Disclaimer: All of the characters and NARUTO itself are Masashi Kishimoto's but this story is purely mine.

Warning: AU, OOC parah, typo, nistjah, sedikit (?)Non-Baku, gaje, bikin mual, jauh dari kata sempurna, dll.

[Fluffy garing krenyesss]

.

.

.

(Haruno Sakura—Uchiha Sasuke)

.

.

.

SEASON

.

.

.

Happy Reading!

DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

.

(Chapter 2 : Supporter pembolos)

...

Haruno Sakura berjalan di koridor sekolah yang sepi. Seluruh ruangan yang dilewatinya tampak tak ada penghuninya, seolah-olah ditelan bumi. Mungkin hanya beberapa, itupun murid laki-laki. Para gadis yang biasanya bergosip di depan kelas lenyap entah ke mana. Yah, Sakura tahu alasan di balik menghilangnya seluruh murid yang kebanyakan perempuan.

Wajah cantiknya menoleh ke arah jendela di sampingnya dan langsung disambut oleh sinar matahari yang membuat matanya silau. Refleks ia menutup matanya dengan telapak tangannya. Kaki jenjangnya maju selangkah. Sakura menatap pemandangan di bawah dari lantai dua dengan kedua telapak tangan yang menempel di kaca. Senyum tipis hadir di bibir tipisnya.

Di sana, di bawah sana, sebuah lapangan outdoor basket yang luas tengah dipenuhi lautan manusia. Pinggir lapangan sangat penuh, kebanyakan dipadati oleh para gadis yang sepertinya sedang berteriak menyemangati. Entahlah, Sakura tidak bisa mendengarnya. Saking antusiasnya, mereka memasang banner untuk setiap para pemain basket yang bermain.

Uchiha Sasuke,

Ah, Sakura melihatnya. Lelaki itu sedang men-dribble bola sebelum memasukkan bola basket dengan mudah ke ring, ditambah jarak yang lumayan jauh. Sakura memekik pelan, kedua tangannya mengerat, saking senangnya melihat sang pujaan hati mencetak skor. Ingin berteriak, tapi rasanya ia tidak segila itu untuk melakukannya.

Sebenarnya Sakura ingin sekali turun dan mendukung Sasuke. Menjadi seseorang yang berada di antara kerumunan itu. Meneriakkan nama Sasuke seperti yang diteriakkan para gadis itu. Tapi niatnya menurun saat melihat desakan rusuh di bawah sana. Oh tidak, Sakura tidak mau repot-repot menembus kerumunan itu dan berakhir dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.

"Uaaaahhhhh," Ia mendesah panjang, kepala pink-nya terantuk lemas. Bibirnya mengerucut sebal, "Kesal sekali tidak bisa berada di sana. Aku ingin melihat Kak Sasuke dari dekat,"

Tapi, yah... Yang benar saja. Kalau melihat keramaian seperti itu, jika Sakura bergabung di dalamnya, bergabung dengan kerumunan seperti orang tawuran itu rasanya tidak mungkin. Seolah-olah ia akan mengambil resiko hidup atau mati.

Ia mendengus sambil mengenai q hentakkan kakinya gemas, "Apalagi fans-nya yang lebay. Uh, sadis!"

Bisakah hidupnya tambah merana lagi?

.

.

.

Jam istirahat selesai. Semua murid yang berada di lapangan kembali ke kelas masing-masing dengan perasaan tak rela. Namun bagi Haruno Sakura adalah suatu keberuntungan dan kesenangan. Karena rasanya tersiksa sekali melihat sang pangeran jauh dari pandangannya dan sedang diperhatikan oleh para gadis mesum. Mengingatnya saja Sakura jadi kesal.

Kalau semua para murid sudah kembali ke kelasnya, maka tim basket tidak semudah itu kembali ke kelasnya. Mereka harus latihan karena ada pertandingan minggu depan. Dan ini merupakan kesempatannya sejak se-jam lalu yang tersia-siakan.

Ia tertawa dalam hati, 'Rasakanlah, Ladies! Ini saatnya pembalasan dendam. Kak Sasuke akan kugombalin dengan seribu jurus sampai dia bertekuk lutut pada Haruno Sakura!'

Semangatnya berkoar-koar sampai ia melihat Sasuke yang berjalan mengambil botol air di pinggir lapangan kemudian meneguknya. Astaga! Wajah Sakura memerah melihat adegan itu. Keringat Sasuke yang membanjiri lehernya menetes, memberi kesan seksi. Hampir saja Sakura pingsan dibuatnya. Tahan, ini godaan.

Sakura memberanikan diri mendekati Sasuke yang kini duduk di pinggir lapangan sembari mengelap keringat di dahinya menggunakan telapak tangannya. Ia tersenyum kecil, membawa handuk bersih hari ini ada gunanya juga.

"Kak Sasuke!" panggilnya cukup keras hingga membuat Sasuke sedikit terlonjak dan menoleh ke asal suara.

Seketika wajahnya menjadi datar, "Ada apa?"

Sakura duduk di sebelah Sasuke, cengengesan sambil menyodorkan handuk kecil putih bersih itu kepada Sasuke, "Ini! Saya ngga sengaja bawa handuk putih bersih mulus tanpa noda dan baru beli kemarin. Tadi niatnya mau saya pake setelah olahraga, tapi ternyata saya ngga keringetan. Terus saya ngeliat Kak Sasuke basket dan saya inget sama handuk ini. Jadi, daripada sia-sia beli mahal, mending buat Kak Sasuke yang kecapekan." ujarnya panjang lebar dengan cengiran yang tidak bisa hilang dari wajahnya.

