Untuk beberapa saat, kita kembali ke masa saat Ookanehira masih duduk dibangku SMA di Hizen.
Hizen adalah sebuah desa pertanian, hampir 80% warganya adalah seorang petani dan pengusaha pertanian yang paling sukses di Hizen adalah milik Keluarga Aoe.
Ibu dan bapak Ookanehira adalah buruh petani yang bekerja di ladang milik Aoe, walaupun begitu Tuan Aoe pun tidak menganggap mereka sebagai bawahan yang harus disuruh-suruh dengan kasar, beliau selalu menganggap mereka sebagai kawan yang bekerja sama dengannya untuk menyuburkan tanaman. Karena itulah hampir seluruh warga desa Hizen sangat menghormati Tuan Aoe.
Sifat baik hati Tuan dan Nyonya Aoe tentu menurun kepada anak pertama mereka, Juzumaru Tsunetsugu, walaupun ia lulus sebagai sarjana ekonomi tidak membuatnya bekerja dibidang keuangan, ia memilih untuk meneruskan usaha kedua orang tuanya dan membuat banyak perubahan yang sangat memuaskan. Tuan Aoe pun melepaskan usahanya itu kepada sang anak, lagi pula beliau sudah sangat tua untuk bekerja.
Juzumaru yang indah memang sangat memikat hati banyak orang, baik lelaki maupun perempuan, termasuk Ookanehira yang sering membantu kedua orang tuanya bekerja di ladang Aoe.
Sepulang sekolah, selesai berlatih basket, ia langsung saja mengganti pakaiannya dan bekerja di ladang, lalu melihat Juzumaru yang sedang mengawasi anak buahnya di ladang sebelah utara. Melihat dari jauh saja sudah cukup membuat hati Ookanehira berdebar kencang tidak karuan.
"Oke, sabtu pukul 4 sore, Ookanehira-san kepergok memandang Juzumaru Tsunetsugu dengan pandangan mesum, tercatat," sebuah suara mengalihkan pandangan Ookanehira dari Juzumaru, manik abu-abunya memandang kesal seorang pemuda berjersey biru yang sedang membawa buku dan pulpen di kedua tangannya.
"Siapa yang memandangnya mesum dan-Hei! Kau benar-benar mencatatnya?!" Ookanehira memandang makhluk hijau di hadapannya tak percaya.
"Loh tentu saja dong, Juzu-nii memintaku untuk mengawasi pekerja di ladang ini dan mencatat tindakan aneh mereka yang mungkin merugikan pertanian kami dikemudian hari…" ujar Nikkari seraya tersenyum, senyum yang terasa menyebalkan bagi Ookanehira.
"A-aku memang memandangnya tetapi bukan pandangan mesum!" ujar Ookanehira seraya merebut catatan Nikkari lalu mencoret kalimat aneh yang Nikkari tuliskan di buku itu.
Nikkari Aoe, adik dari Juzumaru Tsunetsugu, sudah sangat tahu kalau kawannya ini menyukai kakaknya sejak mereka masih duduk dibangku SMP. Sudah berulang kali Nikkari menyuruh Ookanehira untuk menyatakan perasaannya dari pada bertingkah bodoh dengan memendamnya lebih dari 3 tahun lamanya, entah ditolak atau tidak itu kan urusan belakangan, tetapi Ookanehira sendiri yang menolak melakukannya.
"Nee… Kamu sudah memikirkan mau kemana setelah lulus nanti?" tanya Nikkari yang masih betah berdiri di dekat Ookanehira yang mulai melakukan pekerjaan kembali.
"Orang tuaku menyuruhku untuk melanjutkan kuliah, padahal kerja di sini saja sudah menyenangkan," jawab Ookanehira sekenanya.
Nikkari mengambil catatannya kembali lalu duduk di atas batu berukuran sedang, memilih untuk mendudukkan dirinya dan melihat kawannya itu bekerja. Biasanya ia juga ikut membantu melakukan pekerjaan di ladang, tetapi untuk kali ini ia merasa malas melakukannya.
"Tentu saja mereka ingin kau kuliah, coba bayangkan? Kakakmu saja sudah menjadi salah satu orang yang penting di perusahaannya sedangkan adiknya malah bercita-cita menjadi kuli? Kalau kau memang ingin menekuni pekerjaanmu ini kan kau bisa lanjut kuliah di pertanian," ujarnya kemudian.
