Just a Kiss

Casts :

Oh Sehun

Lu Han

dll

Rated : M

Genre : Romance, Friendship, Fantasy

Warning : Typo eperiwer dan cerita abal2an

DON'T LIKE DON'T READ

DON'T BE SILENT READER

~keiLu present~

Slurp

Slurp

Slurp

Belum berhenti keterkejutan Luhan sosok diatasnya kini malah menjilati bibirnya. Hanya sebatas jilatan tidak sampai lumatan memang tapi rasanya sungguh menggelitik. Seperti ada jutaan kupu-kupu yang bertebaran di perutnya dan puluhan kunang-kunang memenuhi kepalanya. Seakan pening namun memabukkan, Luhan menutup mata rusanya untuk menikmati perlakuan sosok diatasnya pada bibir cerinya.

Slurp

Sosok itu kini telah belarih kesamping luhan dan tengah memejamkan matanya. Terdengar nafas halusnya yang keluar dari bibir tipis menggoda itu. Hh Luhan menggelengkan kepalanya akan pikiran gilanya itu. Bagaimana dia bisa menikmati jilatan dari sosok yang entah apa namanya ini. Rambut hitam legam sosok itu menutupi kening dan sebagian mata tajamnya. Dan oh apa itu. Dipunggung terdapat ukiran halus bertulisan 'Oh Sehun'. Oh Sehun? Siapa itu Oh Sehun? Apa itu nama makhluk di disampingnya ini. Ah kepala Luhan semakin pusing saja memikirnya, hingga akhirnya dia terlelap terbang kealam mimpi.

Bushh

Sosok itu kini telah kembali kewujud kucingnya.

.

.

.

.

.

Miau~

"Hoaaamm"

Miau~

Miau~

"Enghh"

Mata rusanya itu mengerjap-erjap saat dirasa tidurnya terganggu oleh suara kucing. Eh kucing?. Mata Luhan terbelalak lebar saat diingatnya sosok yang kemarin tidur disebelahnya kini telah berubah kembali menjadi seekor kucing.

Diangkatnya kucing itu kepangkuannya dan dielusnya bulu halus miliik sang kucing "hey sebenarnya siapa dirimu?" Luhan memang sudah gila karena berbicara dengan seekor kucing yang hanya bisa mengeong "apa namamu Sehun?" Lanjut Luhan lagi.

Miau~

Miau~

Kucing itu kini terus mengeong dipelukannya tanpa berhenti. Luhan yang baru pertama kali memelihara binatang tentu saja bingung. Kenapa kucing ini ribut sekali sih? Apa dia.. ah benar lapar. Luhan langsung memukul kepalanya saat menemukan alasan kenapa kucing ini sangat berisik. Ah salahkan otak lemotnya itu.

Luhan pun berjalan ke dapur dan menuangkan susu cairnya ke dalam piring dan memotong seperempat roti jatahnya makan dan memberikannya pada kucing itu yang kini tengah berputar-putar di kakinya. Ah dia sangat manis sekali, ingin rasanya Luhan menciumnya lagi. Eh mencium? Ah Luhan ingat sekarang. Apa gara-gara ciumannya semalam kucing itu berubah menjadi sesosok makhluk tampan. Tapi bagaimana bisa? Apa semua kucing jika dicium juga bisa berubah menjadi pemuda tampan.

"Ya tuhan!" Mata rusa itu terbelalak kaget saat jam sudah menunjukkan pukul 05.30. Sial dia terlambat. Harusnya sejak tadi dia bersiap-siap untuk mengantar susu dan koran bukannya malah asik melamun sambil melihat kucing abu-abu itu yang asik menjilati piring susunya. "Ahh Luhan bodoh bodoh bodoh bagaimana kau bisa lupa" runtuknya sepanjang langkahnya untuk bersiap-siap mencuci muka dan mengganti piyamanya dengan kaus dan celana kasual juga mantel tebalnya "nah kucing manis kau tunggu disini ya"

Luhan mengendarai sepeda buntutnya dengan kecepatan maksimal. Dia tidak ingin kehilangan pekerjaannya hanya karena asik melamun. Bagaimanapun dia masih membutuhkan uang untuk biaya hidupnya ini dan juga ada satu lagi makhluk yang dia tampung dirumahnya otomatis pengeluarannya akan bertambah.

"Hosh hosh hosh ma-maaf paman Jung aku telat. Tadi akuhh

Orang yang dipanggil paman Jung itu langsung menoleh dari aktivitas menata rak-rak berisi susu ketika sebuah suara mengagetkannya. Dia hanya tersenyum maklum saat lagi-lagi pegawainya ini telat datang. Dia bukan tipe orang pemarah memang. Pasti Luhan telat juga ada alasan apalagi status Luhan yang masih mahasiswa pasti membuatnya bergadang mengerjakan tugas dan telat bangun begitu pikirnya.

