Persephone.
By : Clarity Wu
Main Cast : Wu Yifan - Huang Zitao
Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort
Warn :
Messing EYD, typo(s), OOC, and many imperfections that's you can find from my story.
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Nafasnya tersengal, kakinya lelah, begitupun hatinya ikut gelisah. Keringat disekitar dahinya berlomba mengalir membasahi wajah ayunya. Dia berhenti sejenak untuk mengambil makanan bagi paru-parunya agar ia tak mati kehabisan udara.
Didepan sana, ia bisa melihat gedung pencakar langit tempat ia akan mendapatkan uang untuk biaya operasi adiknya.
Tao menatapnya dengan lekat, ada keraguan di hatinya, walaupun tekadnya menyuruhnya untuk tetap bertahan. Sebentar lagi harga dirinya akan hilang untuk kesekian kali. Dunia benar-benar tak memihak padanya, semenjak dua tahun lalu, karena Apa yang dia sebut kebahagiaan hilang begitu saja.
Kenapa dirinya? Hanya kalimat itu yang ia ingin sampaikan pada Tuhan. Tidakkah Tuhan cukup mengambil segalanya dua tahun lalu. Lalu sekarang apa lagi? Adiknya? Tidak. Dia tak akan membiarkan Tuhan mengambilnya, sekalipun sudah dicatat oleh takdir, dia tak akan membiarkan Adiknya pergi.
Zitao mengusap wajahnya, Mengehela nafas kasar dan berlalri menju gedung apartemen yang berada 5 meter dihadapnya.
.
.
.
Lain halnya dengan Kris ia baru saja selesai menikmati quality timenya di kamar mandi dengan ditemani aroma terapi yang menenangkan jiwanya. Bibir sensualnya menyunggingkan senyum penuh makna. Kris membuka kelopaknya dan memperlihatan sepasang coklat jernih sebagai warna irisnya. Pria itu sepertinya sudah tahu jika dia bakal kedatangan tamu malam ini, atau mungkin memang menantikannya. Terima kasihlah pada Chanyeol yang sudah memberitahu nya bahwa Zitao menemui nya untuk menanyakan di mana dirinya tinggal.
Kris segera berdiri dari dalam air, melilitkan handuk hitam pada pinggul, kemudian mengacak rambut pirang cepaknya yang masih basah seakan dengan cara itu dia bisa mengeringkannya.
Ia keluar dari kamar mandi dan menuju ke lemari untuk berganti pakaian, sebelum bunyi bip bersala sari luar apartemenenya menghentikam aktivitas nya untuk mengambil calvin klein.
Jemari Kris memutar knop lalu2mendorongnya keluar, bersamaan dengan munculnya sosok cantik nan mengagumkan.
"Huang Zitao senang melihat mu disini." Kris berbasa-basi. Isi perutnya mendadak seperti terkena serangan gelombang air pasang. Zitao berdiri dihadapannya, dengan seragam sekolah yang satu kancing atasnya terlepas dan bernatakan di sisi bawah. Keringat yang mengalir membasahi wajah ayu nya justru semakin membuat kesan sexy di maat Kris.
Bibir warna persiknya yang tak berhenti mengeluarkan deru nafas lelah akibat berlari membuat Kris kian bergairah, ia tak sabar ingin menjilat setiap sudut luar dan isi benda mungil itu dengan lidahnya. Dan jangan lupakan mata sayu nya dengan lingkaran hitam samar justru melebur menjadi satu keindahan dalam sososknya.
Kris mempersilahkan nya masuk, lalu Zitao melenggang dengan gemetar masuk kedalam apartement ini seperti seorang tahanan yang hendak memasuki penjara. Gematar dan dipenuhia rasa takut.
Mata Zitao menangkap seluruh visualisasi disekitarnya. Ruang tamu bergaya minimalis modern dengan perobot minim tapi mewah, dominasi warna merah tua, putih, dan hitam menyebabkan semua ruangan didalam apartemennya terlihat lebih luas dua kali dari ukuran aslinya, karena tak ada sekat apapun, dia bisa melihat keranjang berukuran king size di hadapannya. Acara mengamati apartement milik kris itu terhenti ketika Kris berjalan di sampingnya kemudian duduk diranjang berwarna merah maroon di hadapannya.
