A/N: Ada yang kangen sama Naka? *halah* oke, oke… Naka minta maaf gara-gara telat update. Bukannya karena WB dan gak ada waktu. Tapi Naka tuh males banget ngetik ceritanya. Cuma bisa ngayalnya aja, tapi akhirnya selesai juga chapter ini. Yosh…


To:

Ashahi kagari-kun: Terimakasih atas reviewnya. Panggil Naka aja cukup kok :D kayaknya yang sekuel ini gak terlalu ribet Cuma ada 3-5 chap.

sasunaru4ever: Terimakasih atas reviewnya. Gak apa, kok… kita kan punya selera masing-masing, jadi jangan maksain diri baca gitu donk. Tapi Naka gak ngelarang baca kok. Makasih udah baca fic Naka :)

Nana MithrEe: Terimakasih atas reviewnya. Naru gak diapa-apain kok. Mereka juga gak akan cerai.

Imouto Aruzaki-chan: Terimakasih reviewnya, Imouto xD Naka gak takut diflame kok. Cuma kita kan harus berusaha ngasih yang terbaik buat para readers biar mereka puas dan gak ngeflame.

SukE'emo D'blizt: Terimakasih atas reviewnya. Ini udah dilanjutin.

Misyel: Terimakasih atas reviewnya. Ih, kok tau sih chap ini aku mau masukin si Kiba? Apakah Misyel-san punya indera keenam?*asal* yosh, berarti requestnya terkabulkan :D

naru3: Terimakasih atas reviewnya. Neji-nya udah jadi rekan kerja Sasuke… lagian Kakashi juga cocok kok.

Vanadise: Terimakasih atas reviewnya. Bukan dua chap deh kayaknya, bakalan 3 chap lebih. Gak mungkin lah ending di chap 1… gantung banget ,

Sayuri Kitazawa: Terimakasih atas reviewnya XD iya deh, ntar aku usahain alurnya luambuatttt banget *?* biar puas bacanya.

Rara Yuiki X'Sleeves: Terimakasih atas reviewnya. Demi Nee-chan emang udah end. Naka tau kok, Yuki Uta :D

Hara-namii: Terimakasih atas reviewnya. Naruto ke mana? Ke hatiku*halah* ciecie, yang ngefans sama Kakashi xp

Yashina Uzumaki: Terimakasih atas reviewnya. Iya, kata halus dari 'ayan'. Naka juga tau epilepsy setelah nonton film 'My Sister's Keeper' berarti kita senasib ^^


Disclaimer: Masashi Kishimoto

Speciel Request: my lovely readers *halah*

Sekuel by: Demi Neechan

Story by: shiho Nakahara

Pairing: SasuFemNaru

KakaFemNaru

KyuuKa

Warning: FemNaru, cerita gaje, lebay, dan seperti biasa TYPO BERTEBARAN, bahasa rancuh dan agak kasar.

Summary: Aku menyayangi Sasuke. Tapi, dengan kondisi tubuh yang seperti ini… perlahan-lahan aku harus menjauh darinya karena aku tidak ingin membuatnya kecewa. Namun, cinta tetaplah cinta, tak ada yang bisa mengubahnya.


Selalu Bersamamu

Naru's Pov:

"Kakashi dan aku hanya berteman! Itu saja! Dan aku benar-benar di studio semalam! Ada apa denganmu Teme? Kenapa kau selalu melarangku? Aku mencintaimu! Dan aku tidak pernah selingkuh, baka!" aku berteriak tak kuasa menahan amarah yang kutahan sedari tadi.

Kali ini aku tidak berbohong! Aku benar-benar jujur. Aku memang berteman baik dengan Kakashi, tidak lebih. Dan aku memang sangat mencintai Sasuke-Teme ini. Satu lagi, aku juga memang berada di studio semalam.

Hanya satu kebohongan yang kuucapkan padanya… Semalam aku bukan keasyikan melukis… tetapi, aku kembali diserang penyakit itu. Bahkan, saat sadar, lidahku sudah berdarah karena saat kejang-kejang aku menggigit lidahku dengan kuat.

"Seharusnya aku yang bertanya padamu! Ada apa dengan dirimu? Belakangan ini kau seperti menjauhi diriku! Dan aku tidak pernah menuduhmu berselingkuh!" ia kembali membentakku. Apa-apan Teme itu? Dasar menyebalkan!

"Aku tidak menjauhimu! Kaunya saja yang berlebihan menganggapku jauh darimu! Aku benci padamu, Teme!" tanpa pikir panjang, aku berlari meninggalkan rumah bercat biru dan orange itu.

.

Tetes-tetes air mata yang sudah lama tidak keluar dari rumahnya, a.k.a mataku kini mengalir semakin banyak membasahi pipiku. Pandanganku mulai memburam karena terhalang air mata yang semakin menjadi. Terdengar olehku suara Teme brengsek itu dari kejauhan mengejarku. Namun, aku tidak dan TAK AKAN peduli dengan teriakannya itu. Aku terlanjur sakit.

