Desclaimer : Masashi Kishimoto
Summary :
Neji merupakan siswa terkenal di sekolahnya, namun ia selalu menolak gadis-gadis yang menyatakan cinta padanya. ternyata ada sesuatu yang menjadi alasannya menolak mereka semua, penasaran? Silahkan mampir../chapter 2 is up!
pair : Nejiten
Warn : tak mungkin luput dari Typo(s), gaje, ancur, dll. Mohon sarannya di kotak review..:)
.
.
keesokan harinya...
hampir semua mata—mayoritas perempuan—memandangi dua bento yang berada di tangan Tenten. Salah satu dari kedua bento itu berwarna abu-abu. Oh ayolah, siapa yang tidak tahu abu-abu adalah warna kesukaan siapa? Terlebih arah tujuan Tenten sangat mendukung hipotesa para murid tersebut.
Pasti Neji..
Mereka menatap Tenten dengan pandangan yang berbeda-beda. Ada yang mencemooh, gadis biasa seperti itu berani sekali melakukan hal seperti ini, ada juga yg tertawa membayangkan usaha gadis itu nantinya hanya akan dihadiahi sorot mata dingin dan ucapan menusuk Neji. Tenten terus menunduk sepanjang perjalanan. Sampai akhirnya ia tiba di depan pintu kelas XII/A. Kelas Neji. Tenten hanya bisa terpaku di sana, tak terpikir olehnya untuk memanggil Neji. Mental yang sedari tadi di kumpulkannya hancur ketika berdiri di depan pintu kelas ini. 'baka! baka! baka! sekarang apa yang harus kulakukan?!' batin Tenten.
"mau sampai kapan kau berdiri di sana?"
Tenten berjengit ketika Neji tiba-tiba saja berada di belakangnya. Belum habis kesadarannya terkumpul, Neji dengan santainya langsung mencomot salah satu bento di tangan Tenten.
"Ne-Neji kun!" panggil Tenten berusaha tenang, " kita mau ma-makan dimana?" walau usahanya gagal.
Neji tidak menyahut namun ia meraih pergelangan tangan Tenten. Terdengar pekikan heboh dari para murid sepanjang jalan mereka menuju tempat yang Neji maksud. Wajah Tenten sudah sangat merah sekarang, 'aku sudah tak tahan lagi!' batin Tenten. Entah apa yang merasuki Tenten, ia langsung menarik tangan Neji pergi dari sana.
.
"hh..hhhh...hh...!" terdengar desahan nafas memburu dari mereka berdua setelah lari dari gerombolan murid yang meneriaki Neji. Saat ini mereka berdua berada di atap sekolah, tempat yang seharusnya tidak diperbolehkan untuk dimasuki para murid. Setelah aliran nafas mereka membaik, Neji membuka mulutnya,
"kurasa kita sepikiran"
"maksudmu?" tanya Tenten
Alih-alih menjawab pertanyaan Tenten, Neji menghempaskan tubuhnya di lantai atap sekolah.
"aku juga berniat mengajakmu kemari"
Tenten ikut mendudukan dirinya di hadapan Neji.
"oh ya? Emm, sebenarnya ini adalah salah satu tempat favoritku di sekolah ini. Yahh.. walau dilarang sih" Tenten terkekeh pelan.
"kau juga? Berarti kita sama" wajah Tenten bersemu seketika. Alih-alih menjawab, Tenten mulai membuka bento miliknya dan milik Neji.
"maaf jika kau tak menyukai bentonya, hanya ini yang bisa kumasak. Lagipula kenapa kau minta ini padaku? Jika kau meminta pada penggemarmu aku yakin kau akan mendapat yang leb—"
"kau ini berisik juga ya" ucap Neji memotong ucapan Tenten. Tenten menggembungkan pipinya kesal.
Neji menyumpit telur gulung dari bento miliknya dan memasukannya ke dalam mulut Tenten. Tenten terkejut, tapi akhirnya telur itu ia kunyah juga. Jangan tanyakan wajahnya. Tanpa sadar, Tenten terus memandangi wajah Neji.
