A/N:

Waw,lumayan lah ga lama amat kan? :


.

.

Angel With A Glasses

Summary:

Bukan salahnya kalau ia tidak suka manusia. Mereka makhluk lemah, tidak seperti malaikat—tidak sepertinya. Jadi sekarang ia bingung kenapa Ocho memaksanya untuk menjaga seorang manusia. Seorang pemuda bertopi jingga. Ugh, Ia yakin kalau tugas ini akan menjadi merepotkan. Apa lagi jika sebentar lagi kiamat. Tunggu. Apa?! [Supernatural!AU]

.

.

.

Angel With A Glasses

By: TsubasaKEI

Genre: Supernatural, Friendship, Romance(?)

Character: Angel!Fang, ?Boboiboy, Angel!Ochobot (Ocho)

Warning: penulisan indo-melayu tidak konsisten, slowburn(?), TYPO

Disclaimer: I do not own Boboiboy and Supernatural, but this fic is mine tho :)

Enjoy~

.

.

.


Chapter 2: S.O.S! The Big guy is Missing!

Fang tidak bisa tidur.

Yah, mau dipaksakan tidur juga; 1. Malaikat tidak perlu tidur, 2. Ia punya tugas untuk mengawasi Boboiboy, dan 3. Ia tidak pernah merasa setegang ini selama masa hidupnya.

Kemarin Boboiboy memperkenalkan dirinya kepada Tok Aba, kakek dari Boboiboy yang menerima kehadiran Fang sama hangatnya seperti Sang Cucu. Setelah itu Boboiboy menunjukkan kamar Fang yang berada di sebelah kamar Boboiboy sekaligus meminta maaf kalau misalnya terlalu kecil untuk selera si malaikat. Fang tidak keberatan, lagipula ia pastinya tidak akan tidur nanti malam.

"Aku tidur di kamar sebelah, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk mengetok masuk." Ucap Boboiboy yang tengah menyenderkan dirinya di samping pintu masuk, memperhatikan Fang yang sedang mengetes keempukkan kasurnya.

"Terima kasih." Fang mengangguk singkat. Perhatiannya terkunci pada lampu tidur di samping kasur. Ia menekan tombol dan terlonjak saat cahaya menyinari mukanya telak. Fang cepat-cepat mematikannya.

Boboiboy berusaha menahan senyum—yang tentunya tidak berhasil. Walau sepintas Fang terlihat kaku, ada saat-saat di mana dia bertingkah seperti anak kecil yang baru mengenali dunia. Hal itu mengingatkannya pada Ocho. Boboiboy ingat ketika bocah pirang itu duduk di depan tv, wajah hanya beberapa centi dari layar. Mulut menganga kagum melihat seri Detektif Konon yang tengah diputar. Boboiboy yakin Fang tidak jauh beda dari saudaranya itu, walaupun emosi yang dikeluarkan masih lebih terkendali ketimbang Ocho yang sangat ekspresif.

Boboiboy terlekeh, "jangan takut, itu hanya lampu. Paling dia hanya membuatmu silau." Canda Boboiboy.

"Aku tidak takut pada benda mati." Balas Fang dengan wajah datar. Namun Boboiboy bersumpah ia melihat bibir itu sedikit mengerung kesal.

"Oke oke, aku tidak menuduh apa-apa kok." Boboiboy mengangkat kedua tangannya dan terkekeh, kemudian wajahnya berubah khawatir, "apa kau yakin kau tidak perlu mengambil barang bawaanmu?" Fang menolak tawaran Boboiboy untuk mengambil barang bawaannya dari di manapun tempat Fang tinggal saat ini. Boboiboy tidak masalah jika ia harus sampai malam menemani Fang mengambil barangnya. Namun tampaknya pemuda berkacamata itu punya pendapat yang berbeda.