"Tidak apa-apa Luhan-ah. Nah cepat antar susu-susu ini sebelum kau makin kesiangan.

Senyum diwajah Luhan merekah saat sang bos tidak memarahinya "Baik paman Jung. Terimakasih" Luhan membungkuk hormat dua kali dan langsung mengambil dua box susu dan segepok koran siap antar "Aku pergi dulu bos. Dah~"

.

.

.

.

.

"Hey"

"Oh yatuhan Kris! kau mengagetkanku" Luhan menatap Kris dengan wajah yang menampilkan keterkejutannya dan tangan yang masih memegangi dadanya. Niat awalnya untuk buang air kecil hilang sudah karena rasa kaget yang menguasai. Padahal sejak jam pelajaran berlangsung dia benar-benar ingin buang air kecil tapi hanya karena sebuah tepukan di punggungnya hasrat buang air kecilnya hilang.

Kris terkekeh melihat wajah cemberut milik Luhan "Hahahahaha hey tidak perlu memasang wajah seperti itu sayang" diusapnya rambut madu pemuda yang masih mencebikkan bibirnya imut.

"Kenapa?" Luhan membuang napasnya dan sedikit tersenyum kepada laki-laki tampan di depannya. Wajah kesalnya juga berangsur-angsur menghilang melihat senyum hangat milik sang kekasih. Ya Kris adalah kekasihnya, mereka sudah satu tahun berpacaran dan sampai saat ini bisa dibilang masih baik-baik saja. Kris itu tampan banyak sekali perempuan yang menggilainya, dia juga pintar walaupun bukan dalam hal akademis tapi dia adalah kapten tim basket kebanggaan kampusnya yang bisa membuat strategi jitu dan juga Kris itu kaya terlihat dari pakaian yang menempel pada tubuh tegapnya juga kendaraan yang tiap hari berganti.

Kris tersenyum kalem dan merangkul Luhan berjalan menuju kantin "Apa salah jika aku menyapa kekasihku sendiri hmm?" goda Kris "Lagi pula aku sudah tidak melihatmu dua hari ini"

"Salahkan saja turnamen-turnamen bodohmu itu" sungut Luhan kesal. Bagaimanapun Luhan juga merindukan kekasihnya ini. Karena kesibukan Kris yang harus latihan untuk kejuaraan tahunan juga kesibukan Luhan yang harus bekerja membuat intensitas bertemu mereka menjadi sedikit.

"Maafkan aku sayang" Kris menatap Luhan dengan wajah memelas mungkin agar kekasih manisnya ini tidak lagi marah padanya.

"Baiklah-baiklah. Hey untuk apa kita ke kantin. Aku harus pulang kau tau"

"Makan dulu sebentar. Apa kau tidak lapar?" Jawab Kris santai.

"Tidak-tidak. Jika kau lapar makanlah, aku ingin cepat-cepat pulang" keukeuh Luhan yang masih ingin pulang.

"Hahhhh" Kris menghela napasnya dan akhirnya mengalah pada sifat keras kepala Luhan "Baiklah kita pulang. Tapi tunggu sebentar aku ingin memesan makanan dulu. Tidak apa kan?" Setelah mengatakan itu Kris melangkahkan kakinya ke konter makanan dan memilih makanan yang dikiranya akan cukup untuk dia dan Luhan.

"Nah ayo" Kris berjalan menuju Luhan yang tengah asik memainkan salah satu permainan di ponselnya di bangku kantin.

"Sudah?"

"Hmm" Kris menunjukkan dua bungkus makanan di tangan kanannya dan meraih tangan Luhan kedalam genggamannya dan pergi meninggalkan kantin menuju mobil Kris terparkir.

.

.

.

.

.

Clek

"Duduklah dulu aku akan mengambil minum di dapur"

"Hmm" Kris menganggukkan kepalanya singkat dan mulai mengeluarkan makanan yang tadi di belinya. Mata Kris tiba-tiba bertubrukan dengan mata seekor kucing abu-abu yabg tengah bersantai di sofa dengan mata yang tertuju padanya. Sejak kapan Luhan memelihara kucing?. Kris menghendikan bahunya tidak peduli dan melanjutkan aktivitasnya mengekuarkan makanan dari bungkusnya.

"Ini. Maaf aku hanya punya ini" Luhan datang dengan membawa dua kaleng cola di kedua tangannya dan menempatkan dirinya di sebelah Kris.

"Aku tidak tau kalau kau memelihara kucing Lu" tanya Kris setelah selesai menata makanan-makanan itu di meja.

"Kucing? Oh itu. Akh kemaren aku menemukannya saat pulang kerja dan karena aku kasihan padanya aku jadi membawanya pulang"

"Oh begitu. Dia imut juga ya" Kris mengusap kepala sang kucing yang malah dihadiahi gigitan menyakitkan di tangannya "Akhh yak yak" Kris menjerit heboh saat kucing itu menggigit tangannya hingga berdarah. Luhan yang juga kaget langsung menarik sang kucing dan menatap tangan Kris dengan wajah bersalahnya. Luhan bergegas mengambil kotak obatnya untuk luka Kris.

