Golden Duo

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto dan Highschool DxD Milik Ichie Ishibumi

Pairing : Uzumaki Naruto x Asia Argento

Warning : AU,OOC, SMARTNaru

Chapter 2 : Keputusan

Waktu telah menunjuk sore hari ketika Naruto tiba di bandara Internasional Narita yang terletak di Prefektur Chiba Tokyo. Tak butuh waktu lama baginya untuk segera menghampiri narasumbernya. Oleh karena itulah, ia tak kaget ketika menemui gereja yang ia datangi dalam keadaan sepi. Kemudian, ia membuka pintu gereja tersebut, menemukan tidak ada satupun umat selain seorang biarawati yang sedang berlutut di depan altar, salib sucinya dijunjung tinggi penuh kebijaksanaan. Seakan menyadari kehadirannya, biarawati itu menghentikan sejenak lantunan doanya.

Usia biarawati itu sepertinya tidak jauh berbeda dengan Naruto. Ia memiliki mata berwarna biru teduh dan rambut perak yang menjuntai panjang hingga punggungnya. Ia mengenakan jubah hitam selayaknya biarawati pada umumnya,

" Anda Uzumaki Naruto bukan ? " ujar Biarawati itu lembut.

" Tepat " Naruto menganggukkan kepalanya, melewati beberapa baris bangku hingga berhenti pada titik dimana hanya altar yang memisahkannya dengan sang biarawati. " Dan kupikir kau adalah perwakilan gereja di sini dan merupakan narasumber yang kucari. "

" Seperti itulah. Perkenalkan, saya adalah Cassie. Perwakilan sementara pihak Gereja untuk kota Kuoh."

" Perwakilan sementara ? " tanya Naruto bingung.

" Benar sekali. Semenjak kedatangan pihak iblis ke Kota Kuoh, akses pihak Gereja ini menjadi semakin terbatas. Sebenarnya aku ditempatkan di Fuyuki, yang jaraknya cukup dekat dari sini, namun pihak Gereja meminta untukku tetap mengurus di sini hingga akhir bulan " Jelas Cassie.

" Begitu ya " Naruto mengangguk lagi. " Mengenai iblis tersebut, apa mereka berasal dari 72 Pillars ? "

" Gremory and Sitri" jawab Biarawati itu lirih.

Naruto mengangguk kecil " Pillar dari Lucifer dan Leviathan saat ini hm"

" Tepat sekali, jadi jika misimu berhubungan dengan mereka, kusarankan untuk mengabaikannya saja karena itu sama dengan bunuh diri. Kau mungkin dapat mengalahkan mereka, tetapi Maou yang gusar tidak akan beritikad baik, terlebih dengan gencatan senjata di antara 3 fraksi"

" Tenang saja, aku beruntung karena tidak memiliki rencana untuk berhubungan dengan mereka. Terlebih, targetku adalah seseorang yang dikenal orang-orang gereja." Ujar Naruto, tidak ingin membuat biarawati itu berpikir bahwa ia sejenis Exorcist yang tanpa pikir panjang dapat memulai perang antara fraksi.

" dan siapa targetmu itu ? " Biarawati itu bertanya balik.

" Asia Argento" jawab Naruto, tidak menyembunyikannya sama sekali dari Cassie, terlebih ia membutuhkan Cassie untuk mengkonfirmasi lokasi Asia.

" Gadis suci yang jatuh " gumam Biarawati itu lirih, kepalanya ditundukkan untuk menyembunyikan kesedihan ketika mengingat cerita tentang sang 'Holy Maiden' yang kini telah dicap sebagai penyihir. "Sungguh kasihan, semoga Tuhan mengasihi jiwanya" Biarawati itu membuat simbol dengan salibnya, menundukkan kepalanya seraya mengantarkan doa dalam diam kepada God of Bibble. " Amen"

Naruto diam selagi biarawati itu berdoa, sebelum menanyakan pertanyaan selanjutnya " Apa kau tahu keberadaannya sekarang atau setidaknya dapat mengkonfirmasi bahwa ia benar-benar berada di Kuoh seperti yang para disebutkan dalam file misi ku ? "

" Informasi itu sudah cukup akurat. Aku beberapa kali menemukannya di kota Kuoh. Asia Argento kemungkinan bersama dengan grup Exorcist Heretic dan Malaikat Jatuh yang datang ke Kota Kuoh sekitar seminggu yang lalu."

" Malaikat jatuh di teritori iblis ?"

" Mereka menggunakan gereja terbengkalai di pinggir kota sebagai markas mereka sehingga pihak iblis tak dapat berbuat apa-apa mengingat perjanjian lama bahwa gereja merupakan milik Malaikat atau Malaikat jatuh dimanapun itu berada"

" Kau mengumpulkan informasi ini sendiri ?"

"Familiarku yang melakukannya. Ia dapat mengintai sejagat kota tanpa terdeteksi"

" Aku mengerti" gumam Naruto. Penjelasannya sudah membuat ia yakin bahwa biarawati ini tidak buta dengan dunia supranatural, bahkan memilih familiar yang dapat beradaptasi untuk tujuan pengintaian. " Apa kau tahu dimana Asia biasanya berada ?"

"Hmm " Biarawati itu mengerutkan dahinya, yang mana wajahnya menunjukkan ekspresi berpikir keras. "Beberapa kali aku melihatnya di taman sekitar kota dan selain itu ia berada dalam gereja."

" Terima kasih atas informasinya." Naruto menunduk singkat, menunjukkan apresiasinya sebelum membalikkan tubuhnya.

" Oh kau akan segera berangkat ?"

"Aku memiliki misi yang harus diselesaikan"

"Begitu ya." Biarawati itu menutup matanya " Aku tidak tahu apakah misi yang anda bawa itu merupakan jalan kebaikan dari Gereja atau sebagainya, tetapi mengetahui anda sebagai salah satu The Golden Church, aku yakin anda dapat memilih jalan yang benar-benar tepat, jalan yang melindungi kasih Tuhan. Semoga Tuhan membimbing anda selama misi ini, memberikan anda kepercayaan diri untuk menghadapi segala kesulitan. Kekuatan untuk mengalahkan musuh anda, dan kebijaksanaan untuk memilih keputusan yang tepat. Amen"

"Amen" Naruto sontak membalas seraya ia keluar dari gereja tersebut meninggalkan biarawati tersebut. Beban di hatinya semakin bertambah, dan

XoX

Selama hidupnya, Hyodou Issei telah disebut sebagai orang mesum menyedihkan yang tak memiliki masa depan.

Setidaknya itu yang ia rasakan juga, ketika beberapa minggu sebelumnya, kehidupannya berubah drastis. Dimulai dari sebuah kencan menyenangkan yang mana berakhir pada tewasnya ia di tangan partner kencannya sendiri yang ternyata adalah malaikat jatuh. Kemudian, diikuti dirinya yang direinkarnasi menjadi ilbis oleh salah satu senior di Akademi nya, Rias Gremory.

Terlahir kembali menjadi iblis, Issei sekarang memiliki masa depan yang penuh tantangan di hadapannya.

Dan hal itu bermula dari pertemuannya dengan seorang biarawati polos yang bernama Asia Argento. Ia cukup beruntung dapat berkencan dengan biarawati tersebut, namun akhir kencannya kembali berakhir tragis kala partner kencannya kini ditangkap oleh para malaikat jatuh yang mengatakan akan melakukan ritual untuk membebaskan biarawati tersebut dari sacred gearnya, yang berarti membunuh gadis tersebut.

Sekarang, sebagai orang yang baik dan memiliki pandangan ke depan, Issei segera merencanakan untuk menyelamatkan biarawati tersebut, mengabaikan peringatan dari rajanya, Rias Gremory. Beruntungnya, ia memperoleh bantuan dari rekan sesama peerage Rias Gremory, yakni Yuuto Kiba yang merupakan Knight dan Koneko Toujo, bidak Rook

Sebelum mereka menyerang gereja, mereka menunggu hingga tengah malam untuk melaksanakan taktik gerilya. Simpelnya, rencana mereka akan berjalan mulus, tapi takdir memiliki cerita lain bagi mereka semua.

Tanpa diketahui oleh para iblis muda tersebut, selama mereka merencanakan strategi tersebut, sepasang iris biru menatap mereka dari jauh.

Sepasang iris biru dari seseorang yang mungkin akan menjadi musuh atau rekan bagi mereka.

Sepasang iris biru dari Uzumaki Naruto.

XoX

(Sebelum Issei dan Rekannya menyerang)

Naruto memutuskan keluar dari persembunyiannya tepat pada waktu di mana para manusia pada umumnya sedang terlelap. Ia menatap ke langit, menemukan bulan yang bersinar terang di atas sana. Berdiri di depan pintu gereja terbengkalai yang mana bukan hanya berisi Asia Argento saja, tetapi juga beberapa malaikat jatuh dan Exorcist liar .