Fang mengangguk—sepertinya itu sudah menjadi gerakan favorit si pemuda. "Tidak apa, lagi pula sudah malam, bukan? Tidak aman untuk pergi keluar. Aku bisa mengambilnya besok, jangan khawatir." Jawab Fang walaupun ia tidak sepenuhnya berkata jujur. Fang tidak yakin jika mengatakan kalau ia tidak punya barang bawaan akan membuat Boboiboy merasa janggal. Ia sudah berbohong banyak agar dirinya terlihat normal seperti manusia biasa. Dan dengan setiap dusta yang keluar dari mulutnya, Fang merasa perutnya melilit tidak enak. Fang menghiraukan rasa itu. Ini demi misi, ia melakukan hal yang benar di sini.

"Hmm.." Gumam Boboiboy, tidak begitu yakin dengan keputusan Fang. Tapi melihat langit memang sudah menggelap Boboiboy menyadari ucapan Fang ada benarnya. "Baiklah kalau kau bilang begitu. Selamat malam Fang. Aku akan membangunkanmu kalau sudah waktunya sarapan."

Boboiboy mendadahi Fang dan keluar kamar. Fang menunggu sampai suara langkah kaki Boboiboy menghilang. Ia diam menunggu selama beberapa jam sampai tidak ada lagi suara grasah-grusuh dari kamar sebelah dan nafas Boboiboy berubah tenang, menandakan kalau pemuda itu sudah tertidur lelap. Fang beranjak dari kasur. Ia lalu menerbangkan dirinya keluar rumah. Dalam sedetik Fang sudah berpindah ke pohon langganannya tempat ia mengawasi Boboiboy setiap malam.

Boboiboy lagi-lagi membuka jendela kamar tidurnya lebar-lebar. Pemuda itu tertidur memeluk bantal dengan kepala tersender ke meja belajar di bawah jendela, hampir terjulur keluar. Topinya dia lepas, dan alhasil rambut coklatnya teracak-acak angin.

Fang duduk bersender ke batang pohon mengawasi Boboiboy, angin malam menggetarkan dahan tempatnya bertengger. Fang dapat merasakan pipinya diterpa ranting terus-menerus. Dedaunan berguguran setiap kali angin berhembus, dan kertas tugas Boboiboy sudah diambang tertiup angin.

Fang memperhatikan Boboiboy lama. Kertas yang di ambang terbawa angin dan jendela yang mengetuk dinding terus-menerus sepertinya bukanlah kondisi ideal untuk manusia tidur. Boboiboy tidak menunjukan tanda-tanda akan bangun walaupun Fang yakin posisi tidur Boboiboy tidak baik untuk lehernya. Setelah beberapa detik memutar otak, Fang mengambil keputusan kalau ia harus melakukan sesuatu untuk mengubah itu. Ia terbang ke kamar Boboiboy. Langkah seringan mungkin; lantai dengan ajaib tidak berderik sekecil pun. Ia memungut kertas-kertas tugas Boboiboy dan meletakannya di atas meja lain yang tidak tergubris angin. Fang sempat berdiri ragu di belakang Boboiboy, tidak yakin untuk menyentuh pemuda itu atau tidak. Namun Fang mengingatkan dirinya kalau ia harus melakukan tugas yang lebih baik dibandingkan Ocho.

Perlahan tangan putih menyentuh pundak, lalu dengan hati-hati berpindah ke belakang kepala Boboiboy. Fang menekuk lututnya dan memindahkan kepala Boboiboy ke pundaknya sementara tangan yang satu lagi menyelip ke bawah lutut Boboiboy untuk mengangkat pemuda itu. Fang memindahkan Boboiboy—yang secara ajaib masih mendengkur pulas di tenguk leher Fang—ke kasurnya. Si kacamata meletakannya perlahan, hati-hati, dan menutupi tubuh Boboiboy dengan selimut sampai ke dagunya. Suhu tubuh manusia harus dijaga jika tidak ingin sakit. Fang kemudian menutup jendela agar tidak ada suara dan angin malam yang memperbesar kemungkinan Boboiboy terbangun. Kualitas tidur yang baik menentukan produktifitas manusia di pagi hari. Boboiboy pasti akan bangun dengan tubuh segar jika dia tidur dengan pulas.

