Chanyeol berjalan pada pinggir trotar dengan setangkai mawar putih di tangannya. Wajahnya berseri-seri, senyuman mengembang dengan sempurna pada wajahnya yang tampan. Hari ini, ia telah bertekad untuk melamar seorang lelaki mungil yang telah merebut hatinya. Cukup lama Chanyeol memikirkan hal ini, karna dirinya bukanlah seorang yang mampu. Kadang ia berfikir, akankah Baekhyun sudi menerimanya menjadi pendamping hidup dengan keadaan yang serba pas-pasan. Jika saja Chanyeol terlahir dari sebuah keluarga yang kaya raya, maka mungkin melamar Baekhyun tidak akan menjadi serumit ini.

Sepanjang perjalanan, Chanyeol terus mensugesti dirinya sendiri jika Baekhyun memang menyayanginya dengan tulus tanpa embel-embel harta dan sebagainya. Lelaki itu tertunduk dan berhenti melangkah sejenak, di tatapnya bunga mawar putih yang sengaja ia beli terlebih dahulu. Baekhyun menyukai bunga ini, sebab itulah mengapa di pekarangan belakang panti asuhan tempat Baekhyun tinggal terdapat beberapa mawar putih yang tumbuh disana.

Sebenarnya kisah cinta Chanyeol dan Baekhyun sangatlah sederhana, berawal dari ketidaksengajaan dan berujung pada sebuah perkenalan yang manis. Chanyeol terkadang menyempatkan mengunjungi panti asuhan Baekhyun di sela-sela kesibukannya bekerja. Chanyeol bahkan mengenal dengan baik ibu panti yang mempunyai senyum ramah pada siapapun, juga pada adik-adik kecil penghuni panti yang bahkan sudah Chanyeol anggap sebagai adiknya sendiri.

Lama berselang, akhirnya Chanyeol sampai pada sebuah panti asuhan dimana kekasihnya itu tinggal. Baekhyun sebelumnya tidak mengetahui bahwa Chanyeol akan berkunjung hari ini, dan Chanyeol pun enggan memberitahu Baekhyun perihal acara lamar melamar yang sedang ia persiapkan. Sebuah kejutan kecil akan jauh lebih baik bukan?

Kedua kaki Chanyeol berhenti ketika ia berada pada sebuah pekarangan. Ada Baekhyun ternyata disana, sedang menyapu di depan pintu rumah bercat putih itu. Chanyeol membawa langkahnya kembali, menghampiri Baekhyun yang masih tidak menyadari keberadaan Chanyeol.

"Serius sekali?" goda Chanyeol dan Baekhyun tampak terlonjak sedikit mendapati kekasihnya telah berada di sana.

"Chanyeollie? Kok tidak mengabariku dulu?" Chanyeol tidak mengindahkan keheranan Baekhyun karna lelaki itu justru menikmati raut kebingungan yang sangat menggemaskan pada wajah Baekhyun.

"Aku hanya merindukanmu, memangnya tidak boleh jika aku berkunjung tanpa memberi kabar? Yasudah aku pulang saja." Chanyeol menyebik bibir tebalnya, pura-pura merajuk dan berniat membalik tubuhnya namun Baekhyun ternyata lebih cepat mencegah lengan Chanyeol.

Bunga mawar putih yang sedari tadi bersembunyi di balik punggung Chanyeol pada akhirnya terlihat juga di mata mendesah kecewa dengan kecekatan tangan Baekhyun saat lelaki mungil itu mengambil setangkai mawar pada tangan Chanyeol. Gagal sudah rencananya.

"Mawar putih?"

Chanyeol menjawab hanya dengan anggukan dan Baekhyun merasa sangat tidak puas dengan jawaban itu.

"Untuk apa Chanyeollie?" tanya Baekhyun lagi, ia masih menggenggam mawar putih itu dan memandang wajah Chanyeol dengan sedikit mendongak.

Chanyeol tiba-tiba mengambil allih bunga itu, dan menatap Baekhyun lekat-lekat. Debaran jantung di dadanya menggila saat ini. Semalam suntuk ia merangkai kata yang tepat untuk mengungkapkan keinginan sucinya mengikat Baekhyun secara resmi, namun rangkaian kata itu mendadak hilang bak di tarik pusaran angin. Chanyeol masih terdiam dan Baekhyun masih setia menunggu apa yang sekiranya akan Chanyeol sampaikan.

Lelaki yang jauh lebih tinggi dari Baekhyun itu menghirup nafasnya dan menatap kedua mata Baekhyun semakin dalam. Chanyeol perlahan melipat sebelah kakinya hingga saat ini posisi Chanyeol layaknya seorang raja yang sedang berhadapan dengan permaisurinya.

