Author : RC Park
Title : Junky Lab (Part 2)
Main Cast : Nam Minhyo (MC), Min Yoongi/SUGA
Other Casts : All BTS member, Yoon Shinae (OC), Nam Jihyo (OC)
Genre : Chaptered, Romance, 17+ , little bit smut di beberapa chapter
Author's Note :
Gimana nih part 1? ga lebay-lebay amat kan ceritanya, semoga kalian sama suka juga ya dengan part 2 :)) btw leave a comment dan vote ya. Oh iya komen juga dong siapa bias kalian nih?
Lanjut part 2! Tanpa babibubebo lagi, Happy Reading and Enjoy
When i first saw you, you took my breath away. You still do every day
-Stalker
Minhyo's PoV
Halmoni dan aku sedang menikmati sarapan kami, tidak ada yang memulai pembicaraan. Kami berdua terlalu larut dalam pikiran masing-masing. Halmoni berusaha untuk menggenggam sendoknya dengan susah payah. Setelah haraboji meninggal kesehatannya memburuk, enam bulan yang lalu halmoni mengidap stroke yang membuatnya kehilangan kontrol tangannya. Aku menatapnya miris, halmoni tidak suka jika ada orang yang membantunya makan, wataknya sama seperti eomma, tidak ingin dikasihani.
Ding Dong – Ding Dong
Bel rumah berbunyi terus menerus, suara nyaring itu berdering ditelingaku, membuatku mendecakkan lidah kesal. 'Shinae benar-benar datang di pagi buta.' Kesalku, Aku berjalan cepat kearah pintu membukanya dengan kasar. Aroma parfum menyegak menusuk hidungku, berapa botol sih yang dia semprot.
"Aish berhenti memencet bel Shinae! Whoaa kau mau kemana dengan baju seperti itu? Dan Aigooo Parfummu kebanyakan Shianae-ah" Omelku tak karuan.
Aku mengibaskan tanganku berharap baunya tidak mendekat kearahku tapi usahaku hanya sia-sia karena Shinae langsung masuk ke rumahku tanpa izin.
"Mana Suga Oppa? Minhyo-ah bagaimana penampilanku? Tidak aneh kan?" Haruskah aku berkata jujur? Penampilannya sekarang terlihat seperti bocah Sma saat kencan pertamanya, sangat berlebihan.
Aku menepuk pundaknya. "Sayangnya dia sudah pulang ke dormnya. Sudahlah, sini ikut sarapan." Ajakku. Raut wajah Shinae berubah penuh kekecewaan. Dia merebahkan tubuhnya lemah di sofaku.
"Buatkan aku kopi saja." Gumamnya dibalik bantal. Aku berjalan ke arah dapur mengambil seporsi pancake favoritnya.
"Ini, kau bilang akan kesini jadi aku buatkan makanan favoritmu." Aku menyodorkan pancake itu di depannya. Berusaha menghiburnya dan benar saja matanya langsung berbinar terang.
Selama Shinae menghabiskan pancakenya, aku mengambil handukku untuk bersiap mandi. "Shinae-ah! Kau mau ikut mengantarkan halmoni ke bandara?" ajakku.
"Tentu saja, aku sudah berdandan susah payah. Aku tidak mau membuang make up ku sia-sia.". Aku mulai menyalakan shower dan memulai mandiku. "Ah! Bagaimana jika kau ajak Hyukjin kencan?" saranku.
Shinae adalah sahabatku semenjak Sma. Karena dari Daegu, logat bahasaku berbeda dengan orang Seoul, Hal itu membuatku sulit untuk berteman, terlebih lagi aku bukanlah orang yang mudah bergaul. Untungnya Shinae menemaniku dan beberapa tahun kemudian kita satu kampus bahan sejurusan dan hal itu membuat hubungan kita lebih erat. Aku tidak mempunyai banyak teman, entahlah banyak orang yang berpura-pura menjadi temanmu hanya karena uang. Mungkin itu sebabnya aku sulit mempercayai orang lain.
"Ide bagus, tapi sayangnya kami sedang bertengkar. Kau tahu, begitu aku bilang bahwa aku fangirl dia langsung marah-marah tak jelas. Aissh dasar posesif." Aku mendengar desahan Shinae di balik kamar mandi. "Well, tinggal putus saja, apa susahnya." Jawabku singkat.
