Nightmare
Chapter 2
.
.
.
"Ugh!" ucap lelaki paruh baya itu sembari memegangi perutnya.
"Kenapa? Apa kau lapar, biar kubelikan mie instan?" Tanya lelaki berkucir seperti nanas itu.
"Ah, tidak Shikamaru. Ini bukan seperti itu, sepertinya ada masalah dengan Kyuu.. ugh!" sahut lelaki bergelar Nanadaime itu dengan wajah yang tampak memucat.
"Kyuubi maksudmu? Bukankah kau sudah bisa mengendalikannya?" Tanya Shikamaru lagi.
"Entahlah, aku akan mengeceknya sebentar, argh.." sahut lelaki berambut pirang itu sembari menghela nafas panjang.
Shikamaru hanya mengangguk dan memperhatikan Nanadaime yang duduk dihadapannya menutup kedua matanya, mencoba memasuki ruang penyegelan Kyuubi yang selalu bersama lelaki berambut pirang itu sejak bayi.
Tap!
"Ada apa, Naruto? Tak biasanya kau mengunjungiku seperti ini" suara berat itu mengalihkan pandangan Naruto dari segel yang berada di gerbang besar dihadapannya.
"Aku merasa seperti ada yang aneh di dalam perutku, kukira kau sedang memberontak, Kyuu" sahut Naruto.
"Aku tak akan melakukan hal seperti itu, tapi bukan kau saja yang merasakannya. Saat sedang terlelap, aku merasa ada yang masuk tapi aku tak melihat apapun" ucap musang berekor Sembilan itu.
"Hm, ini aneh. Kalau begitu, kau periksalah lagi. Aku akan kembali bekerja" perintah hokage ke tujuh desa Konoha itu.
"Baiklah" Kyuubi hanya mengiyakan perkataan lelaki yang sudah lama bersamanya itu.
Sembari melihat keadaan tempat penyegelannya selama bertahun-tahun, Kyuubi mencoba mengendus keberadaan hal aneh yang dimaksud dengan inangnya itu. Tapi, tak sedikit pun tanda-tanda keberadaan hal aneh itu.
'Ini aneh, aku yakin sekali. Tadi aku merasakan hal aneh yang dikatakan Naruto, dan sekarang aku malah tak merasakan apa-apa' gumam Kyuubi dalam bathinnya.
.
.
.
"Bagaimana? Apa itu perbuatan Kyuubi?" Tanya Shikamaru.
"Bukan, sama halnya denganku. Kyuubi juga merasakan hal aneh disekitarnya, namun tak melihat apapun" sahut Naruto.
"Berhati-hatilah Naruto, kau sekarang bukanlah sekedar ninja melainkan Nanadaime. Kesalahanmu akan berakibat fatal bagi Konoha" nasehat Shikamaru.
"Aku tau, maka sebab itu aku menyuruh Kyuubi terus menelusuri hal aneh dalam tubuhku ini" sahut ayah dari dua orang anak itu.
Cklek!
"Ah, maaf mengganggumu Nanadaime! Ada hal yang gawat telah terjadi di desa!" seru wanita dengan seekor babi di pangguannya.
"Apa itu Shizune-san?" jawab serempak Naruto dan Shikamaru.
.
.
.
.
.
"Lepaskan aku, wanita brengsek!"
Seruan itu memicu perhatian warga Konoha yang sedang menikmati bulan purnama yang terselubungi awan hitam. Seorang wanita paruh baya terpental ke tanah, dengan sigap seorang gadis muda membantu wanita itu kembali berdiri.
"Sadarlah, Bol Nii-chan! Ini Kaa-san, tak begitu caranya kau menghormatinya!" seru gadis itu dengan tangannya yang masih mendampingi wanita paruh baya itu.
"Berisik! Wanita lemah itu bukan ibuku, dan berhenti memanggil kakak, gadis sialan!" sahut lelaki berambut pirang itu dengan tegas.
Tap!
"Ada apa ini?" Tanya seorang gadis berkacamata kepada ke salah seorang warga desa.
"Ah, Bolt mengamuk dan mendorong ibunya hingga terjatuh. Bahkan membentak adiknya sendiri" jelas warga desa itu.
'Bolt? Dia tak akan setega itu kepada ibunya sendiri. Aku harus memastikan itu!' gumam gadis itu kemudian mendekati ibu dan gadis Uzumaki itu.
"Ada apa ini, Himawari?" Tanya gadis dengan berlambang kipas dipunggungnya itu.
