Indifferent
.
.
[CHAPTER 2]
.
"Apa ini cukup?" Taehyung menatap malu-malu kepada seorang wanita paruh baya yang tersembunyi di balik meja kasir. Ia menyodorkan sekantung uang logam pada wanita itu dengan penuh harap ia bisa membeli sebuah boneka yang telah mencuri perhatiannya sebulan yang lalu.
Wanita itu tersenyum ramah saat menerima sekantung uang logam dari tangan mungil Taehyung, kemudian dengan lembut wanita itu berkata "Aku akan menghitungnya dulu."
Taehyung semakin gelisah ketika telinganya dimasuki suara gemerincing uang logam yang menghantam meja kaca yang dingin. Kemudian ia menatapi logam-logam itu ditumpuk satu sama lain terlihat seperti miniatur gedung pencakar lagit di tengah kota. Taehyung gemetar, ia takut kalau uang itu belum memungkinkan menjadi akses untuk menjadi pemilik boneka yang setia duduk di balik kaca etalase toko mainan langganannya. Kemudian ia menatapi Jimin yang juga menatapinya dengan tatapan geli.
Taehyung mengerucutkan bibirnya ketika tersadar bahwa sedari tadi ia melupakan kumamon yang ada di dekapannya
"Yoongi..." ia berdesis sambil mendekap kumamon erat-erat. Entah kenapa pemandangan ini begitu lucu untuk Jimin.
"Uangnya lebih dari cukup Taehyung-ah, bahkan kau bisa membeli pembungkus kado dan pita yang cantik." suara wanita ramah itu menghentikan aktivitas Taehyung.
"Benarkah?" mata Taehyung berbinar seperti semua bintang di angkasa berpindah ke mata polosnya dan akhirnya ia memekik girang saat wanita itu mengangguk.
"Imo tolong bungkus boneka beruang lucu itu dengan bungkus kado yang cantik dan berikan juga pita yang paling cantik."
"Memangnya kau memberikan kado untuk siapa, Tae?" wanita itu penasaran.
"Untuk teman baruku yang manis, namanya Yoongi."
Jimin menatapnya tajam "Yak Taetae kau pilih kasih, kau memberikan Yoongi hadiah Natal sedangkan untukku tidak."
Taehyung melihat Jimin mengembungkan kedua belah pipinya, membuatnya tertawa geli.
"Chimchim, bukannya aku yang selalu ada di sampingmu itu adalah hadiah yang paling special dariku untukmu?"
Jimin tertegun, dari mana sepupu khonyolnya ini mendapat kata-kata manis seperti itu?
"I-Iya ta-tapi Tae-"
"Taehyung-ah apa kau ingin memberikan kartu ucapan juga?"
Wanita paruh baya dibalik meja kasir menghentikan kalimat Jimin yang terbata membuat Taehyug menoleh dan tersenyum kotak "Imo tolong tuliskan permohonan maaf dari Taetae untuk Yoongi karena Taetae memberinya ttaepoki dingin dan Taetae harap Yoongi tak marah lagi dan mau bermain dengan Taetae." Taehyung terkekeh di akhir kalimatnya.
.
.
Daegu di bulan desember akan menjadi putih dan dingin. Angin masih saja tak tau malu menggelitiki setiap orang yang jauh dari perlindungan atap rumah membuat orang itu mau tak mau memakai pakaian super tebal yang membuat mereka tampak gemuk. Lampu-lampu jalanan masih kokoh berdiri untuk menerangi jalanan yang akan disinggahi malam, tak peduli akan dinginnya angin ataupun dinginnya selimut salju.
Sama halnya dengan lampu jalanan, pepohonan pun masih tangguh berdiri di balik salju putih yang dingin. Pepohonan ini melindungi keluarga tupai yang tertidur lelap selama salju belum mau beranjak pergi.
Dan malam ini, tanggal 24 Desember di malam natal, seorang bocah dengan pakaian tebal dan syal yang melilit lehernya berdiri di depan gerbang rumah mewah di samping rumahnya dengan bungkusan kado di dekapannya. Ia menatapi rumah mewah itu dengan kekaguman yang tau bisa ia deskripsikan dengan satu buah kata. Lihatlah lampu warna-warni yang melilit pohon-pohon yang ada di halamannya. Lihatlah kemilauan hiasan bintang yang terpasang di puncak air mancur yang dibekukan musim dingin. Dan lihatlah ada robot pria gembrot berbaju merah dengan jenggot putih menyembunyikan mulutnya tengah melambai-lambai di depan pintu. Dan sayup-sayup terdengar suara musik khas natal dari dalam rumah. Dekorasi Natal yang sempurna.