Exorcist pirang itu menunjukkan tidak ada emosi dari iris birunya yang menatap pintu kayu akan mengantarkannya pada markas musuh. " Apakah ia harus membunuhnya?" Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya semenjak menerima file misi ini dari Mr. Edward. Lagipula, Asia adalah sahabatnya sejak kecil, mereka tumbuh bersama sebelum akhirnya Naruto diadopsi oleh Minato dan Kushina. Ia mengenal baik Asia dari luar dan dalam, gadis lembut dan penuh welas asih itu merupakan korban dari keadaan, korban dari kelicikan iblis yang mengelabuinya untuk melakukan hal yang dilarang. Namun, tidak membunuhnya akan berarti banyak orang yang marah dan sedih, ia tidak menginginkan itu. Lalu, apakah membunuh satu orang untuk kebaikan yang lain, juga berarti hal yang mulia ?

Naruto masih belum menemukan jawabannya.

Targetnya adalah Asia Argento.

Pertama, gadis itu merupakan sahabatnya, salah satu dari sedikit nama yang terdapat dalam daftar dimana ia tak akan ragu untuk mati demi melindunginya. Gadis lembut dan baik hati yang peduli ketika ia terluka. Gadis yang baik hati yang selalu berusaha mendukungnya, kendati dengan segala kepolosannya ketika mereka masih anak-anak, bahkan ketika mereka kembali bertemu saat ia bertugas sebagai pengawalnya. Cahaya hangat yang selalu menemaninya dan menerangi kegelapan dalam kehidupannya.

Apakah ia harus membunuhnya?

Membunuh sahabatnya untuk kepentingan gereja

Untuk kepentingan kebahagiaan banyak orang.

Naruto menutup matanya dan mengambil nafas panjang. Ia masih dilema. Dan ia yakin, jawaban atas dilemanya berada di dalam sana. Ia memiliki jalan hidup yang ia genggam teguh, dan tak ada seorangpun yang dapat mempengaruhinya.

Tekanan demonic energi yang datang dari dalam gereja terbengkalai itu menyadarkannya dari pikirannya. "Asia" bisik Naruto, menepuk keras kedua pipinya hingga meninggalkan jejak kemerahan di sana, Naruto siap untuk menjalankan misinya. Waktunya untuk beraksi sebelum para iblis memutuskan untuk ikut campur dan membuat situasi semakin parah.

Tanpa Naruto sadari, sepasang iris lain menatapnya dengan tajam.

Naruto menarik nafas panjang. " Barrier Technique: Four Shining Flame Battle Barrier" Ia berteriak mendeklarasikan tekniknya.

Empat pedang suci, yang mana ia tanamkan di sekitar area gereja itu sebelumnya membuat barrier berbentuk kubus, yang mana setiap pedang mengeluarkan api suci keemasan yang mengisi barrier sehingga terlihat barrier tersebut terbuat dari api murni keemasan. Jika kita melihat lebih teliti lagi, beberapa segel yang terpasang pada pedang suci itu mulai terbakar, yang mana itu menunjukkan waktu aktivasi barrier tersebut dan sebagai katalis yang bertanggung jawab untuk memperkokoh keempat sudut barrier tersebut.

"Ini memberiku waktu sekitar 1 jam" ujar Naruto seraya memulai langkahnya menuju gerbang utama gereja. Belum jauh melangkah, ia harus berhenti menemukan 3 buah tombak cahaya telah menghalangi jalannya.

" Apa yang kami punya di sini ? Manusia ?" seorang gadis paling kecil berkata dengan nada feminimnya yang terkesan arogan.

" Aku mengira pihak iblis yang akan datang menyerang, tetapi malah manusia ini yang datang" satu-satunya malaikat jatuh jantan terdengar tak begitu senang.

" Lalu, ia kelihatan lemah. Haruskah kita membunuhnya ?" Malaikat jatuh terakhir bertanya dengan nada sindirannya.

Naruto menatap ke atas menemukan ketiga malaikat jatuh yang baru saja menghinanya. Iris birunya kembali ke depan. " Aku tak memiliki waktu untuk menghadapi kalian" Menunjuk ke arah ketiga musuhnya, sinar bulat kecil berkumpul di sana.

" Kheh, hanya sebuah cahaya redup, biar kuperlihatkan cahaya sebenarnya manusia !" Malaikat jatuh jantan yang menggunakan pakaian layaknya detektif dengan arogannya membentuk sebuah tombak cahaya.

Naruto tak mempedulikan bagaimana 3 malaikat jatuh ini meremehkannya, ia memiliki misi yang harus diselesaikan dan ia tak akan membiarkan malaikat jatuh ini menghalangi tujuannya.

" Kheh, dia kehabisan kata-kata ... segera habisi dia Dohnaseek " Malaikat jatuh bertubuh paling kecil menyahut girang. Setuju dengan sahutan rekannya, malaikat jatuh yang dipanggil Dohnaseek itu meluncurkan lurus tombak cahya itu ke arah batok kepala Naruto.

Stab

Naruto menghindar hanya dengan memiringkan kepalanya sedikit.

" Kalian yang minta! "

Stunt Ray

Bola sinar yang berkumpul di depan telunjuk Naruto itu bercabang menjadi tiga, menembak lurus pada malaikat jatuh tersebut.

" Percuma manusia! " Dohnaseek membuat 3 tombak cahaya untuk menghentikan serangan Naruto, namun alangkah terkejutnya mereka melihat 3 sinar bercabang itu meliuk, menghindari tombak sihir mereka, dan berakhir menabrak mereka.

Drap Drap Drap

Ketiganya jatuh, terbaring kaku, seluruh saraf gerak mereka mati seketika.

"Ap – " bahkan berbicara pun mereka tak mampu.

" Sesuai nama tekniknya, ini membuat kalian kaku untuk sementara. Tapi, kalian tak akan pergi kemana-mana" Sebuah lingkaran sihir muncul di samping Naruto, dan dari sana seorang gadis dewasa dengan surai pink panjangnya keluar dengan girangnya.

" Ha'i Ha'i Naruto – sama, lama tak berjumpa. Sekarang apa perintahmu ?" sahut gadis tersebut, menghadap Naruto dalam posisinya yang sedang melayang dibantu dua sayap merpati yang begitu lebar.

" Bereskan mereka selagi aku menyelesaikan misi" ujar Naruto menunjuk ketiga malaikat jatuh yang terbaring tak berdaya di lantai gereja tersebut, mata mereka melebar melihat kehadiran sosok di hadapan Naruto itu.

" Ha'i Ha'i, Jibril siap melaksanakannya! " Naruto mengangguk dan kembali melanjutkan perjalanannya yakni ke basement mengikuti tekanan energi Asia yang semakin melemah.

"Nah, sekarang ... apa yang harus kulakukan pada kalian hm ? " tanya Jibril menyeringai lebar menghantarkan perasaan merinding pada ketiga malaikat jatuh itu.

XoX

Sementara itu, di luar Kekkai, Issei dan dua rekannya, Koneko dan Kiba membisu melihat barrier yang menutupi jalan mereka. Jika bukan karena Kiba, Issei pasti telah terpanggang parah, karena api suci yang membentuk kekkai itu.

Kiba menyarankan mereka untuk mundur setelah menyadari bahwa siapapun yang membuat barrier itu kekuatannya jauh di atas mereka, tapi Issei yang keras kepala menolak strategi tersebut dan berhasil mengajak kedua rekannya tersebut untuk menemukan jalan lain.

Bukannya menemukan jalan lain, mereka malah melihat pemuda yang sepertinya sebaya dengan mereka, menggunakan jubah putih layaknya para pendeta berdiri di depan gerbang utama gereja, dengan 3 malaikat jatuh sombong yang terbang di hadapannya.

Dan ketiganya terkejut dengan apa yang mereka saksikan, sebuah pertarungan singkat, dengan pemuda itu yang menjadi pemenangnya dan ia hanya menggunakan satu teknik. Terlebih kehadiran gadis bersurai pink panjang itu juga semakin membuat mereka terkejut.

" Siapa sebenarnya orang itu ? " bisik Koneko cemas. Ketiganya mulai merasakan perasaan tak nyaman kala gadis bersurai pink itu mengeluarkan cahaya terang yang menutupi keberadaan 3 malaikat jatuh yang tak berdaya lagi itu.

" Aku yakin dia yang bertanggung jawab tentang barier ini, melihat bagaimana ia mengalahkan ketiga malaikat jatuh itu dengan satu teknik saja dan lagi mampu memanggil Angeloid. Siapapun dia yang jelas orang ini berbahaya " ujar Kiba meneguk ludahnya.

Issei perlahan jatuh merosot hingga bertumpu hanya pada lututnya. Tangannya mencengkram erat rumput di bawahnya setelah menyadari betapa tidak bergunanya dirinya.

