Aku tidak apa-apa jika Jimin setiap hari kesini untuk mengusikku

Aku tidak apa-apa jika umma akan memanjakan Jimin melebihi ku

Aku tidak apa-apa jika umma lebih membela Jimin dibandingkan anaknya sendiri

Aku tidak apa-apa

"Tapi umma, sekali ini saja bisakah umma batalkan semuanya?"

"Sayang, umma mohon jangan egois"

"Aku tidak egois umma! Aku tidak menyetujuinya, umma tolong sekali ini saja? Demi Appa?"

Demi aku juga

"Sayang, maafkan umma"

...

"Yah, benarkan kalian menikah! Ku dengar Jungkook mengganti marganya menjadi Park!"

"Benarkah itu Jungkook? Astaga, ternyata jikook benar benar nyata!"

"Selamat Jimin akhirnya kau berhasil!"

Ia tidak tahu yang di bicarakan teman-temannya adalah ledekan atau ucapan selamat.

Wajah Jungkook merah seperti ingin meledak sewaktu-waktu, tangannya ia genggam erat-erat hingga kuku kukunya tertancap hendak menggoyak telapaknya sendiri. Jungkook bangkit dari duduknya menghampiri Jimin dan

BRAKK

Jimin terkejut bukan main hingga buku yang di bacanya melayang entah kemana. Dengan tampang bingung Jimin bertanya melewati ekspresinya

"Sampai kapanpun aku tak sudi memakai marga Park! Ku peringatkan aku akan memakai segala cara agar semuanya batal!"

Jimin terdiam, namun ia buru-buru mengubah ekspresinya-tersenyum seperti biasa. "Terserah kau saja, aku tidak ikut campur" ujar jimin santai namun dengan senyuman yang sungguh membuat Jungkook muak

Kau kerasukan malaikat senyum Park Jimin? Bagaimana kau bisa mengucapkannya sesantai itu?

"Sialan-" gumam Jungkook, ia meniup poni yang menggantung diatas matanya sambil menyilangkan tangan. Tanpa basa basi ia keluar kelas membuat seluruh siswa-siswi yang tadi menggosipinya semakin penasaran.

"Yah, jimin jadi sebenarnya kau menikahinya atau tidak?"

"Apa jangan jangan kalian di jodohkan?"

"Bagaimana dengan malam pertama kalian ayo ceritakan"

"Yah taehyung pertanyaanmu sungguh-argh kepalaku pusing mendengarnya"

Yang terakhir itu yoongi.

. . .

"Aku kesaaal sekaliiiiii pokoknya aku tidak sudi tidak tidak!"

"Yah, kau tau seluruh sekolah sedang menggosipkan mu dengan Jimin lucu sekali" Seokjin bersandar di dinding di atap sekolah -tempat biasanya mereka membolos- di tangannya sudah ada beberapa makanan, mie hitam, kimchi, daging bahkan bakso ikan!

Kau mau piknik atau membolos Kim Seokjin

Jungkook memutar bola matanya "Yang menikah bukan aku tapi orangtua kami! hyung aku mohon bantu akuu, aku tidak ingin umma menikah lagi hyung. Jebaall" rengek Jungkook pada hyung kesayangannya itu. Jin mendelik berusaha menelan makanannya dengan anggun.

"Ku pikir lebih baik kau bujuk Jimin agar memprotesnya bersamamu. Kurasa itu lebih efektif!" Jawab Seokjin. Tapi disambut gelengan menggemaskan dari Jungkook "dia tidak perduli hyung! Dari awal dia memang ingin merebut umma dariku! mereka sangat lengket! Bahkan ketika aku mengadu saat Jimin mengunciku dikamar mandi yang dimarahi adalah aku karna dituduh merusak pintunya!" aku Jungkook menggemaskan, ingin sekali Seokjin mencubit pipi Jungkook namun ia urungkan karna baginya bakso-bakso ikan di hadapannya jauh lebih menggairahkan

Seokjin mencomot baksonya satu persatu sambil tetap memberi nasihat pada adik kesayangannya "ushik shaja dhia, buath ia cidak bhetah bherada bershama kheluarga mhuu"

Mata jungkook berbinar setelah itu. "Ide bagus! Hyung sangat pintar!" Jungkook menerawang "hitung-hitung balas dendam! Ngomong-ngomong aku belum melaksanakan sumpahku menggantungnya di tiang bendera!"