"Ah, Sarada-chan. Aku tak begitu mengerti, tapi setelah Bolt Nii-chan bertemu dengan seorang gadis berambut merah muda seperti Sakura Baa-san. Tiba-tiba saja ia mengemas barangnya dan pergi tanpa pamit, karena khawatir Kaa-san mengejarnya. Namun, dia berbuat kasar kepada Kaa-san, seperti bukan dirinya yang biasa" Sahut Himawari dengan wajah sangat mencemaskan kakak lelakinya itu. "Bahkan pandangan matanya sudah berbeda, lihatlah!" sambung gadis Uzumaki itu.
Mendengar penuturan putri bungsu dari Nanadaime itu, Sarada mengalihkan pandangannya ke depan. Tepat berdirinya seorang lelaki muda berambut pirang yang sangat ia kenali. Karena suasana malam bulan malam purnama itu tertutup oleh awan hitam, untuk sementara Sarada tak dapat memastikan wajah putra sulung Nanadaime itu.
Seerrsh!
Angin berhembus kencang, perpindahan awan hitam pun terjadi begitu cepat. Sehingga bulan purnama kini semakin jelas untuk dilihat, serta cahayanya cukup untuk menerangi suasana malam yang mencekam itu. Cahaya bulan purnama itu membantu penglihatan Sarada untuk menatap pandangan lelaki muda dihadapannya tersebut.
"Ah, mata itu!"
Satu kalimat itu keluar begitu saja, saat Sarada berhasil menangkap gambaran wajah Bolt. Namun, kata-katanya itu tak tersambung karena Sarada terperanga dan terkejut atas apa yang dilihatnya saat itu. Bukan hanya Sarada, bahkan Nyonya Uzumaki pun ikut terkejut akan apa yang dilihatnya.
"Ada apa ini, Sarada?" Tanya seorang wanita bersurai merah muda itu menghampiri putri kesayangannya tersebut.
"Lihat disana, Sakura!" seru seorang lelaki yang mendampingi wanita itu.
Sama halnya dengan Sarada dan Hinata, sepasang suami istri Uchiha itu pun tak kalah terkejut melihat yang ada dihadapannya.
'Mata itu sama persis dengan mata sebelah kiri yang dimiliki oleh Tou-san' gumam Sarada dalam bathinnya.
Gumaman ayah dari Sarada Uchiha pun tak jauh beda dengan gadis berkacamata itu. Dia juga berfikir, mata yang dimiliki oleh seorang anak dari klan Uzumaki itu sekarang sama persis dengan yang dimilikinya, tepat di mata kirinya itu.
"Sasuke-kun, mata itu.."
"Ya, tak salah lagi. Itu adalah Rinnegan yang kumiliki"
"Tapi, bagaimana Bolt mendapatkannya?" Tanya Sakura masih penasaran dengan kedua mata yang dimiliki oleh putra dari sahabatnya.
Tak lama kemudian hadirlah seorang gadis bersurai merah muda dengan senyuman iblis yang terpampang sadis diwajahnya. Gadis itu berdiri tepat disamping Bolt yang masih menunjukan amarah diwajahnya.
"Ayolah, Bolt~ Kau tak perlu mengurusi wanita lemah itu" ucap gadis itu dengan manisnya di telinga lelaki berambut pirang itu.
Belum sempat gadis itu mengalihkan badannya keluar dari desa Konoha, dengan lantang Sarada menyebut nama gadis bersurai merah muda itu.
"Satora-san?! Apa yang kau lakukan pada Bolt?" seru Sarada melangkahkan salah satu kakinya ke depan.
"Yang kulakukan? Itu bukan urusanmu gadis Uchiha!" sahut gadis itu lebih lantang.
Tap!
"Apa yang kau lakukan, Bolt?" Tanya Naruto tiba-tiba hadir di tengah keramaian itu.
"Wah, wah.. Ini dia Hokage ke tujuh Desa Konoha, ayah dari kau Bolt!" ucap gadis itu dengan sinis.
"Ayah? Heh.. Yang benar saja?! Lelaki lemah itu bukanlah ayahku!" Sahut Bolt dengan lantang.
Mendengar penuturan anak kandungannya sendiri, Naruto cukup kesal karena tak dianggap oleh anaknya sendiri. Bahkan dikatakan sebagai lelaki yang lemah oleh putra sulungnya itu? Bukankah itu sangat menyakitkan?
"Cukup! Jaga ucapanmu Uzumaki Boruto!" seru Naruto dengan lantang.
"Heh? Uzumaki? Yang benar saja?!" sahut Bolt dengan senyuman sadisnya. "Uzumaki itu bukan termasuk namaku, lelaki tua!"
