto. Naruto yang masih melangkah maju sedangkan Hinata yang melangkah mundur.
"Ada apa Hinata?" tanya Naruto pelan.
"Kau tahu? Selama dua hari ini aku merasa ada yang sedang memperhatikanku." ucap Hinata aneh.
"Maksudmu dua murid baru itu?" tanya Naruto menebak dan Hinata hanya menganggukkan kepala nya.
"Merek~."
"Kyahh.!" Hinata yang tak sengaja menabrak seorang wanita dibelakangnya.
Hinata yang membalikkan badannya, menghadap ke wanita yang tak sengaja ia tabrak.
"Maafkan aku. Aku tak sengaja." ucap Hinata lembut.
"Hei! Apakah kau tidak memiliki mata! Kau menjatuhkan tas ku! Apakah kau tahu berapa harga tas itu?!" marah wanita itu sambil menunjuk tasnya yang masih tergeletak di tanah.
Hinata yang memungut tas itu dan menyodorkannya ke wanita itu. "aku sudah minta maaf dan saat ini aku sedang tidak ingin ribut denganmu. Ambil barang rongsokan mu dan enyahlah." ucap Hinata mulai kesal.
"Hei! Barang rongsokan kau bilang? Aku beli tas ini di Hyuuga fashion! Ah! Orang miskin seperti kau tidak akan tahu jika hanya orang kaya yang bisa memasuki toko brend itu." Ucap wanita itu merendahkan yang membuat Hinata tersenyum lucu.
Hinata yang langsung melangkah pergi, masih dengan membawa tas wanita itu yang terus dipuja-puja yang langsung di ekori oleh Naruto.
"Hei! Kembalikan tasku!" marah wanita itu yang langsung mengejar Hinata.
Tapi mengapa Hinata malah masuk ke kantor polisi?
.
"Hei! Gadis sialan! Kembalikan tasku! Kau tahu berapa mahalnya tas itu?!" marah wanita itu ketika ia menghentikan langkahnya, dengan jarak yang bisa dibilang dekat dengan Hinata.
Tap.. Hinata yang meletakkan kuat tas ditangannya ke atas meja pak polisi yang masih terduduk di kursi beroda dihadapan Hinata yang dipisahkan oleh meja tadi.
"Aku ingin melapor. Wanita ini mengatakan ia membeli tas palsu ini di tokoku. Aku merasa terfitnah." ucap Hinata sambil menunjuk wanita di belakangnya.
"Hei! Punya bukti apa kau jika itu palsu! Aku membelinya di Hyuuga fashion!" jawab wanita itu tak mengaku.
"Tas rongsokan ini kau bilang asli? Hanya sekali lihat saja aku tahu tas ini palsu! Aku tak mau tahu! Pak polisi kau boleh menggeledah tokoku jika kau menemukan tas palsu meskipun cuma satu aku akan langsung menutup toko itu." ucap Hinata yang berhasil membungkam wanita itu.
...
"Akkh.. Akhh.. Maa-maafkan aku. Aku sungguh tak bermaksud begitu. Aa-ak~."
"Urusan aku sangat banyak, jadi tolong urus wanita ini. Kau boleh datang ke toko ku jika ada perlu denganku." ucap Hinata pada polisi yang masih terduduk dihadapannya.
"Sudah ku peringatkan." bisik Hinata pada wanita itu yang kemudian melangkah keluar di ekori oleh Naruto.
Wanita itu yang masih membeku. Mengapa hal ini bisa terjadi?
.
.
.
.
"Hinata?" panggil Naruto yang membuat Hinata menghentikan langkah kakinya.
"Kurasa saat ini kau sangat lega?" ucap Naruto menebak yang membuat Hinata tersenyum malu.
"Naruto, aku kesal. Wanita itu menuduh tokoku menjual tas palsu." jawab Hinata cemberut.
Naruto yang tiba-tiba tersenyum singkat dan langsung menempelkan dahinya ke dahi Hinata. "Naruto, sini sangat ramai. Aku tak ingin masuk berita lagi, mengatakan kita bermesraan di depan umum." ucap Hinata basa-basi. Yah. Mereka sudah lebih dari sering masuk ke berita dengan judul bermesraan di depan umum. Uhuk uhuk.
"Kita sudah sering masuk ke berita, satu kali lagi tidak akan jadi masalah." jawab Naruto yang membuat Hinaya tersenyum lucu.
Naruto yang langsung menempelkan bibirnya ke bibir Hinata yang kemudian melumat bibir mungil itu.
