Back in Time

KAISOO, EXO member, OC

T - M, GS

Author by rerudo95

N.B : cerita ini terinspirasi dari drakor " Time Sleep dr. Jin ", tapi hanya pada part awal. Alur cerita murni pemikiran sendiri. Rated berubah M seiring berjalannya waktu, dan gak jamin juga kalo bakal bagus. Karena aku masih baru, kalau ada typo, ceritanya kurang bagus atau susah dimengerti mohon dimaklumi. Oh ya, jika cerita ini memiliki unsur kesamaan dengan cerita lain itu semua karna ketidaksengajaan. :D. Sekian cuapcuapnya, don't forget to review. Thanks a lot. J

Yang gak suka GS harap segera tutup cerita ini.

Chapter 1.

What's happened?

Kim Jongin adalah sosok yang sangat dikagumi. Tak hanya dengan rekan sesama dokternya. Ia bahkan berhasil menjadi dokter favorit dikalangan para direktur dan pemegang saham. Kemampuannya tak diragukan lagi. Diumurnya yang baru mencapai 29 tahun ia berhasil menjadi dokter bedah profesional. Sikapnya yang tegas, otaknya yang encer dan kerjanya yang cekatan. Ia benar-benar dokter yang hebat.

Tak hanya itu, Jongin juga menjadi idola dikalangan wanita. Wajahnya yang tampan, dengan mata setajam elang, rahangnya yang tegas seperti terpahat sempurna, bibirnya yang tebal dan seksi. Tubuhnya yang tinggi dan atletis. Punggung yang terlihat sangat nyaman untuk dipeluk, bahu lebar dimana semua wanita ingin menyandar disana. Tak kalah sempurna kaki yang panjang dan ramping. Jongin masih sasaran kegilaan wanita saat ini.

Namun sayang sikapnya sangat dingin. Ia sopan, tidak sombong. Tapi wajahnya selalu datar. Senyumnya hanya senyum formal, bukan sesuatu yang tulus dari hati. Sorotan matanya juga dingin, seperti tak pernah tersentuh kehangatan yang orang sebut dengan kasih sayang.

Menurut gosip yang beredar, sebenarnya dulu Jongin tidak seperti itu. Jongin adalah pribadi yang hangat dan easy going. Namun karena putus cinta ia berubah jadi seperti ini. Benar kata orang, cinta pertama memang selalu membekas dihati.

Meskipun terkenal dengan sifat dinginnya, masih banyak wanita yang berlomba menarik perhatian Jongin. Entah terang-terangan, maupun sembunyi-sembunyi. Dan dari semua yang mendekati Jongin, Do Kyungsoo adalah wanita yang terpilih. Mereka resmi bertunangan setahun yang lalu. Namun dengan suatu alasan yang tak diketahui, Jongin dan Kyungsoo menyembunyikan hubungan mereka. Yang tahu hanya kedua orang tua Jongin, ayah Kyungsoo, dan sahabat-sahabat Kyungsoo. Teman Jongin, tak ada yang mengetahui apakah Jongin memiliki teman atau tidak.

Bukankah sudah ku katakan Jongin sangat dingin?

Perlukah kita membahas hubungan mereka barang sedikit? Baiklah akan aku ceritakan.

Jongin dan Kyungsoo adalah teman kuliah. Sepantaran, bahkan ulangtahun mereka hanya berselang satu hari. Kyungsoo adalah mahasiswa pindahan, ia bergabung di Uneversitas Korea pada semester ke tiga. Saat itu Jongin sudah berubah menjadi manusia es.

Kyungsoo yang bagaikan peri kecil mendatangi Jongin pertama kali. Tentu saja bukan hal baik yang ia dapatkan. Hanya tatapan dingin dan ia ditinggalkan begitu saja. Padahal saat itu Kyungsoo tengah kebingungan dengan peta kampus. Namun bukannya tersinggung, Kyungsoo malah jatuh cinta.

Bukan perkara mudah membuat Jongin melihat keberadaanya. Butuh waktu satu semester untuk membuat Jongin membalas sapaannya. Butuh waktu satu tahun untuk Kyungsoo bisa memiliki nomor kontak Jongin dikontak ponselnya. Dan butuh satu kelulusan sempurna untuk bisa menjadikan Jongin kekasih hatinya.

Perjuangan yang berat terbayar. Meski Jongin masih tampak enggan padanya. Pernah suatu kali dengan keras kepala ia berteriak pada Jongin di tengah derasnya hujan.

" Bukan sekarang. Ku harap suatu hari nanti kau akan membuka hatimu untukku. Sampai saat itu aku akan terus menunggumu. "

Pada nyatanya ia hanya wanita lemah yang menyedihkan.