Chanyeol menatap lagi kedua mata Baekhyun, lalu ia menyerahkan setangkai mawar putih yang nyatanya sudah lebih dulu Baekhyun ketahui keberadaannya. "Baekhyun, mungkin aku sedikit lancang untuk mengatakan ini, mengingat aku bukanlah seorang yang berada. Tapi, perlu kau ketahui bahwa aku sangat tulus mencintaimu.." Chanyeol menjeda sejenak tutur katanya, dan menarik nafas seolah sedang memasok oksigen pada jantung yang berlomba, "Aku ingin kau tahu kalau aku punya mimpi yang sangatlah sederhana. Mimpi dimana aku bersamamu setiap saat sampai rambutku memutih, sampai kedua kaki ku bertopang pada sebuah tongkat, sampai aku tak lagi bisa bernafas. Aku menginginkanmu untuk berada di sisiku dalam suka duka, aku menginginkanmu untuk menjadi pasangan hidupku. Dan aku, Park Chanyeol menginginkan seorang Byun Baekhyun untuk menjadi suamiku di hadapan Tuhan. Mau kah kau menikah denganku?"

Baekhyun terkejut dengan ungkapan yang Chanyeol tujukan untuknya, jujur saja ia tak mengira bahwa Chanyeol akan melamarnya dengan cara yang sederhana namun manis seperti ini. Baekhyun tak bisa lagi berkata-kata, kedua matanya kini sudah terpenuhi Kristal bening yang siap membuncah kapan saja.

"Baekhyun? Katakan sesuatu." Chanyeol jadi tidak sabaran karna Baekhyun masih saja terdiam seribu bahasa, hanya air mata saja yang samar-samar mengalir di kedua pipinya, "Hei, jangan menangis.." Chanyeol bangkit dari posisinya tadi lalu memeluk Baekhyun yang nyatanya menangis semakin kencang.

"Aku hiks..aku mencintaimu Chanyeollie..." ucapnya teredam di dada Chanyeol sembari mengangguk-anggukan kepalanya, "..jadilah suamiku."

Chanyeol dengan tiba-tiba menarik pelukannya dari tubuh Baekhyun dan menatap kekasihnya itu dengan lekat."Kau bilang apa barusan?"

"Jadilah suamiku."

"Kau serius?"

"Jadi tadi kau hanya bercanda?"

"Tentu saja tidak Baekki, aku sangat amat serius. Hanya saja ini seperti mimpi."

"Maka mari membuat hal itu menjadi kenyataan." Baekhyun tersenyum sangat manis hingga Chanyeol tak kuasa menciumi pipi kenyal sang kekasih.

Selepas penerimaan Baekhyun pada lamarannya barusan, Chanyeol merasa sangat lega bukan kepalang. Pasalnya tidak ada yang lebih membahagiakan selain memiliki seorang yang kau cintai untuk menjadi pendamping hidupmu selamanya, mengesampingkan sebuah materi yang biasanya selalu di junjung tinggi. Baekhyun menerima Chanyeol karna ketulusan hatinya, Baekhyun menerima Chanyeol karna lelaki itu bersungguh-sungguh akan cintanya, dan Baekhyun menerima Chanyeol karna ia nyatanya telah jatuh terlalu dalam pada sosok itu.

.

.

SPECULATE

By. Railash61

.

Main Cast: Park Chanyeol x Byun Baekhyun.

Support Cast: Lee Joon, Choi Minho.

Genre: Family, Crime

Rate: T+

Warn: Boys Love.

Typo everywhere, tidak sesuai EYD.

Summary:

Addiction is a family disease. One person may use, but the whole family suffers.

.

.

Chap 1

.

.

Chanyeol melihat lagi jam tangan yang berada di pergelangan tangannya, pukul satu dini hari. Seperti yang di rencanakan sebelumnya, Chanyeol akan membantu Minho untuk mengurus tugas kali ini. Tenang, Chanyeol bukanlah seorang yang utama pada tugas malam ini, karna memang biasanya pun seperti itu. Chanyeol hanya bertugas untuk menjadi pengendara pada sebuah 'pekerjaan kotor'. Jika ingin di jabarkan lebih spesifik lagi, Chanyeol adalah seorang driver pencurian, penculikan, bahkan pembunuhan, dan terkadang suami dari Byun Baekhyun itu menyambi pula menjadi kurir obat-obatan terlarang yang di suplai ke bandar-bandar kecil maupun besar di Korea Selatan. Berbekal dari pekerjaannya terdahulu yaitu seorang kurir pengantar surat kabar, akhirnya Chanyeol mendapat pekerjaan ini, maka jangan heran jika Chanyeol sudah hafal di luar kepala tentang seluk beluk kota Seoul.

Pada awalnya, Chanyeol merasa bahwa upah menjadi seorang pengantar surat kabar akan mencukupi kehidupannya bersama Baekhyun. Namun nyatanya kenyataan tidak berjalan sesuai keinginan lelaki itu. Chanyeol harus memikirkan biaya sewa flat kecil yang ia tinggali bersama Baekhyun, juga memikirkan tagihan listrik setiap bulannya, belum juga biaya makan sehari-hari yang mana telah berlipat menjadi dua karna statusnya sekarang pria bersuami. Chanyeol memutar otaknya terus menerus, sampai-sampai lelaki itu memperpanjang jam kerjanya demi mendapat upah yang lebih banyak setiap harinya. Namun lagi-lagi itu belum cukup untuk menutup semua pada suatu ketika, Chanyeol mendapat sebuah tawaran menggiurkan dari salah seorang kenalannya. Sebuah pekerjaan yang akan menghasilkan uang yang lebih banyak dari upah seorang kurir surat kabar. Awalnya Chanyeol tak tertarik dengan ajakan itu, namun lama kelamaan Chanyeol merasa bahwa ia memanglah harus berubah agar bisa tetap menghidupi Baekhyun.