"Jadi katakan tujuan mu datang kemari?" Tanya Kris denagn senyum mengejek penuh artinya.
"A-aku menerima tawaran mu" jawabnya lirih namun masih ditangkap Kris.
"Kau tau... " Kris bangkit dari duduknya dan menghampiri Zitao yang mengambil langkah mundur. Namun tubuh itu berhenti ketika Kris menarik lengan nya dengan perlahan dan mendekatkan tubuh mereka.
"...waktu itu aku benar-benar mengharapkan jawaban yang berbeda dari bibir ini, namun tindakan mu ini justru membuat ku sepenuhnya yakin siapa dirmu sebenarnya"
Kris mengusap bibir persik itu, Zitao memejamkan matanya menikamti setiap sentuhan yang sebenarnya ia rindukan sedangkan isi kepalanya mencoba mengingat setiap kalimat yang dimaksud oleh Kris.
Falahback
A/N : Ini terjadi ketika Zitao pertama kali masuk ke sekolah Wu Internasional High School setelah kembali ke Beijing.
Sekarang dia tengah berdiri di cafetaria dengan nampan yang membawa danging panggang bertabur wijen diatasnnya, lengkap dengan daun selada sebagai pendamping dan tak lupa sekaleng cola berada di tangan kirinya. Dia baru saja tiba di sini setelah berkutat dengan logaritma pagi ini. ia berdiri disamping Chen chairmate nya dikelas mathematic. Untuk melihat disudut mana mereka akan menyantap makanan mereka.
"Bagaimana kalau disana?"
Sedangkan yang ditanya mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru untuk melihat dimana ia akan menikmati waktu istirahatnya.
Mata itu dibawa ke sekeliling cafetaria sebelum, berhenti pada seseorang didepan sana yang juga tengah memandangnya. Rambut secerah mataharinya yang tak pernah berubah. Hidung yang tinggi menjulang dengan sombongnya.
Zitao hafal persis bagaimana struktur anatomi wajah di hadapannya.
Sedang pemuda disanapun sama menatap lekat Zitao seolah ia baru menyadari bagaimana Tuhan menciptakan Zitao dengan sempurna.
Tatapan mata mereka saling bertaut, ada binar kerinduan yang terpancar. Dengan rasa kasih sayang yang tak pernah hilang justru semakin berkobar.
Walau ada jejak rasa perih dihati yang justru semakin mengakar.
Tapi tak bisa dipungkiri hati ikut andil bagian dan berkata masih mengingkan orang yang sama untuk menempati sisi terdalam disudut hati masing-masing.
Zitao lebih dahulu memutuskan kontak mata mereka setelah tangannya diseret oleh Chen menuju meja didekat jendela. Tepat 2 meter dari singgah sana Kris berada. Lain halnya dengan yang Kris masih menatap tubuh itu hingga mendarat dikursi dengan membelakangi posisinya.
"Perasaan ku saja atau Kris sedang melihat ke arah kita?"
Chen Si penanya dengan sumpit yang masih apik bersemayam dimulut nya bertanya pada Tao yang justru masih sibuk dengan daging yang di gelung di daun selada sebelum masuk dengan indah dalam mulut kecilnya.
"Perasaan mu saja Chen".
"Ya, aku serius Zi dia tak berhenti menatap ke meja kita"
Kini chen melihat perlahan melalui sudut mata nya.
"Sudahlah cepat habiskan makananmu atau aku yang akan menghabiskan nya?"
"Arraseo ahjuma" bibir chen mengkrucut kucu menimbukkan gelak tawa dari Zitao.
"Ya, meskipun aku tak paham dengan bahasa ibumu bukan berarti aku tak tahu kau mengataiku hal yang jelek tadi, iya kan?"
Zitao tertawa pelan saat melihat airmuka Chen yang seolah menjelaskan kata 'dari mana kau tau' terlihat disana.
Meskipun pelan bukan berarti tak terdengar hingga ke sudut meja dimana Kris berada.
Suara yang sama indahnya dengan seseorang menenangkan nya ketika ia jatuh dari sepeda.