Shinae sudah berpacaran dengan Hukjin semenjak awal kuliah, sepertinya sekitar satu setengah tahun lalu? Dari dulu aku tidak setuju dengan namja itu. Yap kuakui dia tampan, pintar dan populer tapi sifatnya terlalu posesif bahkan dia sering mengekang Shinae untuk tidak berteman dengan namja lain, jangankan namja. Dia bahkan cemburu jika Shinae menghabiskan waktu denganku
"Minhyo-ahh ayolah jangan sedih begitu." Shinae membujukku sambil menyupir. Sesudah mengantarkan Halmoni, rasanya aku yang murung kembali lagi. Membayangkan sendirian di rumah luas itu, pasti sepi sekali.
"Yaa! Nam Minhyo! Jangan mengabaikanku, ayolah kau mau apa? Es krim? Hamburger? Pizza? Aku akan mentraktirmu, katakan apa saja." Aku menghela nafasku, tidak tertarik dengan penawarannya.
"Hei.. Aku berjanji tidak akan kemana-mana.. Aku ada seharian—" Omongan Shinae terpotong saat hpnya berdering. Nama dan wajah pacarnya muncul di layar segi empat itu.
Aku menatap Shinae dengan datar, dengan reflek dia mengambil dan mengangkat teleponnya.
"Yeoboseyo? Wae? Aku sedang bersama Minhyo."
"Hah? Sekarang? Aishh tidak bisa aku berjanji akan menemaninya hari ini."
Shinae menatapku, menunjukkan wajah memelasnya yang dia biasa ia tunjukkan. Seharusnya aku jangan berharap lebih kepadanya. 'Ada seharian darimananya...'
"Tak apa, turunkan aku di depan saja, aku bisa berjalan kaki pulang." Ujarku malas.
Aku berjalan dengan kesal. Shinae malah lebih memilih kencan dengan pacarnya yang menyebalkan itu. Tau begitu sebaiknya aku yang membawa mobil. Hyukjin tiba-tiba menelepon Shinae dan meminta maaf dengan mengajaknya kencan. "Arghh tak akan ku maafkan kau Lee Hyukjin." Umpatku. Aku menyusuri jalan menuju rumahku, butuh 15 menit sebelum aku sampai rumah. Untungnya hari ini jauh lebih cerah daripada lusa kemarin. Lingkungan yang sepi dengan suara angin sepoi-sepoi mengusap lembut pipiku. Setidaknya suasana ini tidak memperburuk hariku. Aku bernafas lega untuk sejenak, inilah yang kubutuhkan untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk yang aku hadapi.
Baru saja beberapa menit aku menikmati pemandangan dan suasana. Terdengar suara orang yang rasanya, seperti mengikutiku. Aku menengok kebelakang dan menjumpai seorang namja memakai topi, masker dan baju yang serba hitam. Aku mengalihkan semua pikiran negatifku. Mana mungkin ada stalker di siang bolong begini kan? Tidak mungkin kan? Karena mencari aman aku mempercepat langkahku, di belakang sana terdengar langkah namja itu berusaha mengikuti irama langkahku.
'Hana-nim... Apa kau benar-benar tega padaku?' aku mengeluh dalam diam, Sungguh jika masalah terus berdatangan seperti ini rasanya aku tidak akan sanggup lagi. Aku menarik nafasku dalam 'Tenang Nam Minhyo, kau itu chubby dan bukankah orang chubby lebih sulit untuk diculik? Yang sekarang harus kau lakukan hanyalah lari sekencang-kencangnya, tidak sulit kan?" Aku menganguk mantap dan melangkahkan kakiku cepat menjauh dari Namja tersebut.
Sesaat kemudian nafasku mulai tersengal-sengal 'Sialan tidak sulit apanya, Hanya tuhan yang tahu kapan terakhir kali aku berlari sekencang ini'
"Yaa! Nam Minhyo Jangan lari!" Namja itu berteriak semakin dekat, 'Sial apa itu Jisoo samchon?'