" Aku mohon Asia, tetaplah selamat" bisiknya. Terlalu fokus dengan ketidakputusasaan itu, mereka tidak menyadari gadis bersurai pink itu tidak lagi berada di sisi mereka.

XoX

" Wow, benar-benar kerja yang bersih Naruto – sama. Ha'i Ha'i " Jibril berdecak girang pada dirinya sendiri, ia masih belum melihat tuannya, namun pemandangan di depannya, di mana para Exorcist liar jatuh tak sadarkan diri berserakan di mana-mana. Mereka tak mati, hanya terdapat beberapa luka lecet, yang ditujukan untuk membuat mereka pingsan.

" ARRGGH ! "

Teriakan itu menarik perhatian sang angeloid, mengepakkan sayapnya sedikit keras, Jibril meluncur kencang melewati koridor yang dipenuhi para Exorcist liar yang telah dikalahkan oleh masternya tersebut. Dan kemudian ia melihatnya, Masternya yang kini telah selesai dengan semua penghalangnya, terbukti dengan satu lagi malaikat jatuh yang jatuh tak sadarkan diri di lantai.

"Kau telah selesai dengan mereka bertiga Jibril ? " tanya Naruto tanpa menatap pada familiarnya itu.

" Ha'i Ha'i Naruto – sama. "

" Kalau begitu, bisakah kau mengurus yang lainnya ... aku akan mengeksekusi misiku. Banyak dari mereka yang menjadi buronan gereja, kupikir Gereja akan senang dengan ini"

" Ha'i Ha'i Aku mengerti" seru Jibril segera menghilang dari sana setelah membawa Raynare dari sana meninggalkan Naruto dan Asia sendirian di basement tersebut.

" Kau tumbuh sedikit lebih tinggi sejak terakhir kali kita bertemu" Naruto menatap sahabat kecilnya " Yah setidaknya kau tumbuh 1 cm satu tahun ini" ia mencoba bercanda untuk meredakan ketegangan hanya untuk gagal dengan menyedihkan ketika gadis itu hanya menatapnya, terlihat bingung. Naruto menghela nafas, " Sudah sangat lama bukan Asia ?" tanyanya lirih membuat mata gadis itu melebar tersadarkan.

Sudah setahun mereka tak berjumpa semenjak ia menjadi pengawalnya, tapi ia tidak terlihat berubah sama sekali. Rambut pirang yang sama, dengan iris biru yang indah namun terlihat dingin sekarang,ia bahkan masih menggunakan kacamata yang sama seperti yang pernah gadis itu berikan.

" Naruto!" Gadis itu memanggil ceria seraya berlari menuju sahabat kecilnya tersebut dan dengan cepat menyelimutinya dengan pelukan hangat yang segera meredakan ekspresi serius di wajah Naruto. " Sudah sangat lama!" ujar gadis itu lirih, mempererat pelukannya pada sahabat kecilnya tersebut. Naruto terdiam, dilemanya semakin bertambah.

" Asia, apa kau tahu mengapa aku kemari ? " Pertanyaan itu pertama keluar setelah reuni singkat mereka.

Gadis itu mendongak untuk melihat ekspresi Naruto dan memiringkan kepalanya dengan imut " Untuk menyelamatkanku ?" gadis itu bertanya balik dengan polos.

Naruto meneguk ludah pahit. Ia menggelengkan kepalanya pelan seraya mendorong gadis itu pelan membuat mereka berpisah. Naruto menghela nafas panjang, mencoba membangun rasa percaya dirinya saat ia menyampaikan misi yang ia bawa " Aku ditugaskan Gereja untuk membunuhmu"

Mendengar itu sontak membuat mata Asia melebar. Ia merasa dunianya berputar hingga kakinya kehilangan keseimbangannya membuatnya jatuh berlutut di lantai " A- apa ? Bagaimana – bisa ? Mengapa mereka ingin .. " Asia tak dapat menyelesaikan kalimatnya, beberapa kata itu keluar secara refleks, tetapi tanpa itu Naruto mengerti apa yang dirasakan gadis itu.

" Itu karena mereka ingin menenangkan masyarakat. Kau tahu, setelah kau diusir dari gereja, bukannya menenangkan para umat, para pengikut gereja malah menginginkanmu untuk dieksekusi. " ujarnya dengan pahit seraya melihat sahabat kecilnya tersebut.

Ia berhenti hanya untuk mengambil nafas panjang, memberi waktu bagi Asia untuk mencerna semua informasi darinya sebelum akhirnya ia tersenyum tipis. " Tapi, aku tak peduli dengan mereka ... kau ingin hidup bukan Asia ? Kau adalah sahabat kecilku dan aku akan melakukan apapun untukmu. Aku bisa memalsukan kematiamu dan membawamu ke tempat yang aman, jauh dari ancaman Gereja. Mu – mungkin kita tak akan bertemu lagi, tapi kau harus tetap hidup!" Naruto menyampaikan sarannya seperti sedang memohon kepada Asia. Ia yakin dapat membuat tiruan untuk tubuh Asia melalui Alkemis, ia hanya membutuhkan sebuah tubuh, yang cocok dengan Asia. Jika ia membakar tubuh tersebut hingga sulit untuk diidentifikasi, mungkin bisa jadi kesempatan untuk menyelamatkan nyawanya dan juga membuat semua orang bahagia.

Asia menatap mata Naruto sebentar, iris hijaunya bertemu dengan iris biru yang telah ia tatap sejak mereka kecil dahulu, ia melihatnya di sana, kesungguhan dalam setiap kata Naruto, sebuah ketulusan dan kesedihan mendalam yang sangat jarang di mata sahabatnya tersebut. Mereka jarang merasakan kebahagiaan sejak kecil, tinggal di gereja di pinggiran kota Roma yang sepi umatnya membuat mereka harus makan sesederhana mungkin, kehadiran mereka sebagai anak yatim piatu yang tidak diketahui asal usulnya pun pada awalnya sempat dicibir para warga. Namun, dengan semua kepedihan itu, Asia tak pernah melihat setitik kesedihan dalam mata Naruto kala itu. Ini sangat berbeda.

Asia menggelengkan kepalanya " Aku tak dapat menerimanya. Kau akan terlibat masalah jika melakukan itu Naruto, kau juga akan diusir jika mereka mengetahui hal ini atau bahkan lebih buruk ... " gadis itu mendadak diam membisu, seperti memikirkan dengan hati-hati setiap kata yang akan ia keluarkan.

" ... "

" Aku melihat bagaimana kehidupan di sini, bahkan aku berteman dengan salah satu iblis di sini. Dia orang yang baik, ia membawaku mengelilingi sekitar kota, menunjukkan banyak hal dan merasakan banyak hal yang aku pikir mustahil."

Naruto mendesah kembali, ia telah berpikir tentang kemungkinan ini " Apa itu adalah iblis yang bersurai coklat ? "

" Jika mungkin, aku ingin kau juga di sini. Aku ingin mengulang kembali saat kita bermain bersama dengan teman-teman baru di sini. " Asia berbisik lirih, dalam pikirannya mulai terbayang gambaran di mana ia membawa Naruto untuk berkenalan dengan Issei, bagaimana Naruto dan Issei akan berteman akrab, ataupun Naruto yang akan menegur Issei kala bertingkah konyol.

" Tapi, aku tahu apa yang akan kau lakukan ... apa yang harus kau lakukan. Karena itu ... " Asia menggeleng-gelengkan kepalanya menghapus genangan air mata di pelupuk matanya. Sejenak Naruto terperangah dengan tatapan lurus dari iris hijau Asia.

" Lakukan tugasmu Naruto" ujar Asia jelas.

" Aku mengerti" Naruto menutup matanya, jika memang itu pilihannya, maka ia seharusnya melanjutkan misinya bukan ? Pedang emas, Goujian, East Excalibur, kini telah berada di tangannya. Ia siap untuk menjalankan misi ini, seratus persen misinya akan berhasil. Asia adalah sahabatnya, sahabatnya yang sangat berharga karena itulah Naruto memilih pedang suci ini untuk mengakhiri hidup dari sahabatnya. Ia menatap Asia sekali lagi, dan hatinya tersayat menemukan setetes air mata turun menyusuri pipi gembilnya.

Dengan ulasan lembut, Naruto menghapus air mata tersebut " Tolong jangan menangis ... " bisik Naruto lirih.

" Tapi kau ... kau akan mengotori tanganmu dengan darahku. Kau akan mengorbankan dirimu untuk ... " dan dengan kata-kata itu, pertahanan Naruto roboh.

Prang

Gulp

Asia melebarkan matanya, ia tidak merasakan kehangatan yang begitu nyaman. Sekali lagi, ia berada dalam pelukan Naruto. " Maafkan aku " bisik Naruto lirih tepat di depan telinga Asia.