.
.
.
.
.
Di ruangan kantor Hiashi di Corp Hyuuga.
Tap.. Hiashi yang meletakkan ponselnya ke meja di depannya.
"Hinata, berikan penjelasan mu." ucap Hiashi pada Hinata yang terduduk di hadapannya yang dipisahkan oleh sebuah meja.
"Ayah, wanita itu memfitnah toko ku jadi aku tidak bisa diam saja." jawab Hinata jujur.
"Apakah kau tahu apa yang mereka tulis tentang hal itu?" tanya Hiashi yang dibalas gelengan kepala oleh Hinata.
"Hinata, mereka tidak akan perduli pada fakta, yang mereka perdulikan hanyalah apa yang mereka lihat."
"Aku mengerti ayah, aku akan mengurus semuanya secepat mungkin." jika kalian ingin tahu, Hinata selalu menyelesaikan masalahnya secepat kilat. Hal yang biasa ia lakukan adalah memberi klarifikasi di media sosial dan mengancam orang-orangan yang telah menyebarkan berita palsu dan hal itu selalu berhasil. Haha.
...
"Ayah? Apakah kau tidak ingin membicarakan aku dan Naruto yang bermesraan didepan umum?" tanya Hinata berusaha mencairkan suasana itu.
"Aku sudah lebih dari sering membaca berita itu." jawab Hiashi yang tak tahu lagi ingin berkomentar apa yang membuat Hinata tersenyum lebar.
"Kalau begitu masalahnya sudah selesai. Aku akan pulang." ucap Hinata beranjak dari tempatnya.
"Besok malam jam 7, di hotel xx akan di adakan pertemuan antar penerus perusahaan. Jadi kau harus datang. Harus datang." ucap Hiashi memperjelas.
"Iya ayah. Aku akan datang." jawab Hinata yang kemudian langsung melangkah keluar.
.
.
.
.
Matahari yang kembali meninggi, jam telah menunjuk pukul 07.41
Terlihat Naruto, Hinata dan Toneri yang tengah terduduk disalah satu bangku panjang di kantin.
"Naruto? Toneri? Apakah malam ini kalian akan pergi ke acara yang di adakan para pemimpin perusahaan?" tanya Hinata.
"Hm."
"Itu sungguh membosankan. Mengapa kita harus pergi ke acara seperti itu?" ucap Toneri malas.
"Ayahku mengatakan jika suatu saat nanti kita akan mengwarisi perusahan mereka, kita harus bisa berbaur dengan orang-orang disana. itulah sebabnya acara ini penting." ucap Hinata yang sebenarnya juga malas dengan acara ini.
"Kalian berdua akan menjadi pasanganku malam ini. Jadi jemput aku dirumahku dan tidak ada yang boleh berkomentar." ucap Hinata yang dibalas anggukan pasrah oleh kedua lelaki di dekatnya.
.
.
.
.
.
18.40
Hinata yang baru saja keluar dari dalam rumahnya dengan gaun polos selutut berwarna hitam dan pasbody, berlengan pendek dan sangat berkilau, terlihat simple tapi sangat mewah. Gaun pasbody itu yang menampakkan lengkuk tubuhnya yang indah itu. Kakinya yang di balut oleh high heel berwarna hitam setinggi 10cm.
Wajahnya yang hanya sedikit terdandan, terlihat sangat natural serta mempercantik dirinya. Rambutnya yang tetap dibiarkan terurai, tidak lupa dengan tangan kanannya yang membawa sebuah dompet kecil yang juga berwarna hitam. Lehernya yang dihiasi kalung polos dengan mainannya berlian ukuran sedang.
Naruto dan Toneri yang baru saja tiba. Badan mereka yang dilapisi kemeja putih yang dilapisi oleh jas berwarna hitam, celana panjang yang juga berwarna hitam dan juga sepatu dengan harga selangit yang membungkus kaki mereka.
.
.
.
Ketiga manusia itu yang baru saja tiba di luar gedung dimana acara akan dilangsungkan.
Hinata yang langsung melangkah masuk dengan Naruto dan Toneri di kiri dan kanannya.
.
Acara ini berlangsung di lantai dua, disebuah ruangan super duper luas, lantainya yang dilapisi karpet merah. Meja-meja yang dilapisi kain putih dengan banyak makanan kue-kue dan minuman berwarna-warni . Semua perempuan yang mengenakan pakaian super mewah dan mahal keadaan tak jauh dengan para lelaki.