Aku berusaha berlari sekuat tenaga sampai Namja itu semakin dekat dan berhasil menangkapku. "Lepaskan aku! Dasar sia...lan." Masker yang menutupi wajahnya sudah terlepas, menampilkan kulit putih dan bibir merah yang menggoda iman yeoja maupun namja. Aku menelan salivaku, rasanya seperti menelan batu, sulit sekali. Kau tau kenapa? Karena mataku disuguhi pemandangan yang jauh lebih baik saat kau berlibur kemanapun. Min Yoongi yang tengah berkeringat dan bibirnya yang setengah terbuka dengan nafas tersengal sengal. Shit, he's hot.. apa dia selalu seseksi ini?
"Hahh..Ha... Mau sampai kapan.. kau berlari hah?" tatapannya kesal, tapi itu tidak membuat ketampanan namja ini berkurang. "Aigoo, paru-paruku.. hah.." Darah yang berpusat diwajahnya membuat kulit susu itu menjadi merah padam, Yoongi mengelus dadanya berkali-kali sambil membungkuk. Aneh, padahal namja ini sering sekali latihan dance ditambah dulu dia pemain basket, wajar jika aku yang kelelahan.
"Yoongi-ssi mian, aku kira.." aku menelan ludahku. "aku kira kau stalker." Aku mengibaskan tanganku, olahraga kecil tadi ditambah tatapan Yoongi membuat temperatur tubuhku naik drastis.
"Aishh, bagaimana bisa kau menganggap calon tunanganmu stalker?" Aku terdiam, Yoongi terdiam, kami berdua terdiam. Canggung rasanya mendengar kata tunangan keluar dari mulutnya. Jujur saja, rasanya seperti jutaan kupu-kupu menggelitikiku tapi aku tau, Yoongi tak mungkin membalas perasaanku. Ada sebuah batas antara aku dengannya, baginya aku hanya teman masa kecil yang sudah dia anggap sebagai keluarga sendiri.
"Eomma menyuruhku untuk membawamu ke rumah. Ada hal yang harus dibicarakan." ujarnya, nafasnya lebih stabil sekarang. Yoongi menggengam tanganku dan berjalan menuju rumahku. 'Ommo..ommo apa aku mimpi, berjalan pulang kerumah sambil bergandengan tangan dengan lelaki impianmu.' Ini terlalu manis untuk menjadi kenyataan.
Minhyo's PoV
Ruff Ruff Ruff Ruff
Sampai di rumah Yoongi, Min Holly menyambut senang majikkannya itu. Ekor nya yang fluffy bergerak tak karuan, menandakan kerinduan pada majikkannya. "Aigoo Holly-ahh- ayah juga merindukanmu. Sini-sini." Aku menyipitkan mataku, terheran-heran dengan namja yang satu ini. Di jalan moodnya sangat buruk karena insiden stalker dan lihatlah dia sekarang. 'Sial, kenapa aku merasa iri pada Holly'.
Rumah Yoongi tidak begitu besar tapi dalamnya sangat luas. Saat Sma aku sering kesini, alasannya tentu saja ingin bertemu dengan Yoongi. Tapi semenjak dia menjadi trainee, rumah ini hanya diisi oleh orang tua dan Hyungnya.
"Oh! Minhyo-ah kau sudah datang rupanya? Tunggu sebentar yaa." Nyonya Min memanggil namaku dari dapur. Aroma kimchi segar menari-nari di batang hidungku. Aku suka dengan masakan beliau karena rasanya mirip dengan masakan eomma. Hahh.. aku merindukannya.
Aku memutuskan untuk pergi ke dapur dan membantunya, daripada harus bersama Yoongi yang masih asik melepas rindu dengan anjingnya. 'Beruntung sekali kau Holly.' pikirku.
Author's PoV
"Apa kabarmu Minhyo-ah? Apa semuanya baik-baik saja? Kau bisa anggap rumah ini rumahmu juga, mampirlah kesini jika kau merasa kesepian. Hah... Aku merindukan Jaehee.. Melihatmu sekarang aku jadi teringat denganya. Rasanya baru kemarin kalian sedang asik bermain petak umpet, sedangkan aku dan Jaehee sibuk membicarakan tetangga hahaha." Nyonya Min tertawa miris, Minhyo bisa merasakan kerinduan yang nyonya Min rasakan.
"Tapi lihatlah kalian sekarang, aku tidak menyangka Yoongi sudah dewasa dan dia bilang dia siap untuk menikahimu." Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Kerutan di dahi Minhyo otomatis terbentuk mengkekspresikan kebingungannya.