"Aku bahkan tidak pernah belajar untuk masuk perguruan tinggi,"
"Kalian berdua bisa belajar bersama untuk ujian masuknya, jangan andalkan jalur undangan, kesempatannya kecil sekali,"
Sebuah suara halus sontak membuat Ookanehira menghentikan pekerjaannya lalu berbalik untuk melihat sumber suara itu.
"Hee… Kau terdengar tengah meremehkanku Juzu-nii, aku malas harus berkutat dengan soal-soal menyebalkan itu,"
"Sudah kubilang jangan meremehkan jalur itu Nikkari…"
Bukannya Juzumaru tadi masih ada ladang sana? Kok tiba-tiba saja sudah ada di sini sih?
Jantung Ookanehira berdetak kencang lagi deh.
"Ookanehira, kau baru saja pulang dari latihan kan? Istirahat dan pulanglah," ujar Juzumaru seraya berjalan mendekati Ookanehira lalu mengambil cangkul yang sedari tadi Ookanehira pegang.
Ookanehira yang masih terpukau dengan keindahan Juzumaru pun lekas mengerjap-erjapkan kedua matanya seraya menggelengkan kepala, "Ah tidak-tidak, aku tidak merasa capek kok," ujarnya gelagapan.
"Istirahat saja, setelah ini pekerja lainnya juga akan pulang, kau pulanglah terlebih dahulu," ujar Juzumaru seraya tersenyum lembut.
Senyum sangat indah di mata Ookanehira.
"Bengong lagi…" gumam Nikkari terkikik ketika melihat Ookanehira mengangguk patuh dengan pandangan masih terus menatap Juzumaru.
Cinta pertama Ookanehira adalah Juzumaru, walaupun Juzumaru selalu dan akan selalu menganggapnya sebagai seorang adik, cintanya pun tidak akan hilang.
Saat ini, Ookanehira baru saja pulang dari Buzen untuk mengikuti ujian masuk Universitas negeri yang paling dekat dari Hizen. Ia mengikuti ujian masuk sendirian karena Nikkari berhasil masuk lewat jalur undangan.
"Hah, sudah lama aku tidak kembali ke kampung halaman, mungkin aku akan ngeteh dahulu di kedai Maiko-san. Tolong bawakan barangku ya," dengan seenaknya sendiri Uguisumaru memberikan tas ranselnya kepada Ookanehira lalu melangkahkan kakinya menuju kedai teh yang sudah sering ia datangi sejak kecil.
Ookanehira memilih untuk menurut karena dia sendiri sudah capek untuk menolak permintaan dari kakaknya yang juga ikutan pulang itu. Ia pun berjalan menuju rumahnya dan saat melewati rumah sederhana milik keluarga Aoe itu, alisnya pun berkerut melihat suasana rumah itu yang sedikit ramai.
'Mungkin ada tamu keluarga,' batinnya tidak peduli lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Setiap minggu, ia selalu berdoa di kuil agar ujian masuknya sukses dan ia berhasil diterima di Universitas yang ia inginkan. Lagi pula ia juga ingin memberi tahu kesuksesannya ini kepada Juzumaru dan melihat senyum lembut milik Juzumaru.
Ia sudah memutuskan, jika ia berhasil lulus dari SMA dan lulus masuk perguruan tinggi, ia akan menyatakan cintanya kepada Juzumaru, mau diterima atau pun tidak, ia akan menerimanya, walaupun ia lebih memilih untuk diterima.
Akan tetapi, takdir berkata lain…
Ia berhasil lulus dari sekolah menengah walaupun bukan menjadi lulusan yang terbaik dan ia berhasil masuk universitas di jurusan yang diinginkannya, seharusnya ia bahagia dengan itu semua kan?
"Aku… Aku sangat menyukaimu Juzumaru-san, aku sudah sangat mencintaimu sejak dulu, aku ingin kau menjadi kekasihku."
Juzumaru terdiam. Terkejut. Tidak ia sangka teman dekat adiknya itu menyatakan cinta kepadanya.
Angin sore membelai mereka berdua dalam keheningan. Sorot mata Ookanehira yang terlihat sangat serius cukup membuat Juzumaru tidak mengeluarkan pertanyaan 'Apakah kau bercanda' seperti pada umumnya.
