PART TWO
Kyuhtyun berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang terasa seperti labirin tak berujung. Tidak memedulikan tatapan yang dilemparkan setiap orang yang dilewatinya. Hanya ada satu hal yang ingin Kyuhyun lakukan di tempat itu. Satu hal yang harus segera ia lakukan. Kyuhyun tidak peduli dengan apapun saat ini.
Dan Kyuhyun melihatnya.
Beberapa dokter dan suster yang tengah sibuk dengan semua peralatan yang masih tampak begitu familiar bagi Kyuhyun yang juga pernah berada ditempat itu. Raut wajah mereka membuat Kyuhyun sulit membaca apa yang tengah terjadi. Kyuhyun hanya mampu mendengar suara mesin dan besi yang beradu.
Semuanya terasa begitu sepi ketika Kyuhyun melihat sosok yang ia cari berada di tengah kerumunan itu. Tergeletak tak sadarkan diri. Kyuhyun bisa merasakan tubuhnya melemah. Sendi-sendi pada tubuhnya terasa begitu lemas hingga ia tak mampu menopang tubuhnya sendiri dan terjatuh di lantai.
Matanya tak berhenti mengalirkan air mata yang ia teteskan dalam diam. Dunianya seakan berputar. Berpusat pada sosok lemah yang berada di dalam ruang dihadapannya. Kyuhyun ingin berlari kesana. Melakukan sesuatu. Melakukan apapun.
Seorang lain dalam ruangan itu melihatnya. Kyuhyun juga menatapnya. Ada sesuatu pada pandangan orang itu. Sesuatu yang tidak bisa Kyuhyun artikan. Pandangan yang belum pernah ia terima dari siapapun. Kyuhyun bisa melihat keputus-asaan pada pandangan itu. Namun ada hal lain yang hadir saat pandangan itu ditujukan padanya. Dan Kyuhyun begitu membencinya.
Karena Kyuhyun tahu apa arti dari pandangan itu.
Kyuhyun berteriak pada siapapun di ruangan itu. Menengakkan tubuhnya dan segera berlari menuju ruangan itu ketika dokter mengeluarkan alat kejut jantung.
Tidak. Itu tidak mungkin terjadi.
Kyuhyun mendobrak pintu ruangan itu. Berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman petugas jaga di ruangan itu. Kyuhyun berusaha meraih tangan sosok itu yang terasa begitu jauh darinya.
Kejutan pertama.
Kyuhyun merasa sebagian dari dirinya menghilang ketika ia tidak melihat reaksi apapun dari sosok itu.
Kejutan kedua.
Tubuh Kyuhyun merosot dalam cengkraman petugas yang menahannya ketika sosok itu masih tidak memberikan respon. Matanya tidak pernah meninggalkan sosok itu.
Kejutan ketiga.
Kyuhyun melihat dengan nanar monitor di sebelah ranjang dan mendapati garis lurus itu tidak menunjukkan kontraksi apapun.
"Siwon..." bisik Kyuhyun lemah.
Kini tidak hanya seorang yang melihatnya dengan tatapan yang begitu Kyuhyun benci itu, melainkan semua orang di ruangan itu. Kyuhyun merangkak dan meraih tangan sosok itu dan menggenggamnya.
Tangan itu tidak lagi hangat.
Kyuhyun menangis dengan pilu dan mengerang sejadinya. Menegakkan tubuhnya dan menatap sosok yang memejamkan matanya itu. Suaranya tercekat. Nafasnya tertahan. Kyuhyun menangis dalam diam.
Hatinya terasa begitu kosong dan hampa.
Dengan tangannya yang dingin dan berkeringat, Kyuhyun meraih wajah sosok itu. Membelainya lembut. Kyuhyun tersenyum miris.
"Kau tidak bisa meninggalkanku secepat ini, Siwon..."
Kyuhyun menggenggam tangan Siwon lebih erat. Terlalu kuat.
Dan selanjutnya ia kembali berteriak dengan begitu keras. Menumpahkan segala emosinya. Memukul tubuh suaminya itu dengan begitu kuat berulang kali dan meneriakkan segala amarahnya.
Kyuhyun mendekatkan kepalanya di telinga Siwon dan membisikkan sesuatu. Dengan lembut.
Kyuhyun tersenyum dengan tulus walaupun air matanya masih menetes. Berniat melepaskan tangan Siwon ketika tiba-tiba genggaman tangan Siwon mengerat dengan begitu kuat dan tubuh Siwon menegang.
"KYUHYUN!"
Semua orang termasuk Kyuhyun menatap tidak percaya pada sosok dihadapannya.
Dan Siwon kembali.
Siwon segera mengamati ruangan di mana ia berada. Merasakan sebuah tangan dalam genggamannya dan melihat siapa pemilik tangan itu.
Siwon bernafas lega ketika menemukan Kyuhyunlah pemilik tangan itu. Melepaskan genggaman tangannya. Menyadari bahwa mungkin ia telah menyakiti tangan Kyuhyun karena ia bisa merasakan beberapa sendi bergerak ketika melepas tangan itu.
Siwon segera memeluk tubuh Kyuhyun yang masih memandangnya dengan raut terkejutnya. Siwon mengerang ketika merasakan sakit luar bisa dipunggungnya.
"Arrgghhh!"
Kyuhyun segera menghentikan keterkejutannya dan melepaskan pelukannya.
"Apa yang terjadi? Dimana aku?"
Kyuhyun begitu bahagia hingga air matanya kembali turun. Ia tersenyum menatap suaminya itu. "Kau kembali, Siwon. Kau kembali..."
Siwon tersenyum tulus kepada Kyuhyun. Mengusap kepala Kyuhyun kemudian menghapus air mata Kyuhyun. "Tentu saja aku kembali. Untukmu aku selalu kembali, Kyu."
Keduanya mengakhiri interaksi mereka ketika dokter mengatakan ingin membersihkan tubuh Siwon yang masih bersimbah darah dan menutup luka jahit di punggung Siwon dengan perban.
Kyuhyun menatap Siwon untuk terakhir kalinya dengan enggan dan meninggalkan Siwon untuk menemui Changmin dan kedua anaknya.
.
.
.
.
.
Changmin memeluk sahabatnya itu dengan erat. Bisa ia rasakan Kyuhyun masih terguncang dan kembali menangis. Changmin mengusap punggung Kyuhyun berulang berusaha menenangkan Kyuhyun. Kyuhyun menarik nafas dalam kemudian mengakhiri pelukan mereka.
"Bagaimana keadaannya, Kyu?"
Kyuhyun menatap Changmin dalam. Bagaimana dia akan menjelaskannya? "Dia baik-baik saja sekarang, Min."
"Dan bagaimana keadaanmu?"
Kyuhyun tersenyun simpul, "Aku akan baik-baik saja selama dia bersamaku."
Changmin tersenyum dan menepuk pundak Kyuhyun, "Kalian berdua melewati banyak hal bersama. Aku kagum dengan keteguhan kalian."
