SULAY FANFICTION INDONESIA

==Present==

Sexically Sexical

By

Flying White Unicorn

*Pairing*

Kim Junmyeon*Zhang Yixing

Yaoi

Bxb

Rate M NC17

Don't plagiat

Many typo(s)

Konten dibawah benar-benar banyak menggunakan bahasa sensual mohon disesuaikan dengan umur anda semua yang akan membaca

JANGAN BACA KALAU MASIH UNYU PLEASE T.T

I just wanna travel and fuck you on hotel balconies

….

Pukul sepuluh menuju siang ponsel Junmyeon berbunyi. Belum lama ia kembali ke Korea, menyibukkan dirinya dilahap sang waktu dan berkas-berkas pekerjaannya. Tidak ada waktu rasanya untuk terus pulang menuju rumah minum-minum dengan Jongdae adiknya membahas perjanjian kerjasamanya dengan Jongin di Jepang kemarin. Junmyeon menekan kembali tombol merah di layar ponselnya. Ini sudah kelima kalinya nomor Jongin dari Jepang menghubunginya. Junmyeon yang merasa tidak memiliki lagi hubungan dengannya memilih untuk tidak memperdulikan panggilan itu.

Mata Junmyeon terpusat kepada gambar bentuk bangunan yang berada di depannya. Rancangan yang telah di kerjakan oleh mitra bisnis nya untuk membangun kembali sayap perusahaan dibidang pembangunan. Junmyeon memperbaiki sedikit tatanan yang tidak sesuai di matanya. Ia menginginkan kesempurnaan. Getaran ponsel mengganggu Junmyeon kembali, lagi-lagi Jongin dengan nomor Jepang menghubunginya. Junmyeon memilih untuk mengangkatnya kali ini.

" Ada apa?." Tanya Junmyeon to the point

" Astaga.. Kalau saja aku tidak membutuhkanmu. Mungkin aku tidak akan pernah menghubungi mu seperti ini." Ucap Jongin

" Hmm…"

" Jongdae tidak bisa ku hubungi. Sedangkan aku memerlukan beberapa tanda tangan pemilik saham untuk memasukkan data ke dalam bursa saham. Karena kau orang yang mewakili Jongdae kemarin maka sepertinya aku akan meminta tanda tanganmu saja."

" Apa kau akan miskin seketika jika kau menunggu lebih lama untuk tanda tangan Jongdae?." Tanya Junmyeon tidak peduli.

" Time is money man! Akan ku scan berkasnya ke sekretarismu sekarang. Tanda tangan dan aku tidak akan mengganggumu lagi." Jongin menutup teleponnya dengan kesal.

Junmyeon memasukkan ponselnya ke dalam saku jas nya dan kembali hanyut oleh pekerjaannya. Ia tahu sekretarisnya tidak akan berani mengganggunya. Dan selanjutnya sekretarisnya lah yang akan menerima teror telepon dari Jongin.

Tidak terasa hari berlarut hingga malam, Junmyeon masih setia di balik meja kerjanya. Junmyeon memijit lembut tulang hidungnya. Melirik ke ujung mejanya, tempat sekretarisnya tadi meninggalkan berkas Jongin ketika mengantarkan makan siang untuk Junmyeon tadi.

Junmyeon membuka berkas Jongin, membaca satu persatu dengan teliti. Hal yang tidak mungkin dilakukan Jongdae adiknya. Beberapa dicoret Junmyeon karena tampaknya tidak sesuai dengan perjanjian yang telah di perbuat mereka di Jepang kemarin. Junmyeon menyadari bahwa besok pasti telepon nya akan penuh teror kembali dari Jongin. Mata Junmyeon terdiam di salah satu sudut kertas yang baru disadari oleh dirinya. Lambang seperti mahkota. Bukan karena saking seni nya ukiran mahkota itu sehingga menyita perhatian Junmyeon, melainkan mengingatkan Junmyeon kepada seseorang. Ya Yixing, Junmyeon pernah melihat mahkota yang sama di pin jas yang Yixing gunakan ketika pertemuan mereka.

Tanpa memperdulikan waktu, Junmyeon menekan ponselnya untuk menghubungi Jongin. Benar, Jongin lah yang menghubungkan antara dirinya dan Yixing. Jika ia ingin bertemu lagi dengan Yixing sudah tentu Jongin lah yang akan dia korek informasinya. Tidak ada jawaban dari Jongin, Junmyeon kembali menghubungi nomor Jongin. Bukan Jongin yang akan meneror Junmyeon melainkan malam ini Junmyeon lah yang meneror Jongin.