'kami-sama, dia memang benar-benar tampan. Kaa-sannya makan apa sih waktu mengandungnya? Ya ampun, bahkan ketika makan pun ia tetap terlihat tampan. Dia diam saja, bagaimana rasa masakanku ya? Apa mungkin ia diam saja karena menahan rasa yang aneh dari masakanku?' Tenten menggeleng kuat, lalu ia segera memakan bento miliknya sendiri. 'kupikir rasanya masih normal, lalu kena—'
"cepat habiskan, sebentar lagi bel" ujar Neji membuyarkan lamunan Tenten. Ia segera mengemasi peralatan bentonya.
"ah..! Hei tunggu aku Neji-kun!" pekiknya saat melihat Neji yang mulai berjalan ke pintu. Tenten berlari kecil untuk menyamai langkah Neji. Saat sudah hampir sampai, Neji menghentikan langkahnya.
"besok..buatkan lagi yang seperti ini" ujar Neji. Jika diperhatikan lebih seksama, dapat terlihat semburat tipis yang menghiasi wajah pucat Neji. \
"hihi.." Neji menoleh ke arah Tenten yang terkikik geli.
"ada yang lucu?" sahut Neji tajam.
"eh? Nandemonai-desu" Tenten menggeleng geli.
# # #
Hari-hari berikutnya hubungan mereka semakin akrab. Bahkan hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu istirahat di atap entah hanya menemani Neji membaca yang selalu berakhir dengan Neji yang tidak bisa membaca dengan tenang karena Tenten selalu mengganggunya ataupun untuk makan siang seperti biasa, tentu saja Tenten yang membawakan bento. Tak jarang juga Neji mengantar Tenten pulang. Semua itu membuat Tenten terbuai dan melupakan kebenaran hubungan apa yang mereka jalani selama ini. Saat itu Neji tak mengatakn 'suka' maupun 'benci' pada Tenten.
Awalnya hal itu bukan masalah bagi Tenten, sampai beberapa gadis datang menemui Tenten. Salah satu dari mereka adalah Shion. Tenten tak sebodoh itu untuk tidak mengerti alasan mereka membawanya ke halaman belakang sekolah.
"apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?" cibir Shion dengan mata yang melirik tajam kearah bento di tangan Tenten.
"memangnya, ada yang salah?" sahut Tenten tak kalah sengit.
PLAK..! Tenten meringis berkat tamparan barusan.
"upss.. jangan terburu-buru Tayuya~ jika dia berteriak bisa gawat" seringai terbit di bibir Shion setelah mengatakan itu. Tangan Shion beralih ke cepolan di rambut Tenten.
"tapi.. aku paham perasaanmu untuk segera menghabisi gadis jelek ini, Tayuya" Shion menarik kuat-kuat kedua cepolan itu hingga beberapa anak rambutnya berjatuhan ke bawah. Tenten memekik tertahan, ia menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah. " cih! Apa yang menarik darimu, sih? Sampai Neji mau menerima bento jelek buatanmu itu?!" lanjut Shion.
"huh... paling Neji hanya merasa kasihan padamu waktu itu, seorang gadis yang mengalami luka lecet di tangan dan kaki serta mimik wajah memelas pasti cukup untuk menarik perhatian Neji, cih dasar murah—"
PLAK..!
Kini giliran Tenten yang membungkam mulut Tayuya dengan tamparannya. Ia memberikan tatapan tajam juga pada Shion.
"jika kau merasa iri dengan posisiku saat ini, kau bisa mengatakannya. Tak perlu mengarang cerita. Tahu apa kau tentang kejadian waktu itu?!" balas Tenten.
"Kau..!—" Shion baru saja akan menampar Tenten, saat sebuah tangan menahan pergelangan tangannya.
"Ne-Neji kun?!" pekik Shion.
"ba-bagaimana ka-kau bisa ada di-disini?!" ujar Tayuya.
"seorang gadis tidak pantas berbicara kasar" ucap Neji dingin. Shion dan Tayuya terbelalak mendengar penuturan menusuk Neji.
"ta..tapi, kami berusaha untuk melindungimu dari gadis menjijikan seperti dia!" pekik Tayuya sambil mengarahkan telunjuknya di depan Tenten. Tenten menepisnya.
"justru aku yang harus melindunginya dari gadis kasar seperti kalian" balas Neji tajam. Shion dan Tayuya kembali terkejut melihat orang yang selama ini dikaguminya membentaknya. Dengan sedikit bergetar ketakutan, Shion mengajak Tayuya pergi dari sana.
