Namamu adalah Kaneki Ken
dan kenapa kau kembali?
.
.
"Nama saya adalah Tanaka Ken, saya mau bergabung di Kirishima's."
Aku terdiam, Renji terdiam, hanya pemuda itu yang terdiam dengan senyuman.
"Renji-san…" aku berusaha memecah keheningan, meskipun sebenarnya aku tidak ingin membuang-buang waktu membiarkan pemuda itu berdiri lama di sana. "Bisa kau saja yang mewawancarai Tanaka-san?" Aku tidak kuat, aku tidak akan sanggup. Ini benar-benar gila. Semakin lama aku berada di sana semakin menjadi-jadi perasaan tidak nyaman yang ingin mendobrak keluar. Hingga kuputuskan untuk meninggalkan kedai, membiarkan Renji melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sebagai pendiri Kirishima's. Semoga saja keputusan yang ia buat nantinya tidak akan membuatku ingin menenggelamkan pemuda itu di tengah-tengah lautan lepas.
Kuharap Renji juga tidak bisa berenang.
.
.
.
.
1 message received.
Saku celanaku bergetar ketika menyadari ada pesan masuk yang diterima. Pesan dari Renji. Antara ingin membuka atau tidak ingin membukanya, aku menimang-nimang dan berakhir mendaratkan punggung di atas butiran pasir putih. Ini tidak adil. Aku tidak mendirikan Kirishima's hanya untuk kembali ke masa lalu. Keputusan untuk pergi dan benar-benar menjauh dari kota tempat Anteiku berada ternyata belum cukup untuk menjauhkan dari takdir yang mempertemukan dengan Kaneki. Baiklah, mungkin pemuda itu bukan Kaneki, namanya Tanaka Ken, tetapi aku bersumpah kalau pemuda itu memiliki perawakan yang sama persis walau warna rambutnya berbeda dengan kali terakhir aku melihatnya.
Malam itu.
Malam itu adalah malam yang paling menyakitkan.
"Kirishima-san."
Aku terkesiap kala mendengar suara khas pemuda seumuran tertangkap gendang telingaku. Ragu-ragu, kudongakkan kepala sembari menghalangi pancaran langsung sinar matahari menusuk masuk ke dalam bola mata. Tanaka Ken berdiri di sana, pemuda yang seharusnya tidak ada dan tidak pernah muncul lagi.
"Mau apa?" aku memalingkan pandangan, tidak bersedia untuk menatapnya terlalu lama.
"Saya harap keputusan yang Renji-san ambil tidak membuat Kirishima-san keberatan."
"Keberatan?" pengulangan kata disertai tanda tanya, karena aku sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud pemuda Tanaka, "Maksudmu?"
Namun seketika mataku membulat. Kurva yang semula tergaris datar kini berubah membentuk seringai. Aku tergelak, tertawa dengan sejadi-jadinya. "Kau diterima? Kau akan bekerja di Kirishima's?" Aku tidak tahu kenapa, tetapi aku masih terus tertawa sampai-sampai pipiku sudah basah oleh bulir-bulir air mata. Sekarang aku benar-benar harus menghanyutkan Renji ke laut. Aku tidak peduli.
"Hai', mohon bimbingannya Kirishima's san!"
Aku menghentikan tawa itu dan jeritan yang terkekang di dalam hati semakin meronta-ronta. "Bimbingan…" kuusap pipi yang sempat basah, lalu kutatap pemuda itu tepat di kedua matanya, "Jangan berharap aku akan bersikap ramah kepadamu."
Dan jangan berani-beraninya untuk menghilang lagi.
.
.
.
.
.
"Renji-san aku mau pergi ke supermarket membeli bahan-bahan makanan, kau mau ikut?"
"Kurasa tidak, kau bisa sendiri?"
"Akan saya temani, Kirishima-san!" sela Tanaka di tengah-tengah pembicaraanku dan Renji. Kuharap pembicaraan itu sebenarnya tidak sebesar apa yang aku duga sampai-sampai terdengar oleh telinga Tanaka, tetapi nyatanya telinga pemuda itu lebih tajam dari perkiraan.
"Terserah."
Kali ini akan kubiarkan.
"Kirishima-san sudah makan siang? Setelah pergi ke supermarket mau saya traktir tidak?"
Aku menggelengkan kepala segera mendengar tawaran tidak masuk akal dari Tanaka. Apakah pemuda itu tidak tahu Ghoul tidak—ah, aku lupa, pemuda itu bukan Kaneki Ken meski perawakannya sama. Tapi, kalau benar pemuda itu Kaneki, bukankah seharusnya ia tidak makan makanan manusia? Yang masih membekas dalam ingatanku adalah Kaneki memang bisa 'makan', namun hanya dalam jumlah sedikit. Dan rasanya mustahil untuk diajak makan keluar seperti ini. Mungkin…
"Memang kau mau traktir apa?"
"Kudengar ada hamburger enak yang baru saja buka—eh, maaf bukan maksud saya tidak sopan," tukasnya penuh gelagap.
"Kau terlalu kaku."
Meski begitu, pada akhirnya aku dan Tanaka tetap membeli burger bersama. Dan kau tahu apa? Kaneki Ken menyukai hamburger, dan Tanaka Ken juga mengatakan hal yang sama. Menggelikan sekali menemukan dua orang yang nyatanya berbeda, namun memiliki banyak hal yang sangat serupa. Dan aku belum tahu tentang fakta-fakta lainnya yang Tanaka masih sembunyikan. Tapi, ketahuilah, sedikit demi sedikit aku berharap fakta yang terkuak akan menjauhkannya dari bayang-bayang Kaneki.
Aku tidak ingin Tanaka Ken berakhir seperti Kaneki.
.
.
.
.
.
Pagi ini keinginanku untuk diganggu sedang berada pada titik paling rendah dalam garis kehidupan. Siapapun yang mengganggu, siap-siap saja menerima lemparan beberapa gelas kaca dan siraman seceret air seduh. Mimpi tadi malam benar-benar membuatku jauh dari kata tidur nyenyak. Aku tidak tahu kenapa pemuda itu datang dan tiba-tiba bertanya,
Touka, bagaimana untuk kesempatan kedua?
"Apa tidak ada kesempatan kedua?"
Aku terkesiap.
Secara otomatis tatapanku bergulir ke arah sumber suara. Sumber suara itu adalah Tanaka Ken. Dan kalimat untuk siapapun yang baru saja terujar dari Tanaka Ken bukanlah kata-kata yang terdengar sopan. Setidaknya bagiku, untuk saat ini. "Apa maksudmu?"
"Bagaimana untuk kesempatan kedua?"
Apa?
Kenapa?
Atas dasar apa?
"Kau ini Kan..."
-to be continued-