Lelaki berambut abu-abu hitam panjang itu menghela napas pelan, lalu menggelengkan kepalanya.
"Maaf Ookanehira, aku akan menikah dua minggu lagi."
Jika memang bisa terdengar, mungkin Juzumaru akan menutup kedua telinganya mendengar retakan hati Ookanehira yang hancur tidak karuan.
.
.
.
.
Disclaimer : & Nito+
Rating : T
Genre : Romance and Drama ( plus Humor garing )
Pair : Ookanehira x Kasen slight Ookanehira x Juzumaru, ( pair rahasia yang terbuka di chapter selanjutnya )
Warning : PairCrack, typo (s), BL, yaoi , AU, garam yang melimpah, gajeness.
.
.
Happy Reading!
.
.
Pertandingan latihan klub basket Buzen baru saja selesai dilakukan, terdengar suara tawa membahana dari si berisik Izuminokami karena teamnya berhasil menang dengan mengalahkan team yang beranggotakan Ookanehira.
"Wohooo aku menang lagi, haduhh asinn asinn, mana janjimu yang akan mengalahkanku hmm?" seru Izuminokami seraya tertawa lebar.
"Aku sudah pernah menang melawanmu tahu!" sahut Ookanehira tak kalah keras.
"Oh ya? Kapan ya? Aku saja lupa, apa karena aku terlalu sering menang ya?" Izuminokami masih tertawa keras seraya berjalan meninggalkan Ookanehira.
"Sudah.. Sudah… Jangan didengarkan, Izuminokami-san memang seperti itu orangnya," Monoyoshi, bocah SMP kelas 2 yang sedari tadi diam menunggu giliran latihan pun mendatangi Ookanehira seraya menyerahkan botol minuman.
Ookanehira memilih untuk menganggukkan kepalanya lalu meminum air putih itu dengan cepat walaupun tangannya sendiri telah mengepal erat.
Malas ia selalu meladeni Izuminokami yang selalu mengomporinya, entah kenapa semenjak ia bergabung dan menunjukan kebolehannya dalam bermain basket, Izuminokami selalu saja mengajaknya berduel. Ada kalanya ia memenangkan pertandingan dan bocah SMA itu malah semakin mengomporinya.
"Itu artinya dia mengakui kalau kau hebat Ookanehira-san, Izuminokami-san sudah gabung klub ini sejak kelas 5 SD, bersamaan denganku yang masih kelas 3 SD dan ia selalu bersikap seperti itu kepada anggota yang hebat," ujar Monoyoshi seraya terkikik.
Hilih kintil, tetap aja bocah itu menyebalkan.
Ookanehira mengelap wajahnya dengan handuk yang telah ia gantungkan di pundaknya lalu kembali menatap Monoyoshi yang masih memandangnya dengan senyum. Senyum ceria khas bocah smp.
Oh ya ngomong-ngomong tentang Monoyoshi…
"Oh ya, Monoyoshi, kau memiliki seorang kakak? Anak kuliahan?"
"Iya aku punya, dia juga masih kuliah, semester akhir! Di Universitas Buzen juga!" jawab Monoyoshi ceria.
Bingo!
"Siapa namanya?" tanya Ookan penasaran.
"Kikkou Sadamune!"
Heh, bukan Kasen ya, tapi kok pernah dengar nama itu ya…
"Hukuman buatmu ya… ahh… nggak ada hukuman buat kamu deh, nanti malem kita ke love hotel aja gimana?"
Ingatan mengerikan saat ospek kembali menghantui dirinya.
Ia memilih untuk berlari mengelilingi lapangan rektorat dari pada tidur bersama senpainya yang aneh itu.
"Ookanehira-san kenal sama Nii-san ya? Gimana? Dia baik kan? Dia calon dokter loh! Aku benar-benar ingin seperti dia!"
Waduh? Mahasiswa kedokteran ternyata? Ookanehira jadi kasihan sama pasien yang ditangani oleh dia nantinya.
Jadi Monoyoshi bukan adiknya Kasen? Terus yang mana yang adik senpainya itu?
"Okay, aku balik dulu ya! Ada janji kencan nih!"
"Okay okay! Sudah pulang sana!"