"Kami juga berterima kasih padamu, Min. Bantuanmu sangat membantu kami." Kyuhyun melirik ke arah keranjang bayi di samping Changmin. Menemukan kedua buah hatinya tertidur pulas, hatinya sedikit lebih lega.
"Ini bukan apa-apa, Kyu. Aku sahabatmu dan anak buah Siwon Hyung."
"Apa mereka merepotkanmu?" Kyuhyun mengalihkan pembicaraan mereka.
Changmin tertawa kecil, "Tidak sama sekali. Aku pernah menangani yang jauh lebih buruk dari mereka, Kyu."
Kyuhyun ikut tertawa setelahnya, "Mereka adalah hidupku, Min. Terima kasih telah menjaga mereka."
Changmin mengangguk, "Tidak masalah. Dan aku telah mendapatkan surat izin cuti untuk Siwon Hyung. Dengan jangka waktu yang kau inginkan." Ia memberikan sebuah amplop kepada Kyuhyun.
Kyuhyun terlihat berpikir sejenak, "Apa kau bisa mendapat surah alih tugas Siwon kepadaku?"
Changmin menggigit bibir bawahnya dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, "Aku bisa mendapatkannya. Tapi surat itu harus ditandatangani Siwon Hyung. Dan aku pikir dia tidak akan setuju dengan itu."
"Berapa persen kemungkinan Siwon menolak ini menurutmu?" Kyuhyun bertanya dengan menerawang.
"Nol persen, Kyu. Tidak, aku salah. Minus seratus persen setelah kejadian ini."
Kyuhyun mengangguk, "Kau benar."
Changmin menatap ragu pada Kyuhyun, "Jadi?"
"Berikan saja suratnya padaku!"
Changmin tertawa kecil, "Sudah kuduga."
Kyuhyun memukul pundak Changmin pelan, "Kau akan kembali ke kantor setelah ini?"
Sahabat Kyuhyun itu mencegah Kyuhyun yang akan meraih keranjang Alex dan Alexa, "Ya, aku akan kembali ke kantor. Dan tidak, kau tidak bisa membawa mereka bersamamu."
Kyuhyun menatap tidak percaya pada Changmin.
"Kau dan Siwon Hyung sudah cukup berantakan. Biarkan aku menjaga mereka untuk kalian."
Kyuhyun melebarkan matanya, "No, Changmin! That's too much for a favor."
"Oh, c'mon! Kyu... Kau tidak percaya padaku?"
Kyuhyun mengerutkan dahinya, "Tentu saja aku percaya padamu, Bodoh! Kau orang kedua yang paling aku percaya setelah Siwon. Tapi menjaga anak-anakku? No. Kau pasti kerepotan, Min."
Changmin terkekeh kecil, "Ada Yunho di apartemenku, remember? Kami berdua tidak sesibuk kalian. Aku bisa menjaga mereka dengan Yunho. It'll be fun. Kau tahu Yunho dan anak kecil, bukan?"
Kyuhyun berkutat dengan pikirannya, "Kau yakin mereka tidak akan merepotkanmu?"
"Tentu saja tidak. Aku akan bergantian dengan Yunho menjaga mereka dan aku akan mengajak mereka ke rumah sakit setiap hari untuk bertemu denganmu dan Siwon Hyung."
"Kau adalah sahabat terbaikku, Min. Aku begitu berterima kasih padamu." Kyuhyun menghela nafasnya panjang kemudian memeluk Changmin yang dengan senang hati Changmin balas. Ia sangat menyayangi sahabatnya yang satu ini. Kyuhyun tersenyum ketika mengingat pertama kali mereka bertemu sembilan tahun lalu.
Kyuhyun mengakhiri pelukan mereka, "Kau ingat ketika pertama kali kita bertemu sembilan tahun lalu?"
"Aku terlihat seperti idiot saat itu."
Kyuhyun tertawa, "Aku juga tidak jauh berbeda. Kurasa itulah yang membuat kita menjadi sahabat, Min."
"Dan ketika hasil seleksi diumumkan beberapa bulan setelahnya, kau ditugaskan dengan Siwon. Aku sempat berpikir kau akan melupakanku saat itu."
"Tentu saja aku tidak akan pernah melupakan seseorang yang nilainya berada tepat dibawahku. Aku harus berhati-hati karena suatu hari dia bisa saja melampauiku." Kyuhyun menyeringai tipis.
Changmin terkekeh kecil, "Then you better keep up!"
Dan mereka berdua tertawa bersama.
"Aku harus pergi sekarang, Kyu. Aku akan memberikan suratnya kepadamu secepatnya."
Kyuhyun mengangguk dan mengulurkan tangannya, "Sekali lagi terima kasih, Min."
Changmin menjabat tangan Kyuhyun, "Tidak perlu berterima kasih. Kau harus tampak lebih baik dari ini besok."
Kyuhyun hanya tersenyum.
.
.
.
.
.
Kyuhyun terbangun ketika merasa lehernya begitu kaku dan mengerang pelan.
"Tidak seharusnya kau tidur disitu, Kyu."
Sebuah suara yang Kyuhyun begitu puja mengisi pendengarnnya. Kyuhyun menatap Siwon yang bersandar pada kepala ranjang sedang tersenyum padanya. Siwon menggunakan tangan yang Kyuhyun gunakan sebagai bantal untuk memijat leher Kyuhyun.
"Bagaimana keadaanmu?"
Siwon mengusap kepala Kyuhyun lembut, mengamati kedua mata suaminya itu sembab. "Aku baik-baik saja, Sayang. Kau ingin berbaring bersamaku? Ranjang ini begitu luas untuk aku seorang."
Kyuhyun telihat ragu namun segera menaiki sisi ranjang yang kosong dan berbaring di samping Siwon. Melingkarkan lengannya dipinggang Siwon pelan dan menenggelamkan kepalanya di tubuh Siwon. Merasakan matanya kembali meneteskan air mata ketika Siwon mengusap punggungnya lembut. Satu gerakan yang selalu Siwon gunakan untuk menenangkan Kyuhyun.
"Kau sudah terlalu banyak mengeluarkan air matamu untukku, Kyu."
"Karena kau selalu melakukan hal bodoh, kau tahu itu?"
Siwon tersenyum lembut, "Aku tidak pantas mendapatkan seseorang sepertimu, Sayang. Kau terlalu baik untukku."
Kyuhyun mendongak dan mensejajarkan tubuhnya dengan Siwon, "Dan sekarang kau sudah ingin meninggalkanku lagi?"
Siwon tertawa kecil, "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Siwon mengusap air mata Kyuhyun dari wajahnya, "Kau akan menyakiti matamu jika kau terus menangis."
Kyuhyun berusaha menghentikan tangisnya dan menatap Siwon, "Jika kau meninggalkanku, aku akan menembak kepalaku agar aku bisa bersamamu."
Siwon mengerang menahan sakit dikepalanya yang tiba-tiba datang, "Kau mengucapkan itu lagi. Jangan katakan itu lagi, Kyu!"
Kyuhyun menatap Siwon dengan cemas, "Kau tak apa?"