" Na-Naruto ?! " Asia terpekik bingung. Wajahnya memerah, jika bukan karena situasinya Asia pasti sudah memekik girang atau terlalu terkejut dengan perubahan suasana mendadak ini.

" Maafkan aku yang begitu bodoh. Misi untuk membunuh sahabatku sendiri ? Kheh, siapa yang peduli dengan hal itu !" Mata Asia melebar mendengar hal itu. Tidak! Naruto tidak boleh berpikir seperti itu, jika terus begini ...

" Mau Gereja ataupun dunia mengincarku karena menyelamatkanmu aku tak peduli lagi. Aku sudah kehilangan banyak orang yang kusayangi, aku akan mengutuk diriku sendiri jika sampai harus membunuh sahabat yang kumiliki sejak bayi " Asia menghentikan niatannya kala irisnya sekali lagi bertemu dengan iris biru Naruto. Iris biru yang kali ini dipenuhi determinasi, ia sudah hafal betul, jika Naruto dalam keadaan begini, tak ada yang mampu mengubah pendiriannya.

" Kau bodoh Naruto! " Suara datar yang memaki Naruto itu menarik perhatian mereka berdua. Keduanya berpaling pada pintu masuk basement, mendengar langkah kaki yang mendekati mereka. Keadaan ruangan yang temaram membuat mereka belum dapat melihat jelas sosok itu, namun Naruto dapat merasakan tekanan energi yang mengerikan dari sosok tersebut dan segera melindungi Asia dengan memunggunginya.

" Uzumaki Naruto, atas perintah Gereja, eksekusi Asia Argento sekarang! " perintah mutlak keluar dari sosok tersebut yang kini telah terlihat jelas dan ia tak lain adalah Dulio Gesualdo!

Naruto melebarkan matanya sesaat, sebelum tersenyum tipis " Aku menolak! ", tangan kanan Naruto yang menjaga Asia agar tetap aman di punggungnya mengeratkan genggamannya pada pundak Asia.

" Melindungi sesuatu yang tak dapat kau lindungi adalah perbuatan bodoh Naruto! "

" Well, beruntung bagiku karena aku tidak pernah mengklaim diriku sebagai jenius. Jika memang pintar berarti membunuh sahabatku sendiri, aku lebih memilih menjadi bodoh selamanya! "

" ... " Asia kehabisan kata-kata, semua keraguannya dan keinginannya untuk melepas Naruto dari masalahnya menguap setelah mendengar kalimat Naruto yang diucapkan dengan tegas itu.

" Kau tidak akan menyerah bukan ? "

" Kau memang sangat mengenalku Dulio "

Keduanya berpandangan sebentar sebelum Naruto memutuskan kontak mata mereka. Melepaskan jubahnya, Naruto menyelimuti tubuh Asia dengan jubahnya sekali lagi. " Kau akan membutuhkan ini untuk sementara Asia "

" Eh ? " Asia bergumam tak mengerti. Namun belum sempat bertanya, Naruto telah bertindak terlebih dahulu.

[Recomended Song : Symbol by Luck Life #ost SNS Season 3

" Jibril! " Angeloid bersurai pink panjang itu muncul di samping Naruto dan segera memberikan sapaan khasnya.

" Ha'i Ha'i Master ... ada yang bisa kubantu hm ?"

" Bawa Asia ke tempat Black Dog. Katakan padanya untuk menganggap ini sebagai penebusan hutang masa lalu "

" Dame, Naruto – "

" Aku akan segera ke sana setelah berurusan dengan Dulio, Asia. Tenang saja kau akan aman di sana " Asia tak diberikan kesempatan untuk membalas pesan itu kala Jibril menteleportnya pergi sesuai dengan pesan Naruto.

" Nah, mari kita mulai Dulio ! " Naruto mengangkat tangannya, memicu Goujian yang terbaring di lantai untuk menghampiri dirinya.

" Kalau begitu, aku akan menunjukkan salah satu koleksiku pula. " Lingkaran sihir emas terbentuk di depan Dulio, perlahan dari sana sebuah gagang pedang menunjukkan dirinya dan ia menariknya keluar menunjukkan wujud senjatanya. Sebuah pedang saber berwarna keperakan dengan berbagai motif artistik pada bilah pedangnya yang melengkung.

"The Glory of Ten Powers, salah satu pedang suci dari tanah Tiongkok. Rumor mengatakan bahwa pedang itu telah hancur dan dijadikan sebagai jimat yang memiliki magic setara Excalibur. "

" Kau benar tentang itu. Saat perjalananku di Tiongkok, aku tak sengaja bertemu dengan ahli pedang yang mencoba untuk membuat kembali pedang ini dengan sisa dari jimat tersebut. "

" Dan ia berhasil"

" Tidak juga, kusebut ini sebagai replika. Ia hanya memiliki ¼ dari kekuatan Glory of Ten Powers di masa kejayaannya. "

" Cukup basa basinya, mari mulai " Dulio mengangguk, menyetujui tantangan Naruto. Dan ia memulai serangan dengan melontarkan pedang sucinya tersebut.

Dalam satu ayunan yang seirama, keduanya segera memangkas jarak satu sama lain.

Trang

Kedua pedang suci saling bertabrakan, aura suci yang mereka tebarkan hanya dari tabrakan tersebut saja sudah cukup untuk membuat suasana di basement itu semakin menegangkan. Dulio mundur terlebih dahulu, mengetahui tak akan ada yang hasilnya jika terus bertarung pedang. Dari kejauhan sosoknya mengangkat pedang sucinya tinggi.

Thousand Sword!

Seperti mantra, kata-kata itu memicu The Glory of Ten Powers di tangannya bersinar terang, bayangan-bayangan pedang terbentuk di langit-langit ruangan tersebut. Dulio mengibaskannya ke bawah memicu seluruh pedang tersebut untuk menghujam ke bawah tepat pada Naruto yang mengangkat pedangnya ke atas.

Trang

Naruto menebas keras pedang yang menghalangi jalannya, Goujian yang berada di tangannya merubah bentuk bilahnya menjadi lebih lebar, memberikan beban yang lebih berat sehingga Naruto harus memegangnya dengan kedua tangan.

Dulio melibaskan kembali Glory of Ten Powers nya dan berbagai pedang suci melayang di sekitarnya. Tanpa perintah verbal, pedang-pedang itu melesat maju menghalangi langkah Naruto. Naruto melompat tinggi menghindari pedang tersebut, Dulio yang melihat itu memerintahkan pedang-pedang yang masih melayang di langit untuk terjun menghujam mantan partnernya tersebut.

Goujian bersinar terang kembali, bilah kembali berubah bentuk menjadi lebih tipis menyerupai katana Jepang. Bobotnya pun menjadi sangat ringan, Naruto kembali hanya menggunakan satu tangannya, lalu memutarnya-mutarnya di atas kepala untuk menghindari pedang dari atas. Sedang tangan yang satunya lagi meraih pistol yang ia tarik dari sihir penyimpanannya.

Dor!

Satu tembakan yang cepat bersarang cepat di tembok belakang Dulio. Melihat lebih dekat lagi, terlihat Dulio sedikit meringis lantaran terlambat menghindari laju peluru tersebut hingga menciptakan luka gores pada pelipis sampingnya. Pedang-pedang yang melayang itu menghilang berkat konsentrasi Dulio yang menurun.

Tap.

Naruto mendarat tepat di depan Dulio. Goujiannya bersinar terang kembali, merubah ke bentuk awalnya.

Trang

Dulio menahan pedang suci setara Excalibur itu menggunakan pedang suci biasanya, melemparkan Glory of Ten Powers ke udara, Naruto dikejutkan dengan pedang itu yang melayang di udara.

Satu siulan, dan Glory of Ten Powers itu menukik tajam hendak menemus dahi Naruto. Naruto melepaskan kontak pedangnya dengan Dulio dan segera mengambil posisi tiarap.

Stab

Pedang itu berakhir menancap di lantai gereja. Namun, Naruto melupakan satu hal.

Buak!

Dulio datang dengan cepat menendang wajah Naruto hingga membuat Exorcist pirang itu terlempar membentur dinding tembok barat.

"ugh, tenaga yang gila! " rutuk Naruto,

Dor

Satu peluru perak hampir saja bersarang di kepala Naruto, ya hampir karena pemeran utama dalam cerita ini itu kembali menghindar. Telinganya yang sensitif mendengar suara siulan kembali dan matanya membola melihat Glory of Ten Powers meliuk-liuk di udara seperti mencari keberadaannya.

Tak butuh waktu lama pedang suci itu menukik lagi mengincar tubuhnya.

Trang

' Ini konyol' batin Naruto kala menemukan dirinya bertarung sengit dengan pedang suci yang bahkan tak berada dalam genggaman pemiliknya ! dan yang lebih membuat Naruto kesulitan adalah peluru-peluru yang Dulio tembakkan sangat akurat membuatnya sulit menghindar sempurna. Jubah exorcistnya robek dimana-mana.