Junmyeon menyerah di panggilannya yang ke delapan belas kali nya itu. Tetap tidak ada jawaban dari Jongin. Lebih baik menunggu besok dan menyimpan segala rasa penasarannya walau itu rasanya tidak mungkin.

.

.

Menunggu pagi rasanya sama seperti berpergian menggunakan pesawat terbang. Kau sudah tahu kemana arah tujuanmu, tetapi tetap takdir mu yang berpegang kuasa lebih dari sejumlah uang yang berganti menjadi selembar kertas keras bernama tiket. Kau tidak tahu apakah kau akan selamat hingga tujuanmu ataupun tujuanmu berubah menjadi tempat lain karena adanya gangguan turbulensi dari alam. Bedanya pergantian alam sangat tidak diharapakan dari penerbangan pesawat sedangkan bagi Junmyeon menanti munculnya matahari menggantikan gelap malam dan sunyinya menjadi satu-satunya tujuan dia masih belum memejamkan mata di kamarnya.

Junmyeon membuka tirai kamarnya yang menyuguhkan pemandangan luar rumahnya. Apa yang diharapkan Junmyeon telah terjadi. Matahari sembunyi-sembunyi muncul dengan hawa dingin yang menghiasi kota itu. Junmyeon melirik ponselnya, belum ada teror Jongin untukknya. Apakah dia harus menunggu ataupun kembali mencoba menghubungi pria tersebut.

Ting!

Pesan singkat dari Jongin, Junmyeon membuka pesan tersebut dengan semangat. Setidaknya dia tahu pemilik ponsel disana sudah bangkit dan bisa dihubungi. Junmyeon segera menghubungi Jongin.

" Halo…" ucap Junmyeon

" Wah ku kira kau tidak tahu perkataan itu." Ucap Jongin dengan suara mengantuknya

" Jongin, aku telah membaca berkasmu."

" Baca? Aku meminta tanda tanganmu."

" Revisi kembali, tapi bukan karena itu aku menghubungi mu." Ucap Junmyeon

" Lalu? Ada yang lebih penting lagi?." Tanya Jongin

" Lambang mahkota dari berkasmu."

" Wah wah kau menghubungiku dari semalam berkali-kali hanya karena ingin memuji lambang perusahaan ayahku?."

" Lambang perusahaan ayahmu?."

" Ya, itu lambang perusahaan ayahku. Dan karena aku…."

" Apa Yixing bekerja di perusahaan mu juga?." Potong Junmyeon

" Yixing? Yixing siapa ya?." Tanya Jongin lagi.

Dari suaranya Junmyeon tahu Jongin tidak main-main tentang dirinya tidak mengenal Yixing.

" Si $5.000."

" Pelacur mu?." Tanya Jongin memastikan

" Ya, darimana kau dapatkan dia? Apa dia bekerja di perusahaan mu juga?."

" Hahaha. Junmyeon aku tidak tahu ternyata kau memiliki selera humor yang tinggi haha."

" Jongin aku serius."

" Haha maafkan aku. Tapi itu tidak mungkin terjadi."

" Lalu, darimana kau dapatkan Yixing?."

" Link Junmyeon. Kurasa kau terlalu lama berada dibalik meja kerjamu. Keluarlah sekali-sekali dengan rekan bos mu. Mereka memiliki banyak link yang tidak kau duga-duga." Ucap Jongin

" Aku ingin bertemu dengannya lagi. Bisakah kau menjadi pelantara ku dengannya lagi? Atau berikan nomor orang yang mengenalnya." Ucap Junmyeon

" Bukan masalah. Akan ku kirimkan setelah aku mandi nanti."

" Tidak sekarang."

" Ya Tuhan! Kau tahu kau sangat menyebalkan. Kau membuat aku menunggu hanya untuk revisi mu itu dan kini kau memaksa ku untuk terus menuruti kemauanmu."

" Aku tunggu sekarang."

Junmyeon memutuskan sambungan teleponnya, pikirannya masih memikirkan hubungan antara pin yang dikenakan Yixing dan simbol perusahaan ayah Jongin. Benar kata Jongin sungguh hanya lelucon saja perusahaan sebesar itu juga mengeluarkan jasa pelacuran bertaraf dollar. Apakah hanya kebetulan semata. Lambang mahkota bukannya sesuatu yang tidak lazim digunakan oleh orang-orang.

Ting!

Sebuah pesan dari Jongin masuk, Junmyeon langsung menyimpan kontak yang diberikan oleh Jongin yang beratas nama Do Kyungsoo tersebut. Nama yang Junmyeon rasa bukanlah nama seorang penduduk asli Jepang. Junmyeon tidak tahu apakah Jongin benar-benar memberikannya nomor si perantara ataupun sebagai balasan atas sikapnya yang menyebalkan.