Boboiboy mengigau, lalu ia menghembuskan nafas lega, memasuki tahap tidur yang lebih lelap. Secara otomatis tubuhnya meringkuk dan mencari bantal terdekat untuk ia peluk. Fang berdiri di samping kasur, memastikan si manusia tetap bernafas stabil dan tidurnya tidak terganggu. Memperhatikan bagaimana bibir itu mengeluarkan dengkuran kecil dan gumaman tak jelas. Wajah mulus tampak lebih muda saat terbebas dari kerung-kerung resah. Ketika mentari terbit dan Boboiboy membuka kedua matanya–keheranan akan bagaimana ia bisa berpindah tempat – Fang sudah menghilang dari pandangan.

.

.

Boboiboy menuruni tangga sembari mengucek kantuk dari matanya. Ia tidak ingat kapan ia tertidur dan bagaimana ia bisa berpindah tempat ke kasur. Tapi hasil dari keajaiban misterius itu membuat tubuhnya lebih segar jadi ia tidak akan protes. Ia sudah mengetok pintu kamar Fang. Namun ketika ia tidak mendapat balasan dan mendapati kamarnya kosong dan rapih Boboiboy berubah panik. Mungkinkah Fang kabur tadi malam? Tidak mungkin, 'kan?

Asumsi itu dibuktikan salah ketika ia mendengar suara sang kakek dari lantai bawah tengah berbincang dengan seseorang; tidak diragukan lagi pastinya Fang. Boboiboy segera bergegas ke bawah.

"Pagi Boboiboy, tidur kau nyenyak ke?" Tok Aba menyapa cucunya yang baru turun. Fang yang tengah memegang dua gelas berisi teh dengan wajah serius memindahkan pandangannya ke Boboiboy dan memberikan anggukan kecil sebelum kembali fokus ke gelas di tangannya. Perlahan ia meletakan kedua gelas tersebut di atas meja. Ada kerung yang tidak melepaskan diri dari kening Fang.

"Kantong kecil itu mencemari air dalam gelas ini. Aneh, baunya tidak seperti racun. Dan kakekmu bilang kita akan meminumnya?" Tanya Fang dengan serius kepada Tok Aba. Yang ditanya tersenyum dan mengangguk. Ada semacam syok di wajah Fang ketika ia mendengar hal itu. Ia kembali menatap gelas berisi air kecoklatan itu dengan was-was, tangan menggaruk-garuk bawah dagunya seolah ia berpikir keras. "Hm, menarik." Gumamnya.

Boboiboy diam kebingungan. Ia mencari mata sang kakek meminta jawaban. Melihat cucunya kehilangan kata-kata seperti itu membuat Tok Aba tertawa lepas.

"Fang baru pertama kali membuat teh celup. Katanyé manusia itu makhluk yang aneh." Jelas Tok Aba.

Mungkin seharusnya Boboiboy keheranan dengan jawaban itu. Namun hari yang masih pagi dan perut kosong tidak membantu Boboiboy untuk berpikir jelas. Jadi ia mengangguk saja dan mengambil tempat duduk di samping Fang, menepuk pelan bahunya tanpa mencurigai apapun. "Ayo makan."

Boboiboy dan Tok Aba mengambil lauk yang disediakan. Fang memperhatikan kedua manusia itu dan mengikuti gerakan mereka; mengambil nasi dan telur dadar. Fang memegang sendok dan garpunya canggung, mata diam-diam melirik Boboiboy yang sedang memotong telurnya. Fang mengikuti. Tapi tetap saja, sampai makanannya habis pun lidahnya hanya mencicipi rasa hambar.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan hari ini, Fang?" Tanya Boboiboy, mulut penuh dengan makanan hingga pipi menggembul. Fang, yang berusaha memasukan jumlah makanan yang sama pada mulutnya, berhenti menyuap. Cepat-cepat Fang menelan.