Tanpa sepengetahuan Baekhyun, Chanyeol diam-diam mengikuti beberapa transaksi narkoba, juga kadang mengikuti aksi pencurian dalam skala ringan. Upah yang terbilang melebihi pekerjaannya yang dulu membuat Chanyeol merasa ingin lagi dan lagi. Karna di pikirannya hanya inilah satu-satunya cara agar kehidupannya bersama Baekhyun menjadi lebih berkecukupan.

Pada awalnya Baekhyun tidak menaruh curiga sama sekali pada suaminya karna memang Chanyeol kadang pulang hingga larut malam, namun itu hanya pada hari-hari tertentu saja. Tapi tetap saja, sepintar-pintar kau menyembunyikan sebuah bangkai, maka baunya akan tercium juga, dan itulah yang Baekhyun rasakan kala itu. Baekhyun diam-diam menyelidiki Chanyeol melalui pekerjaannya yang dulu, dan Baekhyun sempat kaget mendapati bahwa Chanyeol tidak lagi bekerja sebagai kurir surat kabar. Lalu dari mana Chanyeol mendapatkan uang yang terbilang lebih banyak dari upah yang biasanya? Baekhyun menghela nafas berat mengetahui Chanyeol telah berbohong padanya.

Pada hari itu juga, Baekhyun sengaja menunggui Chanyeol hingga hampir fajar. Baekhyun sekuat tenaganya melawan kantuk demi ingin mendengar jawaban dari tanda tanya besar yang ada di kepalanya. Lama Baekhyun menunggu dan akhirnya Chanyeol tiba di ambang pintu. Pria itu kaget bukan main mendapati suami mungilnya masih tetap membuka mata walau mungkin terasa begitu berat. Dan tanpa buang waktu lagi, Baekhyun pun menanyakan apa yang sedari tadi mengganjal pikirannya. Tentang dari mana uang yang Chanyeol berikan itu berasal, dan tentang pekerjaan Chanyeol setelah ia mengundurkan diri di tempat kerja lamanya tanpa sepengetahuan Baekhyun.

Chanyeol menghela nafas berat, ia tahu bahwa cepat atau lambat Baekhyun pasti akan mengetahui hal ini. Sebenarnya jika boleh di bilang, Chanyeol sangat lelah pada tugas hari ini. Namun lagi-lagi, ada sesuatu yang perlu ia luruskan, maka dari itu Chanyeol lebih memilih untuk membawa Baekhyun duduk di tepian ranjang dan menjelaskan sejelas-jelasnya pada Baekhyun.

Awalnya Baekhyun marah, ia kecewa pada Chanyeol juga kecewa pada dirinya sendiri. Baekhyun berpikir, karna dirinyalah Chanyeol memilih untuk berhenti dari pekerjaan lamanya demi mencukupi kehidupan mereka. Baekhyun tidak bisa membayangkan bagaimana jika Chanyeol terlibat dengan segala macam tindakan kriminal seperti itu. Lelaki mungil itu menangis, meminta Chanyeol untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik daripada seorang driver dari sebuah transaksi kriminal, namun Chanyeol berdalih, ia melakukan ini demi menghidupi Baekhyun, demi memberi kehidupan yang layak untuk keduanya.

Baekhyun terdiam mendengar seribu keyakinan yang Chanyeol katakan padanya. Chanyeol berjanji tidak akan terluka selama ia menjalani segala tugasnya, dan hal itu dirasa lebih dari cukup untuk Baekhyun. Selagi Chanyeol baik-baik saja, selagi Chanyeol tak tergores sedikitpun, selagi Chanyeol melakukan hal itu demi kehidupan keduanya, maka Baekhyun akan berusaha memaklumi.

"Yak..haruskah kita bergerak sekarang?" Minho yang berada di sebelah Chanyeol berdecak sejenak mendapati lelaki itu mematung dengan sorot mata melihat jam tangan.

"Sudah jam satu, kau bergeraklah terlebih dahulu, aku akan menunggu disini." Chanyeol menoleh dan memberikan sebuah topi berwarna hitam yang berada di belakang kemudinya pada Minho.

"Yak! Kau tak berniat untuk membantu ku?" Minho menggerutu seraya menerima topi hitam yang Chanyeol sodorkan, "Bagaimanapun kita berdua adalah satu tim." dengusnya.

"Kau lupa? Aku hanya bertugas sebagai supir, maka cepatlah menyelesaikan tugasmu karna aku ingin segera pergi tidur."

"Jika wanita itu memberontak bagaimana?"

"Kau bisa menusuknya jika ia memberontak, setidaknya itu yang Lee Joon hyung katakan pada ku di telpon." Chanyeol menyelipkan sebuah pisau lipat yang berada pada pada saku jaket yang Minho kenakan, "Cepatlah, waktu terus berjalan, bodoh."