# # #
Sejak saat itu, bohong bila Tenten sama sekali tak memikirkan apa yang diucapkan kedua gadis itu. Ia terus memikirkannya, seperti saat ini. ia sedang berendam di dalam kamar mandinya.
Tenten P.O.V
"Neji hanya merasa kasihan...seorang gadis yang mengalami luka lecet... mimik wajah memelas... gadis yang terlalu biasa"
Semua perkataan Shion waktu itu, terus terngiang di kepalaku. Semua itu... apakah benar?
aku memasukkan seluruh wajahku ke dalam air.
Apakah Neji memang hanya merasa kasihan padaku? Aku yang hanya gadis biasa?
Tch..! aku mengangkat wajahku dari dalam air dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
Kalau dipikir-pikir betapa bodohnya aku sampai tak memikirkan kemungkinan yang nyata seperti itu. Ya, ia pasti hanya merasa kasihan padaku. Ia mengetahui bahwa aku menyukainya. Terlebih, ia tak menjawab apapun saat aku menyatakan perasaanku padanya. Sangat menyedihkan—
Aku beranjak dari bathtub dan mengenakan baju handuk yang kugantung di pintu kamar mandiku.
—tapi, meski kenyataannya seperti itu, apa yang bisa kulakukan? Aku sudah terlalu jauh menyukainya.
End of Tenten P.O.V
.
.
Tenten memeriksa lemari bajunya, ia mulai memilih pakaian yang akan dipakainya secara acak karena beberapa menit yang lalu ibunya menyuruhnya untuk membeli persediaan tissu di supermarket. Letaknya tak terlalu jauh dari rumahnya. Akhirnya ia hanya menggunakan kaus hitam tanpa lengan yang ditutupi cardigan putih dan celana tiga perempat berwarna khaki. Rambutnya ia gerai karena masih basah.
"ittekimasu" ujar Tenten pada ibunya.
"itterasai" balas ibunya.
# # #
Sementara itu, ditempat lain..
Seorang pemuda tampak tengah tersenyum dengan seorang gadis, sang gadis pun membalas senyumannya. Keduanya tampak gembira. Saat ini mereka berada di supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan. Sekilas mereka terlihat sama, dengan surai panjang dan manik amethyst keduanya.
"jadi, apa yang mau kau buat untuk kekasih pirangmu itu, Hinata?" tanya si pemuda pada sang gadis yang bernama Hinata itu.
"A..Apa maksudmu Jii-nii?! A..Aku bukan mau membuat apapun untuk Naruto-kun!" Balas Hinata pada kakaknya. Wajahnya bersemu ketika kakaknya menyinggung soal kekasihnya, Naruto Uzumaki. Pemuda berambut pirang yang merupakan sahabat sekaligus adik kelas Neji di sekolah, ia adalah orang yang berisik dan tak bisa diam. Entah apa yang menyebabkan Hinata yang notabene gadis anggun dan pemalu serta menjaga sopan santun bisa tertarik dengan pemuda seperti itu. Tapi separah-parahnya sifat Naruto, Neji sudah mengenal Naruto sejak lama, oleh karena itu ia membiarkan sahabat pirangnya itu berpacaran dengan adik nya ini.
"hn.. tak ada yang bisa kau sembunyikan dari nii-san mu ini, tahu? Lagipula bukan hanya kau yang tahu kalau Naruto adalah penggemar berat ramen" Neji mendengus geli saat melihat bahan-bahan yang dimasukkan Hinata ke troli hanyalah bahan untuk membuat ramen. Ia pun mengacak rambut adiknya.
BLUSH.. pipi Hinata merona karena malu
"ap..apa sih..! huh! Jii-nii menyebalkann..! aku benci padamu..! sana pulang!" sungut Hinata sambil mendorong trolinya lebih cepat.
Neji hanya terkekeh geli dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang saat ini sedang kasmaran.
Neji P.O.V
Haah.. si baka Naruto itu hebat juga, berhasil mendapatkan hati Hinata. Padahal kupikir Hinata tak akan mungkin menyukai pemuda seperti itu. aku bahkan sempat mengira cinta Naruto hanya akan bertepuk sebelah tangan, tapi pada akhirnya mereka pacaran juga. Aku tersenyum kecil saat melihat Hinata antusias memilih bumbu ramen itu.
Saat aku sedang mengamati tomat segar di sampingku, entah kenapa aku merasa diperhatikan oleh seseorang. Dan aku melihatnya..