"Kalian bertiga sudah datang. Hiashi-sama memerintahkan ku untuk memperkenalkan mereka semua pada kalian." ucap seorang lelaki dengan pakaian lengkap dengan jas yang bernama Ebisu.
.
.
.
Satu jam hampir berlalu dan acara perkenalan ini masih belum selesai.
Naruto, Hinata dan Toneri yang kembali menghentikan langkah kakinya ketika Ebisu menghetikan langkah kakinya.
"Gaara-san, Sasuke-san. Shion-san" panggil Ebisu yang membuat orang yang merasa dipanggil membalikkan badan mereka.
"Ah, lihat siapa disini." ucap Gaara dengan senyumnya sambil menatap Naruto dengan wajah datarnya.
"Ebisu-san, bisakah kau tinggalkan kami sebentar." pinta Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari Gaara.
"Baiklah." jawab Ebisu yang kemudian melangkah pergi.
"Sasuke apakah kau masih ingat kapan terakhir kali aku bertemu dengannya?" tanya Gaara dengan senyumnya pada Sasuke dengan wajah datarnya
"Entahlah, saat ini dia terlalu sibuk dengan pacarnya." jawab Sasuke sambil menatap Hinata yang masih setia berdiri di samping Naruto dan Toneri.
"Naruto, sapa lah temanmu ini." pinta Hinata dengan senyumnya.
"Tak apa Hinata, dia memang pendiam." jawab Gaara.
"Gaara. Kau mengenalku?" tanya Hinata penasaran. Ia memang pernah melihat Gaara tapi bagaimana Gaara bisa mengenalnya?
"Bagaimana aku bisa tak mengenalimu. Kau selalu membuat masalah disekolahku." jawab Gaara dengan senyumnya.
"Ah! Maksudmu aku selalu membanting kalian?" ucap Hinata merendahkan. Hinata memang sering mencari masalah dengan orang lain, tapi ia sama sekali tak mengenal mereka, ia hanya sekedar penah mendengar nama dan melihat wajah mereka.
"Aku jadi teringat suatu kejadian pertama kali kau bertemu Naruto." ucap Sasuke yang tiba-tiba tersenyum lucu dan mengejek.
"Apa maksudmu? Kejadian? Pertama kali aku bertemu Naruto adalah waktu ia masuk ke sekolahku." jawab Hinata aneh.
"Tidak tidak. Kau pasti sudah lupa. Pertama kali kalian berjumpa di sekolahku. Di kelasku. Apakah kau lupa? Setelah kejadian itu kau tak pernah lagi mengacau di sekolahku." Ucap Sasuke yang membuat Hinata berpikir keras.
.
.
.
.
Flashback..
Bamm.. Pintu mobil Hinata yang ditutup dengan kasar. Ia yang langsung berlari masuk ke gedung yang dikenal dengan Sma suna itu. Saat ini gedung ini telah kosong, tapi ia yakin orang yang dicarinya masih berada disini.
"Aku akan menghajar mereka karena berani melaporkan ku pada ayahku!" marah Hinata yang semakin mempercepat langkahnya. Sejujurnya ia hanya menebak jika merekalah pelakunya tanpa bukti apapun.
.
.
Ia yang membuka kasar setiap pintu kelas yang ia lewati hingga akhirnya ia menemukan kelas dengan orang-orang yang benar-benar di cari nya.
Tiga orang lelaki dan satu perempuan yang terduduk di meja masing-masing yang langsung menatap ke arah pintu ketika pintu itu di buka dengan kasar dari luar.
"Pasti kalian yang melaporkanku pada ayahku!" marah Hinata yang masih berdiri diambang pintu.
"Kau tidak boleh asal menuduh kami, Hinata." ucap seorang lelaki yang bernama Sasuke.
"Jika bukan kalian siapa lagi!" jawab Hinata tak percaya.
"Hei! Kau mencari masalah di setiap sekolah dan kau menuduh kami? Apakah otakmu itu masih berfungsi?" Sela gadis bernama Shion.
"Hei! Jaga ucapanmu!" marah Hinata yang langsung melangkah menghampiri Shion tapi belum dua langkah dia melangkah satu pergelangan tangan nya telah tertahan oleh seorang lelaki berambut kuning dari belakang.
"Sialan! Lepaskan brengsek!" marah Hinata yang langsung menepis kuat tangan yang masih mengengam pergelangan tangannya. Bukannya terlepas. Lelaki itu masih mendorong badan Hinata ke belakang hingga hinata bersandar di dinding dengan kedua tangan lelaki itu yang telah mengurungnya.
