Holla minna-san! I'm back! XD

Oke, saya tahu kalau updatenya luaaamaaa bangett. Bukannya saya gak mau update, suer deh. Idenya mampet, you know? Dan... ada banyak alasan yang tak bisa kutuliskan di sini satu per satu (yang ada nanti gak kelar-kelar)

Well, adakah yang menanti fic-ku ini? *plakplakplak*

Oh, ya! Big Thanks for reviewer(s) yang telah menyemangatiku untuk ngelanjutin fic ini (walaupun gak sesuai harapan), yang udah favorite-in, follow my fic, and silent reader too. You know, aku tak berarti tanpamu *eeaa.

Yang gak login, maaf gak bisa balas riviewnya satu-satu. InsyaAllah kalau ada kesempatan aku bales, oke?

Yosh, gak usah banyak cingcong. Monggo dibaca ^^

Nemu Bayi

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: OOC, typo(s), alur lompat-lompat dan kesalahan manusia lainnya

Chapter 2

Happy reading…

"Kau… menemukan bayi, Naruto?" tanya Sasuke dan dibalas anggukan oleh Naruto.

'Ini mengerikan,' batin para shinobi laki-laki.

"Aaa… aku ingin melihat bayinya," kata Sakura dengan wajah berbinar-binar.

Dengan sigap Naruto memberi bayi itu kepada Sakura. Belum dua detik, bayi itu sudah dihamili (?) para kunoichi.

"Lihat, dia manis sekali…"

"Dia tertawa, cute sekali…"

"Aaa, ingusnya keluar, kerennya~,"

Kalimat terakhir membuat shinobi laki-laki sweatdrop di tempat. Mereka melihat para kunoichi dengan tatapan nanar. Tahu 'kan bagaimana rasanya diacuhkan? Pasti sakit, sakittt sekali. Kasihan.

Merasa terpojok, akhirnya mereka bermain sumput kartu (?). Setidaknya permainan ini membuat mereka sedikit dianggap. Sedikit.

"Hei, kalian tidak ingin melihat bayinya?" tanya Tenten pada mereka.

Akhirnya mereka kembali dianggap saudara-saudara, beri tepuk tangan yang meriah pada mereka.

"Um… baiklah, kami akan melihatnya," ujar Shino.

"Tapi, kami malas berdiri. Antarkan saja bayinya ke sini," ungkap Lee.

"Tidak mau, kalian ini malas sekali, sih. Mau jadi apa kalian kalau sudah besar nanti, hah?" kali ini Ino membalas ucapan Lee.

"Oh, oh, aku ingin jadi Superman. Pembela kejahatan, pembasmi kebenaran. Hohoho," kata Kiba sambil bergaya ala Superman, sehingga membuat mereka sweatdrop di tempat.

"Hah, merepotkan. Lempar saja bayinya ke sini. Gampang 'kan?" kata Shikamaru.

"Yah, dan aku akan memakannya, eh, maksudnya menangkapnya," ujar Chouji.

"Chouji, dia itu bayi, bukan barang. Nanti kalau dia jatuh bagaimana?" ujar Sakura.

"Sebagai manusia kita tidak boleh berburuk sangka, Sakura. Kita harus mengikuti takdir yang ada. Sebagai manusia kita blablabla…" kata Neji panjang lebar sehingga membuat Sakura tertidur.

Akhirnya Hinata melempar bayi itu layaknya bola baseball. Dengan sigap Chouji menangkapnya. Sama halnya dengan para kunoichi, mereka juga terpesona oleh kepolosan bayi itu.

"Suatu saat nanti bayi ini akan melakukan hal yang merepotkan…"

"Hei, bayi. Jika kau besar nanti kau harus punya semangat masa muda yang tinggi, ya?"

"Yo, dattebayo! Kau manis sekali, dattebayo!"

"Dobe, dia itu laki-laki. Bukan perempuan," Sasuke menatap Naruto kesal.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Naruto.

"Menurut buku yang kubaca, kita bisa mengetahui jenis kelamin bayi dengan melihat bulu hidungnya. Kalau bulu hidungnya panjang, berarti laki-laki. Tapi, kalau bulu hidungnya pendek, berarti perempuan," kata Sasuke panjang lebar dan dibalas anggukan oleh Naruto.

Tanpa mereka sadari, para kunoichi sudah berada di dekat mereka. Para kunoichi melihat wajah mereka yang berbinar-binar sehingga membuat para gadis bergidik ngeri.

"Eng… ano… bayinya mau kita apakan?" tanya Hinata.

Pertanyaan Hinata membuat para shinobi terdiam. Termasuk Shikamaru, Neji, Shino dan Sasuke yang terbilang cerdas. Sejauh ini mereka belum memikirkan hal ini sebelumnya.

"Oh, oh. Bagaimana kalau bayinya kita taruh di rumah sakit? Bukankah lebih baik?" kata Lee sambil tersenyum.

"Aku tidak setuju, bagaimana kalau kita saja yang merawatnya?" kata Sakura.

"APA?" teriak para lelaki bersamaan.