Minho berdecak, rasanya ia ingin sekali menggeret Chanyeol untuk ikut bersamanya, karna demi Neptunus, menculik seorang wanita adalah pekerjaan yang merepotkan. "Aku akan memanggilmu jika menemui kesulitan, dan kau harus segera datang, dumbo!" peringat Minho sembari menodongkan pisau lipatnya mewanti Chanyeol.

Selepas Minho pergi, Chanyeol hanya mampu menunggu pria yang lebih tua beberapa bulan darinya itu kembali, membawa seorang wanita remaja yang telah menjadi sebuah 'objek' untuk tugas kedua lelaki itu. Sebenarnya Chanyeol tidak tahu pasti mengapa Lee Joon yang kerap kali di panggi 'Hyung' oleh anak buahnya itu memberi mereka tugas untuk menculik seorang gadis remaja. Mungkin gadis itu akan di jadikan sebagai pekerja seks komersil, atau dijual di pelelangan bawah tanah untuk di jadikan budak. Entahlah, Chanyeol berusaha untuk tidak ambil pusing memikirkan akan di apakan objek-objek tugasnya itu oleh Lee Joon.

Chanyeol terkadang merasa bersalah akan pekerjaannya yang kotor ini. Walaupun hanya menjadi seorang supir dari tindakan kejahatan, tapi Chanyeol bahkan tidak sekali atau dua kali ikut terlibat di dalamnya. Seperti sebulan yang lalu dimana ia pernah di tugaskan untuk mencuri sebuah patung Buddha berharga fantastis di sebuah kuil dan membunuh seorang biksu yang memberontak. Meski bukan Chanyeol yang membunuhnya melainkan Minho, namun tetap saja ia ikut andil dalam dua kejahatan di malam itu.

Chanyeol mendesah, ia mengetuk-ngetukkan jemarinya pada stir mobil, ini sudah setengah jam lamanya dan belum ada tanda-tanda Minho menampakkan diri. Apa lelaki dengan nama depan Choi itu gagal? Atau haruskah Chanyeol menyusulnya?

Duk!

Duk!

Baru saja Chanyeol ingin membuka pintu mini bus itu, namun sebuah gebrakan sangat kencang mengejutkan dirinya.

"Cepat buka pintunya bodoh." itu Minho dengan suara yang teredam namun masih terdengar di telinga Chanyeol.

Minho tampak tergesa-gesa, tubuh tinggi besarnya berpeluh dengan seorang wanita remaja yang meringkuk di bahu tegapnya. "Cepat jalankan mobilnya, penghuni di pintu sebelah tadi sempat melihat ku!"

Chanyeol tanpa basa-basi dengan sigap menarik persneling dan melajukan mini bus itu menjauh dari sebuah hunian bertingkat yang menjadi tempat mereka melaksanakan tugas.

"Apa mereka sempat melihat wajahmu? Tidak kan?" Chanyeol melirik Minho melalui spion utama, "Apa dia pingsan?" tanya nya lagi.

"Dia dibawah pengaruh obat tidur, untung aku membawanya tadi."

"Syukurlah kalau begitu," Chanyeol menghela nafas sejenak, setidaknya gadis belia itu tidak akan menyebabkan keributan dengan berteriak-teriak seperti pada tugas-tugas terdahulunya.

"Tapi ada satu yang menjadi masalah Chanyeol-ah." Minho berkata dengan nafas yang masih naik turun.

"Apa?"

"Pisau lipat ku tertinggal di dalam flat bocah ini, aku tidak sempat mengambilnya karna penghuni sebelah kamar itu sudah keburu menaruh curiga." kata Minho yang mana di buahi oleh helaan nafas Chanyeol di balik kemudi.

"Kita akan berurusan kembali dengan Taecyeon. Oh harus kah ku berterimakasih padamu akan hal itu?!" Chanyeol mengacak rambutnya dengan sebelah tangan, niat awal akan pulang cepat sirna sudah.

"Kan sudah ku bilang untuk membantuku! Kau tidak datang."

Minho menyalahkan Chanyeol yang mana Chanyeol merasa tidak terima akan hal itu, "Jika aku membantumu dan kita tertangkap basah di dalam sana, maka siapa yang akan sigap menyalahkan mobil dalam keadaan genting begitu?"

"Argh! Aku benci pekerjaan ini!" amuk lelaki di balik kursi penumpang itu, "Lalu harus bagaimana?"

Chanyeol menoleh kebelakang saat tahu bahwa traffic light berwarna merah menyala, "Pilihannya hanya dua, kembali ke flat gadis ini untuk mengambil pisau lipat itu, atau tetap berjalan ke markas dan menceritakan segalanya. Tentu pilihan kedua sudah kau tahu akibat yang akan di tanggung."

"Oh tidak, wajahku... Kau tahu, aku baru saja mendapat service manis tadi malam dan aku harus mendapatkanya lagi pada pagi buta? Sial!"