Begitulah kira-kira hubungan mereka hingga sekarang. Tak ada yang berubah. Mungkin hanya sedikit karena kini Kyungsoo tampak lelah menghadapi Jongin. Mungkin kisah cintanya hanya akan seperti Peterpan dan Tinkerbell.

Suatu saat Peterpan akan bertemu Wendy dan Tinkerbell akan bertemu dengan Terence. Entahlah. Tak ada yang tahu akhir kisah seseorang meskipun itu kisah dirinya sendiri.

...

Kyungsoo terperanjat di kursinya ketika seseorang menepuk pundaknya keras. Sumpah, ia sangat mengantuk pagi ini. Ia baru saja melewati masa yang tak pernah ingin ia ulangi lagi seumur hidupnya. Mengoperasi seorang anak menteri yang memiliki kelainan dan tidak boleh sembarang orang menyentuhnya. Sayangnya ia harus melakukannya, dokter anak itu sedang cuti bulan madu, dan nyamanya di pertaruhkan saat itu. Sebagai seorang dokter ia tentu saja tak bisa tinggal diam.

" Ada apa? ", tanyanya sebal. Ia memandang Chaeyeon dengan tampang mengantuk.

" Kau dalam masalah besar. ", Kyungsoo mengernyit. Masalah apa? Anak menteri itu sudah melewati masa kritisnya dan bahkan sekarang sudah sadar. Itulah mengapa akhirnya ia bisa merasa mengantuk. Ketegangannya sudah menghilang.

" Hwajangnim memanggilmu dan Kim seongsae. Mungkin karena operasi tadi malam. Kau tidak akan dipecatkan? "

" Appa? ", ulangnya. Ia tak yakin, tapi memang bertemu dengan Kepala Rumah Sakit yang adalah ayahnya sendiri memang tidak semudah yang dibayangkan. Ada dua kemungkinan ketika seorang dokter bisa masuk dan berbicara dengannya. Mendapat promosi, atau tertangkap berbuat kesalahan. Apa yang di lakukannya adalah kesalahan? Kyungsoo pikir tidak. Ayahnya pasti akan bertindak sama seperti dirinya.

" Lebih baik kau cepat kesana. Oh jangan lupa Kim seongsaengnim. Aku tak bisa menemukannya dimanapun. "

" Baiklah. "

Kyungsoo mencoba menghubungi ponsel Jongin. Pikirnya itu adalah hal yang paling efektif untuk saat ini. Tapi ponselnya tidak aktif. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya.

" Apa kau mencari Kim seongsae? ", tanya suster Ahn sebelum ia melangkah lebih jauh menuju ruangan Jongin.

" Ye. Apa Anda melihatnya? "

" Tadi aku melihatnya pergi keruang VVIP nomor 12. Saat ingin bertanya ku lihat Kim seongsaengnim tertidur. Mungkin ia lelah. "

" Terimakasih infonya Ahn ahjumma. ", ucapnya. Segera berlari menuju tempat yang suster Ahn bilang. Sedikit heran mengapa Jongin berada disana.

Kyungsoo memelankan langkahnya. Ragu-ragu untuk membangunkan Jongin. Bahkan ia tak berani menatap lama mata pria itu ketika berbicara. Ia takut jatuh cinta semakin dalam pada pria yang tak mencintainya.

Rumit bukan. Jika saja dulu orang tua Jongin tak meminta mereka untuk bertunangan, Kyungsoo akan memilih menyerah. Mungkin mengagumi dari jauh akan lebih baik. Ia kira ia kuat, tapi nyatanya ia merasa sakit ketika pria itu kelewat dingin padanya.

Kyungsoo selalu berharap suatu saat Jongin akan melihatnya. Bisakah? Namun pikiran itu membuatnya merasa menjadi wanita yang serakah.

" Kim seongsaengnim. Kau sudah bangun? ", tanyanya saat melihat Jongin berdiri kaku didepan pintu. Sedikit kaget karena begitu ia membuka pintu Jongin sudah berdiri didepannya dengan wajah yang pucat. Kyungsoo kuatir jika pria dihadapannya ini terlalu lelah dan kurang istirahat. Namun tatapan itu jelas membuat Kyungsoo bingung. Mengapa Jongin menatapnya seolah ia baru saja bangkit dari kematian?

Mencoba mengabaikan. Ia tersenyum pada Jongin. Bukannya menjawab Jongin malah berjalan tertatih ke arahnya. Diameter matanya bertambah lebar ketika Jongin menyentuh kedua bahunya. Jarak mereka terlalu dekat, dan Kyungsoo tak terbiasa dengan itu. Bahkan kini jantungnya berdetak gila-gilaan saat Jongin memeluknya erat.

