MADEMOISELLE
(A Young Lady)
Title:
Mademoiselle
Author:
Elixir Edlar
Cast :
KOOKV, KOOKTAE
Genre:
Romance, Semi-History
Rate:
M (Mature) NC-21
Length:
ONESHOOT
Disclaimer:
All cast belong to God, their parents and Bighit. Ent. I do not own the characters.
This story is ORIGINALLY from my OWN mind.
Warning :
Boys Love, Yaoi, Typos, EYD-failed, Unbeta-ed.
Read on Your Own Consent! Thank You~
.
.
.
NOTE:
IT'S SEMI-EXPLICIT SEX SCENE!
.
Sebelum bersama Taehyung, Jungkook pernah terpikat oleh seorang gadis.
Gadis itu—gadis yang ditemuinya di Perancis ketika ia sedang menjalankan misinya sebagai agen MI6 untuk Inggris. Gadis bersurai pirang, dicepol ke atas dengan poni rata menutup alis yang memanjang masing-masing di ujung dekat telinganya. Anggun sekali.
Dengan gaun warna pastel dengan hiasan renda khas Victoria, ia melenggang dengan sedikit kaku, atau memang kaku sebenarnya. Selain itu ada satu hal yang menarik, dadanya tidak terlalu menonjol atau bahkan bisa dibilang terlalu tipis untuk ukuran seorang wanita pada umumnya.
Jungkook terpesona oleh gadis itu, oleh gesturnya, wajahnya, rambutnya, dan cara berjalannya. Semua yang ada padanya berbeda dari wanita kebanyakan sehingga hal ini menjadi poin atraktivitas utama gadis itu baginya.
Sang gadis memegang sebuah payung bermotif renda putih yang biasa dikenakan oleh wanita Perancis kala itu. Dilewatinya kios-kios yang berjajar di sepanjang bulevar—jalan berpaving yang terdapat tetumbuhan di kanan kirinya—un parfumerie, une liberarie, une fleuriste, un fruitier, dan berhenti pada un bureau de tabac. Hal yang cukup aneh bagi seorang gadis muda karena memilih berhenti pada kios pedagang tembakau.
"Vendez vous des cigares?" tanya gadis itu pada seseorang bertubuh gempal dengan kumis tebal dan sebuah topi derby lusuh di kepalanya.
Orang itu mengernyit heran namun ia tetap menunjukkan beberapa jenis cerutu yang dijualnya. "Fumes vous mademoiselle?" orang itu malah balik bertanya.
"Mm, tidak!" jawabnya gugup, "A-aku membelinya untuk ayahku. Ya, ayahku penggemar berat cerutu.." jelasnya, membuat si penjual hanya mengesah pelan, mencoba maklum. Mungkin ia pikir gadis ini hanya berdalih saja, sayang sekali jika seorang gadis cantik memberandal karena menyukai cerutu.
"Berapa yang kau butuhkan nona muda?" penjual itu bertanya seraya mengemasi cerutu-cerutunya ke dalam kotak.
"Empat kotak ukuran besar. Dua varian klasik dan dua varian original. Terima kasih," jawab gadis itu dengan penuh semangat.
"Ini dia, dua kotak cerutu klasik dan dua kotak original. Terima kasih sudah membeli," katanya sambil menyerahkan empat kotak cerutu yang segera diterima oleh gadis itu yang segera dimasukkannya ke dalam keranjang belanjaannya.
Gadis itu tampak berjalan dengan begitu riang setelah berlalu dari toko tembakau yang disinggahinya tadi. Ia tidak menyadari bahwa di belakangnya berjalan seorang lelaki muda yang telah mengikutinya sejak tadi. Ya, lelaki itu adalah Jeon Jungkook.
