Chapter 2 up!
Maaf jika saya update-nya lama ya :'''))))
Hetalia belongs to Hidekazu Himaruya
This story belongs to me XD
Enjoy this chapter dudes ! XDD
Angin malam berhembus, menambah dinginnya udara malam di musim gugur tahun ini. Gilbert duduk bersandar di tempat tidurnya sambil terus memandang bunga-bunga itu. Gilbert tak habis pikir dengan semua yang Ivan lakukan.
"Dasar bodoh" batin Gilbert sambil merebahkan dirinya ke tempat tidur. Gilbert mencoba menutup matanya untuk menghilang pikirannya tentang Ivan. Namun sayang, dia malah makin teringat dengan Ivan. Gilbert pun membuka mata dan menghela nafasnya dalam-dalam.
"Bo... doh... uhuk... uhukk'' bisik Gilbert sambil terbatuk dan membenamkan wajanya ke bantal.
DING DONG DING DONG
Jam mulai berdentang di kamar pemuda Rusia itu, bunyinya yang cukup nyaring membangunkannya pada pukul 06.00 am.
Ivan pun duduk lalu mengusap-usap wajahnya, sudah sekitar 3 hari Ivan berada di Jerman. Kini Ivan pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia merasa ada yang ia lupakan saat itu. Ia terus mengedarkan pandangannya sampai akhirnya perhatiannya teralihkan dengan Iron Cross yang berada di atas bantal tempat tidurnya, tanpa pikir panjang Ivan pun langsung mengambilnya dengan cepat. Ivan tak ingin benda kecil itu hilang dari tangannya, tak ingin sekalipun. Ia pun langsung meletakkan benda kecil itu ke dalam sebuah kotak berwarna hijau tua miliknya.
"Aku tak ingin kehilanganmu" ucap Ivan sambil memandang kotak itu. Ivan lalu meletakkan kotak itu di atas meja dekat tempat tidurnya.
Ivan juga ingat kalau hari ini Francis akan datang ke Jerman untuk menemui Gilbert, jadi untuk hari ini Ivan tidak bisa memberi bunga kepada Gilbert seperti biasa. Ivan ingin menunggu kedatangan Francis terlebih dahulu dan menemuinya.
Pagi ini Gilbert berinisiatif untuk terjaga, Gilbert duduk di tempat tidurnya sambil terus memandang ke arah pintu ruangannya. Siapa tau Gilbert bisa menangkap basah Ivan, jika benar orang itu adalah Ivan. Yah? Walau Gilbert tak tahu pasti kapan Ivan akan datang, namun setidaknya Gilbert sudah mengira sekitar pukul 7-9 lah Ivan akan datang, mengingat Ludwig biasanya mengunjungi Gilbert sekitar pukul 9-10.
15 Menit
30 Menit
1 Jam
Gilbert kinipun merebahkan dirinya sambil terus menatap kearah pintu.
2 Jam
Nihil, Gilbert masih tak melihat Ivan. Hanya seorang suster yang biasa mengecek kondisinya seperti biasa yang Gilbert lihat.
3 Jam
Merasa frustasi, Gilbert sudah tidak peduli dengan datang tidaknya Ivan memberinya bunga pagi ini. Rasanya Gilbert sudah kesal karena telah lama menunggu kedatangan Ivan yang tak kunjung terlihat, sudah lagi dia harus menahan kantuk akibat efek obat yang diminumnya tadi, itu rasanya mengesalkan. Tapi, tunggu? Kenapa Gilbert harus kesal? Bukannya itu pertanda baik? Kenapa ia harus menanti Ivan sampai ia harus menahan rasa kantuknya? Dan berharap diberikan bunga lagi oleh Ivan? Hei, pasti ada yang salah dengan dirimu Gilbert? Gilbert merasa semakin kesal dengan dirinya sendiri.
"Benar-benar tidak awesome!" bentak Gilbert pada dirinya dalam hati.
Ivan masih duduk termenung dikamarnya, ia masih menunggu kabar dari Francis , sungguh ia merasa sangat bosan. Apalagi hari ini Ivan tak melihat Gilbert dan memberinya bunga. Namun, bertemu dengan Francis juga hal yang penting, karena Francis lah ia bisa melihat Gilbert. Akhirnya, setelah lama menunggu telepon pun berdering. Ivan seketika sudah bisa menebak dari siapa telepon itu.
"Halo? Francis? Ahh, kau sudah di Jerman? bertemu? Baiklah aku berada di hotel ..." dalam percakapan Ivan memberi tahu Francis nama hotel dimana ia berada.