Melihatnya saja membuat ia ragu untuk mendekati rumah itu lalu mengetuk pintunya dan memberikan bungkusan kado itu pada seorang anak pemilik rumah mewah yang diketahui bernama Yoongi. Ia malu dengan pakaiannya yang berciri khas anak kampung atau mungkin ia takut kadonya ditolak mentah-mentah.
Namun tak lama seorang pria tua muncul entah dari mana tengah menghampiri Taehyung yang masih ragu-ragu. Pria itu menatap Taehyung penuh selidik, berusaha mengenali siapa anak ini.
"Halo,nak. Apa ada yang bisa aku bantu?"
Suara itu memporak-porandakan pikiran Taehyung dan menginterupsinya untuk segera menoleh ke sumber suara.
"Ah halo samchon, em aku ingin memberikan ini untuk Yoongi." Taehyung menyodorkan bungkusan kado itu pada pria di hadapannya dengan keraguan yang masih bertengger manis di pundaknya. Pria itu tersenyum lalu mengusak pelan Taehyung setelah menerima bungkusan kado itu dari Taehyung.
"Tuan muda sangat berterimakasih atas kado natal ini, ah ya bukannya kau yang tinggal di sebelah yang selalu mengejar Tuan muda ketika berangkat sekolah?" Taehyung mengangguk lemas.
"Yoongi marah pada Taetae karena Taetae meberinya ttaepoki dingin dan Yoongi tidak mau bermain dengan Taetae." suara Taehyung semakin lemas.
Pria itu tersenyum iba, kembali ia mengusak rambut Taehyung.
"Samchon adalah ketua pelayan di rumah ini, jadi kalau kau memberikan surat ataupun hadiah lagi untuk tuan muda kau bisa menitipkannya pada samchon."
Kepala Taehyung terangkat, keraguaannya diseret paksa untuk pergi dan matanya kembali berbinar, jangan lupakan senyum kotaknya yang manis.
"Terimakasih samchon, Merry Christmass."
.
.
.
Dari musim gugur sampai musim dingin melanda aku terus mengejarmu,akankah di musim semi nanti aku mendapatkanmu?
.
.
.
Dan begitulah, bulan silih berganti menjadi tahun namun Taehyung masih saja mengejar Yoongi setiap pagi dan selalu saja berakhir dengan tubuhnya terhantam keras ke trotoar yang menyakitkan. Dan selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun itu juga Jimin harus ikut mengejar Taehyung karena ia tak ingin sepupunya terluka karena jika Taehyung terluka maka ia takut dimarahi sang bibi karena telah dicap gagal untuk menjaga Taehyung.
Setiap natal tiba, Taehyung akan memberikan kado special untuk Yoongi dan tentu saja lewat perantara kepala pelayan. Mungkin sekarang kepala pelayan rumah Yoongi sudah cocok untuk menjadi tukang pos. Dan setiap natal juga Jimin harus menatapi Taehyung dengan tatapan tajam karena Taehyung tak pernah memberinya kado natal, sekalipun tak pernah. Ingin rasanya Jimin mendaki puncak gunung yang tinggi lalu meniup sangkakala, dan dunia kiamat.
Dan akhirnya, setelah berkutat dengan buku-buku pelajaran yang memuakkan, Jimin dan Taehyung masuk di SMP favorit di pusat kota Daegu. Alasan mengapa Taehyung ingin bersekolah di sana, karena Yoongi juga bersekolah di sana, maka dari itu ia sangat rajin belajar untuk mendapat beasiswa di sana. Jadi untuk bertemu Yoongi tak perlu mengejar mobil mewahnya lagi.
.
.
Taehyung menatapi pantulan dirinya di cermin yang tak bisa membohonginya, tak pernah sekalipun cermin ini berkhianat padanya. Ditatapnya setiap inchi perubahan pada dirinya yang menurutnya sangat sempurna. Tubuh tinggi dibaluti seragam dan blazer hitam membuat kharismanya begitu terpancar, rambut yang sedikit diwarnai coklat, jakun yang masih kecil dan senyum kotak yang tak pernah berubah.
Taehyung sudah memasuki masa pubertas lebih cepat dibandingkan dengan Jimin, dan tentu saja ia sudah mengetahui apa itu cinta dan perasaannya terhadap Yoongi. Ia baru sadar kalau perasaan aneh dan asing yang merasuki tubuhnya bertahun-tahun lalu adalah perasaan cinta ah bukan lebih tepatnya lagi itu adalah jatuh cinta. Namun sayang semenjak hari itu Yoongi tak pernah bicara padanya lagi, jangankan berbicara meliriknya sedikit saja tak pernah.
"Taehyung-ah kita berangkat, bus sekolah sudah di depan."