Dor

Naruto mendengar tembakan itu dengan jelas dan berkat hal itu ia dapat melihat peluru itu dalam gerakan lambat. Mengikuti instingnya, Goujian yang berada di tangannya berubah wujud, menjadi palu godam, dan dengan satu ayunan, palu itu terlontar menuju Dulio yang melebarkan matanya.

DUARR

Dulio tak dapat menghindari palu tersebut, dan terdorong hingga menghancurkan tembok di basement tersebut. Bagus, pertarungan mereka tak lagi terbatas dengan ruangan!

Stab

Glory of Ten Powers menggores pundak Naruto sebelum menancap di tembok belakangnya. Naruto mensummon dua pedang dan segera menancapkannya silang, mengapit Glory of Ten Powers untuk tidak kemana-mana.

Mengikuti tembok yang jebol tersebut, Naruto sama sekali tak terkejut menemukan Dulio dalam keadaan baik-baik saja bahkan setelah menghantam pedang suci sekelas Excalibur.

Mengulurkan tangannya ke depan, Goujian kembali berada di tangannya dalam bentuk originalnya.

" Aku mengetahui bahwa Goujian memiliki kemampuan seperti Excalibur tapi tak kusangka, pedang itu bahkan dapat mereplika diri hingga menjadi benda lain yang berlawanan" Dulio berkomentar, melepas jubahnya yang kumuh atas pertarungan barusan. Meninggalkan dirinya dalam balutan kaos polos.

" Aku juga baru mengetahuinya " Naruto melakukan hal serupa, melepas jubahnya, namun dibalik jubah itu ia hanya menggunakan kaos jaring-jaring.

"Ruler, Mimic, Destruction, Nightmare, Transparency, Rapidly, Blessing ... kau pasti mengetahui nama dari masing-masing pecahan Excalibur tersebut. Goujian dengan julukannya East Excalibur, ternyata memiliki kemampuan yang cukup serupa, yakni Mimic. Aku pikir masih ada kemampuan lainnya "

"Sejauh ini aku baru menguasai dengan baik Transform, Wreck, dan Illusion " ujar Naruto, sama sekali tak keberatan menyampaikan info berharga seperti itu pada musuhnya.

" Terima kasih atas infonya. " balas Dulio. " Ini akhirnya" lanjutnya menunjuk pada kaki Naruto.

Naruto terbelalak melihat tanah yang telah membungkus tanahnya. Jari Dulio yang menunjuk Naruto menekuk, membuat Naruto dalam sekejap ditarik ke dalam tanah hingga hanya menyisakan kepalanya saja di permukaan.

" Lava huh ?! " gumam Naruto, ketika merasakan hawa panas yang begitu terasa membakar tubuhnya yang berada di dalam tanah.

" Sekarang aku kembali memberimu pilihan Naruto, antarkan aku ke tempat Asia dan segera eksekusi dia atau kau dapat memilih untuk mati ditelan bumi "

" Kau terlalu meremehkanku Dulio "

Duar

Cahaya terang meledakkan tanah yang mengubur Naruto membuat Dulio menghindar jauh. Meskipun begitu, ia kembali bersiul. Naruto yang belum siap kembali menerima sayatan di tubuhnya kala Glory of Ten Powers secepat kilat menyerangnya.

" Pedang suci biasa tak bisa menahannya huh ?"

Pertarungan kembali ke awal. Mereka yang dikenal sebagai The Golden Church, bertarung satu sama lain dengan ego masing-masing.

" Sebelum kita lanjutkan ke tingkat saling membunuh, aku ingin kau mengetahui ini Dulio ... walaupun aku melindungi Asia, aku tidak mengingkari jalan God of Bibble "

" Aku mengetahui itu "

" Aku juga yakin bahwa kau mengerti pilihanku dan menganggap ini jalan yang benar. "

" Itu jalan yang benar, namun tidak tepat. "

" Dan aku mengerti posisimu. Alasan konyolmu untuk memenuhi nafsu mu atas makanan manis itu, semua itu ... hanya bentuk kasih sayangmu pada anak-anak yatim yang ditampung di gereja "

" ... " Dulio tak membalas

" Kau orang yang baik Dulio, kau rela membuat citramu menjadi jelek, dianggap mengabaikan tugas demi menyenangkan mereka. Dari hati terdalam, aku menghormatimu. "

" ... " Hening, kembali Dulio dibuat tidak tahu harus membalas apa.

" Namun, aku tak akan menarik kata-kata ku. Aku akan melindungi orang-orang yang kusayangi "

" Bahkan jika itu menyakiti banyak orang ? "

" Aku akan mencari cara untuk melindungi yang lain "

" Kau bersikap idiot, Naruto"

" Well, aku sudah bilang sebelumnya bukan ? "

Dulio menghela nafas. Menutup matanya sebentar, kilat mata yang sebelumnya dipenuhi keraguan kini terbuka menunjukkan determinasi yang kokoh dan ia telah menetapkan apa yang harus ia lakukan yakni

" Akhirnya aku tetap yakin bahwa untuk memutuskan ini hanya dengan kematian salah satu dari kita"

Naruto terdiam. Ia menatap Dulio yang mulai melayang ke udara, sosoknya yang mulai bercahaya terang, menunjukkan determinasi dari seorang Dulio.

"Aku senang pernah bertarung bersamamu" ujar Naruto, mengenggam erat Goujiannya dan membentuk sikap siaga kembali.

"Aku juga"

" Jibril ! " Naruto berteriak memanggil familiarnya kembali, dan dalam sekejap angeloid berwujud gadis manis dengan surai pink panjang itu kembali hadir di hadapan Naruto dengan senyum innocentnya.

" Ha'i Hai Naruto – sama. Asia – sama sudah kuantar ke tempat yang kau minta, dan karena sedikit memberontak tadi, maka aku terpaksa membuatnya tertidur. Namun, anda dapat tenang, karena 'mereka' disana merawatnya dengan baik" lapor Jibril dengan ceria.

" Sankyuu Jibril. Sekarang tugas terakhirmu, teleport aku dan Dulio jauh dari sini, tempat yang luas dan kosong sehingga tak ada yang menganggu kami" Senyum lebar di wajah Jibril jatuh ketika mendengar perintah tersebut, dimulai dari kata 'tugas terakhirmu' ia sudah cemberut.

" Apa maksud Naruto – sama dengan tugas terakhirmu itu ? " tanya Jibril dingin, benar-benar berbeda dengan dirinya yang ia tunjukkan sebelumnya.

" Kau akan mengerti nanti Jibril." Naruto mengeratkan genggaman Goujiannya, tak lagi menatap Jibril, melainkan mantan rekannya, musuhnya saat ini, Dulio Gesualdo.

Jibril menatap pada Dulio yang ditatap Naruto. Pandangan mereka berbeda dari yang ada dalam ingatannya, dan Jibril tak mengerti apa yang terjadi. Ia makhluk yang cerdas, seluruh isi buku dari perpustakaan di Heaven berada dalam kepalanya. Namun, ia sama sekali tak mengerti emosi manusia.

" Aku melaksanakan perintah anda, Naruto – sama " Dalam satu jentikan jari, keduanya menghilang. Jibril menatap sekitar, kedua tangannya terbuka lebar, dan keempat pedang yang membentuk barrier terlepas dan berkumpul di tangannya.

" Dimana Asia ?! " Jibril berbalik, sama sekali tak terkejut dengan sahutan tersebut. Ia menatap tanpa emosi Kiba, Koneko, dan Issei yang berada di hadapannya. Terlebih pada Issei dan Kiba yang sepertinya paling emosi.

" Dan dimana pemegang pedang suci itu tadi ?! " Kiba ikut bertanya dengan menggeram, mereka melihat pertarungan singkat Naruto dan Dulio di luar gereja tadi dari balik barrier. Ketiganya begitu terkejut kala melihat bagaimana Dulio terlontar oleh palu godam tersebut, ketiganya sama sekali tak mengingat pernah melihat Dulio memasuki gereja tersebut. Dan semakin merasa terintimidasi setelah melihat bagaimana Exorcist pirang pertama tadi dengan mudah mengalahkan tiga da-tenshi dengan satu teknik.

Tekanan intimidasi dari Exorcist itu semakin kuat kala mereka melihat pertarungan singkat keduanya yang menunjukkan kapasitas keduanya yang jauh di atas mereka. Tapi, Kiba dapat merasakannya, aura dari pedang suci Goujian yang berada di tangan Naruto, aura suci yang mengingatkannya akan masa lalunya yang membuatnya mendendam hingga saat ini.

