| Sugar Baby |

Disclaimer : all characters that's Masashi Kisimoto own

Genre : romance/drama

Rate : M

Chapter 2

"Fire meet Gasoline"

Selamat Membaca

.

.

.

Pandangan seperti itu, sudah menjadi hal yang biasa bagi Hinata. Pandangan sinis dan merendahkan yang kerap kali dia terima di lingkungan Universitas tempat dia menimba ilmu. Para perempuan akan berbisik-bisik kala mereka berpapasan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terang-terangan menyebut dirinya seorang wanita murahan, gundik pria tua, pelacur, jalang, ataupun sebutan-sebutan yang lainnya.

Semua perkataan itu tidak Hinata dengar, yang Hinata pikirkan adalah bagaima dia bertahan hidup dengan mewah tanpa harus kembali bekerja keras seperti dua tahun yang lalu. Hinata tidak peduli, selama itu tidak merugikan mereka yang menggunjing, dia tidak peduli.

Hari-hari yang dilaluinya di Universitas hanya sebatas belajar, belajar dan belajar. Tidak ada teman, aktivitas klub atau apapun itu dan tempat yang biasa ia kunjungi hanya seputar ruang kelas, perpustakaan, dan kantin.

Percayalah, kantin adalah tempat yang paling tidak ingin dia kunjungi. Karena disana, Hinata akan merasa berada didalam neraka yang tak berapi. Salahkan dirinya sendiri yang sangat malas untuk memasak dan membawa bekal sendiri.

.

.

.

Hinata merenggangkan tubuhnya, merasa pegal karena telah duduk selama dua setengah jam. Perkuliahan hari ini sudah selesai dan ekonomi bisnis adalah ilmu yang dia ambil. Entah apa yang ada dipikirannya kala itu, lebih memilih ilmu bisnis daripada kedokteran yang menjadi impiannya sejak kecil.

Satu-persatu buku ia masukkan kedalam tas mahalnya dengan malas, tugas perkuliahan semakin menggunung disisa-sisa semesternya. Hanya tinggal satu tahun lagi dan ia akan mendapatkan gelar sarjana.

Wanita Hyuuga itu merasa bingung, setelah dua minggu sejak perpisahannya dengan Tobirama kegiatannya menjadi monoton. Hanya seputar pergi ke kampus, belanja dan tidur.

Tabungannya juga sudah mulai menipis, uang yang dia dapatkan selama kencannya dengan Tobirama dengan perlahan terkuras. Hanya tinggal menunggu beberapa bulan dan uangnya akan habis dengan mengenaskan. Hinata sedikit merutuk dengan kebiasaannya yang gila belanja. Tas, sepatu, baju, dan segala antek-antek barang brandednya.

Salahkan Daddy-nya yang sedari awal sangat memanjakan dirinya dengan segala barang mewah. Apapun yang diinginkannya pasti Tobirama berikan, tanpa berkomentar dan tanpa mengeluh sedikitpun. Hanya dengan syarat mereka harus bercinta dengan panas setelahnya.

Hinata menghela nafas kasar, otaknya berpikir untuk mencoba mencari teman kencan baru sekaligus mesin uangnya untuk kelangsungan hidupnya. Setidakya, dia harus kembali berkencan dengan pria kaya sampai kuliahnya selesai.

Sseperti orang gila, Hinata mengetuk-ngetukkan kepalanya pada meja sambil mengumpat dengan kasar. Namun, kegiatannya berhenti kala mendengar suara yang sudah familiar itu menyapa gendang telinganya.

"Hinata, kau baik-baik saja?"

Disana, lelaki pirang bermata sebiru samudera berdiri tak jauh dari kursi tempat Hinata duduk. Dia, Namikaze Uzumaki Naruto, lelaki tampan dengan kulit eksotis yang menggoda itu sedang memandang khawatir padanya.

Selalu saja, lelaki pirang itu selalu menyapa dirinya meski Hinata acuhkan sekalipun. Hinata tahu, Naruto memang lelaki yang baik, pribadinya yang ramah dan murah senyum pada setiap orang, tanpa melihat status sosial atau derajat.