"Chogi, apa aku tak salah dengar? bukan kah kalian yang meminta-"
"Eomma, nasi gorengnya terlalu asin. Tolong ambilkan nasi lagi untukku." Yoongi memotong pertanyaan Minhyo sambil meneguk segelas air.
"Oiya? Ahh sepertinya aku melamun dan memasukkan garam terlalu banyak. Tunggu sebentar Yoongi-ah" Nyonya Min berjalan menuju dapur dan kembali dengan semangkuk nasi di tangannya.
Tidak mau pikir panjang Yoongi langsung menanyakan tujuan eommanya memanggil mereka kemari.
"Nah jadi begini.." Nyonya Min menyesap teh yang Minhyo buat sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Aku dan suamiku sudah berdiskusi tentang pertunangan kalian, bagaimana jika kita adakan bulan depan? Sebenarnya... kami merasa bersalah karena selalu mengundur-undur waktu pertunangan Yoongi dan Jihyo. Dan untuk tanggal pernikahannya bagaimana kalau-"
"Tunggu dulu eomma, Kau tahu kan itu mustahil. Aku seorang idol eomma. Bagaimana jika semua orang tahu aku akan segera menikah. Fansku akan kelabakan jika mereka tahu aku punya tunangan." Jawabnya, sorot mata nyonya Min berubah tajam.
"Terus kau mau apa? Kau kan sudah pasti bertunangan dengan dia jadi apa masalahnya jika orang-orang tahu? Lagipula kau hanya bertunangan, bukan menghamili orang atau mabuk-mabukkan." Nyonya Min meninggikan suaranya.
Yoongi mendesah berat, "Biarkan aku berbicara pada manager dan PD-nim dulu eomma, kita bicarakan hal ini lain kali saja eoh? Dan kau juga harusnya menanyakan perasaan Minhyo, dia harus fokus untuk ujian akhirnya, eomma."
Minhyo menatap kedua penyandang marga Min bergantian dan mengangguk. "Yang dikatakan Yoongi benar, aku rasa bulan depan sepertinya terlalu cepat." Ujarnya pelan.
Nyonya Min pasrah, "Baiklah, kita akan bahas ini lain kali."
"Nah iya, satu hal lagi. Karena Yoongi memegang hak asuh Minhyo. Kalian tahukan berarti kalian harus tinggal satu atap? Kapan kau akan pindah Yoongi?" Yoongi dan Minhyo terdiam mendengar pertanyaan itu.
Mereka kira hanya dengan Yoongi menjadi tunangan Minhyo semuanya sudah beres. Yoongi berdeham sebelum menjawab pertanyaan ibunya. "Aku ... belum tahu eomma. Rencananya hari ini aku akan memberitahu memberku terlebih dahulu."
Nyonya Min menunjukkan tatapan mautnya lagi, 'Jadi membernya belum tahu?' itulah yang dia pertanyakan. Minhyo membuka mulut sebelum Yoongi kena omel ibunya sendiri. "Ahjumma, rumahku masih harus dibersihkan, eomma dan appa ingin barang-barang mereka diberikan untuk amal. Jadi sepertinya butuh beberapa waktu sebelum Yoongi bisa pindah."
"Ah begitu rupanya? Baiklah sekarang kita makan sebelum dingin." Tatapan Nyonya Min melembut, Yoongi dan Minhyo saling bertatapan. 'Bagaimana bisa makan dengan tenang setelah membicarakan ini.' pikir mereka.
Sore hari tiba dan sudah waktunya mereka beristirahat di rumah masing-masing. Yoongi mengantarkan Minhyo kerumahnya, begitu melewati gerbang Nyonya Min menatap mobil yang mereka naiki yang kian menjauh.
"Hah... Aku selalu tahu dia yang paling tepat."
When i first saw you, i fell in love. Well, not love love, but you smelled nice.
-Nice to Meet You
Malamnya, ketujuh member BTS sibuk memnyiapkan makan malam mereka. Pagi ini mereka memenangkan Best Performance Award untuk kesekian kalinya. Latihan berjam-jam dengan padatnya schedule terbalaskan dengan sederetan penghargaan yang mereka raih.
