.

Previous Chapter

Tawa itu, hal yang begitu sederhana namun begitu menarik perhatian Kyungsoo. Dimana untuk pertama kalinya Kyungsoo bisa menyaksikan tawa milik seorang Kim Jongin. Entah apa Kyungsoo sedang dalam pengaruh obat atau bagaimana, tapi ia benar-benar menyukai pemandangan tersebut. Kyungsoo begitu menyukai bagaimana pemuda itu tertawa, dimana mata sipitnya itu akan menutup sempurna seperti sedang memiliki dunia sendiri, namun berhasil menyalurkan kebahagiaan pada sekitarnya. Hingga tanpa sadar, kedua sudut bibir Kyungsoo mulai terangkat, dan sedikit demi sedikit ia ikut tertawa meski tidak tahu hal lucu apa yang tengah mereka tertawakan.

Dasar aneh.

Menang begitulah, hal-hal sederhana pun terasa begitu indah saat dijalani bersama dengan orang yang kita sukai. Eh, apa Kyungsoo mulai menyukai Jongin? Ah, bukankah ini terlalu cepat? Yah, Kim Jongin, apa yang sudah kau lakukan pada Do Kyungsoo…

.

.

.

.

.

.

Mutiara Hitam

Kim Jongin X Do Kyungsoo (GS)

By Justmine Lilzy Rewolf

.

CHAPTER 2

-Lovebirds-

.

.

.

.

.

Hari demi hari berlalu. Kedekatan di antara mereka kini tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabuh. Ibu Kyungsoo bahkan sudah mengenal Jongin dengan cukup baik, bahkan sangat baik karena ia sangat senang mendapati putrinya itu membawa seorang teman ke rumah. Ya, sejauh ini Kyungsoo sangat jarang memiliki teman akrab apalagi yang sampai diajak bermain ke rumahnya, dan mendapati Kyungsoo melakukannya, sang ibu pun menganggapnya sebagai perubahan yang sangat baik bagi si manis bermata bulat.

Semua berjalan begitu saja, dimulai dari Jongin yang awalnya sering datang ke rumah Kyungsoo dengan alasan belajar bersama padahal sebenarnya Jongin datang untuk merawat luka tembak Kyungsoo di rumah setelah sempat kepergok saat melakukannya di ruang kesehatan sekolah. Dan lambat laun, Jongin mulai bertindak lebih dengan benar-benar datang ke rumah Kyungsoo untuk belajar bersama sungguhan, layaknya sebuah pertemanan pada umumnya.

Lalu mereka mulai berangkat sekolah bersama, menemani Kyungsoo pergi ke toko buku ataupun menonton film hingga konser musik bersama-sama. Tidak ada yang mengira kedekatan mereka akan berlanjut seperti ini.

Jongin merupakan seorang pemuda yang sangat dingin, namun senyuman hangat bak sang mentari milik Kyungsoo selalu dapat mencairkannya. Mungkin memang tidak mudah, tapi beginilah akhirnya.

Mungkin jika diingat-ingat latar belakang Jongin memang agak berbeda dengan pemuda sebayanya, tapi terlepas dari semua itu, Jongin tetaplah seorang pemuda 18 tahun yang masih bisa merasakan sebuah hal konyol yang biasa disebut cinta.

Entah sejak kapan percikan api itu mulai menyambar, hingga keduanya mulai menyadari bahwa ada perasaan lebih dari sekedar pertemanan diantara mereka. Jongin tidak bodoh, dan ia sadar betul bahwa ia sangat menyukai Kyungsoo.

Mendapati fakta bahwa keduanya memiliki perasaan yang sama, mereka pun memutuskan untuk berpacaran. Lelaki itu membuat Do Kyungsoo menjadi gadis paling bahagia di dunia karena memiliki seorang pacar sekeren Kim Jongin yang tiada duanya.

Kyungsoo seperti dibutakan oleh pesona serta perhatian dari Jongin. Dia pintar, dan Kyungsoo sangat menyukai pria pintar sekaligus keren sepertinya.

Tidak ada hal yang mencurigakan dari Jongin yang ia kenal saat ini, setahunya Jongin hanyalah seorang yatim piatu yang tinggal di sebuah flat kecil di sebuah pertigaan berjarak satu kilo dari sekolah. Ia sering datang ke sana, dan semuanya baik-baik saja. Ia tak masalah jika Jongin tak memiliki keluarga, hal itu malah membuatnya semakin semangat untuk menemani Jongin kapanpun sang lelaki malang merasa kesepian.

Ia beranggapan bahwa Jongin mungkin memiliki peran dalam dunia gelap, namun Kyungsoo yakin dia bukanlah pemeran utamanya. Mungkin Jongin membutuhkan uang untuk hidup, selama Jongin baik-baik saja dan menurutnya tidak ada yang bermasalah Kyungsoo tidak merasa keberatan.

Ia tak terlalu ingin mencampuri urusan Jongin dan berusaha memberi privasi kepada pemuda itu, dan Jongin tampak sangat menyukai pilihan yang diambil oleh Kyungsoo. Prinsip mereka yaitu untuk saling berbagi kebahagiaan, bukan mengumbar aib satu sama lain.

"Siap untuk kencan?"

"Ya Tuhan, kau mengagetkanku!" Kyungsoo tersentak saat suara familiar itu menyapa secara tiba-tiba dari belakangnya.

"Aku memacu motorku dengan kecepatan tinggi sedangkan kau masih belum bersiap sama sekali, kau anggap aku apa, huh?!" kata Jongin dingin namun Kyungsoo cukup menganggap hal itu lucu.

Gadis itu melepas apron yang melekat pada tubuhnya, mematikan kompor dan tersenyum tanpa dosa. "Aku mengirimkan pesan untuk membatalkan acara kencan kita."

"Kapan?"

"Satu menit yang lalu?" Kyungsoo menggulirkan bola matanya ke atas seolah tengah berpikir. Dan sebuah sentilan kuat didapatnya setelah itu. "Yak! Sakit!" serunya sambil mengusap kening yang sedikit memerah.

"Tidak ada pembatalan! Cepat bersiap atau kubawa kau dengan pakaian seperti ini!"

"Arasseo! Aku baru selesai memasak, belum sempat memakannya dan kau sudah menculikku seperti ini. Menyebalkan!" gerutunya sambil berlalu dari sana. Tangannya meremat apron menjadi gulungan kecil, lalu melemparnya pada keranjang pakaian kotor di sudut ruangan dan menghilang setelah keluar dari dapur.

Jongin tersenyum sendiri, sudut matanya melirik makanan yang baru selesai dimasak oleh Kyungsoo. Benar, gadis itu sangat pandai memasak di usianya yang terbilang masih belia. Dan Jongin pikir, gadis yang bisa memasak itu... seksi.

.

.

.

.

.

Mereka pergi dengan membawa motor milik Jongin. Demi Tuhan, ini pertama kalinya Kyungsoo naik motor. Biasanya mereka selalu naik bus atau berjalan kaki, tapi kali ini Jongin sedang ingin memamerkan motornya. Gadis itu memeluk tubuh Jongin erat karena takut jatuh. Bukannya Kyungsoo yang bertingkah berlebihan, tapi salahkan Jongin yang mengendarai motornya seperti orang kesetanan.