" Gadis biarawati itu kini berada di tempat yang aman. Aku dapat menjamin itu" Jibril memilih hanya menjawab pertanyaan Issei. Ia kembali berbalik, seakan hendak pergi. Namun belum sempat melangkah, Kiba telah berada di hadapannya dengan kecepatan tinggi, menyilangkan kedua pedang di depan dada.

" Kau belum menjawab pertanyaanku !"

" Aku tak merasa harus menjawabnya"

" Kalau begitu aku akan membuatmu menjawabnya ! " Kiba menghunuskan pedangnya lurus pada Jibril yang hanya tersenyum tipis. Tangannya bergerak cepat menangkap kedua pedang yang Kiba hunuskan. " Pedang yang hanya diselimuti emosi seperti ini sangatlah rapuh " Jibril menghancurkan kedua pedang tersebut hanya dengan ibu jari dan telunjuknya.

Sebelum ketiganya dapat berbuat lebih jauh, Jibril mengeluarkan sinar terang dari ujung telunjuknya, sinar yang sangat menyilaukan dan ketika sinar itu meredup, ia telah menghilang.

" Sial! " rutuk Kiba. Membiarkan Kiba dengan rutukan dan makiannya, Koneko menatap pada Issei yang bernafas lega "Setidaknya dia selamat. Syukurlah Asia "

XoX

" Kembali kemari huh ?! Sungguh ironis bukan, seminggu yang lalu kita bertempur bersama di sini untuk mengalahkan sang legenda iblis. Sekarang kita berada di sini, untuk saling membunuh. Naruto, masih belum terlambat untuk berubah pikiran "

Naruto menatap Dulio dengan ekspresi tak terbaca. Sekali lagi Dulio menawarkan jalan yang Gereja tetapkan, jalan yang aman baginya. Sebagai rekan sejak lama, Naruto mengetahui betul sifat pengasih Dulio ini.

Akan tetapi, ia tak bisa. Ia telah membuat pilihan dan akan menjalankan pilihan itu tak peduli siapa yang harus ia hadapi nantinya.

" Ayo selesaikan ini Dulio "

" ... " Dulio tak menjawab, deru angin yang semakin keras seakan menjadi jawaban tersendiri bagi Dulio. Tak butuh waktu lama, angin puting beliung yang cukup besar melaju kencang menuju Naruto. Longinus Dulio, Zenith Tempest, merupakan longinus yang memungkin penggunannya untuk memanipulasi cuaca, membuat badai, gempa bumi, angin puting beliung, ataupun tanah longsor merupakan hal biasa bagi pemilik Longinus tersebut.

Goujian yang berada di tangan Naruto bersinar terang, dalam satu ayunan energi suci dengan tekanan tinggi menghempaskan puting beliung tersebut. Energi suci itu tak berhenti di sana, terus melaju menuju Dulio yang dengan tenang mengangkat Glory of Ten Powersnya .

Blar

Ledakan kecil menghasilkan asap kecil yang menghalangi keberadaan Dulio. Namun, itu sama sekali tak menutupi pandangan Naruto atas Glory of Ten Powers yang kembali telah melayang ke arahnya. Pedang itu tak sendiri, tombak, trisula, sabit, kunai, dan senjata tajam lainnya melayang di sekitarnya, mengancam dirinya.

Naruto memainkan Goujiannya dengan gerakan cepat menangkis semua senjata tajam yang berada di jalurnya. Akan tetapi berbeda dengan sebelumnya, medan pertempuran ini menguntungkan Dulio. Tanah yang menjadi pijakan Naruto melembut, membuat Naruto terperosok ke dalamnya, tak siap dengan itu, beberapa senjata tajam berhasil menggores tubuhnya. Satu sabit menghancurkan kacamata barunya, membuat iris birunya kini tak dihalangi apapun lagi.

" Kau gegabah saat meminta Jibril untuk memilih tempat ini, Naruto. Tempat yang terbuka ini menguntungkanku ! "

Angin puting beliung kembali datang kali ini diikuti sambaran petir yang menggila. Naruto benar-benar berada dalam badai sekarang. Glory of Ten Powers dan senjata-senjata tajam lainnya masih berputar-putar di sekeliling Naruto, seakan mencari kesempatan saat pemuda itu lengah.

" Kalau begitu, aku akan menunjukkan kualitasku sebagai The Golden of Church " Naruto menancapkan Goujiannya ke tanah, membuat ledakan besar yang membatasi bidang penglihatan Dulio.

Dor

Peluru perak yang entah darimana arahnya tersebut gagal menembus kulit Dulio karena angin puting beliung di sekitarnya menghempaskan peluru tersebut.

" Dalam cuaca seperti ini, kemampuan menembakmu tak berguna bukan ?! "

Tak ada jawaban verbal, namun Dulio dikejutkan dengan Goujian yang terlempar ke arahnya, merobek puting beliung yang melindunginya.

Stab

Goujian itu berakhir menancap pada batu besar di belakang Dulio. Serangan tak berhenti di sana, Dulio melebarkan matanya begitu mendengar suara letusan pistol, dan berkat refleksnya ia menghindari peluru tersebut sedikit terlambat sehingga kulit wajahnya tergores oleh peluru panas tersebut.

Kejutan tak berhenti di sana, tanah di bawah Dulio retak dan seketika Naruto melompat keluar dari sana memberikan uppercut yang membuat Dulio melayang di udara. Tapi, bukan Dulio namanya jika ia sampai tidak berbuat apa-apa dalam keadaan begitu, dengan longinusnya, retakan – retakan tanah di sekitar Naruto bergerak cepat menghantam pemuda tersebut menghimpitnya keras, seperti hendak meremukkannya.

"Ugh" Naruto merintih pelan merasakan bagaimana tanah dan bebatuan yang menghimpitnya. Matanya melebar kala melihat Glory of Ten Powers bersama senjata-senjata tajam lainnya mengarah padanya. Mengulurkan tangannya yang belum terhimpit, Goujian segera kembali ke hadapannya. Sinar terang dari Goujian menghancurkan tanah dan batu yang menghimpitnya. Mengandalkan instingnya, Naruto mengambil pedang suci lainnya, mementalkan Glory of Ten Powers pada sebuah batu besar dan sebelum Glory of Ten Powers dapat lolos, ia melontarkan Goujian yang terlah bertransform menjadi garpu rumput, sukses untuk menahan Glory of Ten Powers tertancap di di bilah batu tersebut.

" Kau kehilangan senjata andalanmu Naruto " Dulio berkomentar santai. Gelembung-gelembung yang begitu familiar di mata Naruto melayang-melayang di sekitarnya, pada setiap gelembung terdapat beberapa elemen, seperti tanah, api, udara, dan bahkan petir.

" Tidak juga." Naruto menarik keluar pistol dan pedang suci biasanya. " Aku lebih terbiasa menggunakan ini " Dalam satu delikan mata, tanah di sekitar Naruto bergemuruh. Belajar dari kejadian sebelumnya Naruto bergerak acak menghindari setiap tanah yang hendak memerangkapnya, selagi menghindari pula angin puting beliung dan petir yang hendak membasminya dengan cepat.

' Kalau begini terus, game over bagiku!' batin Naruto berteriak keras. Dulio dengan konsentrasi penuh terus mengendalikan cuaca disekitarnya untuk segera menyelesaikan Naruto, namun semuanya sulit berkat insting Naruto yang setajam hewan liar, setiap serangannya dapat Naruto hindari dengan meminimalisir lukanya. Jika dilihat secara statistik kemampuan, jelas dirinya lebih unggul, ia memiliki kemampuan Exorcist di atas rata-rata yang dapat dikatakan hampir setara dengan Naruto, ditunjang pula dengan Longinusnya yang dikatakan sebagai terkuat setelah True Longinus. Namun melihat bagaimana pertarungan terus berjalan, menunjukkan Dulio dalam masalah. Seharusnya, dengan menilik dari statistik kemampuan, Dulio dapat memenangkan pertarungan ini dengan cepat, dan ketika pada kenyataannya, Naruto malah sempat berhasil memojokkannya, ini tamparan keras bagi Dulio.

Blar

Satu lesatan petir yang maha dahsyat, tanah bahkan sempat bergetar saat petir itu menghujam bumi. Beberapa batang pohon berjatuhan karena itu, ilalang yang sebelumnya menghiasi tempat tersebut pun beterbangan berkat angin puting beliung yang semakin menggila.

Naruto menembak lurus pada Dulio, dan seperti sebelumnya peluru itu dibelokkan oleh angin puting beliung di sekitar Dulio.

" Menyerahlah Naruto! "

Satu petir kembali menyambar bumi, namun untuk kedua kalinya petir itu hanya menyambar tanah kosong kala Naruto telah berlari jauh menghindari petir tersebut.

' Kalau arah dan kecepatannya seperti ini ' Naruto berpikir selagi, menyimpan pedangnya. Ia mengeluarkan sebuah pistol lagi, kali ini berbentuk yang lebih besar.