"Bukan urusanmu, Namikaze-san." sahutan judes dari Hinata hanya ditanggapi dengan tawa renyah darinya

"Kau memang tidak berubah ya? Selalu saja dingin."

Hinata tidak habis pikir, mengapa Naruto tidak pernah bosan atau jengkel dengan sikap Hinata yang dengan gamblang menolak untuk diperhatikan oleh dirinya.

"Namikaze-san, aku su-"

"Biarkan wanita itu, dobe."

Sumpah demi apapun yang terjadi, Hinata sangat kesal mendengar suara berat dan tajam itu menginterupsi perkataannya. Naruto menolehkan kepalanya, memastikan eksistensi sahabat emo-nya yang kini sudah berdiri tepat disamping tubuh jangkungnya dengan wajah datar.

"Teme, apa maksudmu? Aku hanya- hei Hinata! Aku belum selesai berbicara."

Tanpa menunggu apapun lagi, Hinata dengan cepat meninggalkan kedua pria itu. Dirinya malas jika harus terlibat percakapan dengan kedua kasanova dikampusnya.

Hal itu sangat merepotkan dan mengganggu, terakhir kali dia mendapat cacian tidak jelas dari seorang perempuan hanya karena Naruto menawarinya makan bersama dikantin.

Memangnya apa yang salah dari ajakan Naruto? Hanya karena fakta dirinya seorang simpanan om-om kaya raya dan itu membuat mereka benci padanya? Oh ayolah, memangnya mereka hidup di jaman apa sekarang? Pelacur berserakan dimana-mana dan gaya hidup juga sudah bebas. Mereka hanya orang tolol yang menyia-nyiakan waktu untuk menggunjing kehidupan Hinata.

Hinata juga menjamin, bahwa mereka juga memiliki gaya hidup yang bebas, bahkan liar. Hanya saja, yang membedakan dia dengan mereka adalah mereka melakukannya dengan rapi dan sangat hati-hati, tidak seperti dirinya yang dengan gamblang merubah penampilan dan gaya hidupnya yang mewah dari seorang gadis miskin menjadi wanita kaya.

.

.

.

Naruto memandang jengkel pria yang kini sedang menatapnya dengan datar. Lelaki berkulit tan itu menjambak rambutnya frustasi.

"Teme! Gara-gara kau Hinata jadi pergi begitu saja."

"Hn."

"Aku ingin mendekatinya, karena dia sudah putus dengan pria tua itu."

Uchiha Sasuke, nama lelaki itu masih diam dan tidak menanggapi. Helaan nafas kasar keluar dari mulut Naruto. Lelaki pirang itu berbalik dan meninggalkan Sasuke begitu saja dengan perasaan kesal.

"Putus, eh."

Bungsu Uchiha itu bergumam, menarik sudut bibirnya sedikit lalu berkata

"Menarik, Hyuuga."

.

.

.

Hinata membanting tasnya dengan kasar, berjalan ke dapur dan meneguk air dingin dari lemari es. Nafasnya terengah, sumpah serapah tidak berhenti ia ucapkan. Demi Tuhan, dia merasa jengkel dan marah hari ini.

Lelaki sialan, Uchiha Sasuke. Si penjahat kelamin yang selalu menatapnya dengan tatapan benci dan merendahkan. Hinata memang tidak suka dengan lelaki arogan macam Uchiha Sasuke. Entah karena apa, Hinata tidak ingat mengapa ia begitu tidak menyukai lelaki itu.

Lupakan soal Uchiha brengsek dan fokus kembali memikirkan target kencannya, Hinata bebrgegas mengambil laptop mahalnya dan mengotak-atik sesuatu.

Apa yang Hinata cari bermunculan dibeberapa artikel. 'Pengusaha Sukses' dua kata itu yang Hinata cari dalam internet. Tentunya dia mencari pengusaha sukses di Jepang dan beberapa nama beserta foto bermunculan dengan cepat.

Bibir tipis nan seksi itu tersenyum kala melihat foto Tobirama Senju nangkring dalam layar laptonya. Ternyata mantan Daddy-nya itu memang sangat kaya raya, tidak heran pria itu bisa memberikan apapun yang dia minta.