Tanpa kusadari, aku berlari menuju bangunan putih tempat yang kudatangi saat menjalani berbagai macam operasi dan terapi. Rumah sakit. Entahlah, yang kupikirkan saat ini hanya satu, menemui Kakashi.

.


"Ja-jadi kau belum memberitahunya dan malah kabur dari rumah?" ucap pemuda perak di hadapanku dengan pandangan –kau sangat gila, Naru –

"Hn… sudah kubilang, aku belum siap dengan semua ini. Sekarang, dia malah menuduhku menjalin hubungan denganmu! Itu tidak mungkin kan?"

Kaka's Pov:

"Hn… sudah kubilang, aku belum siap dengan semua ini. Sekarang, dia malah menuduhku menjalin hubungan denganmu! Itu tidak mungkin kan?" ucap si pirang di hadapanku. makhluk yang telah mencuri hatiku sejak pertama kali bertemu hingga sekarang.

Ya, mungkin kalian akan berpikir kalau aku ini gila dan nekat menyukai orang yang sudah menikah dan memiliki anak. Tapi, itulah kenyataannya. Kalian jangan menyalahkanku karena menyukai wanita ini. Cinta itu memang aneh. Tapi, aku sudah memutuskan untuk tidak mengganggu hubungannya dengan suaminya kini. Uchiha Sasuke.

"… Yah, lalu… apa yang akan kau lakukan sekarang?" aku hanya berkata datar.

"Entahlah. Aku tidak mungkin kembali ke rumah itu. Aku harus menjauhi Sasuke, ia tak boleh tahu tentang semua ini," katanya sambil menerawang jauh menghadap jendela.

"Bagaimana dengan Ai? Kau tega meninggalkannya juga?" aku kembali menyanggah pernyataannya.

"Ai akan aku jemput sebelum Teme itu menjemputnya sepulang sekolah nanti."

"Kau ini… lalu, kau akan menginap di mana?" sanggahku yang kesekian kalinya.

"Dia bisa menginap di rumahku," tiba-tiba muncul seorang pemuda dari balik daun pintu. Orang yang sangat kukenal.


xoxoxo

Sasuke's Pov:

Argh! Dobe itu cepat sekali larinya! Aku bahkan sampai kehilangan jejaknya.

Aku berkeliling-keliling di Taman Konoha, tempat aku kehilangan jejak istriku. Sudah dua jam lebih aku mencarinya, namun hasilnya nihil. Aku mengedarkan pandangan dan melangkahkan kaki ke sana kemari, tak peduli dengan tatapan heran orang-orang sekitar. Pikiranku mulai kacau. Ke mana dia pergi?

Tiba-tiba suatu kesimpulan terlintas di benakku. Apa dia pergi ke tempat Kakashi brengsek itu? Ya! Dia pasti ke sana! Argh! Kau benar-benar membuatku gila, Dobe!

Dengan cepat aku berlari ke rumah mengambil mobil milikku yang kini terparkir manis di garasi rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Saatnya menjemput Ai. Akhirnya aku memutuskan untuk menjemput Ai terlebih dahulu baru ke tempat Laki-laki brengsek itu untuk meminta istriku kembali.

.

"Maaf, sekolah sudah sepi dari tadi. Ai mungkin sudah pulang," ucap wanita berambut merah dengan kacamata ber-frame hitam di hadapanku. Karin. Wali kelas Ai.

Pikiranku semakin kalut sekarang. Ke mana lagi si Ai? Hah! Apa ini hari masalah sedunia? Kenapa Ai bisa tidak ada di sekolah?

Setelah mengucapkan terimakasih, aku pergi dengan dua tujuan. Mencari Ai dan Naruto. Aku tidak tau harus ke mana sekarang. Baiklah! Aku akan mengunjungi rumah sakit itu. Kemungkinan Naru ada di sana.

Aku bergegas meningkatkan laju mobilku.

.


Kaka's Pov:

'BRAK!' daun pintu bewarna putih itu terbuka dengan tidak elitnya, menampilkan sosok lelaki, suami dari wanita yang sangat kukenal. Tanpa menunggu waktu lagi, ia langsung berjalan cepat ke hadapanku dan berkata,

"Kau pasti menyembunyikan Naru! Cepat katakan di mana Naru!" aku hanya diam membisu sembari membalas tatapan matanya yang tajam dengan tatapan datar.

"Tidakkah kau mempunyai sopan santun, Uchiha?" aku bertanya sambil melepas tangan putihnya yang tadi menggenggam erat kerah bajuku.

"Cih! Aku tidak mau basa-basi! Cepat katakan di mana Naru… kau pasti mengetahuinya," nada suaranya terdengar melunak, ekpresinya perlahan berubah.

"Naru tidak ada di tanganku. Lagipula, sebenarnya kalian ada masalah apa?" aku bertanya seolah tak mengetahui apapun.