Suara yang menggemaskan saat merengek pada nya untuk dibelikan satu cup ice cream.
Suara yang menggairahkan saat ia menubruk inti pusat di dalam tubuh itu.
Suara yang sama, karena mereka memang berasal dari orang yang sama.
Kris mengingat segala kenangan nya bersama si pemilik suara. Dibarengi dengan rasa sakit yang mencekik hatinya.
Brak.
Cukup kris menikmati rasa sakit nya, ia beranjak dari cafetaria, meninggalkan sejuta pertanyaan pada Chanyeol dan Sehun yang sedari tadi menemani waktu istirahatnya. Ia sedikit muak-ah bukan banyak bahkan- dengan ini semua, dia butuh pelampiasan agar bisa melupakan sedikit rasa sakit yang mencekam ulu hatinya.
"Kris kau mau kemana!"
"Sudahlah hyung kita nimati dulu saja paha ayam ini, mungkin dia sedang kesal"
Kembali ke meja Zitao dan Chen mereka menghentikan aktifitas mereka saat mendengar suara gebrakan dari seberang sana.
Zitao tak bernai menoleh atau sekedar melirik siapa pelakunya. Chen yang menyadari suasana menjadi mencekam mencoba mencairkan suasana.
"Setelah ini mau aku antar untuk berkeliling"
"Em" zitao denagn singkat menjawab.
Kau membuat semuanya tampak menggelikan.
Berhenti memberikan warna pelangi dalam hidupnya
Kalau kau juga menghitamkan dunianya.
.
.
.
"Di sebelah sana adalah ruang Auditorium, tahun lalu aku bernyanyi disana saat ulang tahun sekolah" Chen dengan bangga mengatakan hal itu walau saat ia bernyanyi, dia sedikit lupa karena bahasa chinanya masih belum sebagus sekarang.
"Benarkah?"
"Bukankah kau bilang pernah bersekolah disini saat menengah pertama?"
"Eum, sampai kelas dua lalu aku pindag ke Qingdao"
Mereka berjalan sepanjang koridor digedung Artistic, dimana kegiatan belajar seperti olahraga, seni dani Sastra dilangsungkan digedung dengan warna identik biru muda di padu dengan putih gading ditiangnya.
"Ini Ruang workshop untuk murid yang mengambil seni Rupa dan disana... karya Tuhan yang paling indah"
Dari pintu berwarna coklat kayu keluar seorang dengan pipi setebal kulit bakpao yang mengalihkan perhatian Chen dari semerawutnya dunia.
"Ya?" Zitao mengikuti kemana arah pandang Chen berlabu.
"Hai chen?"
"Xiumin hyung anyeong" Chen menyapa seseornag bertubuh mungil dengan bahasa yang belum pernah Zitao dengar sebelumnya.
"Ah Tao, dia Kim Minseok"
"Kim? Korean? Again?" sedikit menghela nafas, saat ia mengetahui betapa banyak nya warga korea yang ia temui saat ia kembali disini.
"Kim Minseok, atau Xiumin"
"Atau Baozi, pipi mu mirip dengan makanan berwarna putih itu. Aku Huang Zitao" Zitao menerima jabat tangan dari Xiumin dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Kau orang ke sekian yang mengatakan itu" Xiumin yang nampak bosan dengan panggilan it memegangi pipinya. Membuat gestrur agar pipinya bisa tirus dalam sekejab.
"Its cute xiumin ah"
"Em, Zi dia berada di tingkat 3"
"Ah, maafkan aku ge aku tak tahu"
"Sialan kau, kenapa tak memberi tahu ku lebih awal kim"
Zitao berbisik pelan ke telinga Chen. Sedikit memberikan tinju pelan diperutnya.
"maafkan aku, tapi Zi emm.. mau kah kau membantu ku?" Chen menaik turunkan alisnya.
"Apa?" Tao sedikit menaikan suaranya.
"Kau tau jelas maksud ku" Tao melirik kamana mata Chen berada.