Ini cukup menyakitkan, anak lelakinya yang sangat ia sayang selain Himawari itu mengatakan hal-hal yang membuat hatinya seperti teriris pedang yang sangat tajam. Bagaimana tidak? Tak dianggap seorang ayah, bahkan nama Uzumaki yang merupakan klan mereka dibuang seakan-akan adalah sampah. Sebagai seorang ayah, Naruto cukup kalap menerima perkataan Bolt.
"Sudah cukup, Bolt! Jaga ucapanmu pada Ayah, Ibu dan adikmu. Kenapa kau sampai berbuat seperti ini? Tak biasanya kau selancang ini pada keluargamu sendiri!" ujar putri tunggal dari klan Uchiha itu.
Dengan senyuman mengejek, gadis bersurai merah muda yang tengah berdiri di belakang Bolt menatap Sarada dengan tatapan sinis.
"Oh, jadi gadis Uchiha kecil itu kekasihmu, Bolt? Lihatlah wajahnya itu, sangat mengkhawatirkanmu, Hahah.."
"Cih! Si Kacamata itu.. Heh, itu tak akan mungkin terjadi!" sahut Bolt dengan tegas seakan-akan selama ini dia sangat membenci Sarada, bahkan tak dianggap sebagai siapa-siapa dihidupnya.
"Ah, benarkah? Kasian sekali, kau gadis kecil. Bahkan perasaanmu ditolak mentah-mentah didepan warga Konoha" sindir Satora dengan santainya menggandeng tangan Bolt bahkan menyandarkannya kepalanya ke pundak lelaki muda Uzumaki itu.
Sarada hanya menundukan kepalanya ke bawah, dan beberapa kali mengatur nafasnya yang sangat tak beraturan. Bahkan itu sempat membuat Himawari khawatir melihat tingkah calon kakak iparnya tersebut.
"Bolt-baka! Shannaaroo!"
Sebuah pukulan mendarat di tanah dari gadis berkacamata itu. Pukulan kuat itu membelah tanah yang menerima hantamannya, retak dan terpecah menjadi banyak bagian. Mereka yang berdiri disekitar gadis bersurai hitam itu, berpencar mencari tempat aman untuk tak terkena akibat pukulan itu. Lelaki berambut pirang yang namanya dipanggil oleh gadis yang mengamuk itu, hanya terdiam dengan wajah datar. Seakan-akan tak menganggap serangan gadis dengan lambang klan Uchiha dipunggungnya itu.
"Ah, dia mengamuk~"
Gadis bersurai merah muda yang sedang berdiri di samping lelaki berambut pirang itu tersenyum sinis melihat gadis Uchiha itu mengamuk mengancurkan tanah yang menjadi patokannya untuk berdiri.
"Cih! Mengganggu saja" kata Bolt mencoba melakukan serangan kepada Sarada.
Dengan cepat gadis bersurai merah muda itu menghalangi jalannya menuju kerumunan warga Konoha yang masih terpelongo melihat situasi itu.
"Tunggu, Bolt! Biarkan aku yang melawan mereka, simpan tenagamu untuk berlatih nanti" kata Satora dengan santai dan menekukan kaki kirinya hingga menyentuh tanah, sedangkan kaki kananya menekuk setinggi dada atau bahu.
Satora mengepalkan tangannya dan meninggikan posisi tangannya ke atas, kemudian dengan cepat menghantam tanah di bawahnya. "Rasakan seranganmu sendiri, Sarada!"
Trassk! Prak!
Tiba-tiba seluruh permukaan tanah meretak hampir menyentuh halaman kantor tempat para Hokage bertugas. Bahkan keretakan itu, membuat banyaknya rumah-rumah warga amblas karena tanah di sekitarnya sudah tak rata lagi.
"Seranganku? Ba-bagaimana bisa?" seru Sarada tak percaya bahwa serangannya dapat ditiru bahkan lebih baik daripada serangannya.
"Tentu saja, kami klan Akatsuki mempunyai kekuatan untuk meniru kekuatan lawan bahkan 2 kali lebih baik daripada kekuatan aslinya" sahut Satora dengan sombongnya.
"A-akatsuki?!" seru Naruto mengulangi kata-kata Satora.
"Ya, benar. Klan yang dibantai habis oleh klan Uchiha untuk kepentingan pribadi, bukan saja itu kedua mata klan yang dibantai di pisah dari tubuhnya! Sungguh kejam kalian, Uchiha!" seru Satora menghardik seluruh Klan Uchiha yang tersisa. "Aku akan membalas dendam dengan mengambil anak Nanadaime ini sebagai penghancur Konoha!"
"Tapi, tak seharusnya kau menghancurkan Konoha. Warga Konoha tak mengetahui apapun tentang ini" sahut Sasuke Uchiha.