Junmyeon segera menghubungi nomor yang diberikan, berharap hanya ini akhir dari jaring laba-laba yang menghubungi antara dirinya dan Yixing.

" Halo." Suara agak bass di ujung sana

" Halo, Do Kyungsoo?." Tanya Junmyeon memastikan

" Ya, saya. Ada apa?."

Junmyeon diam, seseorang dengan bahasa Korea kali ini berbeda dengan Jongin yang banyak berbicara, orang di seberang teleponnya kini seakan menagih mengapa dia dihubungi oleh nomor asing sepagi ini daripada mengetahui siapa Junmyeon.

" Saya Junmyeon, rekan bisnis Jongin. Orang yang memesan Yixing." Ucap Junmyeon

" Oh…"

Tidak ada pertanyaan ataupun takut terjadi sesuatu atas pelayanan Yixing. Orang bernama Do Kyungsoo itu justru berharap secepatnya Junmyeon mengganggu pagi harinya.

" Aku ingin memesan Yixing lagi. Apakah aku bisa memesannya?."

" Aku bukan pemiliknya." Ucap Do Kyungsoo seakan sudah tahu arah pembicaraan Junmyeon

" Lalu, apakah aku bisa tahu dimana aku bisa memesan Yixing?." Tanya Junmyeon

" Hmm.. Aku tidak tahu ini akan menjadikanmu ketagihan. Ketika Jongin memintaku untuk mencari orang yang kau mau, entah mengapa aku langsung teringat dengan si kejora itu."

" Kejora?."

" Lupakan keinginanmu. Anggap saja kau beruntung bisa mendapatkan dia kemarin. Karena memang itu benar-benar keberuntungan untuk mu." Ucap Do Kyungsoo lagi

" Aku tidak mengerti, aku akan membayar dia. Ini bukan free kumohon beritahu dimana aku akan menemukannya?."

" Baiklah jika kau mau menghabiskan waktu mu disana. Aku menemukannya di salah satu website."

" Website pelacuran?." Tanya Junmyeon tidak percaya

" Haha menurutmu apa sosok seperti kejora itu ada di website pelacuran?." Remeh Do Kyungsoo kepada pikiran Junmyeon

" Lalu?."

" Aku menemukannya di website salah satu blog. Akan ku kirimkan alamatnya. Siap-siaplah, kau tahu apa? Ini lebih candu dari neraca bursa saham ataupun sekedar pil."

" Baiklah.."

Do Kyungsoo lebih dulu menutup teleponnya, meninggalkan Junmyeon yang semakin terbenam dalam rasa penasaran. Seperti apa sosok Yixing yang di ibaratkan sebagai Kejora?.

Aku melakukan nya juga karena kesenanganku.

Junmyeon melamun mengingat perkataan Yixing dihari mereka berjumpa, kesenangan apa? Bukankah jika dia senang melakukan seks maka dia akan bisa melakukannya semau nya. Setidaknya dengan wajah, tubuh dan kepintaran yang di milikinya. Ataukah kesenangan seperti ini? Membuat orang penasaran dengan dirinya. Pikiran Junmyeon beralih, apakah dia bukan satu-satunya dan pertama seperti ini. Mencari tahu lagi tentang Yixing. Apakah Yixing benar-benar nama aslinya?. Seluruh pertanyaan Yixing menghinggapi pagi hari Junmyeon.

Anggap saja kau beruntung bisa mendapatkan dia kemarin. Karena memang itu benar-benar keberuntungan untuk mu.

Keberuntungan seperti apa yang di maksud Do Kyungsoo, beruntung mendapatkan free $ 5.000 ataupun beruntung dapat mengenal seorang pelacur seperti Yixing.

Ting!

Sebuah alamat website dari nomor Do Kyungsoo masuk ke dalam pesan singkat ponsel Junmyeon. Junmyeon langsung mengetik sebuah pesan. Bukan balasan untuk Kyungsoo melainkan untuk Jongdae adiknya.

Gantikan pekerjaanku hari ini dan jangan ganggu aku di kamar.

Junmyeon ingin memusatkan misteri tentang pelacurnya itu, ternyata tidak hanya uang saja yang dibutuhkan untuk mendapatkan seorang Yixing. Junmyeon membuka alamat website tersebut. Benar kata Do Kyungsoo, bukan sebuah bisnis pelacuran. Junmyeon membaca lebih banyak perkataan yang menghiasi layar laptopnya. Ya ini bukan tentang sebuah bisnis, melainkan rumah sakit! Rumah sakit spesial pikiran dan hati.