Siwon memegang kepalanya sejenak kemudian menatap Kyuhyun ketika sakit dikepalanya mulai mereda, "Kau mengatakan hal itu padaku ketika aku tidak sadar. Aku mendengarnya. Kau membuatku benar-benar marah. Aku rasa itulah yang membuatku kembali ke dunia."
Kyuhyun tersenyum tulus ketika setetes air mata kembali menuruni pipinya, "Benarkah?"
Siwon menatap tajam pada Kyuhyun, "Jangan pernah katakan itu lagi, kau mengerti?"
Kyuhyun membalas tatapan Siwon dengan pandangan yang sama, "Itu semua tergantung dirimu, Siwon. Jika kau berani meninggalkanku lagi, aku tidak hanya akan mengatakannya namun aku akan melakukannya. Kau tahu aku tidak sedang bercanda ketika aku mengatakan hal itu."
Rahang Siwon mengeras membayangkan Kyuhyun melakukan ucapannya. Namun emosi Siwon kembali melembut ketika merasakan kepala Kyuhyun bersandar di pundaknya dan sebuah lengan mengitari perutnya.
"Maafkan aku, tidak seharusnya aku membuatmu marah saat ini."
Siwon menghela nafas lembut dan memeluk pundak Kyuhyun. Kyuhyun mencium pundak Siwon singkat dan Siwon mencium dahi Kyuhyun lembut. "Berhentilah meminta maaf. Aku yang salah. Aku egois. Seharusnya aku mendengarmu ketika kau melarangku memasuki kedai itu."
Kyuhyun mengusap perut Siwon lembut, "Kita selalu saja bertengkar."
Siwon tertawa kecil, "That's what we do best."
Kyuhyun ikut tertawa setelahnya, "Tapi kita selalu baik-baik saja setelahnya."
"Karena kita bertengkar demi memperjuangkan kebaikan dan keselamatan pasangan kita. Kita terlalu sibuk memikirkan pasangan kita hingga kita melupakan diri kita sendiri."
Kyuhyun tersenyum tulus, "Kau benar. Dan itulah yang membuat kita bertahan sejauh ini. Karena kita terlalu mencintai pasangan kita. Kalau begitu aku rela kau marahi dan memarahimu setiap hari, Hyung."
Siwon tertawa lebih keras kali ini, "Sekarang kau yang jago gombal."
Kyuhyun mencubit pelan perut Siwon membuat tawa Siwon bertahan lebih lama, "Oh iya, dimana anak-anak? Kau menitipkannya?"
"Mereka bersama Changmin. Changmin memaksa untuk menjaga mereka hingga kau keluar dari rumah sakit."
Siwon bernafas lega. Setidaknya Siwon yakin jika kedua anaknya akan aman bersama Changmin. "Akan sangat merepotkan bagimu jika harus mengurus orang sakit dan dua anak kecil."
Kyuhyun menatap Siwon, "Jangan mengatakan hal seperti itu, okay? Itu juga menyakitiku."
Siwon tersenyum simpul, "Maafkan aku."
Kyuhyun membelai wajah Siwon lembut dan mengangguk, "Kau dapat jatah cuti selama satu bulan, Hyung."
Siwon mengernyitkan dahinya, "Selama itu? Siapa yang memintanya? Changmin?"
Kyuhyun menggeleng ragu, "Aku yang memintanya."
Siwon memandang Kyuhyun dengan curiga, "Kau sedang merencanakan sesuatu?"
Kyuhyun menggigit bibir bawahnya, "Aku berniat mengambil alih kasus ini, Hyung."
"WHAT?! NO! Kyuhyun, kau pasti tahu aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini, bukan?"
"Hyung, tapi ini adalah satu-satunya cara agar kasus ini tidak tertunda dan kau tahu aku bisa menyelesaikannya."
"Look! Kyu, aku tahu itu. Tapi setelah kejadian ini, apa kau berpikir aku akan membiarkanmu bermain dengan bajingan itu? Kau juga tahu bahwa bajingan ini mengincarmu. Apa kau sudah gila? Itu sama saja masuk ke dalam perangkap musuh, Cho Kyuhyun."
"Ayolah, Hyung! Aku hanya mengambil alih kasusmu. Dan aku tidak mungkin menyerahkan diriku begitu saja kepada orang ini. Kau tahu aku tidak sebodoh itu."
Kyuhyun tahu Siwon dengan begitu baik. Dia tahu bagaimana cara melumpuhkan argumen Siwon. Dia tahu bagaimana, dimana, dan kapan harus menyerang argumen itu.
Kyuhyun menatap Siwon ragu, "Kecuali jika kau meragukanku, Hyung..."
Siwon memandang tidak percaya pada Kyuhyun, "Apa yang kau katakan? Tentu saja aku tidak meragukanmu. Hanya saj—"
"Kalau begitu biarkan aku mengambil alih kasus ini, Hyung."
Siwon terlihat berpikir sejenak. Dan semua orang tahu, Siwon yang berpikir adalah Siwon yang goyah akan pendapatnya.
"Fine!" Siwon mendengus.
Kyuhyun menyeringai tipis tanpa sepengetahuan Siwon.
"Terim—"
"Tapi dengan syarat!"
Dan seringai Kyuhyun memudar.
"Aku tahu apa yang kau lakukan, Cho Kyuhyun-ssi. Dan aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan apa yang kau mau dengan begitu mudah."
"Jerk!"
Siwon tertawa kecil dan kembali meraih pundak Kyuhyun. Kyuhyun mendengus namun membiarkan Siwon mendekapnya.
"Kau itu sangat menyebalkan, kau tahu itu?"
Siwon mencium dahi Kyuhyun lembut, "Aku tahu. Dan aku berencana terus melakukannya agar kau tidak melakukan hal bodoh sama sepertiku."
"Bagaimana jika aku melanggar syaratmu?"
Siwon tersenyum tulus, "Kau tidak akan melanggar syaratku. Aku tahu kau bukan orang sepertiku. Dan yang paling penting, aku tahu aku bisa memercayaimu."
Kyuhyun mendongak, "Apa kau baru saja mengatakan bahwa kau tidak bisa dipercaya karena kau memasuki kedai itu walau aku melarangmu?"
Siwon kembali tersenyum, "Aku tidak pernah berjanji untuk tidak memasuki kedai itu. Yang aku janjikan adalah bahwa aku akan baik-baik saja dan aku juga berjanji untuk tidak meninggalkanmu."
Kyuhyun menggenggam tangan Siwon dipundaknya, "Kau mengatakan hal itu tapi saat ini kau berada di rumah sakit dan tadi pagi kau hampir meninggalkanku."
"Bagiku, definisi dari aku yang baik-baik saja adalah ketika kau bersamaku, aku akan selalu baik-baik saja."
Siwon menarik tangannya dan menggenggam tangan Kyuhyun di atas pahanya, "Dan ketika aku berjanji aku tidak akan meninggalkanmu, yang aku maksud adalah aku benar-benar tidak akan meninggalkanmu, Cho Kyuhyun. Karena aku selalu ada di pikiran dan di hatimu."
Siwon menatap Kyuhyun dalam, "Jadi katakan padaku, bagian mana dari janjiku yang tidak aku tepati?"