Gadis itu..dia menggerai rambutnya, aku tersenyum sekilas. Tapi.. wajahnya, mengapa ia menunjukan mimik terkejut begitu?
End of Neji P.O.V
.
.
Tenten terpaku di tempatnya. Ia ingin berlari dari sana, masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di kamar namun kakinya seakan tak mau beranjak semili pun dari sana. Air mata rasanya ingin melesak keluar dari pelupuk matanya.
Sebelum itu terjadi, Tenten segera bergegas, kemanapun asal tak terpaku disana.
"Hinata, nii-san ada perlu sebentar, jika sudah selesai hubungi nii-san" ujar Neji dengan pandangan yang tetap tertuju di tempat Tenten tadi.
"e-eh? Ba-baik" balas Hinata.
Di tempat lain..
"baka! baka! baka!" runtuk Tenten disela-sela larinya. Ia terus berlari sambil menyeka air mata yang turun semakin deras. Bagus! Kini pandangannya sedikit memburam . tiba-tiba..
Grebb..! sebuah tangan menahan pergelangan kiri Tenten.
"kenapa kau lari?" ujar Neji to the point. Tenten terkejut dan menghadap kearah Neji. Mata mereka saling bertubrukan. Amethyst bertemu Hazel. Namun, secepat kilat Tenten memalingkan wajah. Ia tak mau terlarut oleh amethyst miliknya lebih lama.
"kumohon hentikan Neji-kun!" pekik Tenten, Neji mengeryit heran, " sebenarnya..sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadapku?! Jika kau memang membenciku, jangan bersikap seolah aku mempunyai harapan untuk memilikimu!" Tenten menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang siap turun kapan saja, "tapi... jika kau memang menyukaiku, kenapa kau bersama gadis tadi?!" Neji tertegun sejenak, 'gadis tadi? Maksudnya Hinata' batin Neji
"maksudmu Hinata?"
Tenten mendongak, seolah mengatakan apa? pada Neji.
"wah..! Wah..! sepertinya seru sekali ya?" ujar seseorang dibelakang Neji.
"sayang sekali, padahal kau lumayan manis, lho..!" seseorang menepuk bahu Tenten. Sepertinya dia rekan seseorang di belakang Neji tadi. Tenten berjengit dan menoleh ke belakang.
"jangan sentuh dia..!" sahut Neji pada dua orang tadi. Jika dilihat-lihat kedua orang itu sepertinya murid SMA, namun penampilan mereka lebih seperti berandalan daripada seorang pelajar.
Bruagh..! berandalan itu memukul pipi Neji hingga berdarah. Tenten ingin menolongnya, namun seseorang di belakang Tenten menarik dan menahan pergerakan Tenten.
"aah~ sepertinya kau baru dicampakkan oleh kekasihmu ini, ya?"
"bagaimana kalau kau bersenang-senang dengan kami? Kajamin kau akan merasa lebih baik~" pemuda yang tadi memukul Neji berjalan mendekati Tenten dan mengangkat dagu Tenten. Tenten merasa sangat ketakutan, lututnya terasa lemas hingga ia merasa tak kuat lagi menahan tubuhnya. Ia tak bergeming dari tempatnya. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengucur dari pelipisnya.
Namun, tiba-tiba Neji bangkit dan mencoba memukul salah satu dari mereka, namun gagal.
BUG...! satu hantaman keras mendarat di pelipis Neji. Tenten ingin berteriak, namun lagi-lagi seseorang di belakang Tenten menahan pergerakan Tenten, kalin ini ia membekap mulutnya.
"Hmpphh,...! Hmmpphh...! erangnya.
"heeh~ ternyata dia tak pandai berkelahi. Membosankan! Cih!" sekali lagi ia memukul bahkan mulai menendang perut Neji, hingga ia terkapar tak berdaya di aspal jalan yang dingin. Saat ia akan kembali menghabisi Neji, sebuah suara melengking mengalihkan atensi semua orang disana.
"JII-NII...!"
.
.
.
TO BE CONTINUED..
A/N : yak..! ini lanjutan chapter 2. Hehe sorry kalo kubuat banyak orang rusuh disini. Wkwkw #tawaNista #dihajar.
Emm ini rencananya mungkin Cuma sampe 3 chapter..
Keep or delete? Mind to RnR?