Seperti biasa Jin dan Jimin memasak, J-Hope dan Jungkook menyiapkan meja. Sedangkan ketiga member lainnya hanya duduk menanti. Namjoon dan Taehyung sudah beberapa kali memecahkan dan merusak peralatan masak sehingga dapur bukan lagi tempat yang dapat mereka masuki tanpa izin dari Jin, selaku Hyung paling tua. Di lain sisi, Yoongi tengah menyiapkan mental untuk memberitahu kabar yang akan mempengaruhi masa depannya, masa depan BTS.
Setelah selesai memasak, para namja itu duduk di ruang makan menikmati santapannya. Yoongi duduk di antara Namjoon dan managernya. Lidahnya serasa tidak berfungsi dengan baik, Mengungumkan situasinya sekarang terasa lebih sulit daripada perform di panggung, ini lebih parah dari demam panggung. Yoongi merasa gelisah dengan reaksi apa yang akan membernya berikan.
"Semuanya, ada sesuatu yang Yoongi ingin bicarakan." ujar managernya. Sebelumnya, Yoongi sudah memberitahu Namjoon dan managernya, mereka memutuskan untuk membantu Yoongi.
"Wae hyung?" tanya Taehyung sambil mengambil lembaran daging dengan sumpitnya.
"Kau sudah menyelesaikan mixtape mu?" J-hope menambahkan dan menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Ahh Hyung, kau ingin meminta pendapat kami bukan?" Jimin tengah menuangkan koka koala ke gelasnya.
"Well bagaimana jika kita makan sambil mendengarkannya? ide bagus bukan?" Jungkook menepuk tangannya, merasa bangga dengan idenya.
"Yap, Jungkook-ah ambil speakerku di kamar" Lanjut Jin, seuntai mie terlihat keluar dari bibir plum nya.
Sang Leader berusaha menenangkan situasi membernya. "Dengarkan Yoongi hyung terlebih dahulu." Para member menghentikan aktifitasnya dan melihat Yoongi penuh dengan perasaan penasaran. Yoongi semakin tidak tenang dengan semua pandangan yang tertuju padanya.
"Aku, akan bertunangan." Yoongi menelan saliva yang dirasanya seperti menelan biji salak. Nafasnya jauh lebih sesak dari saat dia berlari tadi siang.
"Mwoo?! Kau punya pacar hyung?!" Jungkook membelakan matanya.
"Hyung kau taukan kita tidak diperbolehkan berpacaran? Bagaimana jika Pd-nim tau?" JHope menambahkan.
"Tenang dulu, Pd-nim sudah tau. Awalnya dia tidak setuju tapi dengan penjelasan Yoongi, beliau memaklumi." jawab Namjoon, membantu menjelaskan.
"Begini... orangtuaku berjanji untuk menjodohkanku dengan anak temannya. Kemudian, tiba-tiba teman orangtuaku itu kecelakaan dan meninggalkan putri bungsunya sendirian. Jika aku tidak bertunangan dengannya, hak asuhnya akan jatuh kepada samchonnya. Dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana masa depannya nanti. Dia teman masa kecilku, aku tidak bisa membiarkannya berjuang sendirian seperti aku dulu. Ditambah lagi, ini permintaan terakhir orang tuaku, aku ingin membalas mereka karena akhirnya mereka mendukungku sekarang. Aku mohon pengertian kalian." Yoongi membungkukkan badannya, memohon kelima namja didepannya.
Para member saling bertatapan sebelum tersenyum lembut pada Yoongi.
"Well aku tidak punya alasan untuk tidak setuju, dan aku mengerti dengan keadaan Yoongi sekarang." Jin menepuk punggung dongsaengnya menunjukkan senyum menenangkan pada Yoongi.
"Eoh, aku sepikiran dengan Jin hyung. Yeoja yang malang dia sendirian.." Taehyung menunjukkan kesedihan di matanya.
"Well, maka dari itu dia membutuhkanmu kan Hyung." Jimin menambahkan dan tersenyum manis.
"Hyung.. Banyak idol yang menikah tiba-tiba karena menghamili pacarnya. tapi kau Hyung.. huaaa. Aku bangga padamu hyung" seperti biasa JHope mulai emosional dan memeluk Yoongi.
"Tunggu dulu, bagaimana kau memberitahu fans hyung? Tak mungkin mereka akan menerima hal ini begitu saja." Jungkook menaikkan suaranya.