"Jadi apa kau ingin kembali ke flat itu atau tetap meneruskan perjalanan?" Chanyeol memberikan pilihan, sebenarnya ia ingin kembali saja ke tempat dimana Minho meninggalkan pisau lipat itu dan mengambilnya, namun setelah di pikir kembali, itu akan sangat membahayakan bagi mereka berdua, karna bisa saja tetangga sebelah kamar gadis itu telah menyebarkan berita bahwa seseorang telah di culik dan memangil pihak kepolisian. Jika mereka datang kembali ketika situasi telah menjadi genting seperti itu, maka keduanya bisa di pastikan masuk bui dengan cepat. Maka dari itu, bogeman Taecyeon rasanya jauh lebih baik.

"Teruskan saja perjalanan, karna kita tak tahu apa yang akan terjadi jika kita memutar arah. Bisa saja sirine mobil polisi yang menyambut."

"Kau benar," Chanyeol menanggapi, walau dalam hati ia merasa telah mencoreng janjinya pada Baekhyun untuk tidak terluka, tapi Chanyeol yakin bahwa Baekhyun akan memaklumi jika ia menjelaskan pada suami tercintanya itu.

.

.

.

Pukul tiga dini hari, Chanyeol telah sampai pada flat kecil tempat dirinya bersama Baekhyun tinggal. Chanyeol membuka pintu kecoklatan yang menjadi pembatas antara dunia kecilnya dengan dunia luar yang menyeramkan. Lelaki itu berjalan mengendap-endap layaknya pencuri ulung, dan ia mendapati Baekhyun telah terlelap di atas ranjang berseprai putih terbalut dengan selimut tipis. Chanyeol mendekati dan memandang wajah Baekhyun, terasa sangat damai saat melihat Baekhyun bernafas dengan teratur pada tidur malamnya. Entah, ini malam yang kesekian kalinya Chanyeol lalui tanpa mengantar Baekhyun kedalam mimpinya. Namun ia harus melakukan itu, demi kelangsungan hidup keduanya.

Setelah puas menelanjangi wajah Baekhyun dengan kedua matanya, Chanyeol beranjak pada sebuah lemari pakaian yang terdapat sebuah cermin panjang yang tertempel pada papan kayu tersebut. Chanyeol berkaca pada cermin itu, memandangi wajahnya yang penuh lebam akibat pukulan-pukulan dari Taecyeon. Pria berbadan besar itu rupanya sangat tahu bagaimana berkarya pada wajahnya yang tampan itu, lihat saja, mata sebelah kiri Chanyeol menyipit karna membengkak dengan warna keunguan, sudut bibirnya berdarah karna di pukul terlalu kencang oleh algojo itu. Belum lagi dengan rahang bawah yang terasa sangat sakit jika ia membuka mulutnya. Andai saja Minho si bodoh itu tidak melupakan pisau lipat dan kembali membawanya pulang ke markas, maka wajah tampannya pasti akan baik-baik saja.

Chanyeol meraba mata kirinya, mencoba menganalisa seberapa parah luka yang di buat oleh Taecyeon, namun hal itu malah membuatnya meringis dan menganggu kedamaian tidur dari Baekhyun. Si kecil yang berada di ranjang itu menggeliat, tetapi kedua matanya masih setia tertutup dan ia jatuh tertidur kembali. Chanyeol menghela nafasnya saat melihat Baekhyun melanjutkan tidurnya. Maka setelah ia berkaca pada cermin panjang itu, Chanyeol segera membersihkan diri dan mengganti seluruh pakaiannya untuk menyusul Baekhyun ke alam mimpi.

Sepanjang Chanyeol membersihkan dirinya, ia selalu memikirkan bagaimana reaksi Baekhyun ketika tahu bahwa wajahnya tidak baik-baik saja, begitupun juga dengan punggung dan perut yang sedikit memar karna tonjokan Taecyeon. Padahal sebelumnya Chanyeol telah berjanji pada Baekhyun untuk tidak terluka sedikitpun, namun pada akhirnya ia melanggar janji itu sendiri.

Chanyeol menghabiskan kiranya sepuluh menit untuk membersihkan diri dan lelaki itu keluar dengan piyama sederhana berwarna coklat. Chanyeol melihat kembali Baekhyun yang masih tetap terlelap dengan posisi yang berbeda. Baekhyun saat ini sedang meringkuk dengan kedua tangan yang terselip di sela-sela perutnya .Chanyeol mengambil langkah untuk mendekati, lalu berniat membelai halus wajah Baekhyun. Chanyeol awalnya tidak menaruh curiga dengan posisi tidur Baekhyun. Namun entah kenapa, Chanyeol merasa bahwa tubuh Baekhyun bergetar dan wajah Baekhyun di penuhi keringat hingga menyentuh kulit tangannya.

"Baek? Kau kenapa?" Chanyeol menggoyangkan tubuh Baekhyun dengan hati-hati, jujur saja ia sangat khawatir saat ini.

"Ugh..perutku.. Chanyeol, perutku sakit.." Baekhyun lirih menjawab Chanyeol, ia membuka sedikit matanya lalu terpejam lagi menahan sakit.

"Sejak kapan? Bagian mana yang sakit? Biarkan aku melihatnya."