"Aku tau sekarang, jadi ini taktik mu, baiklah tunjukan dimana ruang literature berada dan aku akan dengan senang hati meninggalkan mu dengan Xiumin ge" jawab Tao dengan penekanan di setiap katanya agar Xiumin dan Chen mengerti maksud katanya.
"Ikuti koridor ini, setelah itu kau ambil kiri dan ruang kelas literature mu berwarna putih gading di bagian pintunya"
.
.
.
Ingatkan Zitao untuk memukul kepala Chen saat ia menumuinya nanti. Dia sudah berada digedung dimana Chen memberikan petunjuk dimana kelas literaturenya berada nanti, dimana ruangan itu juga mempunyai cat berwarna putih gading dipintunya dan sialnya Zitao baru menyadari bahwa semua pintu digedung ini berwarna putih gading. Dan sialnya lagi istirahat akan berakhir dalam waktu 15 menit.
Dia sudah membuka beberapa pintu berharap ada beberapa murid untuk ditanyai tapi berakhir ruang itu kosong tanpa penghuni. Ia bawa kaki rampingnya melihat sekitar, disini tak ada seseorang yang bisa ia tanya, mungkin masih ikut berjubel di cafetaria..
Tersisa 3 ruangan yang belum ia buka. Dan ia kini berada di ruangan lain siap membuka pintu.
Ckleck
Bukan aktifitas ajar mengajar yang Zitao lihat kini, bukan pula seorang guru yang tengah mengoreksi hasil pekerjaan siswa.
Melainkan...
"Aahhh Krishh Fasterrhhh"
"Kau begitu sexy Tiffhhh eunggh"
"Ahhh Krishh berhentihh adahh orang di depan pintuhhh"
Mereka, dua sejoli yang tengah mamadu kasih. Si wanita dengan tergesa merapikan bajunya. Setelah keduanya menghentikan aktifitas mereka. Sedang si pria nampak jengah karena kegiatannya baru saja di ganggu oleh kedatangan Zitao.
Si wanita beranjak pergi, begitu pula Zitao yang ingin melarikan diri
Tapi...
"Tunggu"
"Apa?" Bukan Zitao yang menjawab melainkan Tiffany. Tapi entah kenapa Zitao ikut berhenti saat pemuda itu mengtakan kata 'tunggu' seolah itu adalah panggilan untuknya.
"Mau aku bantu memasangkan Bra mu?"
"Sialan kau" Tifanny pergi meninggalkan dua manusia bodoh yang egois dengan perasaan masing-masing. Dua manusia paling munafik yang mengingkari rasa cinta yang tumbuh subur dihati mereka.
"Kau mau kemana Huang?" Zitao terkejut saat Kris memanggil namanya.
"Atau aku harus memanggil mu peach hem?"
Akal sehatnya menyuruhnya untuk pergi, tapi kalah cepat dengan tarikan yang diberikan Kris pada pergelangan tangannya, tak lupa kakinya menutup pintu.
Lalu Kris mendorong tubuh Zitao, ke dinding memenjarakan tubuh ramping itu dengan miliknya. Dia mempertemukan apa yang menjadi candunya dulu, bibir warna persik kesukaannya, ia menekan bibir Zitao melumatnya dengan kasar sementara tangannya menahan sepasang tangan Zitao yang terus memberontak disisi kepalanya.
"Eunghh"
Kaki Kris bergerak membuka kedua kaki Zitao dengan lututnya, dan menggesek selangkangan Zitao dengan kakinya, menghasilkan jeritan tertahan diantara ciuman mereka.
"Rasa mu masih sama"
Kris melepaskan tautan mereka kemudian, menyeringai bangga melihat hasil kerjanya yang mengagumkan. Zitao berkali lipat lebih berantakan dari sebelumnya dengan lelehan liur di bibirnya yang membengkak, napas yang terengah karena kehabisan udara.
"Yifan, berhentihh"
"Menggelikan saat mendengar nama asli ku di sebut oleh bibir ini"
Kris mengecup bibir Zitao, melumatnya singkat. Sedangkan tangannya ia bawa menuju pusat tubuh Zitao. Meremasnya pelan dan memberikan efek buruk pada tubuh Zitao. Ia menahan desahannya saat Kris semakin intens memberikan pijatan disana.