Ookanehira melihat Izuminokami yang telah mengganti pakaian olahraganya menjadi seragam sekolah lalu berjalan keluar ruangan latihan seraya menenteng tas sekolahnya.
Bocah itu beneran anak sma rupanya, batin Ookanehira. Dari pada itu, bukankah latihan belum selesai? Kenapa bocah itu pulang duluan?
"Kalau dilarang pun percuma, Izuminokami-san pasti bakalan kabur, lagi pula dia ace tim basket Buzen, pelatih pun tidak melarangnya asalkan Izuminokami-san masih terus berlatih dan tidak bertindak aneh-aneh,"
Ohh, agak diistimewakan nih, Ookanehira pernah merasakan itu saat SMA dulu.
Akan tetapi, terlepas dari sifat menyebalkannya, bocah itu memang membuatnya kagum, masih kelas 1 SMA sudah menjadi ace tim utama Buzen. Walaupun sombong tetapi ucapannya bukanlah omong kosong. Saat pertandingan dimulai, wajahnya menjadi sangat serius, konsentrasinya sangat tinggi, kedua manik birunya seakan selalu menatap pergerakan bola tanpa ada yang bisa mengganggunya.
Sikap seperti itu, Ookanehira seperti pernah melihatnya.
Sekilas, ingatakan pertama kali saat ia bermain voli dengan team beranggotakan 4 junior + 3 senior kembali teringat. Saat itu ia berada satu tim bersama senpai yang beberapa hari kemudian ia ketahui bernama Kasen, senpai itu menarik perhatiannya karena ia berada di posisi setter – jadi memang bukan dia saja yang memperhatikan senpai berambut ungu itu - , tanpa berbicara banyak, senpainya itu selalu bisa mengoper dengan baik kepada spiker.
Wajah yang menjadi sangat serius…
Konsentrasi yang sangat tinggi…
Selalu menatap pergerakan bola tanpa ada yang bisa mengganggunya…
Sikap itu… Kok sama persis ya?
Ookanehira menampar pipinya sendiri.
'Aku harus meniru sikap mereka jika ingin menjadi pemain yang hebat!' batinnya dengan cepat mengalihkan pikiran aneh yang sempat merasuki otaknya.
"Hei… hei… Dengar-dengar pacarnya Izuminokami itu lebih tua dari dia loh~ Mereka udah pacaran sejak Izumi kelas 3 SMP!"
Hah, kawan-kawannya itu, bukannya berlatih malah bergosip ria. Dari pada bengong, ia pun memilih untuk meneruskan latihannya saja.
..
..
..
Kali ini, kita kembali memasuki dunia perkuliahan Ookanehira, ia tidak satu kelas dengan Nikkari tetapi terkadang mereka juga sering berjumpa.
Karena ia sudah sering berkutat dengan pertanian, materi-materi dasar yang diajarkan di awal semester sudah sangat ia kuasai, bahkan di kuis pertama ia berhasil mendapat nilai 100. Akan tetapi, nilainya sedikit jelek di pelajar bahasa Jepang.
Apa-apaan itu? Kenapa ada pelajaran bahasa Jepang di kelas pertanian?
Kata kawannya sih, semua fakultas pasti mendapatkan matkul bahasa jepang di semester pertama karena diwajibkan oleh Universitasnya. Ookanehira yang sejak sma sangat tidak menyukai pelajaran bahasa dan sejarah Jepang – padahal namanya sendiri ada di dalam sejarah Jepang – sangat malas jika berhadapan dengan kelas bahasa Jepang.
…Apalagi dosen bahasa Jepangnya itu sangat menyebalkan minta ampun.
"Aku ingat sekali jika minggu kemarin menyuruh kalian semua untuk membuat sebuah haiku, sederhana kan? Kenapa kau tidak membuatnya Ookanehira-san?"
Dia lupa, benar-benar lupa atau memang sengaja ia lupakan. Entahlah, pokoknya Ookanehira memang tidak suka jika harus membuat tugas itu.
Karena ia tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh sang dosen, Ookanehira pun ditahan oleh dosen berambut hitam itu di dalam ruangan sang dosen.