Chanyeol membawa Baekhyun untuk terlentang lurus dan menyingkirkan kedua tangan Baekhyun yang sedari tadi menutupi perut rata itu. "Bagian mana Baek?" Chanyeol bertanya lagi memastikan.

Baekhyun membuka kedua matanya dan menuntun tangan Chanyeol untuk menyentuh perut bagian bawah yang terasa nyeri, "Disini, sakit sekali."

Baekhyun awalnya tidak menyadari tentang luka di wajah Chanyeol karna perutnya memanglah sakit saat ini. Bayangkan saja, ini sudah pukul setengah empat pagi dan ia mengalami keram perut yang sebelumnya tidak pernah dirasakannya. Tapi itu tidak berlangsung lama karna pada akhirnya Baekhyun menyadari bahwa wajah suaminya telah babak belur.

"Chanyeol, kau terluka!"

Chanyeol tersentak ketika dirinya tahu Baekhyun telah menyadari hal itu, tapi mau bagaimana lagi, Chanyeol tidak bisa menyembunyikan hal apapun dari Baekhyun, "Aku akan menjelaskannya nanti, tetapi saat ini kau adalah prioritas. Tunggulah sebentar."

Lelaki tinggi berpiyama coklat itu tampak sedikit berlari menuju meja kecil yang terdapat sebuah botol alumunium besar tempat Baekhyun biasa menyimpan air panas. Lalu Chanyeol berlari lagi untuk mengambil sebuah wadah dan handuk kecil. Chanyeol berniat untuk mengompres perut Baekhyun demi meredakan nyeri yang sedang Baekhyun rasakan.

Setelah Chanyeol selesai memasangkan handuk hangat itu pada perutnya, Baekhyun merasa jauh lebih baik, memang rasa nyeri masih terasa namun kompresan pada perutnya dapat sedikit mengurangi rasa sakit itu.

"Sudah baikkan?" tanya Chanyeol yang masih khawatir pada Baekhyun.

Baekhyun mengangguk, lalu ia meminta Chanyeol untuk tidur di sisinya dan Chanyeol menuruti.

"Apa yang terjadi hari ini? Wajahmu terluka parah, Chanyeol."

Baekhyun mendongak dan mengelus bagian mata sebelah kiri Chanyeol yang membengkak, "Hanya kesalahan kecil yang di buat Minho," katanya enteng bermaksud agar Baekhyun tidak terlalu mengkhawatirkannya.

"Lalu kenapa kau yang menanggungnya?"

"Aku berada satu tim dengannya, jika salah satu membuat kesalahan maka keduanya akan mendapat hukuman. Ini hanya luka kecil Baekki, lusa juga pasti akan hilang memarnya." Chanyeol berusaha meyakinkan Baekhyun bahwa memang tidak ada yang perlu di khawatirkan.

"Chanyeol, apa kau tidak bisa untuk berhenti dari pekerjaanmu dan melakukan hal lain? Ini sudah kedua kalinya kau pulang dengan wajah penuh lebam seperti ini, dan itu menyakitiku. Setiap malam ketika kau sedang pergi menjalankan tugas, aku selalu berdoa agar ketika kau pulang, tak ada satu luka pun yang turut datang pada tubuhmu. Namun saat aku melihatmu penuh luka seperti ini, itu..itu sangat menyakitkan untukku."

Baekhyun berusaha menyampaikan apa yang ia rasa selama ini. Ketakutan, cemas, kekhawatiran jikalau Chanyeol mendapat sebuah kesialan karna pekerjaan yang di jalaninya saat ini. Tapi, setiap kali Baekhyun menyuarakan pendapatnya, Chanyeol selalu saja berdalih bahwa inilah satu-satunya jalan untuk memenuhi kebutuhan keduanya.

"Kau jelas mengetahui aku melakukan ini demi kau dan aku, demi kehidupan kita, Baekhyun."

Baekhyun menghela nafas, dan berusaha membujuk Chanyeol karna demi apa ia tidak ingin melihat Chanyeol dengan luka di wajahnya seperti saat ini, hal itu membuat hatinya hancur.

"Tidak bisakah kau memikirkannya kembali? Bahkan jika aku yang memintanya, tidak bisakah kau untuk mengabulkan hal sederhana itu?"

Chanyeol terdiam, ia melihat kedalam mata Baekhyun yang mulai bekaca-kaca. Terlintas di pikirannya bahwa ia hidup hanya dengan Baekhyun, tujuan hidupnya pun untuk membahagiakan Baekhyun. Lantas jika ia tetap berada pada pekerjaan ini, bukankah itu telah menyakiti kebahagiannya? Hal itu terus saja berputar di kepala Chanyeol.

"Baiklah, aku akan memikirkan untuk mencari pekerjaan baru yang tidak membuatmu merasa cemas seperti ini. Tapi, saat ini kurasa kau dan aku butuh waktu untuk beristirahat, dan mari membicarakan hal ini ketika kita telah bangun, oke?"