"Kucing ini sangat galak sekali Lu. Seharusnya kau jangan mengambilnya" protes Kris sambil meniup-niup bekas lukanya yang telah tertutupi plester.

"Tapi Kris...

Ah tidak-tidak Luhan tidak boleh menceritakan dulu perihal kucing itu. Bagaimanapun dia juga masih ragu. Bagaimana jika Kris mengatainya gila?. Ah biarlah ini menjadi rahasianya dulu.

Kris menggoyangkan tubuh Luhan yang tiba-tiba melamun "Hey tapi kenapa?" Tabya Kris heran.

"Tidak. Tidak apa-apa. Ayo kita segera makan. Sebentar lagi aku harus segera bekerja"

.

.

.

.

.

"Nah baek yeol duduklah dulu" Luhan mempersilahkan pasangan Chanyeol dan Baekhyun yang mampir setelah mengantarnya pulang. Ya hari ini dengan paksaan Baekhyun lagi Luhan harus menumpang di mobil Chanyeol.

"Ya Lu"

Luhan berjalan ke dapur kecilnya yang juga merangkup menjadi ruang makan untuk mengambil cola untuk tamunya itu.

Cup

"Yak yeol jangan menciumku tiba-tiba" marah baekhyun pada chanyeol yang mencuri ciuman dibibirnya.

"Hey salahkan bibirmu yang sejak tadi merengut minta sekali ku cium" goda chanyeol dengan senyum lebarnya.

Baekhyun semakin marah dan melipat tangannya di dada sambil menghindari tatapan chanyeol "Tsk alasan"

"Hey baek maafkan aku. Oke? Aku tidak akan terlambat menjemputmu lagi lain kali. Ya?" Chanyeol masih memohon-mohon maaf dari kekasih imutnya ini.

"Tidak. Kau itu pem-mmhhhh-yeollhh-mmhh

Chanyeol langsung membungkam bibir baekhyun dengan ciumannya. Dia tidak bisa melihat kekasihnya ini marah. Salahkan kakaknya yang tiba-tiba mengajaknya berbelanja dan membuatnya terlambat menjemput kekasihnya ini. Chanyeol terus melumat bibir Baekhyun lembut tanpa memperdulikan seekor kucing yang tengah menatap aktivitas mereka penasaran.

"Ya tuhan Chanyeol Baekhyun! berhenti melakukan hal-hal mesum dirumahku. Ahh mataku tak polos lagi" Luhan datang dengan wajah tercengang. Dia baru saja meninggalkan mereka sebentar dan saat dia kembali mereka sudah asik memakan bibir satu sama lain.

"Eoh Luhan" mereka langsung melelaskan bibir masing-masing hingga terciptalah benang saliva diantara keduanya. Baekhyun langsung memalingkan wajah meronanya malu sedang Chanyeol malah menatap Luhan dengan tatapan tanpa dosanya.

"Kalian benar-benar mesum" kesal Luhan.

.

.

.

.

.

Miau~

Miau~

"Eoh apa kau sudah kenyang hmm" Luhan mengelus-elus kepala sang kucing yang tengah tiduran diatasnya. Luhan baru saja akan tidur setelah memberi sepiring susu dan seperempat roti seperti tadi pagi kepada sang kucing.

"Hey sebenarnya kau siapa?" Tanya Luhan pada sang kucing.

Luhan masih penasaran dengan sang kucing yang kemarin secara tiba-tiba berubah menjadi sesosok pemuda tampan. Apa itu karna ciumannya? Tapi mana mungkin?. Ah Luhan harus membuktikannya lagi sekali.

Cup

Busshh

Wow kucing itu benar-benar berubah menjadi pemuda yang kemarin dilliatnya yang hanya hanya memakai celana tanpa kaos sehingga dadanya yang bidang tertangkap penglihatan Luhan. Ah lihatlah otot perutnya itu yang membuat Luhan ingin mimisan. Ingin sekali rasanya Luhan menyentuhnya. Tapi... apa tidak apa-apa. Pemuda diatasnya ini benar-benar menggoda dan seksi dengan otot perut yang terbentuk sempurna. Memang otot perutnya tidak terlalu menonjol seperti milik Kris tapi otot perut pemuda di atasnya benar-benar menggoda apalagi saat ini tengah bergesekan dengan perut kerempeng Luhan. Luhan bisa merasakan hangatnya tubuh pemuda ini diatasnya.

Cup

"Mmhh"

Lagi-lagi pemuda itu menciumya. Tidak seperti kemarin yang hanya menjilati bibirnya saja pemuda itu sekarang berani mengemut bibir Luhan dengan seksual.

TBC

Review please