Mikazuki Munechika, itulah nama sang dosen. Dia termasuk dosen muda walaupun ia selalu bertingkah seperti orang tua lanjut usia, karena itulah banyak mahasiswa yang memanggilnya 'Jiji'
"Kamu ingin dihukum apa hm?" Mikazuki masih terus tersenyum walaupun sorot matanya memperlihatkan sebaliknya. Dia memang dosen yang baik tetapi lelaki itu tidak suka jika ada muridnya yang tidak mengerjakan tugas sesuai yang dijanjikan.
Ookanehira memilih untuk diam.
"Nilaimu memang bagus-bagus di mata kuliah yang lain, bahkan kau berhasil mendapat nilai 100 di kelas Oodenta-san yang terkenal sebagai salah satu dosen yang galak, apa mempelajari bahasamu sendiri terasa sulit?"
Ookanehira masih terdiam. Tidak mungkin kan ia berkata jika ia memang tidak suka dengan matkul bahasa Jepang? Nilai bahasa inggrisnya saja masih lebih mending dari pada nilai bahasa jepangnya.
Lagi pula, kenapa dia masih terus saja tersenyum sih? Menyebalkan sekali tahu!
"Ayolah jangan diam saja, aku memang sudah biasa sih didiamkan sama kekasihku kalau lagi ngambek, tapi kan kamu bukan pacarku,"
'Siapa juga yang mau jadi pacarmu, dosen somplak!' Batin Ookanehira dalam hati.
Di tengah keheningan, suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Mikazuki dari Ookanehira, setelah berseru 'masuk' orang yang mengetuk pintu itu pun mulai memasuki ruangan milik Mikazuki.
"Sensei, ini tugas yang dikerjakan kelas saya pagi hari tadi,"
"Baik, taruh saja di sini," ujar Mikazuki. Sosok itu menaruh tumpukan kertas di atas meja Mikazuki dan pandangannya jatuh kepada Ookanehira yang menghela napas kasar melihat kehadiran orang itu.
"Ohh Ookanehira ya? Kau melakukan kesalahan apa?"
Ya bisa dibilang presentasi pertemuan mereka cukup tinggi sih.
"Dia tidak mengerjakan tugas Haiku yang aku berikan," jawab Mikazuki seraya tersenyum, "Kau mengenalnya…. umm..?"
"Nikkari, nama saya Nikkari Aoe, Mikazuki-san," ujar Nikkari seraya tersenyum hormat, "Ookanehira adalah kawan saya dari Hizen, kami satu tempat tinggal bersama kakaknya."
"Ohh Hizen ya…" sepertinya pembicaraan tentang hukuman-buat-Ookan sedikit teralihkan akibat Nikkari, "Aku juga punya kawan yang asli Hizen,"
"Mungkin maksud anda…" Nikkari melirik Ookanehira yang sepertinya tahu siapa yang Mikazuki maksud, "Juzumaru Tsunetsugu?"
"Ah kau benar, dari lima anggota grup Tenka Goken, dialah yang menikah terlebih dahulu, sayang sekali aku tidak bisa mendatangi pernikahannya karena ada urusan di luar negeri," ujar Mikazuki dan sontak membuat Ookanehira ingin sekali melarikan diri dari ruangan ini.
Tenka Goken adalah kumpulan lima mahasiswa yang sudah memberi banyak prestasi untuk Universitas Buzen, bisa dibilang kelima mahasiswa ini adalah generasi emasnya Buzen. Tidak ada lagi mahasiswa yang bisa merebut gelar itu karena Universitas memang sengaja memberikannya kepada kelima mahasiswa dalam tahun sama yang selalu membanggakan universitas Buzen.
"Dia memang orang yang terkenal di desanya, aku ingat dulu pernah dia ajak ke kampung halamannya dan banyak orang orang desa yang menyapanya," dan sepertinya Mikazuki tengah bernostalgia dengan masa lalu, "Sampai di rumahnya, kami berlima disapa dengan seorang anak kecil yang sudah menyiapkan berbagai cemilan untuk kami, ternyata itu adiknya. Saat itu aku jadi ingat kalau ibuku juga tengah mengandung adikku yang keempat hahaha!"
Nikkari masih tetap tersenyum menikmati cerita dari sang dosen, "Dia memang dihormati oleh orang desa dan mungkin Mikazuki-san sudah lupa tetapi anak kecil yang anda maksud adalah saya."