Teriakan cempreng Jimin membuat aktivitas mengagumi diri sendiri terhenti, ah hampir saja Taehyung lupa bahwa hari ini adalah hari pertamanya sekolah di sekolah yang sama dengan pujaan hatinya. Ah mengganti kata Yoongi menjadi pujaan hati membuat hati Taehyung terasa disapu oleh angin dingin musim gugur.
"Aku keluar, Jimin-ah."
Taehyung menyeret tas sekolahnya tak lupa dengan kumamon yang sudah siap di dalamnya. Ia menyeret kakinya keluar rumah bersama Jimin yang menunggunya di halaman. Setelah melewati gerbang rumah, telinga Taehyung menyambut suara klakson dari gerbang sebelah rumahnya. Taehyung sangat hafal suara klakson itu dan dengan cepat ia berjalan mendekati mobil yang hendak melaju menjauhinya.
"MIN YOONGI SAMPAI JUMPA DI SEKOLAH, SEMOGA KITA BISA SEKELAS!" ia berteriak, Yoongi tak peduli, Jimin menatapnya geli dan seisi bus sekolah keheranan melihatnya namun si senyum kotak tak peduli seperti Yoongi, yang jelas ia sangat bahagia bisa satu sekolah dengan Yoongi.
.
.
Seekor tupai duduk di dahan pohon cemara yang tak terlalu jauh dari papan pengumuman yang dikerumuni puluhan siswa baru. Taehyung dan Jimin juga ikut berkerumun bak pinguin kaisar jantan yang mengerami telurnya berama-ramai, namun Jimin melompat-lompat seperti anak kangguru. Jimin tak bisa melihat objek yang tertempel di papan datar nan bisu itu, Taehyung menatapnya geli.
"Aku sudah merekomendasikan susu peninggi badan untukmu, Jimin-ah."
Jimin memberikan tatapan predator kelaparan pada Taehyung, namun Taehyung sudah kebal. Ia hanya fokus memanjatkan doa agar bisa sekelas dengan Yoongi. Harapan sederhana yang mustahil, begitu katanya.
Kerumunan itu semakin lama semakin menipis, memberikan akses untuk Jimin dan Taehyung untuk mencari nama mereka di deretan nama siswa lainnya yang tercetak di kertas. Jimin mencari namanya dengan teliti, Taehyung was was. Ia takut akan terjatuh dan menahan sakit kalau Yoongi tak sekelas dengannya.
"Aku mendapat kelas C sedangkan kau mendapat kelas A, kau hebat Taehyung-ah."
Taehyung melirik yang lebih pendek "Benarkah? Aku sedih tak ada yang bisa aku bully di kelas."
Jimin terkekeh lalu melenggang pergi, "Semoga kau bisa sekelas dengan si pucat kaya raya itu, Tae."
Taehyung terkesiap, kemudian ia segera mencari nama Min Yoongi di deretan nama anak yang masuk di kelas unggulan yaitu kelasnya sendiri. Namun, alangkah terejutnya Taehyung merasakan sesuatu menghantam bahunya dengan lembut. Awalnya ia ingin menyumpah serapahi yang menabraknya namun tak jadi karena itu adalah orang yang ia sayangi, Yoongi.
Taehyung menatapi Yoongi dengan nafas tertahan dan jantung yang memberontak keluar, ini pertama kalinya ia bisa sedekat ini dengan Yoongi.
Di mata Taehyung, Yoongi tak ada yang berubah. Kulitnya semakin putih, rambut yang masih berwarna hitam dan bibirnya semakin berwarna cherry dan kissable. Perasaan aneh itu kembali memasuki tubuhnya.
"Yak Hoseok-ah, aku mendapat kelas A dan kita sekelas." Yoongi memekik girang dan dengan cepat ia menghambur ke pelukan seorang lelaki yang menunggunya tak jauh dari papan pengumuman. Taehyung menatapinya dengan tatapan kosong, Yoongi memeluk lelaki itu dan mereka tertawa riang bahkan pemuda itu berani menggesekkan hidungnya di hidung mungil Yoongi. Taehyung disergap perasaan baru, bukan perasaan yang membuat hatinya ditiup angin musim semi namun perasaan yang meninju hatinya membuat hatinya merintih ngilu.
Siapa lelaki itu? kenapa dia bisa seakrab itu dengan Yoongi?
Taehyung menatapi langit, meminta jawaban namun sia-sia karena langit itu kitab bisu. Tapi diam-diam langit tersenyum dan mencatat kembali kisah lanjutan antara Taehyung dan Yoongi.
.
.
.
TO BE CONTINUE
.
.
.
NOTE : Maaf atas ketidaknyamanan diksi yang aneh dan lowclass beserta typo yang terdapat di mana-mana, tolong sesudah membaca tinggalkan review karena satu review sangat berharga untuk kami.