Tanpa diduga, tiba-tiba dari arah yang berlawanan dari arah jalan keduanya, muncullah segerombolan anak-anak yang berkejaran di sepanjang bulevar. Mereka semua berlarian secepat angin dan menabraki orang-orang yang berlalu lalang di depan mereka, termasuk gadis yang tadi membeli cerutu juga. Membuat si gadis tersandung rok gaunnya sendiri dan hampir saja terpelanting ke belakang kalau saja seorang lelaki tidak menangkapnya tepat waktu dari belakang. Dan lelaki itu, sesuai dugaan lagi, adalah Jungkook.
"Hati-hati, nona muda.." Jungkook menatap tajam kedua manik kelam gadis itu lalu tersenyum tipis yang lebih mirip seperti sebuah seringaian. Kemudian dibantunya gadis itu berdiri dan dikecupnya tangan kanan si gadis yang berbalut sarung tangan berenda putih. Tidak lupa ia pungut payung sang gadis yang sempat terbengkalai di jalan selama beberapa saat akibat terlepas dari tangan pemiliknya tersebut lalu ia serahkan pada si gadis.
"Bien merci.." lirih gadis itu dan segera melenggang pergi dari hadapan Jungkook. Ia terlihat begitu tergesa-gesa, mungkin gadis itu takut pada Jungkook. Sang gadis bahkan tampak menjinjing rok gaunnya agar bisa berjalan lebih cepat.
Jungkook mendesah pelan sambil tersenyum tipis. "Adieu.." dan ia rasakan jantungnya bertalu menciptakan irama yang terlalu indah untuk menyapa telinga pemiliknya. Ya, Jungkook telah jatuh cinta—pada sang gadis yang baru saja ditemuinya.
.
.
.
Sebulan setelah peristiwa pertemuan-dengan-seorang-gadis-unik-di-bulevar-kota-Paris, Jungkook masih saja memikirkan gadis itu. Ia kerapkali membayangkan apabila suatu hari mereka bertemu lagi, Jungkook ingin sekali berkenalan dan melakukan pendekatan.
Dia adalah sosok seorang gadis yang jauh dari kata anggun bahkan lebih tepat disebut canggung namun telah berhasil mengambil hati sang pangeran kota London, opsir Jeon Jungkook, yang dikenal sebagai perwira polisi paling tampan se-London.
Saat ini Jungkook tengah berada di markas kepolisiannya, di Scotland Yard, mendengarkan beberapa kasus kriminal yang sedang dijelaskan oleh Inspektur Kim Namjoon untuk mereka diskusikan—ketika dari luar datang opsir Jung Hoseok bersama seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya.
"Inspektur Kim, Mr. Kim Taehyung telah datang dari Skotlandia," serunya dengan sedikit terengah. Yang dipanggil menoleh lalu berjalan menghampiri kedua orang yang baru saja masuk ke ruang utama markas kepolisian tersebut.
"Oh, Detektif Kim! Selamat datang di markas kepolisian Scotland Yard," sambutnya hangat pada seseorang yang ia sebut dengan detektif Kim tersebut. Kemudian mereka pun berjabat tangan.
"Panggil saja Taehyung, Inspektur Kim.." katanya sambil tersenyum.
Detektif Kim Taehyung, seorang lelaki dengan postur tubuh tinggi ramping, surainya lurus berwarna cokelat gelap dengan obsidian sekelam malam yang benar-benar menawan. Kulitnya tidak terlalu putih bahkan cenderung eksotis bila dibandingkan dengan kulit orang kaukasia pada umumnya. Hidungnya mancung, matanya besar, dengan bibir berukuran sedang dan garis rahang lancipnya yang begitu kentara. Ia mengenakan setelan jas berwarna coklat sienna dan kacamata bulat di matanya. Dari saku jasnya tersembul sekotak cerutu berukuran besar yang warnanya senada dengan jasnya.
"Oh baiklah, Detektif Taehyung?" goda Namjoon seraya terkekeh pelan. Sedang Taehyung hanya tersenyum manis. "Well, semuanya. Perkenalkan ini adalah detektif Kim Taehyung. Mulai hari beliau akan berkolaborasi dengan unit kepolisian Scotland Yard untuk membantu memecahkan berbagai kasus kriminal misterius yang sulit diungkap atau menemui jalan buntu sekalipun." Jelas Namjoon panjang lebar.