Kyuhyun menemukan dirinya kembali menangis malam itu. Senyum yang terpatri di bibirnya menandakan air matanya bukanlah air mata kesedihan. Ia hanya begitu bahagia.
Kyuhyun melingkarkan kedua lengannya dan menarik tubuh Siwon perlahan untuk memeluknya. "Tidak. Tidak ada. Sembilan tahun aku mengenalmu dan kau selalu menepati janjimu. Aku benar-benar mencintaimu, Hyung."
Siwon mencium sisi wajah Kyuhyun dan mengeratkan pelukannya. "Aku juga mencintaimu, Sayang."
Kyuhyun menarik diri dari pelukan itu dan menatap Siwon, "Can I kiss you?"
"You don't need to ask. I'm yours."
Kyuhyun tersenyum dan mencium Siwon lembut. Meluapkan semua emosi yang ia bendung dan menyatukannya dengan milik Siwon. Merasakan kepemilikan satu sama lain yang mendominasi ciuman itu. Merasakan cinta pada saat bibir mereka saling bertemu.
Siwon menarik tubuh Kyuhyun mendekat ketika Kyuhyun meremas rambut belakang Siwon memperdalam ciuman mereka. Siwon mengusap kulit perut Kyuhyun yang tersingkap dari kemejanya membuat Kyuhyun mendesah.
Siwon memindahkan ciumannya ke leher Kyuhyun ketika Kyuhyun menarik diri untuk bernafas. Siwon melumat kulit leher Kyuhyun dengan mulutnya dan menjilat keringat Kyuhyun.
"Si-Siwonh..."
Kyuhyun mendesah dan menjambak rambut Siwon lebih kuat ketika Siwon menggigit leher Kyuhyun dengan begitu kuat. Kyuhyun tidak tahu jika Siwon bermaksud untuk meninggalkan kissmark. Kyuhyun tidak mampu menahan desahannya.
Siwon mengakhiri kegiatannya dengan mencumbu bibir Kyuhyun sekali lagi setelah menghisap kuat bekas gigitannya di leher Kyuhyun.
Kyuhyun membelai wajah Siwon lembut, "Kenapa meninggalkan kissmark, hmm?"
"Kau keberatan?"
Kyuhyun mencium Siwon singkat, "Tentu saja tidak. Hanya sedikit bingung. Kau hanya melakukan itu ketika kita bercinta atau ketika kau cemburu."
Siwon tertawa kecil, "Opsi kedua berlaku untuk saat ini."
"Kau sedang cemburu?" Kyuhyun semakin bingung.
"Kita membicarakan banyak hal hari ini. Tiba-tiba saja bayangan Daeyoung melintas dipikiranku. Bajingan itu mengincarmu dan dia juga tertarik padamu. Kau tahu aku..."
Kyuhyun terkekeh kecil, "Terakhir kali seorang penjahat berencana untuk mendapatkanku dan memperkosaku dia berakhir dengan tidak menyenangkan karenamu. Jadi, aku tidak pernah khawatir akan hal itu."
Siwon mengerti maksud Kyuhyun, "Kau selalu tahu bagaimana cara menghiburku."
Kyuhyun mengangguk, "Itu juga menjadi alasan kenapa kita menikah. Jadi apa syarat yang harus aku penuhi untuk mengambil alih kasusmu, Tuan Muda?"
Siwon mengacak rambut Kyuhyun gemas, "Besok kita akan membicarakan hal itu. Saat ini aku hanya ingin memelukmu sepanjang malam."
Kyuhyun memutar bola matanya namun tetap membantu Siwon untuk berbaring kemudian memeluk suaminya itu, "Same old, same old. Kau selalu gombal."
"Dan kau selalu menyukainya."
Well, Kyuhyun tidak bisa menyangkal yang satu itu.
.
.
.
.
.
"Kau hanya boleh melakukan penyelidikan apapun yang berhubungan dengan kasus ini dengan izin dariku."
Kyuhyun memandang tidak percaya pada lelaki dihadapannya, "Tapi, Hyung… itu sama saja aku hanya mewakilimu untuk pergi ke pengadilan, membacakan kesaksian dan tuntutan. Dan aku hanya bisa diam saja ketika kau di rumah sakit? Hell, no!"
Siwon mengangkat satu alisnya, "Kau tetap bisa melakukan penyelidikan, bukan?"
Kyuhyun memutar bola matanya, "Kau pasti bercanda."
Siwon mengangkat bahunya tak acuh, "Itu pilihanmu. Kau menerima persyaratanku dan mengambil alih kasus ini atau biarkan aku menyelesaikan kasus ini sendiri."
"Dua pilihan itu tetap tidak menguntungkan untukku, Hyung…" Kyuhyun masih mencoba peruntungannya.
"Memang keuntungan apa yang kau harapkan dari pilihan itu, Kyu? Dari awal ini memang kasusku."
Kyuhyun mendengus kasar. Siwon benar-benar keras kepala. "Fine!"
Siwon menyeringai tipis, "Apa?"
Kyuhyun memandang sebal ke arah Siwon, "Aku setuju dengan syaratmu."
Siwon tertawa kecil, "Kemarilah! Kau tahu aku melakukan ini untuk kebaikanmu."
Kyuhyun menghela nafasnya sejenak kemudian duduk di tepi ranjang Siwon. Dia hanya diam ketika Siwon menggenggam tangannya. Siwon membawa tangan Kyuhyun mendekat dan menciumnya singkat. "Dengan begini kau tidak akan melakukan apapun di luar sepengetahuanku."
"Kau tahu aku tidak bodoh dan ceroboh, Hyung."
"Aku tahu. Tapi aku lebih memilih untuk tidak mengambil resiko."
"Kau itu keras kepala sekali. Seperti batu. Aku kira, setelah menikah kau akan mengalah padaku."
Siwon mengeratkan genggamannya, "Aku selalu mengalah untukmu dan akan selalu begitu. Tapi ketika kita berdebat mengenai keselamatanmu, aku tidak akan pernah mengalah walaupun kau harus menembakku."
Kyuhyun meringis mendengar penuturan Siwon, "Aku tidak akan pernah melakukan itu, Hyung."
Siwon hanya membelai tangan Kyuhyun dalam genggamannya. "Aku tidak keberatan."
Kyuhyun mengambil kertas yang Changmin berikan pagi ini ketika menjenguk Siwon dan membawa kedua buah hatinya. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk berbincang bersama. Cukup mengejutkan ketika Changmin membawa kekasihnya untuk menjenguk Siwon. Siwon dan Yunho juga merupakan teman lama karena memang mereka memulai karir di tempat mereka bekerja sekarang bersama.
Siwon menandatangani surat itu dengan ragu, "Kau benar-benar akan memenuhi syaratku, bukan?"
Kyuhyun memandang Siwon dengan tidak percaya, "Tentu saja. Hei, walaupun kau adalah atasan yang menjengkelkan dan suami yang menyebalkan, aku tidak akan pernah mengingkari janjiku padamu. Kau harus tahu itu."
Siwon tertawa kecil, "Aku mempercayaimu, Sayang."