Kyungsoo tak tahu apa yang terjadi. Jongin seolah baru saja melewati suatu hal yang sangat berat hingga menghela nafas sekasar itu. Atau Jongin baru saja mimpi buruk? Apa Jongin salah mengenali orang?

" Jongin ssi. Ada apa? ", tanya Kyungsoo memastikan. Jika memang pria itu dalam keadaan tak baik maka ia yang akan menemui ayahnya sendiri. Namun Jongin memeluknya semakin erat. Tak yakin apa yang harus ia lakukan, Kyungsoo mencoba melepaskan pelukan Jongin. Yang tentu saja berat untuk ia lakukan.

" Jongin ssi. Hwajangnim memanggil kita. ", ucap Kyungsoo sambil melepaskan pelukannya.

" Hwajangnim? ", tanya Jongin memastikan. Kyungsoo mengangguk.

" Sepertinya karena operasi kemarin. Ada dua kemungkinan, hwajangnim akan memarahi kita atau mengajak kita makan siang. "

" Operasi? "

" Ya. Untunglah anak tuan Lee sudah sadar jadi kita tidak terkena masalah. "

" Tuan Lee siapa? ", Kyungsoo mengernyit bingung. Merasa aneh dengan kelinglungan Jongin.

" Yang putra menteri keuangan itu. Apa kau baik-baik saja? ", tanya Kyungsoo kuatir. Jujur saja baru pertama kali ini Kyungsoo melihat Jongin pada mode blank nya. Namun Kyungsoo tak mau ambil pusing. Berada satu ruangan dengan Jongin sudah membuatnya sulit bernafas. Ia hanya ikut mengangguk dan berjalan keluar.

Merasa Jongin tak juga bergerak dari tempatnya, Kyungsoo kembali menoleh dan menyadarkan Jongun dari lamunannya.

" Jongin ssi, ayo. "

" Kau duluan saja. Aku akan ke kamar mandi dulu. "

...

Keduanya tak menyangka akan bertemu dengan seorang menteri Korea yang berpengaruh. Wajah dan perilakunya sama persis dengan apa yang mereka lihat di televisi. Mengejutkan lagi karena ayah Kyungsoo merupakan teman semasa SMA nya dulu.

" Jadi kalian yang sudah menyelamatkan nyawa anakku? ", suaranya berat, namun terdengar lembut. Khas seorang ayah yang bijaksana. Ia memandang Jongin dan Kyungsoo bergantian.

" Sudah menjadi tugas kami untuk menyelamatkan nyawa pasien. ", jawab Kyungsoo. Jongin saat ini tak bisa diharapkan. Wajahnya masih pucat dan tak mendapatkan konsentrasinya.

" Apakah dia anakmu Joon-ah? ", tanya tuan Lee. Tuan Do hanya tertawa lalu mengangguk.

" Kau sama cantiknya dengan Yeonhee. ", Kyungsoo tersenyum, tersanjung karena di katakan mirip dengan mendiang ibunya. Kyungsoo memang sangat mengagumi ibunya sendiri. Wanita cantik yang kuat. Ia selalu tersenyum meski penyakit mematikan menggerogoti tubuh rapuhnya.

Sampai saat kematiannya, meski tubuhnya terlihat seperti kerangka saking kurusnya. Kyungsoo masih menobatkan ibunya sebagai wanita tercantik didunia. Bukan hanya karena fisiknya tetapi juga kebaikan hatinya.

" Apa kau sudah punya kekasih? ", pertanyaan tiba-tiba itu jelas membuat mereka terkejut. Jongin yang semula hanya diam kini memandang Kyungsoo dengan tatapan yang sulit diartikan. Kyungsoo sendiri hanya bisa meremas tangannya. Menatap Jongin dan ayahnya secara bergantian.

" Ah, kau sudah punya ya. Sayang sekali, padahal kau mungkin cocok dengan anak sulungku. ", ucap tuan Lee sambil tertawa.

" Jwisunghamnida. ", gumam Kyungsoo canggung. Tak tahu harus bagaimana. Ayahnya sama sekali tidak membantu dan Jongin menatapnya tajam. Salah apa sebenarnya dia hari ini, mengapa ia sampai berada disituasi canggung seperti ini. Juga tatapan anak tuan Lee yang terus memandanginya dari atas kebawah, begitu berulang-ulang. Seolah dirinya adalah makhluk langka dari luar angkasa. Astaga, hari ini semua orang terlihat aneh.