Semua anggota polisi di ruangan itu mengangguk mengerti, sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang detektif swasta dapat bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk mencari jalan keluar dari sebuah kasus kriminal misterius yang sulit dipecahkan. Terkadang pihak kepolisian saja tidak cukup untuk mengulik sebuah perkara pelik yang memerlukan konsentrasi dan kejelian tingkat tinggi dalam tahapan intuitif yang hanya bisa dilakukan oleh seorang detektif. Hal ini dikarenakan pada masa itu, unit kepolisian dan reserse investigatif—yang biasanya dilakukan oleh detektif—masih menjadi satu-satuan terpisah dan belum tergabung menjadi satu unit kepolisian seperti pada masa sekarang ini.
"Ah, iya Detektif Kim, kenalkan ini anak buahku, opsir Jeon Jungkook. Kalian akan bekerja sebagai partner di dalam tim yang sama untuk divisi investigasi dan reserse kriminal," Inspektur Kim Namjoon menyeret opsir Jungkook ke hadapan detektif Taehyung untuk berjabat tangan.
"How do you do, Detective Kim?"
"How do you do, Officer Jeon!"
Dan Jungkook merasakan ribuan kupu-kupu terbang mengitari isi perutnya.
Sebuah perasaan romantik nan menggelitik yang sulit dijelaskan dengan kata-kata menyelubungi seluruh pusat syarafnya. Jungkook merasa lega, akhirnya—setelah sebulan dalam penantian yang tampaknya sia-sia—kini ia dapat menatap manik gelap itu lagi. Manik yang sama seperti yang ditemuinya di salah satu bulevar di kota Paris.
Tidak salah lagi. Gadis yang berhasil memikat hatinya di kota Paris, adalah orang yang sama dengan lelaki yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.
.
.
.
"Cheers!" sorak segerombolan lelaki berseragam polisi yang tengah berpesta di akhir pekan karena tiga kasus pembunuhan dan lima kasus pencurian telah berhasil mereka selesaikan dengan baik dalam bulan ini. Dan tentunya semua itu juga berkat bantuan dari Detektif Kim Taehyung dalam mengungkap the culprit.
Mereka semua, para staf kepolisian termasuk inspektur Namjoon, opsir Hoseok, opsir Jungkook, dan juga detektif Taehyung kini tengah berada di sebuah bar yang tidak jauh dari markas kepolisian mereka. Tapi tenang saja, masih ada beberapa petugas jaga dengan yang jumlah mumpuni di markas kepolisian mereka malam ini karena yang sedang berpesta hanyalah tim investigasi reserse kriminal yang diketuai oleh Namjoon saja.
Di meja yang agak terpisah dari kumpulan orang-orang itu, Taehyung tampak memandangi rekan-rekan polisinya yang tengah bersulang untuk meminum beer bersama-sama. Di sampingnya duduk opsir Jungkook sedang menggenggam segelas penuh beer.
"Tidak minum Detektif Kim?" tanya Jungkook. Yang ditanya hanya menjawab dengan gelengan kelapa dan seulas senyum.
"Aku tidak biasa minum, opsir Jeon," jawabnya santai, di tangannya terdapat segelas soda yang baru dicecapnya dua kali.
"Ayolah Detektif Kim, kita baru saja menyelesaikan delapan kasus dalam sebulan ini. Dan ini adalah pencapaian yang sangat bagus selama kubekerja di Scotland Yard. Dan semua ini tentunya tidak lepas dari bantuan anda juga," bujuk Jungkook, seraya menawari Taehyung segelas besar beer.
"Tidak, terima kasih. Aku benar-benar sudah lama menghindari alkohol. Ya, seperti yang anda ketahui, pekerjaan sebagai detektif menuntutku untuk selalu waspada. Oleh sebab itu aku tidak minum alkohol demi menjaga pikiranku agar tetap waras," jelas Taehyung panjang lebar.