"Ide bagus!" seru para gadis.

Neji menyilangkan tangannya, lalu menaruhnya di atas dada, "Aku tidak setuju, siapa yang setuju denganku?" tanyanya.

Semua lelaki yang ada di sana mengangkat tangan–pertanda setuju. Sedangkan para gadis sedang bercanda dengan si bayi.

"Hei gadis-gadis, kalian lihat 'kan kalau banyak yang tidak setuju akan ide konyol kalian? Lebih baik kalian ikuti sarannya Lee," kata Sasuke.

Mendengar hal itu, Hinata menangis, sehingga membuat Neji, Naruto, Shino dan Kiba panik. Gadis itu menangis sejadi-jadinya, sehingga membuat yang lain menjadi simpati–kecuali Shikamaru yang sedang tidur. Sang bayi pun melihat Hinata dengan tatapan sedih. Beberapa detik kemudian, menangislah si bayi sehingga menyebabkan taman itu menjadi berisik.

"Kalian jahat, hiks… hiks…. Apa kalian tidak kasihan melihat bayi ini? Kenapa dia harus dirawat ke rumah sakit sementara kita bisa merawatnya? K-kalau bukan kita yang merawatnya, siapa lagi?" ucap Hinata sambil meniru salah satu iklan di televisi.

'Bagus, Hinata. Kau benar-benar berbakat dalam ber-acting,' batin para gadis.

"Baiklah, kita akan merawat bayi itu, oke?" kata Naruto.

"Ap… yah baiklah," kata mereka setelah di deathglare habis-habisan oleh Naruto.

"Tapi, bagaimana kita merawat bayinya? Kita terlalu banyak," ucap Kiba.

Mereka tertegun dengan ucapan Kiba, kemudian mereka melirik Shikamaru yang sedang tertidur. Merasa diperhatikan, Shikamaru pun membuka matanya.

"Kenapa? Aku tampan, ya?" ucapnya narsis.

Ucapan pemuda berambut nanas itu membuat mereka mual, ditambah lagi adanya angin topan yang dibuat oleh Temari sehingga membuat mereka terpental jauh. Untung saja bayinya berada di atas Menara Tokyo (?), sehingga ia tidak merasakan bagaimana rasanya terpental jauh.

'Hei, Shikamaru. Sekali lagi kau berbicara yang tidak-tidak, akan kubuat kau melayang ke Segitiga Bermuda.'

"Siapa yang bicara? Hantu, ya?" kata Shikamaru..

'Ini aku, Temari. Baka! Kau benar-benar membuatku kesal, kepala nanas!'

"Kau? Temari? Kenapa suaramu saja yang ada? Badanmu ke mana? Bagaimana kalau aku ingin menikah denganmu kalau tubuhmu tak ada, hah~ merepotkan."

Beberapa detik kemudian, muncullah angin topan yang dibuat oleh Temari sehingga membuat si kepala nanas tepar di tanah.

Melihat itu, tatapan mereka langsung beralih ke Sasuke–untuk meminta saran.

"Hn?" ucap Sasuke ambigu.

"Kau ini, sok cool sekali jadi orang. Cobalah beri kami saran, jangan diam saja." Kiba melihat Sasuke dengan tatapan jengkel.

Kali ini Sasuke menarik napas secara perlahan, kemudian menatap bayi itu sejenak dan beralih ke arah mereka. Sepertinya Sasuke serius dalam hal ini, sampai-sampai kerutan di dahinya bertambah seribu kali lipat (?) dibanding biasanya.

"Aku hanya mengatakannya sekali. Jadi, dengarkan baik-baik. Setiap kelompok mempunyai tiga orang anggota, kita di sini memiliki empat kelompok. Jadi, kita memiliki 12 anggota. Nah, ke-12 anggota ini kita bagi menjadi enam kelompok. Jadi, satu kelompok terdiri dari dua orang dan setiap kelompok harus menjaga bayi itu selama seharian penuh, mengerti?" ucap Sasuke.

Dan kalian tahu apa reaksi mereka? Oke, mari kita lihat.

Naruto dengan mulut berbusa akibat mendengar ocehan panjang lebar Sasuke, Sakura yang melongo tingkat dewa, Hinata pingsan, Shino makan mie ramen milik Naruto, Kiba dan Lee menangis terharu, Tenten menghitung jumlah rambut Neji yang rontok, Ino menanam bunga beserta Chouji yang melihat bayi di tangan Hinata dengan tatapan lapar–kecuali Shikamaru yang terdampar akibat angin topan Temari.

Melihat itu, Sasuke hanya bisa pundung di tempat.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara tepuk tangan yang meriah di taman itu. Rupanya mereka sudah normal kembali, termasuk Shikamaru yang entah kenapa sudah ada di sana dan ikut bertepuk tangan.

"Kau tahu, Sas. Aku tak tahu apa yang kaukatakan. Tapi, itu keren sekali… pidatomu… mengingatkanku pada Guy-sensei," ucap Lee sambil menyeka air matanya.

"Hah~, merepotkan."