"...entahlah. Aku tidak punya rencana pasti." Fang memang tidak punya rencana lain selain mengawasi Boboiboy. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Mencari-cari alasan yang pas juga sulit, Fang tidak pernah suka berbohong. Sebisa mungkin ia ingin menghindari tindakan setan itu. "Mungkin aku akan memberitahu Ocho kalau aku akan tinggal di sini sementara waktu."

"Ocho juga di Pulau Rintis? Wah, kenapa tidak bilang? Padahal dia bisa menginap di sini bersamamu." Ujar Boboiboy. Fang meringis.

"Dia hanya berkunjung sebentar saja. Aku baru bertemu dengannya beberapa hari lalu, entah sekarang dia ada di mana." Kemarin malam setelah menggotong Boboiboy ke kasur, Fang terbang ke atas atap untuk mencoba berkomunikasi dengan Ocho, sekedar mengecek apakah saudaranya itu sudah kembali terjerumus masalah lagi atau tidak. Setelah 15 menit tidak ada respon, Fang menyerah. Tak masalah, lagi pula kalau Ocho mengetahui Fang berada di rumah Boboiboy bisa saja dia langsung terbang kemari. Dan kalau Ocho berada di dalam satu ruangan yang sama dengannya bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nanti.

"Oh...begitu." Boboiboy tampak kecewa tidak bisa bertemu dengan Ocho. "Ya sudahlah, jangan lupa titip salamku padanya ya."

Belum sempat menjawab, seseorang terdengar mengetok pintu dengan tergesa-gesa, mengagetkan penghuni kediaman Boboiboy.

"Siapè yang datang pagi-pagi ni?" Boboiboy beranjak dari kursinya hendak membuka pintu.

Tok Aba menaikkan bahunya, sama kebingungannya dengan Boboiboy. "Entah, mungkin kawanmu, Boboiboy."

Fang ikut berdiri, mata memicing siaga pada pintu. Ia dapat merasakan siapa pun dibelakang pintu itu bukanlah manusia, energinya terasa terang, bak cahaya yang bergejolak tidak tentu. Familar, seperti –

"Halo? – Eh? Ocho?" Bocah pirang itu menyengir lebar. Ia melempar dirinya pada Boboiboy dan memeluknya erat sebelum Boboiboy dapat menolak, memekik girang layak burung kakatua baru diberi makan.

"Boboiboy! Aku rindu sekali denganmu. Rasanya sudah seribu tahun lamanya nggak berjumpa." Ocho melepaskan pelukannya. Lalu ia melihat Fang di belakang Boboiboy yang sepertinya sudah siap membunuhnya. "Oh! Lihat itu, kau sudah bertemu dengan adikku tercinta. Hai Fang!" Ocho tersenyum girang, ia melambai-lambai pada Fang dan berjingkat ke arah sang adik.

"Sedang apa kau di sini adikku? Kakak kira kau sudah pergi dari Pulau Rintis." Geram Fang. Sungguh, apa yang Ocho lakukan di sini. Datang dengan bravado-nya dan mengancam membongkar identitas Fang tanpa dia sadari. Fang hendak mengusir Ocho dengan halus, namun ketika mereka berdua saling bertemu mata Fang menyadari ada sesuatu yang berbeda.

"Sedang apa? Tentu saja untuk bertemu denganmu!" Ocho mengaitkan tangannya manja ke lengan Fang. Si pemuda tidak menolak. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, walaupun Ocho bertingkah kekanakkan memancing emosi, manik biru itu terlihat serius, semua senyum dan tawa yang Ocho tampilkan serasa seperti topeng, membuat Fang merasa ganjil dan tidak yakin harus berbuat apa.

Ocho menoleh ke arah Boboiboy yang masih kebingungan. Ia tersenyum – bukan senyum Ocho yang biasa, tidak membuat matanya sampai mengerut ikut senyum. "Terima kasih sudah menjaga kakakku, Boboiboy. Nanti aku kembalikan dia lagi, tapi sekarang aku culik dia dulu ya."