Hinata terus mencari dan membaca beberapa profil dalam artikel. Alisnya mengerut kala melihat foto dengan nama Uchiha Fugaku dan Uchiha Madara. Lidahnya berdecak, Uchiha Fugaku 52 tahun dan Uchiha Madara 51 tahun dua Uchiha bersaudara. Mereka berdua memang terlihat tampan, tapi Hinata mengurungkan niatnya karena teringat dengan Uchiha Sasuke.

Sampai akhirnya dia menemukan artikel yang memuat seorang pria berambut putih dengan masker hitam yang menempel ketat diwajahnya. 'Hatake Kakashi, pengusaha muda dan kaya raya dibidang intertaiment. Presdir dari sebuah agensi dan stasiun TV swasta'

Bingo! Hinata sudah mendapatkan apa yang dia cari dan dia memekik kala membaca berita bahwa Hatake Kakashi baru berusia 41 tahun dan yang paling mengejutkan ia mendapat fakta bahwa pria itu masih melajang.

Tidak hanya sampai disitu, Hinata mendapat informasi bahwa Kakashi akan melakukan pertemuan bisnis di restoran sebuah hotel malam ini tepat pada pukul tujuh malam. Tanpa membuang waktu, Hinata melesat kekamar untuk bersiap karena waktunya hanya tersisa dua jam dari sekarang.

.

.

.

Mobil sedan Lexus ES yang dikendarai Hinata membelah jalanan kota. Hinata nampak senang, tampilannya sangat memukau malam ini. Mini dress ketat berwarna hitam itu melekat dengan sempurna ditubuhnya. Rambut yang dikepang sebagian kebelakang dan nampak bergelombang diujungnya. Lipstik merah yang menggoda, juga sepatu heels runcing tujuh senti yang membalut kaki putinya.

Dirinya tidak sabar, ingin segera bertemu dengan Hatake Kakashi. Mencoba untuk menarik perhatiannya dan menjadikan pria itu sebagai Daddy-nya yang baru. Jika Hinata berhasil malam ini, maka dia tidak perlu menghawatirkan tabungannya yang semakin menipis.

Lobi hotel itu sangat luas, beberapa orang yang berlalu-lalang nampak melirik kearah Hinata denga penasaran. Beberapa pria bersiul menggoda, mencoba menarik perhatian Hinata hanya untuk sekedar menoleh dan membalas pandangan mereka.

Diliriknya jam yang terikat dipergelangan tangannya, Hinata bergegas menuju ke restoran, tempat Hatake Kakashi akan melakukan pertemuan. Hinata menekan tombol 18 dalam elevator, ia merasakan jantungnya berdebar dengan tidak sabaran.

Lidahnya berdecak sebal kala elevator berhenti di angka 14, pintu elevator terbuka menandakan akan ada pengguna lain yang masuk. Hinata sedikit terkejut, disana berdiri seorang pria dewasa berambut jabrik dengan bola mata hitam yang sedang menatap dirinya tajam.

Pria itu masuk dan berdiri tepat disamping tubuh sintal Hinata. Suasana mendadak menjadi canggung, Hinata melirik pria yang kini tengah menolehkan pandangannya yang tajam lewat bulu mata lentiknya.

Hinata berdehehm, merasa risih dan gelagapan kala terus dipandangi oleh pria tersebut. Wanita Hyuuga itu menggaruk pipinya yang tidak gatal, kebiasaan dirinya jika sedang dalam keadaan gugup atau bingung.

Entah apa yang terjadi, Hinata merasa elevator yang ia naiki terasa lama. Mereka baru sampai di lantai lima belas, masih tersisa tiga lantai lagi dan Hinata bisa keluar dari pria aneh yang terus menatapnya dengan tajam.

Hinata meremas dompet hitam yang dibawanya, pria itu sedikit menundukkan kepalanya dan mencoba mengecup leher bagian samping milik Hinata. Kaki jenjang itu reflek menggeser dan merapat kedinding elevator.