" Tidak apa. Sebelum ada cincin di jari manismu tentu masih ada kesempatan bukan? ", goda tuan Lee sekali lagi. Kyungsoo menyembunyikan tangannya sedangkan Jongin mengepalkan tangan. Entah mengapa ia merasa marah.

...

Tuan Lee sudah pulang setengah jam lalu. Kini ayah, anak dan calon menantu itu berada di ruang Tuan Do.

Tuan Do, Kyungsoo dan Jongin duduk bersama sambil menikmati teh herbal yang sudah di siapkan Kyungsoo sebelumnya. Kedua ayah dan anak itu tampak mengobrol ringan. Mengabaikan Jongin yang sibuk dengan dunianya sendiri.

Bukan hal asing jika Jongin tidak terlibat aktif percakapan tuan Do dan Kyungsoo. Ia memang tak terlalu suka bicara jika itu bukanlah suatu yang penting. Paling ia hanya tersenyum, mengangguk dan menjawab ketika di tanya.

Namun kali ini hal itu terlihat cukup mengganggu. Jongin terlihat tidak fokus. Raganya memang berada di tempat itu, tapi pikirannya jelas tidak berada disana.

" Jongin ssi. ", panggil Kyungsoo sedikit lebih keras. Jongin tergagap dan kembali menatap tuan Do yang tersenyum maklum. Mungkin mereka mengira ia terlalu lelah atau semacamnya. Mengingat operasi darurat dilaksanakan pukul satu dini hari tadi.

" Jongin ah, aku ingin bertanya sebagai seorang ayah. Apakah kau tak berniat menikahi Kyungsoo? ", pertanyaan yang sama ia dapatkan lagi. Ia melirik sebentar ke arah Kyungsoo. Tahu dengan pasti apa yang akan terjadi selanjutnya.

" Appa. Kami belum memikirkan sampai sejauh itu. ", sela Kyungsoo. Ia memandang Jongin dengan panik.

" Sudah lebih dari satu tahun kalian bertunangan. Bukankah sudah waktunya kalian untuk menikah. "

" Ey, kami masih muda. Lagipula aku masih ingin pergi ke banyak tempat dan belajar banyak hal. Benar kan Jongin ssi? ", Kyungsoo menatapanya. Meminta secara lisan padanya untuk mengangguk. Sama seperti yang lalu. Tapi kali ini Jongin hanya diam. Ia menatap Kyungsoo dalam-dalam.

" Abeoji hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Pikirkanlah dengan baik-baik Jongin ah. Jika kau sudah siap datanglah kerumah kami bersama orang tuamu dan makan malam bersama. ", Jongin mengangguk. Tak sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi.

Keluar dari ruangan itu Kyungsoo hanya membisu. Bahkan senyum yang ia berikan pada beberapa orang yang berpapasan dengan mereka terlihat sedikit berbeda.

Jongin tahu jika wanita itu masih memikirkan ucapan tuan Do tadi. Namun ada hal yang luput dari perhatiannya.

" Mengapa kau berbicara seperti itu tadi? "

" Eoh? ", kebingungan jelas terlihat di manik mata Kyungsoo. Entah apakah pertanyaannya terlalu sulit. Atau wanita itu tengah memikirkan apa jawaban yang hendak ia berikan. Apapun itu Jongin hanya ingin Kyungsoo segera menjawab.

" Entahlah. Mengapa aku melakukannya? ", gumam Kyungsoo yang masih bisa Jongin dengar dengan jelas. Wanita itu menunduk, menatap sepatu hak tingginya dengan tatapan kosong.

" Mari kita lupakan saja. Apa yang appa katakan tadi. Apa yang appa minta padamu. Ayo kita lupakan saja. ", seru Kyungsoo dengan nada ceria seperti biasa. Mungkin sebelumnya Jongin akan menganggapnya biasa karena memang Kyungsoo adalah pribadi yang ceria. Namun kali ini berbeda, Kyungsoo bukan tanpa maksud tersenyum padanya saat ini. Jelas itu adalah bentuk pertahanan dirinya agar orang lain tak melihat kesedihannya, tak melihat luka dalam hatinya, tak melihat kelemahannya.

" Mengapa aku harus melakukannya? ", pertanyaan itu terlontar pelan namun berhasil membuat Kyungsoo terhenyak. Seolah ia baru saja mendengar guntur di tengah hujan badai.

" Mengapa aku harus melakukannya? ", tanya Jongin dengan nada yang meninggi. Ia bingung, tertekan dan tak tahu harus berbuat apa. Keadaan ini sungguh tidak masuk akal. Kenyataan jika tadi Kyungsoo melindungi dirinya membuat ia marah. Merasa dirinya hanyalah pengecut yang selalu bersembunyi di belakang punggung Kyungsoo.