Tanpa memiliki tujuan yang jelas, mereka akhirnya berhenti di sebuat taman hiburan yang cukup besar, tentu saja saran dari Kyungsoo. Ia sedikit kekanakan, dan Jongin hanya pasrah saat gadis itu menyeretnya untuk membeli bando dengan bentuk-bentuk lucu yang sama sekali bukan gayanya. Tapi demi membuat Kyungsoo senang, baiklah, anggap saja ia tak mau merusak acara kencan pertama mereka.

"Jongin-ah, kita bermain itu!" Kyungsoo menunjuk sebuah permainan di mana terdapat banyak lubang dan mereka harus memukul apapun yang keluar dari lubang itu secepat mungkin. Mereka harus beradu cepat untuk mendapat skor tertinggi dalam waktu satu menit.

"Itu mainan anak kecil, Kyungsoo."

"Siapa bilang?! Kita beradu cepat dan yang kalah harus mentraktir permen gulali yang besar."

"Kalau kau yang kalah?" tanya Jongin ringan yang membuat Kyungsoo diam dan berpikir keras.

"Aku... Kau mau kubelikan permen gulali?" tanyanya tidak yakin yang dibalas dengan muka datar oleh Jongin.

"Lupakan, kau tidak pandai bernegosiasi." Jongin mengalungkan tangan pada pundak Kyungsoo dan berniat menyeretnya menjauh, tapi gadis itu memang senang sekali membantahnya.

"Aku ingin bermain itu Jongin! Sebentar saja, membeli dua koin tidak akan menghabiskan uangmu!"

Jongin tersinggung jika sudah ada yang membicarakan uangnya. Dia bukan pria miskin meski hidup seorang diri, jadi ia langsung menuruti keinginan Kyungsoo. Seperti yang diduga, gadis itu kalah di akhir permainan, dan tebak apa? Jongin tetap membelikannya permen gulali meski ia menang dengan alasan Kyungsoo yang mengatainya curang. Kyungsoo bilang kekuatan mereka tidak sepadan, dan itu tidak adil baginya. Baiklah, anggap saja wanita selalu benar.

"Jongin, banyak gadis yang memperhatikanmu," ujar Kyungsoo di sela langkah santai mereka. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa para gadis itu tetap melirik Jongin meski jelas-jelas lelaki itu tengah mengalungkan tangannya pada Kyungsoo dengan posesif.

"Tentu saja, karena aku tampan." Jongin menyibak rambutnya dengan tangan, sengaja menunjukkan dahi kebanggaannya yang membuat beberapa gadis hampir tersedak air liurnya sendiri.

"Aku menyesal telah mengatakan hal itu," balas Kyungsoo dengan nada sedatar permukaan lapangan ice skating.

"Kau ingin melihatku yang lebih tampan?" Kyungsoo mendongakkan kepala, menuntut penjelasan dari kalimat yang diucapkan oleh Jongin. "Aku lebih tampan jika sedang menembak." Jongin menambahkan sebuah seringai setelahnya.

"Lalu?"

Bola mata Jongin terputar jengah, "Kau tidak ingin melihatku saat menembak?"

"Tidak. Aku sudah pernah melihatnya dan itu tidak keren, lebih tepatnya mengerikan."

"Tapi kau juga menembak salah satu dari mereka saat itu."

"Itu berbeda! Aku menembaknya untuk pertahanan diri, bukan untuk kesenangan."

"Kau pikir aku melakukannya untuk bersenang-senang? Aku melakukannya untuk bertahan hidup." Kyungsoo menghela napas, dia tak suka pembicaraan seperti ini. Mereka selalu berdebat saat membicarakan tentang kehidupan Jongin. "Kemarilah!" Lelaki itu menarik Kyungsoo dan membawanya ke sebuah tempat permainan. "Pilihlah, kau ingin hadiah yang mana?"

Kyungsoo menatap barang-barang yang disusun di depan tempat tersebut, dan ia baru menyadari jika itu adalah tempat permainan menembak. "Aku tidak sedang menginginkan apapun."

Tentu saja, apa yang bisa Jongin harapkan dari Kyungsoo. Sudah dikatakan kalau gadis itu senang sekali membantahnya bukan? "Boneka yang besar itu? Aku mengerti," ujarnya asal yang langsung mendapat tatapan sinis dari Kyungsoo. Jongin bertanya pada penjaga permainan itu dan dia harus menembak sebanyak lima kali tanpa satupun yang meleset untuk mendapatkan boneka besarnya.

Lima tembakan yang Jongin arahkan, semuanya meleset, dan itu sukses membuat mood Kyungsoo membaik terbukti dari bagaimana renyahnya ia tertawa. Tawanya manis sekali, terlalu manis hingga Jongin sangat ingin untuk mengecap bibirnya.

"Kupikir kau sekeren itu tapi ternyata tidak," ujar Kyungsoo di sela tawa meledek yang sampai membuatnya sedikit tersengal.

"Aku penembak terbaik, eoh!"

"Baiklah, tapi kenyataannya kau tidak berhasil menembak satupun targetmu, Kim Jongin-ssi." Kyungsoo terkikik geli, berbanding terbalik dengan Jongin yang memasang muka datar.

"Baiklah, aku main lagi!" ujarnya tak terima sambil kembali merogoh kantongnya untuk membeli koin. "Kemarilah!" Jongin menarik tubuh Kyungsoo, sedikit memaksa, lalu melingkarkan tangannya di belakang sang gadis.

"Yah! Apa yang kau lakukan?!"

"Diam dan ikuti saja!" Posisi Jongin berada di belakang Kyungsoo, menarik tangan Kyungsoo dan menyuruhnya memegang senapan yang ia gunakan, lalu tangannya ikut menuntun Kyungsoo untuk membidik sasarannya. "Jangan melihatku, fokuslah pada sasaranmu!"

"Menembak seperti tadi saja tidak bisa apalagi dengan posisi seperti ini?! Kalau ingin memelukku bilang saja!" ejeknya yang langsung mendapat pukulan di kepala dari Jongin. Tidak terlalu keras sebenarnya, tapi bagi Kyungsoo rasanya sudah seperti tidak sengaja membentur tembok. "Yah! Sakit! Kau ini kasar sekali sih!"

Bukannya menyesal Jongin malah terkikik lucu, "Makanya, kalau tidak mau seperti itu menurutlah padaku!" Lelaki itu memfokuskan pandangan pada bidikannya, sedangkan Kyungsoo hanya mengikuti pergerakan Jongin dengan asal-asalan. Ya, tidak peduli Kyungsoo berusaha atau tidak, kuasa ada di tangan Jongin. Anggap saja ini hanya modusnya agar bisa memeluk Kyungsoo. Cih, lelaki memang seperti itu.

Dor-Dor-Dor-Dor-Dor!

Tembakan berlangsung sebanyak lima kali dengan beruntun. Kyungsoo tidak habis pikir dan ia hampir saja mengomel kenapa Jongin membuang-buang pelurunya begitu saja namun pekikan seorang penjaga permainan tersebut mengalihkan seluruh perhatiannya. Dia berseru heboh menanyakan asal-usul Jongin seperti, Apa kau seorang polisi? Apa kau Snipper? Apa kau tentara? Bahkan hingga, Apa kau pemain drama yang menjadi tentara tampan itu? Yang benar saja.