Baekhyun pada akhirnya mengangguk dengan ajakan Chanyeol untuk beristirahat, bagaimanapun juga Chanyeol pasti merasa lelah, terlebih mungkin tubuhnya sudah merasa sangat remuk akibat dipukuli tadi. Maka dari itu Baekhyun pun turut menutup kedua matanya mengikuti Chanyeol yang telah lebih dulu terpejam.

"Apa nyeri pada perutmu sudah masih terasa?" Chanyeol memulai lagi pembicaraan yang tadi sempat terhenti, menanyakan keadaan Baekhyun sebelum keduanya jatuh lebih dalam pada dunia mimpi.

"Aku merasa jauh lebih baik, nyerinya pun sudah tidak terasa lagi." jawab Baekhyun dengan senyuman.

"Kalau begitu…." Chanyeol meraih tubuh Baekhyun untuk dipeluknya dengan erat, dan Baekhyun menyamankan posisinya dalam pelukan sang suami. Keduanya terdiam sejenak, lalu kembali menutup mata.

.

.

.

"Bagaimana? Kau mendapatkan pisau lipat itu?" Lee Joon nampak sedang nenelpon seseorang di sebrang sana, setelah insiden Minho dan Chanyeol yang kedapatan meninggalkan barang bukti di tkp, lelaki yang kerap kali di panggil 'hyung' itu menelpon salah satu anak buahnya untuk mengintip keadaan flat tersebut. Beruntung, Lee Joon dapat dengan cekatan menyuruh ini dan itu pada anak buahnya dan mendapatkan barang bukti yang masih tergeletak itu dengan mudah.

"Bagus, bawa barang itu ke sini." katanya lagi setelah mendapatkan jawaban yang memuaskan dari salah satu anak buahnya.

Lee Joon sendiri adalah seorang bos yang mempunyai antek-antek cukup banyak. Ia bisa di bilang seseorang yang mencarikan job untuk anak buahnya yang tidak punya pekerjaan tetap. Koneksi yang Lee Joon punya juga bukan sembarang orang, ia mempunyai beberapa kenalan politikus, juga beberapa kenalan bandar besar yang kerap kali membutuhkan jasa anak buahnya untuk mengirim beberapa ekstasi atau bahkan kokain sekalipun. Bisa di bilang Lee Joon hanya seorang perantara dari berbagai macam penjahat utama yang tidak ingin mengotori tangan mereka, dengan membayar jasa Lee Joon, maka semua beres.

Drttt..

Drttt…

Sebuah panggilan kini masuk kembali pada ponsel Lee Joon yang baru saja beristirahat sehabis panggilan yang sebelumnya. Lee Joon melihat nama yang tertera, lalu ia tersenyum miring mendapati seorang kakap besar telah menghubunginya.

"Halo.."

"…"

Lee Joon menyeringai mendapati seorang di sebrang sana meminta jasanya, "Kau yakin meminta jasaku untuk mendistribusikan LSD? Itu narkoba dengan harga fantastis."

"…"

"Lalu kapan kau akan butuh mereka?" tanya Lee Joon lagi pada orang itu. Lee Joon sempat tidak pernah berpikir bahwa bandar ini akan meminta jasanya untuk mendistribusikan Lysergyc Acid Diethylamie atau di singkat dengan LSD kepada para langganannya. Lee Joon semakin bersemangat untuk membandrol jasanya lebih tinggi pada bandar itu, mengingat barang yang akan di tugaskan kepada anak buahnya mencapai harga tiga juta won per gram.

"…"

"Lusa? Oh tentu bisa. Tetapi kau harus tahu harga perjam dua kali lebih mahal dari pada minggu lalu. Ini bukan sekedar mengirim heroin atau ekstasi." tuturnya menyeringai.

"…"

"Baiklah kalau begitu, senang berbisnis dengan mu, Tae Goo."

Lee Joon menutup panggilan ketika keduanya memperoleh kesepakatan. Lelaki itu bersiul-siul dengan cerutu di tangan kiri dan mengepus asap putih tersebut keudara. Membayangkan rekeningnya akan mendapatkan pemasukan yang fantastis pada esok lusa.

.

.

.

"Chanyeol, bangun.." Baekhyun menepuk-nepuk pipi Chanyeol yang tidak terdapat luka, berniat membangunkan suaminya mengingat ini sudah pukul sebelas siang.

Chanyeol sepertinya masih betah berpetualang di dunia mimpi, sebab tepukan pada pipinya sama sekali tidak di indahkan. Lelaki itu malah semakin terlelap hingga kedua belah bibirnya terbuka.

"Chanyeol bangun, nanti sarapannya jadi dingin." Baekhyun merengek, menggoyangkan tubuh Chanyeol semakin kencang. Menurut Baekhyun, Chanyeol harus bangun saat itu juga, karna jika tidak ia akan tertidur hingga petang.

"Li..ma menit." Chanyeol memberi gesture angka lima lewat telapak tangannya dan meminta Baekhyun untuk berhenti mengguncang tubuhnya. Namun Baekhyun tetap keras kepala dan mengguncang tubuh Chanyeol dengan kekuatan yang lebih.

"Bangun! Ayo sarapan, ini sudah siang Chanyeol!"