"Ini semua gara-gara kau, bodoh! Dia… kau… ada hubungan apa sebenarnya kalian?" matanya kembali menatapku tajam. Mengeluarkan aura membunuh dan sedikit membuatku takut.

"H-hey! Kau pikir aku pria yang suka merebut istri orang? Aku dan dia hanya berteman. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai dokter, ia sakit dan-" aku membelalakan mataku. Aku baru sadar, aku baru saja merangkai dan mengeluarkan kata-kata terlarang dari mulutku. Maafkan aku, Naru. Aku mengkhianati janji kita.

"A-apa katamu? Na-Naru sakit? Sakit apa? Cepat katakan!" tangan pucatnya mengguncang-guncang tubuhku dengan sangat kuat. Pertanda bahwa ia sudah tak sabar untuk mengetahui jawabannya.

xoxoxo


Naru's Pov:

"Kau aman di sini. Lagipula, ada Ino yang bisa kau ajak curhat. Sebagai sahabat yang baik, tak ada salahnya kan aku menolongmu?" pemuda yang sudah kukenal sejak aku berumur 15 tahun ini berkata sambil tersenyum ke arahku.

"Yayaya, tapi… apa aku tidak mengganggu kehidupan rumah tangga kalian? Apalagi aku membawa Ai," ucapku sembari menolehkan kepalaku ke arah dua anak yang sedang bermain bola bersama. Ai dan seorang anak lelaki bermata biru muda, rambut coklat dan berkulit putih. Inuzuka Natsu.

"Kau tidak merepotkan, kok! Sungguh! Ai juga, Natsu jadi ada teman bermain," tiba-tiba wanita pirang yang mirip denganku, ralat, kulit kami berbeda menyanggah pernyataanku.

"Terimakasih Ino, Kiba… kalian benar-benar sahabatku yang paling baik," aku tersenyum tulus ke arah mereka berdua.

"Sebenarnya, kau ada masalah apa dengan Sasuke? Apa ia melakukan kekerasan terhadapmu?" deg… pertanyaan yang sangat tak ingin kujawab itu kini keluar dari mulut sahabatku sendiri, Inuzuka Kiba.

"Hah… entahlah. Sebaiknya kalian tidak perlu tahu… itu hanya hal yang tidak penting," aku berusaha mengatakan bahwa diriku baik-baik saja di hadapan mereka.

"Naru, kau ini memang tak pernah berubah, ya? Selalu saja menganggap dirimu baik-baik saja dan tak mau menceritakan semuanya. Manusia itu makhluk sosial, mereka saling membutuhkan. Ceritakan saja, mungkin kami bisa membantumu," hah, kata-kata Kiba sangat mirip dengan Kakashi. Pantas saja mereka berdua bisa bersahabat denganku. Mereka benar-benar sehati.

"Yayaya, aku tahu. Kakashi juga bilang begitu. Baiklah, aku akan bercerita pada kalian, tapi kalian janji akan merahasiakan ini semua pada siapapun termasuk keluargaku?" aku menatap mereka bergantian dengan pandangan seolah mengatakan –janji? –milikku.

"Ya, kami janji. Sekarang ceritalah. Itulah gunanya sahabat, bukan?"

xoxoxo


Sasu's Pov:

"Apa? Ja-jadi Naru sa-sakit? Lalu kenapa waktu itu kalian pergi bersama dengan menggunakan mobil hitam? Apa ada hubugannya dengan penyakit Naru? Kau jangan mencoba membohongiku," aku masih setengah percaya akan kata-katanya. Naru sakit? Sakit apa? Kenapa kau tak bercerita padaku, Dobe? Kau lebih memilih bercerita pada orang lain ketimbang aku? Apa salahku sebenarnya? Apa kau marah padaku? Tapi kenapa?

"Jelas ada. Waktu itu ia memintaku pergi ke suatu tempat. Tempat di mana orang-orang beristirahat dengan tenang. Ia menemui Sakura… Ya, dia ke pemakaman hari itu. Ia memaksaku, ia bilang ia ingin menemui kakaknya untuk berkeluh kesah. Berharap sang kakak akan datang seperti dulu dan menolongnya," aku membelalakkan mata mendengar semua ucapan laki-laki bermasker di hadapanku ini. Dobe, apa kau sudah gila, hah?

"Sebenarnya ia menderita penyakit apa? Sampai pikirannya kacau begitu…"

"Ia menderita penyakit… Epilepsi," kalimat lelaki di hadapanku kini membuatku tertegun.

TBC or END?


A/N: Hah… orang-orang padaa takbiran, Naka malah gegalau nyelesain fic ini. Orang-orang pada sholat, Naka nge-publish -_- ok, udah Naka putusin endingnya… Maafkan Naka yang membuat multichap gaje seperti ini. Apalagi kalimatnya terlalu bertele-tele.

Yosh, selamat Idul Adha~

Naka juga mau ngucapin Selamat ultah buat temen Naka yang hari ini ultah :), Happy b'day KIG wish you all the best.

Gomawo, Shiho Nakahara