"Hei, Sasuke. Kita ini sebenarnya terdiri dari 13 anggota, loh~. Kau salah hitung," ucap Kiba.

"He? Bagaimana bisa? Kau tidak lihat kalau di sini terdiri dari 12 anggota?"

"Tidak, aku melihat ada 13 anggota. Kau yang salah lihat."

"Memangnya siapa lagi, Kiba? Aku tak melihatnya?" kali ini Ino bertanya pada Kiba.

"Akamaru, dia 'kan termasuk anggota kelompok." Kiba menjawab pertanyaan Ino polos, sehingga membuat mereka sweatdrop tingkat dewa.

"M-maksudnya, anggota manusia, bukan anggota hewan. Kiba-kun." Hinata menyela ucapan Kiba.

"Bolehkah aku bertanya sesuatu? Kalau kita dibagi menjadi enam kelompok, otomatis kita menjaganya selama enam hari. Padahal, dalam seminggu ada tujuh hari. Nah, yang satu hari itu untuk apa?" tanya Tenten.

"Untuk yang satu hari itu, kita random kelompoknya. Jadi, siapa yang terpilih, dialah yang mendapat tugas double." Shikamaru memberi tanggapan pertanyaan Tenten.

"Yup, atau… kita bisa merawat bayi itu secara bergantian. Karena kita terbagi menjadi enam kelompok, sedangkan waktu dalam sehari adalah 24 jam. Otomatis per kelompok menjaga si bayi selama empat jam," ucap Sasuke menambahkan pendapat Shikamaru.

"Aku pilih opsi yang pertama saja, opsi yang kedua benar-benar repot," kata Naruto.

"Kalau tak mau repot, titipkan saja bayinya ke rumah sa-"

"Tidak!" ucap kunoichi sambil mendelik ke arah Shino – yang menyarankan hal tersebut.

"Baiklah, yang setuju dengan Shikamaru angkat kaki (?), sedangkan yang setuju dengan Sasuke angkat besi (?)," kata Neji.

Yah, sepertinya Dewi Pers*k… maksudnya Dewi Fortuna berpihak pada Shikamaru. Buktinya banyak yang mengangkat kaki mereka–pertanda setuju. Melihat itu Shikamaru hanya menyeringai puas.

"Lihat, banyak yang setuju denganku, Uchahi," kata Shikamaru.

"Heh, anggap saja kau sedang beruntung, Rana," balas Sasuke.

"Nara, baka! Bukan Rana!"

"Hn."

"Baiklah, kita undi saja siapa saja pasangannya, setuju?" kata Sakura.

"Setuju!" jawab yang lain.

"Hompimpah alaium gambreng!"

"Yak, Naruto dan Sasuke sama. Kalian berjaga di hari senin, ya?" kata Ino.

"What the... aku dan... Sasuke?" kata Naruto sambil melirik Sasuke, sedangkan Sasuke mengerling jahil pada Naruto.

"Aaaa... tidakk! Aku tidak mau dengannya, aku mau dengan Hinata!" kata Naruto sambil bersembunyi dibalik punggung Hinata.

"Tidak bisa, Naruto. Keputusan ini tidak dapat diganggu gugat." Sasuke mendekat ke arah Naruto sambil mengerling jahil ke arahnya, melihat itu Naruto berlari ke arah Ino.

"Ino, tolong selamatkan aku dari ayam gila ituu!" teriaknya.

Ino melirik ke arah teman-temannya yang lain–meminta saran. Mereka hanya menatap Ino dengan pandangan terserah-kau-saja (kecuali Sakura yang sedang ingin melihat adegan yaoi secara live).

Merasa kasihan, Ino pun berkata,"baiklah, ayo kita ulangi lagi. Dan jika kalian sudah mendapat pasangan, terima saja dan jangan protes!"

Semua setuju dengan perkataan Ino, akhirnya mereka melakukan hompimpah ulang. Setelah melakukan hal tersebut, terlihat beberapa orang peserta tepar dengan mulut berbusa akibat kelelahan mengayunkan tangan (?). Dan berikut, hasil pemeriksaan undian hompimpah menurut Densus 88 (?):

Sasuke dan Naruto, Sakura dan Ino, Lee dan Chouji, Kiba dan Shikamaru, Tenten dan Hinata, Neji dan Shino.

"Yak, keputusan tidak dapat diganggu gugat. Itulah hasilnya. Dan untuk Naruto, tidak ada bantahan lagi, mengerti?" kata Ino.

Naruto mengangguk, kemudian ia melihat ke arah Sasuke. Terlihat Sasuke sedang melayangkan ciuman jarak jauh kepada Naruto. Melihat itu, Naruto tepar tidak elitnya sehingga membuat Sasuke dan yang lainnya tertawa terbahak-bahak.

Oh, poor Naruto.

To be continue...

Oke, aku tahu ini garing dan OOC. Tapi, aku sudah berusaha semampuku.

Ah, ya. kira-kira chapter ini nge-bashing chara gak, sih? Kalau nge-bash kasih tahu aja, oke?

Akhir kata, adakah yang mau riview? *crocodile (?) eyes no jutsu*