"Oh ya? Ah benar! Bagaimana mungkin aku lupa jika kau adiknya Juzumaru, dulu kau masih kecil, sd kalau tidak salah,"
"Ah anda benar. Saya masih sd saat itu, saya juga baru tahu jika anda Mikazuki Munechika saat Nii-san memberi tahu saya,"
"Ya ampun, hahaha ini cukup mengejutkan untukku, lain kali bagaimana jika ngeteh, bersama Oodenta mungkin, cuma kami berdua anggota Tenka Goken yang ada di Buzen, anggota lain sudah kerja sendiri-sendiri di luar negeri. Oodenta juga mengajar di kelasmu kan? Apakah dia tahu?"
"Sepertinya belum."
Mereka berdua pun tertawa dan terus menerus membahas Juzumaru Tsunetsugu tiada henti. Abaikan Ookanehira yang sudah semakin asin saat mendengar nama itu terdengar melulu, apalagi pandangan Nikkari yang sesekali meliriknya, seakan sengaja membawa Mikazuki ke dalam pembicaraan tentang Juzumaru dan Tenka Goken.
"Oh ya Ookanehira-san, buat hukuman kau buat 10 Haiku ditambah mencari 10 haiku tokoh sejarah di masa lalu dan kumpulkan kepadaku tiga hari dari sekarang. Ada urusan yang harus aku lakukan, kalau sampai kau tidak mengumpulkan lagi, aku tidak segan-segan memberi nilai D untukmu," Mikazuki yang sudah selesai berbincang dengan Nikkari segera saja memutuskan hukuman untuk Ookanehira.
"Aku akan menghubungimu untuk ngeteh bersama, aku duluan ya!" dan Mikazuki pun melangkahkan kakinya keluar ruangannya sendiri. Meninggalkan Ookanehira dan Nikkari yang tidak lagi bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
"Sepertinya aku akan memasak ikan asin untuk makan malam kali ini," dan Nikkari pun sukses ditampol.
(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)(*)
"Hah… Bagaimana caranya aku membuat 10 haiku dalam waktu 3 hari? Satu haiku saja aku tidak bisa membuatnya!" Ookanehira meremas rambut merahnya kesal. Latihan voli hari ini tidak bisa mengalihkan pikirannya dari tugas yang Mikazuki berikan kepadanya.
"Ayo passing!" seruan temannya sama sekali tidak terdengar di telinga Ookanehira. Ia masih duduk diam di pinggir lapangan. Memikirkan tugasnya itu.
Nikkari sudah pasti tidak mau membantunya, dia juga tidak suka pelajaran bahasa Jepang, walaupun tidak sebenci Ookanehira.
Ia juga tidak mau merepotkan kakaknya untuk bertanya hal semacam ini, Uguisumaru pasti sudah lelah dengan pekerjaannya. Lagi pula kalau tahu ini tugas hukuman, kakaknya itu pasti bakalan marah.
Jadi siapa dong yang bisa membantunya?
"Kenapa tidak berlatih?" Ookanehira tersentak lalu mengangkat kepalanya. Kasen ternyata.
Ia pun berdiri dari duduknya seraya mengacak-acak rambutnya, "Aku tidak konsentrasi berlatih senpai, ada yang mengganggu pikiranku," ujarnya sedikit enggan. Akhir-akhir ini ia memang lebih banyak berbicara dengan Kasen saat latihan voli dimulai walaupun mendekati latihan berakhir karena Kasen sendiri baru datang pasti pada saat waktu itu.
"Soal pacar ya?" tebak Kasen seraya tersenyum, sudah biasa ia melihat anggota voli lainnya sedikit kehilangan fokus karena pacarnya. Habis putus lah, di php lah, ditinggal ldr lah.
Ookanehira menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ti-tidak senpai! Bukan soal pacar kok!" dia kan jomblo ditinggal nikah sama gebetan.
"Lalu?"
"Ummm…" Ookanehira sedikit malu menceritakan hal ini, "Aku diberi hukuman membuat 10 Haiku karena aku tidak membuat haiku yang ditugaskan. Bayangkan! Membuat satu haiku saja aku tidak bisa, apalagi sepuluh?! Dan tiga hari lagi harus dikumpulkan atau aku akan mendapat nilai D! Aku bisa dikeluarkan dari universitas ini!" tanpa sadar Ookanehira meluapkan semua emosinya. Ini semua karena dosen menyebalkan yang ternyata kawan lama Juzumaru itu.