Chanyeol mau tidak mau membuka kedua matanya yang masih sepat, ia merasa sudut matanya sedikit berkerak mungkin karna Chanyeol merasa matanya sangat sulit untuk terbuka. "Aku bangun." Katanya dengan suara sengau.

Baekhyun tertawa kecil melihat wajah mengerikan Chanyeol ketika bangun tidur, di tambah dengan beberapa luka lebam di wajahnya membuat Chanyeol semakin terlihat mengerikan. Maka setelah memastikan Chanyeol telah bangun, Baekhyun pun menuntun Chanyeol menuju kamar mandi. Baekhyun membasuh wajah Chanyeol dengan penuh kehati-hatian.

"Apa luka-luka ini masih sakit?" Baekhyun meraba mata kiri Chanyeol yang masih membengkak. Chanyeol meringis karna ia tidak bohong kalau itu sakit.

"Ya, ini masih sakit. Jadi hari ini berbaik-baiklah padaku, bagaimanapun aku adalah seorang pasien jika di rumah sakit."

"Tapi kita sedang tidak berada di rumah sakit." Baekhyun mencubit asal perut Chanyeol mendengar penuturan itu.

"Tapi suami mu ini sedang sakit, Baekki. Hey..akh.. appo.." Chanyeol mengaduh saat Baekhyun dengan sengaja menekan bengkakan pada mata kirinya. "Lalu bagaimana dengan perutmu? Apa nyerinya masih terasa?" lanjut Chanyeol.

"Tidak, setelah kau mengompres semalam, sakitnya tidak terasa lagi. Mungkin aku hanya salah makan." jawabnya enteng sembari memberikan handuk kecil pada Chanyeol, "Tapi..ada yang aneh."

"Apa?"

Baekhyun tidak yakin untuk menceritakan hal itu pada Chanyeol, tapi rasanya menceritakan pun tidak akan menjadi masalah, "Entahlah, aku merasa sangat pusing sejak bangun tadi, padahal kemarin aku masih sangat segar. Dan juga, aku merasa sedikit mual, tetapi hanya cairan bening saja yang keluar."

"Apa kau sakit?" Chanyeol nampak sangat khawatir, lalu ia menempelkan telapak tangannya pada dahi Baekhyun, memastikan suhu tubuh lelaki mungilnya.

"Aku sudah baik-baik saja saat ini Chanyeol. Mungkin, memang seharusnya aku menjaga pola makan. Aku sempat merasa janggal akan hal itu, makanya aku memilih untuk mengatakannya padamu. Tetapi jika di fikirkan kembali, rasanya itu hanya karna sebuah makanan." Senyumnya mengembang menyatakan bahwa ia memang sudah baikan.

"Apa tidak lebih baik kita ke rumah sakit saja, Baek?" ujar Chanyeol dan Baekhyun menggeleng.

"Aku tidak mau."

"Tapi jika sakit pada perutmu, dan mual itu datang kembali bagaimana?"

"Makanya jangan mendoakan seperti itu! Memangnya kau mau aku menderita seperti semalam?!" Baekhyun mendelik, karna menurut pendengarannya Chanyeol seperti sedang menyumpahi Baekhyun agar sakit perut kembali.

"Justru karna itu aku memintamu untuk kerumah sakit dan mencegah agar tidak kambuh lagi."

Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau. Sudah lah Chanyeol, ini hanya karna salah makan dan aku terlalu ceroboh tidak menjaga pola makan. Semua akan baik-baik saja."

Baekhyun dengan keras kepala menolak ajakan Chanyeol dan yang bisa lelaki itu lakukan hanya menghela nafasnya sembari mengusuk surai Baekhyun, "Tapi jika sakit perutmu dan pusing serta mual itu kembali, kau tidak mempunyai hak untuk menolak ke rumah sakit. Mengerti Byun?"

Lelaki mungil itu mengangguk dan tersenyum manis menanggapi. Chanyeol dan Baekhyun lalu berjalan menuju meja kecil yang berada di depan televisi untuk menghabiskan sarapan bersama dengan penuh kesederhanaan. Keduanya terkadang tertawa saat bercerita satu sama lain, mereka mengukir kebahagiaan dengan lantang tanpa tahu bahwa sebuah kisah akan datang menghampiri, dan mempertanyakan tentang bagaimana cara mereka mempertahankan tawa di hari-hari berikutnya.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Halo.. Chap 1 akhirnya update juga kkkkk… semoga pada suka ya?

Aku ga ingin banyak kasih an hari ini lol karna memang lagi ga tau mau ngasih an apa, initinya aku makasih sama kalian yang nungguin ff ini, dan juga mungkin awalnya terkesan biasa dengan alurnya, karna gregetnya mungkin memang tidak berada di awal melainkan di tengah dan akhir *ketawa nista*

Aku hari ini update ga sendiri loh, barengan sama kakak author yang lain seperti: Purflowerian, Baekbychuu, Nidia Park, Pandananaa, Flameshinee (wattpad), Parkayoung, Blood Type-B, Park Shita, Chiakibee, RedApplee.

Kalau begitu sekian dulu dariku, sampai jumpa chap selanjutnya xixixi~

-R61-