"To-tou-san?"
Sarada memandangi wajah ayahnya yang tampak merasa bersalah. Sarada mengerti sebagai klan Uchiha, ayahnya itu sangat merasa bersalah. Meskipun bukanlah dia yang membantai klan Akatsuki. Bahkan Sasuke tak mengetahui bahwa di dunia shinobi ini, ada klan bernama Akatsuki bukan hanya sebagai organisasi pengincar para Jincuriki.
"Aku tak peduli, dan kau gadis yang tergila-gila dengan lelaki tua berambut pirang itu, keluar dari persembunyianmu!" seru Satora mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru, namun tak satupun orang yang merasa dipanggil oleh dirinya.
Bahkan seluruh warga Konoha termasuk Naruto, Hinata, Himawari, Sasuke, Sakura dan Sarada, tak mengetahui siapa yang dimaksud oleh Satora. Mereka hanya saling berpandangan dan melihat kesekitar siapa gadis yang dimaksud oleh Satora.
"Tidak mau! Balas dendammu tanpa aku kalau kau bisa, kekuatan peniru kekuatan matamu tak akan berfungsi tanpa aku, dasar wanita jalang!"
Sebuah seruan seorang gadis menggema di telinga Naruto, dia mencoba mencari asal suara itu. Namun, tak menemukannya di sekitarnya. Padahal seruan itu sangatlah dekat baginya.
"Kenapa, dobe?" Tanya Sasuke memandangi wajah Naruto.
"Aku mendengar sebuah seruan dari seorang gadis yang menyahuti kata-kata Satora" jawab Naruto.
"Ah, disitu kau rupanya gadis brengsek?! Tak usah kau bersembunyi dalam penyegelan Kyuubi itu, atau kau akan melihat sendiri lelaki yang kau kagumi itu mati!" seru Satora menggerakan tangannya seakan ingin menggunakan beberapa jutsu.
Mendengar penuturan Satora, dengan sigap Naruto masuk dalam dunia bawah sadarnya tempat penyegelan Kyuubi selama ini. Kyuubi yang sudah mengetahui maksud dari Naruto menghampirinya, ia menunjuk sebuah sudut ruang yang cukup gelap. Dan keluarlah sesosok gadis bersurai merah muda mirip dengan Satora.
"Si-siapa kau? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Naruto dengan kuda-kuda bertangungnya.
"Ka-kau tidak ingat aku? Ya sudah tak apa, jika kau ingin menghabisi wanita jalang itu cukup mudah" ucap gadis bersurai merah muda itu tanpa menyebutkan namanya.
"Mudah? Bagaimana caranya?" Tanya Kyuubi dengan rasa penasarannya.
"Kau lihat, gadis itu menyepitkan rambutnya dengan sepitan rambut warna orange bukan?" gadis itu balik bertanya.
"Hm, sepertinya begitu. Dan sama hal dengan Sakura menyepitkan poni sebelah kirinya dengan sepitan rambut berwarna merah tua" sahut Naruto membayangkan penampilan Satora.
"Kau benar, dan ambillah jepitan rambut orange itu. Lalu patahkan, aku sengaja menyimpan seluruh kekuatanku pada sepitan itu tanpa ada yang mengetahuinya" tambah gadis itu kemudian sedikit demi sedikit bagian tubuh bawahnya menghilang bagaikan debu.
"Hey, cotto matte! Sebenarnya kau siapa?"
Belum sempat menjawab pertanyaan Naruto, gadis itu sudah menghilang tanpa jejak meninggalkan seribu pertanyaan yang belum terjawab.
"Bagimana dobe? Perlukah aku.."
Pertanyaan Sasuke belum selesai, Naruto sudah menggelengkan kepalanya. Bahkan sudah melepaskan sebuah kunai yang melesat menuju Satora.
"Heh, sayang sekali. Kau meleset Naruto!" seru Satora dengan yakin.
"Sayang sekali, kaulah yang tak menyadari fungsi kunaiku ini" sahut Naruto yang telah berada di belakang Satora dengan tangan yang sudah menggenggam jepitan rambut berwarna orange milik Satora.
Trak!
Jepitan itu rusak, terbelah menjadi keeping-kepingan kecil. Tiba-tiba saja tubuh Satora mengeluarkan asap hitam, dan..
Splah!
Flashback on
"Sa-sakura-chan?" Tanya lelaki muda berambut pirang menghampiri seorang gadis bersurai merah muda.
Mendengar suara lelaki muda itu, sang gadis memfokuskan matanya kepada wajah lelaki berambut pirang tersebut.