Tapi jika dipikir ia memang seperti itu. Jongin tak pernah berlaku layaknya seorang pria sejati. Ia hanya menghindar, mencoba menjauhkan Kyungsoo dengan segala cara. Kyungsoo terlalu baik untuk bajingan seperti dirinya.

' Karena kau tak menginginkannya '

Meskipun tak terucap dalam kata namun hal itu berhasil membuat Jongin terhuyung satu langkah ke belakang. Jongin bisa membacanya dengan jelas lewat tatapan sendu Kyungsoo. Hanya sekilas memang karena Kyungsoo kembali menunduk.

Ketegangan mereka pecah ketika pintu lift terbuka. Kyungsoo yang pertama kali tersadar dan melangkah keluar. Tak seperti biasanya, wanita itu pergi tanpa kata-kata.

...

Setibanya diapartemen miliknya, Jongin segera mencari sesuatu dibuku hingga internet. Ia tak henti mencari hal apa yang sebenarnya tengah terjadi padanya. Ia yakin jika kecelakaan Kyungsoo adalah kenyataan. Namun semua yang terjadi hari ini pun bukanlah mimpi.

Jongin memijat pangkal hidungnya. Jam didindingnya sudah menunjukkan pukul tiga pagi dan ia tak bisa tertidur. Puluhan artikel sudah ia baca dengan hati-hati, kata per kata. Namun tak ada satupun yang bisa menjelaskan situasi yang tengah ia alami saat ini.

Jongin yakin dirinya tidak terlahir sebagai manusia dengan kekuatan super. Pengendali waktu, jumper, teleporter, ia tak mempercayai hal-hal mitos seperti itu.

Tak ada gunanya membaca hingga mata pedih. Jadi Jongin mengambil buku agenda. Menulis semua kejadian yang ia ingat. Kapan ia bertemu Kyungsoo dan apa yang mereka lakukan. Namun yang ia temukan adalah rasa kecewa. Ternyata seminggu belakangan ia tak banyak bertemu dengan Kyungsoo.

Memang sejak pertengkaran terakhir mereka, Kyungsoo tak pernah memaksanya untuk sering bertemu. Seperti kencan ketika weekend, berkumpul dengan sahabat-sahabat Kyungsoo. Bahkan kini mereka tak pernah makan bersama. Ia hanya akan bertemu ketika meeting pagi atau ketika operasi. Bahkan ia tak menerima satu pesan dari Kyungsoo meski hanya mengucapkan selamat malam.

Jongin merasa aneh. Mengapa hanya dirinya yang sadar jika waktu berjalan mundur? Pasti ada maksud mengapa ia kembali ke hari ini. Pasti ada alasannya. Tapi apa? Ia sungguh tak mengerti.

Ia mengambil nafas dalam-dalam. Mencoba menenangkan pikirannya yang sedari tadi berpikir keras. Ia mencoba mengurutkan semua kegiatan yang ia lakukan seharian kemarin. Tentunya sebelum waktu berubah.

Ia bangun pagi pukul 06.00. Lari pagi disekitar komplek apartemennya hingga pukul 07.00. Lalu ia bersiap kerja. Ia berangkat pukul delapan tepat, mampir sebentar ke cafee dan membeli kopi. Tak ada halangan apapun jadi ia bisa sampai di rumah sakit pukul 08.30. Selanjutnya ia bekerja seperti biasa.

Jam 12.00 Jongin kembali ke kantornya, membaca buku hingga pukul 14.00. Tepat saat Kyungsoo datang dengan amplop itu.

Jongin tak mau mengingat kejadian itu lagi. Jadi ia memaksa otaknya untuk melompat pada kejadian setelah operasi. Tepatnya pukul 18.30, Kyungsoo dipindahkan ke ruang rawat. Masih di pantau khusus karena belum melewati masa kritisnya. Dan ia sendiri yang menemani Kyungsoo.

Ia tak melakukan apapun setelah itu. Hanya duduk merenung. Memikirkan dirinya dan Kyungsoo.

Tiba-tiba Jongin membuka matanya. Menegakkan tubuhnya saat otaknya mengingatkannya akan apa yang ia lakukan tepat sebelum tertidur.

Ia berdoa pada Tuhan. Ia ingin menebus dua tahun kesalahan yang telah ia lakukan pada Kyungsoo. Jadi saat itu ia memohon kesempatan. Ia ingat bahkan dirinya sampai menangis.

Inikah kesempatan itu? Inikah jawaban yang Tuhan berikan padanya?

.

.

.

TBC