"Tenang Jungkook, rencananya kita akan memberitahu mereka bahwa Yoongi punya pacar di fan meeting yang akan datang. Dan kalian sebagai member akan mensupportnya. Pd-nim mengosongkan jadwal kita sabtu ini untuk bertemu dengan calon Yoongi hyung, sekaligus membantunya pindah." Manager Sejin menjelaskan, semua member mengangguk setuju. Terkecuali Jungkook, wajahnya menunjukan ketidaksukaan akan hal ini.
Minhyo's PoV
"Hmmm.. aku masih disini.." Mataku sudah tinggal 5 watt, kantuk menguasaiku. Aku berusaha menahan mataku agar tidak tertutup. Sudah 2 jam Shinae mengoceh tentang pacarnya lewat telepon. Hpku rasanya seperti hot plate, aku yakin jika aku menceplokan telur diatasnya, telur itu akan matang dalam semenit.
"Ini bukan yang pertama kali, Minhyo-ah ottoke?" Shinae terdengar hampir menangis di ujung sana.
Kali ini Hyukjin meminta dia untuk berhenti menjadi fangirl, Aishh aku heran kenapa Shinae masih betah dengan namja semacam dia, "Putuskan saja. Done. Masalah selesai." Jawabku singkat, Shinae malah menangis menjadi-jadi.
"Aigoo Shinae-ahh ini sudah tengah malam. Lupakan saja Hyukjin eoh?" ujarku,
"Bagaimana bisa Minhyo-ah, jika aku putus dengannya otomatis aku jomblo dan kau tidak tahu betapa susahnya mencari pacar untuk yeoja sepertiku." rengeknya, 'Harusnya aku tidak mengangkat teleponnya. Untung dia sahabatku.'
Tak terasa weekend pun tiba. Hari ini Yoongi akan pindah ke rumahku. Entah apa yang aku pikirkan sehingga membiarkan diriku tinggal satu atap dengan Namja dewasa yang penuh dengan testosteron. Terlebihnya lagi mantan cinta pertamaku(?) Tapi apa yang bisa kuperbuat, aku tidak punya pilihan lain. Yoongi bilang dia akan tiba sekitar tiga puluh menit lagi. Artinya aku bisa membersihkan kamarku terlebih dahulu. Well aku harus bersiap-siap bukan?
"Ah iya, Shinae juga akan datang hari ini. Apa aku bilang Yoongi juga datang ya? Ani ani, dia akan menggunakan parfum menyegak itu lagi." Aku bergumam sambil mengecek isi kulkas. Harus kalian tahu hidungku ini lebih sensitif daripada hidung pada umumnya, tidak bukan karena hidungku ini mancung, Semakin mancung hidungmu semakin tajam penciumanmu. No, itu semua hanya mitos. Intinya bau yang menyengat membuat hidungku sakit maka dari itu aku tidak suka dengan Namja yang menyemprotkan parfum berlebihan, untungnya Yoongi mempunyai aroma yang natural dari tubuhnya, jadi dia jarang menggunakan parfum. Mungkin itu salah satu alasan mengapa aku betah berada didekatnya.
Aku mengecek isi lemari es dan mencari bahan apa saja yang bisa aku gunakan untuk makan siang nanti. 'Hmm kulkas sudah mulai kosong apa aku pakai uang eomma saja? Ani, sepertinya aku harus mulai mencari kerja paruh waktu.' Aku menutup pintu kulkas sebelum membereskan kamar.
Ding Dong- Ding Dong
Setengah jam kemudian bel rumah berbunyi, sepertinya Yoongi sudah datang. Tepat disaat aku selesai membereskan kamar. Aku menyusuri tangga turun dan melihat wajah tampannya di monitor. Yoongi melepaskan maskernya dan beberapa namja terlihat mengikutinya di belakang.
'Tunggu dulu, jangan bilang dia membawa semua membernya.?' Aku membukakan pintu dan benar saja. Mataku dihidangkan pemandangan yang luarbiasa, kau harus tau para namja itu berjejer dengan setelan khasnya masing-masing memancarkan pesona tiap membernya. Harusnya aku tidak membiarkan diriku sendirian dikelilingi namja-namja ini. tapi persetan sudah. Siapa pun tak akan bisa menolak godaaan ini. Aku bersyukur karena aku dapat bertemu mereka sedekat ini tanpa harus membayar sepeser apapun. 'Maafkan aku Army.'