Good night and Good Morning…

Kenapa harus malam dahulu baru pagi? Berhenti bertanya jika kau tahu jawabannya. Malam sering dikaitkan oleh gelap dan ketakutan sedangkan pagi hari mewakili harapan baru dan proses. Begitulah jalan kerja manusia, mereka akan melakukan sebuah revolusi jika sekiranya mereka merasa terancam. Bukankah manusia purba menemukan tempat tinggal karena ketakutan mereka dimangsa mahluk buas? Dan dimasa kini, tempat tinggal bukan sekedar tempat berlindung melainkan sebuah tolak ukur manusia lainnya kepada sesamanya. Menyebalkan? Oh jangan bilang iya karena kau salah satu penganut kepercayaan itu. Sejak kapan kau akan senang berkunjung ke rumah kawanmu yang memiliki free wifi dibandingkan kau siap mendengarkan cerita temanmu tanpa gelombang-gelombang pengantar sinyal itu?.

Aku bukanlah seorang yang menentang revolusi seperti itu, aku senang jika manusia mulai menyadari dan memahami tujuan hidupnya. Bukankah lebih baik melihat dunia yang lebih besar di luar sana melalui internet dibanding kau berjibaku dengan wajah sok prihatin atas curahan temanmu itu?

Selamat datang di dunia yang sesungguhnya teman, lebih dari yang bisa kau jangkakan dengan busur matematikamu ataupun hitungan akutansimu. Dunia bukan sekedar membelah perut kodok dan bersikap layaknya kau dokter yang sedang mengoperasikan pasien. Bersiaplah akan kerasnya dunia. Dengan segala revolusi-revolusi yang diciptakan sekelilingmu. Bersiaplah untuk kedatangan dan kepergian orang disekelilingmu. Dan bersiaplah suatu saat nanti kau juga akan meninggalkan mereka.

Zyxzjs

..

Mata Jongdae seakan tidak mempercayai apa yang tertera di layar ponselnya, benarkah seorang Kim Junmyeon menyerahkan kepercayaan kepadanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tangan Jongdae bergetar hebat, layaknya seorang yang baru saja mendapatkan puluhan miliar uang dari atas langit.

" Jongdae? Sayang kau kenapa? Apa kau demam? Jongdae?." Minseok mengguncang-guncangkan badan pasangannya itu.

" Min..Min..Minseok, coba kau baca apa kah ini nyata?." Ucap Jongdae dengan gagap

Minseok yang takut melihat perubahan Jongdae langsung mengambil ponselnnya, apakah Jongdae dikeluarkan dari akta keluarga ningrat ini karena kebiasaan mereka menghabiskan waktu di kamar lebih banyak daripada waktu untuk Jongdae bekerja.

" Ini Junmyeon hyung mu menyuruhmu bekerja dan jangan ganggu dia. Lalu apa yang salah?." Ucap Minseok dengan mata lugu nya.

" H-H-H…"

" H? Hacim? Apa kau mau bersin?." Tanya Minseok ngeri melihat Jongdae yang masih tergagap

" H…Hyung.. Hyung menyuruhku menggantikan pekerjaannya." Ucap Jongdae dengan mata berair

" Iya." Ucap Minseok membenarkan

" Dia..Dia mempercayaiku?."

" Ya sayang dia mempercayaimu!." Dukung Minseok

" Ak-Aku akan pergi ke perusahaannya. Hari ini Minseok. Ya aku!." Ucap Jongdae terharu.

" Tentu sayang. Aku akan menyiapkan jas yang paling bagus.. paling trendi! Paling tampan kau gunakan untuk hari ini." Ucap Minseok semangat

Jongdae memeluk Minseok penuh suka cita, sesungguhnya dia benci memiliki pekerjaan, tapi ini sangat jarang terjadi ketika Junmyeon mempercayainya untuk mengurusi perusahaannya. Mungkin ini adalah kesempatan sekali dalam seumur hidup Jongdae. Perusahaan Junmyeon sangat maju dan besar dibanding perusahaan Jongdae, ini salah satu penghormatan untuk dirinya.

Setelah berkutat dengan pakaian apa yang akan digunakan Jongdae hari ini, akhirnya Minseok melepaskan kepergian Jongdae dengan iringan air mata. Baru kali ini Minseok melihat Jongdae sangat bersemangat pergi kerja dan rela meninggalkan dirinya dirumah.