Aghhh! Memikirkan dia lagi membuat Ookanehira menahan diri untuk tidak berteriak kencang.
"Haiku? Aku bisa membantumu, aku sering membuat Haiku jika tidak ada kerjaan,"
Ookaneira memandang Kasen dengan mata berbinar. Ah! Bagaimana mungkin ia lupa jika senpainya ini mahasiswa sastra? Pasti haiku sudah seperti makanan sehari-hari untuknya.
"Benarkah senpai? Aku… Tidak merepotkanmu kan?"
Kasen menggelengkan kepalanya, "Asalkan kita bisa mencari waktu yang tepat, besok jam dua siang bisa?"
Ookanehira berpikir sebentar, mengingat jadwal kuliah besok, "Ah aku selesai jam satu, tidak apa-apa senpai, sekali lagi terima kasih sudah membantuku!" ujarnya penuh semangat.
…dan disinilah mereka berdua, di dalam ruang perpustakaan kampus, Kasen baru saja tiba dan langsung mendudukkan diri di samping Ookanehira.
"Baiklah, kita akan buat 10 haiku-mu sendiri. Untuk 10 haiku dari tokoh sejarah itu bisa dikerjakan besok, perpustakaan ini mempunyai kumpulan haiku zaman sejarah dulu, nanti kamu tulis sendiri saja," ujar Kasen setelah Ookanehira menjelaskan lebih rinci tugas hukuman ini.
Ookanehira menganggukkan kepalanya mengerti.
"Besok kamu bisa kan? Kalau tidak kau bisa mengerjakannya sendiri di rumah,"
"Temani aku saja," sahut Ookanehira cepat, sedetik kemudian wajahnya pun memerah, "Ma-Maksudku aku tidak terbiasa mencari buku-buku di perpustakaan, aku takut kalau aku salah mengambil buku," ujarnya terbata-bata
Kasen tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya mengerti, "Jadi… Apakah ada tema khusus untuk haiku ini?"
"Tidak ada tema, Mikazuki-sensei hanya menyuruhku membuat saja." Jawab Ookanehira.
"Ohh… Mikazuki-sensei ya? Aku juga pernah diajar oleh beliau semester 3 dulu, aku sedikit tahu tentang beliau. Walaupun terlihat baik dan ramah, dia salah satu dosen yang pelit nilai loh~"
Mati. Ookanehira bakalan mati di tempat kalau saja Mikazuki membiarkannya tidak mengerjakan tugas. Tugas hukuman ini lebih mending dari pada apapun di dunia ini.
Halah lebay.
"Baiklah… Membuat Haiku itu sebenarnya mudah jika kau mengerti tekniknya…"
Kasen pun menjelaskan teknik yang biasa ia gunakan saat membuat haiku. Penjelasannya memang hampir sama seperti saat Mikazuki menjelaskannya di dalam kelas tetapi entah kenapa penjelasan yang diberikan oleh Kasen gampang sekali ia tangkap.
"Biar lebih muda, gunakan saja tema yang biasa disukai oleh anak-anak muda, cinta misalnya? Perasaan seperti itu lebih memudahkan kita dalam membuat Haiku,"
Cinta ya…
Sampai sekarang, hatinya masih terasa sakit jika mengingat rasa cintanya yang begitu besar itu sama sekali tidak terbalaskan. Akan tetapi, dilain pihak, ia juga masih merindukan sosok itu.
Tidak ingin melihat tapi hatinya ingin, rasanya benar-benar membingungkan.
Tanpa sadar jemarinya menuliskan puisi singkat itu,
Deras rasa duka
Bersama rintikan air
Dia terkenang (*)
"Sepertinya kau sedang patah hati ya?" tanya Kasen sedikit menggoda saat melihat haiku pertama yang Ookanehira tuliskan, "Benarkan? Menulis haiku menggunakan perasaan cinta itu sangat mudah sekali."
Ookanehira membelalakkan kedua matanya lalu dengan cepat mengambil penghapus untuk menghapus haiku itu sebelum sebuah tangan mengambil penghapus itu dengan gesit. Mata abu-abunya memandang Kasen yang mengambil penghapusnya dengan tidak percaya.
"Kenapa dihapus? Kau sudah membuang banyak waktu untuk menulis satu haiku itu, kau ingin membuang waktumu lebih banyak lagi? Aku tidak suka itu, sangat tidak elegan," ujar Kasen dengan wajah serius.