Dan ya, entah dapat keajaiban dari mana lelaki itu berhasil menembak dengan poin sempurna dan Kyungsoo harus berakhir kerepotan dengan membawa boneka sebesar ukuran tubuhnya saat ini.

"Siapa yang memintamu untuk mendapatkan boneka ini?!"

Jongin menata poni rambut hitamnya sendiri dengan gaya sok sibuk berusaha untuk menghindari amukan Kyungsoo.

"Setidaknya kalau mau memberi jangan menyusahkanku begini! Orang-orang terus melihatku dan mereka mulai berpikir aku adalah maskot taman bermain!"

"Arasseo!" Jongin menarik paksa boneka itu, wajah kesalnya tidak dibuat-buat dan telinganya benar-benar panas karena kecerewetan Kyungsoo. "Kalau begitu, tunggu di sini! Jangan kemana-mana dan tunggu hingga aku kembali!" titahnya sambil menyuruh Kyungsoo duduk di sebuah bangku kecil.

Lelaki itu kemudian hilang untuk beberapa saat, butuh waktu hampir sepuluh menit bagi Kyungsoo untuk menunggu hingga Jongin kembali dengan cegiran tengilnya yang membuat matanya menyipit sempurna.

"Kau kemanakan boneka itu?"

"Kubuang di dekat wahana permainan air, banyak gazebo dan tanaman rimbun di sana. Kupikir tidak akan ada yang tahu." Sebuah cengiran ia tambahkan untuk melengkapi kalimatnya.

Kyungsoo menggedikkan bahunya acuh, ia tak ingin peduli meski jujur saja jauh dalam hatinya sedikit penasaran, tapi catat yang bagian awal! Dia . Tidak . Peduli.

"Kupikir kau menyukai boneka, ada banyak boneka beruang di kamarmu." Jongin meraih tangan Kyungsoo dan menggenggamnya selagi mereka kembali berjalan.

"Aku memang menyukainya, aku hanya tidak suka saat kau menyuruhku membawanya seperti tadi," ujarnya sedikit cemberut. Jangan bilang dia mulai meyesal karena Jongin tidak jadi memberinya boneka. Seharusnya Jongin mulai belajar, karena ketika seorang gadis berkata tidak maka itu artinya iya, sedangkan jika iya itu artinya tidak. Ah, dasar wanita.

Jongin menganggukkan kepala mengerti. Ia diam sebentar, lalu melepas gandengan tangannya dan berdiri tepat di depan Kyungsoo sambil mengamati penampilan gadis itu dari atas hingga bawah.

Kyungsoo tengah menggenakan dress berwarna cerah yang tingginya hampir mencapai lutut. Sebuah flat shoes membungkus kaki jenjangnya sedangkan rambut panjang berwarna coklat kemerahan yang sedikit bergelombang dibiarkan tergerai begitu saja. Kyungsoo sangatlah cantik, menggemaskan, dan… entahlah, Jongin tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Yang pasti gadis itu sangat menggemaskan hingga Jongin ingin merematnya hingga habis. Apalagi saat ia tersenyum, ingatkan Jongin untuk tetap bernapas dengan baik di depannya.

"Kurasa penampilanmu... Sangat feminin," ujarnya dengan sangat terkontrol. Dia tengah menahan napasnya, atau menahan yang lain? Ah, sudahlah.

Gadis itu turut mengamati tubuhnya terlebih dahulu sebelum menjawab, "Memang, kenapa? Kau tidak suka?"

"Bukan tidak suka, tapi pelaku kejahatan banyak mengincar gadis polos sepertimu," jawabnya sambil kembali berjalan dan menggenggam tangan Kyungsoo.

"Apa aku terlihat polos?"

"Apa menurutmu kau tidak?"

Kyungsoo menganggukkan kepalanya cepat. "Ya, kurasa kau memang ada benarnya." Genggaman tangan Jongin berubah menjadi rangkulan saat menyadari beberapa pemuda tampak memandangi tubuh gadisnya. Kyungsoo sedikit merasa insecure, tapi keberadaan Jongin selalu berhasil memberinya perasaan aman. "Lalu aku harus bagaimana?"

"Jangan pergi kemanapun jika tanpa aku."

Kyungsoo menyikut tubuh Jongin sedikit kuat hingga lelaki itu mulai berakting kesakitan. "Itu bukan sebuah solusi, kau tidak bisa selalu ada tiap kali aku membutuhkanmu!"

Jongin berpikir sebentar, lalu memutuskan sesuatu tanpa meminta persetujuan Kyungsoo. "Baiklah, kalau begitu kau harus menuruti semua peritahku. Ini demi kebaikanmu jadi jangan menolaknya!"

Pikiran Kyungsoo menebak bahwa Jongin akan memberinya senjata untuk menjaga diri, atau yang lebih ekstrim lagi dia akan menugaskan dua orang bodyguard untuk menjaganya kemanapun ia pergi. Tapi sepertinya bayangan Kyungsoo terlalu jauh, dia sama sekali tidak mengerti saat Jongin membawanya untuk memasuki sebuah salon kecantikan.

"Kenapa kau bawa aku ke sini?!"

"Kubilang kau tidak boleh membantah, jadi jangan membantah!"

Jongin memanggil seseorang yang seperti sudah dikenalnya, membisikkan sesuatu lalu wanita cantik berambut pendek itu menarik Kyungsoo untuk duduk di sebuah kursi yang membelakangi cermin. Sudut pikiran Kyungsoo bertanya sejak kapan Jongin berteman dengan noona-noona penjaga salon, tapi siapa peduli? Ia hanya diam saat wanita itu mulai menyentuh rambutnya, memotong bahkan mengecatnya sekaligus. Ia hampir saja berontak namun tatapan tajam yang Jongin berikan seakan mengisyaratkan pada tubuhnya untuk tetap terpaku di tempat.

Sentuhan make up tipis juga diberikan pada bagian akhir. Wanita cantik itu tersenyum cerah saat mengembalikan Kyungsoo kepada Jongin yang langsung menariknya pada sebuah dinding yang terbuat dari cermin hingga menampilkan keseluruhan penampilannya saat ini.

Demi Tuhan! Ini sangat bukan Kyungsoo sekali!

Gadis itu memekik sambil menutup mulutnya sendiri. "Kau membuatku terlihat seperti wanita di film yang selalu memegang pistol." Kyungsoo tertawa sambil menggerakkan poninya yang masih terasa janggal, dia tak penah memiliki poni. "Kurasa aku butuh kacamata hitam Jongin, dan juga baju kulit ketat dari atas sampai bawah. Ini menggelikan, apa tidak terlalu aneh?"

Jongin terkekeh sambil menggelengkan kepala melihat gadis itu masih sibuk mematut penampilan barunya sedikit heboh.

"Tidak, kau tampak cantik."

Ya, cantik. Dress yang sama masih melekat di tubuhnya, namun rambut panjangnya yang kini menjadi lurus dan berwarna hitam legam membuatnya tampak jauh berbeda. Jangan lupakan juga poni yang menutupi seluruh keningnya, jenis poni yang tidak membuatnya semakin imut tapi semakin menambah kesan dewasa.