Minseok menutup pintu rumahnya, mengelap sisa air mata bahagianya kemudian naik keatas menuju kamarnya kembali. Langkahnya berhenti, rasa penasarannya masuk. Benar kata Jongdae, ini sangat jarang terjadi. Apa yang dilakukan Junmyeon di kamarnya. Apakah dia sakit ataupun dia membawa seorang gadis ke dalam kamarnya. Jiwa gosip Minseok timbul langkah kakinya berharap membawa badannya ke pintu kamar Junmyeon. Minseok tidak bisa menahan lagi. Perlahan dia mendekati pintu kamar Junmyeon, membuka sedikit dan mengintip. Sepi tidak ada suara apapun. Minseok membuka lebih besar lagi. Mengintip lebih jelas lagi, terlihat Junmyeon membelakanginya dengan laptop yang menyala di depannya.

Tidak terlihat apa yang dilakukan Junmyeon, tapi tampak dia sehat dan tidak ada seorang pun menemaninya di kamar itu. Minseok mendadak kecewa dengan pikiran-pikirannya yang berharap melihat Junmyeon membawa seorang gadis ataupun pria ke dalam kamarnya. Perlahan ia tutup kembali pintu kamar Junmyeon.

.

Sebenarnya Junmyeon masih belum yakin apakah benar website yang tengah dilihatnya ini benar-benar milik Yixing. Junmyeon tidak tahu harus mengirimkan apa sebagai pembuktian atas rasa penasarannya. Tanda offline masih tertera di status website tersebut. Junmyeon nekad mengirimkan sebuah pesan singkat.

Yixing, apakah ini kau?

Tidak ada balasan, Junmyeon pun menduga jika memang bukan hanya dirinya yang berjibaku oleh website tersebut. Pesan yang dikirimkannya tidaklah terlalu menarik dan penting untuk dibalas Yixing. Junmyeon mengirimkan lagi pesan.

Yixing ini aku Junmyeon, lelaki yang memesanmu di hotel W Jepang kemarin. Kumohon balas pesanku.

Tidak ada balasan, tapi setidaknya Junmyeon telah berusaha. Mendadak pikiran Junmyeon hanya berpusat pada Yixing. Junmyeon melupakan bisnis-bisnis nya, kebiasaan nya untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Seluruh isi website Yixing telah habis baca, kebanyakan bercerita tentang pemikiran Yixing tentang kehidupan. Junmyeon tidak menyangka, Yixing yang menjual tubuhnya memiliki otak yang dapat berpikir sejauh itu.

Sebuah tanda email masuk tertera di chat Junmyeon. Junmyeon membuka dengan secepat kilat seakan pesan itu mampu menyelamatkan hidupnya.

Hai pria dingin pecinta renda…

Hanya lima kata tapi mampu membuat Junmyeon bahagia, kata-kata yang memastikan memang Yixing lah pemilik dibalik website tersebut. Junmyeon membalas lagi berharap Yixing masih berada di depan layarnya.

Yixing berikan kontakmu, aku ingin berjumpa denganmu berapapun itu.

…..

…..

…..

Yixing balas kumohon…

..

..

Yixing apakah kau masih disana?

.

Tarifku masih sama, jika kau mau kembalilah ke Jepang tanggal 5 bulan depan, pesan seperti awal hotel dan kamarmu, juga sebotol wine manis itu. Aku akan datang setelah kau mengirimkan chek dan kunci.

Baik! Kemana aku akan mengirimkan nya?

Letakkan saja di resepsionis hotel..

Kau serius?! Ini $ 5.000 Yixing bukan $5!

Kau mempercayakan pengasilanmu kepada kestabilan saham, dan aku mempercayai uang ku ke orang-orang yang tidak kau duga.

Baiklah… Tanggal 5 aku akan memesannya dari sekarang.

Tidak ada balasan lagi dari Yixing, benar kata Do Kyungsoo bahwa ini seperti sebuah keberuntungan. Junmyeon mengechek tanggal untuk memastikan masih ada waktu sekitar 3 minggu lebih untuk berjumpa dengan Yixing. Sesibuk itulah Yixing? Junmyeon frustasi, bukan hanya seks yang menjadikan Junmyeon ingin berjumpa kembali dengan Yixing. Melainkan memang keberadaan Yixing dengan segala yang dimilikinya. Sosok misterius Yixing terus menyita perhatiannya. Ingin rasanya Junmyeon terus menggali, sosok pria berjas ketat yang merubahnya dalam waktu semalam.

TBC

*JANGAN LUPA REVIEW KAKA^^*

Astagaaa kenapa jadi lanjut nih cerita hahaha kacaau kemakan rayuan para reviews nih hahaha

Masih mau lanjut apa stop aja karena bener ini kubuat untuk Oneshoot awalnya karena masih ada hutang di Lilac T.T