Kyuhyun memutar bola matanya malas, "Sekarang, bisakah aku mulai melakukan sesuatu mengenai kasus ini?"
"Tentu saja. Apa yang akan kau lakukan?"
Kyuhyun tersenyum puas dan berdiri dari tempat duduknya, "Pertama akan aku mulai dengan analisaku. Jangan mengatakan apapun sebelum aku bertanya padamu, Hyung!"
Siwon mengangkat kedua tangannya mengisyaratkan dia setuju. Suaminya terlihat begitu seksi ketika melakukan hal seperti itu. Looks so fucking smart, looks so fucking sexy.
Kyuhyun terlihat berpikir sejenak, "Pertama, kita tidak bisa menjadikan rekaman CCTV di TKP penembakanmu sebagai bukti akurat untuk mendapatkan pelakunya karena pengacau sinyal yang membuat wajah pelaku kabur. Demi Tuhan! Aku hanya bisa melihat tangannya ketika mengeluarkan pistol itu dan… dan... ah, lupakan!" Kyuhyun meringis membayangkan kejadian selanjutnya.
Siwon terkekeh kecil dan Kyuhyun menatap tajam padanya. Siwon hanya mengangkat bahunya.
Kyuhyun melanjutkan kalimatnya, "Jadi aku menyuruh Changmin untuk memeriksa peluru yang mengenaimu dan menggunakan petunjuk kunci seperti plat nomor mobil dan saksi di TKP. Sayangnya, wajah Daeyoung yang sedang duduk dalam mobil tidak terlihat dari kamera, fucking bastard." Kyuhyun mengepalkan tangannya.
Sesaat kemudian Kyuhyun tersenyum dan memandang Siwon, "Tapi kau adalah yang terbaik, Hyung! Kau sempat membuat keributan ketika menghajar anak buah Daeyoung di luar kedai sehingga semua pengunjung dalam kedai keluar, termasuk saksi kelima. Kamera CCTV mampu mengenali wajahnya. Kita bisa menjadikan itu sebagai pemberat dalam sidangnya nanti."
Siwon tersenyum melihat Kyuhyun begitu antusias. Siwon tahu Kyuhyun begitu merindukan pekerjaannya. Siwon bisa merasakannya.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu, Hyung?"
Siwon masih mempertahankan senyumannya, "Nothing. Kau tampak begitu antusias. Aku menyukaimu yang seperti itu."
Kyuhyun merona mendengarnya, "Well," Kyuhyun berdehem ketika suaranya terdengar parau menunjukkan dia sedang canggung. Siwon terkekeh kecil.
"Lalu sampai dimana aku tadi? Oh ya. Aku telah memeriksa aktivitas Daeyoung melalui ponselnya dan menemukan bahwa nomor itu telah dinon-aktifkan lagi beberapa jam setelah kejadian di kedai itu. Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Siwon tersenyum, "Apa kau sudah memeriksa dimana ponsel itu terakhir kali aktif dan mencocokkannya dengan aktivitas-aktivitas Daeyoung sebelumnya? Mungkin sebuah tempat yang menjadi persembunyian Daeyoung? Kau mungkin akan menemukan beberapa titik lokasi yang sama jika memang kau beruntung."
Kyuhyun melebarkan matanya, "Ya Tuhan! Kau benar, Hyung! Kau sangat brilian! Tunggu sebentar."
Baiklah, Siwon menjadi kepala divisi bukan tanpa alasan.
"Come here, Babe!" perintah Siwon kepada Kyuhyun untuk melakukan pencariannya di samping Siwon.
Kyuhyun segera duduk disisi kosong ranjang di samping Siwon yang tengah bersandar dikepala ranjang. Menyalakan laptopnya dan mulai melakukan pencariannya.
Siwon mengamati pergerakan sebuah titik yang bergerak ketika Kyuhyun mulai memasukkan sebuah data. Kyuhyun begitu terampil dalam hal ini. Siwon tidak pernah meragukan kemampuan Kyuhyun akan hal itu. Kyuhyun merupakan seorang analis terbaik dalam sejarah kehidupan Siwon. Bodoh saja rasanya jika seseorang merasa mampu membodohi lelakinya itu.
Siwon selalu kagum dimana sosok jenius itu dibungkus rapi dengan gaya low profile dan kesederhanaan. Berbeda sekali dengan gayanya yang begitu dingin dan mencolok. Perpaduan yang sempurna ketika dua laki-laki itu berada dalam satu ruang yang sama. Dimana Siwon tidak segan mengungkapkan penilainnya terhadap sesuatu sementara Kyuhyun akan diam mengamati detail suatu permasalahan.
Siwon sangat menyukai ketika mereka berdua bekerjasama untuk menyelesaikan sebuah kasus. Kyuhyun memiliki jalan pemikiran yang sama dengannya dan itu membuat keduanya lebih nyaman untuk berdiskusi dan memberi solusi. Mereka adalah tim yang sempurna. Semua orang tahu itu.
Siwon adalah orang yang akan berdiri di depan Kyuhyun dan menyerang siapapun yang berani mendekati lelakinya. Sedangkan Kyuhyun, adalah tipe orang yang akan berdiri di belakang Siwon untuk melindunginya tanpa berpikir dua kali. Dalam baku tembak, keduanya akan berpadu dalam sebuah gerakan yang begitu indah, rapi, dan mengiringi. Dimana ada kata Siwon, maka dalam baris yang sama harus ditulis pula nama Kyuhyun bersamanya. Begitu pula sebaliknya.
"Berhenti, Kyu!" ucap Siwon ketika Kyuhyun akan menggeser layar laptop itu.
"Lihat titik-titik ini!" lanjut Siwon sambil menunjuk beberapa titik pada lokasi yang sama.
Kyuhyun mengamati lokasi yang Siwon maksud. Kemudian menekan beberapa tombol pada keyboard dan muncullah deretan angka yang menunjukkan waktu.
"Selalu di atas tengah malam pada lokasi ini, Hyung. Dan lihat terakhir kali ponsel Daeyoung aktif! Itu juga menunjukkan arah menuju lokasi ini namun berhenti beberapa mil sebelum ia mencapainya."
Kyuhyun menyentuh layar laptopnya tepat berada dititik lokasi itu. Beberapa saat hingga layar itu menunjukkan sebuah alamat.
"Jadi ini markas Daeyoung?" Kyuhyun mencoba menarik sebuah kesimpulan.
Siwon membaca alamat itu. Alamat itu tidak tampak asing baginya. Seolah ia pernah membaca alamat itu dalam sebuah dokumen sebelumnya. Siwon berusaha mengingatnya. Usahanya tampak begitu keras karena kepalanya terasa pening. Efek dari kejadian kemarin masih mengganggunya.
"Hyung, kau tak—"
"Fuck! Itu alamat rumah Kim Yongsuk!"
Dan Siwon berhasil mengingatnya.
Mata Kyuhyun membulat, "Ben-benarkah?"
Siwon masih memegangi kepalanya. Rasa pening itu masih disana. "Ya, Kyu... Cepat hubungi Changmin dan memberi tahunya tentang masalah ini."