Dulio hanya menaikkan alis mata, tangannya bergerak naik memicu tanah di sekitar Naruto untuk berguncang pelan, Naruto berjongkok untuk menjaga keseimbangannya. Gelembung-gelembung yang semula berada di sekitar Dulio kini mulai melaju cepat ke arahnya membawa material-material berbahaya di dalamnya.

Dor Dor

Naruto menembak cepat setiap gelembung tersebut. Ia tak perlu khawatir akan kehabisan peluru, karena ia telah menggunakan sihir untuk menghubungkan pistolnya dengan persediaan peluru di dimensi penyimpanannya. Begitu pelurunya habis, maka sihir itu akan berfungsi otomatis untuk mengisinya kembali.

Setiap peluru bisa untuk menghancurkan lima gelembung sekaligus, dan Naruto terus melakukannya hingga gelembung itu habis tak bersisa.

"Tch" Dulio mendelik, tangannya terulur ke depan dan dirinya begitu terkejut ketika sebuah peluru bersarang tangannya, membuat angin puting beliung dan seluruh badai petir mereda sesaat.

" Sedikit meleset, namun tak masalah." Naruto nyengir. Dan hanya dengan kata-kata itu Dulio mengerti satu hal

" Saat awal tadi, kau menembak dua kali untuk mengetahui arah angin dan kecepatan puting beliungku. Tembakan kedua itu untuk memastikan apakah arah dan kecepatannya konstan, dan kemudian dengan peluru yang lebih besar dari pistol besar itu untuk mengurangi gesekan angin dari peluru kecil yang kau tembakkan dengan interval sedikit lebih lambat dari peluru pertama. Peluru pertama akan menghancurkan lima gelembung itu dan setiap ledakannya akan membuatnya sedikit bergeser dan berkat gesekan dari angin puting beliung di sekitarku dapat mendorong peluru kecil untuk melukaiku. Bukankah begitu, Naruto ? "

Melihat cengiran Naruto yang semakin melebar sudah membuat Dulio yakin asumsinya benar.

" Namun, tembakan itu sedikit meleset. Kau pasti berniat untuk mengenai dadaku "

" Yap, tanganmu yang kau angkat itu menghalangi rencanaku. Namun, tujuanku telah tercapai. Kali ini kita imbang "

" Kau berpikir bahwa sebutir peluru itu dapat mengubah alur pertempuran ini ? "

" Yap"

" Konyol sekali " Dulio menghentakkan tangannya, dan ... tak terjadi apa-apa. Awan badai petir semakin menghilang, dan tak lama cuaca malam kembali cerah seperti biasanya.

" I – ini ?! " Dulio bergumam tak mengerti.

" Peluru perak ku berbeda dengan yang lain Dulio. Kau ingat, setiap peralatanku telah kukombinasi hingga tidak ada duanya di dunia ini. Seperti kacamataku, yang dilengkapi teropong jarak jauh dan kamera otomatis, peluru perakku juga dilengkapi hal lain, yakni Magic Jammer! "

Magic Jammer atau dapat disebut sebagai peredam magic. Dulio pernah mendengar hal tersebut dari pimpinan gereja. Sebuah unsur yang baru ditemukan para peneliti yang efektif untuk meredam kemampuan sihir seseorang. Namun, unsur itu akan efektif dalam kadar tertentu.

" Dalam waktu senggangku, aku telah meneliti kadar yang tepat untuk setiap musuh yang mungkin kuhadapi. 10 % untuk sihir bangsa youkai, 17%-20% untuk sihir bangsa iblis, da-tenshi, dan tenshi, 30% untuk magician dan para pemegang sacred gear, dan terakhir 46% untuk para pemegang Longinus dan sekelas dewa. Tentu saja, kadar itu belum pasti dan aku membutuhkan data lebih banyak lagi untuk menyempurnakannya. Namun, itu memberiku waktu untuk menghadapimu" Naruto menyimpan kembali satu pistolnya, mengeluarkan pedang suci biasanya.

" Karena itu, mari kita berduel dengan keahlian dasar Exorcist kita ! "

Dulio mengeluarkan pedang dan pistolnya, menerima tantangan Naruto. Keduanya segera memangkas jarak satu sama lain, bertempur sengit dengan pedang masing-masing. Jika manusia biasa yang menonton pertarungan mereka, ia hanya dapat mendengar bagaimana denting logam yang saling bertabrakan, letusan dari pistol yang bersahut-sahutan dan langkah kaki yang menghamburkan ilalang-ilalalang.

Naruto dan Dulio berhenti serentak, menatap satu sama lain dengan sikap siaga masing-masing. Telunjuk Naruto menunjuk Dulio, membentuk bola sinar keemasan.

Stunt Ray

Teknik yang sama saat Naruto menumbangkan 3 da-tenshi di gereja terbengkalai tersebut. Dan Dulio bergerak cepat menghindarinya. Pedang suci di tangan exorcist itu bersinar terang, dengan satu ayunan kencang, energi penghancur itu melesat menuju Naruto yang melakukan hal serupa.

Kedua energi itu menghancurkan satu sama lain ketika bertabrakan, dan kemudian Naruto dan Dulio bertempur dengan pedang lagi, keduanya bertindak agresif sekarang, tidak ada yang saling menahan, setiap Naruto berhasil melukai Dulio, maka Dulio akan membalas melukai kembali. Pakaian mereka telah awut-awuttan seperti tubuh mereka yang juga berantakan dengan luka gores di mana-mana.

" Menyerahlah Naruto! " Dulio mengayunkan pedangnya lagi, namun kali ini bukan hanya mengirimkan sebuah energi penghancur, angin kencang turut mengikuti membuat Naruto terpental jauh dengan luka goresan pada tubuhnya. Tubuhnya berhenti terpental setelah menabrak batang pohon besar di belakangnya.

" *Cough" Naruto terbatuk, memuntahkan darah dari mulutnya. Belum sempat Naruto bertindak, sebuah tiga pedang suci menusuk bajunya, menahannya untuk tertancap di pohon tersebut.

Dulio menghela nafas lega, ia berjalan pelan pada batu besar tempat Goujian menahan Glory of Ten Powers nya. Mengambil kembali pedang sucinya, ia berbalik menatap Naruto yang sedikit kesulitan bernafas, namun masih berusaha untuk untuk mencabut pedang yang membelenggu gerakannya.

" Sepertinya Magic Jammer mu hanya bertahan sebentar Naruto. Maaf, kali ini aku akan membunuhmu! "

Awan badai kembali terbentuk, dan dengan mengacungkan Glory of Ten Powersnya pada awan badai tersebut, petir menyambarnya, mengumpulkan energi petir yang sangat destruktif itu pada pedang tersebut.

Naruto menatap horror pemandangan itu ' Jika sampai terkena, habis sudah!'. Dengan teriakan batin itu, Naruto semakin berusaha mencabut pedang yang menusuk bajunya, akan tetapi langkahnya dihentikan dengan senjata-senjata tajam lainnnya yang menusuk tubuh bagian lain pakaiannya, benar-benar menahannya di pohon tersebut.

' Sial! Jika aku berakhir di sini, Asia akan tersangkut masalah yang lebih besar! Aku ingin melindunginya, aku ... harus melindunginya!' Naruto terus meneriakkan kata-kata semangat itu di dalam benaknya.

" Habis sudah Naruto. Aku senang pernah berkenalan denganmu "

Dulio menghunuskan pedangnya yang telah berpendar biru terang. Dan tanpa perintah verbal, petir besar menghantam sosok Naruto yang hanya dapat bertahan dengan menyilangkan pedang dan pistol di depan dada.

DUARRRRRRRRRR

Setelah itu, hanya satu orang yang masih berdiri di sana.

XoX

At Gereja Vatikan

Edward sedang mengetik laporan dari beberapa Exorcist yang ia tugaskan untuk berbagai misi, baik itu misi atas nama para Archangel hingga ke misi-misi mudah seperti membantu para biarawan dan biarawati di gereja-gereja. Kegiatannya berhenti kala pintu ruangannya terbuka lebar, menampilkan sosok yang ia tunggu-tunggu. Namun, ia menghela nafas kala hanya menemukan sosok itu berjalan seorang diri.

" Kau kembali seorang diri Dulio, apa itu berarti kau melaksanakan rencana alternatif "

Dulio hanya mengangguk. Tatapannya kosong, dan beruntung ini tengah malam sehingga tak ada satupun pengikut gereja yang melihat penampilan compang campingnya saat ini. Jubah hitam khas biarawannya telah raib meninggalkan kaos putih yang bahkan telah bolong di sana-sani, sedikit mempertontonkan tubuh kekarnya. Rambut pirangnya yang biasa rapi kini awut-awutan dan lepek sudah cukup menunjukkan bahwa sebelum kemari sosoknya terlibat pertarungan yang begitu berbahaya.