Jantung Hinata berpesta, detakan itu seperti musik dj yang berdentum dengan keras. Karena takut dan tidak tahan, Hinata dengan berani menatap wajah pria itu dan berkata

"Menjauh dariku Tuan! Atau aku akan-"

Umpatan dan hardikan yang ingin Hinata lontarkan terputus kala bibir pria itu memangut bibirnya dengan cepat. Hinata membulatkan kedua matanya, terkejut dengan ciuman dadakan yang diberikan pria jangkung itu padanya.

Hinata meronta, mencoba mendorong dada bidang pria itu adar melepaskan pangutannya. Pangutan itu semakin cepat, panas dan bergairah. Hinata yang mulai lemas menghentikan aksi dorongnya dan mulai ikut hanyut dalam ciuman yang ditawarkan pria asing itu padanya.

Jujur saja, ciuman ini terasa berbeda. Berbeda dengan ciuman Tobirama yang biasa Hinata rasakan. Pria itu membawa kedua tangan Hinata agar memeluk lehernya dengan manja. Pria itu menyeringai tipis disela ciumannya, Hinata Hyuuga menyukai ciumannya.

Nafas mereka terdengar memburu, elevator masih menunjukkan angka 16. Ciuman mereka terhenti, kening Hinata menempel pada dada bidang sang pria. Telapak tangan yang besar itu nampak mulai menggerayangi tubuh bagian belakang Hinata, desahan lirih lolos dari bibir seksinya kala telapak tangan itu meremas bokongnya dengan lembut.

Telapak tangan itu kembali merayap dibalik rambut panjang Hinata, menyentuh tengkuk dan menarik sedikit rambutnya agar wajah Hinata mendongak dan menatap langsung ke obsidan miliknya.

"Sial! Kau sangat menggairahkan." Pria itu menggeram frustasi

Kedua pipi Hinata merona, menatap sayu kearah pria itu seolah memberikan isyarat supaya pria itu kembali mencumbuinya dengan bergairah. Dan tatapan itu dibalas dengan ciuman yang kedua.

Tubuh Hinata semakin menempel, terjebak diantara dinding elevator dan tubuh pria itu. Ciuman mereka semakin liar, Hinata meremas lembut surai hitam sang pria dengan gemas. Lidah bertemu dengan lidah, membelai, menari dan saling mengecap satu sama lain.

Satu tungkai kaki Hinata diarahkan pria itu agar memeluk pinggangnya, kembali berusaha mengikis jarak keduanya yang kini hanya terhalang oleh kain yang dipakai mereka masing-masing.

Cumbuan mereka semakin tidak terkendali, jas hitam yang membalut tubuh kekar pria itu kini teronggok dibawah kaki mereka. Rambut Hinata yang kusut dan saliva yang menetes dari dagu keduanya akibat ciuman mereka yang liar.

Pintu elevator berdenting, menandakan bahwa mereka sudah berada dilantai delapan, tujuan utama Hinata datang ke hotel ini. Pria itu melepas pangutannya, menyeka saliva dan berdecak lalu mengumpat dengan kasar.

Hinata menengadahkan kepalanya, meraup oksigen sebanyak ia mampu. Pria itu menatap dua pelayan hotel yang kini melongo menatap kearahnya di depan pintu elevator yang terbuka.

Kedua pelayan itu tidak bekedip melihat posisi sepasang pria dan wanita yang tengah bercumbu dengan panas. Mata pria itu berkilat marah dan membuat kedua pelayan itu mengalihkan pandangan mereka. Tajam, pekat, dan intimidatif.

Bunyi ting kembali terdengar, menandakan pintu elevator kembali tertutup dan berlanjut kelantai selanjutnya.

Tubuh Hinata merosot, kedua kakinya sudah lemas dan tidak bisa menahan beban tubuhnya sendiri. Pria itu memungut jasnya dan memakaikan jas itu pada tubuh Hinata.

Dengan satu gerakan cepat, Hinata sudah berada dalam dekapan pria itu lagi. Namun bukan sebuah pelukan, melainkan gendongan bridal style. Pria itu menekan tombol dengan tergesa, lantai teratas yang berada dihotel tersebut.

.

.

.