Tangannya bertumpu pada pundak Kris, tulang kakinya seolah mencair saat Kris tak henti-hentinya bermain di area selangkangan nya.
"Yifaanh"
"Berhenti memanggil ku seperti itu, hanya keluarga dan teman dekat ku yang boleh melakukannya dan dalam hal ini kau bukan keduanya" Jawab Kris yang tenang berada di leher Zitao, memberikan kecupan dan gigitan disana.
"Kumohon hentikannh"
"Kita selesaikan dalam waktu 10 menit maka aku akan menghentikannya tapi, jawab 'tidak' pada setiap pertanyaan yang aku ajukan, kau mengerti?"
Zitao menangguk kecil di ceruk leher Kris. Sedikit bingung harus menjawab apa karena tangan Kris mengancurkan akal sehatnya.
"Apa benar itu dirimu?"
Pergerakan tangan itu berhenti begitu pula Zitao yang diam dan tak berniat mengejar hasratnya. Dia tau apa yang di maksud Kris. 'pertanyaan yang sama dengan dua tahun lalu'. Dia sendiri mendorong tubuhnya dan Kris menciptakan sedikit jarak. Masih menunduk. Menghindari kontak mata dengan Kris.
"Apa itu kau?" Kris membawa wajah Tao untuk mendongak, ia menatao Zitao lekat, mencari sesikit kebohongan di mata panda milik Zitao. Tapi nihil.
"Maaf"
"Aku tak butuh kata maaf, aku hanya ingin kau menajwab tidak' apa susah nya?" Kris membawa wajah Tao semakin mendekat dengan menarik kerah lehernya.
"Apa benar kau yang berbaring diranjang bersamanya waktu itu?"
Tao semakin menundukan dirinya, tak ada kalimat penyangkal atau balasan yang dapat ia karang untuk di ajukan kepada Kris karena setia pertanyaan itu menghasilkan jawaban yang sama. Ya. itu mutlak dirinya.
"Sebenar nya siapa dirimu? Jalang yang suka menjajakan tubuhnya?"
Emosi yang diperlihatkan Kris tak ada beda nya dengan dua tahu lalu. Beda nya tak ada berbagai foto yang bisa ia lempar sekarang, dimana foto tersebut menunjukkan Zitao tengah berbaring dengan lelaki dibawah selimut putih yang sama tanpa memakai benang apapun di dalamnya.
Dan disaat itu pula Kris tahu Melepaskan adalah bukti yang paling sempurna dalam mencintai seseorang.
Ia menyuruh Zitao meninggalkan hidupnya. Tapi hatinya menolak untuk di isi oleh orang lain selain Zitao.
"Eunghh"
Satu kancing pertama dari seragamanya terlepas.
Dengan jeritan nikmat yang ia lempar saat Kris mulai menggigit pundaknya.
"Apa kau mendesah seperti ini ketika bersama nya?" Bodoh jika Zitao menjawab tidak karena itu kenyataan nya. Pikiran Zitao kacau tidak bisa menahan wajahnya untuk tidak terlihat menikmati sentuhan Kris dan Kris menyeringai untuk itu.
Kancing kedua terlepas, bersama lenguhan Zitao yang lolos saat Kris mulai turun mengerjai tonjolan merah muda didadanya.
"Apa kau melakukan itu karena kau menyukai dia dibanding diriku?" Zitao menggelengkan kepalanya kali ini. Kris merasa lega cinta nya tak terbagi, walau hati nya masih merasa sakit yang teramat perih.
"Lalu apa?" Zitao semakin mencengkram pundak Kris saat Kris kembali menggigit lehernya.
Kancing ketiga dibuka dan menyisahkan dua kancing lagi maka tubuh Zitao akan terlihat dengan jelas.
"Apa aku tak cukup memuaskan dirimu?"
"Ahhhh"
Dan bodohnya seorang Kris Wuu Desahan itu diartikan 'iya' olehnya karena saat ini akal sehatnya tertupi oleh rasa emosi.
"Tidakkhhh Yif-eumh"
Kris kembali membungkam bibir kecil berwarna persik miliknya. Melumatnya dengan gerakan berantakan.