"Yhaa ichu idhe bhagus jhungkhok"

"Yah hyung telan dulu makannya lalu bicara, bakso mu muncrat kewajahku!"

"Ehnak juhngkook khau mhauu?!"

"Tentu saja!"

. . .

Mereka sudah satu rumah walau belum resmi menikah, resepsi akan dilaksanakan minggu depan. Dasar wanita dan lelaki mesum pikir Jungkook, ingin sekali ia melaporkan mereka berdua kepolisi atas tuduhan penyalah gunaan status perkawinan dan menyebabkan ketidaknyamanan seorang anak yang masih polos seperti dirinya, tapi sayang karna ia terlalu sayang dengan ummanya jadi ia urungkan!

Bersyukur lah umma memiliki anak yang baik hati seperti Jungkook!

Jungkook memulai rencananya hari ini. Atas pencerahan Jin waktu itu. Jadi, ia bangun pagi pagi sekali untuk mematikan alarm Jimin yang jumlahnya bukan main! banyak sekali, Jungkook curiga jika jimin penjual jam weker di pasar-pasar malam! Bahkan Jimin punya jam weker berbentuk ABS, oke yang satu itu akan Jungkook ambil untuk koleksi barunya. H3h3h3

Jam 6 tepat, setelah Jungkook berhasil menyusup kekamar Jimin. Jungkook pura-pura tidur lagi saat Ummanya masuk kedalam kamarnya, mencium jidatnya dengan lembut "umma berangkat dulu sayang~"

"Hngg" akting jungkook menggeliat membelakangi ummanya, karna jujur saja wajah Jungkook memerah sekarang.

Ia tidak tahu jika ummanya sering masuk kekamarnya lalu mengecup jidatnya ketika hendak pergi bekerja. Umma Jungkook memang sering pergi pagi-pagi sekali dan pulang tengah malam (atau bahkan tidak pulang berhari-hari) dan ketika Jungkook bangun, ia hanya akan menjumpai note kuning di kulkas dan makanan dingin di meja makan.

"Mianhe~" bisik ummanya lagi, kemudian mengusap halus rambut anak kesayangannya tersebut. Jungkook membuka matanya saat mendengar langkah kaki ummanya keluar dan suara pintu yang tertutup.

"Apa sudah siap?"

"Ne, oppa ayo kita berangkat"

Sejenak ia lupa Jika ummanya hanya milik dia seorang, ia lupa jika ummanya kini bersanding dengan -sialnya-ayah-jimin-paman yang sudah ia kenal sejak dulu.

Ibu Jimin meninggal sudah lama, sejak mereka berumur 10 tahun. Ibu Jimin sangat cantik dan lemah lembut, Jungkook sangat suka kue jahe buatan Ibu Jimin. Jungkook masih ingat bagaimana Jimin menangis di kuburan ibunya, meneriaki jika jimin ingin masuk kedalam tanah itu untuk menemani ibunya.

Setidaknya Jimin lebih beruntung, dia masih bisa bertemu ibunya di pemakaman. Sedangkan Jungkook? Dimana ayahnya sekarang pun ia tidak tahu, ayahnya masih hidup atau meninggal ia tidak tahu.

Nanti ku tanyakan itu pada umma

Yah, ia bertanya hingga 15 tahun lamanya.

Jungkook sudah siap, sudah mandi sudah wangi. Ia duduk di meja makan menikmati pancake dengan syrup gula buatan ibunya yang sangat enak. Tinggal menunggu jimin pikirnya.

"Semut-semut nakal, makannya punya Jimin saja. Jimin sedang diet, ia tidak suka makanan manis." Gumam Jungkook sambil memainkan semut-semut rangrang di tangannya lalu melemparnya kepiring Jimin(?) "He he he"

Beberapa menit kemudian, bunyi pintu terbuka. Mempersembahkan Jimin dengan kaos oblongnya, rambutnya yang coklat acak-acakan itu ia usap kebelakang, damn it! Kenapa sangat seksi! Lihat wajah bantalnya yang mengerjap-ngerjap menggemaskan.