"Sejak kapan kau memasang security monitor? Bukannya ini mahal ya" Begitu masuk Yoongi menginspeksi security monitornya, sedangkan aku membungkuk menyambut para malaikat yang dengan santainya memasuki rumahku.
"Eoh, lumayan mahal, tapi aku merasa aman apalagi dengan adanya insiden stalker itu.. maksudku saat aku kira kau adalah stalker." Orang-orang mulai tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Sangat mudah mengenali mereka ketika masker tidak lagi menghalangi ketampanannya, wajah mereka memiliki ciri khasnya masing-masing. Hanya orang yang berakal pendek yang berkata bahwa mereka terlihat sama.
"Yaa hyung, sudah kubilang jangan pakai setelan serba hitam. Kau tampak lebih mencurigakan." Jimin memukul pelan bahu Yoongi, matanya membentuk bulan sabit saat dia tertawa. 'Aigoo manisnya..'
"Wae? kalau kau tidak tahu fashion lebih baik diam saja, lagipula aku terlihat lebih macho dengan pakaian seperti ini." Yoongi membela dirinya sendiri dan membalas pukulan Jimin.
"Oh iya, aku lupa memberitahu bahwa memberku ikut mengantarkanku, maaf. Jadi.., kamar mana yang akan kupakai?" Yoongi bertanya seraya membawa kopernya. Namjoon meghentikan langkah Yoongi dengan menahan bahunya. "Hyung, kita belum memperkenalkan diri." ujarnya.
"Terus? Dia sudah kenal dengan kita. Jadi sepertinya tidak perlu."
"Aish Hyung, tetap saja tidak sopan jika kita masuk tanpa permisi dulu. Benarkan?" Balas Namjoon.
"Hmm.. sepertinya begitu."Sebenarnya aku setuju-setuju saja dengan Yoongi, siapa coba yang tidak kenal dengan BTS. Mereka muncul di tiap channel televisi, semua orang membicarakannya, semua orang menyukai, mencintai dan mengangumi mereka, bukan hanya karena wajahnya saja, melainkan karena performa mereka saat tempil dan kerendahan hati mereka. Meski sekarang mereka bergelimang harta, Ketujuh member tetap ingin tinggal dalam satu dorm selain itu tidak jarang mereka melakukan charity. Pengalamanku sendiri, aku tau mereka karena Shinae selalu membicarakannya minimal dua puluh kali dalam sehari yap kau tidak salah dengar, bahkan lebih. Apalagi di masa mereka akan comeback frekuensinya bisa berkali-kali lipat.
"Oke kalau begitu, aku mulai duluan. Annyeong namaku Kim Seokjin member termuda dari bts ini." Jin mengeluarkan ciuman mautnya, Army pasti tahu trademark flying kiss Jin. JHope disebelahnya menatap geli hyungnya yang satu ini.
"Yaa! Hyung kau terlihat seperti pedofil, dia lebih muda 6 tahun dari mu, hyung. Dan apa kau tidak pernah mengaca? Pfft member yang paling muda?" Member lain tertawa geli mendengar Jin termasuk aku sendiri. Jin memajukan bibirnya cemberut, aihh kenapa namja ini sangat menawan.
"Anyway, senang bertemu denganmu. I'm your Hope, JHope. Kau bisa memanggilku Hobi oppa~~" Ujarnya dan mejabat tanganku histeris, suaranya melengking memekik telingaku. Suaranya terdengar mirip dengan Yoongi. Tapi suara Yoongi sedikit lebih berat dan ehem.. seksi.
"Aku V, kau bsa memanggilku Taehyung." Taehyung berkata dengan tangannya membentuk huruf V. Dia adalah namja yang menduduki wajah tertampan no.1 di Metube. Pantas saja, kalau kau melihat dia secara langsung kau pasti akan berfikir bahwa tuhan sangat berati-hati saat memahat wajahnya.
Jimin memotong kegiatanku memuja ketampanan Taehyung. "Annyeong, namaku Jimin. Kau bisa memanggilku apa saja. Well aku lebih suka dipanggil Jagi, sayang, ataupun Honey sih." Jimin mengedipkan mata nakal padaku, membuatku tertawa kecil. semburat merah muncul dipipiku. Sedetik kemudian Jimin tersungkur karena ulah Yoongi.