Kedua mata itu yang langsung bertemu. Jantung Hinata yang langsung berdetak kencang. Lelaki ini menatapnya dengan tatapan yang sangat mengerikan.
.
"Berjanjilah bahwa kau tak akan pernah mencari masalah lagi disini atau kau tak akan bisa keluar hidup-hidup dari sini." ucap lelaki itu datar tapi terdengar sangat mengerikan, sangat sangat mengerikan.
... Tak ada jawaban dari pertanyaan tadi.
"Naruto, kau terlalu berlebihan, lihatlah dia bahkan tak berani berbicara." suara seorang dari belakang seolah mengejek.
Selama Hinata hidup, ia berani bersumpah jika tatapan lelaki ini adalah tatapan yang paling menakutkan yang pernah ia lihat. Bahkan lebih menakutkan dari film-film horror yang ia tonton.
Hinata yang menundukkan kepalanya, menghindari tatapan mengerikan itu.
Naruto yang akhirnya memundurkan dirinya selangkah dan memasukkan Kedua tangannya ke saku celananya dengan kedua mata birunya yang masih fokus menatap Hinata.
...
Pukk.. Bukk.. Sebuah tinju yang mendarat mulus di wajah lelaki yang di panggil Naruto ini dan diikuti oleh tendangan sikut diperutnya yang membuatnya terjatuh, berlutut kelantai.
"Itu karena kau telah berani mengancamku brengsek!" marah Hinata yang kembali memberikan pukulan sikut ke bawah tengkuk lelaki itu.
Hinata yang langsung berlari keluar, menjauh dari gedung itu, ketika beberapa manusia didalam ruangan itu berlari menghampiri Naruto yang terpukul karena lengah sesaat.
.
.
Flashback end..
.
.
.
Hinata yang menutup mulutnya yang sudah berbentuk O dengan kedua telapak tangannya. Itu adalah Naruto? Bagaimana ia bisa melupakan kejadian itu?! Kejadian itu!
Kedua mata Hinata yang menatap sesaat Naruto dan menatap Sasuke, Gaara dan Shion yang kemudian kembali menatap Naruto disebelahnya.
"Kau masih ingat pada kejadian itu?" tanya nya pada Naruto.
"Tidak Hinata. Aku tak ingat. Apa yang kau bicarakan? Kejadian apa?" elak Naruto dengan wajah datarnya.
"Katakan padaku jika kalian juga tak ingat." pinta Hinata pada Gaara, Shion dan Sasuke dengan matanya yang sudah hampir mengeluarkan air mata. Ini memalukan. Ini sungguh memalukan.
Tak ada yang menjawab.
"Naruto... Apakah mereka masih mengingatnya?" tanya Hinata lembut dengan air matanya yang sudah hampir keluar.
"Kalian! Kalian tak ingat bukan?." tanya Naruto pada tiga manusia di hadapannya dengan nada mengancam.
"Tentu saja kami tak ingat! Haha." jawab Gaara yang kemudian tertawa kaku. Berbohong lebih baik dari pada membuat Naruto marah kerena pacarannya menangis. Haha.
"Iya, aku tak ingat jelas kejadian itu, hahaha." jawab Sasuke.
"Kalau begitu aku akan pergi memakan beberapa cemilan disana." Ucap Hinata dengan senyum bahagia dan leganya yang kemudian melangkah pergi.
"Aku juga akan pergi." pamit Toneri yang langsung melangkah pergi.
"Mengapa kalian tak pindah ke sekolah ku?" tanya Naruto pada Gaara dan Sasuke.
"Apakah kau berniat membuat kami dibully pacarmu itu?" Sasuke malah bertanya balik dengan tatapan sinis.
"Asal kau tahu saja, kalia berdua menjadi trending topik di sekolah kami." ucap Gaara tersenyum geli.
"Dia sangat lucu, dia tidaklah sejahat yang kalian kira." Ucap Naruto apabadanya.
"Oh! Maksudmu menghajar murid lain, mengikat mereka di tiang bendera, mengoyak pr mereka dan mengerjai mereka. Itu adalah orang baik menurutmu?" ejek Sasuke.
"Tidak, dia memang tidak seburuk yang kalian kira. Ia bahkan menjadi adik kesayangan di sekolah. Kalian tahu itu bukan?"