Make up girly dan lipstik pink yang menaungi bibirnya dihapus, membuat wajahnya terkesan sangat natural dengan smookey eyes namun tak menghilangkan aura cantik. Apalagi ditambah dengan lensa mata berwarna hijau. Gadis itu masih menggemaskan, namun terlihat jauh lebih tegas dan dewasa. Membuat Jongin tidak lagi ingin merematnya sampai habis melainkan melempar gadis itu ke ranjangnya untuk melakukan sesuatu yang terkadang ia ingin lakukan.

"Bagaimana?" tanya Jongin setelah kewarasannya kembali.

"Wow!" Kyungsoo tersenyum tanpa menambahkan apapun setelahnya.

"Wow, bagaimana?"

Gadis itu tersenyum lagi, "Wow, biasa saja." Dia terkikik saat menyadari ekspresi kecewa Jongin yang sudah mengharapkan lebih.

Lelaki itu memberantakkan rambut Kyungsoo sebagai ajang penyaluran rasa kesalnya, membuat rengekan sang gadis mau tak mau ia dapatkan yang entah kenapa itu malah membuat senyumnya semakin lebar. Jongin suka gadis manja, di mana ia bisa menjadi satu-satunya superhero keren yang akan melindunginya.

.

.

.

.

.

"Kenapa harus menyuruhku?! Kau bilang aku mendapat libur dua hari, mengapa tidak menyuruh si Albino itu saja?!" suara Jongin menggema sejak kakinya melangkah memasuki ruangan tersebut.

"Sudah kubilang berhenti memanggilku Albino, Kai!" seru pemuda yang merebahkan diri di sofa meski sama sekali tidak diabaikan oleh Jongin.

Dia langsung menuju sebuah meja besar di tengah ruangan dan menghempaskan tubuhnya kasar pada kursi di depannya. Seseorang dengan telinga caplangnya yang khas tampak sudah sedari tadi menunggu sambil menyilangkan kaki beserta sigaret yang dengan setia terselip di kedua bibirnya. Ruangan itu gelap dan dipenuhi kepulan asap yang mampu membuat penderita asma kambuh seketika, tapi Jongin sudah terbiasa.

"Ada Sehun di sini kenapa tidak menyuruhnya?! Apa kau tidak bisa melihatku tenang barang sehari saja?!" protes Jongin lagi.

Sehun mendesis, "Bicaramu seperti anjing betina baru melahirkan. Lihat, baru sehari punya pacar saja sudah berani menolak tugas," ejek Sehun yang langung mendapat tatapan mematikan dari Jongin. Andai Chanyeol tidak ada di sana, sudah dipastikan mereka sama-sama berakhir dengan lebam di wajahnya.

"Sehun sedang ada transaksi setelah ini. Aku akan menambah masa liburmu jika kau menyelesaikan ini dengan baik," kata Chanyeol dengan nada tenang, lebih tepatnya kelam, sambil memberikan sebuah foto pada Jongin.

Dia mengamati foto itu sejenak, menyimpan ingatan wajah yang akan menjadi sasarannya dengan baik agar ia tak salah orang. Dia tidak pernah memiliki riwayat salah orang, tapi Jongin merupakan sosok perfeksionis yang menginginkan semua kerjanya berjalan dengan mulus.

"Kudengar kau dekat dengan gadis sekelasmu," ujar Chanyeol santai sambil menaruh beberapa kertas berisi informasi targetnya di depan Jongin. Sedikit pengalihan topik ceritanya, tapi jika Chanyeol yang sudah bicara, maka tidak ada yang sanggup menyalahkan.

Pandangan Jongin langsung beralih pada Sehun, mendapati pemuda albino itu menggedikkan bahunya acuh. Sial, pasti dia yang sudah menjadi mata-mata dan melaporkan hal ini pada Chanyeol. Jongin cukup dekat dengan Sehun, tapi untuk masalah seperti ini dia sama sekali tidak bisa mempercayai siapapun.

Jongin berdecak, "Jangan khawatir, dia tidak akan merepotkanmu," tuturnya dengan baik.

Chanyeol tersenyum sambil menghembuskan kepulan asap dari bibirnya. Ingat, ketika Chanyeol tersenyum, bukan selalu berarti bahwa dia sedang bahagia. Dia memiliki banyak tipe senyum, dan salah satunya adalah yang bisa membuatmu mati berdiri. "Kim Kyungsoo. Gadis yang memergokimu menembak, terlibat saat perseteruan dengan Darker lalu berakhir menjadi kekasihmu. Bukankah dia terlalu berani?"

"Dia gadis baik-baik yang tidak pernah memiliki catatan kejahatan. Dia hanya gadis rumahan, Chanyeol. Berhenti mempermasalahkan itu."

"Justru karena dia gadis baik-baik, kuharap dia tidak menjadi kelemahanmu."

Jongin menghela napas. Chanyeol memang yang terbaik dalam membolak-balikkan kalimat.

"Sehun, kembalikan motorku sampai di flat. Akan kupakai besok pagi," kata Jongin setelah ia selesai membaca tumpukan kertas yang ada di tangannya.

"Untuk kencan?"

Sehun bukanlah hal yang cukup penting untuk ia tanggapi. Jongin beralih pada tempat penyimpanan senjata untuk memilih yang akan ia gunakan. Hingga suara ketukan heels menyapa gendang telinganya, dan ia mulai merasa jengah saat langkah kaki itu semakin dekat.

Hanya ada dua wanita yang lancang masuk ke ruangan Chanyeol, dan kabar buruknya, mereka sama-sama suka menggoda.

"Hei Tampan, akan pergi berburu?" sapanya riang sambil duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Jongin. "Kudengar kau punya seorang gadis, tidak ingin mengenalkannya padaku? Aku penasaran secantik apa gadis yang bisa mengambil hatimu, meski aku tidak yakin apa kau masih punya hati."

Lihat? Pasti berita itu sudah menyebar ke seluruh telinga orang yang ada di Black Pearl dan Jongin sepenuhnya menyalahkan Sehun atas kejadian ini.

"Yang pasti jauh lebih baik darimu, Lu."

"Jangan mengatai wanitaku seperti itu! Gadis belo itu bahkan tidak lebih cantik dari Luhan!" bela Sehun tidak terima ketika Luhan, kekasihnya, mendapat kalimat tidak mengenakkan dari Jongin.

"Berhenti memanggilnya gadis belo atau kau mati di tanganku!" ancam Jongin yang jika dilihat oleh orang awam, maka mereka akan seratus persen yakin bahwa Jongin akan membunuh Sehun.

"Astaga, Kai! Aku tidak pernah melihatmu membela seorang gadis hingga seperti ini!" Luhan terkikik dan sedikit tersipu sambil dibuat-buat setelah mendengar ancaman Jongin, tapi malangnya, yang diajak bicara malah tidak merespon. "Kai, kau masih dendam padaku karena aku meminta Sehun meminjam motormu?! Ayolah, jangan bersikap seperti seorang gadis," tambah Luhan saat Jongin berlalu begitu saja dari hadapannya sambil membawa koper kecil berisi senjata. Sehun menghadangnya, dan mau tidak mau ia tertahan beberapa saat untuk mendengar celotehan tidak penting mereka.