"My name is Namjoon or RapMon the leader of this idiotic group. Nice to meet you i hope we won't make any trouble for you." Namjoon berbicara dengan bahasa inggris. Sepertinya Yoongi sudah menceritakan kalau aku sedang mengenyam pendidikanku di sastra inggris.
"N..nice to meet you too. I'm Nam Minhyo you can call me Minhyo." balasku, Aishh tiga semester aku belajar bahasa inggris tapi rasanya lidahku masih kaku untuk sekedar mengucapkan salam.
"Whoaa she can spkeu engleisheu." JHope memujiku dan ikut berbicara bahasa inggris meski tidak sefasih Namjoon.
"Cukup Cukup.. Sekarang semuanya sudah kenal bukan. Jangan lupa tujuan kita hari ini." Ujar Yoongi dan menutup perkenalan kami.
'Hmm bukannya ada satu member lagi ya? Dia tidak datang?' Aku mengamati dan menghintung keseluruhan member bts. Hanya ada 6, si Golden Maknae tidak ada.
"Ahh kau mencari Jungkook.. Kebetulan dia sedang.. tidak enak badan." Namjoon membalas. Ada jeda diantaranya, Aku menyipitkan matanya melihat ekspresi Namjoon yang menurutku patut dicurigai. Aku menghela nafas. Setelah berkenalan dengan mereka, aku menunjukan ruang yang akan Yoongi tempati. Para member ikut melihat kedalam kamar membuat seisi ruangan tiba-tiba terasa sempit.
"Wahh, Hyung kamar ini cukup luas. Harusnya kau membawa keyboardmu." Taehyung berkomentar.
Yoongi masuk terakhir sambil membawa kopernya. "Buat apa? Diatas sudah ada piano ini." Jawabnya singkat. Yoongi terlihat kesusahan membawa kopernya sendiri, member lainnya terlalu sibuk dengan kegiatannya mengeksplor ruangan.
"Minhyo-ah, kau bisa bermain piano? Daebakk." Jin membulatkan matanya kagum. Aku menutup wajahku malu, "Ani, eonniku jauh lebih pandai. Aku lebih suka memainkan gitar."
"Oh iya? Aku juga bisa! Bagaimana jika kita duet bersama?" Ajakknya sambil membantu Yoongi mengeluarkan barang-barang dari koper. Akhirnya ada yang membantunya.
"Bolehkah? Tapi aku tidak pandai bernyanyi.." jawabku.
"Bohong." Terdengar suara Yoongi dibelakangku, 'Aishh, ikut-ikutan saja."
Author's PoV
Kalau kau melihat keadaan rumah sekarang, kau akan berpikir kalau ini hanya ada di dunia komik-komik saja. Dimana satu yeoja dikerubungi enam namja tampan bak malaikat membersihkan rumahnya. Jimin dan Jin mengurusi dapur, mencuci piring dan mengelap meja. Taehyung dan JHope membersihkan ruang tamu. Kamar mandi disikat oleh Namjoon, Yoongi masih asik merapikan kamar barunya sedangkan Minhyo menyapu lantai.
"Chogi, Kumohon... Jika kalian tidak berhenti, bisa-bisa aku dicabik-cabik fans mu." Minhyo tak henti-hentinya memohon mereka untuk berhenti. Jika saja fansnya tau mungkin Minhyo akan segera menyusul keluarganya.
"Kan sudah kubilang tidak apa-apa Minhyo-ah, lagipula memang kami berniat membantumu kesini. Kalau tidak ada kami siapa lagi yang akan membantu? Yoongi hyung pasti akan tidur pulas setelah urusan kamarnya beres." Jhope menjelas kan dan melanjutkan aktifitasnya.
"Well, temanku akan kesini sih.." Minhyo menghela nafas panjang. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghentikan kelima namja itu.
Ding - Dong -
To be Continued
Hehehehe gimana ceritanya? Sampe sini masih intro doang sih. Semoga suka ya, mian kalo emang ngebosenin. So please leave a comment karena aku menerima kritik dan saran apapun :)))
Btw makasih banyak sudah menyempatkan waktu kalian buat baca ff amatir ini :(