" Bisa kau jelaskan ? " Edward bertanya. Dulio tak berkata-kata apa lagi, ia membuat sebuah lingkaran sihir dan dari sana sepasang manusia dengan surai pirangnya yang identik terbujur kaku. Kondisi mayat prianya begitu mengerikan dengan luka di sana-sini serta luka bakar besar di dadanya tetapi senyum tipis terukir di wajah itu sama seperti pada sang gadis.

Melihat itu hanya membuat Edward menggelengkan kepala pelan "Benar-benar tidak beruntung. Padahal ia memiliki masa depan cerah. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosanya"

"Amen" ujar Dulio.

"Ada yang ingin kau sampaikan lagi ? "

Masih diam, Dulio menyerahkan sebuah pedang keemasan dan Edward benar-benar yakin bahwa Dulio berhasil dalam misinya.

" Goujian huh ? Pedang jiwa ini memang bisa dimiliki kalau kau membunuh pemilik sebelumnya. Well, pedang itu menjadi milikmu sekarang. " Dulio hanya mengangguk pelan, dan kemudian berbalik hendak meninggalkan ruangan tersebut.

Edward tak berkomentar apa-apa.

' Sepertinya ia benar-benar terpukul karena harus melakukan ini. '

Itulah yang berada di benak Edward.

Tanpa sepengetahuannya, Dulio yang telah keluar ruangan itu tersenyum tipis.

" untuk sementara ini kau aman, Naruto. Aku memang tak sependapat denganmu, tapi aku yakin saat kau telah menentukan pilihanmu, tak akan ada yang dapat membuatmu merubahnya. "

Ia berjalan pulang sambil mengingat kembali bagaimana pertarungan antara Naruto dan dirinya berakhir

DUARRRRRRRRRR

Setelah itu, hanya satu orang yang masih berdiri di sana.

... dan itu adalah Uzumaki Naruto.

Dulio mengernyit merasakan sakit tiada tara pada tubuhnya. Membuka mata saja sudah sangat susah, dan ia benar-benar kebingungan, serangan yang seharusnya menghantam Naruto berbalik menyerangnya. Beruntung ia masih sempat membuat proteksi sehingga tidak harus mati dibuatnya. Dalam usahanya membuka mata itu, ia melihat Naruto berjalan ke arahnya, tidak ada yang berbeda dari diri mantan rekannya itu, hanya saja penampilan dari pedang dan pistolnya itu menarik perhatian Dulio.

Pedangnya menjadi berwarna kegelapan, namun garis tengahnya berpendar biru dan samar Dulio dapat merasakan energi yang sama dengan serangannya dari pedang tersebut.

" Sepertinya aku memenangkan pertarungan ini, Dulio. Yah walaupun aku tak mengerti apa yang terjadi " Kedua senjata Naruto itu menghilang, dan Goujian kembali berada di tangan Naruto. Dulio menutup matanya, mengetahui akhirnya hidupnya akan datang. Namun, menunggu lama ia tak merasakan sakit dan ia membuka matanya kembali menemukan Goujian kini berada dalam genggamannya.

" Bawa pedang tersebut ke gereja bersama dengan tubuh buatanku dan Asia. Aku akan membuat mereka semirip mungkin dengan kami dengan kemampuan alkemisku. Namun, untuk membuat Tuan Edward benar-benar percaya maka teruslah genggam Goujian. Kemampuan Illusion Goujian cukup untuk mempengaruhi tuan Edward. "

" Kau tidak membunuhku ? " tanya Dulio kepayahan.

" Tidak. Membunuhmu sama dengan membunuh kebahagiaan para pengikut gereja lainnya, terlebih pada anak-anak yatim yang diasuh gereja. Aku tidak dapat melakukannya " Dulio tak bisa berkata-kata lagi, selain karena kata-kata Naruto juga karena kondisi tubuhnya.

Naruto menjentik jarinya dan dalam sekejap Jibril kembali ke hadapannya.

" Maaf mengecewakanmu Jibril, namun aku memiliki permohonan. Tolong sembuhkan Dulio dan bawa aku ke tempat Asia setelah ini "

"Aku akan melakukannya setelah Naruto – sama berjanji untuk tidak berkata 'tugas terakhirmu' atau sejenisnya lagi! " balas Jibril memalingkan muka seraya menggembungkan pipinya. Melihat perilaku kekanakan dari familiarnya tersebut membuat Naruto terkekeh.

" Baiklah aku janji ! " Jibril tersenyum riang mendengar itu. Sontak ia mengirimkan teknik penyembuhnya pada Dulio, berhasil memulihkan sel-sel yang rusak dan menutup luka-luka di tubuh Dulio. Sementara itu, Naruto menggunakan kemampuan alkemisnya untuk membuat tubuh tiruan untuk menjadi mayat bagi dirinya dan Asia.

Dulio yang telah kembali pulih, menatap Naruto lama " Kau tidak memutuskan semua ini sendirian. Apa kau berpikir bahwa aku akan melakukan perintahmu begitu saja. "

" Yap"

" Kau tak pernah berpikiran buruk tentang orang lain, hm "

" Tentu aku pernah. Namun, aku mengerti bahwa Dulio-san juga tak menginginkan hal ini"

"..."

" Dulio – san berpikir bahwa ini cara yang terbaik untuk melindungi kebahagiaan orang banyak. Kuakui, caraku ini begitu naif. Akan tetapi, akan kubuktikan bahwa Asia Argento tidak bersalah! Dan kemudian aku akan menunjukkan bukti itu pada mereka yang mencercanya. Untuk menunjukkan sebuah kebenaran. "

" Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Lakukan apa yang menurutmu benar, Naruto "

Naruto mengangguk setuju. Tubuh tiruan yang ia buat telah selesai dan ia serahkan pada Dulio.

Naruto tersenyum tipis sebentar sebelum akhirnya menghilang bersama Jibril.

" Tapi, benda seperti apa itu ? Jika itu sacred gear ... benda itu terlalu kuat "

XoX

Naruto dan Jibril disambut sinar matahari terbit kala selesai berteleportasi. Mereka berada daerah perkotaan atau lebih tepatnya disekitar pertokoan yang mana keadaannya masih sepi, keduanya berdiri di depan sebuah cafe yang didominansi warna hitam.

Sebelum sempat keduanya mengetuk, pintu di depan mereka terbuka menampilkan seorang pemuda bersurai hitam dengan wajah Jepang yang kentara dan tersenyum ramah pada mereka.

" Selamat datang di Black Dog Cafe, Naruto – san "

" Bagaimana dengan Asia, Tobio ? " Naruto langsung menanyakan keberadaan Asia pada pemuda tersebut.

" Kau tenang saja. Asia – san – " Tobio menghentikan kata-katanya kala mendengar suara ribut-ribut di belakang dapur, dan kemudian ia tersenyum tipis kala melihat Asia yang mana sepertinya habis berusaha lepas dari gadis pirang lainnya yang berusaha menahannya.

Mata hijau bulat Asia melebar melihat Naruto yang mengangkat tangannya, menyapa dirinya.

" Okaeri, Asia " Air mata mulai mengenang di pelupuk mata gadis itu, dan dalam derap langkah cepat, ia berlari kepada Naruto yang telah membuka tangannya lebar, siap menerima pelukan tersebut.

Asia tersenyum lebar kala kembali ke pelukan hangat Naruto, ia berbisik lembut " Tadaima Naruto"

Gadis pirang yang sebelumnya menahan Asia itu berjalan pelan mendekati Tobio dengan senyum kecil di wajahnya.

" Selamat bergabung dengan Black Dog Cafe, Naru – kun, Asia – chan ! "

TBC

Oke, di bawah ini ada beberapa penjelasan singkat tentang istilah yang kubuat di fic ini.

Wreck : Kemampuan Goujian yang serupa dengan Destruction Excalibur. Kemampuan ini membuat Goujian mampu memberikan daya hancur yang luar biasa

Illusion : Kemampuan Goujian untuk membuat ilusi, bisa digunakan untuk mempengaruhi lawan ataupun menjinakkan monster, memiliki kemampuan yang serupa dengan Nightmare Excalibur dan Excalibur Ruler.

Transform : Bentuk kemampuan Mimic Excalibur dari Goujian. Namun kemampuan ini lebih unggul, dimana Goujian mampu bertransformasi menjadi benda apapun.

Black Dog Cafe : Cafe yang menjadi markas Slash Dog Team, yang merupakan anak asuh dari Azazel.

Kupikir itu saja dahulu, untuk bentuk pedang dan pistol Naruto yang terakhir kali itu persis seperti bentuknya pistol Espada No. 1 di Bleach dan pedangnya seperti milik Asta (Anime : Black Clover) yang ditemukan di Dungeon ( Yang sleam).