Kancing ke empat terbuka dimana kulit putih khas asia nya terlihat sepenuhnya.
"Apa kau melakukannya karena uang"
Zitao mengangguk pelan di perpotongan leher Kris. Pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama. Tak tahu harus berkata apa, ada rasa kecewa di lubuk hatinya. kenapa Zitao melakukannya untuk uang? Sedangkan kekasih nya adalah seorang yang mempunyai kekayaan melebihi orang yang sudah menidurinya.
Kris berusaha tak mempercayai perkataan orang-orang itu dua tahu silam, yang mengatakan Zitao adalah pelacur murahan yang menjajakan tubuhnya untuk di beri sejumlah uang. Dia percaya pada Zitao karena kekasih nya itu tampak polos dan murni. Zitao tak mungkin melakukan hal menjijikan itu. Dia ingin mendengar kata 'tidak' bukan kata yang justru membuat luka nya seperti ditaburi oleh garam.
"Jadi jawaban mu tak berubah?"
Kris mendorong tubuh itu, menciptakan sekat diantara mereka. Ia melepaskan tangan nya dari seragam milik Zitao.
Kancing kelima masih terkait, bersyukurlah karena bel tanda waktu istirahat telah berakhir. Zitao jatuh ke lantai, sedang Kris mengusap wajahnya kasar.
Kris menjatuhkan tubuhnya bertumpu dengan lututnya, mensejajarkan tubuhnya pada Zitao. Ia bawa tubuh Zitao ke dalam pelukan nya. Mengusap surai hitam arang milik Zitao dengan lembut.
Jika kau fikir Kris melakukan nya karena rasa kasih, kau salah ia ingin membuat hati Zitao remuk redam seperti miliknya. Ia ingin membuat Zitao merasakan apa yang ia rasakan dulu. Namun yang tidak diketahui oleh Kris adalah Zitao jauh lebih hancur dari pada dirinya.
"Lain kali jual dirimu padaku jika kau memang membutuhkan uang" Bisiknnya pelan ditelinga Zitao. Kris bangkit dan meninggalkan Zitao dengan air matanya.
Kau tau bagimana cara menyakiti seseorang dengan kehadiran mu.
Kau terlalu ahli dalam mempermaikan perasaannya.
Lupakan dulu bahwa kau yang bisa membuat senyum terlukis di wajahnya.
Karena sekarang kau adalah orang yang menghadirkan tangis dalam kehidupannya
Flashback end.
"Jadi kau menjual tubuh mu? Lagi?"
Kris menekan kata 'lagi' untuk menyinggung perasaan Tao. Tapi anggukan mantap dari Zitao membuat rasa benci dalam diri Kris kian menjadi.
"Lalu, Tunggu apa lagi lepaskan pakaianmu? "
"Tapi kau belum-"
Zitao tak melanjutkan ucapannya kala ia melihat Kris mengeluarkan benda persegi di atas ranjangnya, kemudian mendekatkan ke telinga nya. Zitao melihat Kris berbicara dengan seseorang disebrang sana.
"Lakukan" setalah selesai berbicara Kris menyerahkan handpohone itu kepada dirinya.
"Ada yang ingin bicara denganmu"
'Ni-nihao"
'Kita akan melakukan melakukan operasi untuk adik anda Tuan Huang'
"Tapi aku belum membayar b-biaya operasi nya?"
'Semuanya sudah ditanggung oleh Tuan Muda Wu'
'Terima kasih'
Zitao mengembalikan handphone kepada Kris melalui jarinya namun saat hendak menarik tangan nya tangan Kris justru lebih dulu menarik nya kencang dan membuat nya jatuh diatas ranjang dengan Kris yang berada di atasnya.
"See? Aku sudah melakukan keinginan mu sekarang giliranku? Lepaskan pakaian mu"
"Apa-"
"Apa aku harus mengulangi nya lagi?"
Detik berikut nya Tao melakukan nya, melepas kan satu persatu kancing seragam nya. Kris tak mempunyai kesabaran yang lebih dan...
Krak
-Kancing seragam itu berhamburan, Kris merobek seragam milik Tao. Bibir Kris menutupi Bibirnya. Panas menyentak ke dalam tubuhnya. Sekalipun Zitao sudah mengantisipasi hal itu, ia masih terkejut pada intensitasnya.