Jungkook mengangguk paham. Ia tersenyum kecil, kelihatannya tengah merencanakan sesuatu. Dan Taehyung memicingkan matanya, ia dapat merasakan sinyal mencurigakan sehalus itu dari raut wajah Jungkook.
Seperti biasa, firasat detektifnya memang tidak dapat diremehkan.
"Mm, Detektif Kim, aku pamit ke meja seberang dulu. Aku akan kembali lagi nanti," kata Jungkook, diiringi respon anggukan kepala oleh Taehyung.
Setelahnya Jungkook beranjak menuju meja seberang, dimana komisaris besar Scotland Yard, Bang Hitman, tengah bercengkerama dengan polisi-polisi senior lainnya.
Taehyung terdiam di mejanya, ia memang sengaja memilih duduk di meja yang agak jauh dari sekelompok polisi metropolitan London tersebut dengan tujuan agar tidak mendapat tawaran minum dan menghindari mabuk tentu saja. Di samping untuk menjaga kewarasannya, juga karena ia memiliki batas toleransi yang sangat rendah terhadap minuman beralkohol.
Taehyung tidak kuat minum, intinya.
Suara decitan kecil di meja Taehyung terdengar, ternyata sebuah kursi baru saja ditarik dari peraduannya. Taehyung menoleh dan mendapati komisaris Bang tersenyum hangat kepadanya. Di belakang komisaris Bang berdiri seseorang yang tadi sempat menghilang sesaat, opsir Jeon.
Dan Taehyung tampak mengumpat dalam hati begitu menangkap cengiran tipis di wajah opsir Jungkook yang tampak seperti seringaian. Sepertinya itu memang benar-benar seringaian.
"Detektif Kim! Mengapa menyendiri? Bersenang-senanglah sedikit. Itu tidak akan menyakitkan. Ini untukmu, untuk kerja kerasmu selama ini karena telah membantu Scotland Yard menyelesaikan berbagai kasus kejahatan," komisaris Bang menyodorkan segelas redwine kepadanya.
Oh tidak! ini buruk, kenapa harus redwine? Bahkan beer jauh lebih baik. Taehyung benar-benar gelisah dalam hatinya. Sejujurnya ia ingin menolak, namun karena orang itu adalah komisaris Bang yang notabene pimpinan tertinggi markas kepolisian Scotland Yard, maka ia pun tetap menerimanya demi kesopanan.
"Terima kasih komisaris Bang," katanya sambil tersenyum. Dipandanginya gelas berisi cairan crimson itu dengan ragu. Ia menoleh ke arah komisaris Bang yang mengisyaratkan padanya untuk meminumnya. Dan akhirnya, ia pun menenggaknya sampai habis.
Habis, seperti kewarasannya yang juga akan habis sebentar lagi, pikir Taehyung.
"Nah, begitu Detektif Kim. Kau harus minum-minum sesekali," komisaris Bang tersenyum dan beranjak dari tempat duduknya untuk menoleh kepada Jungkook. "Kau di sini saja, temani Detektif Kim," komisaris Bang menepuk pundak Jungkook pelan dan kembali ke meja utama dimana kebanyakan polisi senior berkumpul.
Jungkook mengangguk, ia ambil alih kursi komisaris Bang tadi sehingga posisinya berhadapan dengan Taehyung. "Bagaimana Detektif Kim, bukankah redwine rasanya menakjubkan?" tanyanya pada Taehyung.
Taehyung tidak segera menjawab. Ia hanya menghela napas berat dan memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali. "Um, entahlah. Tapi kurasa aku tidak akan baik-baik saja untuk satu jam ke depan," lirihnya.
Taehyung memejamkan matanya lagi, tangan kanannya ia gunakan untuk menopang kepalanya yang mulai terasa sedikit berat. Sepertinya pengaruh alkohol mulai bereaksi di dalam tubuh dan otaknya.
Dan ia tahu ini bukanlah hal baik.
"Detektif Kim, kau baik-baik saja?" Jungkook tampak cemas mengamati keadaan orang di hadapannya itu dari kursinya sendiri.