"Hee?!" ujar gadis itu dengan wajah yang bingung.
"Ah, gomen! Aku sangka kau Sakura-chan, soalnya kau tampak begitu mirip dengannya" jelas lelaki itu.
"Hn, tak masalah. Aku juga dapat memakluminya" sahut gadis itu.
"Namamu siapa? Aku Uzumaki Naruto, bercita-cita menjadi Hokage Konoha dimasa depan, hehehe.." ujar lelaki itu dengan bangga.
"Na-naruto? Hokage Konoha?"
"Ya, itu namaku dan cita-citaku. Bagaimana denganmu?"
Gadis itu terdiam sejenak. "A-aku tak punya nama, dan juga tak memiliki cita-cita"
"Hee? Itu sayang sekali. Bagaimana kalau namamu Satora saja?" anjur Naruto kecil.
"Satora?" Tanya gadis itu.
"Ya, Satora. Sa artinya kau seorang gadis yang mirip dengan Sakura, To artinya nama lelaki yang memberikan sebuah nama dan Ra artinya seorang gadis bersurai merah muda bagaikan bunga Sakura" jelas Naruto.
"Eh? Satora ya? Nama yang bagus, aku akan memakai nama itu" sahut gadis itu dengan sebuah senyuman yang merekah diwajahnya.
"Yokatta, kau menyukainya. Dan satu lagi.." Naruto mencoba merogoh isi kantong celananya, seperti mencari sesuatu didalamnya.
"Nah, ini dia! Aku mendapatkannya saat berkunjung di festival. Kukira tak akan berguna, tapi sebaiknya aku berikan padamu saja" kata Naruto sembari memberikan sesuatu ke genggaman Satora.
"Sepitan rambut?"
"Yaa, poni rambutmu begitu panjang. Jadi, matamu yang indah tak dapat dilihat oleh orang lain. Sini kupasangkan, dan lihatlah begitu cantiknya dirimu"
"Hn, a-arigato, Na-naruto-kun" sahut gadis dengan nama barunya 'Satora' mulai tersipu malu.
Flashback Off
Bletak!
Sebuah tubuh jatuh di depan mata Naruto, dengan sigap Naruto mengangkat tubuh gadis itu ke pangkuannya. Mata biru Ocean pun saling bertatapan, namun yang satu sudah kehilangan cahaya mata kehidupannya.
"Sa-satora! Maafkan aku, seharusnya hari itu aku mengatakan bahwa aku akan pulang ke Konoha" ujar Naruto dengan kegelisan hati yang merasa bersalah.
"A-akhirnya kau me-ngingatku, Naruto-kun. Maaf, atas ke-kacauan yang dilakukan oleh boneka ninjaku itu" dengan kekuatan yang hampir habis, Satora mencoba meminta maaf.
"Bertahanlah, kami akan menyelamatkanmu, Satora" kata Sakura mulai menghampiri Satora.
"Tak perlu, ugh! Sakura-san, simpan kekuatanmu untuk warga Konoha ini.."
"Kau harus tetap hidup, Satora. Cuma kau sau-satunya yang bisa menyadarkan Bolt!" seru Sarada.
"Aku sudah tak bisa, waktuku tak banyak lagi. Dan tak akan ada yang bisa menyadarkan Bolt, Sarada-chan"
"Apa maksudmu?!"
Sebuah pertanyaan tak akan lagi terjawab, jasat Satora sudah menghilang tersiup angin bagikan pasir. Sebelum mati Satora sempat mengisaratkan sebuah jawaban kepada Naruto dari gerakan bibirnya dan Naruto mengerti itu.
"Cih! Sialan, sudah mati rupanya gadis sialan itu!" gerutu Bolt yang masih berdiri di depan pintu gerbang Konoha.
"Sarada, mundurlah! Kau tak boleh melihat ini" kata Sasuke seakan mengerti maksud Naruto berdiri menghadapi Bolt.
Dengan cepat Naruto menghampiri Bolt yang tengah lengah akan serangan ayahnya tersebut. Melihat tindakan Naruto itu, Sarada akhirnya mengerti dan mencoba melepaskan diri dari kekangan Sasuke.
"Tidak! Jangan lakukan itu pada Bolt, Bolt! Tidaaak!" sebuah jeritan Sarada itu bagaikan menggema diseluruh penjuru desa Konoha.
Kyaa! Rupanya masih belum selesai juga, gomen minna. X'( Memang masih panjang rupanya. Tapi gak apa-apa deh, yang penting ceritanya makin seru kan XD #kepedeanlu! *plak!
Makasih sudah baca ficku, dan jangan lupa tinggalkan review kalian ya, minna-san.