"Patah hati dalam perjalanan cinta itu bukanlah hal yang aneh, tidak perlu malu dan tulislah haiku sesuai perasaan hatimu saat ini." Lanjut lelaki berambut ungu itu dengan nada memerintah.
Ayolahh, untuk kali ini saja Ookanehira ingin perasaan galau ini menghilang sejenak. Ia ingin menuliskan haiku dengan perasaan cinta yang menyenangkan. Apa ia harus mengingat saat dimana ia menyukai sosok itu sebelum kenyataan menghantam dirinya? Tetapi sama saja ia membuka luka lama yang sudah mulai menghilang.
Kedua manik abu-abu nya memandang Kasen yang masih tetap memandangnya, wajah itu tidak lagi kesal dengan tingkah Ookanehira tadi tetapi keseriusannya masih tetap ada.
"Aku… Harus membuat haiku… dengan perasaanku?" tanya Ookanehira pada akhirnya. Ia jamin haiku yang akan dibuatnya ini akan berisi puisi galau sesuai suasana hatinya saat ini.
"Kalau kau ingin membuat dengan tema yang lain tidak masalah, tetapi dengan perasaanmu, kau mudah sekali membuatnya kan? Semuanya tergantung kepadamu Ookanehira…" jawab Kasen lalu menyerahkan secarik kertas kepada Ookanehira, "Aku membuatkan sembilan bait pertama untuk haiku ini, untuk dua bait selanjutnya kau bisa memikirkannya dengan sendiri, baik dengan logika atau pun perasaanmu," ujarnya seraya tersenyum.
Ookanehira memandang kertas itu dengan terkejut, jadi sejak tadi senpainya itu sudah memikirkan banyak tema walaupun – sengaja – dituangkan dalam satu bait saja?
"Kau mahasiswa pertanian, tidak perlu terlalu berkutat dengan pelajaran bahasa seperti ini, mengerti dasarannya saja bagiku sudah cukup, yang penting kau bisa menyelamatkan nilaimu untuk sementara. Lain kali jangan sampai kau lupa mengerjakan tugas yang diberikan Mikazuki-sensei lagi ya?"
Kasen-senpai benar-benar mengerti dirinya. Ookanehira tersenyum senang.
"Kau benar! Aku tidak terlalu suka dengan pelajaran bahasa, tetapi aku tetap bisa menggunakan bahasaku sendiri untuk berbincang dengan orang lain!" ujar Ookanehira dengan bahagia, ia pun tanpa sadar menggenggam kedua tangan Kasen, merasakan telapak tangan yang ternyata lebih kecil darinya itu walaupun sama-sama besar untuk ukuran lelaki.
Menyadari tingkahnya itu, Ookanehira segera melepaskan genggamannya lalu memandang Kasen malu-malu, "Ma-Maaf senpai, aku hanya terlalu senang…" ujarnya lalu dengan cepat melanjutkan bait haiku yang sudah Kasen buat sebelumnya.
Kasen yang melihat tingkah Ookanehira itu hanya tertawa kecil lalu mengacak rambut Ookanehira dengan gemas, "Hahaha tingkahmu ini seperti adikku saja,"
Ookanehira hanya tersenyum mendengarnya.
Tapi… Kok hatinya tiba-tiba kayak kecubit ya?
.
.
.
To Be Continue
(*) Haiku karya Andhika Wirawan
Kembali lagi dengan fanfic penuh garam yang sangat asin ini.
Terima kasih buat kalian yang sudah membaca fanfic ini dan beribu-ribu terima kasih juga kepada kalian yang sudah mau meluangkan waktu untuk mereview fanfic ini. Terima kasih banget pokoknya :*
Oke sekian bacotan dari saya, sampai jumpa di chapter selanjutnya yaa~
List Umur :
Ookanehira : 18 Tahun
Nikkari : 18 Tahun
Izuminokami : 15 Tahun
Hizamaru : 20 Tahun
Kasen : 21 Tahun
Uguisumaru : 25 Tahun
[ Update ]
Juzumaru : 27 Tahun
Mikazuki : 27 Tahun
Oodenta : 27 Tahun
Monoyoshi : 14 Tahun
Reviewnya dongg~