"Jadi kencan di mana, huh? Kuharap kau tidak cukup nekat untuk membawanya langsung ke flatmu," goda Sehun.

"Ah, sudah ada yang mau kencan ya? Kurasa tidak akan jauh dari taman bermain, bukankah gadismu suka hal seperti itu?!" sahut Luhan ikut-ikutan.

"Itu tidak akan terjadi!" seru Jongin.

Wanita rusa itu menertawakan kalimatnya, "Berani bertaruh kau akan berakhir dengan hal seperti itu, aku juga pernah menjadi gadis polos yang kasmaran, Kai! Percaya padaku," ujarnya mantap sambil memberikan sebuah kerlingan untuk Jongin.

"Ada banyak gadis cantik di sekolah, kenapa kau tetap bertahan dengan tante-tante menyebalkan itu, huh?" ujar Jongin sambil menendang kaki Sehun hingga mengaduh, jelas sekali sindiran itu ditujukan untuk siapa.

Sehun dan Luhan memang beda empat tahun, dan parahnya Luhan yang memegang usia lebih tua hingga terasa sedikit aneh. Dan hal itu selalu menjadi bulan-bulanan Jongin tiap kali si pemuda kesal dan ingin balas menggoda mereka.

"KIM KAI! SIALAN KAU!" teriakan Luhan menggema, tapi ia hanya tersenyum sambil berlalu dari ruangan tersebut. Tugasnya menunggu, ia hanya harus menyelesaikannya dengan baik lalu besok berkencan dengan Kyungsoo.

Jongin menggelengkan kepalanya saat mengingat kalimat Luhan, menertawakan betapa mustahilnya jika ia benar-benar harus masuk ke taman bermain yang seumur-umur tidak pernah dia kunjungi kecuali saat ia kecil dulu. Namun siapa yang tahu, ketika keesokan harinya Jongin benar-benar berakhir di sana dengan bando di kepala serta permen gulali di tangan kanannya. Mungkin begitulah cinta bekerja. Selalu mampu mencairkan yang dingin atau bahkan membekukan yang panas sekalipun.

.

.

.

.

.

.

.

"Jangan menggunakan bando lagi! Itu sama saja merusak semua usahaku untuk mengubah dandananmu!" seru Jongin sambil menarik bando dari kepala Kyungsoo.

"Apa aku terlihat baik?"

Jongin menganggukkan kepala. "Jangan terlalu sering menggunakan dress, terlalu girly."

"Siapa kau mengatur-atur hidupku?!"

"Apa aku terlalu mengekangmu?" tanya Jongin serius dengan muka polosnya yang membuat Kyungsoo membulatkan bola mata. Bukankah Jongin yang biasanya lebih sering melemparkan candaan?!

"Aku bercanda! Serius sekali sih," ujarnya sambil mendaratkan sebuah pukulan di bahu Jongin.

Lelaki itu mengerucutkan bibirnya, sedikit, lalu kembali menggenggam telapak tangan Kyungsoo dan menatapnya dengan tatapan yang tak bisa gadis itu terjemahkan. Jongin kemudian tersenyum, sebelah tangannya meraih sesuatu di saku celana lalu mengarahkannya di depan wajah Kyungsoo.

Tringg..

Sebuah kalung menjuntai, berwarna putih lengkap dengan liontinnya yang menarik perhatian. Liontin tersebut berbentuk seperti angka delapan namun bagian atasnya memiliki ukuran lebih kecil, berbanding terbalik dengan lingkaran bawahnya yang lebih besar dengan mutiara berwarna hitam memenuhi tengahnya dan butiran-butiran permata turut memberikan kesan cantik di sana. Satu yang pasti, Kyungsoo yakin harganya tidak murah.

"Kau tidak terkejut?" tanya Jongin saat Kyungsoo memasang wajah datar. Sebenarnya bukan datar, ia hanya bingung bagaimana harus berekspresi.

"Memangnya kenapa?"

"Seorang gadis harusnya terkejut saat sang pria memberinya sebuah hadiah seperti ini."

"Kau tidak bilang kalau itu untukku!"

Jongin menghela napas jengah, "Baiklah, ini untukmu!"

"Woahhh," ujar Kyungsoo sedikit dilebih-lebihkan.

"Terlambat!"

Gadis itu tertawa manis sambil menyentuh liontin yang tergantung di tangan Jongin. "Di mana kau mendapatkannya?!" Kyungsoo sama sekali tak bisa menyembunyikan nada bahagia dalam suaranya.

"Di semak-semak saat membuang boneka tadi."

Gadis itu berdecak, "Kau tidak romantis sekali!"

"Sudah kubilang aku bukan pria romantis, jadi jangan pernah mengharapkan hal-hal manis dariku."

"Ini mutiara hitam?" tanyanya lagi sambil menyentuh benda hitam pejal di bagian tengah liontinnya.

"Bukan, itu kotoran kambing."

Kyungsoo kembali tertawa hingga bibir manisnya membentuk sebuah heartshape, "Kau pria lucu."

"Aku tidak lucu!"

"Kau pria dingin."

"Kurasa itu terdengar lebih baik," kata Jongin sambil menganggukkan kepalanya setuju membuat Kyungsoo berdecih. Ia tak ingin menunggu lebih lama, dibukanya kaitan kalung itu lalu menatap Kyungsoo memintanya untuk mendekat. "Kemarilah, biar kupakaikan."

Seperti anjing peliharaan, Kyungsoo begitu tunduk dengan perintah Jongin. Ia sedikit menunduk saat lelaki itu berusaha mengaitkan kaitan kalung di lehernya. Posisi mereka begitu dekat, hingga Kyungsoo bisa merasakan helaan napas hangat Jongin yang menerpa pipinya.

Serbuk merah mulai menjalari wajahnya. Ia selalu merasa nyaman tiap kali berbicara dan saling melemparkan candaan bersama Jongin, tapi entah kenapa tiap kali lelaki itu berubah menjadi lebih serius jantungnya mulai berpacu lebih kuat.

Jongin memiliki sisi yang membuat tubuh Kyungsoo hampir meleleh seperti lilin yang terbakar api. Wangi musk dari tubuh Jongin semakin membuat kulitnya meremang, dan Kyungsoo tidak pernah mengerti ketika terkadang sentuhan lembut Jongin mampu mengirimkan energi listrik berkekuatan kecil pada tubuhnya.

Jongin menyentuh rahangnya saat Kyungsoo sibuk menunduk memperhatikan kalung baru, menyembunyikan wajah merah lebih tepatnya. Lelaki itu menarik wajahnya untuk diangkat, sedikit berlebihan hingga gadis itu mendongak, dan saat itu juga Jongin mempertemukan bibir mereka dengan cara yang manis.

Tangannya melingkar di pinggang Kyungsoo memaksa gadis itu untuk semakin dekat. Perbedaan tinggi mereka membuat Jongin harus menunduk, namun semua itu terasa pas dan tak kurang sedikitpun.

Kyungsoo terbelalak. Jongin menekan bibirnya lebih dalam, hanya sekedar kecupan namun itu sudah cukup untuk membuat kewarasan Kyungsoo tercerai berai.