Kyuhyun segera sadar dari keterkejutannya ketika menemukan Siwon mengerang. "Apa kau pusing, Hyung? Apa perlu aku panggilkan dokter?"
Siwon segera mengendalikan rasa sakitnya mendengar suara Kyuhyun yang terdengar begitu mencemaskannya. Siwon meraih pergelangan tangan Kyuhyun ketika suaminya itu akan beranjak dari sampingnya.
"No, I'm fine…"
Kyuhyun meletakkan laptopnya di atas meja di samping ranjang Siwon dan meraih tangan Siwon. "You don't look fine to me, Hyung…"
Siwon menatap Kyuhyun dan tersenyum tipis, "Mungkin aku hanya butuh istirahat…"
Kyuhyun tahu Siwon adalah pembohong yang buruk.
"Lebih baik kau istirahat sekarang, Hyung. Aku akan menghubungi Changmin setelah ini."
Siwon juga tahu Kyuhyun bukanlah si bodoh yang mudah dibohongi.
"Aku mencintaimu, Kyu."
Dan keduanya tahu bahwa ada hal yang tidak beres mengenai Siwon.
.
.
.
.
.
Siwon terbangun dari tidurnya dan menemukan ruangannya dalam keadaan gelap. Kecuali satu lampu yang berada cukup jauh darinya. Menerangi sebagian kecil dari ruangannya. Tepat dimana sofa dan meja penjenguk berada. Kyuhyun masih terjaga dengan laptop menyala di hadapannya. Kyuhyun memandang lurus benda dihadapannya. Tapi Siwon tahu raut wajah Kyuhyun yang itu. Siwon tahu Kyuhyun sedang memikirkan hal lain disana. Siwon memang terluka, tapi bukan buta. Ia mengenal Kyuhyun lebih dari siapapun. Lebih dari laki-laki itu sendiri.
"Kyuhyun…"
Dan dugaan Siwon benar. Kyuhyun tidak dengan cepat meresponnya.
"Kyu…"
Kali ini Kyuhyun menyadarinya. Kyuhyu tersenyum layaknya ia baik-baik saja dan menghampiri Siwon. Membantu suaminya menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan lembut.
"Hei, Tampan…"
Siwon tersenyum mendengar sapaan Kyuhyun. Membelai wajah suaminya itu. Masih berniat untuk memainkan sandiwara mereka lebih lama.
"Sudah merasa lebih baik?"
Siwon mengangguk. "Bagaimana perkembangannya?"
Kyuhyun memandang laptopnya sekilas kemudian kembali menatap Siwon, "Itu memang alamat rumah Yongsuk. Aku sudah memberi tahu Changmin mengenai masalah ini. Besok ia akan kesini dan membicarakan masalah ini denganmu. Aku masih belum menemukan tanda-tanda ponsel Daeyoung kembali aktif. Mungkin dia sudah mengganti nomornya…"
Siwon mengusap kepala Kyuhyun lembut. Ada hal lain yang Kyuhyun tidak katakan, "Dan?"
Kyuhyun menghela nafasnya.
Dan Siwon tahu ia benar.
Kyuhyun mencondongkan wajahnya ke arah tangan Siwon yang kini membelai pipi kirinya, "Kau benar-benar bisa membacaku, hmm?"
Siwon hanya tersenyum, "Sembilan tahun bukan waktu yang singkat untuk aku bisa mengenalmu, Cho Kyuhyun. Ada apa, Sayang?"
Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. Pertanda ia sedang gelisah. "Kau sudah diperbolehkan pulang besok. Selain itu… dokter mengatakan ada beberapa syaraf di otakmu yang bermasalah. Mungkin efek dari pengejut jantung. Kami sempat kehilangan dirimu selama beberapa detik jadi mungkin ada beberapa syaraf yang putus."
Siwon ingin sekali melontarkan pertanyaan 'Hanya itu?' kepada Kyuhyun. Namun Siwon tahu pertanyaannya akan semakin mengganggu Kyuhyun.
"Apa akibatnya fatal?"
Kyuhyun menatap Siwon tepat dimata, "Dokter mengatakan tidak akan terjadi apa-apa selain kau yang akan sering sakit kepala untuk beberapa hari ke depan. Tapi aku tidak mempercayai mereka. Kau tahu? Terkadang dokter mengatakan hal yang tidak jujur pada pasiennya hanya untuk menenangkan—"
Dan Siwon harus mencium Kyuhyun untuk memastikan bahwa dia akan baik-baik saja.
Siwon tersenyum dan mengusap bibir Kyuhyun yang kemerahan, "I'll be doing fine."
Kyuhyun menggenggam tangan Siwon di wajahnya, "You promise?"
Siwon mengangguk, "I promise."
Kyuhyun tersenyum membalas senyuman Siwon. Kyuhyun selalu merasa tenang ketika Siwon telah berjanji padanya. Kyuhyun selalu percaya. Karena Siwon selalu menepati janjinya.
"Kau tampak lelah. Bagaimana dengan istirahat malam yang nyaman?"
Kyuhyun mengangguk singkat kemudian beralih meninggalkan Siwon untuk mematikan laptop dan lampu.
"Kau sengaja memilih ruangan ini?"
Kyuhyun menaiki ranjang Siwon dan berbaring di samping suaminya setelah membantu Siwon berbaring, "Jika kau membicarakan masalah ranjang, maka jawabannya ya, Tuan Muda. Aku yang memilihnya."
Siwon terkekeh kecil. Menggoda Kyuhyun adalah kegiatan favoritnya. "Kau tidak tahan tidak tidur seranjang denganku?"
"Tentu saja. Dan justru aku sebenarnya berharap dengan tidur seranjang, kau bisa lebih mudah menyetubuhiku."
"Jesus! Kyu!" Siwon hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Kyuhyun.
Kyuhyun tertawa, "Kenapa, Hyung? Kau tidak setuju denganku?"
Siwon menggeram menahan gairah, "Kau beruntung aku sedang terluka. Lihat saja ketika aku selesai dengan luka sialan ini."
Kyuhyun memunggungi Siwon dan menarik selimutnya, "Promises, promises."
Siwon mengumpat kecil, "You are so gonna pay for this, Mister."
Dan Kyuhyun sudah merasa lebih baik hanya dengan satu godaan dari Siwon.
.
.
.
.
.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" Tanya Changmin ketika berada di ruangan Siwon di rawat.
Kyuhyun sibuk membereskan pakaian Siwon sebelum mereka pulang. Siwon berusaha menggendong Alex dan Alexa dari keranjang bayi dengan perlahan. Membiasakan dirinya dengan kegiatan kecil yang tidak akan menyakiti punggungnya. Baby step.
"Okay… Here we go, my babies… Aku sudah bisa mengangkat kalian dengan baik."
Changmin menatap tidak percaya pada atasannya itu. Baru tiga hari yang lalu atasannya itu hampir mati karena luka tembak dan sekarang laki-laki itu sudah bisa mengangkat kedua anaknya dari keranjang bayi.