"Semalam aku membaca berita bahwa ia memenjarakan seorang wanita. Apa itu benar?" tanya Gaara memastikan.
"Ada sebabnya ia melakukan hal itu." jawab Naruto singkat.
"Naruto, aku tak mengerti denganmu. Mengapa kau bisa bertahan dengan gadis pembuat masalah itu?" tanya Gaara tak mengerti. Jujur memang selalu ada masalah jika ada Hinata, tapi semua masalah itu selalu dengan alasan dan terkadang hanya untuk kesenangan.
"Kau ingin tahu? Pindahlah ke sekolahku maka kau akan melihatnya." jawab Naruto yang malas banyak bicara.
"Naruto?" panggil Shion pelan. Ia yang sedari tadi terabaikan.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Shion lagi ketika Naruto tak menghiraukannya.
"Jika bukan kerena Hinata, Aku sudah menguburmu." jawab Naruto menatap tajam mata Shion.
"Aku pergi dulu, sampai jumpa lagi." pamit Naruto yang kemudian melangkah pergi.
.
.
.
.
.
Hinata yang terus melangkah menelusuri meja putih panjang itu dengan banyak makanan di atasnya. Ia yang mengambil satu kepingan kue coklat di piring paling ujung dan melahapnya. Hmm. Rasanya enak.
Hinata yang kembali melangkah satu langkah dan melakukan hal yang sama.
"Apakah itu yang akan menjadi pewaris Hyuga corp?"
"Lihatlah pakaiannya sama sekali tak pantas."
"Apakah kau tahu jika ia selalu bermesraan dengan pacarnya didepan umum?"
"Itu benar, tadi aku melihatnya datang bersama dua lelaki. Apakah dia tak malu? Sudah punya pacar tapi masih berdekatan dengan lelaki lain?"
"Kudengar juga ia selalu membuat masalah di sekolahnya."
"Sungguh?"
"Benar-benar memalukan."
"Jika saja dia adalah anakku, aku pasti akan merasa sangat malu." bisik-bisik sekumpulan perempuan berumuran 20an yang awalnya berhasil Hinata hiraukan tapi pada akhirnya kuping Hinata tetaplah memanas.
Perempuan-perempuan sialan ini perlu di beri pelajaran.
"Hei diamlah, dia datang." Hinata yang berhenti melangkah ketika ia berdiri dihadapan ke enam perempuan berumur 20an yang berhasil memancing emosinya. Tangan kanannya yang masih mengengam gelas kaca yang berisi air berwarna orange. Jika saja saat ini tak ada orang. Gelas ini telah berakhir dikepala mereka.
"Katakan sekali lagi." pinta Hinata dan tak ada yang menjawab.
"Jangan jadi pecundang. Katakan lah." pinta Hinata lagi dan masih tak ada yang berbicara.
"Kau kira siapa dirimu. Berani menilaiku. Apa kah kalian mengira kalian lebih baik dariku? Gaun itu." Hinata memberi jeda sambil menatap atas ke bawah dan bawah keatas penampilan perempuan-perempuan di hadapanya.
"Semua gaun itu bahkan masih tak cukup untuk membeli gaun atau kalungku ini. Kau mengira kalian tahu tentang cara berpakaian? Cara kalian berpakaian bahkan lebih buruk dari anak buahku! Dan kalian kira kalian lebih cantik dariku? Apakah perlu aku membelikan cermin untuk kalian?"
Masih tak ada yang menjawab.
"Jika saja saat ini tak ada orang kalian sudah kuhabisi satu-satu."
"Hinata, mari kita pergi mencari ayahmu." suara Naruto yang kini berdiri disebelah Hinata.
Hinata yang langsung membuang gelas berisi air orange ditangannya tadi ke lantai yang dilapisi karpet merah itu dengan jarak 1cm dari kaki-kaki yang terlapisi higheel perempuan-perempuan sialan ini.
Hinata yang langsung menarik kalung yang masih melingkar di lehernya yang kemudian melemparkannya kelantai didekat kaki-kaki wanita itu. "Berlutut dan ambillah, jalang." ucap Hinata tak perduli yang kemudian melangkah pergi dengan Naruto tak lupa dengan satu tangannya yang mengandeng tangan Naruto.
Para perempuan itu yang masih membeku. Jelas sekali bahwa mereka baru mencari perkara dengan orang yang salah. orang-orang disekitar mereka yang masih mengamati mereka, tak lupa dengan sepasang mata dari seorang gadis berambut merah yang masih setia mengamati. "Dia masih tak berubah."