Tidak terlalu lama hingga Jongin melepasnya dan mendapati wajah Kyungsoo yang masih terkejut dan tak bisa diartikan, Jongin sudah bersiap jika saja gadis itu akan menamparnya kuat-kuat karena sudah lancang.

Namun nyatanya gadis itu hanya diam, menundukkan kepala lagi setelah Jongin melepas pelukannya dan menjadi salah tingkah. Membuat Jongin tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Apa aku yang pertama?"

Lalu gadis manis itu mengangguk malu bercampur ragu.

Astaga! Bagaimana mungkin Jongin mencuri sebuah ciuman begitu saja?! Ayolah, ia tak bisa menyamakan Kyungsoo dengan gadis yang biasa ia temui. Dia berbeda, Kyungsoo gadis baik-baik dan seharusnya Jongin memperlakukannya dengan istimewa.

"B-bukan yang ini, maksudku, yang di sungai malam itu," jelas Kyungsoo lagi tanpa mengangkat kepalanya.

Oh, jadi ini ciuman kedua mereka. Kyungsoo menganggap yang itu sebuah ciuman? Tapi waktu itu Jongin hanya berusaha memberi napas tanpa maksud apapun, meski faktanya bibir mereka juga sama-sama bertemu. Ah, sudahlah.

"Kau tak apa?" tanya Jongin setelah menyadari gadis itu menunduk terlalu lama. Dia pikir Kyungsoo sudah terbiasa dengannya, tapi ternyata gadis itu masih bisa tersipu juga pada saat-saat seperti ini. "Jangan diam seperti ini, rasanya sangat aneh."

"A-apa aku juga yang pertama?" Jongin menggigit bibirnya sendiri. Matanya menatap Kyungsoo tanpa tahu harus memasang ekspresi seperti apa, berusaha memilah kata, tapi gadis itu kemudian mendahului jawabannya. "Oh, aku mengerti. Itu tidak mungkin terjadi kan?" lalu gadis itu tertawa, sedikit hambar.

"Hm, kau tidak sedang cemburu kan?"

"Aku?! Tidak!"

"Kenapa panik begitu?"

"Untuk apa aku cemburu padamu?!"

"Ayolah, wajahmu memerah dan kupikir kau tengah malu saat ini."

Kyungsoo melepas genggaman mereka dan berjalan mendahului, sedikit menghentakkan kaki kesal saat melangkah yang semakin membuat senyuman kembali terukir di bibir Jongin. Mengapa gadis itu begitu menggemaskan hingga Jongin hampir membuang seluruh harga diri hanya untuk melihat tawa manisnya yang membuat Jongin jatuh cinta.

.

.

.

.

.

.

Lelaki itu menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu di rumah Kyungsoo, di kamar lebih tepatnya. Itu sudah biasa bagi mereka, meski faktanya baru beberapa hari menjadi pasangan kekasih, tapi Jongin sudah sering keluar masuk rumah Kyungsoo untuk belajar bersama. Ada taman kecil yang bisa dijangkau dari kamar Kyungsoo, dan mereka biasa memanfaatnya untuk belajar bersama.

Gadis itu baru kembali setelah memenuhi panggilan dari Ibunya. Ia menutup pintu pelan saat mendapati Jongin tengah memejamkan mata di atas ranjang.

Kamarnya selalu tertata rapi, ada banyak buku yang ditata dengan begitu teratur di sebuah rak tinggi hingga memerlukan tangga jika ingin mengambil yang bagian atas. Ruangan tersebut didominasi oleh warna putih dan coklat gelap pada beberapa furnitur. Langit-langit yang tinggi membuatnya terasa begitu megah meski sebenarnya tidak sebesar itu.

Ada pintu dan kaca besar yang menjadi sumber cahaya utama saat siang hari di ruangan itu. Dan di luarnya langsung terhubung dengan taman kecil. Sebenarnya lebih ke sebuah balkon, namun ukurannya cukup luas dan ditanami dengan rumput hijau yang subur ditambah dengan beberapa pohon membuatnya tampak segar.

Pagarnya dibangun seperti tembok bercat putih bersih namun hanya sebatas dada orang dewasa, jadi mereka tetap bisa melihat pemandangan dari lantai dua rumah Kyungsoo. Pantas saja Jongin sangat betah di sana. Rumah Kyungsoo jauh lebih nyaman ketimbang flatnya yang tampak kumuh, meski sebenarnya juga tidak sekumuh itu.

Ayah Kyungsoo seorang desain ruang jadi tidak heran jika rumahnya sangat bagus, tapi sayangnya dia tengah bekerja di Cina. Jadi Kyungsoo hanya tinggal berdua dengan Ibunya.

Gadis itu melangkah ke arah dinding kaca dan menarik gordennya agar Jongin tak merasa silau. Lalu saat ia berbalik, lelaki itu ternyata sudah membuka mata sambil menatapnya.

"Kupikir kau tidur," ujar Kyungsoo sambil duduk di kursi depan meja rias, menyilakan kakinya di atas sana sambil menarik tumpukan buku yang sudah ia siapkan sejak beberapa hari lalu.

"Kau pikir aku ke sini hanya untuk menumpang tidur?" jawabnya sambil mengubah posisi menjadi duduk di atas ranjang.

"Argh, kau menghancurkan jadwal membacaku," ujarnya sambil menjatuhkan kepala di atas tumpukan buku tersebut.

"Jadi buku lebih penting daripada aku, huh?" sahutnya tak terima.

"Aku sudah terbiasa membaca buku setiap hari, apalagi di akhir pekan seperti ini."

"Aku sudah menyempatkan waktu untukmu. Kau tahu kan? Waktu liburku tidak datang setiap hari, jadi nikmati saja!" Jongin memasang wajah datar menunjukkan bahwa dirinya tengah merasa kesal.

"Memangnya apa yang kau lakukan sih? Aku tidak begitu mengerti tentang pekerjaanmu, apa kau mencuri bank?"

Sebuah bantal langsung melayang tanpa kendali dan beruntung Kyungsoo berhasil menghindarinya. "Aku bukan pencuri bank! Aku tidak serendah itu dan aku tidak pernah mencuri milik orang lain! Ingat itu!"

"Lalu apa?!" tanya Kyungsoo jengah. "Mengedarkan narkoba?"

"Terkadang."

"MWO?!" Kyungsoo melajukan kursinya yang memiliki roda hingga menabrak pada sisi ranjang dengan cepat, dia hanya asal bertanya dan tidak percaya dengan jawaban Jongin. "Demi Tuhan! Kau hanya bercanda kan?!"

"Sungguh, kadang aku melakukan itu. Aku melakukan apapun yang diperintah oleh Chanyeol."

"Lelaki itu menyeramkan." Kyungsoo bergidik saat ingatan di mana Chanyeol yang pernah hampir menyentuhnya saat itu benar-benar menjadi trauma tersendiri.

Jongin terkekeh, "Jadi kau takut padanya? Dia pemimpin Black Pearl, sudah sepatutnya dia ditakuti."

"Kau bekerja sangat keras untuknya, tapi apa kau mendapat imbalan yang sesuai? Kupikir kau tidak sekaya itu."