"O-oh, um, oke..?" Boboiboy terbata kebingungan melihat Ocho menarik Fang ke luar rumah. "Fang, kau bisa kembali ke sini jika memang ingin menginap. Beri tahu aku, ya." Ocho mengirimkan satu kedipan centil pada Boboiboy.

Fang dibawa agak jauh. Dengan menggenggam lengan Fang, Ocho berteleportasi ke tengah hutan jauh dari rumah Boboiboy setelah bocah bertopi itu tidak lagi bisa melihat mereka.

Mereka berada di daerah terpencil, mungkin di dalam hutan di pinggir kota. Terdindingi oleh pohon-pohon besar yang membuat lingkaran, sinar matahari terhalangi oleh rindangnya daun di atas mereka. Ocho melepaskan genggamannya dan membiarkan tangan gelisah mengacak-acak rambut. Matanya menatap Fang, atau mungkin lebih tepat disebut menerawang melewati Fang. Manik biru itu kehilangan kelembutannya, terlihat lelah dan gundah.

"Ada apa?" Tidak suka dengan perubahan karakter itu, Fang yang duluan buka mulut. Ocho tampak memiliki pertentangan batin, bergerak gelisah mondar-mandir kesana kemari. Fang dapat melihat sayap Ocho yang seharusnya indah dan mengagungkan malahan meremang tegang.

"Gabriel, katakan ada masalah apa." Menyebut nama Ocho sesungguhnya tampaknya berhasil menghentikan langkah Ocho, tapi tidak cukup untuk menghapus resah itu dari wajahnya. Ocho menarik nafas dalam, melihat ke kiri kanan, memastikan tidak ada telinga lain yang mendengar.

"Fang, aku - aku ingin bertanya sesuatu. Kapan terakhir kau berkomunikasi dengan-Nya? Aku tahu ini tiba-tiba sekali, tapi aku perlu tahu." Pertanyaan Ocho menusuk hati Fang secara tidak sengaja.

Rasanya baru enambelas tahun lalu Fang terakhir bertemu Sang Pencipta. Mungkin bertemu bukan kata yang tepat. Ketika ia turun ke bumi dan menjadi 'Fang', ada kehangatan yang menyelimutinya seperti pelukan, tangan kasat mata yang menepuk bahunya dan angin yang mengacak-acak rambutnya dengan kasih sayang. Tapi setelah itu tidak ada lagi 'hangat' yang menyaingi intensitas yang sama. Bukan berarti Fang hilang kepercayaan, ia tidak sebimbang itu. Fang yakin diri-Nya selalu ada mengawasi walaupun Ia tidak merasakannya. Tapi Fang akui, hal itu terkadang membuatnya resah. Karena sebelum ia menjadi 'Fang' kehangatan itu selalu ia rasakan setiap saat.

"Enam belas tahun lalu. Memangnya kenapa?" Jawaban Fang membuat Ocho semakin gelisah. Sayap besar itu seolah memeluk tubuh Ocho yang kecil. Kembali Ocho mondari-mandir panik, kali ini lebih resah dibandingkan yang sebelumnya. Dia menggerutu di bawah nafasnya.

"...enam belas tahun..?...belum lama..tapi... gawat...hilang." Melihat Ocho resah, Fang jadi ikut terbawa resah. Saudaranya itu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Fang tidak pernah mengasosiasikan Ocho dengan kata 'resah' dan 'gelisah', tapi selalu dengan 'hiper' dan 'mengganggu'. Tidak benar rasanya jika Ocho berubah 180 derajat. Fang ingin menyentak dan langsung meminta Ocho untuk menjelaskan, tapi ia tahu jika hal seperti ini diburu-buru bisa membuat Ocho semakin panik. Jadi Fang menunggu Ocho menenangkan diri. Akhirnya setelah beberapa menit diisi dengan sayap mengepak-ngepak dan jalan mondar-mandir, Ocho berhenti. Ia menggaruk rambutnya dengan jari-jari gemetaran.