"Da, baiklah. Aku tunggu di depan" Ivan pun mengakhiri percakapannya dan bersiap diri untuk bertemu dengan Francis.
Sekitar 20 menit menunggu, akhirnya Francis pun datang. Dia terlihat berjalan dengan tergesa-gesa.
"Mon dieu, maaf. Pasti kau sudah menunggu lama" ucap Francis
"Hmm .. Tidak" balas Ivan. Kemudian Ivan dan Francis pun keluar menuju sebuah kafe di dekat hotel untuk bercakap-cakap. Kini dua cangkir teh sudah berada di hadapan mereka, dan ini adalah awal mereka memulai percakapan.
"Bagaimana keadaan Gilbert?" tanya Francis.
"Kuharap semakin membaik, aku tidak melihatnya hari ini" balas Ivan sambil mengambil cangkir tehnya.
"Hmm, begitu ya? Jadi selama kau di Jerman apa saja yang kau lakukan?" tanya Francis.
"Hanya memberi bunga dan melihatnya dari balik pintu... Lagi pula kau menyuruhku untuk tak bertemu dengannya dulu kan hehem? Hmm, dan lagi pula aku juga tak ingin menganggunya" balas Ivan sambil memasang senyumnya. Francis sungguh sangat terkejut, ia ingat kalau ia menyuruh Ivan untuk tak menemui Gilbert dahulu. Dan entah kenapa? Saat itu, Francis merasa sedikit bersalah kepada Ivan.
"Hmm maaf ya, bukannya aku tidak suka kau atau apa? Kau tau kan bagaimana Ludwig?" kata Francis sambil menekuk lesu kepalanya.
"Tak apa, ini juga sudah lebih dari cukup. Bisa melihat Gilbert saja aku sudah merasa bersyukur" Ivan berusaha meyakinkan Francis supaya tak merasa bersalah.
Francis yang melihat ekspresi Ivan saat itu hanya bisa tersenyum. Awalnya memang ia tak ingin memberi alamat dimana Gilbert dirawat, namun setelah Ivan terus berusaha dan berjanji tak akan menemui Gilbert dahulu saat itu, akhirnya Francis memberikannya. Francis tak berpikir bahwa Ivan benar-benar melakukannnya.
"Francis?" panggilan Ivan menyadarkan Francis dari lamunannya.
"Ehh ya?" balas Francis cepat.
"Tehmu, keburu dingin hm" kata Ivan. Francis pun langsung sadar dan mengambil teh yang ada dihadapannya.
"Oh ya, kau tau? Aku tidak mengabari Gilbert atau Ludwig kalau aku sedang ada di Jerman haha" ucap Francis
"Hmm ..." Ivan hanya tersenyum mendengar perkataan Francis.
"Aku akan menelepon Ludwig ketika aku akan menjenguk Gilbert... upss" tiba-tiba Francis merasa tak enak dengan Ivan dengan apa yang telah ia ucapkan.
"Maaf kan aku" lanjut Francis sambil menutup mulutnya.
"Sudah kubilang itu tak masalah Francis" Ivan berusaha memasang senyumnya kembali, namun kali ini senyumnya sungguh ia paksakan. Sungguh hatinya merasakan rasa sesak yang tak terkira. Ia tau bahwa tak bisa bertemunya ia dengan Gilbert juga kesalahannya, namun tetap saja. Ivan merasa ini sedikit tak adil baginya. Harus menahan, menahan dan terus menahan. Entah sampai kapan? Ivan sendiri tak tau.
"Uhh ..." Francis mendadak lesu lagi karena dirinya sendiri.
"Ahaha ... Sudah-sudah" kata Ivan sambil berusaha menepuk pundak Francis. Ivan masih menepuk-nepuk pundak Francis, sampai akhirnya tepukan Ivan berhenti dan tak ia rasakan lagi, berhenti seiring dengan terdengarnya suara orang yang memanggil namanya.
"Ehh? Ada yang memanggilku?" tanya Francis pada Ivan. Ivan yang saat itu juga terkejut hanya bisa tersenyum dan menyapa orang tersebut.
"Hai, Ludwig" kata Ivan sambil melambai pada si pemilik nama itu. Francis yang belum menyadari siapa orang yang memanggilnya saat itu, seketika mendengar Ivan memanggil nama Ludwig pun langsung berbalik arah.
"MON DIEU! LUUUDWIIIG!" teriak Francis didalam hatinya. Tubuhnya bak tersambar petir setelah melihat orang itu adalah Ludwig. Sementara Ludwig yang terlihat bingung hanya bisa berdiam diri saja dan tak membalas sapaan Ivan.