"Siapa bilang?!"

"Setidaknya sewa tempat tinggal yang lebih baik, flatmu sudah sangat cocok untuk menjadi tempat peternakan ayam!"

Jongin terkekeh mendengarnya. Kyungsoo berlebihan, flatnya sangat baik, mungkin karena pencahayaan yang kurang dan cat yang gelap membuatnya tampak sedikit suram. "Jangan salah, eoh! Aku bisa membeli apapun yang kumau sekarang, aku punya motor mahal. Kau mau mobil? Aku bisa membelinya. Penjahat memang suka tinggal di tempat seperti itu, Soo. Mereka tidak suka mendapat perhatian."

"Ohhhh, jadi kau itu penjahaaat?" Kyungsoo menganggukkan kepalanya sok mengiyakan. Nada yang ia gunakan lebih mirip seperti anak TK yang baru tahu kalau Matahari terbit dari Timur.

"Menurutmu?"

"Tapi kau tidak pernah jahat padaku."

"Eum, mau kujahati?" tawar Jongin sambil mengangkat sebelah alisnya disertai sebuah seringai.

"Aishh." Kyungsoo menahan senyumnya sambil tersipu. Menghindari tatapan Jongin yang tengah menertawakannya begitu senang.

"Aigoo, begitu saja memerah, hm?"

"Jongin, aku bertanya serius. Apa kau juga ikut memakai hal-hal seperti itu?" tanya Kyungsoo pelan, ia membicarakan tentang obat terlarang yang tadinya dibicarakan oleh Jongin. Dahinya berkerut pertanda bahwa ia tengah khawatir, dan Jongin kembali tersenyum menyadari hal itu.

Diusapnya kepala Kyungsoo pelan lalu beralih untuk menggenggam tangannya. "Jangan khawatir, aku cukup tahu kalau itu hanya merusak tubuhku. Tidak ada anggotaku yang memakainya." Jongin tersenyum lagi, sedikit menenangkan rasa gundah Kyungsoo.

"Kau merokok?"

"Terkadang, saat aku ingin."

"Jangan merokok lagi!"

"Permintaan diterima." Jongin menjawabnya begitu ringan seakan tanpa beban, seperti tanpa berpikir terlebih dahulu dan itu cukup membuat Kyungsoo frustasi. Tidak bisakah ia serius sedikit?!

Gadis itu mengerang dan melepas genggaman tangannya. "Aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu, aku berusaha menahannya tapi ini benar-benar mengganggu pikiranku. Apa kau baik-baik saja?! Maksudku, kejadian malam itu, aku hampir mati karena serangan jantung dan bahuku sampai tertembak. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa kau melakukan hal-hal seperti itu di setiap harimu!"

"Aku baik-baik saja, Soo."

"Itu berbahaya Jongin!"

"Tidak, kau hanya tidak terbiasa!" Kyungsoo diam, sadar bahwa ia tak berhak mengatur hidup Jongin tapi ia tak ingin hal buruk terjadi pada lelakinya. "Aku terbiasa, aku sudah terlatih Soo. Kau pernah melihat film action? Pemeran utama tidak pernah mati, semuanya terasa begitu mudah dan berjalan dengan lancar."

"Ini sangat menyenangkan, hanya seperti bermain game. Kau pernah melihatku terluka sejauh ini? Tidak kan? Bahkan lecet sedikitpun tidak sama sekali. Aku baik-baik saja, ia tidak seburuk yang kau bayangkan. Kejadian seperti malam itu tidak selalu terjadi, hanya sesekali saja dan aku bisa mengatasinya," sambung Jongin.

"Tapi kau panik saat itu!" bantah Kyungsoo.

"Aku panik karena membawamu. Kau tidak terlatih, apalagi saat bahumu tertembak. Aku hanya tidak tahu harus kubuang ke mana mayatmu jika kau mati."

"Aish!" Satu pukulan mendarat di dada Jongin. Kyungsoo sudah cukup berusaha, tapi tetap saja tangannya yang malah berakhir sakit karena dada Jongin sangat keras.

"Pukulanmu lemah sekali."

"Aku perempuan dan kau laki-laki, tentu saja berbeda!" semburnya karena sedang merasa kesal.

Jongin menarik ujung hidung Kyungsoo gemas, "Baiklah, jangan marah-marah seperti itu. Ingin kuajari bela diri?"

"Huh?" Gadis itu hanya bergumam, berlagak acuh tapi Jongin yang sudah berdiri sempurna langsung menarik tangan Kyungsoo sambil berjalan hingga mau tak mau gadis itu terseret bersamaan dengan kursi yang didudukinya. "Yah! Bisa meminta dengan baik tidak sih?!"

"Kau yang mengacuhkanku duluan."

"Tapi tidak seperti itu juga, kalau tanganku putus bagaimana?!"

"Pernah membaca novel action?"

"Belum."

"Nanti kubelikan. Yang banyak, yang genre fantasi sekalian juga boleh. Aku tahu kau suka itu."

Kyungsoo mengulum bibirnya. Di mana lagi ia bisa menemukan sosok pacar seperti Jongin yang selalu mengerti dan bisa membuat suasana hatinya membaik.

Jongin tidak pernah menyukai buku, tapi ia akan menjadi sangat serius ketika membaca beberapa sinopsis di cover belakang tiap kali Kyungsoo meminta pendapatnya. Lelaki itu tak suka menunggu, tapi dia tak pernah protes tiap kali Kyungsoo memintanya untuk menemani membaca buku di perpustakaan sekolah.

Jongin memang selalu berkata bahwa dirinya sangat tidak romantis. Tapi bagi Kyungsoo, pemuda itu sangatlah manis. Entah dari sisi yang mana, pemuda tampan dengan segala pesona gelapnya itu selalu bisa menarik hati Kyungsoo dan membuatnya merasa nyaman. Meski tak pernah diucapkan, atau mungkin ini memang terlalu cepat untuk diucapkan. Kyungsoo sangat menyayangi pemuda itu, sangat menyayanginya hingga berharap untuk menjadi sosok yang dianggap oleh Jongin.

Ya, karena masih terlalu banyak yang disembunyikan oleh Jongin darinya. Kyungsoo merasa dirinya masih bukanlah apa-apa.

Mereka menghabiskan hari itu bersama-sama. Jongin mengajari Kyungsoo beberapa dasar ilmu bela diri. Hanya untuk jaga-jaga, setidaknya Kyungsoo harus bisa menjaga dirinya sendiri saat Jongin tak ada di sana. Tidak terlalu banyak, karena mereka juga lebih tertarik untuk bermain-main dan tertawa bersama.

Jongin juga ikut makan bersama di rumah Kyungsoo, hingga hari hampir petang dan ia pun harus berpamitan. Jujur saja separuh hatinya masih ingin tinggal, tapi ayolah! Dia masih punya muka yang harus tetap dijaga di depan Ibu Kyungsoo. Tidak mungkin ia berada di rumah gadis itu seharian atau dia akan dikira gelandangan yang tidak memiliki tempat tinggal, jadi ia memutuskan untuk pulang setelah menghabiskan sepiring makanan yang dibuatkan langsung oleh Kyungsoo. Lumayan kan? Setidaknya ia tidak perlu mencari makan malam lagi di flat nanti.