"O-oke, oke, dengar. Ini akan terdengar sangat aneh, tapi menurutmu apa yang akan terjadi kalau Sang Maha Besar hilang dari atas?" Ocho memainkan kacamatanya, kaki berjinjit-jinjit, berusaha mendistraksi dirinya.

Fang keherenan dengan pertanyaan Ocho. Tapi ia tetap menjawab. "Kekacauan? Surga dan neraka tidak bisa bekerja dengan baik? Kiamat? Apa —Kenapa kau menanyakan hal ini, Ocho?" Fang memicingkan matanya tidak suka.

"Iya 'kan?! Kiamat! Kita dalam masalah besar kalau Tuhan menghilang. Tuhan nggak akan menginggalkan kita, jadi kalau Tuhan menghilang Sangatlah nggak mungkin 'kan? Ahaha...haha..." tawa yang dipaksakan itu mengecil, "...ha...tapi, ya, Tuhan menghilang." Ocho tertawa lagi, tapi kali ini terdengar begitu menyakitkan.

Dan Fang? Ia melongo seolah Ocho mengatakan hal terhina paling tidak masuk akal yang seorang malaikat dapat ucapkan. Tapi memang betul, Ocho mengatakan hal tehina paling tidak masuk akal yang seorang malaikat dapat ucapkan.

"Apa?" Fang lalu tertawa kering. "Jadi kau menyeretku ke sini hanya untuk mangatakan omong kosong itu?" Fang menyentak tidak percaya. Rasa khawatirnya seolah dibuang dan diinjak kasar. Kalau Ocho ingin menjaili dirinya terus, tidak apa-apa, mengejeknya juga bukan masalah, itu sudah biasa.

Tapi ini? Meragukan Tuhan dan menuduhnya yang tidak tidak? Beraninya dia. Ini sudah keterlaluan. Ada saatnya Ocho harus tahu di mana waktu bercanda dan mana waktu serius. Dan jika Fanglah yang harus menyadarkan Ocho, biarlah.

Ocho terkaget dan mundur selangkah. Sayap Fang menggetarkan udara di sekitar mereka. Sayapnya tidak semegah Ocho, hanya dua pasang saja. Namun dua pasang inilah yang sudah menerbangkan Fang menuju banyak kemenangan. Dan ketika hati Fang muram, sayap hitamnya ikut bergemuruh, layaknya badai disertai guntur berkecamuk.

Tapi Ocho adalah Sang Pembawa Pesan, yang keluar dari mulutnya bukanlah sampah. Ucapan Fang tidak sengaja memberi pilu, dan untuk sesaat Ocho merasakan emosi bergejolak-jolak di dadanya. "Omong kosong kau kata? Fang, aku nggak bohong! Tuhan menghilang! Kumohon sekali ini saja dengarkan aku. "

"Cukup! Jangan bercanda Gabriel!"

Mata Ocho menyala tajam. "Aku. Nggak. Bercanda!" Angin kejut menghantam telak dada Fang yang tidak siaga, melontarkannya beberapa meter dari tempatnya tadi berdiri dan meledakkan batang pohon yang ada di jalurnya. Secara spontan Fang mengeluarkan belati dari dalam jaketnya dan menancapkannya ke dalam tanah sebelum dirinya terhempas lebih jauh. Raut Ocho sontak berubah kaget akan kelakuannya sendiri. Cepat-cepat ia melipat kembali sayapnya mendekati tubuhnya.

"A-aku nggak bermaksud—Fang maafkan aku,"

Fang terbatuk, pasir menggatalkan tenggorokannya. Ia kembali berdiri dengan sedikit pincang. "Ocho tenang. Aku tidak terluka. Tarik nafas."