"Oh." responnya. Kedua bola mata hitamnya memutar bosan. Kenapa juga perempuan di sampingnya ini harus panjang lebar menjelaskan.

"Cuma 'oh' aja? Kak Sasuke ngga berniat nerima handuk ini?" Sakura histeris sendiri saat tak ada tanda-tanda pemuda itu mengambil handuknya.

Sasuke hanya diam saja sampai mendengar suara kekehan gadis pink di sebelahnya. Ia seketika merinding.

"Ya sudah, tapi Kak Sasuke tahu tidak kalau saya suka ngeliat Kak Sasuke keringetan. Kayak seksi gituuu..." ungkapnya dengan pipi merona merah.

Mendengarnya, Sasuke bergidik ngeri, "Dasar aneh!"

"Benar, deh! Bau keringat Kak Sasuke juga tidak bau seperti cowok yang lain!" ucapnya menggebu-gebu membuat Sasuke kesal.

"Beneran suka? Nih, jilat kalau suka. Rasakan sensasinya."

Iyuuuh...

Sakura refleks menjauhkan kepalanya jijik saat Sasuke menyodorkan lengannya yang penuh keringat. Bohong, Sakura bohong kalau menyukai keringat Sasuke. Ayolah, siapa juga yang menyukai keringat yang notabenenya asam pahit bercampur satu menjadi rasa tak terdefinisikan.

"Ah, Kak Sasuke jorok!"

Lelaki di sampingnya tak merespon setelah menarik kembali lengan berototnya. Sakura menatap kakak kelas yang disukainya dari samping. Dilhat dari manapun, Uchiha Sasuke sangatlah tampan. Sepasang mata hitam yang tajam, hidung mancung, bibir tipis yang merah, kulit putih, garis rahang yang tercetak sempurna, ah... Tidak ada yang bisa mengalahkan ketampanan Sasuke.

"Kak Sasuke, saya mau jujur deh. Pokoknya dilihat dari manapun, kakak tetep ganteng."

Sasuke menoleh, "Yakin? Meskipun saya baru bangun tidur? Ketekan? Iler di mana-mana? Kepala saya gundul? Bohong dosa loh, masuk neraka."

"Eh," ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Tapi, tapi, cowok yang paling ganteng di dunia ini ya cuma kakak aja!" ujarnya menggebu-gebu.

"Ah, yang beneeer?" tanggalnya dengan memanjangkan kata terakhirnya, masih dengan wajah datarnya.

Sakura langsung mengangguk antusias, "Beneran! Saya ngga pernah liat cowok se-ganteng kakak."

"Kalau ketemu Taeyong, Eunwoo, sama Vernon ngga bilang ganteng, giginya maju loyaaa..." ucapnya malas-malasan mendengar gombalan Sakura. Oh ayolah, kapan gadis itu berhenti melontarkan kata-kata penuh gombalan itu?

"Huh, jelas gantengan mereka lah." gumamnya pelan dengan wajah merengut, namun masih bisa terdengar oleh Sasuke. Pemuda raven itu tersenyum tipis.

Pipi merahnya menggembung kesal mendengar jawaban Sasuke. Kapan sih kakak kelasnya itu sadar kalau adik kelasnya yang cantik ini sedang kode-kode menggombalinya? Bukannya membalas, tapi malah membuatnya skakmat. Manik emerald-nya menatap handuk yang masih berada dalam genggamannya sebelum seseorang merampasnya.

Bibirnya terbuka melihat handuknya yang kini sudah digunakan oleh Uchiha Sasuke mengelap keringat di leher dan wajahnya. Sakura mendengus menahan senyumnya yang perlahan mulai mengembang. Ia menghela napas. Baru saja ia akan bersender di bahu Sasuke, tapi pemuda itu keburu masuk ke tengah lapangan.

"Iiishhh!" gerutunya sebal walau hatinya masih berbunga-bunga. "KAK SASUKEEE, ADA YANG KETINGGALAN, NIH!" teriaknya kencang hingga membuat para pemuda yang di sana menoleh, termasuk Sasuke.

"Hn?"

"HATI SAYAAA!" Sakura tertawa terbahak-bahak kemudian melihat ekspresi kesal Sasuke.

"Oh, pantesan berat. Nih, saya balikin. Makanya jangan naruh sembarangan, dong. Bikin repot aja."

Seperti biasa, jawaban Sasuke yang menyebalkan sudah menjadi makanan sehari -hari. Dan Sakura Haruno akan membuat Uchiha Sasuke takhluk. Kesenangannya terhentikan oleh suara Sasuke yang menginterupsinya.

"Tapi saya heran, berani-beraninya bolos cuman buat Kasih handuk ke saya." setelah berbalik sebentar, ia langsung pergi ke gerombolan timnya.

Oh, apa katanya? Bolos?

Sial! Sakura lupa!

.

.

.

Tbc

...

A/n : Kkkkkk! Demi apa gue bkn krenyes kek begini :v/bantinghape/tolong nikmatin saja reader-san. Yg ptg udah update. Serah deh kalo gasuka, ga ripiuw :""" yg penting sdh berkarya/iyuh sok dramatis...

RnR mz mba nya kasihanilah saya :"v

Salam hangat,

Reghyna Sheren Ocktavi