Setelah adegan dramatis antara mereka bertiga. Kini Ivan, Ludwig, dan Francis duduk bersama. Suasana saat itu juga terlihat sangat kaku, bahkan pelayan di kafe tersebut sampai terlihat canggung dan bingung ketika melayani mereka. Francis hanya bisa gigit jari dan melihat ke arah Ivan dan Ludwig secara bergantian, sungguh saat ini Francis bingung harus berkata apa. Namun karena ia sudah mulai tak tahan dengan suasana canggung ini, akhirnya Francis pun mulai memulai percakapan.
"Ahh Ludwig, bagaimana keadaan Gilbert?" tanya Francis
"Lumayan membaik ... " balas Ludwig singkat "Ahh ya, dan ada orang yang selalu memberinya bunga, dan entah mengapa kulihat itu membuatnya merasa lebih baik, yah walau dia masih harus banyak beristirahat " lanjut Ludwig sambil melirik kearah Ivan. Francis yang tau Ludwig sedang menyindir Ivan pun langsung melirik Ivan sambil mencoba menahan nafasnya. Ivan hanya terdiam sambil tersenyum seperti biasa.
"Ahh itu bagus ...haha-ha" kata Francis
"Francis, sejak kapan kau ada di Jerman? Kenapa kau tidak memberi kabar?" tanya Ludwig.
"Ahh itu ... tadi pagi, ta-tadinya aku ingin mengabarimu ketika aku akan menjenguk Gilbert. Ehh, tau nya aku bertemu denganmu disini hahahaha" balas Francis sambil berusaha mencairkan suasana dengan tawanya.
"Begitu?" kata Ludwig.
"Ya ... hahaha" balas Francis dengan canggung.
"Kalau begitu aku pamit dulu, aku mau melihat keadaannya" Ludwig pun berdiri, Francis pun juga.
"Ehh ... Aku juga ingin melihatnya" sergap Francis. Namun seketika Francis ingat dengan Ivan, dan ia langsung mencoba mengajaknya.
"Ivan, bagaimana denganmu?" lanjut Francis.
"Hmm ... Kau saja Francis. Aku ada urusan, aku akan menyusul" balas Ivan. " jika itu memungkinkan ..." Ivan pun berdiri lalu pamit untuk pergi dulu sebelum Ludwig dan Francis pergi.
"Kau yakin? Ba-baiklah, sampai jumpa" ucap Francis kepada Ivan, Ivan hanya tersenyum sambil berbalik arah sekilas. Sungguh Francis tau kalau Ivan sedang berbohong. Apalagi urusan Ivan selain melihat Gilbert disini?. Ludwig yang disamping Francis hanya terdiam dan memandang kepergian Ivan.
"Hah ..." desah Ludwig. Entah kenapa Ludwig merasa bingung dengan tingkah kedua orang tersebut. Ya? Siapa lagi kalau bukan kakaknya dan orang yang baru saja ditemuinya, Ivan Braginsky. Ludwig memang tak terlalu menyukai Ivan, namun rasa tak sukanya tak membuatnya tak ingin menatap wajah orang yang sudah menahan kakaknya waktu itu, tidak sama sekali. Ludwig juga sadar bahwa terpisahnya ia dengan kakaknya juga hukuman baginya karena kesalah yang ia perbuat.
Gilbert tiba-tiba terbangun, terbangun lalu terbatuk. Dadanya tiba-tiba terasa sesak dan sakit. Tak ada orang saat itu, Ludwig pun sedang dalam perjalanan. Gilbert berusaha duduk, batuknya terasa makin parah dan ia pun sudah tak tahan dengan rasa sakitnya, perlahan tangan Gilbert mencoba meraih tombol Nurse Call di samping tempat tidurnya.
Sambil menahan rasa sakitnya, ia terus mencoba meraih tombol tersebut sampai akhirnya Gilbert bisa menekannya walau ia sampai terjatuh dari tempat tidur.
"Arrgghh..." Gilbert pun meringkuk kesakitan di bawah tempat tidurnya, pandangannya mulai kabur, rasa sakit dibadannya semakin terasa menyiksa dirinya. Gilbert pun sempat memandang bunga itu, bunga pemberian Ivan.
"I-van..." bisik Gilbert sangat lirih. Entah karena apa Gilbert memanggil nama Ivan,Gilbert tak tau dan tak mau tau, ia hanya ingin memanggil nama orang itu. Perlahan pandangannya semakin kabur, tak lama terdengar suara pintu yang terbuka, disusul dengan teriakkan para medis dan terakhir suara adiknya dan Francis yang baru datang, dan saat itu juga hilanglah kesadaran Gilbert.