Ada ranting di rambut Fang dan dedaunan di jaketnya. Tangan Fang terpelintir, membuatnya bengkok ke arah yang salah – tapi itu bukan masalah besar, tangannya akan sembuh sebentar lagi. Fang membimbing Ocho untuk mengikuti gerakannya. Menarik nafas dalam lalu menghembuskannya lewat mulut. Ocho mengikuti beberapa kali sampai angin sekitar mereka mereda dan bulu sayapnya tidak lagi meregang. Setelah yakin sudah tenang, Fang mendekati sang kakak, menekuk lutut agar bisa berhadapan wajah. Mata biru itu berkaca-kaca, kulit putihnya memucat, dan bibirnya gemetar. Untuk sesaat Fang merasa peran dirinya dan Ocho tertukar. Ocho memang lebih tua, tapi tampaknya beratus-ratus tahun berada bersama manusia membuatnya lebih manusiawi, mengadopsi sifat-sifat rapuhnya yang membuat rentan. Di hari lain Fang akan menegur Ocho akan hal itu; malaikat bukanlah manusia, tidak pantas mereka berlaku sama. Tapi sepertinya ini bukanlah hari itu.

"Oke?" Tanya Fang, lebih lembut dari yang ia kira ia sanggup.

Ocho mengangguk. "O-oke. Maaf Fang, harusnya aku nggak meledak seperti itu," desah Ocho. "Hanya saja, aku nggak tahu apa yang harus kulakukan. Aku datang ke Heaven karena merasakan tarikkan dari Nya. Kau tahu aku nggak suka pergi ke tempat itu, tapi aku tetap memaksakan diri karena Beliau memanggilku. Lalu apa yang kulihat? Kosong. Ruang singgasana kosong, hilang semuanya, bahkan cahaya-cahaya bak lampu sorot itu juga hilang! Fang, kau tahu 'kan apa yang terjadi kalau yang lain tahu tentang hal ini? Kekacauan! Panik! Kiamat!" Ocho mengangkat tangannya histeris, mendemonstrasikan gestur ledakan secara berlebihan.

"Kau...sungguh tidak bercanda, 'kan?" Tanya Fang tidak yakin. Untuk memastikan—benar-benar memastikan. Ocho memutar bola matanya lelah dan menatap Fang seolah mengatakan 'Apa kau tuli?'

Fang berusaha memproses, "...ini...sungguhan terjadi, ya? Tuhan benar-benar hilang." Ucapnya. Rasanya tidak masuk akal jika tuhan hilang. Tapi jika Fang melihat ke belakang; mengingat bahwa ia tidak pernah merasakan kehangatan itu selama 16 tahun, dadanya yang kian lama terasa kehilangan sebagian dirinya, Fang merasa semakin lama ucapan Ocho semakin masuk akal.

"Apa yang akan kita lakukan? Kita harus memberi tahu yang lain—"

"Jangan! Jangan dulu. Kalau mereka tahu mereka pasti langsung menganggap kita membelot dari Heaven, atau mungkin menuduh setan-setan itu." Ocho memblokir jalan Fang sebelum malaikat itu bisa pergi.

Fang menggeram. "Bagaimana kalau ini memang perbuatan mereka?"

"Jangan bodoh, Fang. Se-anti apapun aku dengan makhluk Neraka, aku nggak yakin mereka cukup kuat untuk membunuh pencipta mereka sendiri. Lucifer juga masih ada di dalam kandang. Dan kalau memang mereka pelakunya, seharusnya sudah ada perang besar-besaran antara Heaven dan Hell. Kau tahu sendiri kita itu rival abadi."

Fang berubah muram. Tersesat, bingung. Ia tidak pernah mendapati situasi seperti ini sebelumnya. Ocho benar, lebih baik untuk tidak memberi tahu saudara mereka dulu. Kalau ia sendiri panik, bagaimana dengan ribuan malaikat lainnya? Mendobrak masuk ke Hell juga hanya membuat dirinya jadi bahan lawakan setan-setan itu karena bisa kehilangan Pencipta Alam Semesta.