"Whoaaa, Hyung… You really need to take it slow…"
"Nope, Changmin-ah. Aku tidak akan merepotkan Kyuhyun selama aku cuti. Aku juga bisa menjaga kedua anakku ini." Siwon tertawa kecil membuat Changmin hampir mengeluarkan bola matanya. Itu pertama kalinya ia mendengar atasannya yang dingin itu tertawa kepadanya. Changmin hanya berdehem kecil untuk menutupinya.
Kyuhyun tertawa mendengar Siwon, "Kau tidak merepotkanku, Hyung. Dan Min, aku berniat untuk menyelidiki rumah itu. Siwon Hyung juga sudah memberiku izin untuk melakukan pengintaian."
Changmin menganggukkan kepalanya, "Baiklah. Jadi kapan kau akan ke sana?"
"Nanti malam. Jejak Daeyoung berhenti pada rumah itu di atas tengah malam."
Changmin sudah akan menjawab jika saja ponselnya tidak bergetar. Changmin menerima panggilan itu setelah meminta izin.
"Apa?" ucap Changmin sedikit memekik pada orang di seberang telepon.
Jeda.
"Bagaimana bisa?" Kini pertanyaan Changmin penuh dengan penekanan.
Jeda.
"Sial! Baiklah! Aku akan menemuimu di kantor nanti!"
Changmin menghela nafasnya kasar kemudian menatap Kyuhyun dan Siwon.
"Bagaimana cara aku mengatakannya?" gumam Changmin pada dirinya sendiri.
"Ada apa, Min?" Kyuhyun memandang bingung pada Changmin.
Changmin menghembuskan nafasnya panjang, "Saksi kelima membatalkan kesaksiannya."
Siwon dan Kyuhyun memandangnya tak percaya.
"Bagaimana itu mungkin? Itu tidak mungkin terjadi, Changmin-ah. Kecuali…" Siwon mengakhiri kalimatnya dengan menerawang.
Changmin mendengus kasar, "Tidak. Dia tidak mati, Hyung. Hanya koma."
"Koma? Apa yang terjadi?" Kini Kyuhyun yang memburu Changmin dengan pertanyaannya.
"Kecelakaan mobil. Sebuah alasan klasik." Ucap Changmin singkat sambil memutar bola matanya.
"Dan jaksa percaya?" Tanya Siwon tidak percaya. Siwon ingin sekali menggunakan kata umpatan saat itu namun kehadiran Alex dan Alexa benar-benar tidak membantu.
"Tentu saja mereka percaya, Hyung. Orang-orang bodoh ini terus saja percaya dengan omong kosong yang dibuat-buat."
Amarah Siwon terlihat begitu kentara disana. Alex dan Alexa sudah tidak lagi berada dalam gendongannya. Ia tidak akan pernah menyentuh anaknya ketika amarah menguasinya. Bisa berakibat fatal. Dan Siwon tidak ingin itu terjadi.
Siwon bisa merasakan kepalanya mulai terasa pening. Jadi sakit kepala sialan ini hanya terjadi ketika ia marah dan terbawa emosi? Baiklah bajingan! Kau menang! Siwon berusaha menstabilkan amarahnya. Siwon dapat melihat dua orang dihadapannya tampak cemas ketika ia menahan sakitnya.
"Kau baik-baik saja, Hyung?" Kyuhyun menggapai tangan Siwon yang masih mengepal.
Siwon menggertakkan rahang bawahnya dengan kuat. Amarahnya memudar perlahan ketika Kyuhyun menyentuhnya dengan gerakan menenangkan. Siwon mengambil nafas panjang dan membuangnya.
Siwon membalas meremas tangan Kyuhyun lembut, "I'm fine now."
"Apa yang terjadi, Hyung?" Kini Changmin yang bertanya.
"Hanya sedikit masalah pada syaraf diotakku. Aku rasa, rasa sakit ini muncul ketika aku mulai terbawa emosiku."
Changmin mengangguk singkat, "Jangan membebani pikiranmu dengan hal negatif lainnya, Hyung. Dunia ini sudah cukup gila untukmu dan Kyuhyun."
Siwon mengangguk, "Sakit kepalaku ini akan hilang jika Kim Yongsuk benar-benar mendekam di jeruji besi berserta Lee Daeyoung ini. Ada apa sebenarnya? Apa rumah itu markas mereka?"
"Kita akan segera tahu secepatnya. Min, aku ingin kau menangani kecelakaan yang menimpa saksi ini. Apakah ada unsur kesengajaan?"
"Tanpa diperiksapun kita sudah yakin ini adalah sebuah kesengajaan." Changmin mendecih pelan.
Kyuhyun mengangguk setuju, "Aku hanya ingin tahu seberapa pintar mereka menutupi ini. Aku tidak ingin membuang-buang tenagaku hanya untuk orang bodoh, Min."
Kyuhyun kemudian menyeringai, "Aku ingin melihat sejauh mana mereka bermain. Dan sejauh apapun mereka membawa kita, akan kupastikan kita yang akan memenangkan permainan ini. Well, kurasa dia tidak cukup pintar untuk melawan kita bertiga."
Changmin ikut menyeringai setelahnya, "Seharusnya dia mulai berlari saat ini. Kurasa waktunya tidak akan lama."
Siwon tertawa meremehkan, "Dan aku akan menjadi orang pertama yang akan menghajar bajingan Daeyoung ini karena membuatku seperti ini."
.
.
.
.
.
Mobil Kyuhyun berada tak jauh dari bangunan yang menjadi markas komplotan Kim Yongsuk itu. Bangunan itu lebih cocok disebut mansion. Menunjukkan bahwa pemilik bangunan itu yang tak lain adalah Kim Yongsuk, merupakan seorang bajingan kaya. Kyuhyun mendecih pelan memikirkan hal itu.
"Bajingan ini ternyata orang kaya. Dasar bodoh!" gumam Kyuhyun sambil melirik jam tangannya yang menunjuk angka satu.
Kyuhyun memasang handsfree-nya dan menghubungi Siwon. Ia sudah berjanji mengenai hal ini. Tanpa menunggu nada sambung kedua Siwon sudah mengangkat teleponnya.
"Bagaimana?"
"Aku sudah berada di depan mansion mereka, Hyung. Belum ada tanda-tanda Lee Daeyoung."
"Baiklah. Kita hanya perlu menunggu. Kau membawa senjatamu?"
Kyuhyun menyeringai, "Kau khawatir aku melanggar janjiku?"
Siwon terkekeh, "Aku hanya khawatir mereka melukaimu. Jika aku mendengar suara tembakan, aku akan segera keluar dari rumah kita."
"Dan meninggalkan Alex dan Alexa?"
"Kau ingin aku membawa mereka dalam baku tembak?"
Kyuhyun menyandarkan tubuhnya pada kursi pengemudi. Pandangannya melembut. "Mereka tidak akan mendapatkanku. Kalaupun mereka mendapatkanku, aku tidak khawatir. Aku yakin mereka tidak akan bertahan dalam sehari mengurungku."
"Well, aku tidak bisa meragukan kemampuanmu. Kau memang ahli dalam melarikan diri."
Kyuhyun tertawa kecil, "Tidak, Hyung. Aku hanya perlu menunggu."