"Jangan mengebut saat mengendarai!" perintah Kyungsoo saat lelaki itu tengah memakai pelindung kepalanya.

"Tentu," ujarnya tanpa berpikir dan sekali lagi itu membuat Kyungsoo kesal.

"Berpikirlah sebelum berbicara! Kau membuatku tidak mempercayai ucapanmu."

Lelaki itu terkekeh, "Baiklah, aku tidak bisa kalau tidak mengebut. Motorku berjalan sendiri dan aku tidak bisa mengendalikannya."

"Mana ada seperti itu!" Kyungsoo melipat kedua tangannya di dada. "Jangan mengebut di jalanan! Nyawamu itu hanya satu, kalau menabrak bagaimana?!"

"Ini aku Kyungsoo, tidak akan menabrak. Jangan cerewet seperti itu!"

Kyungsoo mencebikkan bibirnya. Jongin sangat keras kepala, melarangnya ini itu hanya terdengar seperti dengungan seekor lebah di telinganya. Ia tak akan pernah mendengarkan. Kyungsoo mengenalnya dengan baik dan seharusnya ia tidak membuang-buang tenaganya untuk mengatur Jongin yang memang dasarnya tidak bisa diatur.

"Arasseo, kalau begitu hati-hati!"

"Hm, aku pergi."

Suara deruman motor menggema di kompleks yang sepi itu. Kyungsoo menghela napas, lain kali ia tak akan mau dijemput Jongin untuk naik motor lagi. Dia lebih suka naik bus bersama atau bahkan berjalan kaki seperti biasanya. Lebih aman, nyaman, tentram dan terjamin.

Dia baru saja kembali ke dalam rumah dan menutup pintu utama, tapi belum juga langkah pertamanya sampai, bel di pintu gerbang depan berbunyi memaksanya untuk segera kembali dibukakan.

Ya Tuhan! Sejenak pikirannya berspekulasi apa Jongin kembali lagi? Tapi mengingat ia tak mendengar suara motornya, gadis itu langsung membuka pintu dan dengan langkah setengah hati ia membuka gerbang yang jauh lebih tinggi dari tubuhnya.

"Permisi, Anda memiliki sebuah paket."

Kyungsoo termangu sejenak, apa orang ini tidak sedang salah alamat?

"Dengan Nona Kyungsoo?"

"Ya?"

"Silahkan tanda tangan di sini." Lelaki yang lebih tua darinya itu menyodorkan sebuah kertas lengkap dengan bulpennya untuk ditandantangani. Kyungsoo masih tidak mengerti, ia tidak sedang memesan barang online apapun dan dia juga sangat jarang mendapat paket. Apa dari Ayahnya? Kenapa tidak menelpon dulu?

Lelaki itu meminta izin untuk mengambil barangnya sebentar setelah Kyungsoo mengembalikan kertas tadi. Dan detik itu juga ia sadar mengapa tak bertanya langsung kepada si petugas saja siapa yang mengirim paket untuknya? Ia merutuki kebodohannya sendiri. Do Kyungsoo dengan versi bodoh merupakan hal yang paling langka di Bumi, menurut Kyungsoo sendiri sih.

Orang itu kembali, Kyungsoo hampir bertanya namun suaranya tertahan saat bibirnya masih setengah terbuka tanpa mengeluarkan suara. Boneka itu?! Ya Tuhan!

Kyungsoo tersenyum sendiri saat menerima boneka sebesar manusia dari si petugas pengirim paket setelah mengucapkan terima kasih. Ia tak perlu bertanya lagi siapa pengirimnya bukan?

Astaga! Apa tadi ia sempat benar-benar berpikir bahwa Jongin akan membuang boneka ini begitu saja? Untuk kesekian kali Lelaki itu membodohinya lagi. Jadi, apa kalimat Do Kyungsoo dengan versi bodoh merupakan hal yang paling langka di Bumi masih berlaku?

Kyungsoo memeluk boneka itu erat dan mengubur wajah penuh senyumnya di sana. Astaga, apa lagi ini?! Boneka itu memiliki bau seperti Jongin, apa dia menyemprotkan parfum yang biasa ia pakai pada boneka ini? Kyungsoo mengendusnya beberapa kali, dan ia selalu berakhir dengan wajahnya yang merona sendiri. Rasanya benar-benar seperti tengah memeluk Jongin.

"Yah! Kim Jongin! Berhenti membuatku senang!" geramnya seorang diri.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

Mutiara Hitam

-160717-

.

Ini telat, aku sangat tahu itu kok... Maaf, ternyata lebaran tahun ini jauh lebih sibuk. Ini lama buangettt, janjinya seminggu malah jadi dua minggu lebih. Aku harus memperbaiki tulisanku, yang mana itu susah buangettttttt. Bahkan aku ga yakin apa ini udah lebih baik atau enggak.

Aku banyak ngelakuin kesalahan di gmss, dan parahnya aku ga mau tau sama hal itu. Di gmss aku terlalu terpaku sama deadline yang akhirnya nulis kayak dikejar-kejar Jongin *eh :v Jadinya yang aku pikirin Cuma gimana bisa update cepet, bukan hasil tulisannya. Akibatnya.. Tiap tulisan yang jadi langsung diupload tanpa melalui proses editing, dan parahnya lagi, setelah diupload aku masih ga mau baca ulang! Dan jadilah aku ga pernah tau kesalahanku, jadi tidak melakukan perbaikan. Aku, lelah... Aku banyak belajar dan cari referensi tapi kadang otakku malah jadi penuh :D *efek kelamaan liburan mungkin..

Jadi maaf kalo mungkin update ga selalu bisa cepet, dari pada malah ancur semua mending nulis santai aja, meski aku gak yakin jadinya bakal lebih bagus atau nggak xD Dan satu lagi, aku ga tau kenapa, akhir-akhir ini cuma bisa nulis kalo udah jam sepuluh malem naik, akibatnya aku diomelin ibu terus karena paginya malah tidur, chapter ini aja selesai ngedit jam setengah tiga pagi… Hmm, aku berusaha guys, serius.. Kadang aku juga berpikir untuk keluar dari dunia seperti ini, tapi masih ada mimpi yang harus dicapai *eaaak dan aku masih terlalu sayang kaliannn... Yakali, di ffn masih newbie masa udah mau keluar ajin :v

Hehe, ini banyak banget curhatnya. MIND TO REVIEW?! Cerita baru readers baru, readers lama juga boleh kok, kekeke... Jangan kebawa karakter GMSS! Move on guys! Karakter mereka bakal beda *seharusnya sih.. Dan tidak ada sequel GMSS jadi yang ngerasa minta jangan nungguin oke :)

Kalo kurang garem bilang aja, biar aku tau harus gimana. Kata guruku, "Jangan ada dusta di antara kita." :D Tapi kalo ngasih kritik sekalian sama sarannya yaaa, biar aku ngerti maunya gimana, okay! ;)

Thanks for reading, fav, follow, anad review… See you in the next chap…

WTF with anica?! ini upload ulang, tadi sempet dihapus. Ga tau kenapa file asli kan aku copas, dan yang aku upload malah berubah jadi anica semua -_- syalan, kesel kan jadinya…