Ludwig terlihat sangat tak tenang, dia bolak-balik melihat kakaknya yang dikerumuni oleh dokter dan suster dari balik pintu, kakinya selalu ia ketuk-ketukan ke lantai, dan tangannya juga tak mau berdiam diri. Francis hanya bisa memberitahu Ludwig kalau semua akan baik-baik saja, ia juga tak menyangka kedatangannya untuk menemui Gilbert harus diwarnai dengan kejadian tak mengenakkan ini. Francis juga memikirkan Ivan pada saat itu, Ivan pasti tak kalah khawatirnya dengan Ludwig dan juga dia jika Ivan berada disini.
Pemuda Rusia itu kini berjalan menuju kamar hotelnya, pandangannya terlihat kosong. Dan seperti biasa, rasa sesak menghampiri hatinya lagi, namun kali ini rasa itu dibarengi dengan rasa gelisah.
Dan itu membuat langkah Ivan pun terhenti, Ivan merasa semakin tak enak dengan perasaan yang menghampirinya. Entah kenapa Ivan ingin sekali melihat Gilbert, namun ia seketika teringat bahwa Ludwig ada disana.
Ivan pun menunduk, bersandar di dinding lorong hotel. Seorang penghuni hotel lain pun sampai memandang penuh tanya pada Ivan. Ivan terus menunduk dan terus berpikir, perasaannya semakin campur aduk, Ivan pun mengambil kotak kecil yang berisi Iron Cross Gilbert, ia terus memandang benda itu. Ivan pun menghela nafasnya dalam-dalam dan melangkahkan kakinya cepat keluar dari hotel untuk menemui Gilbert. Ivan tak peduli jika ada Ludwig disana, ia sudah tak tahan ingin melihat keadaan Gilbert dan menghilang kan rasa gelisah ini yang entah kenapa tertuju pada Gilbert.
Gilbert kini berbaring tak sadarkan diri, alat bantu pernafasan pun terpasang untuk membantu Gilbert bernafas. Kondisi badan Gilbert menurun drastis akibat dari cedera dada yang dideritanya.
Sementara Ludwig kini duduk dengan frustasi, tangannya terus meremas kepalanya. Francis yang ada disampingnya pun terus menguatkan Ludwig.
"Tenang Ludwig, Gilbert akan baik-baik saja" kata Francis. Ludwig pun hanya bisa terdiam sambil terus berdoa.
Setelah selesai menangani Gilbert, sang dokter pun akhirnya keluar dari ruang perawatan Gilbert. Ludwig yang melihatnya pun langsung menghampiri dokter tersebut dengan cepat.
"Ba-bagimana dengan keadaan kakak ku dokter?!" tanya Ludwig sedikit berteriak sambil memegang pundak sang dokter.
"Kumohon anda untuk tenang Tn. Ludwig. Hah ... cedera dada yang dialaminya memburuk, ini membuat pernafasannya semakin terganggu dan menyebabkan sesak..." dokter pun terus menjelaskan hasil pemeriksaannya pada Ludwig , Ludwig makin menggelengkan kepalanya "Kami sudah menanganginya sesuai prosedur, kami harap Tn. Beilschmidt cepat sadar dan kami berharap yang terbaik untuknya. Saya permisi dulu..." pamit sang dokter sambil menguatkan Ludwid.
Badan Ludwig kini terasa lemas, ia lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan Gilbert . Seorang suster masih berada didalam sana mengecek peralatan yang dipasang ditubuh Gilbert. Ludwig masih belum diperbolehkan masuk untuk melihat kakaknya, dan terpaksa terus menunggu diluar bersama Francis.
Ivan melangkah kan kakinya cepat menuju rumah sakit, begitu cepat sampai ia menabrak seseorang di jalan.
"Hei! Perhatikan langkahmu..!" teriak orang tersebut. Ivan yang sebenarnya tidak ingin mengubris orang itu pun hanya terus berjalan sambil melambai tangannya tak peduli jika orang itu semakin kesal dengan tingkahnya.
Ivan terus menggenggam kotak itu, terus berjalan dan berjalan dan akhirnya Ivan pun berlari. Sesampainya di rumah sakit, jantung Ivan semakin berdetak cepat, nafasnya juga merasa berat akibat berlari saat menuju rumah sakit. Lorong rumah sakit terus ia telusuri, sampai akhirnya ia melihat Ludwig dan Francis yang sedang duduk lesu di luar ruang perawatan Gilbert.
Ivan perlahan menuju ke tempat Ludwig dan Francis berada, Francis yang sadar ada seseorang yang mendekatinya pun langsung melihat ke arah orang tersebut.