"Krishh ahhh"
Kris menggesekkan dirinya pada Zitao dan Zitao hanya bisa berbaring pasrah diranjang selagi lidah Kris menggali makin dalam, bersamaan dengan itu Kris mendorong tubuh bawahnya pada Zitao walau masih tertupi oleh kain penghalang. Kris mendominasinya, lidahnya mendorong masuk dan menarik keluar, menirukan gerakan bersenggama. Pegangan Kris di rambut Zitao mengencang, tubuhnya menyerbu tubuh Zitao sepenuhnya.
Zitao merasa linglung dan tersesat seraya berpegangan pada Kris ketika Kris menciumnya, tangannya mencengkeram Zitao, menekannya padanya. Tangan Kris bergerak ke lehernya, mengelilinginya dan menyentuhnya, lalu meluncur ke pinggangnya dan mencengkeram Zitao dalam pegangan yang tak dapat dikompromikan.
Pada saat bersamaan keterkejutannya hilang dan kenikmatan yang intens mengalir di
pembuluh darah Zitao. Jadi inilah. Inilah yang sesungguhnya. Kris menciumnya. Zitao memebawa tangannya ke atas dan mengalungkan di seputar pundak Kris, untuk menyusupkan jemarinya di rambut Kris. Zitao beraroma nikmat. Panas gairah menguar darinya.
"Dan apa kau tau bagiaman hancur nya diriku melihat kau bersamanya?"
Zitao memeluk Kris lebih erat. Apakah Zitao meenyesali perbuatannya? Sesungguhnya tidak, karena dia begitu merindukan tubuh diatasnya, karena ia merindukan bagaimana cara Kris menyentuhnya.
Kris mengangkat kepalanya dan memandang ke dalam mata Zitao.
"Katakanlah kau menikamti ini," perintahnya, suaranya serak.
Zitao menganggukkan kepalanya ketika jari-jarinya mengusap
kepala Kris. Kris meluncurkan tangannya dari lekukan pinggang Zitao ke wajahnya. Ia menangkup tulang pipi Zitao dengan tangannya "aku merindukan wajah ini" ucapanya dalam dan rendah, nada menuntutnya adalah mutlak.
Zitao menghirup udara dan mengamati Kris dalam keheningan. Sekarang sudah jelas semuanya. Kris melanjutkan, "kalau saja dulu kau menceritakan semuanya padaku, kau tak perlu menjual tubuh ini padanya" Katanya lembut denagn bibirnya mencium pipi Zitao dan merambat ke telinganya.
Zitao merasakan sentakan aliran listrik kedalam syarafnya ketika ia merasakan Kris mencium rambutnya.
Kris memegang kedua pergelangan tangan Zitao dengan satu tangannya yang kuat dan tangannya yang lain menyentuh leher Zitao.
"Krishhh"
Pikiran Zitao pecah berkeping-keping. Oh, Tuhan, godaan ini tidak mungkin dilawannya. Ia mati rasa.
Kris merasakan detakan jantung Zitao yang menggila. Tubuh Zitao bergetar untuknya. Ia melihat mata Zitao bergejolak panas ketika Kris menekankan tangannya di leher Zitao sewaktu Zitao terengah-engah.
"Cepatlah Krishhh"
Kris mengangkat tubuhnya, dan mulai melucuti seluruh benang yang menyelimuti tubuh mereka.
Dalam hitungan detik, mereka berdua telanjang dengan sempurna, Kris kembali mengikat pergelangan tangan Zitao dengan tangannya yang besar dan menariknya ke atas kepalanya, memenjarakan dirinya. Dia mulai memasukinya dengan segera.
"Aku ingin perlahan-lahan."
"Akhhhh"
Kris menusuk dengan dorongan pendek dan mengeluarkan kata-kata dari bibirnya saat ia menggoyang di dalam Zitao. "Aku. Ingin. Melakukannya. Dengan. Lembut." Napasnya
mendesis keluar saat ia menusuk dirinya sepenuhnya. Zitao pening di bawah serbuan dan keterbatasan gerak karena tangan Kris pada dirinya. Ia mengeluarkan desahan saat Kris menarik pinggulnya kembali lalu mendorong ke dalam dirinya lagi dengan brutal, sekali, dua kali, dan kemudian tiga kali.