Pria jabrik itu menurunkan Hinata di sofa kamar yang mereka masuki. Hinata masih diam sambil memperhatikan gerak-gerik pria itu yang kini sedang menggulung lengan kemejanya dan mengambil sebotol minuman keras lengkap dengan dua gelas cantik yang ditangannya.

Hinata menerima gelas yang berisi cairan merah pekat yang sangat harum, pria itu meminum wine-nya dengan masih tetap memandang kearah Hinata.

"Aku, menginginkanmu."

Suara berat yang sarat akan nafsu dan gairah itu terdengar begitu menggoda bagi Hinata. Namun, akal sehatnya menampar dirinya mengenai tujuan utama kedatangannya kehotel ini.

"Maaf Tuan, tapi saya ingin bertemu dengan seseorang disini."

Suara itu, sangat berbahaya. Suara halus nan lembut dan sedikit serak karena lelah paska percumbuan mereka dalam elevator. Hinata melihat pegangan pria itu pada gelasnya mengerat.

"Tidak, kau harus bersamaku."

Hinata mengeryitkan kedua alisnya, apa-apaan pria didepannya itu? Memutuskan dengan seenaknya saja tanpa persetujuan darinya.

"Maaf Tuan tapi-"

"Apapun akan aku berikan, Sugar Baby."

"Maaf?"

"Uchiha Madara. Daddy-mu yang baru."

Hinata membulatkan kedua matanya, tidak percaya dengan pria yang kini menyeringai seksi kepadanya. Uchiha. Hinata tidak percaya jika pria yang sangat menggoda ini adalah Uchiha Madara. Pria berusia 51 tahun sekaligus kerabat dari si lelaki brengsek Uchiha Sasuke.

Namun, keterkejutan itu berubah menjadi ide yang sangat menarik. Hinata bisa menangkap keinginan besar Madara terhadap dirinya dan satu ide terlintas begitu saja dalam otaknya. Jika dia berkencan dengan Uchiha Madara, maka dia akan berurusan dengan Uchiha Sasuke.

Hinata memang tidak mau berurusan dengan Sasuke, namun akan berbeda ceritanya jika dibelakangnya ada Uchiha Madara.

Hinata tersenyum, mulai terbiasa dengan interaksi anehnya dengan Madara.

"Jadi, Daddy. Apakah kau kaya raya?"

Satu pertanyaan yang mengundang gelak tawa seorang Uchiha sekelas Madara. Pria itu tertawa dengan keras merasa konyol dengan pertanyaan yang diajukan padanya.

"Ya Baby, aku sangat kaya raya." Ungkapnya dengan congkak

Hinata kembali tersenyum sambil menyesap wine-nya dengan gerakan sensual. Dan hal itu tidak luput dari pandangan tajam milik Madara.

"Satu pertanyaan lagi, Daddy. Apa kau-"

"Aku tidak memiliki isteri, aku duda jika kau memang ingin tahu."

Pengakuan itu semakin membuat senyuman Hinata melebar. Uchiha Madara, duda kaya raya akan menjadi Sugar Daddy-nya yang baru.

Hinata meletakkan gelasnya, melepas jam tangan, dan perhiasan lainnya. Madara masih setia menyaksikan gerak-gerik Hinata dengan intens. Sepatu heels yang dikenakannya ia lepas dengan perlahan.

Hinata melipat kedua kakinya dan duduk bersimpuh diatas sofa. Merentangkan kedua tangannya dan berucap dengan penuh gairah.

"Daddy, I am yours."

"That's great idea, My Baby."

Bagai seekor singa jantan yang melihat rusa, Uchiha Madara memangut bibir tipis Hinata secepat kilat. Menggendong tubuh Hinata menuju ranjang yang tidak jauh dari sofa tempat mereka duduk. Bak orang kesetanan, malam ini Uchiha Madara mengabisi Hinata dengan semua gairah yang dimilikinya.

Dan tanpa Hinata sadari, dia telah melupakan tujuan utamanya datang kehotel ini. Hatake Kakashi, kini lenyap dari pikirannya. Sepertinya berkencan dengan Uchiha Madara akan sangat menarik dan malam ini dia hanya perlu mendesah dan menikmati apa yang diberikan pria Uchiha itu padanya.

.

.

.

BERSAMBUNG