Taehyung menggeleng pelan, masih menutup matanya. Kedua tangannya ia gunakan untuk melingkupi bagian depan kepalanya dan sedikit meremas-remas rambut depannya.
"Kepalaku pusing," jawabnya pelan. "Opsir Jeon, bisakah kau mengantarkanku pulang ke flat-ku?" pintanya di tengah kesadaran yang semakin memburam akibat pengaruh alkohol.
Jungkook nampak bingung, ia ingin berbuat sesuatu namun tidak tahu apa itu. Ia tidak tahu jika Taehyung benar-benar tidak bisa minum alkohol. "Tentu, aku akan mengantarmu pulang Detektif Kim. Dimana alamat flat-mu?"
Taehyung membuka saku kanan mantelnya, mengeluarkan kartu namanya sendiri lalu menyodorkannya pada Jungkook. Setelahnya ia nampak hampir limbung dari kursinya namun dengan cepat mencengkeram pinggiran meja meski harus sempoyongan karena kepalanya mulai terasa berat dan berputar-putar.
Jungkook bangkit dari kursinya lalu mengitari kursi Taehyung. Ia mencari posisi yang paling nyaman untuk memapah tubuh lelaki kurus itu di bahunya. Setelah dirasa menemukan posisi yang pas, ia lingkarkan tangan kanan Taehyung di bahu kanannya dan mulai memapahnya berjalan ke luar bar setelah sebelumnya berpamitan dengan teman-temannya yang masih betah tinggal dan asyik mengobrol satu sama lain.
Dan dari sanalah kisah Jungkook dan Taehyung dimulai.
Dari sebuah kekhilafan yang mengatasnamakan nafsu dan hormon testosteron.
.
.
Dan saat ini, entah bagaimana awalnya tiba-tiba Jungkook sudah tak berbusana menindih Taehyung—di bawahnya yang sama polosnya dengannya—dan melakukan gerakan maju mundur untuk memperdalam penetrasinya di dalam tubuh sang detektif. Hanya terdengar suara decitan ranjang, kulit yang saling bertampik satu sama lain, kecipak saliva dari mulut dua lelaki yang saling bercebik, juga desahan dan geraman yang berasal dari lubang vokal keduanya yang tengah melakukan penyatuan.
Keduanya benar-benar menikmati malam pertama yang mereka lakukan entah dasar apa. Cinta? Mungkin hanya Jungkook yang merasakannya. Bagaimana dengan Taehyung? Apakah ia memiliki perasaan yang sama? Gairah? Tentu saja, mereka tidak berbeda dari pemuda lain di awal dua puluhan yang hormon testosteronnya bergejolak hingga ke ubun-ubun. Hasrat yang begitu menggelegak meminta untuk dibebaskan. Dan salah satunya adalah dengan melakukan—seks.
Perbedaannya, Jungkook sepenuhnya sadar dengan apa yang tengah terjadi saat ini, tapi Taehyung? Ia mabuk dan bahkan tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan saat ini dengan seorang pria yang menguasai tubuhnya di atasnya. Seorang pria yang merasuk ke dalam inti tubuhnya yang terdalam, pula memberikan sensasi nikmat yang tak tertahankan di berbagai titik syaraf yang tersebar di seluruh tubuhnya.
Jungkook mungkin sebaiknya berdoa. Ya, berdoa agar ketika mereka bangun pagi nanti Taehyung tidak akan membunuhnya karena telah mengambil kesempatan di saat yang lain sedang tidak berdaya. Setidaknya mendapatkan tendangan di perut jauh lebih baik daripada Taehyung harus membencinya. Begitu pikiran Jungkook berandai-andai.
Jungkook juga sejatinya tidak mengerti, bagaimana bisa tiba-tiba ia sudah menyetubuhi lelaki di bawahnya tersebut. Yang ia tahu, Taehyung mabuk dan ia hanya mengantarkannya pulang ke flat-nya.
"Kau tampan sekali, Jungkook.."