"Ivan?" Francis sedikit terkejut dengan kedatangan Ivan. Disusul dengan Ludwig yang berada di sampingnya.
"Gilbert? hosh ... hoshh bagaimana keadaannya? Hosh hosh hosh ... " tanya Ivan sambil terus mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Ivan pun lalu berjalan menuju ruangan Gilbert, sebelum sampai tangannya ditarik oleh Ludwig.
"Kau... kau tidak boleh melihatnya" kata Ludwig lirih "Dia sedang kritis..." lanjutnya sambil menunduk. Ivan yang mendengar kata itu dari Ludwig pun sangat terkejut, ia menarik tangannya dari Ludwig, langkahnya perlahan menuju pintu ruang perawatan Gilbert. Merasa tak percaya dengan apa yang Ivan liat dibalik kaca pintu saat ini, ia merasa air matanya merembas keluar.
Ivan bisa melihat Gilbert berbaring tak sadarkan diri disana ditemani alat bantu pernafasan. Kaki Ivan terasa lemas, ia pun duduk tersungkur di samping pintu itu. Ivan terus menunduk dan menunduk, memeluk erat kedua kakinya dan kotak kecil itu ditangannya.
"Tidak Gilbert ... aku belum berbicara denganmu" gumam Ivan.
Ludwig dan Francis hanya bisa memandang Ivan dengan tatapan iba, mereka bertiga sama-sama merasakan kekhawatiran yang sangat luar biasa. Francis melangkah kan kakinya menuju Ivan, ia lalu memegang pundak Ivan, mencoba menyemangatinya juga.
"Dia pasti akan sadar Ivan, kita semua berharap yang terbaik untuknya" Ivan masih terus menunduk ketika Francis mengatakan hal itu, pikiran Ivan saat ini begitu tak karuan. Merasa kalau hukuman yang diberikan tak adik untuknya, seandainya waktu itu Ivan tak membiarkan Gilbert berjalan sendiri dalam keadaan seperti itu. Namun saat itu juga, ia tak bisa memaksakan kehendaknya, itu adalah keinginan Gilbert dan mau tak mau Ivan tak bisa menolaknya.
Seorang suster keluar dari ruangan Gilbert, serentak ketiga orang yang sudah menunggu di luar pun langsung berkerumun ke arah suster tersebut.
"Kalian sudah diperbolehkan masuk, harap jangan gaduh" kata suster tersebut.
Merek bertiga pun mengangguk, setelah suster pergi dari hadapan mereka. Seketika Ivan pun langsung masuk ke ruangan Gilbert. Ia sudah tak kuat lagi menahan kerinduan dan ke khawatiran pada pemuda Jerman itu, ia bahkan juga tak peduli dengan pandangan Ludwig kepada saat ini.
Ludwig yang melihat kejadian itu pun sedikit terkejut, Ludwig ingin melangkah juga ke ruangan kakaknya itu namun Francis menahannya. Ludwig yang bingung dengan sikap Francis hanya bisa memandang Francis dengan penuh tanda tanya.
"Ludwig, biarkan Ivan melihatnya. Sekali ini ... kumohon" Francis meminta dengan penuh pengertian kepada Ludwig, Ludwig pun hanya bisa menghela nafas. Mengerti bahwa Ivan ingin bertemu dengan kakaknya, akhirnya Ludwig pun membiarkannya.
"Baiklah ..." Ludwig dan Francis pun akhirnya duduk, membiarkan Ivan di dalam sana.
Ivan kini telah berada di samping tempat tidur Gilbert, Ivan berusaha keras menahan air matanya. Disentuhnya tangan Gilbert, jemarinya ia genggam. Ivan lalu menunduk sambil meletakkan tangan Gilbert di kepalanya.
"Hei ... Gilbert" kata Ivan lirih, Ivan semakin memegang erat tangan Gilbert "Maafkan aku ..." lanjutnya.
"Maafkan aku yang bodoh ini haha... hiks" Ivan sungguh tak bisa menahan air matanya kali ini. Ia sudah tak kuat menahan perasaan yang selama ini ia tahan. Ivan tak menyangka ia menemui Gilbert dalam keadaan seperti ini, Ivan kini hanya bisa berharap agar Gilbert sadar, hanya itu. Walau jauh di dalam hatinya ia jua ingin bisa berbicara dengan Gilbert dan mengembalikan Iron Cross Gilbert yang tak sengaja ia tinggalkan di tempat itu.
Hiks ... author update-nya kayak siput :''')))
See you in the next chapter ... thank a lof for reading this story guys :DD
Mind to RnR? :D