.
.
.
.
Hinata dan Naruto yang baru saja memasuki salah satu kamar hotel Vip.
"Ayah." panggil Hinata pada ayahnya yang terlihat terduduk disofa di pojokan ruangan.
"Kau membuat masalah lagi." ucap Hiashi yang sebenarnya malas mau membahasnya.
"Mulut mereka memang perlu diberi pelajaran ayah." jawab Hinata apa-adanya.
"Selama kau tidak masuk berita dengan judul pembunuhan, ayah tak akan lagi mencampuri urusanmu. Ayah percaya padamu, kau selalu punya alasan atas apa yang kau lakukan." ucap Hiasi dengan senyum tipisnya yang membuat Hinata membalas tersenyum.
"Terima kasih ayah."
.
.
"Naruto? Mengapa aku tak melihat ayah dan ibumu?" tanya Hinata penasaran.
"Mereka tak datang, acara untuk para orang tua telah berakhir sore tadi." jawab Naruto yang dibalas O oleh Hinata.
.
.
.
.
Matahari yang sudah meninggi, 08.40 seharusnya pelajaran telah dimulai 40menit lalu tapi? Mengapa disini masih terlihat dua orang manusia?
Hinata yang terlihat terbaring terlentang di lantai ring tinju dengan Naruto yang juga terbaring disebelahnya. "Akkhh.. Hari ini aku tak ingin masuk kelas, aku ngantuk." ucap Hinata malas. Ia sungguh ngantuk acara semalam berakhir jam 12 malam, ia terus medengar ceramah yang menurutnya tak penting oleh beberapa pemimpin perusahan dan hal lainnya.
"Hm, tidurlah." jawab Naruto yang membalikkan badannya menghadap Hinata dan langsung menarik Hinata ke pelukan nya serta memeluknya erat dengan matanya yang sudah terpejam.
"Selamat malam Naruto." ucap Hinata memeluk erat Naruto dan memejamkan matanya.
"Hm. Selamat pagi."
.
.
Sementara di kelas.
Yamato yang masih sibuk dengan mata pelajarannya, tanpa menghiraukan kedua manusia yang masih tak menampakkan diri mereka. Ayolah, ini bukan pertama kalinya mereka tak masuk ke kelas.
Terlihat dibangku belakang, Sasori dan Karin yang berduduk berdampingan dan masih saja berbisik-bisik.
"Tapi aku rasa itu akan sulit." bisik Sasori pada Karin disebelahnya.
"Tidak, jika hanya dengan ini ia bisa menderita, aku akan melakukannya. Aku akan merebut Naruto darinya." jawab Karin membulatkan niatnya. Sasori yang menceritakan tentang Hinata dan Naruto dulu, jadi jika ia bisa membuat Naruto meninggalkan Hinata, maka Hinata akanlah menderita.
"Kau juga harus membantuku, kau harus mendekati Hinata dan membuat Naruto cemburu. Dengan begitu rencana ini akan mudah." ucap Karin yang dibalas anggukan oleh Sasori.
.
.
.
Bel pertanda pulang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, para murid yang juga sudah berhamburan pulang menyisakan empat orang manusia yang masih terduduk berderet di kursi belakang.
Hinata yang masih malas untuk bergerak sedangkan Naruto yang masih setia menunggu Hinata bergerak dan kedua manusia disebelah mereka yang juga sengaja menunggu mereka.
.
.
.
Sasori yang beranjak dari tempatnya dan menghampiri Hinata yang masih menenggelamkan wajahnya diantara lipatan tangannya diatas meja begitu dengan Karin yang beranjak dari tempatnya dan menghampiri Naruto yang masih terududuk di bangku, disebelahnya dengan punggungnya yang di sandarkan di sandaran kursi.
"Hinata, apakah aku boleh mengantar mu pulang?" tanya Sasori dengan senyum manisnya ketika Hinata menatapnya.
"Naruto? Apakah kau bisa mengantarku pulang?" pinta Karin dengan senyum manisnya pada Naruto yang masih menatap kosong kedepan.
...
.
.
.
.
To be continue..
.
.
.
Yo yo yo.. Moga fic ini bisa berjalan lancar.. Moga aja fic ini bagus dan semakin bagus, moga kalian suka.. Maaf jika ada kesalahan dalam kata-kata atau hal lainnya..
Coba tebak apa jawaban hinata dan naruto. Hahaha..
Terima kasih.. Bye..bye