Slap! Jungkook sadar! Ingat rencana dan jangan terpesona! "Ugh -ngg jimin ayo sarapan?" Jimin mendekati meja makan, bibirnya yang sek- maksudnya kering itu di jilatnya ketika melihat menu sarapan pagi ini pancake syrup buatan umma Jungkook yang sudah terkenal keenakannya. Tapi ekspresinya berubah ketika jimin melihat gerombolan semut dipiringnya. "Huuh kenapa bisa ada semut?" tanyanya.

"Karna semut suka makanan manis"

"Tapi dipiringmu tidak ada!"

"Karna aku menjaga semut semut itu agar tidak datang kepiringku" ujar Jungkook santai, Jimin memicingkan matanya hingga lemak matanya saja yang terlihat, jelek sekali. "Sudah sana mandi, jam pertama hari ini Mr. Jung lho~"

Jimin tanpa pikir panjang masuk kekamarnya lagi, mengambil anduk dan beberapa perlengkapan mandinya. "Huh Jungkook kau melihat jam wekerku?"

Jungkook menggeleng, sedikit melirik jam yang sudah menunjukkan setengah 7. Sadar jika Jimin telat bangun dari biasanya hanya dalam waktu 5 menit. Berbeda sekali dengan dirinya ;-;

"Kurasa umma membuangnya?" Bohong Jungkook, mulai masuk kedalam rencana "subuh tadi umma marah karna bunyi berisik dari kamarmu, lalu umma membuang semuanya!"

Jimin menggeleng, alasan Jungkook tidak masuk di akal pikirnya - "yah, semua jam itu mati! Hanya satu yang hidup bagaimana bisa jadi berisik? Kau jangan berbohong Jungkook yang ada kamar mu yang perlu-" jimin melangkah ke kamar Jungkook, tapi Jungkook segera menghalanginya. "Eit eit eit- kau ingat perjanjian dua hari lalu tidak ada yang boleh masuk kekamar satu sama lain? Kau mau melanggarnya?"

Jimin menatap nya curiga. "Ada yang tidak beres, aku tahu sifatmu Jungkook. Kau licik, kau bisa saja menyelinap kekamarku dan mengambil semua koleksi wekerku! Benarkan ayo mengaku!"

Heeee kenapa Jimin bisa tau? Jungkook berakting! Kau sudah berlatih untuk ini!

"Pendek! Jangan menuduhku yang tidak tidak aku tidak melakukan itu! Kau tau sendiri aku tidak bisa bangun pagi!"

"Tapi tadi kau bangun lebih pagi dari ku kelinci!"

"TIDAK!"

"IYA!"

"TIDAK!"

"IYA!"

"Haahh aku lelah berargumen denganmu, sebentar lagi jam 8 mau sampai kapan kau memakai kaus oblong dan terlambat kesekolah?"

Jimin sadar, ia belum mandi dan ia harus berangkat sekolah sebentar lagi. "Ingat yah Jeon, aku belum menyerah! Jika kau terbukti melakukannya ku cincang kau sampai ubun-ubun!" Ancam jimin lalu masuk ke kamar mandi yang pintunya sudah di ganti beberapa hari yang lalu.

Engsel pintu berbunyi, seringai Jungkook dengan gigi kelincinya muncul bersamaan. Jungkook segera mengambil kunci dan memutarnya di lubang pintu kamar mandi, sebelum kemudian Jimin berteriak dari dalam, "SIALAN JEON JANGAN BILANG KAU MENGUNCIKU DIDALAM! YAH BUKA PINTUNYA"

"ASTAGA PARK JIMIN KUNCINYA RUSAK! AKAN KU PANGGILKAN TUKANG REPARASI KUNCI! SAMPAI JUMPA!"

"YAK YAK KAU SIALAN! TIDAK LUCU JEON JUNGKOOK! KUBILANG BUKA PINTUNYAAAA!"

Tbc ~

Astaga ini apaan. Muahahahaha. Review juseyoo ~(‾▿‾~)