Itu adalah kata-kata terakhir Taehyung—yang Jungkook ingat sebelum mereka berakhir dengan melakukan penyatuan di ranjang Taehyung.
Taehyung yang mabuk benar-benar jauh berbeda dari Taehyung yang biasanya. Pipinya merona, matanya sayu, dan ia pun berulang kali menjilat serta menggigit bibir bawahnya sendiri seolah menggoda Jungkook.
Meskipun Jungkook telah menahan dirinya mati-matian, namun aksi Taehyung yang terbilang agresif membuat seluruh pertahanannya runtuh tak bersisa.
Taehyung melingkupi kedua pipi opsir polisi di hadapannya, memandangnya dengan tatapan penuh nafsu. Mereka berdua saling memandang netra satu sama lainnya dalam-dalam.
Taehyung tersenyum dengan mata yang semakin sayu sementara Jungkook merasakan dadanya semakin sesak, napasnya semakin panas, jantungnya bertubrukan kuat dengan tulang rusuknya. Selain itu dapat ia rasakan darahnya menggelegak cepat ke pusat gairahnya, membuatnya tegang, kencang, panas, dan butuh pelampiasan.
Cup!
"Mmmmmhhhh..."
Taehyung yang pertama kali menautkan bibirnya ke belahan bibir polisi tampan di hadapannya. Kedua tangannya masih setia menangkup wajah Jungkook yang masih belum sadar dengan apa yang sedang terjadi pada keduanya.
Begitu Jungkook sadar sepenuhnya akan situasi yang ia alami, ia mulai melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Taehyung sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menekan tengkuk Taehyung dan memperdalam ciuman mereka.
Pada awalnya mereka berdua hanya saling berpagutan, saling menghisap bibir atas dan bawah mereka satu sama lain. Namun lama-kelamaan ciuman itu semakin menuntut, seiring dengan gairah yang hampir mencapai ubun-ubun dan minta dipuaskan.
Tubuh mereka pun menjadi semakin panas dan mereka saling menggesek-gesekkan pusat gairah dari balik celana mereka yang telah mengeras satu sama lainnya.
Jungkook melesakkan satu tangannya di balik kemeja Taehyung, mengelus kulit selembut bayinya dan mencari dua tonjolan yang telah menegang sempurna. Tanda si empunya sudah sangat terangsang oleh birahi akibat hormon testosteron yang membuncah.
"Eunggghhh..."
Taehyung melenguh dan membuka mulutnya di sela-sela ciuman panasnya dengan Jungkook. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Jungkook untuk melesakkan lidahnya ke dalam rongga mulut Taehyung, membelit dan mengisap lidah Taehyung perlahan, memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri demi mendapatkan sensasi ciuman yang lebih dalam dan intim.
Entah saliva siapa yang merembes di sela-sela bibir mereka berdua, mengalir di dagu Taehyung yang kini didominasi oleh Jungkook. Selang beberapa menit kemudian, Taehyung memukul-mukul dada Jungkook, ia sudah kehabisan udara dan butuh oksigen untuk bernapas.
Dan setelahnya terjadilah sesuatu yang mengubah jalan takdir mereka selamanya. Keduanya saling melucuti pakaian masing-masing, bertindihan di ranjang, melakukan foreplay, dan masuk ke inti permainan mereka—penetrasi selang phalus sang polisi ke dalam rektum sang detektif.
Diiringi dengan desahan seksi dari yang lebih tua dan geraman rendah dari yang lebih muda. Ya, mereka bercinta, melakukan seks, penyatuan, persetubuhan, atau entah apa pun itu namanya—yang jelas, satu hal yang mereka tahu, gelegak hasrat yang perlu dibebaskan pada malam itu.
.
END
.
.
Sabtu, 3 September 2016
08:34 AM
.
.
.
NOTE:
Di antara fiksiku yang lain, fiksi ini yang paling nggak aku suka.
Dan yeah, aku memilih untuk discontinue sampai di sini.
TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH VIEW and REVIEW
.
22 September 2016
.