"Apa yang harus kita lakukan? Kalau tidak diatasi, dan perang terjadi, dunia ini bisa hancur." Dunia yang diciptakan oleh Sang pencipta. Dunia yang harusnya mereka lindungi dan awasi. Fang menatap Ocho meminta jawaban. Fang dan Ocho harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki situasi ini. Ocho juga berpikiran yang sama.

"Aku nggak yakin... tapi..." Ocho merenung, memikirkan solusi. Fang menunggu dengan tidak tenang.

"Aku...kenal seseorang yang mungkin punya ide akan apa yang terjadi."

Ada harapan mekar di dada Fang. "Siapa? Aku ikut denganmu."

Ocho menggeleng. "Jangan, lebih baik aku saja. Dia nggak suka bertemu makhluk seperti kita. Bertemu denganku saja dia masih enggan. Lebih baik kau tetap disini dan jangan beranjak dari sisi Boboiboy."

"Boboiboy?" Kenapa Ocho masih memikirkan manusia itu di tengah kerusuhan ini? "Kita sedang menghadapi krisis, kenapa manusia itu harus dibawa-bawa? Apa yang spesial darinya?"

Ocho menjambak rambutnya frustasi dan mengerang. "Aku nggak tahu! Tapi melindungi Boboiboy adalah satu-satunya misi terakhir yang Dia berikan kepadaku. Itu pasti berarti sesuatu, pasti! Hanya saja kita masih belum tahu apa. Aku nggak mau mengecewakan-Nya." Ocho mencengkram jaket Fang dengan begitu butus asa. Bahkan Ocho sendiri masih meraba-raba, tidak yakin apakah ini langkah yang benar atau tidak. Fang menatap mata biru Ocho yang menyala redup.

"Sekali ini saja, percayalah padaku Fang. Kumohon. Aku akan mencari-Nya, kau tahu aku punya banyak koneksi yang bisa membantuku. Tapi aku perlu kau untuk melindungi Boboiboy, dia hanya manusia biasa, dan, dia temanku. Dia mengajarkan banyak hal baru kepadaku. Aku nggak bisa percayakan dia ke yang lain selain kau."

Fang teringat Plester di keningnya, ia mengangkat tangan untuk merabanya. Lukanya sudah menutup sejak lama, tapi Fang belum sempat berpikir untuk melepasnya. Fang teringat poros muda yang mengerung khawatir pada dirinya, lalu bibir yang tersenyum manis diselimuti harum coklat panas yang membuat semuanya hangat dan nyaman.

Jauh didalam Fang juga merasa harus melindungi Boboiboy, walau ia sendiri tidak tahu mengapa.

"Baiklah, aku akan tetap di sini. Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Berjanjilah." Ocho tersenyum lega, dan dada Fang ikut terasa ringan. Ocho lalu memeluk Fang erat, dan Fang mengembalikan gestur manusiawi itu dengan keeratan yang sama.

"Apapun yang terjadi, tetaplah hidup, Fang." Bisik Ocho penuh makna.

Sedetik kemudian, Fang memeluk udara.

.

.

.

'–hei, hei. Kalian dengar—'

'—Apa? Beri tahu aku—'

'—hilang—'

'—apa?—'

'—Sang Maha Esa hilang—'

.

.

.

To Be Continued


A/N:

WOOOH! Aku seneng sama bagian akhirnya, pas ngedit bikin deg-deg an terus!

Nggak lama kan? Nggak 'kan? Kalo chapter selanjutnya lama gimana dong? :( aah jangan sampe.

Today is a good day for me, jadi walaupun dah malam rasanya ingin update haha xD
buat kalian yang baru ngebuka pengumuman sbmptn sama kayak aku, semoga hasilnya memuaskan yaa. Bagi yang belum beruntung, ingat! Ada banyak jalan menuju roma. Siapa tahu sbmptn bukan yang jalan yang terbaik untuk kalian, dan yang di atas sana tahu yang lebih baik. Don't give up!

Oke, sekian dariku. See you next chapter! xD

Sekian,
TsubasaKEI, out.