Tubuhnya mengejang di bawah lecutan Kris dan suaranya kasar di telinganya saat Zitao berkata,
"Krishhh s-sakit akhh"
Napas dan kata-kata Zitao yang lembut membasuh Kris. Menenangkan kebuasan dalam darah Kris dan ketidaksabarannya didinginkan saat berada di dalam diri Zitao. Memiliki
Zitao di bawahnya. Dia merasakan kedamaian dan mengambil napas menenangkan saat ia
membiarkan rasa, aroma Zitao menghanyutkannya. Gerakannya melambat, dan Kris dengan malas meraih dan mulai bermain dengan junior milik Zitao. Zitao merasakan raungan di telinganya saat gairah menusuknya sekali lagi. Junior Kris yang semakin keras di dalam diri Zitao, meregangkannya dengan setiap dorongan saat ia meluncur keluar dan kemudian masuk kembali ke dalam.
Tangan Kris di junior Zitao menggodanya, dan pemahaman yang fantastis bahwa ia bercinta dengan Kris menginvasi indranya. Itu terlalu banyak untuk ditahan, dan tubuh Zitao mulai mencengkeram bahu Kris saat Zitao mencapai puncaknya.
"Aaahh akuhh lelahh Krishhh"
desahan itu tak terkendali. Sedangkan Kris hanya menyeringai puas saat melihatnya.
Kris tersengal hebat ini bukan seks pertama nya dengan Zitao tapi dia tak bohong bahwa Zitao membuat hasratnya menjadi semakin meninggi, sekalipun ia melakukan nya dengan Tiffany atau dengan para jalang yang pernah ia sewa untuk menuntaskan hasrat nya mereka tak samaada dengan Zitao
"Ohhh Krishhh"
"Yahh seperti itu desahkan nama ku seperti saat pertama kali kita melakukannya"
Kris menghujamkan dirinya lebih dalam, mencari titik didalam tubuh Tao untuk mengantarkan nya ke puncak hasrat bersama.
Kris merasakannya saat orgasme mengambil kendali atas tubuh Zitao. Itu menyengatnya dan memancingnya agar mendorong lebih keras ke dalam Zitao. Lebih keras, lebih cepat, sampai gelombang intensitas mengalahkannya dan menarik pikirannya jauh dari tubuhnya sambil mendorong ke dalam Zitao dan bendungan terbelah dan Kris meledak dalam ekstasi.
Momen setelah itu dipenuhi dengan napas yang tidak beraturan, napas Kris dan Zitao.
"Akuhhh akanhh eungh.. Krishh akh"
"Bersamahhh"
Tunggu...
"Tidakkhhh janganhh di dalamh akhh"
"Arhghhhhh"
Terlambat.
Kris ambruk di atas tubuh Tao yang sudah kelelahan dengan aktifitas mereka berdua. Sedangkan Tao, Mata nya mulai, terpejam. Kris dengan perlahan mengeser tubuhnya kesamping, berbaring disamping Tao yang sudah mulai terlelap. Ia arahkan jemarinya ke wajah Zitao dan mengusapnya perlahan.
"Tidurlah dan aku berharap saat kau terbangun nanti kau hanya akan menjumpai kebahagian dalam hidupmu"
.
.
.
.
.
To be continued
Hello... thank you for review, fav, and follow this absurd story.
Ah, this ff actually i've been uploaded on Facebook before with same title but different content.
Bingung ya sama alurnya? Sama. Saya newbie jadi kalau ada typo(s) ya nikmati saja. Atau alurnya yang maju mundur ya maafin juga. Ada yang mau ngasih saran siapa yang udah ehem nidurin Zitao? Yang as hot as Kris Wu pastinya, Kalau bisa aktris Korea sih kalo Tiongkok kurang greget kayaknya, tapi terserah lah. Kasih saran dikotak review ya^^ Sekali lagi Terima Kasih See you...