"Dan?"
"Dan melihat bagaimana mereka mati ditanganmu."
Siwon menyeringai, "Kau pikir aku sehebat itu?"
Kyuhyun berdehem kecil, "Justru aku berpikir bahwa satu hari terlalu lama. Kau ingin aku mengganti kata 'hari' dengan 'jam'?"
"Ganti dengan menit!"
"Katakan padaku kenapa aku tidak bisa meragukan ucapanmu..." Kyuhyun menyeringai ketika mendengar Siwon terkekeh.
Kyuhyun segera memfokuskan pandangannya ke arah bangunan mewah dan besar itu ketika nampak sebuah mobil berhenti di depannya. Kyuhyun menggunakan teropong untuk mengamati plat nomor mobil itu.
Kemudian Kyuhyun memfokuskan pandangannya pada seseorang yang keluar dari kursi penumpang. Daeyoung. Kyuhyun mengamati perlakuan yang di dapat Daeyoung untuk memasuki bangunan itu. Jadi Daeyoung itu tuan rumah atau apa?
"Hyung, aku rasa Daeyoung datang. Plat nomor mobil yang mereka gunakan sama dengan mobil yang mereka gunakan untuk ke kedai."
"Ceroboh!" celetuk Siwon.
"Dan aku rasa, Daeyoung memiliki tahta. Dia diperlakukan layaknya raja oleh anak buahnya." Lanjut Kyuhyun.
"Kita perlu melakukan sesuatu untuk mengetahui itu."
Kyuhyun melihat mobil Daeyoung meninggalkan bangunan itu. Kyuhyun menurunkan teropongnya. Mengamati bangunan itu dengan seksama. Tak berapa lama, lampu pada salah satu ruangan menyala.
"Lantai dua, dua jendela paling kiri." Gumam Kyuhyun lebih kepada dirinya sendiri.
"Apa?"
Kyuhyun memasang lagi teropongnya dan menyorot ruangan itu. Kyuhyun dapat dengan jelas melihat siluet Daeyoung yang kini sedang duduk. Ruang kerja.
"Ruang kerja Daeyoung. Dia sedang bekerja saat ini. Aku tidak mungkin meninggalkan posisiku saat ini. Suara mobil yang menyala akan terdengar. Bangunan itu terbuat dari tembok bata. Dan ruang kerja Daeyoung tanpa peredam suara karena terdapat jendela yang cukup besar. Aku harus menunggunya sampai dia tertidur."
"Sial!"
Kyuhyun berpikir sejenak. Mungkin dia bisa mengisi kekosongan dengan melakukan sesuatu. "Hyung, bisa kau periksa dokumen Kim Yongsuk untukku? Coba cari sesuatu mengenai keluarganya. Mungkin saja Daeyoung ada hubungan darah dengan Yongsuk mengingat mereka tinggal satu rumah."
"Tunggu sebentar, Sayang."
Kyuhyun tersenyum bodoh 'Dia masih bisa memanggilku 'sayang' disaat seperti ini? Aku benar-benar mencintai laki-laki ini.'
Lamunan Kyuhyun segera berhenti ketika mendengar suara Siwon.
"Kau masih disana?"
Kyuhyun tertawa kecil, "Tentu saja. Bagaimana?"
"Tidak ada info mengenai keluarganya, Kyu. Disini hanya tertulis Kim Yongsuk bercerai dua puluh tahun yang lalu dengan istrinya karena alasan pribadi. Saat itu Yongsuk memili—damn! Kyu! Dia memiliki seorang anak laki-laki yang berusia delapan tahun bernama Kim Daeyoung ketika dia bercerai dengan istrinya. Disini tertulis istri dan anaknya pindah ke Busan setelah bercerai. Bisa saja..."
Mata Kyuhyun membulat, "Lee Daeyoung anak dari Kim Yongsuk. Tapi kenapa marga mereka berbeda?"
Kyuhyun bisa mendengar Siwon sedang menekan beberapa tombol yang Kyuhyun yakini adalah keyboard komputer ruang kerjanya. Matanya kembali mengamati bangunan intaiannya. Menemukan tidak ada lampu yang menyala. Kyuhyun mendesah ketika ia menyadari ia telah melewatkan posisi kamar tidur Daeyoung.
Perhatiannya kembali pada Siwon yang mulai bebricara.
"Istri Yongsuk menikah lagi dengan seorang pengusaha produk kesehatan bernama Lee Jonghwa dua tahun setelah perceraiannya dengan Yongsuk."
"Jadi Daeyoung mengganti marganya dengan marga ayah tirinya? Sial!"
Kyuhyun bisa mendengar Siwon kembali bermain dengan komputernya. Kyuhyun tahu Siwon mengerti arah pencarian mereka. Salah satu aspek yang paling Kyuhyun suka dari suaminya.
"Tunggu sebentar, Kyu... Aku melakukan pencarian dengan kata kunci Lee Daeyoung dan tidak menemukan apapun sama seperti saat kita melacak ponsel itu. Tapi jika aku mengubah marganya menjadi 'Kim' maka aku akan menemukan segalanya. Disini tertulis riawayat pendidikan dan bla... bla... bla... nama orang tua sekaligus wali dari Kim Daeyoung adalah Kim Yongsuk."
Tangan Kyuhyun mengepal, "Jadi Kim Yongsuk membiayai seluruh pendidikan Daeyoung setelah perceraian terjadi. Sekarang sudah jelas kenapa Daeyoung ingin membebaskan Yongsuk."
Kyuhyun masih sibuk dengan pikirannya ketika Siwon kembali mengeluarkan suaranya.
"Cho Kyuhyun..."
Kyuhyun mengerutkan dahinya. Ia bisa mendengar Siwon menggertakan rahangnya. Pertanda bahwa Siwon tengah marah. Tapi marah untuk apa?
"Ada apa, Hyung?"
Kyuhyun bisa mendengar Siwon menggebrak meja. Jantung Kyuhyun berdebar begitu kencang.
Ada sesuatu yang salah.
"Kim Daeyoung adalah seniormu di SMA"
Mata Kyuhyun membulat. Ingatannya kembali menuju percakapannya dengan Daeyoung di supermarket beberapa hari lalu.
Dan jantung Kyuhyun seakan berhenti berdetak.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Kyuhyun-ssi? Kau tampak begitu familiar bagiku."
"Aku rasa tidak."
"Kalau begitu akan kupastikan kita akan bertemu lagi."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak tahu bagaimana kehadiranku mengejutkanmu. Kau tampak seperti orang yang sigap, mungkin terlatih, mungkin juga profesional."
"Aku rasa setiap orang seperti itu, terutama jika ada orang asing yang terus mengikutinya."
"Apa aku tampak seperti mengikutimu, Kyuhyun-ssi?"
"Lebih baik kau pergi sekarang!"
"Justru kaulah yang akan mengikutiku, Kyuhyun-ssi."
"Tidak, Hyung! Tidak mungkin! Aku harus pergi dari sini. Aku harus menemuimu sekarang juga. Aku... aku membutuhkanmu."
TO BE CONTINUED
